Masuk untuk berkontribusi

Untuk menulis, bertanya, atau berbagi kisah, daftar atau masuk dulu ya.

alif.id

NU & Gusdurian

Kronika dan Khazanah Nahdlatul Ulama

SuaraNahdliyyin

Muktamar NU 35 Jombang

Event Muktamar PBNU ke 35 di Tambakberas Jombang

BENCANA

Erupsi Anak Krakatau 2026

Erupsi beruntun & pencarian 5 jurnalis di Selat Sunda

LINGKUNGAN

Karhutla & Kabut Asap 2026

Ratusan tersangka, protes lintas batas hingga Malaysia

Feed-mu masih kosong

Ikuti Space atau penulis yang kamu minati, dan kiriman mereka akan muncul di sini.

Jelajah Space

Berita Eksternal

Dari sumber terpercaya di luar KabarWarga

Antara

Senin, BMKG: Mayoritas RI berawan-cerah berawan, hujan di Medan-Padang

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia berawan, ...

34 minutes agoBaca
BBC News Indonesia

Detik-detik menjelang kapal Virgo Transport 8 terbalik – 'Tidak ada alarm bahaya, banyak penumpang tidak pakai pelampung'

Kapal Virgo Transport 8 terbalik di perairan Laut Jawa, pada Minggu (13/09) dini hari, dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin. Para penumpang kapal yang membawa 243 orang itu menuturkan rentetan peristiwa sebelum dan setelah kapal

an hour agoBaca
BBC News Indonesia

Detik-detik menjelang kapal Virgo Transport 8 terbalik – 'Tidak ada alarm bahaya, banyak penumpang tidak pakai pelampung'

Kapal Virgo Transport 8 terbalik di perairan Laut Jawa, pada Minggu (13/09) dini hari, dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin. Para penumpang kapal yang membawa 243 orang itu menuturkan rentetan peristiwa sebelum dan setelah kapal

an hour agoBaca
Antara

Sepuluh pemain Manchester City bungkam Manchester United 1-0

Manchester City meraih kemenangan penting dalam Derby Manchester pada pekan keempat Liga Inggris 2026/27. Bermain ...

3 hours agoBaca
Antara

Menhub prioritaskan pencarian korban KMP Virgo Transport 8

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menginstruksikan seluruh jajaran dan pihak terkait untuk memprioritaskan ...

6 hours agoBaca
Antara

LKBN ANTARA terima penghargaan di perayaan HUT LRT Jabodebek

LKBN ANTARA menerima penghargaan dari LRT Jabodebek dalam perayaan HUT ketiga perusahaan transportasi tersebut karena ...

8 hours agoBaca
Antara

Kimi Antonelli juarai GP Spanyol

Pebalap Mercedes Kimi Antonelli keluar sebagai juara Formula 1 GP Spanyol di Sirkuit Madring Sur, Madrid pada Minggu ...

8 hours agoBaca
Antara

Palestina sambut baik Deklarasi New Delhi

Kementerian Luar Negeri Palestina pada Sabtu (12/9) menyambut baik Deklarasi New Delhi dalam KTT BRICS ke-18 di India ...

9 hours agoBaca
Antara

Kapal Virgo miring akibat hantaman ombak di lambung kanan

Basarnas menyampaikan hantaman ombak dari lambung kanan termasuk menjadi salah satu penyebab kemiringan Kapal Virgo ...

9 hours agoBaca
Pinterpolitik

Di Balik “Mimpi” Surveillance State Dunia

Pengawasan massal kini bukan monopoli satu negara — ia jadi ambisi hampir semua kota yang ingin disebut maju. Sorotan ini menelusuri logika di baliknya, dari teori sosial hingga layar bioskop yang diam-diam membuat kita semakin nyaman diawa

9 hours agoBaca
Antara

Marc Marquez juara MotoGP San Marino 2026

Pembalap Ducati Lenovo Team Marc Marquez memenangi MotoGP San Marino 2026 di Sirkuit Misano, Italia, Minggu, setelah ...

10 hours agoBaca
Antara

SAR temukan jaket pelampung dan terpal saat pencarian di Selat Sunda

Tim SAR Gabungan menemukan sejumlah benda saat melakukan pencarian delapan warga yang hilang kontak saat memantau ...

10 hours agoBaca
Antara

Prabowo ajak BRICS perkuat industrialisasi dan rantai pasok global

Presiden RI Prabowo Subianto mengajak negara-negara anggota BRICS memperkuat kolaborasi industrialisasi dan rantai ...

10 hours agoBaca
BBC News Indonesia

Kapal Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa, enam orang meninggal dan ratusan lainnya masih dalam pencarian - 'Banyak orang meninggal'

Kapal Virgo Transport 8 terbalik di perairan Kalimantan Selatan. Ratusan orang masih dalam pencarian.

10 hours agoBaca
BBC News Indonesia

Kapal Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa, enam orang meninggal dan ratusan lainnya masih dalam pencarian - 'Banyak orang meninggal'

Kapal Virgo Transport 8 terbalik di perairan Kalimantan Selatan. Ratusan orang masih dalam pencarian.

10 hours agoBaca
PS
Piet Sukendar· Warga
baru saja·📣Suara Warga
Kiriman

Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan

Erupsi Anak Krakatau terjadi saat korban banjir, gempa, dan karhutla masih merasakan derita. Di Banten, penderitaan dan pengabaian pemerintah kolonial setelah letusan Krakatau 1883 menumpuk kemarahan rakyat selama lima tahun hingga pecah Geger Cilegon. Anak Krakatau di Selat Sunda mulai erupsi pada 4 September pukul 23.07 WIB. Erupsi yang berlangsung terus-menerus selama sekitar 25 jam itu menyebarkan abu ke Banten dan Lampung hingga memasuki ruang udara Jakarta. Abu yang mencapai Jakarta tentu tidak membuat penderitaan ibu kota sebanding dengan kehidupan warga di sekitar pusat bencana. Namun, abu itu sejenak memangkas jarak antara daerah terdampak dan pusat kekuasaan. Bencana yang biasanya tiba di meja para pejabat sebagai angka, laporan, dan bahan rapat kini ikut menggantung di udara kota yang sudah penuh polusi. Jarak itu sebelumnya terasa begitu jauh bagi warga Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. Banjir dan longsor pada akhir 2025 menewaskan lebih dari seribu orang di ketiga provinsi tersebut. Hujan ekstrem memang menjadi pemicu, tetapi kerusakan daerah aliran sungai dan pembukaan lahan memperparah dampaknya. Berbulan-bulan kemudian, kehidupan warga belum juga pulih. Di Aceh, pemerintah mencatat kebutuhan 34.727 hunian tetap. Hingga akhir Juli 2026, baru 401 unit atau sekitar 1,2 persen yang selesai dibangun. Banyak warga masih menunggu rumah, pemulihan sawah, serta kepastian mata pencaharian. Pemerintah gagap menyelesaikan pemulihan, tetapi sejak awal gagah menyatakan Indonesia mampu menangani bencana tanpa bantuan internasional. Belum usai penderitaan di Sumatra, gempa M7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Gempa tersebut menewaskan 127 orang , melukai 1.668 orang, dan membuat lebih dari 181 ribu orang mengungsi. Tak lama berselang, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan serta Sumatra mengirimkan asap hingga Malaysia. Penangkapan lebih dari seratus orang dan penyelidikan terhadap sejumlah perusahaan belum sepenuhnya menjawab pertanyaan tentang pertanggungjawaban korporasi, pemilik konsesi, serta pihak yang menikmati keuntungan dari pembakaran dan pembukaan lahan. Bukan cuma rakyat Indonesia yang protes atas kegagapan pemerintah menangani bencana, bahkan sejumlah warga Malaysia juga menggelar aksi demonstrasi di depan KBRI di Malaysia menuntut transparansi atas penyebab pembakaran lahan di Indonesia. Sementara itu, peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh di Banda Aceh pada 15 Agustus 2026 berubah menjadi kericuhan. Sejumlah warga mengibarkan bendera bulan bintang di Masjid Raya Baiturrahman. Aparat membalas dengan tembakan peringatan, semprotan air, dan gas air mata. Polemik bendera Aceh tentu tidak lahir dari banjir semata. Akarnya menjulur hingga konflik bersenjata, janji Kesepakatan Helsinki yang belum sepenuhnya dituntaskan, ketimpangan ekonomi, dan sengketa antara pemerintah Aceh dan Jakarta. Namun, lambannya pemulihan banjir akhir 2025 menambahkan alasan baru bagi warga untuk merasa ditinggalkan. Di titik itulah bencana alam berubah menjadi persoalan politik. Ketika rumah dan mata pencaharian hilang, bantuan terlambat, tetapi pemerintah terus menuntut ketertiban dan mengumumkan keadaan terkendali, kemarahan tidak ikut surut bersama air banjir. Ia mengendap, mencari bahasa, simbol, dan sasaran. Indonesia pernah menyaksikan proses serupa lebih dari satu abad lalu di Banten. Dari Krakatau ke Geger Cilegon Pada 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan yang suaranya terdengar hingga ribuan kilometer. Letusan dan tsunami yang menyusul menewaskan lebih dari 36 ribu orang di sekitar Selat Sunda serta menghancurkan banyak perkampungan di Banten dan Lampung. Pemerintah kolonial Hindia Belanda mengerahkan aparat ke wilayah terdampak. Mereka mendata korban, menguburkan jenazah, membersihkan puing, dan berusaha memulihkan ketertiban. Simon Winchester dalam Krakatau: Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883 menggambarkan bagaimana jenazah dikuburkan sedekat mungkin dari tempat penemuannya karena jumlah korban dan luasnya kerusakan. Namun, membersihkan puing tidak sama dengan memulihkan kehidupan. Banyak warga Banten kehilangan rumah, keluarga, lahan, perahu, ternak, dan sumber penghidupan. Pemerintah kolonial dapat membersihkan jalan dan menguburkan korban, tetapi tidak mengembalikan dasar kehidupan masyarakat yang telah hancur. Keadaan Banten sebenarnya sudah buruk sebelum Krakatau meletus. Wabah penyakit ternak pada 1879 memusnahkan sekitar dua pertiga populasi kerbau. Padahal kerbau merupakan tenaga utama untuk membajak sawah. Tanpa kerbau, lahan sulit diolah dan produksi pangan ikut terganggu. Letusan Krakatau datang ketika masyarakat belum sepenuhnya pulih dari tekanan tersebut. Di tengah kemiskinan yang semakin berat, pemerintah kolonial tidak mengurangi beban rakyat. Pajak tetap dipungut dan kerja wajib untuk kepentingan pejabat pribumi terus diberlakukan. Denys Lombard mencatat bahwa masyarakat pedesaan di sekitar Cilegon harus menanggung sekaligus kehancuran akibat Krakatau dan beratnya pantjendiensten , yakni kerja rodi untuk pejabat pribumi. Lima Tahun Kemarahan Menumpuk Pemberontakan tidak pecah segera setelah Krakatau meletus. Ada jarak hampir lima tahun antara bencana pada Agustus 1883 dan Geger Cilegon pada Juli 1888. Jeda tersebut bukan ruang kosong. Pada masa itulah kehilangan ekonomi, tekanan pemerintah, keresahan keagamaan, dan kebencian terhadap penguasa perlahan bertemu. Tanda-tanda ketegangan telah muncul beberapa minggu setelah letusan. Pada 2 Oktober 1883, seorang serdadu Belanda yang sedang membeli tembakau di Serang ditikam oleh seorang pria berjenggot dan berbaju putih. Penyerangnya kemudian menghilang. Pada 19 November 1883, Umar Djaman, seorang penjaga pribumi yang bekerja untuk pemerintah, juga diserang oleh pria berpakaian putih. Dua penyerangan tersebut belum merupakan pemberontakan yang terorganisasi. Namun, keduanya menunjukkan bahwa kemarahan mulai diarahkan kepada orang-orang yang dianggap mewakili kekuasaan kolonial. Sartono Kartodirdjo membaca peristiwa itu dalam suasana sosial dan keagamaan yang sedang mengeras. Kemiskinan dan penindasan tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan ekonomi. Keduanya mulai diterjemahkan ke dalam bahasa keagamaan: perang sabil, kedatangan Ratu Adil atau Imam Mahdi, serta keyakinan bahwa kekuasaan yang zalim akan segera berakhir. Letusan Krakatau juga ditafsirkan secara politis. Christiaan Snouck Hurgronje mencatat bahwa sebagian penduduk pribumi menganggap bencana tersebut sebagai hukuman atas Perang Aceh sekaligus pertanda akan datangnya peristiwa politik besar. Bencana alam memperoleh makna sosial: letusan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai peristiwa geologi, melainkan sebagai tanda bahwa tatanan yang berlaku telah menyimpang. Akan tetapi, keyakinan keagamaan saja tidak cukup untuk melahirkan pemberontakan. Kemarahan juga membutuhkan jaringan yang menyebarkan gagasan dan mengorganisasi tindakan. Dalam tahun-tahun setelah letusan, para ulama, haji, guru agama, dan pemimpin desa menjadi penghubung di antara masyarakat yang sama-sama dibebani pajak, kerja rodi, kemiskinan, dan kesewenang-wenangan pejabat. Dengan demikian, jarak lima tahun antara Krakatau dan Geger Cilegon memperlihatkan proses yang bertahap. Bencana memperburuk kemiskinan. Kemiskinan memperbesar kebencian terhadap pungutan dan kerja paksa. Pengalaman ketidakadilan kemudian memperoleh bahasa keagamaan dan disebarkan melalui jaringan sosial. Dari sanalah kemarahan pribadi perlahan berubah menjadi perlawanan bersama. Geger Cilegon Akumulasi itu meledak pada 9 Juli 1888. Massa menyerang pejabat Eropa dan aparatur pribumi yang dianggap menjadi bagian dari kekuasaan kolonial di Cilegon. Sejumlah haji memimpin gerakan tersebut, termasuk Haji Wasid bin Muhammad Abbas. Aksi berlangsung di sejumlah tempat dan menyasar orang-orang yang dipandang mewakili pemerintahan kolonial. Rakyat Banten kemudian mengenang peristiwa tersebut sebagai Geger Cilegon. Kekerasan dalam pemberontakan itu tidak perlu diromantisasi. Warga sipil, termasuk dua anak perempuan berusia enam dan tujuh tahun, turut terbunuh. Pemerintah dan pers kolonial memakai kematian tersebut untuk menggambarkan para pemberontak sebagai massa kejam dan “barbar”. Namun, penyebutan itu hanya memperlihatkan kekerasan yang terjadi pada puncak pemberontakan. Ia menutupi kekerasan yang berlangsung lebih lama melalui pemiskinan, pajak, kerja paksa, kesewenang-wenangan pejabat, dan pengabaian terhadap masyarakat yang baru kehilangan segalanya akibat bencana. Pemerintah kolonial akhirnya mengerahkan tentara untuk memadamkan pemberontakan. Java Bode pada 4 Agustus 1888 memberitakan bahwa sebagian pemberontak mundur ke arah selatan Banten. Haji Wasid bersama Ki Tubagus Ismail, Haji Usman, dan Haji Abdul Gani kemudian gugur dalam pertempuran melawan aparat kolonial pada 30 Juli 1888. Geger Cilegon bukan pemberontakan yang disebabkan semata-mata oleh letusan Krakatau. Letusan itu memperbesar penderitaan yang telah ada. Mengubah penderitaan menjadi kemarahan politik adalah lima tahun kegagalan pemulihan, pungutan yang terus berjalan, pemaksaan kerja, serta pemerintah yang lebih sibuk menjaga ketertiban daripada memulihkan kehidupan rakyat. Jarak lima tahun antara letusan Krakatau dan Geger Cilegon bukan hitung mundur menuju pemberontakan, melainkan peringatan bahwa kemarahan tumbuh ketika penderitaan terus diabaikan. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://projectmultatuli.org .

Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan
0
A
admingusdur· Warga
Kiriman

GUSDURian Semarang dan SUARASA Galang Dana untuk Korban Bencana Flores

Semarang – Sebagai bentuk empati atas bencana di Flores, Nusa Tenggara Timur, Gusdurian Semarang bersama komunitas mahasiswa baru UIN Walisongo (SUARASA) menggalang dana pada Sabtu (29/8/2026) di sepanjang lampu merah. Aksi ini diikuti oleh sekitar 20 orang yang langsung turun ke jalan, tepatnya di lampu merah Jerakah dan Kalibanteng, Semarang. Aksi ini terbentuk atas kesadaran dan rasa peduli sebagai sesama saudara sebangsa. Para mahasiswa yang kebanyakan adalah mahasiswa baru sangat solid dan bersemangat melakukan aksi penggalangan ini. Mahardin selaku ketua SUARASA mengatakan, acara galang dana berjalan dengan lancar dan terasa ringan, penuh keceriaan. ”Seru sekali, di sini kami dapat melatih keberanian kami untuk turun ke jalan dan membantu sesama. Tentu saja karena kami sukarela melakukannya dan tulus dari hati,” ujarnya. Ketua Gusdurian UIN Walisongo, Ibnu Ghifari, mengatakan bahwa uluran tangan kita sekecil apa pun sangatlah berarti bagi para korban bencana. Pria yang biasa disapa Ibnu ini menambahkan bahwa dana yang terkumpul pada Sabtu (29/8/2026) di dua titik telah mencapai Rp1.385.000. Baginya, itu nominal yang cukup besar untuk sekali waktu galang dana. ”Alhamdulillah, pencapaian luar biasa, total kami dapat Rp1.385.000 dalam sekali waktu,” ungkapnya. Peserta lain, Keisya Siti Nur Azizah, perwakilan maba dari SUARASA, menuturkan betapa berarti bantuan yang akan disalurkan nantinya. ”Yang bikin aku turun, karena tahu mereka (para korban bencana) butuh akan bantuan kita. Sekecil apa pun bantuan yang kita beri itu sangat berarti bagi mereka,” katanya. Ia mengimbuhkan bahwa sebagai pemuda, kita mempunyai peran krusial dalam meringankan beban para penyintas bencana di Flores. ”Kita yang muda seharusnya menjadi relawan mereka, kita jadi salah satu harapan mereka untuk tetap bertahan, karena pada dasarnya prinsip manusia itu memanusiakan,” imbuh Keisya. Aksi ini merupakan salah satu bentuk kesadaran bagi mahasiswa atas ilmu yang mereka peroleh dan juga untuk membuka pandangan mahasiswa lain terhadap kepekaan mereka pada sesama saudara. Aksi galang dana ditutup dengan harapan bahwa bentuk kepedulian tidak berhenti pada satu titik, melainkan berkelanjutan dan dapat menumbuhkan kesadaran akan kondisi negara yang pilu pada mahasiswa dan masyarakat umum lainnya. Uang yang terkumpul nantinya disalurkan melalui Gusdurian Peduli yang akan turun langsung ke Flores. (SDH) Penulis: Muhammad Khoirul Maula (GUSDURian Semarang) The post GUSDURian Semarang dan SUARASA Galang Dana untuk Korban Bencana Flores first appeared on Kampung Gusdurian . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian .

0
A
admingusdur· Warga
Kiriman

GUSDURina Jakarta dan CIPS Bedah Tantangan Pangan Perkotaan Lewat Nobar ”Besok Kita Nanem Lagi”

JAKARTA – Komunitas GUSDURian Jakarta bekerja sama dengan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menggelar acara nonton bareng (nobar) dan diskusi film Besok Kita Nanem Lagi di Rumah Pergerakan Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (4/9/2026) malam. Kegiatan dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) Gus Dur ini mengusung tajuk ”Mungkinkah Jakarta Berdaulat Pangan dari Pekarangan Sendiri?” guna membedah tantangan pangan perkotaan melalui lensa sinematik. Film yang diputar menyoroti perjuangan dua generasi petani, yaitu Sardi ( baby boomer ) yang setia pada tradisi dan Ryan (gen Z) yang mengadopsi inovasi teknologi di tengah tantangan krisis iklim serta hambatan regulasi. Koordinator Gusdurian Jakarta, Annas Eka Wardhana, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini menjadi ruang refleksi mengenai posisi warga kota dalam rantai pangan nasional, sekaligus pemantik agar masyarakat urban bisa lebih mandiri secara pangan. Solusi Bertani di Lahan Padat Perkotaan Diskusi yang dipandu oleh Nadia selaku moderator ini berjalan interaktif dengan adanya tanggapan langsung dari para peserta. Menjawab pertanyaan dari Dela mengenai solusi bertani di wilayah padat penduduk seperti Jakarta, Head of Research CIPS, Aditya Alta, menjelaskan bahwa metode hidroponik menjadi pilihan paling ideal bagi masyarakat perkotaan. Pendiri ( Founder ) Survival Architecture Indonesia, Taufiq Supriadi, menambahkan bahwa keterbatasan ruang bukan hambatan untuk berinovasi. Ia mencontohkan keberhasilannya menyulap selokan di RT 008 RW 004 Malaka Jaya menjadi tempat budi daya lele. ”Lorong sempit bukan jadi hambatan dalam berinovasi. Dari lorong sempit justru lahir solusi besar,” ujar Taufiq. Meski sempat mendapat penolakan awal dari warga, ide tersebut akhirnya diterima setelah melalui proses musyawarah. Mengurai Peran Swasta dan Akar Masalah Pangan Peserta lain bernama Rachel mempertanyakan isi film terkait alasan petani lebih banyak mendapat bantuan dari pihak swasta ketimbang pemerintah. Aditya memaparkan bahwa masalah pangan di Indonesia memang kompleks, mencakup isu produksi, distribusi, hingga kerentanan posisi petani yang sulit mengakses modal, teknologi, dan pasar. Sementara itu, Digital and Content Specialist CIPS, Eky Triwulan, menjelaskan bahwa pihak swasta sering kali bergerak lebih cepat dan fleksibel dalam memberikan pendampingan teknologi serta pembiayaan. Menurut Eky, film ini menjadi refleksi agar publik terus mendorong pembenahan fasilitas dari pemerintah, seperti sistem irigasi dan subsidi pupuk bagi petani desa. Taufiq turut mengkritik sistem birokrasi administratif yang rumit karena dinilai menghambat produktivitas masyarakat akar rumput. Sebagai solusi nyata, ia telah menyusun cetak biru ( blueprint ) program strategis berdurasi empat tahun di tingkat RT yang mengacu pada Peraturan Gubernur (Pergub) yang berlaku. Membangun Inisiator Lingkungan Berbasis Sistem Ketika peserta bernama Ridwan menanyakan cara melatih komunitas agar menjadi penggerak lingkungan, Taufiq menekankan pentingnya pembuktian digital yang nyata daripada sekadar teori. Ia memperlihatkan situs web resmi lingkungan RT-nya untuk mendiseminasikan inovasi pertanian perkotaan ( urban farming ) secara transparan kepada publik. ”Jangan hanya seremonial, tapi buat sistemnya,” tegas Taufiq. Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci Di akhir acara, para narasumber memberikan pernyataan penutup yang tegas. Eky menyatakan bahwa ketahanan pangan harus melibatkan kolaborasi lintas sektor antara komunitas, petani, dan swasta. Ia juga meminta pemerintah memberi ruang inovasi yang luas bagi petani tanpa hambatan regulasi. Aditya mengingatkan perlunya strategi baru pada abad ke-21 untuk menghadapi tantangan nyata, seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga masalah susut sisa pangan ( food waste ). Menutup diskusi, Taufiq mengajak seluruh peserta untuk memulai perubahan paradigma dari tingkat paling bawah. ”Indonesia butuh perubahan paradigma, bukan di pusat tapi di akar, dan akarnya adalah kita. Kita adalah pelaksana terdepan fundamental negara,” pungkasnya. Penulis: Yohana (Penggerak GUSDURian Jakarta) The post GUSDURina Jakarta dan CIPS Bedah Tantangan Pangan Perkotaan Lewat Nobar ”Besok Kita Nanem Lagi” first appeared on Kampung Gusdurian . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian .

0
SA
Syaifullah Aji Trianto· Warga
Kiriman

Membaca Gus Dur Dari Balik Etalase Kelontong

Di tengah lamunan siang bolong, sambil menanti datangnya pelanggan berbelanja di warung kelontong saya. Saya berkhayal, jangan-jangan asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi yang adiluhung itu, sudah terwujud di lingkungan sosial terkecil saya ini. Warga desa yang masih lekat dengan kehidupan tradisionalnya menghadirkan sebuah percakapan yang hangat dan ramai di warung saya. Suasana yang tidak dijumpai pada retail-retail modern, irit percakapan dan dingin, sedingin AC-nya . Namun, khayalan saya yang membumbung tinggi itu jatuh seketika, saat saya menyadari ternyata relasi hangat dan emosional itu malah merugikan usaha saya. Sering orang datang ke warung hanya berbekal cerita lika-liku hidup, seketika relasi yang harusnya transaksional, berubah empati. Formalisasi Relasi Sosial-Ekonomi Berimplikasi Sepinya Percakapan Barang-barang kebutuhan, bisa orang bawa secara cuma-cuma dari warung saya. Maksud berhutang tidak perlu diungkap terang-terangan, dan niat menagih pun segan terucap. Dominannya keterlibatan emosi dalam relasi sosial-ekonomi masyarakat kita, membuat saya menduga, mungkin itulah alasan dari langgeng dan menjamurnya pekerjaan-pekerjaan sektor informal di negeri ini, terutama di desa-desa. Banyak detail problem yang bisa diceritakan mengenai pekerjaan di sektor informal itu, mulai dari usaha subsisten (sudah usaha hanya cukup memenuhi kebutuhan hidup, masih juga dikejar debt collector ), relasi patron-klien (petani terpaksa menjual dengan sistem ijon ke tengkulak), hingga ketidakjelasan kontrak kerja. Maka masuk akal jika pemerintah mendorong usaha masyarakat untuk masuk ke sektor formal, seperti wacana industrialisasi UMKM yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas produksi sekaligus SDM, sampai peningkatan pendapatan. Untuk kasus usaha mikro seperti warung kelontong saya, misalnya edukasi pencatatan transaksi melalui aplikasi kasir dapat melatih masyarakat bertransaksi lebih disiplin, dan tidak melibatkan emosi. Upaya formalisasi usaha masyarakat itu sekilas memang tampak masuk akal. Namun muncul konsekuensi yang mengganggu pikiran saya, ketika relasi menjadi semakin transaksional, kehidupan sosial menjadi dingin dan irit percakapan, persis seperti biasa ditemui pada retail-retail modern. Lantas, bukankah kehidupan sosial-ekonomi yang sepi dari percakapan semacam itu menjadi tidak relevan dengan prinsip kekeluargaan dan demokrasi ekonomi yang “konon” menjadi pilar perekonomian nasional itu? Mencoba mendudukan perkara ini dengan jernih, saya akan mengutarakan beberapa hal. Pertama-tama lewat Weber, saya diberitahu tentang bagaimana efisiensi dalam aspek ekonomi yang utamanya dipicu oleh revolusi industri, ternyata juga berkontribusi atas lahirnya sistem birokrasi. Praktis membuat hampir seluruh aspek kehidupan sosial manusia menjadi efisien. Efisiensi itu minimal bisa dikenali ketika tindakan dan percakapan masyarakat berorientasi untung-rugi serta hasil-konsekuensi, karena jelas dan terukur. Masyarakat modern dalam konteks ini dianggap menawarkan tatanan sosial yang lebih stabil daripada masyarakat tradisional yang boros percakapan dan perilakunya kurang prediktif. Sebuah “ide gila” lalu muncul: boros percakapan dan perilaku kurang prediktif, tidak berguna bahkan ancaman bagi pertumbuhan ekonomi. Maka stabilitas sosial harus diutamakan dengan menyingkirkan kebebasan sekalian kemanusiaan. Amartya Sen mengenali ide itu sebagai “tesis Lee”. Merujuk gaya kepemimpinan otoriter Lee Kuan Yew (mantan PM Singapura) yang juga pernah diadopsi Orba. Stabilitas negara dianggap lebih penting untuk kemajuan ekonomi, sehingga perbedaan pendapat perlu dibungkam. Ekonomi Kebebasan Menuntut Pengakuan atas Keragaman Motif Sen menganulir ide gila itu dengan mengajukan pemikiran sederhana tapi jitu. Ekonomi menurutnya harus berdasar kebebasan. Kebebasan berarti mengakui adanya keragaman motif yang mendasari tindakan sosial manusia. Termasuk dalam bidang ekonomi, sebuah tindakan tidak melulu berorientasi untung-rugi maupun hasil dan konsekuensi–yang dalam filsafat moral kita mengenalinya sebagai motif moral utilitarianisme. Utilitarianisme hanyalah satu motif moral belaka. Motif lain, misalnya bisa dikenali dalam bentuk etika keutamaan (Aristoteles) atau kewajiban (Kant). Dalam bahasa yang lebih familiar, misalnya orang sering menyadari bahwa tindakannya murni didasari atas ketulusan, kejujuran, kepercayaan, nurani, bahkan keberkahan. Motif-motif ini tentu tidak memiliki hasil-konsekuensi yang kalkulatif. Dalam kehidupan tradisional yang ramai percakapan dan kaya ekspresi kultural, harapannya, ragam motif moral juga bisa ditemukan di sana. Dibandingkan kehidupan modern yang homogen dan sepi. Sayangnya, apa yang saya temukan dari orang-orang di sekitar, perilaku mereka kerap kali tidak memiliki komitmen moral yang jelas. Seperti tersebut di awal, mulai usaha kelontong merugi hingga menjamurnya berbagai usaha informal yang problematis. Semua ini lebih disebabkan karena ketidakjelasan komitmen moral pada masyarakat sendiri. Misalnya, sikap segan saya menagih hutang, tidak selalu dibaca sebagai komitmen untuk percaya bahwa orang akan berbuat jujur dan menepati janji. Seringnya, ketidakjujuran lah yang saya dapat. Yang seperti itu justru berakibat pada rusaknya tatanan sosial. Maka masuk akal untuk memilih masyarakat homogen – yang meski hanya mengerti motif dan bahasa tunggal bahwa setiap perilaku dan percakapan harus memiliki hasil dan konsekuensi yang jelas terukur–mereka menawarkan tatanan sosial yang lebih stabil. Namun penalaran tadi bisa juga dibalik: justru karena selama ini kita dibiasakan dengan orientasi untung-rugi serta hasil-konsekuensi. Lama-kelamaan, kita menjadi makin pesimis untuk berkomitmen terhadap motif moral yang tidak pasti hasil-konsekuensinya, seperti kejujuran dan kepercayaan. Gus Dur: Keragaman Kultural sebagai Sarana, Bukan Tujuan Secercah optimisme saya peroleh ketika membaca Prisma Pemikiran Gus Dur . Tidak ada cara lain, kalau mau mengabdi pada kemanusiaan, maka wajib hukumnya mengakui keragaman. Termasuk keragaman motif moral. Gus Dur berkali-kali menekankan bahwa nilai kemanusiaan itu universal. Sifat universal ini tentu mustahil dibatasi oleh ekspresi kultural pada ruang dan waktu tertentu. Mengakui adanya motif moral yang beragam adalah fondasi untuk melayani tujuan kemanusiaan yang universal. Jika hanya satu motif yang diakui, berarti kemanusiaan partikular yang dilayani. Keragaman ekspresi kultural yang melekat dalam kehidupan tradisional haruslah dilihat sebagai sarana belaka, bukannya tujuan. Jika dilihat sebagai tujuan, ia hanya berhenti menjadi seremoni, chauvinisme, dan feodalisme belaka. Menjadikan keragaman kultural sebagai sarana berarti menghadirkan pertukaran pikiran lewat ramainya percakapan. Hasilnya ialah, kepekaan kita terhadap beragamnya motif yang mendasari perilaku orang lain, yang tidak melulu berorientasi hasil-konsekuensi. Sarana ini tidak tersedia jika masyarakat homogen. Terutama masyarakat industri-modern yang diekspresikan dengan bagus oleh Herbert Marcus sebagai “manusia satu dimensi”. Sampailah saya pada pemikiran Gus Dur yang paling menarik. Ia melihat keragaman kultural sebagai sumber daya kreatif untuk pikiran kritis, hingga inspirasi bagi gerakan dan perlawanan sosial. Berhadap-hadapan dengan rezim yang hanya mengakui satu motif dan bahasa tunggal: pokoknya statistik ekonomi bagus dan semuanya efisien, sesuai “SOP”. Dua kasus konkret diberikan Gus Dur. Misalnya, pembangunan ekonomi di era Orba yang bercorak teknokratis, positivistik, plus militeristik, disebutnya sebagai “kuasi ideologi”. “Kuasi ideologi” menurutnya ialah sesuatu yang sama sekali tidak ideologis. Hal yang justru memicu perlawanan sosial untuk kembali menghayati ideologi (reideologisasi) yang inspirasinya diperoleh dari nilai-nilai kultural seperti agama dan budaya. Corak pembangunan yang sama juga ditemui pada rezim Shah Pahlevi di Iran. Dalam kasus Iran, reideologisasi mengambil inspirasinya dari teologi Islam. Puncaknya adalah Revolusi Islam yang disebut Gus Dur sebagai “kulminasi perlawanan kultural”. Untuk yang terakhir, Gus Dur memberi peringatan. Sifat revolusi selalu mengandaikan tatanan tuntas, sehingga keragaman kultural seringkali dikorbankan demi menyukseskan revolusi. Oleh karenanya, ia lebih memilih jalan gradual dalam gerakan dan perlawanan sosial, yang memungkinkan berlangsungnya percakapan terus-menerus. Merenungkan kembali analisis sosial Gus Dur, rasanya menemukan momentum yang tepat. Ketika hari-hari menyaksikan rezim semakin bebal karena hanya satu motif dan bahasa yang mereka mengerti. Semata-mata demi pembangunan ekonomi, perilaku dan percakapan dituntut efisien: hasil-konsekuensi harus jelas bisa diekspresikan dengan data, angka, dan statistik belaka. Sejatinya, kekuasaan sedang bermonolog dan pembungkaman sedang berlangsung. Lebih ironis lagi ketika koperasi yang disebut-sebut sebagai soko guru perekonomian nasional yang harusnya menjadi ruang ideal untuk deliberasi dan penerapan asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. Kebijakannya malah diseragamkan secara terpusat melalui instruksi militeristik yang efisien. Sebuah contoh buruk untuk masyarakat. Menjadikannya makin pesimis untuk berkomitmen terhadap keragaman motif moral. Seolah komitmen moral hanya mungkin untuk apa yang jelas hasil-konsekuensinya. Akhirnya, berbarengan dengan hilangnya komitmen atas keragaman motif moral, asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi pun kehilangan relevansinya sebagai pilar perekonomian nasional. Kehidupan sosial menjadi sepi dari percakapan dan nalar pun menjadi tumpul. Selain itu, gerakan sosial yang diupayakan sering tidak menemukan basis ideologinya. The post Membaca Gus Dur Dari Balik Etalase Kelontong first appeared on Kampung Gusdurian . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian .

0
AF
Abdi Faliqul Ishbah El Hakam· Warga
Kiriman

Sengkarut Kebudayaan dalam Cengkeraman Dominasi Negara dan Agama

Strategi Pemajuan Kebudayaan menandai bergesernya paradigma pengelolaan budaya di Indonesia. Negara tak lagi mengatur cara masyarakat berkebudayaan, melainkan mengatur cara pemerintah untuk mengelola kebudayaan (Effendy & Farid, 2018). Kini, peran mereka dipertegas sebagai fasilitator sekaligus pendamping untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat. Alasannya sederhana, masyarakat adalah empunya kebudayaan. Tanpa keterlibatan mereka, spirit inklusivisme Pemajuan Kebudayaan hanya mengendap sebagai teks. Ini niscaya, sebab kebudayaan adalah the art of living yang terbentuk melalui human interactions . Lebih luas lagi, kebudayan merupakan sesuatu yang integral mencakup inti-inti kehidupan manusia ( human social life ). Itulah makna sejati kebudayaan bagi Abdurrahman Wahid. Jauh sebelum strategi Pemajuan Kebudayaan terumuskan, spiritnya lebih dulu tertuang dalam pemikiran presiden ke-4 itu. Gus Dur—begitu sapaan akrabnya, memandang kebudayaan sebagai kanal humanisasi dan demokratisasi. Tak ayal sewaktu beliau mengetuai Dewan Kesenian Jakarta (1983-1985), Gus Dur cukup lantang menentang intervensi budaya Orde Baru. Bagi Gus Dur, negara tidak pernah ada dan seharusnya tidak berurusan dengan kebudayaan—karena kewajiban dasarnya adalah pasif ( to respect ). Namun, bersamaan itu pula negara wajib hadir memberi jaminan pelindungan dan pemenuhan ( to fulfill dan to protect ) kepada masyarakat agar mampu bertindak kreatif dan bertanggung jawab terhadap kebudayaannya sendiri. Tak berhenti sampai di situ, Gus Dur kembali bernubuat. Seperti negara, otoritas suci agama sekalipun tidak berhak mendikte kebudayaan. Keduanya itu setali tiga uang, berpotensi merenggut hak dasar masyarakat dalam berkebudayaan. Inilah risalah kebudayaan Gus Dur. Telaah kritisnya itu terekam dalam “ Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan ” (2001), yang memuat kompilasi esai Gus Dur sepanjang akhir 80an hingga awal 90an. Melalui buku ini beliau berhasil merekam sengkarut kebudayaan di tengah dominasi negara dan agama. Stultifikasi: Intervensi Kebudayaan Orde Baru “ Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan ” — Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Para Indonesianis sepakat menyimpulkan gagasan budaya “Indonesia modern” Orde Baru sebagai alat penertiban (Lysloff, 2001; Hughes-Freeland, 2008). Ini termanifestasi melalui homogenisasi budaya nasional. Alhasil, keragaman ekspresi budaya dipaksa tunduk selaras dengan selera rezim. Gus Dur mengecam tindakan itu. Bagaimana tidak, melalui skema penundukan, rezim Orde Baru berhasil menggerus pluralitas budaya Nusantara. Lebih lanjut, kecenderungan monolitik di ranah pendidikan kian menggenapi situasi dekaden ini. Di tangan Soeharto, wajah pendidikan nasional diseragamkan menyesuaikan platform negara yang serba teknokratis. Bagi Gus Dur ini adalah stultifikasi—bentuk pembodohan yang berdampak membekukan ide, kreativitas, dan sikap kritis masyarakat. Bahkan konsekuensi terburuknya, bangsa ini segera bertransformasi menjadi masyarakat a-kultural. Karena sifatnya yang destruktif itu, kewenangan mutlak negara untuk menentukan dan membentuk perikehidupan masyarakat, layak didiagnosis sebagai penyakit. Terhitung sejak tiga dekade yang lalu, Gus Dur telah memformulasi obatnya. Tak lain dengan menerapkan desentralisasi kebudayaan. Langkah ini relevan, menilik autentisitas kebudayaan Indonesia bercorak majemuk. Berpijak dari fakta tersebut, terlebih dahulu negara harus menjamin hak dasar setiap warganya untuk menampilkan kreasi budaya dalam arti seluas-luasnya. Bagi Gus Dur itulah prasyarat utama untuk menerapkan desentralisasi kebudayaan. Dengan catatan, peluang ini mesti diikhtiarkan sebagai sarana pencarian jati diri bangsa. Entah disadari atau tidak oleh Gus Dur, gagasannya itu selaras dengan spirit demokratisasi kebudayaan dalam International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR). Spesifiknya pada Pasal 15 ICESCR ayat (1) yang berbunyi; negara wajib menjamin hak setiap individu untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya ( ICESCR , 1966). Melampaui itu, Gus Dur juga mengingatkan pentingnya inklusivitas dalam upaya pengembangan kebudayaan nasional. Ini artinya, proses tersebut harus ditempa secara kolektif hingga mampu menembus sekat-sekat etnis, politik, status sosial, bahkan agama sekalipun. Meredam Eksklusivitas Beragama “ Indonesia ada karena keberagaman ” — Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Gus Dur mengamati relasi agama dan kebudayaan selalu ambivalen. Ada kalanya mereka saling menyapa—lebur dalam proses eklektik. Namun, tak jarang pula keduanya bersitegang. Situasi terakhir inilah yang menggejala di Indonesia. Gejala ini dipicu oleh mengeraknya praktik formalisme agama. Praktik yang didasarkan pada semangat purifikasi ini berpretensi kaku dan eksklusif. Lebih lanjut, corak keberagamaan tersebut cenderung destruktif terhadap unsur lokalitas (Hefner, 1987). Sebagai kiai terkemuka, Gus Dur memikul tanggung jawab moral untuk membenahi situasi tersebut. Melalui pendekatan otokritik, sang kiai menegaskan nilai kemanusiaan adalah tolok ukur tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Beliau juga menambahkan nilai ini sejalan dengan esensi subtil Islam—universalisme dan kosmopolitanisme peradaban Islam. Seperti tercatat dalam Piagam Madinah, Islam menjamin kepastian hukum, persamaan derajat, dan sikap tenggang rasa terhadap perbedaan. Dokumen ini menunjukkan universalitas ajaran Islam. Gus Dur mengingatkan, cita-cita ini dapat diwujudkan kembali, bila terjadi keseimbangan antara kecenderungan normatif umat Islam dan kebebasan berpikir seluruh warga negara. Tanpa adanya sikap kosmopolitanisme, semangat kemanusiaan Piagam Madinah berhenti sebagai fatwa moral belaka. Maka, diperlukan strategi praktis untuk membumikan universalitas Islam menjadi langkah nyata. Kuncinya adalah menumbuhkan kedewasaan dan kreativitas berpikir masyarakat. Modalitas inilah yang diperlukan untuk merobohkan batasan etnis, menumbuhkan heterogenitas politis, serta menguatkan pluralitas budaya bangsa. Terlepas dari cita-cita itu, Gus Dur juga menegaskan, semestinya relasi agama dan kebudayaan terjalin melalui implantasi prinsip. Dalam artian, agama hadir menyumbangkan sejumlah prinsip universal (kemanusiaan) bagi perkembangan kebudayaan, tanpa berpretensi pada bentuk dan cara pencapaian tujuan. Inilah prinsip yang harus dipegang untuk melahirkan rasa kebersamaan, kematangan sikap dan pandangan agar semua masyarakat saling gayung bersambut merayakan keberagaman budaya bangsa. Birokratisasi Pemajuan Kebudayaan Melalui buku “Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan” , Gus Dur telah mengurai sengkarut kebudayaan di tengah memuncaknya otoritarianisme Orde Baru dan menguatnya eksklusivitas umat beragama. Berpijak dari dua konteks ini, tercetuslah strategi desentralisasi dan implantasi nilai universal agama. Kiranya, inilah milestone risalah kebudayaan Gus Dur. Berkaca dari itu, Undang-Undang No. 10 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan berpijak pada spirit yang sama. Layak diakui sebagai teks, regulasi ini terbilang progresif. Namun, konteks kelahirannya serupa dengan gagasan kebudayaan ‘tertib’ Orde Baru—sama-sama tidak lahir dari polemik kebudayaan. Ini krusial, sebab melalui polemik itulah arah masa depan Indonesia sebagai bangsa ditentukan. Tesis ini disampaikan Akhol Firdaus dalam forum “Kursus Etnografi” yang diselenggarakan oleh Institute for Javanese Islam Research (IJIR). Cak Akhol menyebut sesudah tragedi 1965 sama sekali tidak terjadi lagi polemik kebudayaan. Kita boleh menyangkal polemik antara Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)—beraliran realisme sosial—dengan Manifesto Kebudayaan (Manikebu)—berhaluan humanisme universal—di era Demokrasi Terpimpin hanyalah kedok dari perseteruan politik yang terjadi di ranah kebudayaan (Supartono, 2000). Namun, bias politik ini tidak menutup fakta bila terjadi dialektika di antara mereka. Di satu sisi, lahir tokoh sekaliber Pramoedya Ananta Toer sebagai representasi Lekra dengan jargon andalan ‘politik sebagai panglima’. Sedangkan di sisi lain, muncul nama besar Wiratmo Soekito sebagai antitesis serta konseptor di balik berdirinya Manikebu. Kedua tokoh ini bertemu dalam gelanggang perdebatan untuk merumuskan esensi kebudayaan nasional. Sayangnya, sejak Orde Baru berkuasa bangsa ini tidak lagi berpolemik. Melalui kontrol dan teror, Soeharto justru merekonstruksi kebudayaan nasional sebagai alat politis (Larasati, 2022). Betapapun cara represif ini tidak lagi digunakan, pada praktiknya mekanisme fasilitasi Pemajuan Kebudayaan sarat akan intervensi. Masyarakat dipaksa tunduk mengikuti logika negara yang birokratis. Melalui skema administrasi berjenjang, persoalan kebudayaan direduksi sebatas urusan teknis pengajuan dana bantuan. Alhasil, alih-alih menjelma sebagai alat emansipasi, strategi ini justru menstimulus lahirnya seniman bermental proposal. Pendek kata, betapapun spiritnya berlainan, strategi kebudayaan Orde Baru ‘Indonesia Modern’ dan Pemajuan Kebudayaan sama-sama telah mengkhianati esensi kebudayaan sebagai the art of living . Demikian kenyataannya, segala upaya pengembangan kebudayaan selalu mentah di tangan negara. Barangkali Gus Dur benar “kebudayaan tidak akan lahir di atas kekuasaan”. The post Sengkarut Kebudayaan dalam Cengkeraman Dominasi Negara dan Agama first appeared on Kampung Gusdurian . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian .

