in , ,

3 Rencana Perjalanan setelah Pandemi Selesai

Sambil menunggu situasi kembali normal, saya telah merencanakan tiga perjalanan yang saya idamkan, mulai dari mengelilingi Jawa hingga mencicipi jalur pendakian di Asia Selatan.

Satu hal tentang pandemi COVID-19 yang membuat saya jengkel adalah saya tidak tahu persis kapan situasi ini akan berakhir. Hal lainnya yang bahkan membuat saya sangat jengkel adalah banyak manusia yang tidak mau—bukan tidak bisa—menjaga jarak fisik, terus melejitkan jumlah kasus positif COVID-19, dan mengurung saya lebih lama lagi.

Untuk beberapa hal, sebenarnya saya tidak terlalu bermasalah dengan karantina pribadi yang saya lakukan. Pertama, saya tidak betah berinteraksi terlalu lama dengan manusia. Kedua, saya tidak terlalu suka datang ke tempat ramai. Namun, hal yang membuat saya gelisah adalah saya tidak bisa melakukan beberapa hal yang saya sukai, seperti memotret di jalanan, pulang ke Bandung, atau liburan.

Setelah pandemi ini selesai, setelah dunia benar-benar aman, mengambil cuti dan berlibur adalah hal yang sangat ingin saya lakukan. Di bawah ini adalah tiga perjalanan liburan yang sudah saya rencanakan.

Naik Kereta Api Keliling Jawa

Kursi dekat jendela, tempat favorit saya di kereta api.

Kecuali suhu AC yang terlalu dingin dan makanan yang dijual di restorannya, mungkin saya menyukai seluruh hal yang ada di kereta api. Saya sering membayangkan duduk di sisi jendela sambil melihat matahari sore menepuk lembut ladang dan sawah yang saya lalui. Perjalanan dengan kereta api adalah perjalanan yang romantis dan selalu membuat saya girang, bahkan sebelum saya tiba di tempat tujuan.

Nah, salah satu hal yang ingin saya lakukan setelah pandemi ini selesai adalah singgah di beberapa kota yang ada di Pulau Jawa, dari Bandung hingga Surabaya, sendirian menggunakan kereta api. Tidak terlalu banyak kota yang ingin saya datangi karena nampaknya saya akan lebih memilih tinggal di setiap kota lebih lama. Saya berharap liburan ini akan menjadi perjalanan yang tidak tergesa-gesa, perjalanan yang mengizinkan saya menjalani hari-hari yang lambat.

Kembali ke Lawu

Solo hiking Gunung Lawu via Cetho.

Solo hiking Gunung Lawu via Cetho.

” aperture”:”0″,”credit”:””,”camera”:””,”caption”:””,”created_timestamp”:”0″,”copyright”:””,”focal_length”:”0″,”iso”:”0″,”shutter_speed”:”0″,”title”:””,”orientation”:”0″}” data-image-title=”Solo hiking Gunung Lawu via Cetho.” data-large-file=”https://guratankaki.files.wordpress.com/2018/06/img_20180607_175944_953882078326.jpg?w=1024″ data-medium-file=”https://guratankaki.files.wordpress.com/2018/06/img_20180607_175944_953882078326.jpg?w=300″ data-orig-file=”https://guratankaki.files.wordpress.com/2018/06/img_20180607_175944_953882078326.jpg” data-orig-size=”2048,1538″ data-permalink=”https://guratankaki.com/img_20180607_175944_953882078326/” src=”https://guratankaki.files.wordpress.com/2018/06/img_20180607_175944_953882078326.jpg?w=1084″ >

Solo hiking Gunung Lawu via Cetho.

Ketika saya berada di jalur Cetho di Gunung Lawu pada 2018 lalu, saya sudah memutuskan untuk kembali lagi ke Lawu suatu waktu. Jarang-jarang rasanya saya langsung rindu akan satu jalur pendakian sebelum saya kembai ke rumah. Lawu waktu itu benar-benar seperti yang saya harapkan, sangat sepi. Saat itu adalah pertengahan tahun, sedang bulan Ramadan. Saya sengaja memilih waktu ini karena memang mencari hening. Akhirnya, saya langsung rindu.

Gunung Lawu via Cetho adalah salah satu jalur pendakian terbaik menurut saya: tidak terlalu terjal, ada sumber air, dan pesona masing-masing sabananya yang menawarkan pemandangan berbeda. Sabana di depan Gupakan Menjangan adalah favorit saya, tempat saya melihat dua ekor rusa berlarian pada pagi hari. Saat saya kembali ke Lawu nanti, mungkin saya akan menghabiskan 2 malam di Gupakan Menjangan.

Jika kalian juga merencanakan pendakian Gunung Lawu via Cetho, silakan klik di sini untuk membaca detail perjalanan saya.

Bermalam di Annapurna Base Camp

Jika saja pandemi tidak terjadi, mungkin Idul Fitri tahun ini saya benar-benar sedang singgah di salah satu desa yang ada di jalur pendakian menuju Annapurna sambil menyeruput segelas teh hangat. Melakukan perjalanan ini sendirian, tanpa tour operator atau porter, adalah salah satu cita-cita tertinggi saya tahun ini.

Saya sudah menyusun rinci rencana perjalanan menuju Annapurna Base Camp sejak Februari lalu. Rekomendasi jam penerbangan dari Jakarta, estimasi waktu tempuh antardesa, hingga makanan yang perlu saya cicipi di Kathmandu dan Pokhara sudah saya catat rapi. Terima kasih Bung Acen kuncen Jalan Pendaki atas kuliah singkatnya.

Saya pikir perjalanan menuju Annapurna Base Camp ini bisa menjawab semua keinginan saya saat ini: pendakian dengan rute yang panjang, perjalanan selama beberapa hari, dan berada di luar Indonesia. Setelah melakukan riset dan meminta rekomendasi dari beberapa teman, saya pikir, saya percaya diri untuk melakukan pendakian ini seorang diri.

Mungkin setelah pandemi ini reda, saya masih akan menunggu sekitar 3-6 bulan lagi untuk benar-benar memastikan dunia sudah “aman” sebelum saya mewujudkan cita-cita saya ini, sambil menabung lagi tentunya.

Bagiamana dengan kalian? Sudah ada rencana atau keinginan jalan-jalan tertentu setelah pandemi?

Published by iyoskusuma

“Bidikan kamera bekukan waktu. Biar kaki yang menggurat kata”.

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story