0
A
admingusdur· Warga
Kiriman

Lampu Teplok di Ujung Pematang

Oleh: Warsono Abi Azzam KALAU musim rendheng datang, Banjarwaru selalu tercium sebelum terlihat: bau tanah basah, jerami lapuk, daun pisang kuyup, dan asap pawon bercampur. Melewati makadam dua kilometer dari aspal kabupaten yang retak, terhampar sawah dan kebun kelapa seperti orang tua kurus sedang tafakur. Di kejauhan, samar debur Segara Kidul terdengar, laut tak tampak, tapi asin anginnya menumpang senja. Banjarwaru di Cilacap timur, dekat Kebumen. Warganya menanam padi kala hujan baik, singkong jika pelit. Menanam harapan tiap tahun, meski dipanen kecewa. Lelakinya menjadi buruh bangunan, menyadap nira, atau menunggu kerja. Perempuannya lebih tabah: menanak nasi, menjemur gabah, mengurus anak, dan menambal retak rumah tangga dengan senyum dipaksa. Di ujung desa sebelum rawa, langgar papan kecil berdiri dijaga Mbah Kasan. Cat hijaunya pudar seperti doa yang sering disentuh hujan. Di serambinya, lampu teplok tua menyala paling akhir saat listrik padam. Tak tahu pasti umurnya, wajahnya berkerut seperti kulit jati dengan mata jernih jenaka. Bersarung lurik dan peci hitam mengelupas bulunya, jalannya pelan seolah menimbang perasaan bumi agar tak sakit saat dipijak. Kerap disapa Mbah, meski bukan kiai besar. Tak punya pesantren, tak pernah masuk televisi atau ceramah Muludan atau Rajaban . Namun bila ada sengketa tanah, anak kabur, suami mabuk atau hutang, warga datang ke langgar itu. Sebab sebagian persoalan memang lebih butuh telinga daripada fatwa. *** Di desa kecil, amarah tumbuh lebih cepat daripada padi, terutama bagi Jatmiko yang pulang dari Jakarta berwajah kalah membawa jaket tipis dan kebiasaan mengumpat setelah tiga tahun merantau. Orang memanggilnya Miko. Ayahnya, penderes kelapa, jatuh saat Miko SMP. Ibunya jualan gorengan di pasar Kroya. Rumah mereka berlantai semen kasar, berdinding gedek, atapnya bocor dua tempat. Miko ingin mengubah nasib, tetapi nasib lebih licin dari belut sawah. Malam pertama ia pulang, ibunya menggoreng tempe garing. “ Ora popo durung hasil, Le. Sing penting bali slamet waras .” Miko mengangguk, tahu beras tinggal seperempat kaleng. Ia banyak duduk di warung kopi Yu Tinem dekat pertigaan, warung seng berbau kopi tubruk dan minyak jelantah tempat para lelaki mengomentari dunia sambil hutang rokok. “ Negara kiye wis ora bener. Sing sugih tambah sugih, wong cilik mung dikon sabar bae ,” kata Miko menepuk meja. “ Lha apa kowe duwe obaté ?” tanya Tarno. “ Obaté ya wani! Aja lembek. Kudu tegas marang wong-wong sing ngrusak agama lan desa .” Kalimat itu gampang mendapat anggukan. Orang lelah sering mengira suara keras adalah kebenaran. Di ponselnya, video pendek ceramah marah beredar tanpa henti. Layar membuat dunia tampak sederhana, kawan atau lawan. Padahal hidup di kampung tidak sesederhana itu. Sawah sepetak saja batasnya sering bergeser. Namun orang muda yang hatinya kalah kadang butuh musuh agar tak merasa gagal. *** Suatu malam sekira jam sebelasan, langgar tua dilempari batu. Kaca pecah, dinding bolong, dan karpet lusuh penuh kerikil. Tak ada yang terluka, tetapi kabar menjalar seperti api menyambar ilalang kering. Pagi-pagi warung Yu Tinem sesak. “Pasti si pendatang itu!” seru seseorang menuduh keluarga Tjoa. Keluarga Tjoa adalah pendatang baru yang menyewa rumah dekat pasar desa. Mereka membuka toko kelontong kecil. Istrinya ramah, suaminya pendiam, anaknya kurus dan sering batuk. “ Wingi aku weruh dheweke liwat langgar,” kata yang lain. “Lha liwat dalan kok dadi salah? ” celetuk seseorang, tenggelam oleh kegaduhan. Miko berdiri, matanya menyala seperti bara dikipasi angin. “ Angger meneng bae, ngesuk dewek gari sing diinjek! Ayo takok langsung! ” Beberapa pemuda menyahut membawa kayu. Massa lahir dari campuran marah, bosan, dan ingin terlihat penting. Sandal berderap di jalan becek, amarah memang suka suara ramai. Ketika rombongan bergerak, Mbah Kasan datang membawa tongkat bambu. Langkahnya lambat, namun membuat suasana mendadak seperti sawah ketika angin berhenti. “ Arep pada maring endi? ” tanya Mbah Kasan. “Nyari keadilan, Mbah!” seru Miko. “Keadilan apa, deneng geger?” Mbah Kasan mengangkat alis. “ Langgar dibalangi! Masa meneng bae, Mbah? ” “ Sing mbalangi sapa? ” “ Ya mesthi wong kae! ” “ Ana bukti apa mung kira-kira? ” Tak ada yang menjawab. Mbah Kasan menatap mereka. “ Wong nesu kuwe gampang. Sing angel kuwe laku adil. Angger kowe ngukum tanpa bukti, kowe mung mindhah dosa sekang tangan liyan maring tanganmu dhewek .” Lalu ia menunjuk Miko. “ Kowe, melu aku .” *** Rumah Tjoa di pinggir pasar, berdinding batako belum diplester. Di depannya tergantung papan “TOKO BERKAH” bercat biru luntur. Ember, galon, dan karung beras tersusun di teras. Saat diketuk, perempuan berwajah cemas membuka pintu, memandang Miko lalu menunduk. “Pak, kalau ada salah, saya minta maaf,” katanya terbata. Mbah Kasan masuk, Miko mengikuti. Di ruang tengah sempit, anak laki-laki terbaring di dipan bambu dengan napas berat. Di meja ada obat warung, termometer murah, dan bubur tak habis. Lelaki kurus membawa kardus mi instan datang. “Anak saya panas dari tadi malam, belum sempat ke puskesmas.” Miko merasa tenggorokannya kering. Ini bukan markas perusuh bayangannya. Ini hanya rumah orang kecil yang repot menahan hidup agar tidak rubuh. Mbah Kasan duduk di kursi plastik. “ Wengi mau panjenengan neng endi? ” “Di rumah, Pak. Anak saya demam.” Perempuan itu cepat- cepat menambahkan, “Bisa tanya tetangga.” Miko menunduk. Tuduhan semalam kini seperti sandal jepit putus di tengah jalan, memalukan. Mbah Kasan menoleh pada Miko. “ Delengen, Ko. Kadhang wong diukum udu merga salah, ningen merga beda .” Kalimat itu masuk seperti air hujan rembes ke tanah retak. *** Malamnya, hujan deras membasahi langgar. Di serambi, lampu teplok menyala kecil tapi tekun. Miko duduk bersila di depan Mbah Kasan, sarungnya, kepalanya penuh tanya. “Mbah, kenapa Mbah mbela mereka?” Mbah Kasan tersenyum. “ Aku ora mbela ‘mereka’. Aku mbela manungsane .” Ia mengangkat lampu teplok, menatap nyalanya. “ Delengen. Urubé siji, cahyané tumiba nang endi-endi. Gusti Allah ora butuh dibela nganggo kepati. Sing butuh dibela kuwe wong sing diremehna .” “Itu namanya tauhid?” tanya Miko. “ Tauhid kuwe udu mung nyebut asmane Gusti. Tauhid kuwe ngerti yen kabeh asalé saka siji. Yen asalé siji, martabate ya kudu dijaga kabeh. Wong kadhang apal asmane Gusti, tapi ora paham carane dadi cahya .” Api teplok bergoyang kecil ditiup angin. “ Lha wong sing beda agama? ” “ Yen udan tiba, apa milih gendheng? ” “ Lha wong miskin? ” “ Sing paling butuh payung ya wong sing ora duwe payung .” “ Lha wong sing sengit? ” Mbah menghela napas. “ Wong sing kebek sengit kuwe kaya wong nggembol geni. Niyaté ngobong liyan, tangane dhéwéké sing geseng .” “ Netepna samubarang na panggonané. Ora merga kancamu padha banjur bener. Ora merga beda banjur salah .” “Kesetaraan?” “ Ndeleng wong nganggo mata langit. Langit ora tau milih nutupi omah gedhong thok .” Miko merasa malu sekaligus lega. “Kalau pembebasan?” “ Merdekakna pikiranmu sekang wedi lan sengit. Wong sing kebek sengit kuwe sejatine budhak .” Hujan memukul genting kian nyaring. Miko memandang sekeliling langgar yang lapuk. “Mbah, hidupnya kok sederhana banget?” Mbah terkekeh. “ Barang sethithik, rebutan sethithik. Ati luwih lega. Kesederhanaan kuwe pager sekang sipat mbrangas utawa srakah .” “Terus ksatria?” “ Wani bener sanadyan dhewekan. Wani njaluk ngapura yen kliru. Kuwe luwih angel ketimbang ngantemi wong .”31 Kata-kata itu tidak menggelegar seperti video ponsel, tetapi karena tenang, ia meresap lebih dalam. *** Dua hari kemudian pelaku tertangkap: dua remaja mabuk desa sebelah yang melempar lalu lari dikejar anjing. Banjarwaru mendadak bagai orang salah bicara di depan umum. Di warung Yu Tinem, kopi ditubruk dan rokok diutang tanpa percakapan ramai. Bila nama keluarga Tjoa disebut, seseorang akan berdeham, ada yang menatap jalan, beberapa pura-pura mengaduk gula yang sudah larut. Namun, kenyataan tak jarang tekuk lutut di hadapan gengsi. “ Ya tapi wong pendatang ya kudu tau diri ,” gumam Tarno “ Bener. Umah nang kene ya kudu nyocokna adat kene ,” sahut yang lain. Ucapan lirih itu terasa licin. Miko di sudut. Dahulu kalimat itu disambut tepukan meja. Kini, terdengar bagai suara yang dipantulkan sumur tua. Ia ingin menyanggah, tapi lidahnya kaku, malu lebih berat dari marah. Yu Tinem meletakkan kopi. “ Ngapa meneng bae, Ko? ” Miko menatap cairan hitam di gelas. “Aku salah, Yu.” Yu Tinem mendengus. “ Wong salah ya umum. Sing langk a kuwi wong gelem ngakoni .” Kalimat itu menamparnya keras. Banjarwaru pura-pura lupa, tapi Miko tidak bisa lupa. *** Sorenya ia melewati toko keluarga Tjoa. Pintu terbuka separuh. Pemilik toko terkejut melihat orang berhenti dan refleks mundur, gerakan yang menusuk dada Miko. Fitnah membuat orang takut pada langkah di pintunya sendiri. Bimo mengintip lalu bersembunyi. Suaminya keluar dengan mata berjaga-jaga seperti pintu belum dibuka penuh. Miko terpaku tanpa suara, lalu pulang. Ia tahu meminta maaf butuh keberanian berbeda. Malamnya di langgar, Mbah Kasan sedang membersihkan teplok dengan kain bekas sarung. “ Kowe wis mrana? ” Miko mengangguk. “ Ning ora bisa ngomong ,” sahut Miko. “ Tatu ora langsung mari merga pelakune ketangkep ,” Mbah Kasan tersenyum menyalakan sumbu. “ Kadhang sing kudu didandani udu jendelane, ningen atine wong-wong .” “ Mbah, nek wonge ora gelem ngapura? ” “ Ya sabar. Ngapura kuwe haké wong sing ditatoni. Tugasmu udu meksa dingapura, tugasmu pantes njaluk ngapura. ” Angin menggesek daun kelapa seperti bisik-bisik panjang. *** Esoknya Miko datang membawa kaca baru, palu, paku, dan sapu lidi. Ia berdiri cukup lama sebelum mengetuk pintu. Pemilik toko membuka. “Saya kemarin ikut nuduh,” kata Miko serak. “Saya datang minta maaf. Kalau boleh, saya bantu benerin.” Hanya terdengar batuk kecil dari dalam sebelum lelaki itu memberi jalan. Miko masuk seperti menyeberangi jembatan rapuh. Ia mengganti kaca, menyapu serpihan, membetulkan engsel, dan merapikan rak mi instan. Tak banyak percakapan. Tetapi diam tanpa permusuhan adalah awal persaudaraan. Saat hendak pulang, Bimo menyodorkan permen, “Buat Mas.” Miko menerimanya dengan mata panas. Hal kecil sering datang sebagai penebus dosa besar. Di warung Yu Tinem, kabar menyebar cepat. “ Miko dadi tukang toko siki? ” ejek seseorang. Tawa pecah, namun Miko menatap mereka satu per satu. “ Wingi aku goblok. Siki aja ngajak aku maning .” Setelah itu tak ada yang tertawa. Kadang satu orang yang berhenti ikut arus bisa membuat arus kehilangan tenaga. *** Butuh berminggu-minggu sebelum pintu toko kembali dibuka penuh saat malam. Lebih lama lagi sampai Bimo berani bermain bersama anak-anak kampung, dan orang-orang menyebut keluarga Tjoa tanpa menurunkan suara. Namun sejak hari itu, Banjarwaru belajar, bahwa batu yang dilempar bisa diganti kaca baru, tetapi prasangka hanya bisa diperbaiki oleh keberanian mengaku salah dan kesediaan hidup bersama lagi. *** Musim berganti, kemarau membawa debu. Atas usul Mbah Kasan, langgar tua jadi tempat belajar dan musyawarah. Saat banjir, halamannya jadi dapur umum, memasak sayur lodeh di kuali, mengangkat beras, dan keluarga Tjoa menyumbang mi instan dan obat batuk. Tak ada yang bertanya doa dibaca dengan bahasa apa dan menghadap ke mana. Persaudaraan lahir bukan dari kesamaan, melainkan sama- sama butuh pertolongan. Malam tirakatan tujuhbelasan, panggung bambu menyajikan kentongan, hadrah, ebeg, keroncong, dan barongsai. Mbah Kasan berbisik, “ Tradisi kuwe udu museum. Sing apik dirumat, sing anyar ditampani, sing ala ditinggal .” Miko mengangguk. Dulu ia mengira menjaga tradisi berarti menutup pintu. Kini ia paham, rumah yang sehat justru punya jendela. *** Tahun berikutnya, subuh bening itu tanpa batuk kecil, bunyi korek, atau cahaya langgar. Mbah Kasan wafat dalam tidur, meninggalkan desa sepi bagai sawah setelah panen. Warga berdatangan, petani, buruh, keluarga Tjoa, hingga dua remaja pelempar langgar. Di serambi, wajah jenazah tampak ringan selesai menempuh perjalanan jauh. Usai pemakaman, Miko duduk di tangga langgar. Tongkat tersandar, peci tergantung. Angin membawa bau jerami dan prenjak. Ia mengenang dirinya dulu, pemuda kalah pencari musuh agar tak kosong. Kebencian hanya memberi tenaga sebentar, lalu meninggalkan abu. Senja turun, listrik padam. Miko menyalakan teplok serambi. Cahayanya jatuh ke lantai, pematang, dan pundak pemulang bercangkul. Hanya lampu kecil di ujung desa, namun dunia bertahan karena cahaya semacam itu, sederhana, tekun, tidak banyak bicara. Di bawah lampu, Miko mengerti: menyebut Tuhan tanpa memuliakan manusia hanyalah bunyi; keadilan tanpa keberanian tinggal slogan; kesetaraan tanpa tindakan cuma hiasan pidato; pembebasan dimulai dari pikiran yang diperiksa; kesederhanaan menjaga hati dari kerakusan; ksatria adalah berani mengaku salah; persaudaraan menumbuhkan desa; dan tradisi adalah akar agar masa depan tidak roboh diterjang badai zaman. Teplok terus menyala. Sawah Banjarwaru bagai lautan gelap dijaga satu bintang kecil. Cilacap, April 2026 The post Lampu Teplok di Ujung Pematang first appeared on Kampung Gusdurian . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian .

0
MA
Muhammad Asyrofudin· Warga
Kiriman

Panggung Sandiwara Istana di Balik Muktamar NU

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang kembali membuka kotak pandora tentang bagaimana relasi antara negara dan organisasi keagamaan raksasa tidak pernah benar-benar steril dari syahwat kekuasaan. Perhelatan akbar ini menghadirkan benturan menarik antara klaim normatif dari pemimpin di panggung utama dan spekulasi publik atas manuver politik di ruang-ruang tertutup. Puncak dari drama retorika politik terlihat jelas ketika Presiden Prabowo Subianto hadir membuka Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Di tengah sorotan tajam publik terhadap dugaan intervensi dan paket suksesi kepemimpinan, Presiden Prabowo melontarkan kalimat epik bahwa: “Saya tidak mengatur Muktamar ini. “ Pernyataan itu meluncur dengan nadanya yang santai, bahkan dibumbui gurauan ringan yang mencairkan suasana di hadapan ribuan santri dan kiai. Namun, bagi seseorang yang terbiasa membaca tanda-tanda zaman, kalimat “ bukan saya yang ngatur “ tentu tidak bisa ditelan mentah-mentah sebagai sebuah kepolosan. Dalam tradisi kritik kebudayaan, retorika para penguasa sering kali menyimpan lapis-lapis makna yang tak kasat mata. Sebab, jika kita meminjam cara pandang Erving Goffman, sosok sosiolog yang memandang kehidupan sosial sebagai panggung sandiwara, maka setiap interaksi publik dapat dianalisis melalui Teori Dramaturgi, sebuah teori linguistik yang selalu mengibaratkan interaksi sosial manusia dalam kehidupan sehari-hari seperti pertunjukan teater di atas panggung. Melalui pandangan Goffman, tentunya kita dapat mengatakan bahwa kekuasaan yang mapan tidak pernah bekerja dengan cara-cara yang kasar. Hegemoni yang efektif justru berjalan lewat konsensus dan fabrikasi kewajaran ( naturalization ), yang membuat segala intervensi tampak seolah-olah terjadi begitu saja secara alami. Di sini, panggung Muktamar dapat dilihat sebagai front stage (panggung depan): di mana presiden hadir sebagai tamu agung yang seolah tunduk sepenuhnya pada kedaulatan para kiai. Padahal, di balik tirai atau backstage , bisa jadi para operator politik dan tangan-tangan kekuasaan sedang sibuk merajut lobi-lobi transaksional. Melalui analisis ini, kalimat “ bukan saya yang ngatur ” di atas panggung pada dasarnya hanyalah sebuah disclaimer moral—sebuah siasat untuk mencuci tangan dari segala ikatan dan tanggung jawab struktural atas apa yang sedang diatur di ruang-ruang gelap. Siasat pementasan ini mengingatkan kita pada apa yang dikritik oleh filsuf Guy Debord dalam The Society of the Spectacle —masyarakat tontonan. Pasalnya, dalam pandangan Debord, politik hari ini telah bermutasi menjadi sekadar pementasan citra, di mana kalkulasi kekuasaan yang kotor dirumuskan rapat-rapat di ruang tertutup, untuk kemudian disulap di atas panggung seolah-olah semuanya adalah garis takdir yang alamiah. Dengan demikian, sandiwara yang terjadi sebenarnya adalah realitas yang sengaja diciptakan untuk mengaburkan batas antara intervensi nyata dan kebetulan-kebetulan illusionist, agar publik terlena dalam kepasrahan semu. Pernyataan normatif di atas panggung tentu tidak bisa berdiri sendiri sebagai kebenaran mutlak. Ketika tirai panggung dibuka lebar, fakta-fakta empiris di balik layar justru menunjukkan narasi yang berkebalikan dengan klaim ketidakterlibatan istana. Sebagaimana yang diungkap dalam laporan investigatif siniar Bocor Alus Politik ( Tempo, 29 Agustus 2026 ), dinamika menjelang Muktamar diwarnai oleh bergeraknya lingkaran dekat kekuasaan yang berupaya mendorong dan mengamankan suksesi kepemimpinan tertentu di tubuh PBNU. Penelusuran investigatif tersebut membeberkan adanya sinyalemen kuat mengenai keterlibatan aktor-aktor kekuasaan yang memengaruhi arah dukungan struktural. Skenario semacam ini, telah memperlihatkan bagaimana Muktamar yang idealnya menjadi ruang kedaulatan mutlak warga nahdliyin kerap bergeser fungsi menjadi arena negosiasi elit di bawah bayang-bayang kepentingan kekuasaan eksekutif. Intervensi Istana dalam Muktamar ke-35 NU—yang dibungkus rapi oleh retorika “ bukan saya yang ngatur “ di atas panggung pembukaan—pada akhirnya menemukan pembuktian empirisnya. Apa yang sebelumnya diendus sebagai skenario gelap dalam investigasi media terwujud tanpa sisa. Pasalnya, sebagaimana yang dibeberkan dalam tayangan Bocor Alus Politik ( Tempo, 29 Agustus 2026 ), Kiai Miftachul Akhyar akan kembali dikukuhkan menjabat sebagai Rais Aam PBNU, dan KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) bakal menduduki jabatan ketua umum PBNU periode 2026–2031, telah terbukti faktanya. Kendati demikian, sejarah panjang NU selalu menyisakan paradoks yang menarik: struktur boleh saja ditekuk oleh kompromi elit, tetapi denyut nadi kultural warga nahdliyin di pesantren-pesantren, mushalla, dan masjid akan terus merawat tradisinya sendiri di luar jangkauan cengkeraman kekuasaan praktis. Sebab, NU terlalu kuat untuk diintervensi, terlalu luas untuk dipecah-belah, dan terlalu cair untuk dikurung dalam sangkar besi birokrasi negara mana pun. (SDH) The post Panggung Sandiwara Istana di Balik Muktamar NU first appeared on Kampung Gusdurian . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian .

0
A
admingusdur· Warga
Kiriman

Melahirkan di Bawah Pohon Kersen: Membaca Gempa Flores dengan Kacamata Ekofeminis

Senin malam, 17 Agustus 2026, di Puskesmas Watubaing, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, dua perempuan melahirkan di tengah reruntuhan gempa. Salah satunya melahirkan tepat di kolong pohon kersen halaman belakang puskesmas, karena gedung dianggap tidak lagi aman ditempati. Tenaga kesehatan membentangkan kain dan sarung pribadi mereka untuk menutupi tempat tidur pasien dari angin malam. Di lokasi tersebut, lima bayi lahir, tiga dengan berat normal, dua dengan berat badan rendah, berjuang melawan udara malam sementara bantuan tenda yang sudah dikoordinasikan sejak siang tak kunjung datang (Pos Kupang, 2026). Kisah ini bukan anekdot pinggiran dari bencana. Ia adalah inti dari apa yang selalu luput dari narasi resmi kebencanaan kita, bahwa gempa bumi tidak mengguncang tubuh-tubuh secara setara. Ia menimpa lebih keras tubuh yang sedang mengandung dan menyusui, lanjut usia, difabel, dan mereka di lapisan paling rentan dari struktur sosial. Sepanjang Mei-Agustus 2026, BMKG mencatat rentetan gempa signifikan: Halmahera Barat (M5,7), Pesisir Barat Lampung dan Bengkulu Utara (M5,2), Simalungun Sumatera Utara (M6,4), Teluk Tomini Sulawesi Tengah, hingga Nias Selatan (M6,1) (BMKG, 2026b). Namun yang paling menghancurkan datang pada Sabtu dini hari, 15 Agustus 2026, bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores dengan pusat 30 km timur laut Nagekeo, disusul peringatan dini tsunami untuk NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan (BMKG, 2026). Hingga hari kedelapan pascagempa, lebih dari dua ribu gempa susulan tercatat dan pola peluruhannya belum stabil. Hingga 18 Agustus 2026, BNPB mencatat sedikitnya 70 orang meninggal, 1.182 luka-luka, dan 40.040 jiwa mengungsi tersebar di tujuh kabupaten: Ngada, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ende, Sikka, dan Nagekeo, dengan lebih dari 900 rumah rusak berat (BNPB, 2026). Di balik data di atas, narasi dua ibu di Watubaing menjadi sebuah pola yang berulang setiap kali bencana datang ke negeri ini. Membaca Ulang Kondisi Gempa Ekofeminisme mengajarkan bahwa krisis ekologis dan krisis terhadap tubuh perempuan lahir dari akar yang sama, yaitu logika dominasi memperlakukan alam sebagai objek yang boleh dieksploitasi tanpa batas, sebagaimana ia memperlakukan tubuh perempuan dan kelompok marginal sebagai pihak yang boleh dikorbankan demi “pembangunan” dan “stabilitas”. Dalam buku Staying Alive: Women, Ecology and Survival in India (1988), Vandana Shiva menjelaskan bahwa perempuan dan alam diposisikan sebagai sumber daya yang harus tunduk pada rasionalitas maskulin dan kapitalistik, tanpa mempertimbangkan daya dukung dan daya pulih. Dalam konteks gempa, kerangka ini membantu kita melihat sesuatu yang sering disamarkan oleh diksi netral “korban bencana”. Gempa bersifat non-diskriminatif secara geofisika, tetapi dampaknya sangat diskriminatif secara sosial. Ibu hamil yang harus melahirkan di bawah pohon, karena puskesmas tidak aman menjadi bukti tentang infrastruktur kesehatan reproduksi kita tidak dirancang dengan skenario darurat sebagai standar minimum. Akibatnya, tubuh perempuan selalu menjadi yang paling akhir dipikirkan dalam situasi tanggap darurat. Riset kebencanaan feminis di negara rawan gempa memperlihatkan pola konsisten, yaitu perempuan dan anak-anak memiliki risiko kematian dan kerentanan pascabencana yang secara sistematis lebih tinggi, karena posisi mereka dalam pembagian kerja domestik, akses terbatas pada informasi peringatan dini, keterbatasan mobilitas akibat tanggung jawab mengasuh, dan minimnya representasi mereka dalam pengambilan keputusan tanggap darurat maupun rekonstruksi. Di titik pengungsian, tenda darurat sering tidak menyediakan ruang privat untuk menyusui, mengganti pembalut, atau melahirkan dengan layak. Ketika listrik padam dan air bersih langka, perempuanlah yang biasanya menanggung beban tambahan mencari, mengangkut, dan mengelola air bagi keluarga, di tengah situasi yang sudah traumatis. Lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat di pelosok Nagekeo yang mengaku “terisolir dan tidak terurus” pasca gempa, hanya berteduh dengan terpal seadanya tanpa tenda, makanan, atau selimut yang memadai, menempati posisi yang jauh dari pusat distribusi bantuan, lambat dijangkau logistik, dan dilupakan saat sorot media bergeser ke bencana berikutnya. Sosiolog kebencanaan Kai Erikson, dalam Everything in Its Path (1976), mengajukan tesis penting bahwa tidak ada yang disebut bencana alam murni. Erikson menyebut adanya bahaya alam (natural hazard), yang bertemu dengan kerentanan sosial (social vulnerability). Kondisi ini sudah lama dibangun oleh ketimpangan struktural seperti kemiskinan, wilayah terpinggirkan, tata ruang yang abai terhadap zona rawan gempa, dan bangunan publik tanpa standar tahan gempa yang memadai. Saat fasilitas pendidikan dan kesehatan di Flores runtuh, hal tersebut bukan semata takdir geologis NTT yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, melainkan juga pertanyaan mengapa fasilitas vital di wilayah yang sudah lama diketahui rawan gempa tidak dibangun dengan standar mitigasi yang layak (Kompas, 2026). Sosiologi bencana kontemporer juga mengenal konsep second disaster , yaitu bencana kedua yang muncul bukan dari alam, melainkan dari kegagalan tata kelola pascabencana: distribusi bantuan yang lambat dan timpang, huntara yang berlarut-larut sebelum menjadi huntap, dan proses rekonstruksi yang lama. Warga Nagekeo yang mengaku wilayahnya belum tersentuh pascagempa adalah cermin dari second disaster ini, bencana sosial yang lahir dari kelambanan dan ketimpangan distribusi perhatian negara. Perbaikan Penting Pasca Bencana Dari situasi second disaster tersebut, pemerintah perlu melakukan langkah konkret. Pertama, tanggap darurat berperspektif gender harus menjadi standar. Setiap paket bantuan awal wajib menyertakan kebutuhan spesifik perempuan seperti pembalut, ruang menyusui, dan tenaga kesehatan reproduksi yang siap siaga di titik pengungsian. Kedua , sistem peringatan dini dan jalur evakuasi harus dibangun berdasarkan pemetaan kerentanan sosial. Wilayah dengan populasi lansia tinggi, desa terisolir, dan fasilitas kesehatan di kawasan rawan gempa harus menjadi prioritas bangunan tahan gempa. Ketiga , proses rekonstruksi dari hunian sementara ke hunian tetap wajib melibatkan perempuan dan kelompok rentan sebagai pengambil keputusan, bukan hanya penerima bantuan pasif. Keempat , negara perlu mengakui bahwa keberulangan gempa di Indonesia, menuntut kebijakan mitigasi jangka panjang yang konsisten. Selain dari pemerintah, solidaritas warga juga perlu mendorong transparansi distribusi bantuan agar tidak hanya terkonsentrasi di titik yang mudah dijangkau media, sementara desa terisolir seperti yang dikeluhkan warga Nagekeo justru terlupakan. Kita juga perlu terus menyuarakan, lewat tulisan, diskusi publik, maupun advokasi, bahwa kebutuhan perempuan, ibu hamil, lansia, dan difabel dalam situasi bencana bukanlah kebutuhan tambahan, yang bisa ditunda, melainkan kebutuhan dasar yang setara pentingnya dengan pangan dan tenda. Hal penting lain adalah kita perlu belajar mendengar. Kisah dua ibu di Watubaing, kisah warga desa yang merasa terisolir, kisah petugas kesehatan yang membentangkan sarung pribadi adalah pengetahuan yang lahir dari pengalaman langsung menghadapi bencana. Pengetahuan semacam ini terlalu sering dianggap sekadar pemanis berita, padahal semestinya menjadi bahan evaluasi kebijakan. Bumi Nusantara memang secara geologis bagian dari ring of fire . Namun, siapa yang paling terluka ketika ia berguncang bukan soal takdir atau sudah waktunya. Kondisi ini merupakan hasil dari pilihan kebijakan, alokasi anggaran, dan struktur sosial yang dibangun bertahun-tahun sebelumnya. Selama tubuh perempuan masih menjadi yang terakhir dipikirkan dalam skenario darurat, selama desa-desa terisolir masih dianggap wajar terlambat mendapat bantuan, dan selama fasilitas kesehatan di kawasan rawan gempa masih dibangun seadanya, maka setiap gempa akan terus menjadi dua bencana sekaligus, yaitu bencana alam yang tak terelakkan dan bencana ketidakadilan sosial yang sesungguhnya bisa dicegah. Penulis: Fitria Sari (Pemerhati isu gender dan pembangunan berkelanjutan ) The post Melahirkan di Bawah Pohon Kersen: Membaca Gempa Flores dengan Kacamata Ekofeminis first appeared on Kampung Gusdurian . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian .

0
A
admingusdur· Warga
Kiriman

GUSDURian Pekalongan Refleksikan Kemanusiaan lewat Nobar Film ‘Republik Rente’

Pekalongan – Komunitas Gusdurian Pekalongan bersama Gus Dur Center for Humanitarian Studies menggelar nonton bareng dan diskusi film Republik Rente: Bloody Nickel di Meeting Room Gedung FEBI Lantai 3 UIN KH Abdurrahman Wahid, Pekalongan, Senin (7/9/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Harlah Gus Dur. Film Republik Rente: Bloody Nickel menjadi pemantik refleksi tentang hilirisasi nikel, kerusakan ruang hidup, keselamatan pekerja, kriminalisasi warga, serta relasi hukum dan kekuasaan dalam pengelolaan sumber daya alam. Topik ini dibedah dalam diskusi yang dipandu oleh Dina Nur Amilah dengan menghadirkan narasumber Guru Besar Ilmu Hukum UIN Gus Dur Shinta Dewi Rismawati dan murid Gus Dur, Saiful Huda Shodiq. Dalam paparannya, Shinta menilai persoalan yang ditampilkan dalam film tidak terlepas dari hubungan antara berbagai aktor kekuasaan, termasuk eksekutif, legislatif, yudikatif, dan pihak swasta. Menurutnya, hukum tidak selalu berjalan objektif sebagaimana anggapan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. “Kita selalu dininabobokan oleh mitos-mitos hukum, equality before the law , semua orang di mata hukum sama. Karena realitasnya hukum tidak objektif, melainkan subjektif,” ujarnya. Shinta juga menilai kebijakan hukum dapat dirancang melalui mekanisme yang secara formal legal, tetapi pada saat yang sama berpotensi menguntungkan kepentingan tertentu. Sementara itu, murid Gus Dur, Saiful Huda Shodiq, melihat film tersebut menunjukkan bahwa persoalan pembangunan dan oligarki yang berdampak pada kerusakan alam tidak semata-mata digerakkan oleh kepentingan asing. “Film ini menggambarkan bukan lagi orang asing menjadi aktor utama developmentalisme dan oligarki kerusakan alam. Justru aktor utamanya adalah dalam negeri,” ungkapnya. Wakil Rektor I UIN Gus Dur, Nur Kholis, mengajak agar nilai-nilai Gus Dur tidak berhenti sebagai pengetahuan atau peringatan, tetapi dihayati dan dipraktikkan dalam kehidupan. Ia menekankan sikap tawaduk serta keberanian untuk tidak bergantung pada validasi pihak lain. “Ketika kita lepas dari ikatan, kita bebas sebebas-bebasnya. Tidak butuh validasi, kita berani pantang mundur,” tuturnya. Budayawan Ribut Achwandi mengingatkan kembali ungkapan Gus Dur, “Gitu aja kok repot,” sebagai cara menghadapi persoalan tanpa larut dalam tekanan. Menurutnya, ungkapan tersebut bukan berarti bersikap masa bodoh, melainkan mencari jalan agar persoalan dapat diselesaikan. “Masalah itu bukan untuk dipikirkan, tapi diselesaikan,” katanya. Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan berbagai organisasi kemahasiswaan, organisasi masyarakat, komunitas kepemudaan, komunitas literasi, serta komunitas lainnya di Pekalongan dan sekitarnya. Koordinator Gusdurian Pekalongan, Amir Muzaki, mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut. Ia juga mengaitkan momentum 7 September dengan perjuangan kemanusiaan Gus Dur dan aktivis HAM Munir. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian harlah Gus Dur yang sebelumnya diisi Jagongan Pemikiran Gus Dur dan Walking Tour Keberagaman. Rangkaian tersebut akan dilanjutkan dengan Konferensi Pemikiran Gus Dur pada Oktober mendatang. (SDH) Penulis: Muhammad Maelal Marom (GUSDURian Pekalongan) The post GUSDURian Pekalongan Refleksikan Kemanusiaan lewat Nobar Film ‘Republik Rente’ first appeared on Kampung Gusdurian . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian .

0
FI
Fatia Inast Tsuroya· Warga
Kiriman

Meninjau Ulang Praktik Poligami: Refleksi Pemikiran Kyai-Kyai Feminis

Praktik poligami dalam masyarakat Muslim sering kali dilekatkan pada figur tokoh agama seperti kyai atau ustadz, mengingat pemahaman fikih klasik memang memberikan ruang bagi praktik tersebut dalam situasi tertentu. Fenomena ini nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik yang dilakukan secara privat maupun terbuka oleh sejumlah tokoh publik seperti, Coach Hafidin yang merupakan seorang mentor dan penyelenggara seminar poligami berbayar yang menuai banyak kontroversi di Indonesia karena pandangan dan praktiknya. Figur lain yaitu, Lora Fadil (mantan anggota DPR RI fraksi partai Nasdem) menjelaskan bahwa alasannya berpoligami hingga memiliki tiga istri adalah agar ia dan istri pertamanya membiasakan diri dengan kehadiran bidadari surga karena telah terbiasa berpoligami semasa hidup. Realitas inilah kerap memicu rasa penasaran masyarakat non-Muslim yang kerap melontarkan pertanyaan bernada gurauan kepada umat Muslim yang lain mengenai kapan rencana menambah istri atau pasangan? apakah sebenarnya pertanyaan ini mengandung makna tersirat bahwa seolah-olah orang Muslim suka kawin ? Melakukan poligami pada dasarnya merupakan hak personal setiap individu. Namun, praktik ini kerap memicu ironi ketika sebagian oknum menjadikannya ajang pamer, seolah memiliki banyak istri adalah sebuah simbol superioritas dan pencapaian hidup yang prestisius. Narasi yang dibangun sering kali berlindung di balik alasan mulia: benteng pencegah perselingkuhan, solusi menghindari nikah siri, hingga janji manis akan ganjaran surga. Fenomena inilah yang memicu reaksi keras dari kelompok feminis Muslim, aktivis gender, dan pemikir Islam progresif. Bagi mereka, demi menegakkan martabat kemanusiaan dan keadilan sosial, teks-teks keagamaan tidak boleh dibaca secara kaku. Reinterpretasi atau penafsiran ulang secara progresif mutlak diperlukan agar perempuan ditempatkan pada posisi yang setara, dimanusiakan seutuhnya, serta terlindungi dari berbagai dampak buruk psikologis maupun sosial akibat poligami. Berangkat dari prinsip kesetaraan dan kesadaran akan sulitnya berlaku adil, sejumlah kyai atau ulama besar justru memilih untuk tidak berpoligami. Mereka menerapkan perspektif keadilan gender dalam kehidupan rumah tangga, antara lain adalah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hingga akhir hayatnya, Gus Dur tetap setia dengan satu istri, yakni Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Menurut Gus Dur, ayat Al-Qur’an tentang poligami merupakan sebuah pengandaian yang ditandai dengan penggunaan kata “jika”, dan bukanlah sebuah perintah mutlak atau anjuran agama. Sepanjang hidupnya, Gus Dur dikenal memiliki keberpihakan yang sangat kuat terhadap perlindungan hak-hak perempuan dan penegakan keadilan sosial. Pandangan serupa juga disuarakan oleh Kyai Husein Muhammad, seorang sahabat sekaligus murid Gus Dur yang kerap dijuluki sebagai kyai feminis. Dalam berbagai kajiannya, Buya Husein menjelaskan bahwa Surah An-Nisa ayat 3 sesungguhnya hadir untuk melindungi anak yatim dan perempuan, bukan untuk melegitimasi poligami secara bebas. Poligami dibatasi secara ketat hanya diperuntukkan bagi janda atau perempuan yatim, itu pun wajib didasari oleh kerelaan semua pihak agar hak-hak istri tetap terjaga dengan baik. Lebih lanjut, Buya Husein menilai bahwa poligami seringkali menghambat misi utama pernikahan yang termaktub dalam Surah Ar-Rum ayat 21, yakni membangun keluarga yang Sakinah melalui relasi yang setara. Melalui konsep keadilan materiil dan immateriil, serta dikuatkan oleh penegasan Surah An-Nisa ayat 129, Al-Qur’an sebenarnya memberikan peringatan keras bahwa berlaku adil secara utuh dalam poligami adalah hal yang hampir mustahil dilakukan oleh manusia biasa. Pendapat bijak turut disampaikan oleh cendekiawan Muslim M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul “Perempuan”. Beliau menganalogikan poligami layaknya pintu darurat pada pesawat terbang yang hanya boleh diakses dalam situasi kritis dan mendesak. Pintu ini tidak boleh ditutup permanen karena fungsinya dibutuhkan pada momen tertentu, namun juga tidak boleh dibuka sembarangan tanpa alasan yang sah. Prinsip ini sejalan dengan penegasan Surah An-Nisa ayat 129 bahwa manusia tidak akan pernah mampu berlaku adil secara mutlak, terutama menyangkut rasa cinta dan kecenderungan hati terhadap para istri. Oleh karena itu, hukum poligami dalam Islam sangat dibatasi dan menuntut kehati-hatian yang luar biasa tinggi. Sementara itu, KH. Faqihuddin Abdul Kadir melalui perspektif mubadalah memandang bahwa poligami bukanlah sebuah solusi ideal dalam relasi suami istri, melainkan sebuah problem krusial yang kerap mendatangkan disharmoni dan keburukan. Pandangan ini sangat relevan jika melihat struktur ayat tentang poligami dalam Surah An-Nisa ayat 129 yang diapit oleh pembahasan mengenai nusyuz pada ayat 128 dan perceraian pada ayat 130. Artinya, sebagaimana nusyuz dan perceraian, poligami adalah persoalan pelik dalam relasi perkawinan. Al-Qur’an pada akhirnya memberikan jalan keselamatan agar umat Islam memilih monogami atau menikah dengan satu istri saja demi menghindari potensi kezaliman terhadap perempuan. Bagi para kyai feminis, meninjau ulang poligami bukanlah bentuk melawan hukum Islam, melainkan upaya mengembalikan Islam pada mandat utamanya: menegakkan keadilan dan menghapuskan kezaliman. Pernikahan ideal dalam pandangan ini adalah monogami, karena format inilah yang paling aman untuk menjaga martabat kemanusiaan perempuan dan memastikan keadilan di dalam keluarga. The post Meninjau Ulang Praktik Poligami: Refleksi Pemikiran Kyai-Kyai Feminis first appeared on Kampung Gusdurian . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian .

0
HR
Hana Rusmalia· Warga
Kiriman

GUSDURian Tasikmalaya Bagikan Praktik Inklusif Hulu-Hilir Kopi di Festival Jagat

JOMBANG – Komunitas Gusdurian Tasikmalaya menghadirkan materi pemberdayaan berbasis lingkungan melalui Kelas Ekologi Pengolahan Kopi yang dilaksanakan secara outdoor di halaman venue utama Festival Jagat, Seblak, Jombang (30/8/2026). Peserta yang hadir mendengarkan berasal dari bapak dan ibu guru MA dan MTs Salafiyah Syafiiyah Seblak. Kelas ini dipandu oleh fasilitator Kang Irfan Maulana, seorang pegiat kopi yang mengakui ketertarikannya terhadap dunia kopi karena dorongan ingin dekat dengan sang guru dan mencari tahu hal yang disukainya. Kang Irfan mengenalkan konsep hulu-hilir kopi yang berakar dari program pemberdayaan Gusdurian Tasikmalaya di lereng Tasik Barat, kawasan perbatasan Tasikmalaya dan Garut. Wilayah tersebut memanfaatkan potensi tanaman kopi di area lereng atau jurang sebagai sarana kemandirian ekonomi dan kewirausahaan. Program pembinaan ini secara khusus menyasar anak-anak kelompok rentan yang tidak menempuh pendidikan formal karena menjadi korban intimidasi masyarakat (jemaat Ahmadiyah). Mereka kerap menghadapi diskriminasi saat mendaftar sekolah dengan pertanyaan, ”Kamu Islam apa?”. Gusdurian berupaya untuk mengisi ruang kosong yang tidak terjamah oleh pemerintah setempat sebagai wujud aksesibilitas dan pendidikan inklusif. Hingga saat ini, program tersebut telah berjalan selama tiga angkatan dengan melibatkan siswa secara langsung dalam mengelola perkebunan kopi dan unit usaha lainnya. Pembelajaran dalam Program Pengolahan Hulu-Hilir Kopi diterapkan dengan sistem observasi sekaligus praktik secara langsung, mencakup alur pengolahan dari biji petik merah yang disebut cherry hingga penyajian kopi, yang melibatkan tiga macam jenis kopi dengan proses sangrai ( roasting ) yang dikerjasamakan ke pihak lain. Kang Irfan berharap praktik baik ini dapat memantik ruang belajar dan curah gagasan ( brainstorming ) bagi para peserta bapak dan ibu yang hadir. Selain sisi pemberdayaan sosial, Kang Irfan turut mengedukasi mengenai kesehatan dalam mengonsumsi kopi. ”Saya perhatikan kopi-kopi yang dikonsumsi, sambil ngudud itu kopi sachetan . Yang kalau dikonsumsi berdampak buruk bagi kesehatan,” ucap Kang Irfan di sela-sela forum. Ia memahami kebiasaan masyarakat, terutama masyarakat pesantren, yang gemar merokok sambil mengonsumsi kopi sachet . Melalui kelas ini, ia mengajak peserta untuk kemudian beralih ke kopi olahan yang berkhasiat bagi tubuh. Suasana kelas pun berlangsung hangat dan sarat canda khas pesantren, di mana Kang Irfan menceritakan bahwa kopi selalu menjadi hal pertama yang dicari oleh gurunya saat ia pulang kembali ke pondok. Ia sempat berkelakar, untuk mencairkan suasana yang perlahan menjadi serius, ”Jadi kalau buat konten, sejauh mana kopi membawamu, kopi membawaku ke Mubes NU.” Hal ini memicu gelak tawa bapak dan ibu peserta, ditambah jokes segar yang lainnya. ”Makanya, Bapak, Ibu, sebenarnya kalau Bapak, Ibu pengen tahu kopi nggak usah datang ke sini. Belajar kopi selama seminggu itu kalau pengen pinter sercing saja, tapi kita di NU ada tradisi sanad di mana harus datang langsung, Bapak, Ibu,” kelakar Kang Irfan. Hal ini membuat semakin riuh suasana kelas dan sekitarnya. Materi kelas juga diperkaya dengan kisah sejarah tradisi minum kopi dunia yang bermula dari kawasan Etiopia. Kang Irfan menceritakan awal mula penemuan kopi ketika seorang penggembala mendapati kambing-kambingnya tidak bisa tidur dan bertingkah semakin agresif setelah memakan buah ceri kopi. Fenomena tersebut mendorong seorang biarawan melakukan eksperimen hingga menyadari bahwa konsumsi buah tersebut mampu menghilangkan rasa kantuk di malam hari. Tradisi ini kemudian berkembang pesat ke jalur perdagangan Yaman, di mana biji kopi mulai diolah secara luas, dan menjadi sajian untuk menemani diskusi. (SDH) The post GUSDURian Tasikmalaya Bagikan Praktik Inklusif Hulu-Hilir Kopi di Festival Jagat first appeared on Kampung Gusdurian . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Gusdurian .

0
F
Fakta· Warga
Kiriman

81 TAHUN INDONESIA MERDEKA: APBN HARUS MEMERDEKAKAN RAKYAT DARI SAKIT, KEMISKINAN, DAN KETIDAKADILAN KOTA

No. Reg Release 037/RLS/VIII/2026 Jakarta, 17 Agustus 2026 – Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk menguji kembali makna kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari warga. Kemerdekaan tidak cukup dirayakan melalui upacara, bendera, dan pidato. Kemerdekaan harus hadir ketika warga dapat bernapas tanpa asap rokok, memperoleh pangan yang sehat, menggunakan transportasi publik yang aman, tinggal di hunian yang layak, serta menikmati ruang kota tanpa diskriminasi dan penggusuran sewenang-wenang. Pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai Rancangan APBN 2027 dan Nota Keuangan pada 14 Agustus 2026 harus dibaca sebagai janji konstitusional, bukan sekadar rangkaian angka ekonomi. Pemerintah merencanakan belanja negara 2027 sebesar Rp4.097,2 triliun, pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun, dan pembiayaan anggaran sebesar Rp671,2 triliun, dengan defisit sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen dan inflasi sekitar 2,5 persen. RAPBN 2027 diarahkan pada delapan prioritas, termasuk pangan, energi dan air, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan perumahan, ekonomi rakyat, pembangunan desa, serta penurunan kemiskinan. (“ Keterangan RAPBN 2027 “;” Delapan Prioritas RAPBN 2027 “) FAKTA Indonesia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi bukan tujuan akhir bernegara. Pertumbuhan hanya bermakna apabila memperkecil ketimpangan, memperkuat daya beli, memperbaiki layanan publik, dan meningkatkan kualitas hidup warga—terutama anak, perempuan, penyandang disabilitas, pekerja informal, masyarakat berpenghasilan rendah, dan warga kampung kota. Pasal 23 ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa APBN harus dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal 28H ayat (1) menjamin hak atas hidup sejahtera, tempat tinggal, lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta pelayanan kesehatan. Pasal 28B ayat (2) mewajibkan perlindungan anak, sementara Pasal 34 ayat (3) membebankan tanggung jawab penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan pelayanan umum yang layak kepada negara. Karena itu, RAPBN 2027 tidak boleh hanya besar di atas kertas, tetapi harus dapat dirasakan di kampung, jalan, sekolah, pasar, halte, puskesmas, dan rumah-rumah warga. Pertama, anggaran kesehatan harus mengutamakan pencegahan, bukan terus-menerus membayar mahal penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Indonesia masih menghadapi sekitar 70 juta perokok aktif, dengan 7,4 persen perokok berusia 10–18 tahun. Penggunaan rokok elektronik juga meningkat sepuluh kali lipat, dari 0,3 persen pada 2011 menjadi 3 persen pada 2021. Ini bukan sekadar persoalan pilihan individu, tetapi keadaan darurat kesehatan, perlindungan anak, produktivitas, dan keuangan negara. (“ Kementerian Kesehatan “;” WHO Indonesia “) UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan PP Nomor 28 Tahun 2024 telah memandatkan pembatasan penjualan, iklan, promosi, sponsor, kemasan, serta perluasan Kawasan Tanpa Rokok untuk produk tembakau dan rokok elektronik. Namun, setelah lewat tenggat penyesuaian 26 Juli 2026, sejumlah instrumen pelaksana yang diperlukan belum juga dituntaskan. Negara tidak boleh menyatakan kesehatan sebagai prioritas RAPBN, tetapi pada saat yang sama membiarkan norma perlindungan kesehatan tertahan di meja birokrasi. FAKTA Indonesia mendesak Presiden menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga terkait untuk segera menuntaskan regulasi pelaksana PP Nomor 28 Tahun 2024, disertai anggaran pengawasan dan penegakan yang terukur. Kebijakan cukai hasil tembakau juga harus dikembalikan kepada hakikat cukai sebagai instrumen pengendalian konsumsi barang yang berdampak buruk—bukan semata-mata sumber penerimaan. Tidak menaikkan cukai atau membiarkan rokok tetap murah bukan kebijakan yang netral. Kebijakan itu memperbesar keterjangkauan rokok bagi anak dan keluarga miskin, sekaligus memindahkan beban penyakitnya kepada rumah tangga, BPJS Kesehatan, dan APBN. Kedua, anggaran pangan harus membebaskan anak Indonesia dari gizi buruk sekaligus dari serbuan pangan tinggi gula, garam, dan lemak. Program pemenuhan gizi tidak boleh dinilai hanya dari jumlah porsi yang dibagikan. Mutu gizi, keamanan pangan, air minum yang sehat, pengawasan rantai pasok, serta bebasnya lingkungan sekolah dari rokok dan minuman berpemanis harus menjadi indikator utama. Anggaran pangan dan program Makan Bergizi Gratis harus diikuti kebijakan fiskal dan nonfiskal yang konsisten: penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan, pelabelan gizi yang mudah dipahami di bagian depan kemasan, pembatasan pemasaran pangan tidak sehat kepada anak, serta pengadaan pangan pemerintah yang memenuhi standar kesehatan. Tidak masuk akal apabila negara membiayai makanan bergizi dengan satu tangan, tetapi dengan tangan lain membiarkan industri membanjiri anak-anak dengan iklan produk tinggi gula dan produk adiktif. Ketiga, pembangunan kota tidak boleh mengorbankan warga kota. Prioritas infrastruktur dan perumahan dalam RAPBN 2027 harus diterjemahkan menjadi perumahan rakyat yang layak, air bersih, sanitasi, transportasi publik yang terjangkau, trotoar yang aman, pengendalian polusi udara, perlindungan kampung kota, dan ruang publik yang inklusif. Anggaran tidak boleh didominasi proyek besar yang mempercantik wajah kota tetapi menggusur kehidupan warganya. Setiap kebijakan penataan ruang, pembangunan infrastruktur, dan relokasi wajib memenuhi prinsip partisipasi bermakna, keterbukaan informasi, pemberian ganti kerugian yang adil, serta larangan penggusuran paksa sebagaimana prinsip negara hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Kota yang merdeka bukan kota yang hanya nyaman bagi kendaraan pribadi, pemilik modal, dan pengembang besar. Kota yang merdeka adalah kota yang dapat diakses anak, lansia, penyandang disabilitas, pengguna transportasi publik, pedagang kecil, pekerja informal, dan warga kampung. Keempat, APBN harus transparan sampai pada hasil yang diterima warga. Besarnya belanja negara tidak otomatis berarti kuatnya perlindungan rakyat. FAKTA Indonesia meminta Pemerintah dan DPR membuka secara rinci alokasi, indikator hasil, penerima manfaat, mekanisme pengadaan, serta evaluasi setiap program prioritas RAPBN 2027. Partisipasi publik tidak boleh dibatasi pada sosialisasi setelah keputusan dibuat. Pasal 96 UU Nomor 13 Tahun 2022 menuntut adanya partisipasi masyarakat yang bermakna dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Semangat yang sama harus diterapkan dalam pembahasan APBN: masyarakat berhak didengar, dipertimbangkan, dan memperoleh penjelasan atas masuk atau ditolaknya masukan mereka. Defisit 2,40 persen terhadap PDB mungkin masih berada di bawah batas fiskal. Namun, utang dan defisit tetap harus diuji berdasarkan manfaat sosialnya. Setiap rupiah yang dibiayai melalui utang akan dibayar oleh rakyat pada masa depan. Karena itu, pembiayaan negara harus diarahkan pada pelayanan publik dan investasi sosial yang menghasilkan manfaat lintas generasi, bukan proyek elitis, belanja seremonial, atau program tanpa ukuran keberhasilan yang terbuka. Dalam rangka 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, FAKTA Indonesia menyampaikan enam tuntutan kepada Presiden dan DPR: Menjadikan RAPBN 2027 sebagai anggaran berbasis hak konstitusional, dengan indikator keberhasilan yang mengukur peningkatan kualitas hidup, bukan hanya pertumbuhan ekonomi dan serapan anggaran. Segera menerbitkan dan menjalankan seluruh regulasi pelaksana PP Nomor 28 Tahun 2024, termasuk pengendalian penjualan, iklan, promosi, sponsor, kemasan, serta penegakan Kawasan Tanpa Rokok bagi produk tembakau dan rokok elektronik. Menaikkan dan menyederhanakan struktur cukai hasil tembakau dan rokok elektronik, menutup celah keterjangkauan produk murah, memperkuat pengawasan produk ilegal, serta mengoptimalkan DBH CHT untuk kesehatan, penegakan KTR, penghentian merokok, dan diversifikasi ekonomi petani maupun pekerja. Menerapkan cukai minuman berpemanis dalam kemasan dan kebijakan pangan sehat lainnya sebagai satu kesatuan dengan anggaran kesehatan, pendidikan, dan program pemenuhan gizi anak. Memprioritaskan anggaran bagi transportasi publik, perumahan layak, kampung kota, air bersih, sanitasi, pengendalian polusi, fasilitas pejalan kaki, serta ruang publik yang aman dan inklusif. Membuka seluruh rincian RAPBN 2027 kepada publik dalam format yang mudah diperiksa, termasuk indikator keluaran dan dampak, penerima manfaat, sumber pembiayaan, konflik kepentingan, serta mekanisme pengaduan warga. Hari kemerdekaan harus menjadi pengingat bahwa pemerintah bukan pemilik negara. Pemerintah adalah pemegang mandat rakyat dan setiap rupiah APBN adalah uang rakyat. Setelah 81 tahun merdeka, warga tidak boleh tetap dijajah oleh penyakit yang dapat dicegah, produk adiktif, pangan tidak sehat, udara kotor, kemacetan, hunian tidak layak, dan kebijakan kota yang meminggirkan manusia. Kemerdekaan sejati harus terasa dalam napas warga, makanan anak, rumah keluarga, perjalanan pekerja, serta keberanian negara melindungi rakyatnya dari kepentingan ekonomi yang merusak kesehatan dan masa depan. Tubagus Haryo Karbyanto Sekretaris Jenderal dan Public Policy Advocate FAKTA Indonesia — Forum Warga Kota Indonesia Tentang FAKTA Indonesia FAKTA Indonesia merupakan organisasi masyarakat sipil yang bekerja dalam advokasi hak warga kota, kesehatan publik, perlindungan konsumen, pengendalian produk tembakau dan rokok elektronik, pangan sehat, transportasi publik, lingkungan hidup, perumahan, serta tata kelola pemerintahan yang partisipatif dan berkeadilan. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Fakta .

81 TAHUN INDONESIA MERDEKA: APBN HARUS MEMERDEKAKAN RAKYAT DARI SAKIT, KEMISKINAN, DAN KETIDAKADILAN KOTA
0
F
Fakta· Warga
Kiriman

MBG: Masih Beracun Guys….

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran negara dalam memenuhi hak anak atas pangan yang bergizi, sehat, dan aman. Namun, ketika kabar tentang dugaan keracunan makanan masih terus muncul di berbagai daerah, pertanyaan mendasar harus kembali diajukan: apakah makanan yang disebut bergizi itu benar-benar aman untuk dimakan anak-anak? Jangan sampai slogan Makan Bergizi Gratis justru berubah menjadi Masih Beracun Guuyyss…. Hal paling mendasar tentu bukan sekadar soal menu yang kurang enak, makanan terlambat datang, atau anak-anak tidak menghabiskan makanan yang diberikan. Namun, keracunan pangan adalah persoalan serius karena menyangkut keselamatan dan kesehatan penerima manfaat. Penting untuk diperhatikan, bahwa sebagian besar penerima MBG adalah anak-anak sekolah yang merupakan kelompok yang harus mendapatkan perlindungan khusus. Kementerian Kesehatan sendiri menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan faktor krusial dalam pelaksanaan MBG dan bahwa program ini menyasar kelompok rentan, termasuk anak sekolah. Karena itu, setiap kasus keracunan tidak boleh diperlakukan sebagai sekadar insiden teknis. Di balik setiap anak yang mengalami mual, muntah, diare, pusing, atau harus mendapatkan perawatan medis, ada persoalan tanggung jawab negara. Anak datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk menjadi objek uji coba sistem distribusi makanan. Mereka menerima makanan karena percaya bahwa makanan tersebut telah melewati proses pemeriksaan dan pengawasan yang memadai. Tanggung Jawab Kontrol Kualitas Badan Gizi Nasional (BGN) meminta para guru untuk ikut mencicipi dan menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama siswa di kelas sebagai langkah pengawasan terakhir keamanan pangan. Seperti dinyatakakan oleh Kepala BGN, “Saya ingin, menginginkan, dan memohon kesediaannya kepada Bapak-Ibu guru untuk menu MBG-nya dimakan bersama-sama dengan siswa. Tujuannya adalah untuk supaya sebagai ajang edukasi, menjadi tempat untuk mengedukasi siswa tadi.” [1] Tentu pernyataan tersebut menuai kritik dari banyak pihak. Sejumlah pihak dan asosiasi guru menilai aturan tersebut melimpahkan tanggung jawab yang keliru, membebani guru di luar tugas mengajar, serta mengabaikan peran ahli gizi yang sudah ada di Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG). Harus diperhatikan, jangan sampai beban pengawasan bergeser kepada guru sekolah. Perlu digarisbawahi, bahwa guru bukan ahli keamanan pangan, guru bukan petugas laboratorium, guru bukan penanggung jawab dapur produksi MBG, dan guru memiliki tugas utama mendidik, membimbing, dan melindungi peserta didik dalam proses pendidikan. Ketika makanan datang dari SPPG, seharusnya telah terdapat sistem jaminan keamanan pangan yang memastikan makanan tersebut aman sebelum sampai ke tangan anak. Pada titik ini, pengawasan paling penting berada di SPPG sebagai tempat makanan diproduksi dan dipersiapkan. Di sanalah bahan pangan diterima, disimpan, dicuci, dipotong, dimasak, dikemas, dan kemudian didistribusikan. Setiap tahap memiliki potensi risiko kontaminasi. Karena itu, pengawasan tidak boleh berhenti pada dokumen sertifikasi, tetapi harus memastikan bahwa standar benar-benar dijalankan setiap hari. Ironisnya, pemerintah sendiri telah mengakui pentingnya prinsip tersebut. BGN bahkan menyatakan bahwa pengawasan keamanan pangan MBG harus dilakukan secara berlapis dan berkelanjutan, mulai dari persiapan hingga pascasertifikasi. Pedoman keamanan pangan SPPG juga menempatkan higiene sanitasi dan sistem pengendalian risiko sebagai bagian penting dalam proses penyelenggaraan MBG. Dan, pada Agustus 2026, BGN kembali menyatakan bahwa peningkatan kepatuhan terhadap SOP di seluruh SPPG dilakukan sebagai tindak lanjut atas sejumlah insiden keamanan pangan. BGN menyebut bahwa setiap laporan dugaan keracunan ditindaklanjuti dengan penghentian sementara operasional SPPG terkait, pengujian sampel makanan, dan investigasi untuk mengetahui penyebabnya. Pertanyaannya kemudian: kalau pengawasan dan pengendalian risiko memang sudah dirancang di tingkat SPPG, mengapa sekolah dan guru masih harus dibebani dengan tanggung jawab mengawasi makanan yang mereka sendiri tidak memproduksinya? Peran Sekolah dan Guru Guru memang dapat menjadi bagian dari mekanisme pelaporan apabila anak mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan. Sekolah juga dapat melakukan tindakan cepat untuk menyelamatkan anak ketika terjadi keadaan darurat. Tetapi itu merupakan respons setelah makanan diterima, bukan pengganti sistem pengawasan keamanan pangan di dapur SPPG. Mekanisme complain sesunguhnya harus dibangun saat mau menjalankan program. Murid dan sekolah adalah pemanfaat dari program MBG yang didanai oleh uang rakyat, sehingga sebagai pemanfaat murid dan sekolah boleh melakukan complain jika kualitas yang diterima tidak sesuai, apalagi menimbulkan keracunan. Pada kondisi yang semakin runyam, sesungguhnya Sekolah bisa menuntut SPPG pemasok menu MBG yang diterima oleh siswanya bila terjadi peristiwa keracunan yang diakibatkan oleh Menu MBG. Tetapi, sejauh ini adakah SPPG yang diproses hukum manakala menu yang disajikannya ternyata membawa korban keracunan? Selama ini hanya sanksi penutupan SPPG oleh BGN. Pengawasan yang benar sesungguhnya harus dilakukan sebelum makanan meninggalkan SPPG. Harus ada pemeriksaan bahan baku, suhu penyimpanan, kebersihan peralatan, kesehatan penjamah makanan, proses pemasakan, waktu antara makanan selesai dimasak dan dikonsumsi, kondisi pengemasan, hingga pengendalian distribusi. Sampel makanan juga harus dikelola secara benar sehingga dapat digunakan untuk pemeriksaan apabila terjadi dugaan keracunan. BGN menyatalan bahwa kontrol kualitas makanan dilakukan oleh kepala SPPG bersama ahli gizi, termasuk pemisahan sampel makanan untuk pengujian laboratorium. Namun, realitas di lapangan tidak terlihat demikian. Perlu mendapat perhatian bahwa sekolah seharusnya menjadi titik penerimaan manfaat, bukan laboratorium keamanan pangan. Jangan sampai karena sistem pengawasan di hulu belum optimal, guru kemudian diminta mencium makanan, mencicipi makanan, memperhatikan warna makanan, atau menilai apakah makanan “kelihatannya aman”. Itu bukan sistem keamanan pangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Rantai Pengawasan Pemerintah perlu mengubah paradigma pengawasan MBG dari “makanan sudah dibagikan” menjadi “makanan telah terbukti aman sebelum dibagikan.” Indikator keberhasilan SPPG tidak boleh hanya berapa banyak kotak makanan yang diproduksi dan berapa banyak sekolah yang dilayani. Indikator utamanya harus mencakup keamanan pangan, kepatuhan terhadap SOP, kualitas bahan baku, higiene sanitasi, ketepatan suhu dan waktu, hasil pemeriksaan, serta rekam jejak insiden keamanan pangan. Kepala SPPG dan seluruh tenaga yang terlibat dalam produksi makanan harus memiliki tanggung jawab yang jelas dan terukur. Apabila terjadi dugaan keracunan, proses investigasi harus mampu menjawab secara transparan: makanan diproduksi kapan, bahan bakunya berasal dari mana, siapa yang menangani, bagaimana suhu penyimpanannya, bagaimana proses memasaknya, kapan makanan dikemas, kapan dikirim, kapan diterima sekolah, dan kapan dikonsumsi anak. Ketertelusuran /traceability harus menjadi bagian penting dari MBG. Setiap makanan seharusnya dapat ditelusuri dari meja makan anak kembali ke dapur SPPG, bahkan sampai kepada bahan bakunya. Tanpa sistem penelusuran yang kuat, setiap kasus keracunan akan kembali berakhir pada pola yang sama: anak sakit, sekolah panik, orang tua marah, pemerintah melakukan investigasi, SPPG dihentikan sementara, lalu program berjalan kembali. Regulasi BGN sendiri telah membuka ruang bagi tindakan tegas. Dalam ketentuan mengenai pembinaan dan pengawasan sistem penjaminan keamanan pangan dan mutu pangan, pengawasan mencakup pemantauan, evaluasi, pemeriksaan, dan inspeksi. Apabila ditemukan pelanggaran atau terjadi keracunan, SPPG dapat dikenai sanksi, mulai dari pemberhentian sementara kegiatan produksi dan distribusi, rekomendasi pencabutan sertifikat laik higiene sanitasi, hingga pemberhentian permanen melalui pemutusan kerja sama. Keracunan bukan merupakan konsekuensi yang “wajar” dari program sebesar MBG. Tidak ada target jumlah penerima manfaat yang lebih penting daripada keselamatan anak. Kecepatan ekspansi program tidak boleh mengalahkan kualitas pengawasan. Banyaknya dapur yang dibangun tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan standar. Dan banyaknya kotak makanan yang berhasil dibagikan tidak boleh dijadikan ukuran tunggal keberhasilan. Di titik ini, tidak ada toleransi bagi kesalahan atau keracunan, Zero Tolerance . Dan, tetap harus menjadi kesadaran bagi semua pihak, khususnya Pemerintah: “Awasi SPPG!! Jangan membebani guru dan sekolah. Perkuat dapur produksi, dan tidak memindahkan tanggung jawab ke sekolah. Periksa makanan sebelum sampai ke anak, bukan menunggu anak jatuh sakit”. [1] https://www.cnbcindonesia.com/news/20260810153723-4-757994/kepala-bgn-warning-keras-soal-mbg-minta-guru-turun-tangan-lakukan-ini Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Fakta .

0
F
Fakta· Warga
Kiriman

Cukai MBDK Ditunda, Beban BPJS Kesehatan Membengkak

No. Reg Release 038/RLS/VIII/2026 Jakarta, 20 Agustus 2026 – Forum Warga Kota Indonesia sangat menyayangkan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa, “Cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) belum akan diterapkan pada tahun 2027” seperti dimuat dalam media ibukota pada hari Kamis 13 Agustus 2026. Pernyataan di atas memperlihatkan bahwa kebijakan cukai MBDK belum diperhitungkan dalam penyusunan target negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dan masih dalam tahap pembahasan. Hal ini bertolak belakang dengan janji-janji Kementerian Keuangan sebelumnya, dan ternyata tidak pernah ditepati bahkan pada tahun 2026 rencana pungutan cukai MBDK dibatalkan menunggu perekonomian tumbuh 6%. Abai atas hak Kesehatan Ada dua alasan yang disampaikan Kementerian Keuangan yakni: Penerapan cukai MBDK baru akan dilakukan jika pertumbuhan ekonomi tumbuh 6% pada semester 2 tahun 2026, serta penyusunan target RAPBN 2027 masih dalam tahap pembahasan sehingga cukai MBDK belum masuk dalam target APBN. Alasan tersebut terlihat sangat mengada-ada serta mementingkan kepentingan industri semata. Hal ini terasa sangat mengabaikan hak atas kesehatan masyarakat. Penundaan berulang terhadap kebijakan Cukai MBDK saat ini di saat tengah terjadi lonjakan Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia. Berdasarkan survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 mencatat 47,5% penduduk Indonesia mengkonsumsi minuman berpemanis lebih dari satu kali sehari. Sementara data dari International Diabetes Federation (IDF) 2024 mencatat Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes dewasa tersebar kelima di dunia yang mencapai 20,4 juta jiwa. Hal tersebut menggambarkan prevalensi obesitas penduduk Indonesia meningkat dua kali lipat dalam satu setengah dekade terakhir (2007-2023), dari 10,3% menjadi 23,4 %. Hal paling mengejutkan yakni data dari Kementerian Kesehatan terkait hasil CKG (Cek Kesehatan Gratis) periode Februari 2025 – Februari 2026 menunjukkan bahwa 100% dari 8.103.900 siswa-siswi sekolah dari kelas 7 SMP-12 SMA mengalami gigi berlubang. Dari data di atas, penundaan penerapan cukai MBDK memperlihatkan betapa abainya Negara pada persoalan Kesehatan Masyarakat, khususnya Anak dan remaja. Dampak Penundaan Cukai MBDK Peningkatan Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti obesitas, diabetes tipe-2, gigi berlubang hingga gagal ginjal di Indonesia menunjukkan kian mengkhawatirkan. FAKTA Indonesia melihat bahwa penerapan Cukai MBDK merupakan salah satu langkah intervensi paling efektif untuk mengendalikan konsumsi gula berlebih di masyarakat. Penerapan instrumen cukai bukan sekedar upaya menambah pendapatan negara, melainkan sebuah aturan perlindungan kesehatan masyarakat yang lebih luas. Penundaan yang terus-menerus dilakukan akan membawa dampak besar dari segi ekonomi dan kesehatan publik. Ledakan kasus PTM yang sangat luas lagi terkait diabetes melitus tipe-2, obesitas dan penyakit ginjal kronis yang terus meningkat akan menjadi beban finansial negara yang membengkak akibat lonjakan biaya PTM. Persis pada titik ini, FAKTA Indonesia menegaskan bahwa penerapan cukai MBDK merupakan langkah yang tepat. Atas pernyataan Menteri Keuangan seperti disampaikan di atas, FAKTA Indonesia mengecam keras keputusan Menteri Keuangan yang kembali tidak memasukkan instrumen cukai MBDK ke dalam RAPBN 2027, dan mendesak Komisi XI DPR-RI untuk segera mengesahkan PP Cukai MBDK serta memasukkan Cukai MBDK sebagai komponen dalam struktur APBN 2027. Ingat, penundaan yang berulang menjadi bukti bahwa Pemerintah lebih berpihak kepada kepentingan industri MBDK dibandingkan menyelamatkan kesehatan Masyarakat, serta mengabaikan asta cita ke-4 Presiden dalam meningkatkan uapaya SDM unggul menuju generasi emas. Untuk itu, Negara harus segera menerapkan Cukai MBDK serta mengambil langkah tegas demi masa depan kesehatan bangsa menuju Indonesia emas. Ary Subagyo Wibowo Ketua – Forum Warga Kota Indonesia Tentang FAKTA Indonesia Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia adalah organisasi masyarakat sipil yang mendorong pemenuhan hak warga atas kota yang sehat, adil, aman, inklusif, dan berkelanjutan, termasuk melalui advokasi perlindungan anak, kesehatan publik, kawasan tanpa rokok, pangan sehat, transportasi publik, ruang kota, dan hunian yang layak. Informasi: www.fakta.or.id Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Fakta .

0
F
Fakta· Warga
Kiriman

Kebijakan Pengendalian MBDK untuk Masa Depan Anak-anak Indonesia

Pagi tadi saya jalan-jalan di kawasan hutan lindung Kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Saya melakukan jalan pagi di area hutan lindung dan mendapatkan pemandangan banyaknya botol-botol plastik minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Ketika saya sudah selesai dan turun hendak pulang, saya dapatkan juga kembali banyaknya botol-botol kopi MBDK. Sampah botol MBDK rupanya menguasai semua kawasan hutan lindung. Ketika saya mampir di warung terdekat saya melihat barang dagangan terbanyak yang dijual adalah MBDK. Padahal letak lokasi hutan lindung ini ada di kawasan yang terpencil dan banyak rumah tinggal para petani. Rupanya MBDK tetap ada dan mudah didapatkan walaupun tidak di kawasan perkotaan yang ramai. Saya jadi teringat dengan cerita seorang petani yang hidup di salah satu desa terpinggir di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kawan itu bercerita pada saya bahwa MBDK sangat mudah dan banyak sekali dijual di warung-warung di desanya. “Ketika desa saya baru masuk listrik, banyak warga yang berjualan di rumahnya membeli lemari es. Mereka membeli lemari untuk tempat menyimpan minuman-minuman manis itu agar menjadi dingin. Banyak anak-anak kecil membeli minuman manis (MBDK) karena harganya yang sangat murah sekitar Rp 1.000. Warung-warung itu langsung diserbu dan dikirimi minuman manis dalam kemasan oleh penyalur industri minuman manis”, cerita kawan saya dari Pulau Flores tersebut. Berdasarkan pengalaman pengamatan kawan saya itu berarti yang menikmati berkembangnya sebuah desa paling ujung sekalipun adalah industri MBDK. Ya begitu listrik masuk, langsung masuk serangan dari industri MBDK kepada anak-anak di seluruh Indonesia. Kita ketahui resiko paling dekat dengan anak-anak jika mengkonsumsinya MBDK adalah meningkatnya resiko penyakit tidak menular(PTM). Sekarang ini PTM di Indonesia sudah menyerang anak-anak menjadi penderita penyakit diabetes, kelebihan berat badan (obesitas), sakit gigi berlubang (karies) bahkan sampai menjadi penderita gagal ginjal hingga menjadi pasien cuci darah. Saya sendiri memiliki kedekatan khusus dengan satu penderita gagal ginjal bernama Farhan (20 tahun) akibat sering mengkonsumsi MBDK. Akibatnya Farhan menjadi pasien cuci darah sejak kelas 1 SMP. Farhan menjadi pasien gagal ginjal ketika tinggal di satu desa miskin di Cilacap, Jawa Tengah. Rumah sakit tidak ada yang mampu mengobati sehingga Farhan sekeluarga hijrah dan berobat di Jakarta untuk berobat di RS Fatmawati di Cilandak Jakarta Selatan hingga sekarang. Berdasarkan evaluasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sejak Februari 2025 hingga Februari 2026, tercatat 23,5 juta anak telah mengikuti CKG. menurut menteri kesehatan RI Budi Sadikin masih ditemukan kesenjangan mencolok antara tingginya angka pemeriksaan dengan rendahnya tindak lanjut medis (skrining). Salah satu temuan CKG adalah menyoroti tingginya kasus gigi berlubang (karies) yang sudah menyentuh angka 100 persen pada anak-anak tingkat SMP dan SMA. Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin secara khusus menyoroti masalah penanganan karies gigi atau gigi berlobang. Budi Sadikin meminta agar fasilitas puskesmas harus segera ditingkatkan, tidak hanya melayani pemeriksaan, tetapi juga penanganan. “Hasil CKG gigi paling jelek di anak-anak. Tiga puluh sampai empat puluh persen giginya bermasalah. Nomor satu karies, nomor dua masalah gusi. Pastikan semua puskesmas tidak hanya punya kursi gigi, tetapi juga bisa menambal dan merawat akar gigi,” ujar Menkes Budi dalam Rilis Kementerian Kesehatan 13 Agustus 2026 . Fokus penanganan dampak PTM yang ditawarkan menteri Kesehatan Budi Sadikin hanya di hilirnya aaja atau bersifat reaktif, mengobati. Penangan seperti ini hanya bersifat pemadam kebakaran dan tidak menyelesaikan masalah. Hanya mengobati dan tidak membuat kebijakan penanganan di hulunya, yakni mencegah agar tidak terus anak-anak Indonesia menjadi korban dan pasien PTM. Sekarang ini yang dibutuhkan salah satunya adalah pemerintah membuat kebijakan di hulunya dengan membuat kebijakan pencegahan berupa kebijakan membatasi dan mengendalikan akses terhadap penyebabnya. Kita ketahui salah satu penyebab PTM terbesar dan langsung ke anak-anak adalah minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK), pemasaran MBDK. Kebijakan tersebut yang bermanfaat bagi pengendalian dan pembatasan akses anak-anak terhadap MBDK agar pemerintah melindungi gak tumbuh dan kembang anak sesuai diamanatkan oleh UU Perlindungan Anak Indonesia. Hukum dan Pembangunan Perilaku Sehat Sudah terlalu lama pemerintah membiarkan dan tidak melindungi anak-anak dari bahaya MBDK. Sudah terlalu lama juga pemerintah Indonesia membiarkan anak-anak menjadi sasaran atau target perdagangan industri MBDK. Sudah terlalu lama pemerintah mendukung dan berpihak pada pemodal industri MBDK. Sudah saatnya pemerintah membuat kebijakan di hilir untuk mencegah jatuhnya korban dan melindungi hak hidup sehat anak Indonesia. Menteri Kesehatan Kabinet Bayangan, Irma Hidayana, Ph.D., mengungkapkan bahwa lebih dari 80 persen penyakit tidak menular (PTM) disebabkan oleh tingginya konsumsi makanan olahan, minuman berkadar gula tinggi, serta kebiasaan merokok. Jika benar pemerintah Indonesia ingin menuntaskan masalah PTM harus dibuat dan ada aturan hukum yang membangun perilaku baru, perilaku hidup sehat masyarakat. Saatnya sekarang pemerintah, khususnya menteri kesehatan mendorong dibuatnya aturan hukum yang tegas seperti Peraturan Cukai MBDK dan pengendalian peredaran MBDK. Sudah jutaan masyarakat atau setidaknya 23,5 juta anak peserta CKG jatuh jadi korban dan penderita PTM. Pemerintah gagal membangun tata kelola pembangunan dan reformasi regulasi hukum yang melindungi warga negaranya. Seorang pakar hukum Indonesia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (1929–2021) menawarkan sebuah konsep hukum dalam pembangunan untuk melindungi masyarakatnya. Mochtar Kusumaatmadja menawarkan konsep hukum dan pembangunan di Indonesia agar berhasil membangun tata kelola pemerintahan yang baik. Mochtar Kusumaatmadja mengatakan bahwa hukum bukan hanya sebagai alat ketertiban, tetapi juga sebagai sarana pembaruan dan pengarah perubahan masyarakat agar pembangunan berjalan teratur dan sesuai dengan nilai Pancasila. Beliau menyatakan bahwa hukum bukan sekadar alat, melainkan sarana penting untuk membangun masyarakat dan menjaga keteraturan. Jadi jika pemerintah ingin membangun pola hidup sehat dan masa depan Indonesia sehat maka bangun hukum, kebijakan yang mengarah pada perubahan perilaku sehat masyarakat pembangunan kesehatan terwujud. Maka segeralah pemerintah membangun regulasi hukum yang tegas melindungi warga negaranya dari bahaya penyakit tidak menular (PTM) dengan memberikan cukai bagi produk MBDK serta peredaran produk MBDK untuk Anak Indonesia Sehat. Jakarta, 23 Agustus 2026 Azas Tigor Nainggolan Wakil Ketua FAKTA Indonesia Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Fakta .

Kebijakan Pengendalian MBDK untuk Masa Depan Anak-anak Indonesia
0
F
Fakta· Warga
Kiriman

Selamat Kepada Jakarta Kota Metropolutan. Polusi Udara dan Macet Jakarta, Masalah Menahun dan Tidak Diselesaikan.

Beberapa hari ini buruknya kualitas udara Jakarta menjadi sorotan publik. Pada hari Minggu, 16 Agustus 2026 pagi, data pemantauan IQAir menunjukkan udara Jakarta berada di peringkat kedua sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Berdasarkan data IQAir pada pukul 06.01 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta tercatat berada di angka 167 atau masuk kategori Tidak Sehat Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya konsentrasi polutan PM2.5 yang mencapai 79 mikrogram per meter kubik. Saya jadi teringat dengan kejadian 20 tahun lalu ketika Kota Jakarta yang terus menerus dalam beberapa waktu alami polusi udara yang parah. Masyarakat saat itu memberi gelar Jakarta Kota Metropolutan, Kota metropolitan dengan polusi udara tinggi. Kondisi buruknya kualitas udara Jakarta ini sudah berlangsung sejak bulan Mei 2025. Menyikapi buruknya kualitas udara Jakarta ini, Gubernur Jakarta Pramono Anung menegaskan pemerintah provinsi (pemprov) Jakarta sudah menyiapkan berbagai cara untuk menekan tingkat polusi udara yang kembali menjadi sorotan. Salah satu akan membangun pusat tenaga listrik upaya yang disiapkan Pemprov adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah sebagai alternatif tenaga listrik menggunakan fosil yang selama ini menyumbang polusi udara. Selain itu juga gubernur Jakarta Pramono Anung menargetkan transformasi besar pada sektor transportasi berupa pada tahun 2030 seluruh armada bus TransJakarta ditargetkan sudah beralih ke bus listrik. Apakah kedua proyek besar dan mahal ini bisa juga memecahkan masalah sumber polusinya yakni kemacetan Jakarta? Tetapi gubernur Jakarta, Pramono Anung tidak menguraikan secara jelas cara penanggulangan yang sudah disiapkannya untuk menanggulangi udara buruk Jakarta dapat berdampak positif dalam waktu dekat? Kondisinya sudah membahayakan kesehatan warga yang tinggal dan beraktivitas di Jakarta. Sudah jelas yang dibutuhkan sekarang ini adalah adanya kebijakan penanggulangan dan sekaligus dibuat kebijakan pencegahan agar kejadian udara buruk diulangi terjadi lagi. Memang masalah kondisi buruk udara Jakarta adalah masalah menahun, terjadi selalu setiap tahun karena tidak dibuatkan kebijakan penanggulangan dan pencegahan berkelanjutan oleh pemprov Jakarta 20 tahun ini. Kembali pada dua tahun ini pun pemprov mengulangi kegagalan tidak membuat kebijakan pencegahan dan pengendalian agar udara Jakarta tidak buruk kembali. Dua kebijakan proyek besar dan mahal yang ditawarkan gubernur Jakarta Pramono Anung itu menambah deretan kegagalan kebijakan di hulu yang selama ini dilakukan pemprov Jakarta. Kualitas udara dengan kategori tidak sehat dapat memberikan dampak bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu. Paparan polusi juga berpotensi memberikan dampak terhadap hewan sensitif maupun lingkungan. Dalam rekomendasinya, IQAir mengimbau masyarakat Jakarta untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatakan berbagai langkah yang dilakukan pihaknya tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah kualitas udara buruk selama industri dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batubara di wilayah penyangga masih beroperasi. Keluhan ketidakmampuan memecahkan masalah kota Jakarta ini dan melemparkannya kepada pihak lain juga pernah dilakukan. Pada tanggal 8 Maret 2026 lalu gubernur Jakarta Pramono mengatakan bahwa dia tidak mungkin menghilangkan masalah banjir Jakarta. Pernyataan itu disampaikan gubernur Jakarta Pramono Anung menyikapi tingginya curah hujan turun di Jakarta dan menyebabkan Jakarta banjir karena air tidak bisa mengalir lancar ke laut. Kualitas udara di Jakarta pada pagi 16 Agustus 2026 masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat kedua sebagai kota dengan udara terburuk di dunia. Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pagi hari itu, indeks kualitas udara (AQI) masuk pada tingkat kualitas udaranya tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif. Studi terbaru dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan mayoritas polusi udara Jakarta disumbang oleh sektor transportasi. Studi tersebut merupakan hasil dari penelitian bertajuk Source Apportionment PM2.5 di Jakarta yang dilakukan oleh tim peneliti Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (KK PUL-FTSL) dipimpin oleh Prof. Ir. Puji Lestari, Ph.D, dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang emisi tertinggi di ibu kota, yang kemudian disusul oleh sektor industri, pembakaran sampah, dan aktivitas konstruksi. “ Bagi Jakarta sumber polusi udara jelas paling tinggi adalah sektor transportasi, kemudian baru diikuti industri, pembakaran sampah, baru konstruksi ,” ujar Puji pada 20 Agustus 2026 ketika memaparkan hasil studinya di Jakarta. Membangun Kota Jakarta yang Sehat Tanpa Polusi Udara dan Kemacetan Polusi udara di Jakarta telah menjadi masalah yang berkelanjutan, terus menerus selama bertahun-tahun. Memang sudah ada beberapa upaya perbaikan agar udara Jakarta bersih. Tetapi tetap saja kualitas udara di Jakarta seperti pada tahun 2024 masih berada dalam kategori tidak sehat dan menunjukkan upaya yang dilakukan tidak berdampak perbaikannya hingga hari ini. Memang terdapat beberapa penyebab tingginya polusi udara di Jakarta dan sektor transportasi menjadi penyumbang yang tertinggi. Sektor transportasi yang tertinggi karena tingginya penggunaan kendaraan pribadi yang mengakibatkan kemacetan di Jakarta. Kemacetan Jakarta rata-rata 14 jam setiap harinya, mulai dari jam 07.00 hingga jam 21.00. Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta (pada tahun 2020), sektor transportasi menyumbang sekitar 67,04% dari total polusi udara di Jakarta. Kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar fosil, menghasilkan emisi gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), dan partikel halus (PM2.5). Fakta kemacetan tidak bisa dipungkiri dan memang belum ada perbaikan penanganan masalah kemacetan Jakarta hingga sekarang. Jakarta sudah macet hingga hari ini sejak tahun 1980an. Kemacetan itu disebabkan oleh pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi mulai meningkat sementara penataan transportasi publik berjalan lambat. Jakarta sekarang memang sudah memiliki moda transportasi umum massal modern seperti Transjakarta, LRT Jakarta, MRT Jakarta, KRL Jabodetabek dan LRT Jabodebek. Persoalannya adalah semua moda transportasi umum massal itu masih berjalan sendiri-sendiri dan tidak diintegrasikan pelayanannya oleh pemprov Jakarta. Kemacetan Jakarta sudah kronis dan ibarat penyakit di tubuh manusia sudah komplikasi sehingga membutuhkan beberapa tindakan pengobatan. Masalah kemacetan Jakarta adalah salah sejak awal karena masalah tidak ada kebijakan di hulunya. Selama ini yang dilakukan oleh pemprov Jakarta hanya kebijakan di hilirnya. Kebijakannya reaktif sehingga tetap macet karena kendaraan terlalu banyak tidak lancar mengalir berjalan di jalan raya. Kerugian akibat kemacetan Jakarta sekarang ini sudah mencapai Rp 128 Triliun. Kerugian tersebut juga berupa pemborosan penggunaan bahan bakar berasal dari fosil yang mengakibatkan tingginya polusi udara Jakarta. Untuk memecah kemacetan diperlukan kebijakan di hulu berupa pengendalian penggunaan kendaraan pribadi dan berpindah kepada transportasi umum massal. Kebijakan pengendalian itu berupa upaya komprehensif yang membuat masyarakat tidak mudah menggunakan kendaraan bermotor pribadi seperti integrasi layanan transportasi umum, pembatasan ruang parkir, pengendalian Ganjil Genap, Electronic Road Pricing (ERP) atau Jalan Berbayar Elektronik dan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) atau Penegakan Hukum Lalu Lintas secara Elektronik. Strategi dengan beberapa kebijakan pengendalian komprehensif di hulu ini lebih rasional dan lebih cepat dibanding rencana gubernur Jakarta membangun proyek besar jangka panjang seperti pusat listrik tenaga sampah dan transformasi transportasi bus Transjakarta pada tahun 2030. Coba hitung berapa uang yang dibutuhkan untuk membeli 1.000 bus listrik seharga Rp 10 Miliar per bus untuk transformasi Transjakarta? Belum lagi hitung berapa uang untuk membangun proyek listrik tenaga sampah? Terlalu lama dan terlalu berorientasi proyek mahal sementara polusi udara masih terus menjadi masalah. Membuat kebijakan di hulu lebih cepat dan tidak mahal bisa menghasilkan untuk saling menopang kebijakan lainnya serta lebih bermanfaat secara publik karena berkelanjutan yang artinya lebih rasional. Kebijakan berorientasi proyek, terlalu menunggu lama, solusi mahal menghabiskan uang masyarakat di APBD serta tidak menghasilkan dan berarti tidak rasional. “ Ajakan saya kepada gubernur Jakarta Pramono agar memilih kebijakan memecahkan masalah yang rasional dan bermanfaat bagi warga Jakarta serta tidak berorientasi proyek “, Tigor menjelaskan. Tahun 2027 mendatang Jakarta akan berulang tahun ke lima abad tetapi masalah buruknya udara sudah terpecahkan. Strategi kebijakan di hulu ini dapat segera menyelesaikan masalah polusi udara serta masalah kemacetan Jakarta. Hasilnya jelas, Jakarta menjadi kota yang ramah bagi penghuninya juga sehat lingkungannya – udaranya dan tanpa kemacetan. Jakarta, 25 Agustus 2026 Azas Tigor Nainggolan Analis Kebijakan Transportasi Wakil Ketua Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Fakta .

Selamat Kepada Jakarta Kota Metropolutan. Polusi Udara dan Macet Jakarta, Masalah Menahun dan Tidak Diselesaikan.
0
F
Fakta· Warga
Kiriman

Menanti Cukai MBDK di Meja Hijau

No. Reg Release 039/RLS/VIII/2026 Jakarta, 28 Agustus 2026 – Rencana penerapan cukai MBDK telah berjalan sejak tahun 2016 dan memperoleh komitmen politik yang jelas melalui pencantuman target penerimaan cukai MBDK dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sejak tahun anggaran 2022 hingga 2027. Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Cukai MBDK bahkan telah resmi masuk dalam Program Penyusunan Peraturan Pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2025. Namun, kebijakan ini terus ditunda, dengan alasan perekonomian yang belum stabil. Para Penggugat melalui Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia yang tergabung dalam Gerakan Advokat Pangan Sehat Indonesia selaku kuasa hukum telah menempuh itikad baik sebagai serangkaian upaya persuasif: Surat Peringatan (Somasi I) pada 29 Januari 2026, Surat Peringatan (Somasi II) pada 10 Februari 2026, aksi di depan Istana Kepresidenan dan Kementerian Keuangan, audiensi langsung dengan Kementerian Keuangan, hingga Surat Keberatan yang diserahkan langsung pada 7 Agustus 2026 sebagai Upaya Administratif sesuai UU Administrasi Pemerintahan. Hingga batas waktu yang ditentukan terlampaui, Pemerintah tidak memberikan tanggapan maupun tindak lanjut yang berarti. Krisis Kesehatan yang Terus Membesar Penundaan berulang kebijakan cukai MBDK terjadi di tengah lonjakan Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 47,5% penduduk Indonesia mengkonsumsi minuman manis lebih dari satu kali sehari. Data International Diabetes Federation (IDF) 2024 mencatat Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes dewasa terbesar kelima di dunia, mencapai 20,4 juta jiwa. Prevalensi obesitas penduduk Indonesia meningkat dua kali lipat dalam satu setengah dekade terakhir (2007–2023), dari 10,3% menjadi 23,4%. Data terbaru hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan periode Februari 2025-Februari 2026 turut menunjukkan bahwa 100% dari 8.103.900 siswa-siswi SMP hingga SMA yang diperiksa mengalami gigi berlubang. Gerakan Advokat Pangan Sehat Indonesia menilai bahwa krisis kesehatan ini bertentangan langsung dengan arah pembangunan nasional yang diusung Pemerintah sendiri, termasuk visi Indonesia Emas 2045 dan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, yang menempatkan kualitas kesehatan dan generasi muda sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Tanpa kebijakan pengendalian konsumsi MBDK yang efektif, bonus demografi yang dimiliki Indonesia berisiko berubah menjadi beban demografi, sehingga tidak tercapainya Indonesia Emas 2045. Substansi Gugatan Gugatan yang akan didaftarkan menempatkan Negara Republik Indonesia c.q. Presiden Republik Indonesia sebagai Tergugat I, dan Negara Republik Indonesia c.q. Presiden Republik Indonesia c.q. Menteri Keuangan Republik Indonesia sebagai Tergugat II. Para Penggugat, yang terdiri atas tiga warga negara yang masing-masing memiliki keterkaitan dengan dampak kesehatan akibat konsumsi MBDK, mendalilkan bahwa pembiaran Pemerintah dalam menetapkan kebijakan cukai MBDK merupakan Perbuatan Melawan Hukum oleh Penguasa ( onrechtmatige overheidsdaad ) sebagaimana diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2019 tentang Pedoman Penyelesaian Sengketa Tindakan Pemerintahan. Gugatan ini diajukan bukan semata untuk kepentingan pribadi Para Penggugat, melainkan sebagai bentuk perjuangan kepentingan publik ( public interest litigation ) untuk memastikan negara memenuhi kewajiban konstitusionalnya dalam melindungi hak atas kesehatan seluruh warga negara, khususnya kelompok rentan yang paling terdampak. Gerakan Advokasi Pangan Sehat Indonesia Tentang FAKTA Indonesia Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia adalah organisasi masyarakat sipil yang mendorong pemenuhan hak warga atas kota yang sehat, adil, aman, inklusif, dan berkelanjutan, termasuk melalui advokasi perlindungan anak, kesehatan publik, kawasan tanpa rokok, pangan sehat, transportasi publik, ruang kota, dan hunian yang layak. Informasi: www.fakta.or.id Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Fakta .

0
F
Fakta· Warga
Kiriman

Cukai MBDK Tak Kunjung Diterapkan, Warga Gugat Presiden dan Menteri Keuangan

No. Reg Release 040/RLS/VIII/2026 Jakarta, 31 Agustus 2026 – Para Penggugat melalui Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia yang tergabung dalam Gerakan Advokasi Pangan Sehat Indonesia (GAPSI) selaku kuasa hukum, resmi mendaftarkan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum oleh Pemerintah (Penguasa) ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Gugatan ini diajukan terhadap Negara Republik Indonesia c.q. Presiden Republik Indonesia selaku Tergugat I, dan Negara Republik Indonesia c.q. Presiden Republik Indonesia c.q. Menteri Keuangan Republik Indonesia selaku Tergugat II, atas pembiaran berkepanjangan, yaitu tidak menetapkan kebijakan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK). Pendaftaran gugatan ini merupakan puncak dari rangkaian upaya panjang yang telah ditempuh Para Penggugat bersama FAKTA Indonesia sejak awal tahun 2026, mulai dari penyampaian Surat Peringatan (Somasi I) pada 29 Januari 2026, Surat Peringatan (Somasi II) pada 10 Februari 2026, aksi di depan Istana Kepresidenan dan Kementerian Keuangan, audiensi dengan Kementerian Keuangan, hingga penyampaian Surat Keberatan sebagai Upaya Administratif yang diserahkan langsung pada 7 Agustus 2026. Namun, persoalan ini sesungguhnya bukanlah persoalan yang baru muncul pada tahun 2026. Rencana pengenaan cukai terhadap Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) telah diwacanakan oleh Pemerintah sejak tahun 2016. Dalam perjalanannya, kebijakan ini telah berulang kali tercantum dalam target penerimaan cukai MBDK dalam APBN sejak tahun anggaran 2022 hingga 2027. Dengan demikian, telah hampir satu dekade sejak kebijakan ini pertama kali diwacanakan, namun hingga saat ini Pemerintah belum juga menetapkan regulasi yang diperlukan untuk mewujudkannya. Tuntutan Para Penggugat Dalam gugatannya, Para Penggugat menekankan bahwa pembiaran Tergugat I dan Tergugat II dalam menyusun, mengajukan, dan menetapkan kebijakan cukai MBDK merupakan Perbuatan Melawan Hukum oleh Penguasa ( onrechtmatige overheidsdaad ) sebagaimana diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2019, yang bertentangan dengan kewajiban penyelenggaraan pemerintahan yang baik, kewajiban perlindungan kesehatan masyarakat, serta hak konstitusional warga negara atas kesehatan. Adapun pokok-pokok tuntutan yang dimohonkan Para Penggugat kepada Majelis Hakim PTUN Jakarta antara lain: Mengabulkan gugatan PARA PENGGUGAT untuk seluruhnya; Menyatakan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara a quo ; Menyatakan PARA TERGUGAT telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum oleh Penguasa berupa pembiaran ( omission ) dalam melaksanakan kewajiban hukum dan konstitusional terkait pengendalian konsumsi MBDK; Menyatakan pembiaran PARA TERGUGAT berupa tidak dilaksanakannya kewajiban hukum untuk menyusun dan menetapkan kebijakan fiskal berupa cukai MBDK, bertentangan dengan kewajiban penyelenggaraan pemerintahan yang baik, kewajiban melindungi kesehatan masyarakat dan hak konstitusional warga negara; Menghukum TERGUGAT II untuk segera menyusun dan mengajukan rancangan Peraturan Pemerintah mengenai Barang Kena Cukai berupa MBDK yang sesuai dengan bukti ilmiah, praktik terbaik, dan prinsip perlindungan kesehatan masyarakat serta ketentuan peraturan perundang-undangan; Menghukum TERGUGAT I untuk segera menetapkan dan menerbitkan Peraturan Pemerintah mengenai Barang Kena Cukai berupa MBDK sebagai langkah penting dalam pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular; Menghukum PARA TERGUGAT untuk membentuk mekanisme pemantauan dan evaluasi yang transparan dengan melibatkan masyarakat sipil guna menilai pelaksanaan dan efektivitas kebijakan tersebut dalam mencapai tujuan kesehatan masyarakat; Menghukum PARA TERGUGAT untuk melaksanakan prinsip-prinsip good governanc e, dengan melibatkan PARA PENGGUGAT secara aktif, patut, transparan, dan bermakna dalam proses perumusan kebijakan, keputusan, dan/atau tindakan administratif yang berkaitan dengan objek perkara a quo ; Menetapkan jangka waktu pelaksanaan kewajiban tersebut paling lama 12 (dua belas) bulan sejak putusan ini ditetapkan; Menyatakan putusan ini dapat dijalankan terlebih dahulu ( uitvoerbaar bij voorraad ) meskipun terdapat upaya hukum lainnya; Menghukum PARA TERGUGAT untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Republik Indonesia; Menghukum PARA TERGUGAT secara tanggung renteng untuk membayar biaya perkara; Menyatakan bahwa apabila PARA TERGUGAT tidak melaksanakan putusan ini, maka tindakan tersebut merupakan bentuk ketidakpatuhan terhadap putusan pengadilan ( non-compliance ) dan contempt of court. Bagi Para Penggugat, gugatan ini bukan sekadar persoalan mengenai penerimaan negara atau kebijakan fiskal. Gugatan ini berangkat dari pengalaman nyata masyarakat yang menghadapi dampak penyakit tidak menular dan semakin besarnya beban kesehatan akibat lingkungan pangan yang tidak sehat. Hotmarina sebagai Penggugat melihat persoalan ini dari perspektif perlindungan kesehatan masyarakat dan perubahan perilaku. “ Hukum adalah cara paling cepat membentuk atau membuat suatu pola, salah satunya soal perilaku konsumsi. ” Farhan, salah satu Penggugat yang mengalami dampak langsung penyakit kronis sejak usia anak, menekankan pentingnya peran negara dalam melakukan pencegahan, khususnya terhadap anak-anak. “Harapannya agar negara bisa melakukan pencegahan dan tindakan melindungi kesehatan masyarakat Indonesia, terutama anak-anak di bawah umur yang belum paham bahaya MBDK.” Sementara itu, Tony, Penggugat yang juga merupakan Ketua dan Pendiri Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), menyoroti besarnya beban yang harus ditanggung negara dan masyarakat ketika pencegahan tidak dilakukan sejak awal. “Negara jangan hanya membayar saat masyarakatnya sudah sakit. Negara harus berani mencegah masyarakatnya untuk sakit.” Krisis Kesehatan yang Menjadi Dasar Gugatan Gugatan ini didasarkan pada data kesehatan yang menunjukkan urgensi persoalan: Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 47,5% penduduk Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali sehari; data International Diabetes Federation (IDF) 2024 mencatat Indonesia sebagai negara dengan penderita diabetes dewasa terbesar kelima di dunia, mencapai 20,4 juta jiwa; serta prevalensi obesitas yang meningkat dua kali lipat dalam satu setengah dekade terakhir (2007–2023), dari 10,3% menjadi 23,4%. Keadaan ini menegaskan pentingnya intervensi untuk menekan konsumsi gula masyarakat. Berbagai studi nasional maupun internasional membuktikan bahwa cukai MBDK efektif menurunkan konsumsi gula, yang merupakan faktor risiko utama obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit tidak menular lainnya. Sebanyak 106 negara termasuk negara-negara ASEAN seperti Kamboja, Laos, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Malaysia dan Timor Leste juga sudah menerapkan cukai MBDK dan banyak yang berhasil mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat (World Bank, 2023). Studi CISDI (2024) juga menunjukkan bahwa penerapan cukai MBDK dengan menaikkan harga minimal 20 persen berpotensi mencegah lebih dari 3,1 juta kasus diabetes di Indonesia, menghemat Rp24,9 triliun biaya pengobatan diabetes tipe 2 dan Rp15,7 triliun kerugian akibat hilangnya produktivitas ekonomi. Sementara itu, usulan cukai MBDK telah diproses sejak 2016 melalui kajian lintas kementerian dan lembaga, menunjukkan komitmen panjang menuju kebijakan fiskal pro-kesehatan. Berbagai studi nasional maupun internasional membuktikan bahwa cukai MBDK efektif menurunkan konsumsi gula, yang merupakan faktor risiko utama obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit tidak menular lainnya. Sebanyak 106 negara juga sudah menerapkan cukai MBDK dan banyak yang berhasil mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat (World Bank, 2023). “ Kami tidak lagi bisa menunggu. Setiap penundaan berarti lebih banyak keluarga menanggung beban kesehatan dan ekonomi yang sebenarnya bisa dicegah. Hari ini kami membawa perjuangan ini ke ruang sidang, sebagai bentuk pertanggungjawaban negara yang kami tuntut secara hukum ,” ujar Ari Subagyo selaku Kuasa Hukum yang tergabung dalam Gerakan Advokasi Pangan Sehat Indonesia Ari Subagyo menegaskan bahwa gugatan ini diajukan bukan semata untuk kepentingan pribadi Para Penggugat, melainkan sebagai bentuk perjuangan kepentingan publik ( public interest litigation ) untuk memastikan negara memenuhi kewajiban konstitusionalnya melindungi hak atas kesehatan seluruh warga negara, khususnya generasi muda dan kelompok rentan yang paling terdampak oleh ketiadaan kebijakan pengendalian konsumsi MBDK. Gerakan Advokasi Pangan Sehat Indonesia akan terus memantau dan menginformasikan perkembangan proses persidangan kepada publik. Gerakan Advokasi Pangan Sehat Indonesia Forum Warga Kota Indonesia Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Fakta .

0
F
Fakta· Warga
Kiriman

Mengantar Cukai MBDK Menuju Ruang Sidang

“ Hukum adalah cara paling cepat membentuk atau membuat suatu pola, salah satunya soal perilaku konsumsi ” (Hotmarina Parapat – Penggugat) Kebijakan penerapan cukai terhadap Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) hingga saat ini terus mengambang tanpa kejelasan yang pasti. Kebijakan yang sejatinya dirancang untuk mengendalikan tingkat konsumsi gula berlebih di masyarakat tersebut seolah menguap di tengah dinamika birokrasi dan kepentingan ekonomi. Berbagai advokasi masyarakat sipil telah diupayakan untuk mengingatkan pemerintah akan urgensi kebijakan tersebut. Forum Warga Kota Indonesia (FAKTA Indonesia) sejak beberapa tahun terakhir, terus menggulirkan wacana pencukaian MBDK. Namun, Pemerintah terus menunda eksekusi aturan Cukai MBDK meski ancaman kesehatan publik sudah berada di depan mata. Bahkan, upaya non-litigasi hingga penyampaian aspirasi resmi telah berulang kali dilayangkan oleh pihak FAKTA Indonesia. Mulai dari surat keberatan hingga somasi hukum formal telah disampaikan secara tertulis kepada Kementerian Keuangan serta Presiden Republik Indonesia. Deretan surat keberatan dan peringatan hukum formal tidak mendapatkan respons konkret maupun jawaban resmi dari para pengambil kebijakan. Diamnya instansi terkait menandakan lemahnya komitmen dalam mendengarkan penegakan hak kesehatan masyarakat. Dan, pengabaian atas somasi tersebut memperlihatkan betapa kuatnya tembok resistensi di tingkat pembuat kebijakan. Hal tersebut mempertegas kesan bahwa pemerintah enggan mengambil langkah berani yang berseberangan dengan arus industri. Pintu diplomasi dan advokasi damai nampaknya telah tertutup rapat, dan langkah persuasif tidak lagi efektif. FAKTA Indonesia menetapkan langkah menuju tahap penegakan hukum melalui jalur persidangan. Proses hukum sebagai jalan terakhir untuk memecah keheningan pemerintah. Manakala dialog dan peringatan tertulis diabaikan, ruang sidang menjadi muara untuk memunculkan akuntabilitas publik. Pertaruhan Hak Kesehatan Masyarakat di Meja Hijau Persiapan menuju meja hijau semakin dekat, seiring semakin lengkapnya bukti-bukti penundaan regulasi yang telah dikumpulkan oleh tim kuasa hukum dari FAKTA Indonesia. Gugatan yang dilayangkan menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas kelalaian melindung hak hidup sehat warga negaranya. Dan mengarah bahwa persidangan nantinya akan menguji sejauh mana kewajiban konstitusional negara dalam mengintervensi pasar demi kesehatan masyarakat. Penundaan cukai MBDK merupakan sebagai bentuk pengabaian terhadap ancaman lonjakan penyakit tidak menular. Data kesehatan menunjukkan peningkatan signifikan angka penderita diabetes melitus dan gagal ginjal usia muda di Indonesia. Konsumsi MBDK yang tinggi tanpa kendali harga dan cukai menjadi salah satu penyumbang utama krisis kesehatan ini. Dan, bermula dari krisis tersebut beban pembiayaan kesehatan negara melalui BPJS pun terus membengkak akibat penanganan penyakit kronis akibat konsumsi gula berlebih. Hal ini seharusnya menjadi pertimbangan utama Kementerian Keuangan dalam mengambil keputusan. Penundaan berulang terhadap kebijakan Cukai MBDK saat ini di saat tengah terjadi lonjakan Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia. Berdasarkan Survey Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 mencatatat 47,5% penduduk Indoenesia mengkonsumsi minuman berpemanis lebih dari satu kali sehari. Sementara data dari International Diabetes Federation (IDF) 2024 mencatat Indonesia sebagai negara dengan jumlah penederita diabetes dewasa tersebar kelima di dunia yang mencapai 20,4 juta jiwa. Hal tersebut menggambarkan prevalensi obesitas penduduk Indonesia meningkat dua kali lipat dalam satu setengah dekade terakir (2007-2023), dari 10,3% menjadi 23,4 %. Hal paling mengejutkan yakni data dari Kementerian Kesehatan terkait hasil CKG (Cek Kesehatan Gratis) periode Februari 2025 – Februari 2026 menunjukkan bahwa 100% dari 8.103.900 siswa-siswi sekolah dari kelas 7 SMP-12 SMA mengalami gigi berlubang. Akan tetapi, berdalih untuk perlindungan industri dan stabilitas ekonomi kerap dijadikan tameng untuk menunda implementasi cukai MBDK. Pemerintah secara kasat mata mengayomi keberlanjutan bisnis ketimbang beban medis jangka panjang yang ditanggung warga. Melalui gugatan ini, FAKTA Indonesia berharap hakim dapat melihat persoalan cukai MBDK bukan sekadar urusan penerimaan negara semata. Cukai merupakan instrumen kendali sosial demi keselamatan generasi mendatang. Sebab, banyak contoh negara lain berhasil membuktikan bahwa skema Cukai MBDK mampu menurunkan tingkat konsumsi gula secara efektif. Dan, jika tidak segera ada pencukaian MBDK maka Indonesia terancam tertinggal jauh jika terus terjebak dalam penundaan regulasi yang tak berkesudahan. Dukungan dari publik dan akademisi pun kian mengalir mengiringi berjalannya proses menuju pengadilan ini. Masyarakat semakin menyadari pentingnya regulasi ketat terhadap peredaran produk MBDK yang kian masif. Menanti Ketegasan Hukum dan Keberanian Pemerintah Gugatan yang akan disampaikan diharapkan mampu memberikan dorongan moral serta tekanan yuridis bagi Kementerian Keuangan dan Presiden. Hukum diharapkan dapat menjadi alat penggerak ketika kehendak politik ( political will ) pemerintah mengalami kelumpuhan. Tentu, jika kemenangan tercapai, pemerintah tidak lagi memiliki alasan legal untuk menunda eksekusi kebijakan Cukai MBDK. Putusan pengadilan akan menjadi dasar hukum yang mengikat secara imperatif. Langkah hukum FAKTA Indonesia akan menjadi preseden penting bagi gerakan sipil di Indonesia. Penyelamatan kesehatan publik harus mampu menembus tembok birokrasi yang dingin dan resisten. Meski, sesungguhnya Pemerintah tidak perlu menunggu vonis pengadilan untuk mengambil tindakan yang benar. Tanggung jawab moral dan konstitusional seharusnya sudah cukup menjadi dorongan utama untuk segera menerbitkan aturan cukai MBDK. Pembiaran peredaran MBDK tanpa kendali cukai sama saja membiarkan bom waktu kesehatan publik meledak di masa depan. Sikap Kementerian Keuangan dan Presiden sangat dinantikan di tengah situasi yang makin memprihatinkan ini. Dan melalui gugatan MBDK ini, Publik menantikan apakah keadilan bagi hak kesehatan masyarakat dapat diraih melalui ketuk palu hakim di pengadilan. Perjuangan mendorong Cukai MBDK bukan sekadar persoalan angka tarif cukai, melainkan pertaruhan atas masa depan kesehatan bangsa Indonesia. Sudah saatnya pengabaian atas hak-hak rakyat dihentikan melalui ketegasan hukum yang adil. (Haris Shantanu) Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Fakta .

Mengantar Cukai MBDK Menuju Ruang Sidang
0
F
Fakta· Warga
Kiriman

Bencana dan Krisis Peradaban

Bencana tidak selalu datang dari alam. Banyak bencana justru lahir dari cara manusia memperlakukan alam dan dari cara negara mengelola pembangunan. Ketika sungai mengering, hutan hilang, gunung meletus menelan korban, atau kebakaran hutan berulang setiap tahun, pertanyaan yang harus diajukan bukan sekadar “mengapa alam begitu ganas?” tetapi “mengapa negara membiarkan kerentanan itu terjadi?” Mengeringnya Sungai-sungai di Kalimantan, seperti Sungai Barito, Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam harus dibaca lebih jauh daripada sekadar fenomena kekeringan. Dibaliknya terjadi kerusakan kawasan hutan, perubahan tata air, dan aktivitas pertambangan yang dilakukan secara ugal-ugalan telah menggerus daya dukung ekologis. Sungai yang semestinya menjadi urat nadi kehidupan berubah menjadi indikator bahwa keseimbangan alam telah dipaksa melewati batas. Hal yang sama terlihat dalam penanganan erupsi gunung berapi. Dalam beberapa minggu ini, di Indonesia terdapat 7 erupsi gunung berapi, dan nyaris semua gagap menyikapinya. Erupsi Anak Krakatau yang mengakibatkan hujan abu, dan mampu menghentikan jadwal penerbangan berbagai maskapai di beberapa bandara. Kondisi bencana di atas, mempertegas bahwa Pemerintah tidak memiliki sensitivitas atas peristiwa bencana yang terjadi. Bahkan bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sampai saat ini masih banyak warga korban yang nasibnya terlunta-lunta. Di sinilah bencana memperlihatkan wajah pengelolaan negara yang sesungguhnya: pengelolaan system kebencanaan sebagai cermin krisis peradaban. Ketika hutan dipandang semata sebagai komoditas, tanah hanya dihitung berdasarkan nilai ekonominya, dan sungai dianggap sebagai ruang yang dapat dieksploitasi, maka kehancuran lingkungan bukan lagi kecelakaan. Ia merupakan konsekuensi dari pilihan kebijakan pembangunan. Minimnya Peran Negara Sebagai negara yang hidup berdampingan dengan gunung api, memiliki sumberdaya alam melimpah Indonesia harus memiliki mekanisme penanganan jika terjadi kebencanaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah dibentuk dan telah pula bekerja. Namun dalam perjalanan waktu, pada saat negara terdapat banyak bencana, anggaran di BNPB malah dikurangi. Bahkan, jika ditelusur anggaran BNPB dari tahun 2020 – 2026 menurun secara signifikan, seperti terlihat pada tabel berikut: Sumber: Kompas.com, 7 September 2026, 14:12 WIB [1] Dari data anggaran di atas, terlihat bahwa penurunan paling tajam justru terjadi dalam dua tahun terakhir: dari Rp 4,92 triliun pada 2024 menjadi Rp 2,01 triliun pada 2025, kemudian menjadi Rp 491 miliar pada 2026. Namun, ada satu hal penting: anggaran BNPB tidak sama dengan keseluruhan anggaran penanggulangan bencana nasional. BNPB sendiri menjelaskan bahwa pendanaan kebencanaan juga tersebar pada kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. Hal paling krusial dari penjelasan tersebut, yakni banyaknya kementerian/lembaga yang melakukan efisiensi anggaran di mana ujungnya berdampak pada ketersediaan anggaran dalam proses tanggap bencana itu sendiri. Bagaimana kondisi dan penanganan daerah di titik bencana? Jika merujuk penanganan berbasis local, maka Pemerintah Desa juga Kelurahan merupakan ujung tombak dalam penanganan pasca bencana. Tetapi, apa daya Desa, jika Dana Desa pun lenyap akibat dipangkas untuk Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Maukah kita belajar? Mungkin kita perlu berhenti menggunakan istilah bencana alam untuk menutupi seluruh rangkaian kesalahan manusia. Alam memang memiliki prosesnya sendiri, tetapi tingkat kerusakan dan jumlah korban sangat ditentukan oleh keputusan manusia dan kualitas tata kelola negara. Dengan demikian, hal paling mendasar menjadi rujukan yaitu sejauhmana Pemerintah menyiapkan dan mengembangkan mekanisme pencegahan sekaligus penanganan bencana. Jadi, ukuran keberhasilan negara dalam menghadapi bencana bukan seberapa cepat pejabat datang membawa bantuan setelah bencana terjadi, akan tetapi seberapa serius negara mencegah kerusakan ekologis, mengendalikan eksploitasi sumber daya alam, menegakkan tata ruang, memastikan sistem peringatan dini, dan melindungi masyarakat yang berada di wilayah rawan. Rakyat pun pasti tidak akan bangga menyaksikan seorang Menteri memanggul beras masuk ke desa, karena itu pasti hanya pencitraan. Bukankah buruknya pengelolaan kebencanaan yang terus berulang adalah tanda bahwa ada yang salah dalam cara kita membangun peradaban. Dan ketika kerusakan itu terjadi karena pembiaran, lemahnya pengawasan, atau kebijakan yang lebih tunduk pada kepentingan eksploitasi daripada keselamatan rakyat, negara harus berani bercermin: jangan-jangan yang sedang mengalami bencana bukan hanya alam, tetapi juga tata kelola negara itu sendiri. Siapa Dalang Semua Bencana? Jika: Program penguatan pengelolaan kebencanaan tidak dikerjakan; Anggaran pencegahan dan penanganan bencana dikurangi; Anggaran Daerah dipangkas; Para pembakar hutan tidak ditindak; Aktor pembalakan hutan dibiarkan; Maka: Siapa Dalang Semua Bencana di atas? [1] Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/09/07/14124291/melihat-anggaran-bnpb-sejak-2020-2026-dari-rp-1178-triliun-jadi-rp-491. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di Fakta .

Bencana dan Krisis Peradaban
0
SG
Steve Georgakis, Senior Lecturer of Pedagogy and Sports Studies, University of Sydney· Warga
Kiriman

Argentina dengan keajaiban Messi vs Spanyol yang ‘lengkap’ secara taktik: Siapa juaranya?

Rekor 102 pertandingan telah dimainkan, menyisakan dua laga terakhir Piala Dunia 2026 : perebutan tempat ketiga (antara Prancis vs Inggris) dan partai final. Laga puncak yang akan dimainkan pada Senin (20/7) dini hari WIB mempertemukan dua tim peringkat teratas dunia : Spanyol melawan Argentina. Mereka akan bertemu di partai final yang sangat ideal. Bagaimana perjalanan kedua tim mencapai final, dan seperti apa prediksi jalannya pertandingan nanti? Spanyol: tim dengan taktik komplet Kedua tim mencapai final tanpa terkalahkan setelah melewati tujuh pertandingan. Spanyol datang sebagai juara bertahan Eropa dan negara peringkat kedua dunia. Adapun Argentina adalah juara bertahan Copa América dan Piala Dunia, sekaligus peringkat pertama dunia. Spanyol bisa dibilang merupakan tim dengan taktik paling lengkap di turnamen ini . Mereka memiliki fondasi penguasaan bola yang dominan dan sabar, presssing (tekanan) tanpa henti, dan organisasi pertahanan yang luar biasa. La Roja (Si Merah, julukan timnas Spanyol) melucuti Prancis 2-0 di semifinal —dengan hanya memberikan sedikit peluang menyerang untuk tim lawan dan hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen. Dalam kacamata ilmu olahraga, Spanyol perlahan membangun performa puncak menuju final, kendati sempat ditahan imbang oleh Cabo Verde di partai pembuka fase grup. Ciri khas tim Spanyol adalah tidak ada seorang pemain pun yang menonjol di atas pemain lainnya. Kesuksesan tim terbagi rata di seluruh skuat. Ini adalah tim yang komplet. Diarsiteki pelatih Luis de la Fuente yang sedang berada di puncak kariernya, enam pemain telah mencetak setidaknya satu gol. Salah satunya adalah Mikel Oyarzabal yang memimpin daftar dengan torehan lima gol. Kiper Unai Simón juga tampil kokoh menjaga mistar gawang. Dia melakukan sejumlah penyelamatan brilian, serta penempatan cerdas di luar kotak penalti. Dani Olmo—meski sempat dua kali diganti—selalu menjadi momok serangan yang mengancam lawan. Sementara itu, kapten Rodri menjalankan tugasnya dengan baik, meski jarang disorot. Dia sukses mengorkestrasi tim secara luar biasa dari lini tengah. Argentina dan keajaiban Messi Argentina juga merupakan tim hebat, tetapi jenis kehebatannya berbeda. Mereka memiliki satu pemain kunci yang sangat menonjol. Nyaris tak ada lagi yang perlu dijelaskan tentang kehebatan Lionel Messi. Meski begitu, kecemerlangan tim Argentina tidak semata-mata dibangun di atas kejeniusan sang megabintang—melainkan berpusat pada komitmen luar biasa dari sepuluh pemain di sekelilingnya. Mereka rela berlari, bertahan, berkorban untuknya, dan sepenuhnya percaya kepada Messi. Messi diberi kebebasan untuk menghemat energinya dan menyelinap ke ruang-ruang di mana ia bisa memberikan dampak terbesar dalam membobol pertahanan lawan. Rekan-rekan setimnya yang memikul beban fisik dalam mengejar bola dan menghalau serangan. Mereka membiarkan sang kapten menciptakan momen-momen magis di saat paling krusial. Baca juga: ‘Aging like a fine wine’: Mengapa Messi masih mendominasi di Piala Dunia? Messi lebih dari seorang pemimpin bagi timnas Argentina. Dia adalah inspirasi, simbol, dan sosok yang memikul harapan seluruh rakyat Argentina. Sepanjang turnamen, setiap kali Argentina menghadapi situasi genting, para pemain berpaling kepada Messi dengan keyakinan penuh bahwa ia akan menemukan jalan keluar. Messi hampir selalu berhasil melakukannya, seperti yang dia tunjukkan dalam kemenangan tak terlupakan Argentina atas Inggris. Perayaan atas kemenangan itu lebih dari sekadar mengantongi tiket ke babak final. Bagi banyak warga Argentina, ada beban emosional dari warisan Diego Maradona yang kontroversial. Kali ini Argentina sanggup mengalahkan Inggris di panggung sepak bola terbesar lewat keterampilan dan semangat pantang menyerah—bukan keberuntungan semata. Ini merupakan sejarah penting lain dalam perjalanan luar biasa Argentina di Piala Dunia. Bagaimana hasil akhirnya nanti? Secara taktik, pertandingan ini menjanjikan kontras yang menarik. Spanyol akan berusaha mendominasi penguasaan bola. Mereka akan dengan sabar mengalirkan umpan hingga celah pertahanan lawan terbuka. Di sisi lain, Argentina cukup nyaman bermain rapat dalam bertahan, sebelum akhirnya memberikan serangan balik yang cepat (biasanya melalui Messi). Siapa pun yang mampu mengendalikan tempo permainan di lini tengah kemungkinan besar akan menjadi juaranya. Spanyol akan mencoba bermain elegan seperti saat menghadapi Prancis. Rodri akan memastikan timnya menghindari “pertarungan jalanan” yang mungkin akan dipancing oleh para pemain Argentina. Faktor sejarah menambah keseruan partai puncak ini. Spanyol tengah mengejar gelar kedua Piala Dunia setelah memenangkannya di tahun 2010. Sementara Argentina memburu gelar keempat. Mereka juga berambisi untuk mempertahankan trofi Piala Dunia ( back-to-back )—sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi selama lebih dari enam dekade. Spanyol berpeluang mengukuhkan era dominasi baru di laga final ini. Adapun Argentina berambisi memperpanjang salah satu periode terbaik dalam sejarah sepak bola mereka. Ini merupakan klimaks yang sangat ideal untuk turnamen akbar sekelas Piala Dunia: tim peringkat satu melawan tim peringkat dua dunia. Sang juara bertahan melawan juara Eropa—dan hampir dipastikan akan menjadi panggung Piala Dunia terakhir bagi Lionel Messi. Piala Dunia kali ini pun menghasilkan sejumlah gol dan penampilan yang luar biasa, di saat sepak bola terasa jenuh karena didominasi pemain yang mengandalkan kecepatan berlari dengan gaya bermain makin seragam, atau kian menjamurnya pesepakbola dengan permainan kaku seperti mesin. Sebaliknya, makin sedikit pemain dengan keterampilan dan pemahaman taktikal luar biasa seperti Messi. Harry Kane, Jude Bellingham, Erling Haaland, ataupun Kylian Mbappé, semuanya telah menunjukkan penampilan terbaik mereka. Namun, 25 menit terakhir di laga semifinal antara Inggris dan Argentina (tepat setelah Inggris unggul 1-0) menjadi bukti nyata bahwa Messi berada di level berbeda. Belum pernah ada dan mungkin tak akan pernah ada lagi pesepakbola seperti Messi. Messi mungkin akan membuat kita terpukau untuk terakhir kalinya. Sulit dipercaya jika dia tidak mampu menemukan cara untuk menaklukkan Spanyol yang luar biasa. Steve Georgakis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Argentina dengan keajaiban Messi vs Spanyol yang ‘lengkap’ secara taktik: Siapa juaranya?
0
IH
Isnawati Hidayah, Senior Researcher in Economics Development, Food Security and Nutrition, Sustainable Agri-food System, Center of Economic and Law Studies· Warga
Kiriman

Tugas Kepala BGN baru Sudaryono: Hemat APBN, pemerataan penyaluran, perbaikan gizi, atau pembubaran lembaga

● Presiden Prabowo Subianto menunjuk kader Gerindra Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. ● Sudaryono ditunjuk usai Nanik S. Deyang mengundurkan diri karena alasan kesehatan. ● Ada sederet pekerjaan rumah yang harus dilakukan BGN untuk mensukseskan MBG. Politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan bekas wakil menteri pertanian Sudaryono resmi menjadi Kepala Badan Gizi Nasional menggantikan Nanik S. Deyang yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Alih-alih mengirim sinyal kuat bahwa BGN akan dipimpin oleh sosok berkompeten dan profesional, pemerintah kembali memilih figur yang memiliki kedekatan politik. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal dipromosikan sebagai solusi untuk menurunkan stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, setelah lebih dari 1,5 tahun berjalan, yang lebih menonjol justru rentetan persoalan krisis tata kelola , mulai dari dugaan korupsi, kasus keracunan makanan, tunggakan kepada mitra, hingga lemahnya transparansi anggaran. Baca juga: Solusi membenahi MBG setelah libur: Perbaikan lelang saja bisa menghemat puluhan triliun duit rakyat Ini menunjukkan pemerintah masih menetapkan pola lama dalam setiap pengisian jabatan kenegaraan yang artinya tak menunjukkan komitmen yang kuat terhadap meritokrasi dan reformasi kelembagaan. Nasi telah menjadi bubur. Pelantikan Sudaryono sudah sah. Lalu apa sajakah pekerjaan rumah yang harus dibenahi Sudaryono beserta jajaran dalam membenahi MBG? Menagih janji perbaikan usai libur sekolah Di tengah masa libur sekolah , pemerintah menyampaikan bahwa penghentian sementara distribusi MBG dilakukan untuk evaluasi dan perbaikan sistem. BGN berdalih membutuhkan waktu lebih dan saat libur sekolah tidak cukup. Nyatanya kita kembali dipertontonkan kasus keracunan makanan . Selain itu, masyarakat di daerah padat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), seperti pulau Jawa, akan mendapat tekanan tambahan dari bergulir kembalinya MBG, yakni kenaikan harga pangan , karena SPPG menyerap bahan pangan dalam partai yang cukup besar. Semakin banyak SPPG di satu titik, semakin tinggi juga kenaikan harga pangan yang terjadi . Kepemimpinan baru BGN harus bisa memulihkan kepercayaan publik terhadap program yang selama ini mengorbankan kesehatan masyarakat dan ratusan triliun duit negara . Toh sebenarnya, tujuan program MBG dapat digapai melalui program dan kelembagaan yang sudah ada tanpa harus mempertahankan lembaga BGN yang mahal, menambah fragmentasi birokrasi, dan hingga kini belum menunjukkan efektivitas yang sebanding dengan besarnya duit rakyat yang dihamburkan. Baca juga: Kasus MBG menunjukkan bagaimana pemerintah mengontrol informasi untuk membenarkan kebijakan Daerah prevalensi stunting tinggi justru minim SPPG Sejak awal, salah satu kelemahan mendasar MBG adalah belum tepat sasaran dalam menentukan prioritas penyaluran. Penerima manfaat yang tepat sasaran adalah nyawa keberhasilan program perbaikan gizi yang bahkan seharusnya bisa membenahi permasalahan stunting nasional. Semakin rendah angka prevalensi stunting di suatu daerah, semakin tinggi juga harapan hidup layak masyarakatnya. Yang terjadi sekarang adalah ketimpangan lokasi SPPG antara daerah yang membutuhkan dan daerah yang sebenarnya tidak membutuhkan MBG. Menurut studi kami , provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi justru memiliki kapasitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang relatif terbatas. Sebut saja Papua Pegunungan yang prevalensi stuntingnya mencapai 40%, hanya memiliki sekitar 13 unit SPPG. Kondisi serupa terjadi di Sulawesi Barat yang memiliki prevalensi stunting 35,4% dengan sekitar 177 SPPG. Ada juga Papua Tengah (32,5%) dengan hanya sekitar 33 SPPG. Sebaliknya, kapasitas SPPG justru terkonsentrasi di provinsi-provinsi dengan prevalensi stunting yang relatif lebih rendah , seperti Jawa Barat (15,9%) dengan sekitar 6.357 SPPG, Jawa Tengah (17,1%) dengan sekitar 4.335 SPPG, dan Jawa Timur (14,7%) dengan sekitar 4.032 SPPG. Disparitas ini seharusnya tidak perlu terjadi, jika BGN bersinergi dengan baik bersama Kementerian Kesehatan yang sudah mewanti-wanti permasalahan stunting di kawasan Indonesia timur. Baca juga: Ribuan sekolah nyaris roboh, mengapa MBG yang lebih diprioritaskan? MBG tidak hanya menimbulkan persoalan tata kelola dan tidak tepat sasaran, tetapi juga menciptakan trade-off fiskal yang serius. Tahun depan, MBG pun masih mendapat dana Rp174 triliun . Arah kebijakannya sudah terlihat jelas: MBG merupakan program super prioritas yang harus dijalankan. Moral Hazard yang sudah terlalu besar Alasan pemerintah melakukan evaluasi selama dua minggu libur sekolah juga belum disertai transparansi mengenai metode audit maupun hasil perbaikannya. Padahal sekitar 44% anggaran MBG tahun 2026 senilai Rp98,5 triliun sudah habis dipakai BGN per 14 Juni 2025. Semua bermula dari Surat Keputusan Kepala BGN Nomor 401.1 Tahun 2025 , pemerintah menetapkan bahwa setiap SPPG menerima insentif operasional sebesar Rp6 juta per hari selama dua tahun (313 hari per tahun), terlepas dari jumlah penerima manfaat maupun kualitas layanan yang diberikan. Skema ini menciptakan moral hazard karena insentif tidak sepenuhnya dikaitkan dengan capaian program. Setelah menuai kritik publik, BGN kemudian menerbitkan Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 yang menghentikan pembayaran insentif selama masa libur sekolah. “Yang tidak transparan harus kita buat transparan. Mungkin kalau masih ada yang manual, bagaimana caranya supaya tidak lagi manual atau bisa dilakukan secara digital supaya ada rekam jajaknya,” kata Kepala BGN Sudaryono usai pelantikan di Istana Negara, kemarin. Perubahan ini justru menunjukkan adanya inkonsistensi antara petunjuk teknis dan kebijakan pelaksanaannya. Kini pemerintah berencana menerapkan sistem grading yang lebih adil bagi para SPPG sesuai kinerja dan porsinya. Korban dari carut marut tata kelola ini bukan hanya pengelola dan masyarakat yang bekerja di SPPG, tetapi juga anak-anak sebagai penerima manfaat. Pun, belum ada efek jera bagi penyelenggara yang menyajikan makanan yang tidak bergizi, higienis atau bahkan rasa yang tidak layak konsumsi. Masyarakat akan terus mengawasi kegiatan BGN dan MBG, terlebih usai penangkapan mantan Kepala BGN dan jajaran atas dugaan korupsi. Karena itu, jika masih tak ada perubahan dalam waktu dekat, kepemimpinan yang baru harus berani menyusun exit plan bagi BGN untuk menghentikan program MBG. Terlebih jika sebuah kelembagaan baru tidak mampu menghasilkan tata kelola yang lebih baik dibanding sistem yang digantikannya, maka keberadaannya patut dipertanyakan, bukan dipertahankan. Baca juga: Darurat krisis: Pemerintah perlu dan bisa memangkas anggaran MBG hingga Rp200 triliun Isnawati Hidayah tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Tugas Kepala BGN baru Sudaryono: Hemat APBN, pemerataan penyaluran, perbaikan gizi, atau pembubaran lembaga
0
HT
Ha Thi Thanh Nguyen, PhD Fellow, Uppsala University; CGIAR· Warga
Kiriman

Hantavirus ditemukan pada peternak satwa liar di Vietnam: Alarm bagi Asia Tenggara

● Antibodi hantavirus ditemukan pada sejumlah peternak satwa liar di Vietnam. ● Ini menandakan mereka pernah tertular hantavirus sebelumnya. ● Buruknya manajemen pengendalian penyakit di peternakan dapat berkontribusi terhadap infeksi, tapi sumbernya belum jelas. Peternakan satwa liar lazim ditemukan di Vietnam. Praktik ini meliputi pembiakan maupun perdagangan satwa liar untuk dipelihara, dikonsumsi, dijadikan obat tradisional, ataupun pajangan. Hingga tahun 2021 , Vietnam memiliki sekitar 6.744 peternakan yang menampung 1,8 juta satwa liar dari 371 spesies. Meski peternakan satwa liar menghidupi banyak warga, praktik ini rentan membuat manusia dan satwa liar berinteraksi sangat dekat. Kondisi ini menciptakan celah bagi penyebaran penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia), termasuk hantavirus. Penyebaran hantavirus sempat menghebohkan dunia pada Mei lalu. Varian hantavirus Andes (yang bisa menular antarmanusia) menginfeksi 13 orang dan menewaskan tiga orang penumpang kapal pesiar MV Hondius . Penelitian kami tahun 2025 di Vietnam menemukan bukti adanya paparan hantavirus dan patogen zoonosis lain di kalangan peternak kelelawar, tikus bambu, musang, dan babi hutan. Temuan ini perlu menjadi alarm bagi negara lain di Asia Tenggara (termasuk Indonesia ) yang memiliki pasar satwa liar di sejumlah daerah. Bagaimana hantavirus menular di peternakan? Studi kami melibatkan 210 peternak satwa liar di Provinsi Lao Cai dan Dong Nai di Vietnam. Sebanyak 8,7% peternak terbukti memiliki antibodi (zat kekebalan) hantavirus—yang menandakan mereka pernah terpapar virus tersebut sebelumnya. Sebagian kecil peternak satwa liar (1,9%) bahkan mengalami infeksi yang diduga terjadi tak jauh dari waktu pengambilan sampel selama Agustus 2023 hingga Maret 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para peternak yang hanya fokus mengurus peternakan satwa liar saja berisiko jauh lebih besar terpapar hantavirus. Meskipun mereka tidak ikut berburu, berdagang, menyembelih, mengolah, ataupun mengonsumsi hewan tersebut. Kami menduga tingginya risiko penularan hantavirus disebabkan oleh buruknya biosekuriti (manajemen pengendalian penyakit) di peternakan. Misalnya, kontak terlalu lama dengan hewan dan kandang yang terkontaminasi tanpa alat pelindung diri (APD). Kendati demikian, sumber penularannya belum jelas. Baca juga: Tanpa aturan yang jelas, pasar hewan Indonesia berisiko memicu pandemi berikutnya Penularan hantavirus juga bisa terjadi karena kontak dengan hewan pengerat liar lain di luar peternakan. Interaksi jarak dekat dan sering antara manusia-satwa liar berpotensi memicu penularan virus dari hewan ke manusia ( zoonotic spillover ). Dalam kasus hantavirus, penularan ke manusia utamanya terjadi ketika kita menghirup partikel udara yang mengandung urine, kotoran, ataupun air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Paparan lingkungan peternakan yang kotor juga meningkatkan risiko infeksi secara drastis. Hal ini menurut para penyelidik di kasus MV Hondius, juga menjadi penyebab penyebaran virus di kapal pesiar tersebut . Diduga, penumpang terpapar lingkungan yang tercemar hantavirus saat bertamasya di kawasan Amerika Selatan—yang menjadi daerah endemis varian Andes. Jenis hantavirus belum diketahui Sebagian besar hantavirus tidak menular antarmanusia. Kecuali, varian Andes yang tergolong sebagai hantavirus penyerang paru dan bisa menyebabkan 12-60% orang terinfeksi meninggal dunia . Di Asia sendiri, jenis hantavirus yang lazim ditemukan adalah Seoul dan Hantaan. Keduanya termasuk jenis hantavirus pemicu demam berdarah dengan sindrom ginjal —yang berpotensi menyebabkan 10-15% orang terinfeksi meninggal dunia . Penyebaran hantavirus di Asia Tenggara sebenarnya bukan hal baru. Di Indonesia, misalnya, sudah ada 23 kasus positif yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia dari 250 suspek hantavirus dalam tiga tahun terakhir. Baca juga: Hantavirus sangat mematikan: Mengapa virus ini bisa menyebar di kapal pesiar? Sayangnya, kami tidak mampu melacak lebih jauh jenis hantavirus yang menginfeksi peternak di Vietnam. Penelitian kami hanya menggunakan alat pemeriksaan antibodi berupa tes ELISA ( enzyme-linked immunosorbent assay ) . Kami juga belum bisa memastikan jenis hewan pengerat yang menjadi inang penyebaran hantavirus. Pengujian pada sampel usap ( swab ) dari peternak, tikus bambu, kelelawar, dan musang tidak menunjukkan bukti molekuler adanya infeksi virus terkait. Untuk mengetahui jenis virus dan hewang inangnya, kita memerlukan pemeriksaan lab berupa RT-PCR ( reverse transcription polymerase chain reaction ) dan tes sekuensing (untuk mengetahui urutan genetik DNA virus). Dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki Vietnam, kami masih belum mendapatkan gambaran utuh dari penyebaran hantavirus di kalangan peternak. Tidak tertutup kemungkinan, ada varian hantavirus baru yang beredar tanpa terdeteksi. Apa yang harus dilakukan? Mencegah penularan virus dari hewan ke manusia jauh lebih efektif ketimbang merespons saat wabah sudah menyebar. Karena itu, perlindungan bagi para peternak satwa liar harus dimulai dari hal-hal mendasar dengan memperketat biosekuriti dan menerapkan praktik kebersihan yang lebih baik. Misalnya, konsisten pakai alat pelindung diri saat menangani hewan atau membersihkan kandang. Pendekatan One Health juga sangat krusial. Kolaborasi lintas disiplin (antara pakar kesehatan masyarakat, petugas kesehatan hewan, ahli satwa liar, pengelola kehutanan, tokoh masyarakat, dan peternak) ini dibutuhkan untuk merancang langkah pencegahan yang praktis, sesuai dengan budaya setempat, dan lebih mudah diterima masyarakat. Meski Vietnam memiliki kerangka hukum dan kebijakan yang mengatur peternakan satwa liar, pelaksanaannya di lapangan masih perlu diperkuat. Salah satu kelemahan terbesar yang kami temukan adalah terbatasnya kapasitas pengawasan kesehatan satwa liar dan kurangnya koordinasi antara sektor kehutanan dan kesehatan hewan. Karena itu, penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, memperbaiki pemantauan penyakit satwa liar, serta meningkatkan kapasitas pekerja yang berinteraksi dengan hewan dan lingkungan. Aspek ini sangat penting untuk mendukung deteksi dini, pencegahan, dan pengendalian penyakit zoonosis baru—tidak hanya di Vietnam, tetapi juga negara lain yang masyarakatnya hidup berdampingan dengan satwa liar, termasuk Indonesia . Pemerintah juga perlu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai risiko penyakit zoonosis di kalangan peternak dan masyarakat luas lewat media sosial. Komunikasi yang efektif dapat bantu menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi tindakan nyata yang mampu mengurangi risiko dan mendukung praktik peternakan lebih aman. Sederet upaya ini sangat penting untuk mencegah wabah di masa mendatang, serta memperkuat keamanan kesehatan global yang kini saling terhubung satu sama lain. Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Hantavirus ditemukan pada peternak satwa liar di Vietnam: Alarm bagi Asia Tenggara
0
MZ
Muhammad Zulfiqar Firdaus, Health Economics Research Associate , Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives· Warga
Kiriman

Harga rokok masih terjangkau: Lapisan tarif cukai perlu disederhanakan, bukan ditambah

● Harga rokok di Indonesia masih terjangkau. ● Menambah lapisan tarif cukai berisiko perbanyak pilihan rokok murah dan melemahkan pengendalian tembakau. ● Penyederhanaan lapisan tarif lebih efektif tingkatkan penerimaan negara dan melindungi kesehatan masyarakat. Sejak awal 2026, pemerintah berencana menambah lapisan (kategori) tarif cukai rokok baru dengan tarif pajak lebih rendah. Dalihnya, agar produsen rokok ilegal mau mendaftarkan usahanya secara resmi dan mulai bayar pajak. Belakangan, ada pula anggota DPR yang mengusulkan disediakannya rokok dengan harga lebih murah bagi masyarakat miskin . Kedua usulan tersebut berangkat dari persoalan berbeda, tetapi pertanyaan utamanya sama: apakah rokok di Indonesia sudah terlalu mahal? Menurut riset terbaru kami dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), harga rokok di Tanah Air masih terjangkau oleh masyarakat. Ini merupakan masalah utama yang menyebabkan masih tingginya angka perokok di Indonesia . Kami menilai reformasi yang dibutuhkan bukan menambah lapisan tarif cukai, melainkan menyederhanakannya. Rokok masih terjangkau bagi masyarakat Berbagai penelitian yang dirangkum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa kenaikan harga merupakan salah satu cara paling efektif untuk menurunkan konsumsi rokok. Padahal, yang paling berpengaruh bukan sekadar kenaikan harganya, melainkan apakah rokok menjadi semakin tidak terjangkau dibandingkan pendapatan masyarakat. Dalam studi kami , keterjangkauan diukur menggunakan standar internasional: harga pendapatan relatif atau relative income price (RIP). RIP adalah persentase pendapatan per kapita yang dibutuhkan untuk membeli 100 bungkus rokok. Semakin rendah nilai RIP, semakin mudah masyarakat membeli rokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sepanjang 2010–2024, tingkat keterjangkauan rokok relatif stagnan di kisaran 3%. Artinya, meskipun harga rokok terus meningkat, laju kenaikannya belum mampu melampaui pertumbuhan pendapatan. Sebagai ilustrasi, harga rata-rata satu bungkus rokok pada 2024 mencapai Rp28.050 . Untuk membeli 100 bungkus rokok dibutuhkan sekitar Rp2,8 juta. Di sisi lain, pendapatan per kapita Indonesia telah mencapai sekitar Rp78,6 juta per tahun. Artinya, untuk membeli 100 bungkus rokok, hanya dibutuhkan sekitar 3,6% dari pendapatan tahunan. Ini menjelaskan mengapa Indonesia masih memiliki sekitar 70 juta perokok—dengan prevalensi perokok usia 18 tahun ke atas mencapai 31,9%, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023 . Kurangi akses rokok dengan sederhanakan lapisan tarif Salah satu penyebab rokok tetap terjangkau adalah struktur tarif cukai Indonesia yang masih terdiri atas delapan lapisan. Kategorinya dibagi berdasarkan jenis rokok, metode produksi, dan skala pabrikan. Struktur ini menciptakan rentang harga yang lebar. Akibatnya, konsumen dapat beralih ke produk lebih murah alias ( downtrading ) ketika harga rokok yang biasa mereka konsumsi meningkat . Baca juga: Kerugian akibat rokok capai Rp184 triliun: Menunda kenaikan cukai justru bikin kita makin tekor Pada saat yang sama, struktur tersebut memberi keuntungan bagi industri untuk tetap bersaing memasarkan rokok berharga murah, terutama rokok linting tangan yang dikenai tarif cukai lebih rendah. Saat ini, tarif cukai rokok linting tangan berkisar Rp122 - Rp483 per batang, jauh lebih rendah dibandingkan tarif cukai liting mesin yang berkisar Rp746 - Rp1.336 per batang Karena itu, struktur cukai perlu direformasi. Kami menggunakan model simulasi Tobacconomics yang dikembangkan oleh Johns Hopkins University untuk membandingkan berbagai skenario reformasi struktur cukai pada tahun 2026 — 2027. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penyederhanaan struktur tarif memberikan manfaat jauh lebih besar dibandingkan mempertahankan sistem cukai saat ini. Lapisan tarif perlu disederhanakan dari delapan menjadi empat, disertai kenaikan tarif cukai tahunan sebesar 20% untuk rokok linting tangan dan 10% untuk rokok linting mesin. Cara ini berpotensi meningkatkan penerimaan negara sekitar Rp60 triliun dalam dua tahun (hingga akhir 2027), dengan asumsi kebijakan tersebut mulai diterapkan pada 2026. Kebijakan ini juga diperkirakan dapat mengurangi konsumsi rokok sekitar 51 miliar batang, menurunkan prevalensi merokok 1,6 orang dewasa, serta mencegah 292 ribu kematian dini akibat penyakit terkait rokok. Berantas rokok ilegal sembari sederhanakan cukai Pengendalian rokok ilegal tentu penting. Namun, hingga kini belum ada bukti empiris bahwa penambahan lapisan tarif efektif dalam mengatasi peredaran rokok ilegal. Pemberantasan rokok ilegal sebaiknya difokuskan dengan memperkuat pengawasan , penegakkan hukum, serta memperbaiki administrasi cukai. Sementara itu, reformasi struktur tarif tetap diarahkan pada penyederhanaan. Jika ingin menurunkan konsumsi rokok masyarakat sekaligus meningkatkan penerimaan negara, pemerintah perlu menyederhanakan struktur tarif yang berpotensi lebih efektif dibandingkan menambah lapisan tarif baru. Baca juga: Rokok ilegal: Narasi berulang untuk menghambat kenaikan cukai Muhammad Zulfiqar Firdaus terafiliasi dengan Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) dan menerima dana dari program Economics for Health, Johns Hopkins University untuk melakukan penelitian atas cukai tembakau di Indonesia. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Harga rokok masih terjangkau: Lapisan tarif cukai perlu disederhanakan, bukan ditambah
0
DT
Danielle Thielke, PhD Candidate, Sexual Health & Wellbeing, Edith Cowan University· Warga
Kiriman

Benarkah pornografi bikin kecanduan? Menurut riset, tidak sesederhana itu

Sains sejauh ini belum bisa menyimpulkan secara pasti apakah konsumsi pornografi berlebihan masuk kategori kecanduan. Pexels, Canva, The Conversation , CC BY-NC Banyak dari kita mungkin cenderung menghindari topik pembicaraan tentang seks—baik di sekolah, tempat kerja, ataupun di meja makan. Obrolan soal seks dianggap tabu, sehingga anak dan remaja mencari informasi sendiri lewat pornografi. Di Australia, sekitar 76% laki-laki dan 41% perempuan melaporkan telah melihat konten pornografi dalam setahun terakhir. Bahkan, 54% laki-laki dan 14% perempuan berusia 15–20 tahun mengaku mengakses pornografi setiap minggu . Sementara di Indonesia, jumlah pengunjung situs porno yang sudah diblokir Komdigi pada 2022 mencapai 10,1 juta per bulan. Jumlah kunjungan totalnya mencapai 85,3 juta kali per bulan, dengan waktu kunjungan rata-rata 5 menit, 20 detik. Kita mungkin pernah mendengar istilah “ kecanduan pornografi ”, yang digunakan untuk menggambarkan aktivitas mengonsumsi pornografi secara berlebihan hingga mengganggu kehidupan pribadi maupun orang terdekat . Pertanyaannya, benarkah pornografi menyebabkan kecanduan? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jawabannya cukup rumit . Perdebatan soal konsumsi pornografi Bagi banyak orang, menonton pornografi adalah perilaku yang cukup wajar. Namun, sebagian lainnya mungkin menganggapnya sebagai perilaku bermasalah. Sebuah studi tahun 2025 meneliti dampak pornografi terhadap kesehatan mental, emosional, dan fisik manusia. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pornografi pada dasarnya tidak berbahaya . Namun, dampaknya bisa berbeda pada setiap orang, bergantung pada konten yang dikonsumsi, siapa yang mengonsumsinya, dan bagaimana cara mengonsumsinya . Penggunaan pornografi berlebihan bisa menjadi masalah jika sudah mengganggu keseharian kita . Untuk menggambarkan kondisi ini, para peneliti dan tenaga medis menggunakan istilah “ penggunaan pornografi yang bermasalah ” ( problematic porn use ). Istilah ini merujuk pada ketidakmampuan seseorang untuk mengendalikan konsumsi pornografi meskipun sudah berulang kali mencoba, dan mengalami konsekuensi negatif akibat aktivitas tersebut. Sebuah survei global mengungkapkan bahwa 3 — 15% orang berpotensi mengalami penggunaan pornografi bermasalah. Kondisi ini umumnya lebih sering dialami laki-laki. Apa penyebabnya? Penggunaan pornografi bermasalah adalah isu kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor . Faktor-faktor ini mencakup kondisi perkembangan saraf dan kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya, seperti ADHD atau depresi . Ciri kepribadian tertentu (seperti sifat impulsif, rendahnya pengendalian diri, dan keinginan mencoba hal-hal baru ) juga bisa berpengaruh. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kondisi sosial dan budaya , seperti rendahnya kepuasan dalam hubungan romantis, isolasi sosial, hingga pengaruh agama. Orang-orang yang merasa kesepian atau kurang mendapat dukungan emosional lebih berisiko mengalami penggunaan pornografi yang bermasalah. Bagi banyak orang dengan penggunaan pornografi bermasalah, mengonsumsi konten ini dapat menjadi lingkaran setan yang mengalihkan perhatian mereka dari hubungan dan tanggung jawab keseharian. Contohnya, penggunaan pornografi berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan pekerjaan karena kinerja yang memburuk . Mereka juga bisa terisolasi dari teman dan keluarga. Berbagai konsekuensi ini sering kali memperburuk kesehatan mental dan fungsi harian mereka. Akibatnya, mereka makin sulit untuk mengendalikan konsumsi pornografi. Siapa pun bisa mengalami penggunaan pornografi bermasalah dengan cara yang beragam. Para peneliti memaparkan beberapa bentuk utamanya , antara lain: Kompulsivitas : Didefinisikan sebagai dorongan kuat dan sulit ditolak untuk menonton pornografi, terutama untuk meredakan ketegangan atau kecemasan yang menumpuk. Impulsivitas : Konsumsi pornografi secara cepat dan spontan tanpa memikirkan konsekuensinya. Misalnya, menonton pornografi di komputer kantor. Disregulasi emosi : Ketika seseorang beralih ke pornografi untuk mengelola emosi yang sulit, seperti stres, kebosanan, atau kesepian. Pengalaman menyerupai kecanduan: Memiliki keinginan yang sangat kuat atau membutuhkan konten yang lebih ekstrem untuk bisa merasa puas. Benarkah pornografi bikin kecanduan? Penggunaan pornografi bermasalah saat ini dianggap sebagai salah satu jenis gangguan perilaku seksual kompulsif . Gangguan semacam ini ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengendalikan dorongan seksual yang kuat dan berulang selama setidaknya enam bulan, hingga pada titik mengabaikan tanggung jawab sehari-hari. Meski begitu, penggunaan pornografi bermasalah pada tahap ini belum diakui secara resmi sebagai sebuah kecanduan. Kondisi ini tidak dikategorikan sebagai kecanduan dalam Klasifikasi Penyakit Internasional milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ataupun Manual Diagnostik dan Statistik Penyakit Mental milik Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat (APA). Keduanya adalah panduan internasional mengenai definisi dan diagnosis kondisi medis. Namun, penting untuk dicatat, penelitian mengenai penggunaan pornografi bermasalah telah berkembang pesat sejak kedua buku panduan tersebut diterbitkan. Berbagai bukti, termasuk tinjauan internasional baru-baru ini, menunjukkan bahwa aktivitas ini dalam beberapa kasus dapat berfungsi layaknya perilaku kecanduan. Semakin banyak pihak yang mendesak agar penggunaan pornografi bermasalah diklasifikasikan sebagai perilaku kecanduan . Hal ini akan menempatkannya dalam kategori yang sama dengan perilaku adiktif daring lainnya, seperti gangguan perjudian dan bermain gim. Perilaku-perilaku tersebut mengaktifkan area yang sama pada sistem penghargaan ( reward system ) di otak manusia . Hanya saja, aktivitas seperti minum air juga memicu respons serupa, sehingga penting untuk memahami penelitian penggunaan pornografi bermasalah sesuai dengan konteks yang tepat. Belum lama ini, sidang kasus kecanduan media sosial di Amerika Serikat memutuskan bahwa raksasa teknologi Meta dan Google terbukti dengan sengaja merekayasa platform mereka untuk membuat audiens ketagihan. Komponen desain serupa juga digunakan oleh banyak situs video dewasa populer —platform gratis tempat video porno diunggah dan ditonton. Pornografi internet modern menawarkan akses tanpa batas yang memungkinkan orang untuk berpindah tab dan terus mencari konten baru selama sesi menonton tanpa henti . Penelitian menunjukkan bahwa perilaku tersebut dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko penggunaan pornografi bermasalah. Kendati demikian, kita tetap perlu berhati-hati dalam menyebut penggunaan pornografi bermasalah sebagai sebuah kecanduan. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa banyak orang menganggap diri mereka kecanduan pornografi, meskipun penggunaannya jarang dan umumnya terkendali. Hal ini disebabkan oleh inkonsistensi moral , yaitu ketika seseorang memegang keyakinan agama atau nilai moral yang kuat dalam menentang pornografi, tetapi terus mengonsumsinya. Tindakan ini dapat memicu tekanan batin maupun perasaan kecanduan yang kuat, bahkan ketika penggunaannya terkendali. Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan beberapa kondisi kesehatan mental yang mendasarinya. Apa yang bisa kita lakukan? Jika dirimu atau orang yang kamu cintai merasa bahwa penggunaan pornografi sudah mengarah pada perilaku bermasalah, lakukan beberapa langkah praktis berikut: Uraikan faktor pendorong perilaku ini . Tujuannya untuk memastikan kamu mendapatkan perawatan yang tepat. Misalnya, apakah penyebabnya benar-benar karena hilangnya kendali, konflik moral terkait penggunaan pornografi, ataupun kondisi mental seperti depresi? Hubungi tenaga profesional berkualifikasi . Pastikan mereka punya kepakaran soal penggunaan pornografi bermasalah. Psikolog dapat menilai apakah tingkat konsumsi kamu lebih bersifat kompulsif, impulsif, atau menyerupai kecanduan. Mereka dapat menyarankan perawatan berbasis bukti , seperti terapi perilaku kognitif. Adapun seksolog dan terapis seks dapat membantu kamu memahami cara berinteraksi dengan pornografi, serta mengembangkan perilaku yang lebih sehat. Waspadai informasi yang keliru . Ada banyak sekali misinformasi terkait isu ini, termasuk dari terapis atau konselor yang tidak berkualifikasi dan tidak menggunakan pendekatan berbasis bukti. Diskusikan dengan rasa hormat dan kehati-hatian. Karena topik soal penggunaan pornografi bermasalah dapat memicu perasaan malu, takut, ataupun rasa bersalah yang mendalam. Jika artikel ini membuatmu khawatir, atau jika kamu khawatir tentang seseorang yang kamu kenal, bicarakanlah dengan orang yang kamu percaya atau profesional kesehatan. Danielle Thielke menerima pendanaan dari Australian Research Council dan Stan Perron Charitable Foundation untuk mendukung penelitian doktoralnya. Ia adalah seorang asisten peneliti di ECU, dan memiliki status keanggotaan mahasiswa di SAS (Society of Australian Sexologists). Penelitian Campbell Ince didukung oleh Pemerintah Persemakmuran melalui program Australian Government Research Training Program Scholarship. Ia adalah seorang asisten peneliti sukarela di University of Montreal dan memegang posisi akademik paruh waktu di Monash University. Giselle Woodley menerima pendanaan dari Australian Research Council atas perannya sebagai Peneliti Utama dalam Linkage Project bertajuk 'Working with teens to co-design a porn literacy program that mitigates harm' (Bekerja sama dengan remaja untuk merancang program literasi pornografi guna menekan dampak buruknya). Ia juga menerima pendanaan dari Daniel Morcombe Foundation untuk konsultasi dan presentasinya yang berkaitan dengan keamanan daring, serta sebagai penasihat ahli untuk Australian Human Rights Commission. Giselle sebelumnya juga pernah menjadi anggota Society of Australian Sexologists, yang disebutkan dalam artikel ini. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Benarkah pornografi bikin kecanduan? Menurut riset, tidak sesederhana itu
0
DW
Dennis Wesselbaum, Associate Professor, Department of Economics, University of Otago· Warga
Kiriman

Benarkah dunia dilanda epidemi kesepian? Riset tunjukkan realitanya lebih kompleks

Justin Paget/Getty Images Hanya sedikit pengalaman manusia yang sedemikian universal—sekaligus sering kita salah pahami—seperti kesepian atau loneliness . Lebih dari sekadar perasaan sedih atau sumber inspirasi bagi banyak lagu , kesepian dapat dikaitkan dengan kualitas hidup yang memburuk , kesehatan mental dan fisik yang menurun, serta risiko kematian dini yang meningkat . Di era media sosial, kita sering mendengar bahwa kesepian semakin ramai dialami warga dunia—sebagian orang bahkan telah menyebutnya sebagai epidemi . Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi ini, kami menganalisis respons dari lebih dari 218 ribu responden dalam Gallup World Poll yang mencakup hampir 150 negara. Kami menemukan bahwa satu dari lima orang mengaku merasa kesepian dalam kehidupan sehari-harinya. Baca juga: Rasa sepi adalah kanker sosial, sama berbahayanya dengan kanker fisik Namun, rata-rata global tersebut menyembunyikan kesenjangan yang mencolok. Di negara berpendapatan tinggi, 15,7% responden melaporkan merasa kesepian, termasuk 16,2% di Selandia Baru dan 17,8% di Australia. Sementara itu, di negara berpendapatan rendah, hampir satu dari tiga orang (31,3%) mengaku merasa kesepian. Temuan ini menantang anggapan bahwa kesepian hanya persoalan pribadi. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kesepian juga merupakan kondisi sosial yang dipengaruhi oleh keadaan ekonomi, institusi, dan seberapa kuatnya kehidupan bermasyarakat seseorang. Bagaimana kondisinya secara global? Dari seluruh data yang kami analisis, ada satu faktor yang menonjol secara konsisten, yaitu modal sosial. Ini merujuk pada adanya rasa percaya dan jaringan dukungan yang dapat diandalkan. Di seluruh dunia, orang yang merasa memiliki seseorang untuk diandalkan ( support system ) jauh lebih kecil kemungkinannya mengalami kesepian. Faktor-faktor lain, seperti kondisi kesehatan yang buruk, pengangguran, dan tidak adanya pasangan, juga berkontribusi terhadap munculnya kesepian. Di negara dengan pendapatan menengah ke atas, orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung merasakan tingkat kesepian yang lebih rendah. Namun, di negara berpendapatan rendah, hubungan antara pendidikan dan kesepian jauh lebih lemah. Kondisi sosial dan ekonomi berperan lebih besar. Dari temuan-temuan ini, kami menyimpulkan bahwa kesepian sering kali merupakan hasil perpaduan antara keadaan pribadi seseorang dan kondisi sosial-ekonomi lingkungan hidup mereka. Baca juga: Pertemanan itu penting: Bagaimana kalau kita enggak punya teman sama sekali? Namun, adakah bukti yang menunjukkan epidemi kesepian global semakin memburuk? Meski pandangan ini populer , saat menganalisis data yang berasal dari 113 negara dari 2023 hingga 2024, kami tidak menemukan tren yang jelas. Bahkan, hampir dua pertiga negara justru melaporkan tingkat kesepian yang lebih rendah pada 2024 dibandingkan tahun 2023. Lagi-lagi, tingkat kesepian tidak sama di seluruh negara. Meskipun laporan kesepian meningkat secara signifikan di negara berpendapatan rendah, tidak ada perubahan signifikan di negara berpendapatan menengah, dan justru menurun di negara berpendapatan tinggi. Perlu digarisbawahi, temuan kami tidak bertujuan untuk mengurangi keseriusan masalah ini. Kesepian memengaruhi sebagian besar populasi manusia dan kaitannya sangat erat dengan penurunan kesejahteraan, tekanan emosional, dan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan. Tips mengatasi kesepian Dampak kesepian jauh lebih besar dari sekadar merasa tidak bahagia. Di semua kawasan dan kelompok pendapatan, orang yang merasa kesepian cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup ; yang lebih rendah—baik saat menilai kehidupan mereka saat ini maupun ketika memandang masa depan—meski hubungannya dengan harapan masa depan lebih lemah. Orang kesepian juga jauh lebih mungkin mengalami stres, kekhawatiran, kemarahan, dan rasa sakit secara fisik, serta cenderung jarang merasakan kesenangan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun kekuatan hubungan ini bervariasi di setiap negara, polanya tetap konsisten. Temuan kami juga menunjukkan bahwa tidak ada satu solusi yang bisa mengatasi kesepian. Di negara berpendapatan rendah, di mana kesepian lebih umum terjadi dan terus meningkat, upaya mengurangi kemiskinan, memperkuat sistem kesehatan, dan memperluas perlindungan sosial dapat membantu masyarakat membangun hubungan sosial yang lebih kuat. Baca juga: Stop memperlakukan kesepian sebagai kondisi medis - sejarah mengungkap bahwa masyarakatlah yang perlu diperbaiki Di negara dengan pendapatan yang lebih tinggi, di mana kesepian lebih jarang terjadi (meski tetap dialami jutaan orang) tantangannya mungkin berbeda . Berinvestasi pada organisasi masyarakat, ruang publik, dan berbagai peluang lainnya yang bisa memfasilitasi masyarakat untuk membangun hubungan saling percaya bisa sama pentingnya dengan memperluas layanan kesehatan mental. Secara lebih luas, temuan kami menunjukkan bahwa kesepian sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai pengalaman psikologis pada tingkat individu. Kesepian juga mencerminkan kualitas lingkungan dan masyarakat dari tempat yang ditinggali. Artinya, upaya mengatasi kesepian mempunyai dampak yang melampaui kesehatan. Mengurangi kesepian berpotensi meningkatkan kesejahteraan, mendorong produktivitas, dan membantu membangun komunitas yang lebih kuat dan semakin terhubung. Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris. David Leblang menerima dana dari Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Badan Riset Nasional AS. David Leblang tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Benarkah dunia dilanda epidemi kesepian? Riset tunjukkan realitanya lebih kompleks
0
EK
Elisabeth Kramer, Scientia Senior Lecturer in Politics and Public Policy, UNSW· Warga
Kiriman

Pain and the struggle for relief: How fear influences patient access to medical opioids

If you are in severe pain and struggling to get opioid medication in Indonesia, you are not alone. Despite the International Narcotics Control Board (INCB) recognising several therapeutic opioid as essential medicines, Indonesia has one of the lowest levels of medical opioid use in the region, far below global and regional standards . Indonesia consumes only 26 opioid doses per million people per day , compared with 1,467 doses in Malaysia and 200 in Timor-Leste. The problem is not a lack of medical need. It is government policy, our research shows . One complicating factor is the government’s strict political approach to narcotics , which prioritises consideration of potential harms over the real clinical need of patients to access essential medicines . Why are opioids so difficult to access? Therapeutic opioids are standard treatment for severe pain , including for cancer, post-surgical and palliative care. They work by blocking pain signals from the body to the brain . Indonesia’s National Essential Medicines List contains several strong opioids, such as morphine, pethidine, methadone, fentanyl, remifentanil, hydromorphone, and sufentanil. These opioids are different from what are sometimes referred to as ‘weak’ opioids such as codeine and tramadol, which are used for moderate pain . Tramadol and codeine are regulated under a different regulation to strong opioids and are more widely available in Indonesia. Like any medicine, opioids carry risks, including addiction and side effects. However, when prescribed appropriately , their benefits generally outweigh those risks. These medicines are legal, but many patients struggle to obtain them. One major reason is the government’s reluctance to import larger quantities because of concerns about potential misuse. Yet Indonesia’s medical needs continue to grow. Around 5,000 to 10,000 people per million require palliative care, while 137 new cancer cases occur per 100,000 people each year. Every year, Indonesia submits its estimated narcotic needs, including opioids, to the INCB , which sets limits on a country’s maximum annual import quota . If the Ministry of Health wants more opioids, it must request a higher quota for the following year. The ministry argues that Indonesia’s opioid use is too low to justify larger imports. However, our 2026 research found the opposite: usage is low because supplies are already insufficient. Hospitals frequently face shortages, long procurement delays and cash-on-delivery requirements. Many pharmacies also choose not to stock opioids because of the huge amount of paperwork and low profits . As a result, many hospitals carry low stocks of opioids and doctors cannot guarantee patients will be able to fill their medical opioid prescriptions. To avoid further pressure on patients, some doctors look for other pain management solutions, even when medical opioids are the best treatment option. Fear of misuse shapes policy Our team of researchers from universities in Indonesia and Australia held a public workshop in Jakarta in June 2026. We presented the results of our research on the factors that affect medical opioid use in Indonesia . Government officials agreed the shortage is concerning. However, representatives from the National Agency of Drug and Food Control, the Health Ministry, the National Narcotics Agency, and other institutions also argued that increasing opioid supplies could increase misuse, crime and addiction. Some of these concerns may be influenced by the North American “ opioid crisis ”. In fact, Indonesia’s situation is very different. The US crisis was fuelled by aggressive marketing by Purdue Pharma, which falsely promoted OxyContin as a safe long-term pain treatment. The company later agreed to pay billions in compensation to victims , and was convicted of criminal charges in 2026 . Indonesia, meanwhile, has much tighter controls. The government strictly regulates opioid imports and distribution, with the state-owned company Kimia Farma handling almost all supplies. Moreover, opioids are not prescribed for long-term pain management. In the US, Purdue Pharma incorrectly promoted the use of OxyContin as a non-addictive treatment for long-term pain management. This was one of the triggers for the “opioid crisis” that emerged in North America in the 1990s. In 2025, Purdue Pharma agreed to pay billions in compensation to victims and was convicted of criminal charges in 2026. Two separate issues Our research found no cases of doctors prescribing medical opioids inappropriately. The 64 healthcare workers we interviewed understood the prescribing rules, and our review of court records found no criminal cases involving illegal prescribing. Interviewees did identify operational problems, including a complex reporting system, storing and the need for more training. Even so, they agreed that the authorities must strictly monitor these drugs and are supportive of government measures to ensure opioids are handled with care. It seems that current safeguards already make diversion from hospitals to the illegal market rare. Yet policymakers continue to assume that increasing legitimate medical supplies will inevitably increase misuse. This confuses two different problems : preventing illegal drug trafficking and sale is a law enforcement responsibility, while ensuring access to pain relief is part of the right to health. Both matter. Ensuring restricted access and strict government oversight of opioids is warranted. But prioritising concerns about potential misuse over real patients’ access to approved treatment risks undermining the legal right to health for Indonesian citizens . Discussions about drug classification, alternative therapies and patient care must be grounded in scientific research and evidence. Patients in severe pain should not be denied essential medicines because of hypothetical risks that current regulations are already designed to prevent. Healthcare and services professionals should be supported in their work to improve patients’ quality of life. Neither of these benefit when potential criminality is prioritised over patient care. Elisabeth Kramer receives funding from the Australian Research Council for this research (grant number LP210100387). She is a member of the secretariat for the Indonesia Council, which aims to raise awareness of Indonesia in Australia and support research collaboration between Australian and Indonesian researchers. Andi Hermansyah and the research team receive funding from the Australian Research Council (grant number LP210100387). They do not receive funding from the pharmaceutical or healthcare industries. Anshar Saud receives funding from the Australian Research Council (grant number LP210100387). Asmin Fransiska receives funding from the Australian Research Council (grant number LP2101003) and does not receive funding from the pharmaceutical or healthcare sectors. Barbara Mintzes is a member of Health Action International (HAI-Europe), a non-profit organisation that supports access to essential medicines. She also serves as the Secretary General of the International Society of Independent Drug Bulletins (ISDB) and the Association Mieux Prescrire, a French non-profit organisation. None of these organisations receive funding from the pharmaceutical industry. This project is funded by the Australian Research Council (grant number LP10100387). Desak Ketut Ernawati and the research team receive funding from the Australian Research Council (grant number LP210100387). They do not receive funding from the pharmaceutical or healthcare industries. Kirsty Foster is affiliated with the Australia and New Zealand Association of Health Professional Educators. She conducts accreditations for medical schools and specialist medical colleges on behalf of the Australian Medical Council. She receives no funding from, nor does she have any ties to, any pharmaceutical companies. This project is funded by the Australian Research Council (grant number LP210100387). Paul Glare receives funding from the Australian Research Council (grant number LP210100387). Simon Butt receives funding from the Australian Research Council (grant number LP210100387). Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Pain and the struggle for relief: How fear influences patient access to medical opioids
0
EA
Emma A. Climie, Associate Professor in School & Applied Child Psychology, University of Calgary· Warga
Kiriman

Tak hanya laki-laki, perempuan juga bisa mengalami ADHD dan sering diabaikan

Ketika membicarakan soal gangguan perhatian dan hiperaktivitas alias attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), kita mungkin sering kali membayangkan anak laki-laki hiperaktif yang berlarian di kelas. Sebaliknya, kita mungkin jarang membayangkan sosok anak perempuan pendiam yang melamun di sudut ruangan, siswa perempuan banyak bicara yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya, ataupun seorang ibu yang selalu terlambat dan terus-menerus mencari kunci rumahnya. Padahal, mereka semua—baik laki-laki dan perempuan segala usia—mungkin menunjukkan tanda-tanda ADHD , suatu kondisi perkembangan saraf yang bisa sangat memengaruhi aktivitas sehari-hari. Sebagai psikolog dan peneliti yang berfokus memahami ADHD pada perempuan di sepanjang hidup mereka, kami ingin lebih memahami faktor sosial, emosional, kognitif, serta hormonal yang secara unik beririsan dengan ADHD pada perempuan. Penelitian gabungan kami mengkaji pengalaman ADHD pada perempuan yang berfokus memahami bagaimana perkembangan mereka di masa kanak-kanak dan remaja , hingga dewasa dan lanjut usia . Anak perempuan dengan ADHD Anak perempuan usia sekolah dan remaja dengan ADHD sering kali tidak terdeteksi . Mereka biasanya cenderung suka melamun, tidak fokus, dan lebih jarang menunjukkan perilaku yang secara terang-terangan mengganggu dibandingkan anak laki-laki. Sebaliknya, mereka mungkin memendam stres—yang dapat berujung pada salah diagnosis sebagai kecemasan atau depresi, alih-alih diidentifikasi secara akurat sebagai ADHD. Namun, terdapat ciri-ciri ADHD yang jelas dan bisa dikenali. Anak perempuan dengan ADHD sering kali sensitif secara emosional. Mereka mungkin cenderung mengalami kesulitan sosial, seperti menyela percakapan atau kesulitan membaca isyarat sosial. Selain itu, anak perempuan dengan ADHD cenderung menunjukkan hiperaktivitas yang lebih “terinternalisasi”, seperti memutar-mutar rambut, menggaruk kulit, atau menggoyangkan kaki . Saat memasuki masa pubertas (sering kali dimulai antara usia 9 dan 11 tahun), anak perempuan dengan ADHD menghadapi peningkatan risiko kesulitan belajar di sekolah, masalah penyalahgunaan zat adiktif lebih dini, dan gangguan suasana hati. Perubahan hormonal selama periode ini juga dapat memengaruhi efektivitas obat ADHD, sehingga menciptakan tantangan tambahan pada tahap perkembangan mereka yang sebelumnya sudah rentan. Perempuan dewasa dengan ADHD Saat menangani perempuan dewasa dengan ADHD, kami sering mendengar komentar seperti: “ Saya didiagnosis setelah anak saya didiagnosis ADHD .” Banyak perempuan tidak teridentifikasi ADHD pada masa kecil, dan baru menyadari adanya gejala ketika menyaksikan anak mereka menghadapi tantangan yang sangat mirip dengan yang mereka alami saat tumbuh dewasa. Selama bertahun-tahun, perempuan yang hidup dengan gejala ADHD sering kali mengembangkan strategi coping yang kuat tanpa disadari, untuk menyiasati situasi sulit agar bisa beraktivitas dengan baik. Namun, strategi coping ini cenderung kacau ketika memasuki fase transisi kehidupan yang besar (seperti menjadi orang tua atau memasuki masa menopause). Pada fase tersebut, pendekatan yang tadinya berhasil mungkin menjadi kurang efektif , sehingga proses menghadapi masa-masa sulit jadi lebih menantang. Saat ini, perempuan berusia 30-an dan 40-an merupakan salah satu kelompok dengan pertumbuhan tercepat yang menerima resep stimulan untuk ADHD. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan diagnosis pada kelompok ini. Seperti apa gejala ADHD pada perempuan? Perempuan dengan ADHD sering kali menggambarkan berbagai pengalaman—yang meskipun tidak tercantum secara eksplisit dalam kriteria diagnosis—sangat memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari. Contohnya, banyak dari mereka melaporkan tindakan menutupi perilaku atau emosi demi tidak terlihat berbeda dari orang pada umumnya. Mereka mungkin berusaha terlalu keras untuk tampil terorganisasi dan kompeten, menghabiskan waktu berlebihan dalam mengerjakan suatu tugas guna menghindari kesalahan atau kritik. Seiring berjalannya waktu, pola-pola ini dapat memicu stres kronis dan kelelahan, serta sering kali muncul sebagai gangguan kecemasan atau depresi . Kondisi ini berisiko kian mempersulit identifikasi masalah mental yang akurat dan pemberian dukungan yang tepat. Selain itu, perempuan dengan ADHD sering kali kesulitan untuk memulai tugas, suka menunda-nunda pekerjaan, dan sulit menyelesaikan tugas tepat waktu. Berbagai tantangan ini dapat memengaruhi kehidupan pribadi maupun profesional mereka, sehingga memicu keraguan pada diri sendiri hingga stres dan kelelahan mental berkepanjangan ( burnout ). Perempuan dengan ADHD sering mengalami kesulitan untuk memulai tugas, suka menunda-nunda, dan sulit menyelesaikannya tepat waktu. (Pexels/Karola) Perempuan ADHD di usia lanjut Saat memasuki usia lanjut (60 tahun ke atas), banyak perempuan ADHD mengaku bahwa mereka mengalami perburukan gejala yang signifikan. Hal ini diduga terjadi akibat penuaan otak yang normal dan perubahan akibat menopause . Lansia dengan ADHD mungkin akan sangat terdampak oleh perubahan usia ini. Sebab, struktur dan fungsi di lobus frontal (pusat kendali utama di otak) mereka memang sudah berbeda sebelumnya . Perempuan dengan ADHD mungkin menghadapi tantangan yang lebih besar daripada laki-laki seiring bertambahnya usia. Sebagian disebabkan oleh penurunan estrogen yang terjadi selama menopause . Estrogen bekerja sama dengan dopamin (zat kimia penting di otak) untuk meningkatkan suasana hati dan kognisi (kemampauan mengolah informasi dan memecahkan masalah). Ketika kadar estrogen menurun (misalnya selama masa perimenopause), efek positif dopamin menjadi kurang terasa . Tak sedikit perempuan dengan ADHD mengalami fluktuasi hormon lebih ekstrem daripada perempuan lainnya . Akibatnya, masa perimenopause menjadi fase yang sangat menantang bagi mereka. Apa yang harus dilakukan jika saya merasakan tanda ADHD? Jika merasa memiliki tanda-tanda ADHD, kamu bisa melakukan pemeriksaan ke psikiater ataupun psikolog klinis. Langkah penting dalam diagnosis adalah memastikan bahwa setidaknya beberapa gejala yang kamu alami telah ada sejak lama (bukan baru muncul belakangan). Gejala-gejala tersebut tidak dipengaruhi oleh kondisi medis ataupun kejiwaan lain. Kamu juga dapat menghubungi Komunitas ADHD Indonesia untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pengujian, diagnosis, dan dukungan untuk orang ADHD. Emma Climie menerima pendanaan dari Social Sciences and Humanities Research Council, Azrieli Foundation, dan Carlson Family Research Award in ADHD. Ia merupakan Anggota Dewan Direksi untuk CADDRA (Canadian ADHD Resource Alliance). Brandy Callahan menerima pendanaan dari Canadian Institutes of Health Research, Social Sciences and Humanities Research Council, dan Canada Research Chairs Program. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Tak hanya laki-laki, perempuan juga bisa mengalami ADHD dan sering diabaikan
0
IA
Iskandar Azmy Harahap, Early career researcher on food science, Badan Riset dan Inovasi Nasional· Warga
Kiriman

Apa program MBG layak dapat Nobel Perdamaian? Belajar dari World Food Programme

● Usulan Nobel Perdamaian untuk program MBG memerlukan pembuktian rekam jejak yang panjang. ● WFP sudah terbukti membantu mengatasi masalah pangan dunia selama puluhan tahun. ● Evaluasi kelayakan MBG perlu lebih transparan dan berbasiskan data yang valid. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan publik setelah sebuah makalah yang terbit di Social Science Research Network (SSRN) mengusulkan program tersebut sebagai kandidat Nobel Perdamaian 2026. SSRN adalah repositori daring untuk naskah akademis dan prapublikasi penelitian ( preprint ). Bagi sebagian kalangan, gagasan tersebut mungkin terdengar berlebihan. Namun, upaya menghubungkan isu pangan dengan perdamaian sebenarnya bukan hal baru. Berbagai studi menunjukkan bahwa kerawanan pangan dapat mengganggu stabilitas sosial dan memicu konflik. Sementara itu, akses masyarakat terhadap pangan turut menyokong pembangunan manusia dan stabilitas jangka panjang. Hubungan inilah yang mendorong Komite Nobel menganugerahkan Nobel Perdamaian 2020 kepada World Food Programme (WFP). Organisasi pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut dinilai berkontribusi dalam memerangi kelaparan, memperbaiki kondisi bagi perdamaian di wilayah terdampak konflik, serta mencegah penggunaan kelaparan sebagai senjata perang. Karena itu, pertanyaan mengenai kelayakan MBG tidak dapat dijawab hanya melalui dukungan atau penolakan semata. Pertanyaan yang lebih penting adalah: sejauh mana MBG memenuhi standar dampak, rekam jejak, dan pembuktian yang selama ini menjadi dasar pertimbangan Nobel Perdamaian? Apa yang membuat WFP layak mendapat nobel? Ada setidaknya tiga alasan yang membuat WFP memperoleh Nobel Perdamaian. Pertama, dampaknya bersifat global. WFP bekerja di berbagai negara yang menghadapi konflik, bencana, krisis kemanusiaan, dan pengungsian massal. Pemenuhan pangan dalam hal ini tidak hanya berkaitan dengan gizi, tetapi juga keselamatan manusia dan stabilitas sosial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kerawanan pangan dapat memperbesar risiko konflik dan ketidakstabilan . Kedua, Nobel Perdamaian umumnya diberikan berdasarkan rekam jejak yang panjang dan dapat diverifikasi. WFP telah beroperasi selama lebih dari enam dekade dan menjadi salah satu organisasi kemanusiaan terbesar di dunia dalam penanganan kelaparan. Dengan kata lain, penghargaan tersebut diberikan bukan atas potensi atau janji, melainkan dampak yang telah diamati selama puluhan tahun. Ketiga, upaya WFP berkelindan dengan agenda perdamaian. Melalui bantuan pangan darurat di wilayah konflik seperti Sudan dan Gaza , WFP membantu menjaga kelangsungan hidup masyarakat terdampak perang sekaligus mengurangi kerentanan yang muncul akibat terganggunya akses pangan. Dari perspektif ini, Nobel Perdamaian untuk WFP dapat dipahami sebagai pengakuan atas kombinasi dampak kemanusiaan global dengan rekam jejak yang panjang. Upaya WFP juga dianggap terbukti mengurangi dampak krisis pangan dan kemanusiaan. Bagaimana dengan MBG? Jika kita menggunakan tolok ukur seperti WFP, ada beberapa hal yang patut kita apresiasi dari MBG. Program ini dirancang untuk meningkatkan akses terhadap makanan bergizi, memperkuat kualitas sumber daya manusia, serta berpotensi mendorong aktivitas ekonomi lokal melalui keterlibatan petani dan pelaku usaha pangan. Baca juga: Dari kantin hingga katering: Bagaimana MBG berisiko menggerus pendapatan perempuan Tujuan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa perbaikan gizi dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, pendidikan, dan produktivitas masyarakat dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sebagai kebijakan publik, MBG layak dipandang sebagai investasi yang berpotensi memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang luas. Namun, kita perlu membedakan antara potensi dan dampak yang telah terbukti. Program ini masih baru. Belum ada evaluasi jangka panjang dampak MBG terhadap penurunan stunting , perkembangan kognitif anak , maupun kesejahteraan ekonomi masyarakat. Hal yang sama berlaku untuk klaim perdamaian. Studi perdamaian kontemporer mengenal konsep positive peace , yakni kondisi perdamaian yang muncul karena rendahnya ketimpangan, kuatnya institusi, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Dalam konsep ini, perbaikan gizi dan pengurangan kerentanan sosial memang dapat dipandang sebagai faktor yang mendukung stabilitas sosial. Namun, hingga kini, hubungan antara program MBG dan perdamaian masih memerlukan pembuktian empiris yang lebih kuat daripada sekadar hubungan teoritis antara pangan, kesejahteraan, dan stabilitas. Dengan kata lain, masih terlalu dini untuk menyimpulkan sejauh mana MBG menghasilkan dampak perdamaian yang dapat diukur—sebagaimana yang menjadi salah satu pertimbangan Nobel Perdamaian. Apa yang perlu diperbaiki? Terlepas dari perdebatan usulan MBG untuk mendapatkan Nobel Perdamaian, yang lebih penting justru bagaimana kita menilai keberhasilannya secara ilmiah. Sebagai program nasional dengan anggaran ratusan triliun, MBG memerlukan evaluasi yang transparan, berkelanjutan, dan dapat diuji secara independen. Baca juga: Kasus MBG menunjukkan bagaimana pemerintah mengontrol informasi untuk membenarkan kebijakan Analisis yang terbit di The Lancet Regional Health Southeast Asia pada 2026 memang mengakui potensi MBG meningkatkan status gizi, kehadiran siswa di sekolah, dan hasil pembelajaran. Namun, studi tersebut juga menyoroti adanya kelemahan dalam penerapan standar keamanan pangan dan sistem pemantauannya. Apalagi terdapat 37 ribu kasus keracunan makanan yang dilaporkan sejak program ini diluncurkan. Temuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa MBG gagal. Ia justru mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kualitas pelaksanaannya. Pengalaman berbagai program makan sekolah di dunia menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga kualitas pelaksanaan, keterlibatan keluarga dan komunitas, serta kemampuannya menjangkau kelompok yang paling membutuhkan. Oleh karena itu, evaluasi MBG sebaiknya tidak hanya berfokus pada jumlah makanan yang dibagikan atau anggaran yang terserap. Dampak MBG juga perlu diukur secara akurat dan komprehensif, mulai dari status gizi, kehadiran sekolah, manfaat ekonomi bagi masyarakat, hingga hubungannya dengan sistem pangan lokal . Tanpa data yang dapat diverifikasi, sulit membedakan antara keberhasilan yang nyata dan klaim yang masih bersifat asumsi. Nobel Perdamaian pada dasarnya bukan penghargaan atas niat baik, melainkan pengakuan atas perubahan yang telah terbukti terjadi. Program MBG yang membawa harapan besar bagi jutaan anak Indonesia bisa menjadi salah satu investasi sosial terbesar dalam sejarah negara ini. Namun, apakah program ini suatu hari layak dipandang berkontribusi terhadap perdamaian, ketahanan pangan, atau pembangunan manusia, hanya waktu dan bukti yang dapat menjawabnya. Seperti halnya pengalaman WFP, perjalanan menuju pengakuan global tidak diukur dari besarnya janji maupun klaim yang disampaikan, tetapi dari banyaknya kehidupan yang benar-benar berhasil diubah. Baca juga: Nobel Perdamaian: mengenal Narges Mohammadi dan perjuangan HAM ribuan perempuan di Iran Iskandar adalah salah satu dari 600 ilmuwan muda dunia yang mengikuti 75th Lindau Nobel Laureate Meeting di Jerman selama 28 Juni - 3 Juli 2026. Forum ini mempertemukan peraih Nobel dan peneliti muda dari berbagai negara. Keterlibatan tersebut tidak terkait dengan penulisan artikel ini dan tidak memengaruhi analisis maupun penilaian yang disampaikan. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Apa program MBG layak dapat Nobel Perdamaian? Belajar dari World Food Programme
0
IA
Imam Ardhianto, Assistant Professor, Universitas Indonesia· Warga
Kiriman

Beban penyakit berlipat hantui masyarakat adat: Menghargai budaya warga bisa jadi kunci layanan kesehatan lebih adil

● Masyarakat adat rentan terkena berbagai penyakit akibat kehilangan ruang hidup dan kesulitan akses layanan kesehatan. ● Cap negatif dari tenaga kesehatan juga bikin mereka ogah berobat medis. ● Kunci layanan kesehatan yang lebih adil haruslah menghargai budaya masyarakat. Artikel ini untuk memperingati Hari Masyarakat Adat Sedunia pada 9 Agustus. Masifnya alih fungsi lahan menggusur masyarakat adat dari ruang hidupnya. Penggundulan hutan mengubah ekosistem sehingga meningkatkan risiko mereka terkena berbagai penyakit. Di wilayah seperti Kalimantan Timur dan Papua, misalnya, masyarakat harus hidup dalam bayang-bayang malaria . Di saat bersamaan, pergeseran pola makan akibat perubahan ruang hidup juga menyebabkan mereka dibayangi oleh ancaman gizi buruk ekstrem, stunting , hingga risiko diabetes . Data membuktikan bahwa tiga provinsi dengan kasus stunting tertinggi banyak dihuni masyarakat adat, yaitu Papua Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Pegunungan. Kawasan tersebut memiliki persentase kasus nyaris dua kali lipat angka nasional . Sementara itu, akses layanan kesehatan masih sangat timpang. Fasilitas kesehatan tidak sampai ke pedalaman. Akibatnya, masyarakat adat harus membayar mahal ongkos transportasi untuk bisa mengakses layanan kesehatan terdekat. Di sisi lain, cap negatif dari tenaga kesehatan membuat masyarakat adat enggan berobat ke puskesmas. Sayangnya, persoalan ini sering tidak terlihat dalam data kesehatan nasional. Sederet temuan ini justru terungkap dalam riset kami pada tahun 2023-2024 (belum dipublikasikan), serta forum diskusi terpumpun (FGD) luring yang melibatkan 12 perwakilan masyarakat adat di Indonesia pada Juli 2026. Hilangnya ruang hidup Riset kami terhadap masyarakat Punan, Lundayeh, dan Kenyah di Kalimantan Utara menunjukkan bahwa akar masalah beban penyakit berlipat pada masyarakat adat adalah hilangnya ruang hidup, baik karena perubahan lingkungan drastis akibat penggundulan hutan maupun pemindahan paksa dan sukarela ke wilayah dengan kondisi sosial dan lingkungan berbeda. Pemindahan semacam ini punya sejarah panjang di Indonesia. Sejak 1970-an , program pemukiman kembali yang disokong Bank Dunia telah memindahkan orang Punan dan Lundayeh dari hulu Mentarang, Tubu, dan Malinau di Kalimantan Utara ke tempat-tempat di hilir. Kondisi ini membuat mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan risiko masalah kesehatan yang berbeda, misalnya diabetes dan tekanan darah tinggi. Sementara itu, di sekitar wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, orang-orang dayak Basap dipindahkan bersama para transmigran dari Jawa dan etnik lain di Jonggon. Mereka kemudian menjadi minoritas yang berisiko tinggi terpapar malaria dan zoonosis (menular dari hewan ke manusia). Baca juga: Dampak pembangunan IKN berisiko picu penularan malaria: Pemerintah harus siapkan mitigasi Masih di Kalimantan Timur, yaitu di Berau, Studi tahun 2021 dalam jurnal Lancet Planetary Health menunjukkan bahwa penggundulan hutan menaikkan suhu lokal hingga 1ºC. Panas menyengat berkontribusi pada kematian dini, serta mengancam keselamatan kerja masyarakat adat dan komunitas lokal. Sebelumnya pada 2015, studi KKI Warsi bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mencatat bahwa kenaikan suhu akibat penggundulan hutan menyebabkan 11 warga Suku Anak Dalam meninggal akibat kekurangan pangan dan air bersih. Mahalnya transportasi ke layanan kesehatan Ketika masyarakat adat terkena penyakit akibat kehilangan ruang hidup, pemerintah tidak menyediakan layanan kesehatan yang memadai hingga ke pedalaman. Peserta FGD Lorensius Tatang dari Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) Kalimantan Barat mengatakan bahwa masyarakat yang sakit di wilayahnya, bahkan harus dipikul 2-3 jam dari kampung ke puskesmas. “Jangankan untuk berobat, untuk naik kendaraan saja tidak ada,” ujarnya. Di wilayah lain, masyarakat adat harus membayar mahal transportasi untuk bisa mengakses layanan kesehatan terdekat. Ongkos transportasi bahkan bisa berkali lipat lebih mahal daripada biaya layanan kesehatan. Penelitian tim etnografi saya di Malinau, Kalimantan Utara, mengungkapkan bahwa merujuk satu pasien dari puskesmas pedalaman ke RSUD saja perlu sewa pesawat kecil atau perahu yang melawan jeram berbahaya. Mereka juga butuh biaya menginap di kota. Di banyak kasus, warga bahkan harus patungan mengumpulkan donasi untuk menanggung biaya. Mereka menyebutnya “butuh satu kampung” untuk mengirim satu pasien ke rumah sakit. Dalam kondisi darurat, masyarakat memerlukan biaya sekitar Rp5 juta — Rp20 juta karena harus sewa pesawat ataupun perahu dari hulu. Ini termasuk biaya pendamping ( caregiver ). Situasi ini lebih rumit bagi banyak masyarakat adat yang menghuni kawasan konservasi dan tidak memungkinkan adanya infrastruktur jalan, terutama ketika menyangkut persalinan dan masalah kesehatan ibu-anak. Baca juga: Angka kematian ibu dan bayi di Papua tertinggi se-Indonesia: bagaimana cara mengatasinya? Stigma dari tenaga kesehatan Persoalan lainnya adalah stigma dari tenaga medis. Perlakuan tenaga medis terhadap sistem kesehatan tradisional belum tentu seragam dan acap kali membuat masyarakat adat menerima cap negatif. Tatang mengatakan bahwa pengetahuan pengobatan asli rutin dilabeli kuno dan tidak higienis. Sementara itu, Luther, peserta asal Tanimbar, Maluku, menuturkan pasien takut menyampaikan ramuan yang sudah diminum karena kerap dimarahi. Stigma ini bisa menghambat proses diagnosis dan pengobatan pasien. Sejauh mana peran pemerintah? Merespons sederet ketimpangan layanan kesehatan pada masyarakat adat, Kemenkes pada 2024 mengeluarkan regulasi yang memandatkan modifikasi layanan masyarakat adat terpencil sebagai satuan tersendiri. Modifikasi yang direkomendasikan meliputi pelayanan kesehatan bergerak, pelayanan kesehatan gugus pulau, pelayanan kesehatan berbasis telekesehatan dan telemedisin, dan modifikasi pelayanan kesehatan lain. Tahun ini, lembaga Alam Sehat Lestari Indonesia (ASRI) dan kelompok riset kami, Global Health Care and Wellbeing dari Departemen Antropologi UI tengah mengusulkan kajian kepada Kemenkes berupa bentuk modifikasi layanan lain untuk komunitas adat terpencil. Baca juga: Etnomedisin Suku Lio: Berkompromi di tengah kepungan pengobatan modern Kami mengajukan bentuk layanan kesehatan berbasis cultural safety (keamanan budaya) agar tenaga kesehatan wajib memberikan layanan yang adil, tanpa prasangka, dan menghormati tradisi masyarakat adat. Sebelum dikirim bertugas ke wilayah adat, tenaga medis wajib mendapatkan pelatihan khusus agar tindakan medis mereka tidak menyinggung adat istiadat ataupun melukai perasaan warga. Contohnya, ketika seorang ibu dari masyarakat adat melahirkan di puskesmas, bidan mengizinkan keluarga membawa pusaka ataupun melakukan ritual adat untuk menenangkan pasien. Masyarakat adat juga perlu dilibatkan secara bermakna dan setara. Misalnya, dengan melibatkan nakes dan kader kesehatan dari masyarakat adat setempat. Tujuannya agar penyuluhan dan perawatan kesehatan lebih mudah dimengerti dan selaras dengan budaya mereka. Kami juga mengusulkan penyusunan prosedur penanganan di rumah sakit atau puskesmas yang memberikan kebebasan kepada masyarakat adat untuk memilih cara berobat. Mereka boleh memakai pengobatan medis, pengobatan tradisional, atau menggabungkan keduanya secara aman. Tugas para akademisi, komunitas kesehatan, dan pemerintah selanjutnya adalah bekerja sama untuk memastikan aturan kesehatan yang memihak masyarakat adat benar-benar dijalankan ke depannya. Sudah saatnya sistem kesehatan di Indonesia benar-benar menghargai budaya pasien sehingga layanan kesehatan yang adil bisa dinikmati masyarakat hingga pelosok daerah. Imam Ardhianto menerima dana dari kementerian kesehatan pada 2024 dan pada tahun 2026 untuk memberikan dukungan riset dan usulan modifikasi layanan kesehatan untuk layanan KAT. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa tidak ada keuntungan, finansial ataupun bentuk lain, yang muncul atas terbitnya artikel ini. Selain dari pembiayaan di atas, sebagian data yang diungkapkan, terutama data mengenai biaya dan persoalan kerentanan infrastruktur kesehatan di Kaltara merupakan hasil data lapangan dari kerja penelitian yang mendapatkan dukungan dari Asia Research Centre FISIP UI, melalui hibah LPDP PRIME, kerjasama Universitas Indonesia dan Universitas Melbourne dalam Riset "Asian Countries Response to Covid-19 dan kolaborasi Departemen Antropologi dengan Badan Registrasi Wilayah Adat" Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Beban penyakit berlipat hantui masyarakat adat: Menghargai budaya warga bisa jadi kunci layanan kesehatan lebih adil
0
TH
Teguh Haryo Sasongko, Peneliti Cochrane; Associate Professor, School of Medicine dan Deputy Director, Institute of Research, Development, and Innovations, International Medical University Malaysia· Warga
Kiriman

Penghinaan pasien BPJS menguak budaya kerja yang mengikis empati dokter & perawat

● Pendidikan kedokteran mengajarkan soal kode etik berempati kepada pasien. ● Namun, budaya kerja yang membentuk karakter profesional dapat mengikis empati yang diajarkan secara formal. ● Meski tekanan sistem meningkatkan kecenderungannya, komentar nirempati tak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun. Kasus perundungan di media sosial oleh tenaga medis dan kesehatan terhadap pasien BPJS Kesehatan Yurizal Tri Chaerawan berbuntut panjang . Konsil Kesehatan Indonesia akan memanggil sedikitnya 10 orang (dokter, dokter gigi, dan perawat) yang terdeteksi menghina Yurizal. Mereka memberikan komentar negatif terkait keluhan Yurizal di Threads soal pengalamannya menunggu sekitar delapan jam demi mendapatkan kamar rawat inap. Permintaan maaf dari beberapa perundung usai wafatnya Yurizal, tidak lantas menghapus pelanggaran kode etik kedokteran oleh tenaga medis dan kesehatan tersebut. Ejekan terhadap pasien tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Namun, hukuman individual maupun pelatihan etik tambahan menurut saya tidaklah cukup untuk menyikapi persoalan ini. Ada persoalan sistemik yang perlu kita benahi. Empati kepada pasien tak bisa ditawar Pendidikan kedokteran mengajarkan soal kode etik komunikasi, profesionalisme, dan empati terhadap pasien. Dokter bahkan disumpah untuk menghormati setiap hidup manusia dan membaktikan hidupnya untuk kemanusiaan. Keduanya, mengutip anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Erlina Burhan , hanya bisa terwujud melalui empati. Dalam menghadapi pasien, dokter maupun tenaga kesehatan harus mau mendengarkan, tidak menyepelekan, dan sebaik-baiknya melihat segala sesuatu dari posisi pasien. Terhadap pasien sakit, dokter harus berhati-hati menyampaikan informasi medis secara jelas dan santun agar tidak melemahkan kondisi psikis pasien dan keluarganya. Meski nilai-nilai ini ditanamkan secara formal, budaya kerja (baik di rumah sakit, klinik, puskesmas, hingga interaksi profesional di media sosial) diam-diam menjadi ruang belajar yang terus membentuk karakter profesional kesehatan. Disadari ataupun tidak, tenaga medis dan kesehatan belajar dari cara senior dan sejawat berbicara tentang pasien, bagaimana keluhan ditanggapi, perilaku apa yang dianggap wajar, serta bagaimana institusi merespons kesalahan dan konflik. Dalam pendidikan kedokteran, proses pembentukan melalui budaya kerja sehari-hari ini sering dibahas sebagai hidden curriculum atau “kurikulum tersembunyi”. Masalah muncul ketika kurikulum tersembunyi justru memberikan pelajaran yang buruk. Nilai empati, profesionalisme, dan penghormatan terhadap pasien yang diajarkan secara formal dapat terkikis perlahan ketika pengalaman sehari-hari profesional kesehatan terus memperlihatkan hal sebaliknya. Profesional kesehatan belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari perilaku yang dianggap wajar oleh kelompok profesinya. Misalnya, kekerasan verbal yang dinormalisasi selama pendidikan dokter spesialis , serta bagaimana sejawat dan institusi merespons keluhan, kesalahan, dan perilaku tidak profesional. Jika sikap sinis dibiarkan, keluhan pasien dianggap gangguan, atau perilaku tidak empatik tidak dikoreksi, budaya kerja dapat menjadi pendidik yang jauh lebih kuat daripada ruang kelas. Baca juga: Dokter juga manusia: pendidikan dokter spesialis perlu pendekatan humanis Selain karena teladan yang buruk, tinjauan sistematis tahun 2023 terhadap 16 studi dan 771 mahasiswa kedokteran menunjukkan bahwa beban kerja penuh tekanan, dominasi pengetahuan biomedis (yang lebih berfokus pada penyakit, ketimbang sisi psikologis manusia) dapat mendorong sinisme dan nirempati di kalangan tenaga kesehatan. Tekanan sistem tak boleh turun ke pasien Tenaga medis dan kesehatan bekerja dalam tekanan. Studi tahun 2023 terhadap 3.629 tenaga kesehatan Indonesia , misalnya, menemukan 48,2% responden mengalami burnout (lelah dan stres berkepanjangan) pada tingkat sedang hingga tinggi. Burnout mungkin bisa menjelaskan munculnya komentar sinis tenaga medis dan kesehatan terhadap pasien. Pemicunya beragam, dari rasa frustrasi terhadap jumlah pasien yang membludak, kekurangan tempat tidur, mahalnya biaya kuliah kedokteran, kekerasan struktural selama masa pendidikan , hingga beban kerja berlebihan. Akan tetapi, sesuai sumpah profesi dan kode etik dalam menghormati manusia dan berempati kepada pasien, tekanan seberat apa pun tidak bisa membenarkan pelampiasan kepada mereka. Baca juga: Risiko ‘burnout’ ancam bidan di Indonesia: Dibebani tugas administrasi, harus hadapi pasien 24 jam Layanan kesehatan dianggap pekerjaan transaksional Persoalan yang lebih mendasar menurut saya, berasal dari sesat pikir yang membuat beberapa orang memandang profesi dokter dan perawat tidak lagi sebagai “pengabdian kemanusiaan”, melainkan pekerjaan transaksional. Besarnya biaya pendidikan memperkuat kekhawatiran ini. Di Universitas Gadjah Mada, misalnya, biaya kuliah tunggal sarjana kedokteran pada 2026 mencapai Rp35,1 juta per semester sebelum subsidi . Adapun di sektor swasta seperti Universitas Islam Indonesia, biaya uang kuliah kedokteran mencapai 11,7 juta per semester. Ini bukan berarti pendidikan mahal menyebabkan hilangnya empati. Namun, keadaan ini berisiko menimbulkan kecenderungan memahami profesi kedokteran secara sempit melalui logika investasi dan imbal hasil. Misalnya, motivasi bekerja demi menghasilkan uang dan balik modal, sehingga memandang pasien sekadar sebagai konsumen. Bukan manusia yang sakit dan butuh pertolongan. Komentar negatif terhadap Yurizal sebagai pasien BPJS memperlihatkan bahayanya. Seolah besar-kecilnya “bayaran” menentukan seberapa jauh seseorang berhak menuntut pelayanan. Padahal, filosofi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) justru kebalikannya. JKN dibangun atas prinsip gotong royong dan ekuitas : yang kaya membantu yang miskin, dan yang sehat membantu yang sakit. Pelayanan pun diberikan sesuai kebutuhan medis, bukan besarnya iuran. Sistem Jaminan Sosial Nasional bahkan menyebut dana jaminan sosial sebagai “dana amanat” untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta . Karena itu, layanan kesehatan bukan sekadar pertukaran jasa, melainkan institusi solidaritas sosial yang dibiayai bersama untuk melindungi individu ketika mereka rentan. Layanan kesehatan sebagai ruang belajar Fasilitas kesehatan (baik RS, klinik, dan puskesmas) harus dipahami lebih dari sekadar ekosistem pemberian layanan. Melainkan juga sebagai ruang belajar yang setiap hari membentuk karakter, pola pikir, dan hati nurani SDM kesehatannya. Karena itu, kita perlu memperluas konsep penggunaan data, pengalaman, dan bukti klinis alias learning health system untuk terus memperbaiki pelayanan kesehatan. Sistem kesehatan kita juga harus menjadi ruang belajar membentuk profesional yang empatik, reflektif, rendah hati, serta memahami pelayanan sebagai tugas kemanusiaan. Kita bisa memulainya dengan memanusiakan pasien dan berempati kepada mereka, tidak hanya di ruang praktik ataupun saat berkomunikasi langsung, tapi juga ketika mendiskusikannya antarsejawat, maupun berkomunikasi lewat media sosial. Reformasi mendasar perlu kita lakukan untuk memastikan bahwa sistem kesehatan tidak hanya merawat pasien, tetapi juga mendidik para profesional kesehatannya dalam mengedepankan tugas kemanusiaan kepada masyarakat. Teguh Haryo Sasongko tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Penghinaan pasien BPJS menguak budaya kerja yang mengikis empati dokter & perawat
0
AP
Aditya Prasanda, Health Editor, The Conversation· Warga
Kiriman

Menakar manfaat dan risiko penilaian mutu rumah sakit berbasis kesembuhan pasien

● Pemerintah berencana menambah penilaian mutu rumah sakit berbasis kesembuhan pasien. ● Aturan ini dikhawatirkan menyebabkan pasien dengan kondisi parah ditolak oleh rumah sakit rujukan. ● Akademisi menilai aturan ini justru bermanfaat meningkatkan kualitas layanan ke pasien. Sejumlah dokter di media sosial mengkhawatirkan wacana Kementerian Kesehatan merombak sistem akreditasi rumah sakit. Mereka menilai kebijakan ini berisiko menyebabkan pasien dengan kondisi parah ditolak oleh rumah sakit rujukan. Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan wacana perombakan sistem penilaian akreditasi RS per lima tahun sekali menjadi real-time berdasarkan tindakan medis, serta angka kesembuhan dan keselamatan pasien ( survival rate ). Budi mencontohkan, ketika RS memiliki tingkat kegagalan operasi yang tinggi, status akreditasinya bisa turun seketika . Menurutnya, langkah ini dilakukan demi melindungi keselamatan pasien. Keselamatan pasien merupakan isu krusial di tengah adanya keluhan masyarakat soal buruknya pelayanan rumah sakit berakreditasi Paripurna (tertinggi) , hingga maraknya kasus malapraktik dan kelalaian medis. Sayangnya, menurut sejumlah pakar kesehatan, indikator maupun sistem penilaian RS selama ini memberikan celah yang menghambat evaluasi pelayanan rumah sakit secara optimal—akhirnya berdampak terhadap kualitas layanan ke pasien. Sistem penilaian per layanan Dalam regulasi sebelumnya , penilaian akreditasi hanya berdasarkan kepatuhan rumah sakit dalam melengkapi standar operasional prosedur (SOP). Misalnya, apakah dokter dan tenaga kesehatan sudah terlatih dengan baik dan tindakannya memenuhi standar. Ada juga soal alat dan prasarana kesehatannya, serta pengadaan audit. Sistem penilaian akreditasi lama tidak menilai apakah SOP, audit, hingga pelatihan tenaga kesehatan bedampak dalam kesembuhan pasien dan turunnya angka kematian. Keberhasilan tindakan medis ini akan masuk ke dalam sistem penilaian mutu layanan RS terbaru. Dihubungi The Conversation Indonesia , Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya menyampaikan bahwa sistem penilaiannya akan berlaku spesifik per layanan (poli). Adapun level penilainnya akan dibagi menjadi empat: Dasar (terendah), Madya, Utama, dan Paripurna. “Jadi, satu rumah sakit bisa memiliki level kompetensi berbeda pada tiap bidang pelayanan. Contohnya, RS A bisa memiliki layanan jantung tingkat Paripurna, tetapi layanan giginya berada di tingkat Madya,” ujar Azhar. Baca juga: Dari gawai warga, Thailand pantau penyebaran penyakit hingga ke desa: Apa yang bisa dipelajari Indonesia? Langkah tepat, tapi tak mudah Menanggapi rencana Kemenkes, Dosen Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas Universitas Gadjah Mada, Ryan Rachmad Nugraha, menilai langkah tersebut sudah tepat untuk meningkatkan keberhasilan perawatan dan pengobatan ( outcome ) pasien. Kendati demikian, proses penilaiannya menurut Ryan mungkin akan sulit dilakukan. “Karena ada banyak faktor yang memengaruhi kesembuhan pasien. Jadi, tidak hanya bergantung dari faktor pengobatan dan perawatan dari rumah sakit semata,” ujarnya. Faktor internal menurut berbagai riset juga memengaruhi potensi kesembuhan pasien, seperti optimisme mereka untuk sembuh , disiplin pengobatan, dukungan keluarga, serta perubahan gaya hidup. Selain itu, penyakit bawaan dan tingkat keparahan penyakit sangat berpengaruh. Aspek ini, menurut anggota Persi Pusat Beni Satria seperti dilansir Tempo , berisiko membuat pihak RS menolak pasien yang datang dengan kondisi klinis kompleks karena takut mendapatkan hukuman. Kekhawatiran lainnya adalah risiko rumah sakit memalsukan laporan insiden keselamatan pasien alias kejadian yang merugikan pasien selama perawatan. Baca juga: Tunjangan Rp30 juta untuk dokter spesialis tak menyelesaikan masalah, justru memicu ketimpangan baru Sistem penilaian harus dikalibrasi dengan baik Cicilya Candi, kandidat doktoral dari Monash University, Australia mengatakan bahwa sistem akreditasi baru secara real-time justru berpotensi memacu rumah sakit untuk saling bersaing dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. Sebab, kinerja mereka dinilai langsung dari seberapa baik hasil akhir perawatan pasien. “Pemantauan real-time berpotensi mencegah kebiasaan lama ketika RS hanya memberikan layanan maksimal saat masa penilaian (saban lima tahun), lalu kembali menurun setelah proses akreditasi selesai,” kata Cicilya. Untuk itu, Cicilya menilai pemerintah perlu mengkalibrasi dengan baik sistem penilaian berbasis keselamatan pasien. “Kemenkes tidak boleh hanya menilai hasil akhir kesembuhan, tetapi juga harus memperhitungkan tingkat keparahan awal pasien saat masuk, serta proses pengobatan dan perawatan yang diusahakan tenaga medis dan kesehatan,” ujar Cicilya. Agar bisa menilai tingkat kesembuhan pasien secara objektif, pemerintah juga perlu memiliki sistem data yang terintegrasi dengan baik. Menerapkan standar realistis Untuk meningkatkan akurasi penilaian tingkat kesembuhan pasien, Azhar dari Kemenkes menyampaikan setiap rumah sakit nantinya wajib menggunakan rekam medis elektronik (ERM) dan mengintegrasikan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) mereka ke platform SatuSehat. Dengan begitu, penilaian bisa dilakukan secara real-time . Saat ini, pemerintah sedang fokus mendorong kepatuhan RS dalam menerapkan ERM dan melakukan pelaporan secara tepat waktu, termasuk indikator nasional mutu, insiden keselamatan pasien, dan laporan lainnya. Baca juga: Penghinaan pasien BPJS menguak budaya kerja yang mengikis empati dokter & perawat Azhar mengatakan bahwa pemerintah menyadari tidak adanya jaminan 100% berhasil dalam tindakan medis. Oleh karena itu, tolak ukur yang digunakan adalah rata-rata nasional, bukan keberhasilan pelayanan absolut. Contohnya, berdasarkan data nasional, angka keberhasilan operasi kanker lambung stadium 3 di Indonesia adalah 75%. Berarti ada risiko kegagalan operasi sebesar 25%. Jika RS “A” melakukan operasi kanker lambung dan mencatat tingkat keberhasilan 78%, maka rumah sakit tersebut dianggap telah memenuhi standar. Meskipun ada 22% pasien yang tidak berhasil diselamatkan. RS “A” tidak akan diturunkan akreditasinya, karena pencapaian mereka masih berada di atas rata-rata nasional. “Angka standar keberhasilan ini tidak dibuat sepihak oleh Kemenkes, melainkan disusun bersama kolegium kedokteran, organisasi profesi, asosiasi rumah sakit, serta mengacu pada praktik terbaik ( best practice ) di luar negeri,” tutup Azhar. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Menakar manfaat dan risiko penilaian mutu rumah sakit berbasis kesembuhan pasien
0
YY
Yustina Yustina, PhD Candidate, Cancer and Pharmaceutical Sciences, King's College London· Warga
Kiriman

Panas ekstrem bisa merusak obat dan vaksin: Indonesia butuh sistem pengawasan obat tangguh iklim

● Cuaca panas ekstrem mengganggu rantai pasok obat dan vaksin global, termasuk Indonesia. ● Panas ekstrem bisa menghambat distribusi serta merusak bahan obat-obatan. ● Indonesia perlu membangun sistem pengawasan obat yang tangguh terhadap perubahan iklim. Gelombang panas ( heatwave ) mencapai puncaknya pada Agustus-September 2026 ini. Di beberapa negara Eropa (seperti Italia dan Prancis), gelombang panas bahkan sudah terjadi sejak akhir Mei lalu. Cuaca panas ekstrem bisa mendekati atau bahkan melebihi 40°C. Fenomena ini diperkirakan akan terus berulang hingga tahun 2030 . Sementara di Indonesia, cuaca panas dan kekeringan ekstrem akibat El Niño diperkirakan masih terus berlangsung hingga awal kuartal pertama tahun 2027 . Cuaca panas ekstrem bisa mengganggu kesehatan. Cuaca panas ekstrem tidak hanya meningkatkan berbagai risiko kesehatan , fenomena ini juga mengganggu rantai pasok obat ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Panas ekstrem bisa menurunkan produktivitas pekerja , menghambat distribusi barang , serta merusak bahan obat-obatan. Termasuk di antaranya bahan baku farmasi, vaksin, reagensia (zat pemicu reaksi kimia) laboratorium, serta produk kesehatan impor lainnya. Akibatnya, proses pemeriksaan kesehatan dan pengobatan medis di Tanah Air bisa terhambat. Panas ekstrem ganggu rantai pasok obat Produk kesehatan seperti obat dan vaksin memiliki karakteristik yang sangat dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan dan distribusi. Meski produk obat dan vaksin telah memenuhi standar, paparan suhu ekstrem selama distribusi dapat menurunkan kualitas, keamanan, maupun kemanjurannya sebelum sampai ke tangan konsumen. Sebagian besar produk kesehatan dirancang untuk disimpan pada rentang suhu tertentu. Vaksin, misalnya, bergantung pada sistem cold chain (manajemen rantai pasok berpendingin) agar tidak mudah rusak dan terjaga kemanjurannya. Cold chain terdiri dari lemari es dan freezer untuk menyimpan vaksin. Lalu, ada termos ( vaksin carrier ) untuk membawa vaksin ke tempat imunisasi. Vaksin sensitif beku (tidak boleh beku) disimpan pada suhu 2ºC-8ºC, adapun vaksin sensitif panas disimpan pada suhu -15ºC hingga -25ºC. Sementara vaksin polio harus disimpan di bawah suhu 0°C . Berbagai obat biologis (seperti insulin, antibodi monoklonal, dan sediaan berbasis protein) juga sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Paparan panas dapat mempercepat perubahan senyawa aktif dalam obat sehingga bisa mengurangi khasiatnya. Karena itu, adaptasi terhadap perubahan iklim tidak cukup hanya lewat penguatan sistem kesehatan dan ketahanan pangan. Pemerintah Indonesia juga perlu memperkuat regulatory science alias pendekatan ilmiah sebagai dasar pengambilan keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam menjamin mutu, keamanan, dan efektivitas produk obat-obatan. Salah satunya lewat New Approach Methodologies (NAMs) alias metode ilmiah modern untuk mengevaluasi obat tanpa harus mengandalkan hewan percobaan dan manusia. Ilmuwan bisa menggunakan NAMs untuk mengecek apakah obat yang terpapar panas ekstrem masih aman dikonsumsi atau justru membahayakan manusia. Baca juga: Olahraga di cuaca panas terasa lebih berat: Bagaimana cara aman melakukannya? Sistem pengawasan obat tangguh iklim Badan pengawas obat di sejumlah negara mulai membuka ruang bagi penggunaan metode NAMs sebagai pelengkap sistem pengawasan obat. Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) , misalnya, sedang mengembangkan kerangka untuk menilai dan menerima hasil pengecekan keamanan dan efektivitas obat lewat NAMs. Contohnya, lewat organ manusia tiruan buatan lab ( organ-on-chip ), pengujian sel di lab ( in vitro ) berbasis sel manusia, serta simulasi komputer ( in silico ). EMA mengakui bahwa NAMs punya potensi besar untuk menilai keamanan dan kemanjuran obat. Namun, sebelum menerapkan pendekatan tersebut, mereka masih butuh banyak bukti dan pengujian berulang untuk memvalidasi hasilnya. Contoh yang lebih konkret datang dari Amerika Serikat. Pada 2024 , Badan Pengawas Obat AS (FDA) menerima pengajuan pertama penggunaan teknologi Human Liver-Chip (hati tiruan manusia). Liver-Chip digunakan untuk memprediksi apakah sebuah obat berisiko merusak organ hati manusia sebelum obat tersebut diujikan ke manusia sungguhan. Sebuah studi validasi terhadap 27 obat menunjukkan bahwa Liver-Chip mampu mengidentifikasi 12 dari 15 obat yang menyebabkan kerusakan hati (hepatotoksisitas) pada manusia. Sensitivitasnya (kemampuan menilai obat beracun) mencapai 80% hingga 87%. Adapun spesifisitasnya (kemampuan menilai obat yang aman) mencapai 100%. Hasil pengembangan obat NAMs akan membantu mendukung keputusan lembaga pengawas obat lebih relevan terhadap kondisi biologis manusia. Baca juga: Industri fosil biang penyebab Bumi makin panas, membebankan tanggung jawab pada individu sungguh tak adil Memperkuat sistem yang ada Indonesia bisa memperkuat regulatory science agar sistem pengawasan obat mampu beradaptasi dengan perubahan iklim dan semakin kompleksnya produk kesehatan inovatif. Salah satu peluangnya adalah memperkaya pendekatan yang sudah ada dengan bukti ilmiah yang semakin merepresentasikan kondisi lingkungan di masa depan. Misalnya, uji stabilitas yang telah dilakukan BPOM dapat terus dikembangkan untuk memahami bagaimana obat merespons temperature excursions alias paparan suhu ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Pemanfaatan model komputasi dan analisis berbasis data juga berpotensi bantu memprediksi perubahan mutu produk dan mengidentifikasi risiko sepanjang rantai pasok. Pendekatan ini dapat melengkapi pemantauan suhu, pengendalian cold chain , serta pengawasan mutu yang telah berjalan. Dalam jangka panjang, penguatan regulatory science perlu mempertimbangkan perspektif perubahan iklim secara lebih sistematis—mulai dari cara menjaga kestabilan produk, jalur distribusi, pengawasan setelah produk beredar ( post-market surveillance ), hingga kesiapan fasilitas laboratorium. Pentingnya regulasi berbasis sains Fenomena heatwave dan El Niño menunjukkan bahwa perubahan iklim berdampak sangat luas, termasuk memberikan tantangan bagi sistem kesehatan, perdagangan, dan pengawasan produk obat-obatan. Indonesia perlu membangun sistem pengawasan yang tangguh terhadap perubahan iklim . Sistem ini tidak hanya berfokus pada evaluasi sebelum produk beredar, melainkan juga memastikan mutu tetap terjaga sepanjang rantai pasok. Dengan sistem regulasi yang lebih adaptif, prediktif, dan berbasis sains, Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus melindungi masyarakat di tengah dunia yang semakin panas. Yustina Yustina adalah seorang MPhil/PhD Student di School of Cancer and Pharmaceutical Sciences, King's College London, sekaligus PNS di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Panas ekstrem bisa merusak obat dan vaksin: Indonesia butuh sistem pengawasan obat tangguh iklim
0
HT
Ha Thi Thanh Nguyen, PhD Fellow, Uppsala University; CGIAR· Warga
Kiriman

Hantavirus exposure among wildlife farmers in Vietnam: A warning for Southeast Asia

Wildlife farming is common in Vietnam, where people breed and trade wild animals for pets, food, and traditional medicine. By 2021 , the country had around 6,744 wildlife farms housing 1.8 million animals across 371 species. Although these farms support many families, they also bring people into close contact with wild animals. This creates opportunities for zoonotic diseases to spill over into humans. A recent outbreak highlights the potential danger. The Andes hantavirus, which spreads between people, infected 13 cruise ship passengers on the MV Hondius and killed three. Investigators believe it happened by inhaling contaminated dust while ashore in South America, where the virus is endemic, and later spread person-to-person on the ship. Our 2025 study found hantavirus exposure in people farming bats, bamboo rats, civets, and wild boars in Vietnam. The findings should serve as an early warning for other Southeast Asian countries, including Indonesia , where wildlife farming and markets are also common. How does hantavirus spread on farms? We tested 210 wildlife farmers in Lao Cai and Dong Nai provinces in Vietnam. Nearly 9% had anti-hantavirus immunoglobulin G (IgG) antibodies, showing they had been exposed before. Another 1.9% had active infections when we collected samples between August 2023 and March 2024, however no hantavirus outbreaks were reported during the study period. Farmers who only managed the farms faced the highest risk , even if they did not hunt, trade, slaughter, or eat the animals. Poor hygiene and a lack of protective equipment may explain this risk. Humans can become infected by inhaling tiny particles contaminated with infected rodents’ urine, droppings, or saliva. We still do not know which virus is involved Our study cannot yet tell us exactly where the infections came from. The farmers may have been exposed to infected wild rodents outside the farms. We also do not know which variant of hantavirus infected them. Baca juga: Hantavirus is very different to COVID. Here’s why the ‘Andes virus’ won’t cause the next pandemic Our study used antibody tests (ELISA) , which can show previous exposure but cannot identify the specific virus. Tests of samples from farmers and animals also found no viral genetic material. Identifying the virus and its host will require genetic testing, including ( RT-PCR and sequencing ). Given Vietnam’s high biodiversity, an undetected hantavirus variant could potentially be circulating. Preventing the next spillover Preventing the virus from jumping to humans is much better than reacting to an outbreak. Farmers need practical safety measures, including consistent use of protective equipment when handling animals or cleaning cages. This requires cooperation between different doctors, veterinarians, wildlife experts, and farmers otherwise known as One Health approach - to develop safety measures that are both effective and practical. Vietnam already has laws governing wildlife farming, but enforcement remains weak. Animal health monitoring is limited, and coordination between government agencies has room for improvement. Baca juga: The hantavirus outbreak is the warning the world needs to improve pandemic preparedness Better surveillance could help detect emerging diseases earlier and reduce the risk of future outbreaks. This is important not only for Vietnam but also for other countries where people live and work closely with wildlife, including Indonesia. Governments should also use social media and other accessible channels to inform farmers and the public about the risks of zoonotic diseases. Clear, practical information can help people understand the risks and follow safer farming practices. Preventing disease spillover requires action before an outbreak occurs. As people, animals, and economies become increasingly connected, strengthening surveillance and safety measures is essential to protecting both local communities and global health. Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Hantavirus exposure among wildlife farmers in Vietnam: A warning for Southeast Asia
0
RW
Restuning Widiasih, Professor di bidang Keperawatan Maternitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Padjadjaran, Universitas Padjadjaran· Warga
Kiriman

Bisakah kita memantau kondisi kehamilan dan janin dari rumah?

● Pemeriksaan kehamilan rutin sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi yang membahayakan ibu dan janin. ● Keterbatasan jarak, akses, dan bidan membuat banyak ibu hamil di daerah terluar sulit melakukannya. ● DetectMe berpotensi membantu ibu hamil memantau kondisi kehamilan dari rumah tanpa mengurangi peran bidan. Bayangkan, kamu sedang memasuki trimester ketiga kehamilan dan sering mengalami pusing akibat tekanan darah tinggi. Namun, kamu terpaksa menahan dan mengabaikan gejala ini karena jauhnya akses menuju puskesmas. Padahal, tanpa pemeriksaan rutin dan penanganan lanjutan, ibu hamil berisiko mengalami masalah kesehatan yang bisa mengancam keselamatan diri dan janinnya , seperti gejala pre-eklamsia alias komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah tinggi dan protein dalam urine tersebut. Inilah momok yang dihadapi banyak ibu hamil di Indonesia, terutama di daerah terluar seperti Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua . Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatatkan sekitar 317 kematian ibu melahirkan dari 100 ribu kelahiran hidup di ketiga wilayah tersebut. Jumlah kematian ibu hamil terbanyak di Tanah Air ini hampir tiga kali lipat dibandingkan kawasan Jawa-Bali dengan 114 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup. Keterbatasan jarak dan akses membuat banyak ibu hamil di daerah terluar kesulitan melakukan pemeriksaan rutin. Di sisi lain, kondisi puluhan hingga ratusan ibu hamil tidak terpantau secara intensif karena keterbatasan waktu, fasilitas, dan beban kerja berlebih yang dihadapi para bidan desa. Bisakah teknologi bantu pantau kehamilan dari rumah? Untuk menurunkan angka kematian ibu, pemerintah Indonesia sejak 2023 sebenarnya telah menggalakkan pemeriksaan kehamilan gratis minimal sebanyak enam kali di puskesmas lewat BPJS Kesehatan. Namun, program tersebut belum maksimal mengatasi persoalan keterbatasan akses fasilitas kesehatan yang dihadapi ibu hamil di daerah terluar. Kesenjangan ini memunculkan pertanyaan: bisakah teknologi membantu ibu hamil memantau kondisi kehamilan dari rumah tanpa mengurangi peran tenaga kesehatan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian gabungan kami tahun 2024-2026 (belum dipublikasikan) mengembangkan dan menguji sistem pemantauan dan pemeriksaan mandiri kesehatan ibu dan janin yang dinamakan DetectMe. DetectMe terdiri atas perangkat, aplikasi, dan website . Perangkat DetectMe berbasis teknologi IoT ( internet of things ) sehingga bisa dihubungkan ke jaringan internet untuk bertukar data dan diperiksa dari jarak jauh. Perangkat ini bekerja serupa elektrokardiogram (EKG) dengan menangkap gelombang (aktivitas kelistrikan) jantung ibu dan janin lewat elektroda alias sensor penangkap gelombang jantung yang ditempelkan ke perut ibu. Tujuannya untuk mengetahui tanda-tanda masalah kesehatan dari kecepatan detak jantung ibu dan janin. Baca juga: Hasil timbangan anak bebani para ibu: Cap negatif dari tenaga posyandu hambat kasus ‘wasting’ dan ‘stunting’ Detak jantung tidak normal pada ibu bisa menandakan kemungkinan masalah kesehatan, seperti anemia, kekurangan cairan, infeksi, tekanan darah rendah, dan gangguan kesehatan lain. Pada bayi, kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa janin kekurangan oksigen , mengalami sindrom gawat napas, atau terlilit tali pusar. Sinyal detak jantung ibu dan janin kemudian diproses dan dipisahkan ke dalam perangkat DetectMe, lalu dikirimkan via bluetooth ke aplikasi di smartphone . Ibu hamil bisa melakukan pemeriksaan kehamilan menggunakan perangkat DetectMe selama 10 menit di rumah. Hasil pemeriksaan ibu dan janin kemudian bisa diperiksa secara real-time oleh bidan di desa maupun puskesmas lewat website DetectMe. Melengkapi peran bidan Kami mencoba menerapkan sistem DetectMe dengan melibatkan 90 ibu hamil trimester ketiga sebagai pengguna utama, 36 bidan desa, serta sembilan bidan koordinator dari sembilan puskesmas di Kabupaten Garut, Jawa Barat; Kota Ambon, Maluku; dan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Bidan berperan sebagai pendamping dan penanggung jawab ibu hamil di wilayah kerja masing-masing. Pendekatan ini dipilih agar inovasi kesehatan tidak hanya bergantung pada alat yang dikembangkan, tetapi juga terintegrasi ke dalam layanan kesehatan primer dan berkelanjutan. Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan menggunakan DetectMe di rumah sebanyak 12 kali. Hasil pemantauan menjadi informasi tambahan bagi bidan untuk mengevaluasi kondisi ibu dan janin di antara jadwal pemeriksaan kehamilan rutin. Dengan demikian, DetectMe tidak menggantikan pemeriksaan kehamilan, tetapi melengkapi proses pemantauan janin yang selama ini hanya enam kali selama kurang lebih sembilan bulan kehamilan. Pemantauan intensif meningkatkan pengambilan keputusan dan penanganan cepat, khususnya bagi ibu hamil dan janin dengan masalah kesehatan. Memberdayakan ibu hamil dan keluarga Setelah menggunakan alat DetectMe di rumah selama 1,5 bulan, sebagian besar peserta menilai bahwa perangkat ini mudah digunakan (76,2%). Mereka mengaku mau menggunakannya kembali jika hamil di masa mendatang. Hampir seluruh ibu hamil merasa lebih tenang dan aman karena dapat mengetahui kondisi janin secara lebih rutin, tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan. Contohnya Maria (bukan nama sebenarnya), ibu hamil dari Kabupaten Kupang ini berinisiatif melakukan pemeriksaan menggunakan DetectMe ketika merasakan janinnya tidak aktif. Melihat hasil pemantauan tak seperti biasanya, Maria kemudian melaporkan ke bidan dan melakukan pemeriksaan di puskesmas. Baca juga: Angka kematian ibu dan bayi di Papua tertinggi se-Indonesia: bagaimana cara mengatasinya? Dari hasil pemeriksaan, bidan memutuskan untuk merujuk Maria ke dokter spesialis kandungan ( obgyn ). Sehari berselang, persalinan dilakukan lewat operasi sesar dan janin terselamatkan. Penelitian kami menunjukkan bahwa sistem DetectMe tidak hanya memberdayakan ibu hamil, tetapi juga keluarganya. Mereka tidak hanya menjadi penerima layanan kesehatan, tetapi juga berperan aktif dalam proses pemantauan kesehatan bersama tenaga kesehatan. Contohnya, suami ataupun anak paling besar bergantian membantu memasang perangkat DetectMe ke perut ibu dan melihat hasilnya. Tingkatkan efektivitas kerja bidan Bidan di tiga wilayah penelitian menyampaikan tentang besarnya manfaat DetectMe dalam membantu tugas bidan, khususnya pemantauan kehamilan yang biasanya dilakukan lewat kunjungan rumah ( homevisit ). Fransiska (bukan nama sebenarnya), bidan dari Puskesmas Tarus di Kabupaten Kupang, mengatakan bahwa perangkat DetectMe sangat membantu pekerjaannya sebagai nakes di desa. “Terutama untuk ibu-ibu dengan risiko. Kita tidak harus kontak mereka untuk datang ke sini, karena dapat kita ketahui keadaan mereka,” ujarnya. Berbekal data hasil pemantauan dari rumah, bidan memperoleh gambaran perkembangan kondisi ibu dan janin secara lebih berkelanjutan. Informasi tersebut membantu mereka menentukan apakah kondisi kehamilan masih dalam batas normal atau memerlukan tindakan segera. Apabila ditemukan indikasi yang memerlukan perhatian, bidan dapat segera menghubungi ibu hamil dan melakukan pemeriksaan lanjutan. Apabila diperlukan, mereka akan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Pendekatan ini berpotensi mengubah pola pelayanan dari yang semula bersifat kuratif (menyembuhkan penyakit) menjadi promotif dan preventif (mencegah penyakit) sesuai visi pemerintah dalam memperbaiki sistem kesehatan nasional . Butuh kerja sama semua pihak Penggunaan teknologi pemantauan kehamilan dan janin DetectMe sangat potensial, terutama bagi ibu yang hidup di wilayah dengan hambatan geografis, keterbatasan tenaga kesehatan, akses transportasi, maupun waktu. Namun, sistem ini perlu dikembangkan lebih lanjut. Misalnya, dengan mengembangkan desain produk yang lebih mudah digunakan, seperti penyimpanan data sementara dalam keadaan offline . Selain itu, perlu ada kerja sama lintas sektor untuk meningkatkan konektivitas jaringan internet di daerah terluar, maupun integrasi dengan sistem kesehatan nasional. Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama KONEKSI dan The Conversation Indonesia. Restuning Widiasih dari Universitas Padjadjaran menerima dana penelitian dari Hibah Koneksi: Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia, skema Digital Transformation in Health, Energy, and Food Security tahun 2024-2026. Judul Project: Ultralight: An Innovative Solution to Optimize Digital Technology and the Health System Strengthening in Accelerating the Reduction of Fetal-Maternal Mortality: Indonesia-Australia Study . Melibatkan Tim peneliti dari 6 Universitas yaitu Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Telkom University, University of Newcastle Australia, Poltekkes Kemenkes Kupang, dan Poltekes Kemenkes Maluku. 1 Rumah Sakit yaitu RSHS, dan 1 Industri alat Kesehatan yaitu PT Xirka Dama Persada Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Bisakah kita memantau kondisi kehamilan dan janin dari rumah?
0
CE
Colleen E. Reid, Associate Professor of Geography, University of Colorado Boulder· Warga
Kiriman

Bagaimana cara melindungi diri kita dari asap karhutla yang membahayakan kesehatan?

Kabut asap karhutla menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia pada Agustus 2026, menyebabkan kualitas udara memburuk. Steve Russell/Toronto Star via Getty Images Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan campuran kompleks yang mengandung nitrogen oksida, senyawa organik yang mudah menguap, hidrokarbon aromatik polisiklik, karbon monoksida, karbon dioksida, dan partikulat. Ketika rumah atau bangunan ikut terbakar akibat karhutla, asap kebakarannya melepaskan campuran bahan kimia yang lebih beracun. Sebab, bahan elektronik, perabotan, plastik, cat, dan berbagai material lain ikut terbakar. Kepulan asap yang menghalangi penglihatan sebenarnya merupakan partikel-partikel kecil yang terlalu ringan untuk langsung jatuh ke tanah. Partikel ini oleh para ilmuwan disebut sebagai partikulat . Ukurannya sangat kecil dan diukur dalam satuan mikron. Ketika terhirup, partikulat dapat membahayakan kesehatan kita . Semakin kecil ukurannya, semakin jauh partikel tersebut dapat masuk ke paru-paru dan bagian tubuh lainnya. Kamu mungkin pernah mendengar istilah PM2,5 . Istilah ini merujuk pada partikel berukuran 2,5 mikron atau lebih kecil. Ukurannya berkali lipat lebih kecil dari diameter sehelai rambut manusia. Konsentrasi tinggi partikel-partikel tersebut selama karhutla bisa memicu peringatan kualitas udara . Apakah asap karhutla belakangan semakin banyak? Ya. Dalam beberapa dekade terakhir, karhutla semakin sering terjadi dan kian parah sehingga asapnya pun ikut bertambah. Para ilmuwan menemukan sejumlah faktor yang meningkatkan frekuensi karhutla, termasuk peningkatan cuaca ( panas, kering, dan berangin ) akibat perubahan iklim yang mempercepat penyebaran api. Selain faktor alam, aktivitas manusia seperti pembabatan hutan juga berperan. Baca juga: Karhutla Kalimantan adalah drama berulang akibat kegagalan kita melindungi tanah Penyebab meningkatnya karhutla bervariasi di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, karhutla yang semakin sering terjadi salah satunya disebabkan oleh perpaduan kekeringan dengan lanskap yang rentan akibat maraknya alih fungsi lahan menjadi kebun. Hingga Agustus 2026, karhutla telah melanda berbagai daerah di Kalimantan , Sumatera , dan Jawa . Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla nasional periode Januari-Juli 2026 mencapai 202 ribu hektare , jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama dalam dua siklus El Niño sebelumnya pada 2019 dan 2023. Bagaimana asap karhutla bisa mengancam kesehatan? Menghirup asap karhutla bisa menimbulkan sejumlah masalah kesehatan, seperti sesak napas, batuk, mata gatal atau berair, sakit kepala, ruam, dan kulit terasa gatal. Dampaknya bisa semakin serius. Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan selama karhutla, jumlah orang yang dirawat di rumah sakit dan unit gawat darurat akibat asma dan penyakit pernapasan lainnya meningkat. Setelah kita menghirup asap karhutla, partikel-partikel tersebut memicu peradangan dan stres oksidatif . Partikel juga dapat masuk ke aliran darah, menyebar ke seluruh tubuh, dan memengaruhi organ lainnya. Menghirup asap karhutla juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan masalah kehamilan lainnya . Dampaknya juga dikaitkan dengan masalah kardiovaskular , seperti serangan jantung dan strok, meskipun buktinya masih beragam. Dampak jangka panjang dari asap karhutla terhadap kesehatan masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi topik ini semakin banyak diteliti. Bagaimana cara memantau risiko asap karhutla di tempat tinggal kita? Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk melindungi diri dari asap karhutla adalah mengetahui seberapa parah kondisinya dan seberapa lama asapnya akan bertahan. Sebaran karhutla terkini bisa dipantau melalui SiPongi . Ini adalah sistem milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang memetakan titik panas hasil deteksi satelit hingga tingkat desa. Untuk mengetahui kualitas udara di sekitar kita, cek Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) KLHK yang menampilkan tingkat kualitas udara dari Baik hingga Berbahaya. Kita juga bisa mengetahui perkiraan kualitas udara berdasarkan PM2,5 beserta perkiraan sebaran partikulat karhutla untuk tiga hari ke depan lewat laman informasi kualitas udara BMKG . Bagaimana melindungi diri dan keluarga dari asap karhutla? Langkah yang direkomendasikan bergantung pada tingkat kualitas udara di wilayah kita. Ketika asap karhutla sudah mencapai level yang tidak sehat, usahakan tetap berada di dalam ruangan dan tutup pintu serta jendela agar asap tidak masuk. Jika mempunyai alat pembersih udara, gunakanlah. Pastikan penyaringnya dibersihkan secara berkala karena bisa cepat kotor dan tersumbat. Periksa juga penyaring AC dan sistem ventilasi rumah dan ganti bila perlu. Jika harus keluar rumah, sebaiknya gunakan masker N95, KN95, atau KF94 yang pas dan rapat di wajah. Jenis masker ini efektif menyaring partikel berbahaya dalam udara agar tidak terhirup. Sebaliknya, masker yang lebih longgar seperti masker bedah sebagian besar hanya dirancang untuk melindungi orang lain dari embusan napas kita. Masker tersebut tidak menempel rapat pada wajah sehingga memberi celah bagi udara kotor berisi partikel berbahaya memasuki pernapasan kita. Baca juga: ISPA merebak karena Influenza A: Kondisi udara yang buruk akibat asap memperparah penularan Pastikan masker terpasang rapat. Tujuannya agar saat bernapas, udara melewati serat masker yang akan menangkap partikel asap, alih-alih membiarkannya masuk ke dalam tubuh dan membahayakan kesehatan. Jika rumahmu memiliki banyak celah udara sehingga asap bisa masuk ke dalam ruangan, pertimbangkan untuk pergi ke ruang publik seperti perpustakaan atau pusat perbelanjaan yang memiliki sistem AC dan ventilasi yang baik. Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris. Colleen E. Reid menerima dana dari U.S. EPA, NIH, NSF, Robert Wood Johnson Foundation, JPB Foundation, Joint Fire Science Program, dan CDC. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Bagaimana cara melindungi diri kita dari asap karhutla yang membahayakan kesehatan?
0
HB
Hunter Bennett, Lecturer in Exercise Science, Adelaide University· Warga
Kiriman

Benarkah kita harus berjalan kaki 10 ribu langkah per hari agar sehat?

Canva, Ono Kosuki/Pexels, Billion Photos/Canva, Josh Blake/Canva, The Conversation Kamu mungkin pernah mendengar istilah bahwa kunci menjaga kesehatan dan berumur panjang adalah dengan berjalan kaki 10 ribu langkah per hari. Angka ajaib ini seolah-olah seperti aturan medis yang diwariskan para dokter di seluruh dunia. Namun, dari mana asalnya? Dan apakah hal tersebut benar? Menengok Jepang pada tahun 1964 Percaya atau tidak, rekomendasi jalan kaki 10 ribu langkah per hari yang terkenal itu bukan berasal dari sebuah penelitian, melainkan trik pemasaran alat pengukur langkah di Jepang . Namanya manpo-kei , yang diterjemahkan sebagai “alat pengukur 10 ribu langkah”. Perangkat ini dipasarkan tepat setelah Olimpiade Tokyo 1964. Saat itu muncul kekhawatiran bahwa masyarakat Jepang kurang cukup bergerak. Angka 10 ribu dipilih terutama karena menarik dan mudah diingat. Kemungkinan lainnya karena bentuk karakter kanji Jepang untuk 10 ribu (万) sedikit mirip dengan orang yang sedang berjalan . Jadi, rekomendasi berjalan kaki 10 ribu langkah per hari sama sekali tidak punya dasar ilmiah. Bagaimana menurut penelitian? Berjalan kaki 10 ribu langkah per hari bisa jadi memberikan dampak positif bagi kesehatan kita. Namun, penelitian mengungkapkan bahwa kita sebenarnya bisa mendapatkan manfaat kesehatan dengan jumlah langkah yang lebih sedikit. Sebuah tinjauan sistematis tahun 2025 , dari 57 studi dengan lebih dari 160 ribu orang dewasa, menemukan bahwa jumlah langkah yang memberikan manfaat kesehatan maksimal adalah 7 ribu langkah per hari. Manfaatnya dikaitkan dengan penurunan risiko kematian dini sebesar 47%, risiko penyakit kardiovaskular (seperti penyakit jantung dan strok) turun sebesar 25%, dan risiko diabetes tipe 2 turun sebesar 14%. Selain itu, manfaat kesehatannya dikaitkan pula dengan penurunan risiko demensia sebesar 38%, risiko depresi turun sebesar 22%, dan penurunan risiko jatuh sebesar 28%. Baca juga: Jalan kaki 7.000-9.000 langkah sehari sangat dianjurkan, tapi setiap orang harus tetapkan tujuan mereka sendiri Para peneliti menemukan bahwa peningkatan jumlah langkah dari sekitar 2 ribu menjadi 4 ribu langkah per hari memberikan perbedaan nyata. Manfaat kesehatan ini kemudian meningkat dari 4 ribu menjadi 7 ribu langkah per hari. Lebih dari itu, manfaatnya mulai mencapai titik jenuh dan tidak lagi signifikan. Temuan ini sangat sejalan dengan penelitian lain yang menemukan bahwa perubahan gaya hidup dari tidak aktif menjadi aktif berintensitas sedang dalam semua jenis aktivitas fisik menghasilkan peningkatan kesehatan terbesar. Adapun peralihan dari tingkat aktivitas sedang ke tinggi memang memberikan manfaat tambahan, tetapi manfaat tersebut jauh lebih kecil. Mengapa berjalan kaki baik untuk kesehatan? Berjalan kaki merupakan salah satu bentuk olahraga aerobik . Aktivitas ini meningkatkan detak jantung, serta melatih sistem pernapasan, otot, dan kardiovaskular. Jika kita melakukannya secara teratur, dampaknya bisa meningkatkan kesehatan jantung dan metabolisme , serta mengurangi berat badan kita . Berjalan kaki rutin juga dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental . Sebab, kebiasaan olahraga teratur bisa membuat kita merasa lebih berdaya dan percaya diri . Jalan cepat bisa jadi pilihan Selain jumlah langkah, aspek lain yang bisa kita pertimbangkan adalah kecepatan berjalan kaki. Kebanyakan orang memilih berjalan cepat sehingga menempatkan aktivitas ini ke dalam kategori olahraga intensitas sedang . Manfaat kesehatan olahraga memang akan meningkat seiring dengan bertambahnya intensitas. Kita pun mendapatkan hasil yang lebih maksimal dari olahraga yang lebih intens. Baca juga: Tujuh alasan jalan Nordik lebih baik dibandingkan olahraga jalan kaki yang lain Ketika kita meningkatkan kecepatan, intensitas berjalan akan menjadi lebih berat. Ini ditandai dengan sulit untuk mempertahankan percakapan sambil jalan. Cara ini bisa membuat kita mendapatkan manfaat kesehatan yang lebih besar dalam waktu lebih singkat. Menurut pedoman olahraga resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) , 75 menit olahraga berat setara dengan sekitar 150 menit aktivitas sedang. Karena itu, daripada berfokus pada jumlah langkah, baiknya kita fokus pada jumlah menit yang dikumpulkan setiap pekan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa olahraga intensitas tinggi dalam waktu singkat secara teratur sepanjang hari dapat memberikan manfaat kesehatan yang mengejutkan . Jadi, jika kita terlalu sibuk, berjalan lebih cepat merupakan salah satu cara paling sederhana dan hemat waktu untuk mendapatkan manfaat kesehatan yang lebih baik. Menjaga kesehatan tidak cukup dengan berjalan kaki Berjalan kaki memang sangat bagus untuk melatih kebugaran aerobik jantung, paru-paru, dan pernapasan. Namun, aktivitas ini tidak benar-benar melatih kebugaran anaerobik dalam membangun kekuatan dan massa otot, serta daya tahan tubuh kita. Memiliki kebugaran anaerobik yang lebih tinggi bisa memberikan kualitas hidup yang lebih baik dan risiko kematian lebih rendah seiring bertambahnya usia. Inilah mengapa sebagian besar otoritas kesehatan merekomendasikan latihan penguatan otot (seperti angkat beban) setidaknya dua kali seminggu. Manfaatnya bisa membantu mengurangi risiko diabetes tipe 2 , menghindarkan kita dari risiko jatuh , serta membuat fisik lebih kuat dan mandiri lebih lama seiring bertambahnya usia. Berjalan 7 ribu langkah setiap hari, ditambah dengan latihan beban dua kali seminggu bisa memenuhi sebagian besar kebutuhan kesehatan kita. Hunter Bennett tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Benarkah kita harus berjalan kaki 10 ribu langkah per hari agar sehat?
0
RT
Ronald Tundang, Research fellow, United Nations University· Warga
Kiriman

MK perketat praktik monopoli paten obat: Apakah harga obat di Indonesia otomatis lebih murah?

● ‘Patent evergreening’ merupakan praktik memperpanjang monopoli obat lewat modifikasi minor obat lama. ● Mahkamah Konstitusi menghidupkan kembali regulasi yang membatasi klaim paten tersebut. ● Putusan ini tidak otomatis menurunkan harga obat ataupun menciptakan kewajiban alih teknologi. Hak paten obat umumnya bisa mencapai minimal 20 tahun . Setelah masanya habis, perusahaan lokal boleh memproduksi versi generik yang dijual dengan harga berkali lipat lebih murah. Namun, beberapa perusahaan farmasi raksasa berupaya terus memonopoli harga obat paten lewat praktik patent evergreening . Mereka mengajukan paten sekunder lewat modifikasi minor obat lama. Formulasi baru obat memang layak dilindungi apabila membawa manfaat klinis nyata. Masalahnya, banyak modifikasi obat yang diajukan tidak meningkatkan khasiat signifikan dalam menyembuhkan pasien. Misalnya, perusahaan mengubah wujud obat dari bubuk menjadi kristal, mengganti dosis harian, mengombinasikannya dengan obat lain, hingga menjual obat yang sama untuk penyakit berbeda. Patent evergreening sering menyasar obat-obatan penyakit kronis, seperti kanker, diabetes, hingga HIV. Dampak praktik culas ini bisa membuat harga obat terus-menerus mahal, sehingga mempertaruhkan akses pasien terhadap pengobatan yang menyelamatkan nyawa . Per 28 Agustus 2026, putusan terbaru Mahkamah Konstitusi (MK) mengembalikan aturan soal standar pengembangan obat lama yang tidak boleh dipatenkan di Indonesia. Akan tetapi, saya menilai putusan ini tidak otomatis bisa menurunkan harga obat ataupun menciptakan kewajiban alih teknologi dari perusahaan farmasi pemegang paten ke industri nasional. Banyak perusahaan farmasi nakal Dalam pengembangan sebuah obat, ekonom Mariana Mazzucato dan Henry Li mencatat bahwa industri biofarmasi cenderung lebih suka bermain aman dengan memoles obat lama lewat praktik evergreening dan obat tiruan ( me-too ), alih-alih berinvestasi besar dalam inovasi obat penyakit baru guna menjawab kebutuhan kesehatan publik. Mereka merujuk data tahun 2000 – 2014 yang menunjukkan bahwa 51% dari 1.345 obat yang diklaim “baru” di Eropa merupakan modifikasi obat lama tanpa tambahan khasiat bagi pasien. Klaim lemah tersebut bisa digugat oleh masyarakat. Contoh terkenalnya adalah gugatan penyintas kanker India bersama organisasi pasien Cancer Patients Aid Association terhadap raksasa farmasi Swiss Novartis atas upaya mematenkan bentuk baru beta-kristalin imatinib mesylate selama 2006 - 2013. Beta-kristalin imatinib mesylate merupakan bahan aktif utama yang digunakan dalam obat kanker darah Gleevec/Glivec. Mahkamah Agung India menolaknya karena modifikasi yang diajukan tidak terbukti meningkatkan khasiat obat—meskipun putusan itu tidak melarang inovasi obat bertahap. Baca juga: Monopoli hak paten bikin harga obat sangat mahal dan Indonesia ketergantungan impor Seperti apa putusan MK? Pada 2024, pemerintah lewat UU Nomor 65 Tahun 2024 menghapus Pasal 4 huruf f UU Paten yang melarang perusahaan farmasi mematenkan ulang obat lama dengan klaim paten sekunder yang lemah: Pertama, penggunaan baru untuk produk yang sudah ada atau dikenal. Kedua, bentuk baru dari senyawa yang sudah ada yang tidak menghasilkan peningkatan khasiat bermakna serta memiliki perbedaan struktur kimia terkait yang sudah diketahui. Melalui Putusan Nomor 255/PUU-XXIII/2025 yang dibacakan akhir Agustus lalu, MK menyatakan penghapusan pasal tersebut bertentangan dengan konstitusi. MK kemudian memberlakukan kembali Pasal 4 huruf f beserta penjelasannya yang menegaskan bahwa tidak setiap formulasi dan penggunaan obat baru otomatis dapat dipatenkan. Kembalinya pasal ini membuat petugas pemeriksa paten negara punya dasar hukum yang kuat untuk langsung menolak pendaftaran paten sekunder yang lemah. MK sendiri menyadari bahwa instrumen hilir—seperti lisensi wajib, pelaksanaan paten oleh pemerintah, impor paralel, dan pengecualian Bolar—tidak cukup efektif untuk mencegah monopoli yang merugikan masyarkat. Untuk melindungi hak publik atas obat yang terjangkau, pencegahan harus dilakukan secara tegas sejak tahap pendaftaran. Pintu pengawasan publik ikut diperlebar Putusan ini turut memperlebar ruang pengawasan kepentingan publik. Kelompok advokasi dan pasien, lembaga konsumen, organisasi kesehatan, serta peneliti independen boleh menentang pemberian paten obat yang mengada-ngada. Contohnya, dalam perkara ini ada Koalisi Advokasi Hak Pasien untuk Akses Obat yang merupakan gabungan dari organisasi pasien, organisasi masyarakat sipil, dan individu yang memperjuangkan akses yang adil terhadap obat-obatan dan teknologi kesehatan di Indonesia. Baca juga: Bagaimana hak paten berpengaruh pada kesenjangan distribusi vaksin COVID-19 Harga obat tidak otomatis turun Sayangnya, putusan MK tidak otomatis membatalkan paten sekunder yang sudah terbit. Dampaknya bergantung pada pedoman pemeriksaan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, praktik Komisi Banding Paten, serta gugatan pembatalan pada kasus tertentu. Harga obat juga tidak serta-merta turun. Setelah hambatan paten hilang, produsen generik tetap membutuhkan bahan baku, pengetahuan proses, fasilitas berstandar, uji dan izin edar, jaringan distribusi, serta kepastian pembelian. Jika hanya satu atau dua pemasok mampu masuk, persaingan harga tetap lemah. Putusan ini pun tidak menciptakan kewajiban alih teknologi. Pemegang paten tidak otomatis harus membagikan formula, data, pengetahuan proses, atau pelatihan kepada produsen Indonesia. Karena itu, ada tiga agenda yang harus dikawal setelah putusan tersebut: 1. Wajibkan kembali produksi di Indonesia Pasal 20 UU Paten yang berlaku masih memberikan celah kepada pemegang paten untuk tidak memproduksi obat yang dipatenkan di Indonesia. Pemerintah dan DPR perlu meninjau kembali pelonggaran ini agar monopoli yang diberikan negara berkontribusi nyata terhadap alih teknologi, keterampilan, lapangan kerja, serta ketahanan pasokan obat domestik. 2. Atur penyalahgunaan paten dalam hukum persaingan Revisi UU Persaingan Usaha perlu memberi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) alat yang lebih jelas untuk menilai praktik penumpukan paten ( patent thicket ), penyelesaian sengketa yang menunda masuknya generik, atau lisensi yang secara tidak wajar menahan alih teknologi. 3. Wajibkan transparansi biaya riset dan dana publik Produsen yang menikmati pengadaan publik, insentif pajak, atau perlindungan monopoli perlu membuka komponen biaya riset pembuatan obat, dukungan publik, dan dasar penetapan harga secara proporsional. Informasi itu penting agar pemerintah dapat menilai harga pengadaan, merancang royalti yang wajar, dan membedakan biaya inovasi dari strategi mempertahankan selisih keuntungan. Kawal terus Putusan MK penting bagi akses obat masyarakat luas, persaingan, serta ruang inovasi lanjutan. Namun, satu pagar paten tidak dapat menggantikan kebijakan industri dan kesehatan secara utuh. Keberhasilan putusan harus diukur dari tiga hasil: generik dapat masuk lebih cepat, produsen Indonesia memperoleh ruang nyata untuk belajar dan memproduksi, serta pasien membayar harga yang lebih masuk akal. Untuk mencapainya, pemerintah perlu menghubungkan hukum paten dengan hukum persaingan, kebijakan pengadaan, transparansi biaya, dan strategi alih teknologi. Peran koalisi masyarakat sipil sangat penting untuk mengawal hal-hal ini. Ronald Tundang tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

MK perketat praktik monopoli paten obat: Apakah harga obat di Indonesia otomatis lebih murah?
0
CP
Cahyani Purnasari, Dosen Farmasi, Universitas Nusa Cendana· Warga
Kiriman

Bisakah kita mengganti gula dengan stevia untuk menurunkan berat badan?

● Stevia punya rasa manis 200 - 400 kali lebih kuat dibandingkan gula pasir biasa. ● Meski tidak menimbulkan efek samping, stevia murni tetap harus dikonsumsi dalam batas wajar. ● Untuk menurunkan berat badan, konsumsi stevia perlu diimbangi dengan manajemen diet lainnya. Beberapa tahun terakhir, kebiasaan mengonsumsi minuman manis telah menjadi gaya hidup bagi banyak kaum muda di Indonesia . Baik untuk menemani kebiasaan nongkrong di kafe , hingga booster andalan penjaga fokus saat bekerja. Seolah-olah tiada hari tanpa asupan gula. Di Jember, Jawa Timur, misalnya, sebanyak 97,75% dari 222 remaja responden penelitian tahun 2025 mengonsumsi lebih dari satu jenis minuman berpemanis dalam kemasan sebanyak 2 - 3 kali per pekan. Temuan ini selaras dengan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 soal kebiasaan 48% kaum muda berusia 15 - 34 tahun dalam mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali per pekan. Kebiasaan berisiko ini bisa membahayakan kesehatan, mulai dari memicu obesitas , diabetes , hingga gagal ginjal . Tak sedikit kaum muda kemudian beralih mengonsumsi pemanis nongula bernama stevia—yang memberikan rasa manis ratusan kali lipat daripada gula biasa , tetapi tidak mengandung kalori. Stevia dipasarkan dalam bentuk bubuk dan tetes. Karena keunggulannya, beberapa orang menggunakan stevia sebagai pengganti gula untuk menurunkan berat badan . Namun, apakah mengganti gula saja cukup? Apa itu stevia? Stevia merupakan pemanis alami yang diekstrak dari daun tanaman Stevia rebaudiana Bertoni. Selama berabad-abad, tanaman asal Amerika Selatan ini telah lama digunakan sebagai pemanis alami maupun bahan pengobatan tradisional oleh masyarakat Paraguai dan Brasil. Jepang kemudian menjadi negara pertama di luar Amerika Selatan yang memopulerkan stevia sebagai alternatif gula secara komersial. Pada 1977, pengusaha Jepang membawa tanaman ini masuk ke Indonesia untuk dibudidayakan di beberapa wilayah. Kini, budi daya stevia skala komersial bisa ditemukan di daerah Tawangmangu, Jawa Tengah, dan Ciwidey, Jawa Barat. Baca juga: Ini alasan penerapan label peringatan & cukai makanan tinggi gula-garam tidak bisa ditunda Keunggulan tanaman stevia adalah ekstrak daunnya memberikan rasa 200 - 400 kali lebih kuat dibandingkan gula pasir biasa. Sebagai gambaran, tingkat kemanisan sesendok teh gula penuh (ukuran 4 - 8 gram) setara dengan ¼ sendok teh bubuk daun stevia atau setetes stevia cair (1 - 2 mg). Rasa manis super ini berasal dari kandungan senyawa glikosida steviol di dalamnya. Dalam pencernaan kita, glikosida steviol juga langsung diserap oleh bakteri-bakteri di usus besar sehingga tidak menyumbang kalori —tidak pula menaikkan kadar gula darah dalam tubuh kita. Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa glikosida steviol bisa berperan sebagai antioksidan , antiradang, dan antikanker yang potensial . Karena sifatnya yang alami, banyak orang menggunakan stevia sebagai alternatif gula yang dinilai lebih aman dikonsumsi daripada pemanis buatan , seperti aspartam, sakarin, sukralosa, dan neotam. Konsumsi berlebihan pemanis buatan dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik alias kumpulan masalah kesehatan yang terjadi bersamaan. Dampaknya bisa meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, strok, hingga diabetes tipe 2. Apakah stevia aman dikonsumsi? Sejak 2007, Komite Ahli Gabungan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan ekstrak stevia yang aman dikonsumsi mengandung glikosida steviol sebanyak 95% . Pada 2008, glikosida steviol sangat murni ini telah mendapatkan status GRAS ( generally recognized as safe ) alias aman dikonsumsi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) . Baca juga: Logika keliru penundaan cukai minuman manis: Cegah penyakit tak bisa tunggu ekonomi tumbuh Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggolongkan glikosida steviol sebagai pemanis alami yang aman dikonsumsi masyarakat, termasuk orang dengan diabetes. Meski begitu, karena respons tubuh dan metabolisme tiap orang bisa bervariasi, stevia sebaiknya tetap dikonsumsi dalam batas wajar. Acceptable daily intake (ADI) alias batas aman konsumsi harian untuk glikosida steviol adalah 4 mg per kg berat badan. Sebagai gambaran, batas aman konsumsi harian stevia untuk orang dewasa berbobot 60 kg adalah 240 mg per hari . Jika satu tetes stevia cair setara 1 - 2 mg, maka pemakaian 1 - 3 tetes per cangkir minuman per hari setara 6 mg. Artinya, konsumsi stevia tersebut masih aman dan jauh di bawah batas maksimal. Namun, harap dicatat bahwa aturan ini hanya berlaku untuk masyarakat umum dengan kondisi sehat . Kelompok sensitif dengan kondisi kesehatan khusus, seperti ibu hamil dan orang dengan gangguan pencernaan sebaiknya menghindari stevia. Meskipun sejauh ini belum ada bukti ilmiah yang akurat mengenai dampak negatif stevia . Pemanis alami ini tidak terbukti menimbulkan efek samping maupun reaksi alergi . Bisakah menurunkan berat badan pakai stevia? Selain aman digunakan sebagai pemanis alami bagi orang dengan diabetes, stevia murni juga aman dikonsumsi sebagai bagian dari program diet untuk mengontrol berat badan. Namun, karena stevia tidak menghasilkan kalori, kita sebaiknya tetap memenuhi kebutuhan energi dari sumber makanan berkarbohidrat dalam batas wajar. Misalnya, nasi merah, mi shirataki, ubi jalar, singkong, dan talas. Hal lain yang harus diperhatikan dalam mengontrol berat badan menggunakan stevia adalah mengurangi konsumsi makanan manis secara perlahan. Tujuannya, agar ketergantungan terhadap makanan dan minuman manis benar-benar berkurang. Dengan begitu, kita bisa menghindari risiko efek halo yang justru bisa menyebabkan berat badan meningkat akibat mengonsumsi sumber makanan manis dan berkalori yang lain secara berlebihan tanpa sadar. Untuk menurunkan berat badan , kurangilah konsumsi gula dengan mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang, serta jalani gaya hidup aktif dan berolahraga secara teratur. Tak lupa, kendalikan stres dan tidur yang cukup. Cahyani Purnasari pernah menerima dana dari Kemdiktisaintek melalui BIMA untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat terkait perbaikan gizi/stunting di NTT, yang dipublikasi dalam link berikut: https://jerkin.org/index.php/jerkin/article/view/3570 . Kegiatan tersebut tidak berkaitan sama sekali dengan isi artikel ini. Wiwin Lastyana tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Bisakah kita mengganti gula dengan stevia untuk menurunkan berat badan?
0
MS
Meliana Sari, Dosen Kesehatan Llingkungan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta· Warga
Kiriman

Anak rentan ancaman abu vulkanik: Jangan buru-buru sekolah tatap muka usai erupsi mereda

● Materi abu vulkanik bisa menyebabkan masalah pernapasan hingga kulit. ● Anak usia sekolah lebih rentan terkena masalah kesehatan akibat abu vulkanik. ● Kebijakan sekolah tatap muka seharusnya mempertimbangkan dampak lingkungan terhadap kesehatan anak. Imbas erupsi Gunung Anak Krakatau sepekan terakhir , sejumlah daerah menerapkan beragam kebijakan terkait kelanjutan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk sekolah. Provinsi Lampung dan Banten , misalnya, memperpanjang sekolah daring masing-masing hingga Kamis (10/9) dan Jumat (11/9). Sementara di Provinsi DKI Jakarta dan Kota Bogor, Jawa Barat , kegiatan sekolah tatap muka sudah diterapkan sejak Rabu (9/9). Kualitas udara yang dinilai mulai membaik jadi alasannya. Penyebaran abu vulkanik Anak Krakatau di Jawa dan Sumatra memang perlahan berkurang karena tertiup angin ke arah Barat Samudra Hindia . Kendati demikian, masyarakat masih bisa terpapar sisa abu di atmosfer , jalanan, ataupun atap yang terbawa oleh angin . Dalam kacamata kesehatan masyarakat, penilaian dampak lingkungan terhadap kesehatan ini seharusnya jadi pertimbangan utama sebelum memulai sekolah tatap muka pascaerupsi. Abu vulkanik mengancam anak Erupsi gunung api melepaskan abu dan material vulkanik yang mengandung silika berbentuk seperti pasir . Partikel kasar dan tajam ini sebagian besar berukuran mikroskopis (PM10 dan PM2,5). Selain itu, erupsi gunung api melepaskan gas beracun tak kasatmata dan berbau sangat menyengat bernama sulfur dioksida (SO2). Dampak paparan debu vulkanik dan gas SO2 terhadap kesehatan masing-masing orang bisa berbeda, tergantung jenis partikel, seberapa lama dan banyak kita terpapar, serta kondisi fisik kita. Dibandingkan orang dewasa, anak usia sekolah lebih rentan merasakan dampaknya . Sebab, sistem kekebalan dan organ mereka masih berkembang sehingga belum sekuat orang dewasa. Anak-anak mempunyai saluran napas lebih kecil, kecenderungan bernapas lebih cepat , serta bergerak lebih aktif. Sederet kondisi fisiologis tersebut juga membuat anak berisiko menghirup udara bercampur debu vulkanik ataupun gas SO2 lebih banyak dibandingkan kapasitas tubuhnya. Semakin kecil ukurannya, semakin besar risiko partikel memasuki sistem pernapasan anak. Partikel vulkanik lebih besar dan gas SO2 cenderung tertahan di saluran napas atas . Sementara itu, partikel vulkanik PM2,5 dan SO2 yang jumlahnya sangat banyak dapat terhirup masuk hingga mencapai saluran pernapasan bagian bawah dan alveoli (kantong udara kecil di paru-paru). Baca juga: Rentan terabaikan, anak perlu dukungan psikologis sejak dini dalam situasi bencana Apa dampaknya terhadap kesehatan? Dalam jangka pendek (akut) , efek debu vulkanik dan gas SO2 bisa mengiritasi saluran napas, menyebabkan batuk, meningkatkan produksi lendir, sesak napas, hingga kematian. Dampak jangka panjangnya bisa menghambat pertumbuhan anak, mengurangi fungsi paru saat dewasa, hingga memicu penyakit pernapasan menahun. Lebih dari itu, paparan debu vulkanik bisa mengganggu perkembangan kognitif anak yang berpotensi memengaruhi fokus, ingatan, serta kemampuan belajar mereka. Debu vulkanik yang tajam juga bisa mengiritasi mata anak , menyebabkan konjungtivitis (radang selaput bening pelapis bagian putih mata dan area dalam kelopak mata), hingga lecetnya kornea (lapisan transparan pelapis area berwarna bola mata). Pada kulit , dampaknya berisiko menimbulkan gatal, iritasi, hingga dermatitis (radang kulit). Terutama jika abu vulkanik bersifat asam ataupun bercampur keringat. Saluran pencernaan anak juga rentan terganggu apabila mereka mengonsumsi makanan dan minuman yang tercemar debu vulkanik. Pertimbangkan risiko kesehatan lingkungan Kewaspadaan terhadap bahaya materi vulkanik seharusnya tidak berhenti ketika erupsi mereda. Pemerintah daerah perlu menilai risiko kesehatan lingkungan sebelum memutuskan kebijakan sekolah tatap muka. Keputusan tidak semata-mata didasarkan pada adanya aktivitas erupsi, tetapi juga tingkat paparan, kondisi kualitas udara, karakteristik individu (siswa, guru dan karyawan), serta kemampuan sekolah dalam mengurangi risiko kesehatan. Mitigasi ini memerlukan koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pemadam Kebakaran & Penyelamatan (DPKP). Libatkan pula Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Pendidikan (Disdik), pihak sekolah, serta masyarakat luas. DLHK, misalnya, berperan memantau kualitas udara dan memberikan informasi publik terkait tingkat risiko cemaran lingkungan kepada masyarakat, terutama konsentrasi PM2,5 dan gas SO2 di udara. Kita juga bisa memantaunya lewat aplikasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan , ataupun platform pemantau kualitas udara seperti IQAir . Berdasarkan PP No. 22/2021, nilai acuan udara ambien (yang bisa ditoleransi) selama rata-rata 24 jam, yaitu PM2,5 sebesar 55 µg/m³, PM10 sebesar 75 µg/m³, dan SO2 sebesar 65 µg/m³. Sebagai pembanding, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan batas yang lebih ketat , yaitu PM2,5 15 µg/m³, PM10 45 µg/m³, dan SO2 40 µg/m³. Dalam kondisi erupsi, pemantauan real-time dengan interval lebih pendek diperlukan karena paparan abu dan gas vulkanik dapat meningkat secara cepat. Informasi ini dapat menjadi dasar komunikasi risiko dan pertimbangan pembatasan aktivitas, termasuk keputusan memulai pembelajaran tatap muka. Di Kota Bogor, Jawa Barat, misalnya, indeks pencemaran gas SO2 , menunjukkan angka 64 alias berstatus “Sedang” (rentang 51–100) pada Jumat (11/9). Udara di level ini secara umum masih bisa diterima. Namun, menilik batas ketat dari WHO, Pemkot Bogor idealnya tetap melanjutkan kebijakan sekolah daring agar tidak mengancam keselamatan anak. Di tengah kondisi ini, anak yang sangat sensitif atau punya penyakit pernapasan (seperti asma) dianjurkan membatasi aktivitas berat di luar ruangan. Mereka sangat dianjurkan untuk terus memakai masker N95/KN95 meski berada di dalam kelas. Sebab, debu dan gas vulkanik yang terbawa angin, masih bisa menyusup masuk lewat celah vetilasi dan sela-sela jendela. Baca juga: Setelah Anak Krakatau erupsi: Apa dampak terhadap pulau di sekitarnya? Aktivitas belajar mengajar sebaiknya difokuskan di dalam ruangan untuk meminimalkan paparan udara luar. Tutup jendela jika embusan angin dari luar terasa membawa bau belerang atau debu. Jika sewaktu-waktu cemaran SO2 melonjak melampaui 65 µg/m³ (masuk kategori “Tidak Sehat”), sekolah harus memiliki prosedur darurat, seperti menghentikan semua kegiatan luar ruangan total atau mempertimbangkan opsi pemulangan awal. Selain kualitas udara, status gunung api juga harus dipantau secara real-time melalui aplikasi ataupun situs web MAGMA Indonesia yang dikelola oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Pastikan lingkungan bersih dari sisa materi vulkanik Sebelum pembelajaran tatap muka dimulai kembali, pemda bersama pihak sekolah dan lembaga terkait idealnya memastikan pembersihan sisa abu vulkanik pada ruang kelas dan fasilitas sekolah, memeriksa kondisi ventilasi, serta kesiapan sanitasi lingkungan. BPBD dan DPKP, misalnya, bisa digandeng untuk menyemprotkan air ke jalanan berdebu dan area terbuka sekitar sekolah menggunakan water mist alias alat penyemprot air bertekanan tinggi. Pembasahan area terbuka ( surface wetting ) bertujuan untuk mengurangi risiko abu kembali beterbangan ( resuspension ). Sementara itu, Dinkes bisa terlibat dalam memantau dampak kesehatan, edukasi perlindungan, serta perhatian khusus terhadap kelompok rentan seperti anak dengan gangguan pernapasan. Disdik dan sekolah berperan dalam mengoordinasikan kesiapan pembelajaran, menerapkan protokol sekolah aman, serta memastikan komunikasi risiko berjalan efektif kepada siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar sekolah. Dengan demikian, mitigasi risiko tidak hanya bertujuan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat dan aman, melainkan juga membangun kesiapsiagaan bersama menghadapi risiko kesehatan akibat erupsi gunung api. Meliana Sari tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Anak rentan ancaman abu vulkanik: Jangan buru-buru sekolah tatap muka usai erupsi mereda
0
JK
Jamalludin, Kandidat Doktor Kependudukan, Universitas Gadjah Mada· Warga
Kiriman

Survei: Banyak pensiunan ingin terus bekerja bukan karena alasan ekonomi

● Pemerintah memiliki aturan ajeg tentang usia pensiun pekerja, yakni 59 tahun per tahun 2026 ini. ● Survei di Sleman menyatakan mayoritas pensiunan ingin terus bekerja. ● Alasannya tidak melulu ekonomi, tapi lebih bersifat abstrak seperti sosial, spiritual, dan pengabdian sebagai senior. Tahun lalu, Korps Pegawai Republik Indonesia atau Korpri mengusulkan perpanjangan batas usia pensiun aparatur sipil negara melebihi aturan saat ini yang dipatok 59 tahun hingga 70 tahun dengan alasan meningkatnya usia harapan hidup. Di saat yang berdekatan, seorang guru mengajukan gugatan agar usia purnabakti guru disamakan dengan usia pensiun dosen, yang bisa diperpanjang hingga 70 tahun. Perdebatan ini seakan menandai bahwa pertanyaan tentang usia pensiun tidak lagi sekadar menyangkut berapa lama seseorang hidup, tetapi juga bagaimana seseorang ingin menjalani fase akhir kehidupan kerjanya. Topik ini sudah berlangsung terlebih dahulu di Eropa yang populasinya sudah didominasi oleh kawula tua atau aged population . Tak ayal, peningkatan batas usia pensiun menjadi salah satu strategi menjaga keberlanjutan sistem pensiun dan ketersediaan tenaga kerja. Namun, di balik perdebatan tersebut, ada satu suara yang sering luput didengar: apa sebenarnya yang diinginkan oleh para pensiunan Indonesia yang berjumlah lebih dari 34 juta jiwa ini? Untuk memahami bagaimana para pensiunan memandang usia pensiun, kami mewawancarai dan menyurvei 230 pensiunan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Baca juga: Masyarakat sulit gapai hidup nyaman di masa pensiun Tak selalu alasan ekonomi Dalam buku The Human Condition , sang pemikir Hannah Arendt, (1959) mengingatkan bahwa manusia rawan terjebak menjadi animal laborans (hewan pekerja). Kondisi ini adalah ketika manusia bekerja semata-mata untuk mempertahankan kehidupan biologis, bukan lagi sebagai aktivitas bermakna. Peringatan ini menjadi relevan ketika berbagai negara mulai menaikkan batas usia pensiun sebagai respons terhadap meningkatnya harapan hidup dan penuaan penduduk. Pertanyaannya, apakah bekerja lebih lama benar-benar memperpanjang kehidupan yang bermakna, atau justru memperpanjang rutinitas kerja yang tidak lagi diinginkan? Tak salah juga apabila banyak yang menduga bahwa faktor ekonomi menjadi alasan para senior untuk tetap bekerja. Tapi, riset kami menemukan fakta yang berbeda. Baca juga: Edaran menteri takkan jamin pekerja 30 tahun+ dapat kerja Studi kami menguji lima variabel utama : finansial ( financial ), personal, sosial, kepedulian ( generativity ), dan spiritual ( spiritual ). Para pensiunan yang disurvei tak hanya ditanyai motivasi pribadi berdasarkan lima variabel utama. Tapi kami juga membedahnya dengan beragam varibel penunjang lainnya seperti latar belakang keluarga, pendidikan, pendapatan ketika aktif, hingga faktor budaya Jawa sesuai tempat survei dilakukan. Hasilnya, signifikansi variabel finansial untuk jadi faktor pendorong seseorang untuk bekerja melewati batas usia pensiun (BUP) kalah dibandingkan dorongan variabel sosial, kepedulian, spiritual . Apa kata mereka? Lukas, seorang pensiunan guru mengatakan pensiun di usia 60 terasa begitu cepat. Kini, ia merasa matang menghadapi murid dan tidak lagi sibuk berkompetisi dengan rekan kerja yang bahkan justru termotivasi untuk membagikan pengalaman kepada guru-guru muda. Senada dengan Lukas, Rahmat yang merupakan pensiunan kepala dinas pemda setempat mengutarakan bahwa dirinya sampai saat ini masih terus bekerja melampau batas usia pensiun seorang eselon II yaitu 60 tahun. “Saya yakin masih bisa bermanfaat bagi sesama seperti berbagi pengalaman dan ilmu kepada yang lebih muda,” kata Rahmat, mantan kepala suatu dinas pemda setempat. Tentunya kami juga menemukan lansia purnatugas yang justru ingin pensiun dini. Lilis, misalnya. Ia adalah pensiunan staf administrasi rumah sakit yang mengajukan pensiun dini karena faktor kesehatan yang memburuk dan merasa tak berkemampuan lagi dalam menjawab tantangan pekerjaan. Berbeda dengan Lilis, alasan Rohim (guru) memilih pensiun lebih awal justru terkesan abstrak. Baginya, usia 60 tahunan adalah saatnya berfokus beribadah dan menggeser aktivitas ekonomi ke aktivitas sosial yang sifatnya informal tanpa aturan yang mengekang. Berkaca dari penuturan Lukas, Rahmat, Lilis, dan Rohim (bukan nama sebenarnya), masing-masing individu memiliki preferensi pensiun tersendiri. Kami menemukan pola bahwa alasan yang bersifat generatif (mewariskan pengalaman dan pengetahuan pada generasi muda), dan sosial cenderung membentuk preferensi pensiun lebih lama dari BUP. Baca juga: Mau tinggal di mana saat tua nanti? Saatnya mempersiapkan diri jadi lansia mandiri Riset kuantitatif kami pada awal 2025 menguatkan hal ini, bahwa tingkat keberlanjutan kerja pada mereka yang memaknai kerja secara sosial cenderung lebih tinggi. Sementara alasan yang mendorong lansia menginginkan pensiun lebih awal cenderung bersifat teknis pekerjaan. Secara teoritis , usia lanjut sering diikuti dengan perubahan orientasi hidup. Dan ketika sudah memasuki usia lanjut, lansia menaruh porsi yang kecil pada pencapaian materi dan mulai berfokus pada aspek spiritual, keluarga, dan sosial. Mereka butuh fleksibilitas batas usia pensiun Jika pengalaman menua seseorang berbeda satu sama lain, mengapa kebijakan batas usia pensiun dibuat sama? Beragamnya preferensi para pensiunan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memerlukan kebijakan pensiun yang fleksibel alih-laih berpatok pada batas usia yang kaku. Salah satu bentuknya adalah phased retirement (pensiun bertahap), yakni mengurangi tugas pegawai yang berusia lanjut agar berfokus pada pekerjaan yang sesuai dengan pengalamannya, misalnya tugas-tugas pendampingan. Guru senior, misalnya, dapat berperan lebih banyak menjadi mentor bagi guru muda daripada mengajar secara penuh yang memungkinkan lansia mengurangi beban kerjanya. Sementara bagi lansia yang masih ingin bekerja karena alasan keuangan maupun sosial, bridge employment dapat menjadi alternatif. Pekerja tidak langsung berhenti bekerja setelah pensiun, melainkan melanjutkan karier melalui pekerjaan paruh waktu, peran yang lebih ringan, atau pekerjaan baru di sektor yang berbeda. Pendekatan ini dapat mengurangi praktik diskriminasi usia kerja dengan membuka peluang kerja yang lebih inklusif bagi lansia. Di tengah masyarakat yang terus menua, tantangannya bukan sekadar memperpanjang masa kerja, melainkan memastikan bahwa mereka yang memilih tetap bekerja tidak terjebak menjadi animal laborans . Ini berarti memastikan bahwa mereka yang memilih pensiun tetap memiliki kesempatan menjalani hidup yang bermakna. Jamalludin Jamalludin menerima dana dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan RI. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Survei: Banyak pensiunan ingin terus bekerja bukan karena alasan ekonomi
0
JW
Jacques Wels, Principal Investigator, Unit for Lifelong Health & Ageing, UCL· Warga
Kiriman

Tekanan keuangan berkepanjangan membuat otak menyusut? Temuan dari studi 80 tahun

AnnaStills/Shutterstock.com Kekhawatiran soal uang memang bisa membuat kita sulit tidur. Namun, apakah tekanan finansial selama puluhan tahun juga dapat meninggalkan jejak jangka panjang pada otak? Itulah pertanyaan yang saya dan rekan-rekan saya ingin menjawab dalam penelitian terbaru kami–dan ternyata jawabannya, ternyata, iya. Sebagian besar penelitian tentang uang dan kesehatan otak hanya melihat kondisi finansial seseorang pada satu titik waktu tertentu. Akibatnya, sulit mengetahui apakah pengalaman kesulitan keuangan selama beberapa tahun memberikan dampak yang sama dengan tekanan finansial yang berlangsung selama puluhan tahun. Melalui riset yang terbit di jurnal Innovation in Aging , kami mengikuti orang-orang yang sama sepanjang masa dewasa mereka untuk mencari jawabannya. Kami menggunakan data dari MRC National Survey of Health and Development , yang juga dikenal sebagai studi kohort kelahiran Inggris tahun 1946. Studi kohort mengikuti sekelompok orang yang lahir pada periode yang sama sepanjang hidup mereka. Studi ini merupakan studi kohort terlama di dunia yang masih terus berjalan. Penelitian ini mengikuti ribuan orang yang lahir dalam satu minggu pada Maret 1946. Partisipannya pun merayakan ulang tahun ke-80 mereka tahun ini. Baca juga: 6 cara menjaga kesehatan otak di usia 20-30an: Rajin bersosialisasi bantu rawat ingatan Dengan memanfaatkan data tersebut, kami menganalisis kondisi keuangan 2.759 peserta pada beberapa tahap kehidupan dewasa mereka. Para partisipan melaporkan pendapatan rumah tangga mereka pada usia 26, 43, dan 53 tahun. Kami menggolongkan peserta yang berada di kelompok 20% pendapatan terendah pada setidaknya dua dari tiga kali pengukuran sebagai kelompok dengan memiliki rendah yang berkepanjangan–sekitar satu dari enam orang. Secara terpisah, kami juga mengukur kesulitan finansial dengan bertanya apakah peserta pernah kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dari pendapatannya atau mengalami kesulitan membayar tagihan, setidaknya dua kali antara usia 36 hingga 53 tahun. Kondisi ini dialami oleh sekitar satu dari delapan orang. Baca juga: Inilah langkah-langkah untuk mengurangi risiko demensia Ketika berusia 53 tahun, seluruh peserta menjalani tes memori verbal dan kecepatan berpikir. Sebagian peserta juga menjalani pemindaian otak pada usia antara 69 dan 71 tahun, sehingga kami dapat mengukur atrofi otak (penyusutan) dan perluasan ventrikel—yaitu melebarnya rongga-rongga berisi cairan di dalam otak, yang merupakan penanda yang diakui sebagai indikasi kesehatan otak yang buruk. Kami menemukan bahwa peserta yang mengalami kesulitan keuangan dan pendapatan rendah dalam jangka panjang memperoleh skor lebih rendah pada tes kognitif saat berusia 53 tahun. Hubungan ini tetap terlihat meskipun kami telah memperhitungkan kemampuan berpikir mereka pada masa kecil, tingkat pendidikan, dan kondisi kurang menguntungkan yang dialami semasa kanak-kanak. Di antara partisipan yang menjalani pemindaian otak, pendapatan rendah yang berkepanjangan juga berkaitan dengan penyusutan otak yang lebih besar pada usia lanjut. Orang yang mengalami kesulitan finansial berkepanjangan cenderung memperoleh hasil yang lebih buruk dalam tes fungsi kognitif. Microgen/Shutterstock.com Ketika kami mengamati perubahan kemampuan mengingat dari usia 53 hingga 69 tahun, peserta yang mengalami kesulitan keuangan berkepanjangan justru menunjukkan penurunan daya ingat yang lebih lambat. Mengapa? Kami menduga hal ini terjadi karena kemampuan mereka sudah lebih banyak menurun sebelum usia 53 tahun–mereka memulai dari titik yang lebih rendah, jadi sisa kemampuan yang bisa hilang pun lebih sedikit. Kami juga menemukan bahwa hubungan antara kesulitan finansial dan penyusutan otak lebih kuat pada laki-laki, orang-orang yang bertumbuh dalam keluarga kurang mampu, dan mereka yang membawa gen yang meningkatkan risiko penyakit Alzheimer. Baca juga: 10 faktor penyebab peningkatan risiko penyakit Alzheimer Bagi laki-laki dari generasi ini—yang lahir pada 1946 ketika laki-laki umumnya menjadi pencari nafkah utama keluarga—tekanannya kemungkinan membuat stres finansial terasa lebih berat. Laki-laki dari latar belakang kurang mampu juga memiliki tingkat merokok dan konsumsi alkohol yang lebih tinggi dibandingkan perempuan dari kelompok yang sama. Temuan terkait faktor genetik menunjukkan bahwa orang yang secara biologis lebih rentan mungkin lebih mudah terdampak oleh tekanan finansial. Namun, karena analisis ini berbasiskan jumlah peserta yang lebih sedikit, kami menganggapnya sebagai indikasi, bukan kesimpulan yang pasti. Mengapa kekhawatiran soal uang bisa memengaruhi otak? Bagaimana kesulitan keuangan dapat memengaruhi otak dalam jangka panjang? Stres kronis diketahui dapat meningkatkan peradangan dalam tubuh, yang pada akhirnya mempercepat penuaan otak . Selain itu, memikirkan masalah keuangan secara terus-menerus juga menguras energi sehingga kapasitas otak untuk melakukan tugas berpikir lainnya menjadi berkurang . Beban kognitif ini harus bersaing dengan berbagai fungsi lain yang juga sedang dijalankan oleh otak. Kami menyadari bahwa penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab akibat. Selain itu, karena seluruh peserta berasal dari satu generasi warga Inggris, hasilnya belum tentu dapat diterapkan langsung pada populasi atau negara lain. Namun, mengikuti orang-orang yang sama selama puluhan tahun memberikan gambaran yang jauh lebih jelas dibandingkan penelitian yang hanya melihat kondisi seseorang pada satu waktu. Kesulitan finansial semakin diakui sebagai salah satu dari beberapa faktor—bersama dengan hal-hal seperti gangguan pendengaran, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik—yang dapat memengaruhi risiko terjadinya penurunan fungsi kognitif pada masa tua. Temuan kami menunjukkan bahwa mengurangi kesulitan finansial yang berkepanjangan pada orang dewasa di usia kerja, di mana pun mereka tinggal, berpotensi membantu menjaga kesehatan otak sekaligus mengurangi jumlah kasus demensia di masa depan. Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris. Jacques Wels menerima dana dari UKRI. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Tekanan keuangan berkepanjangan membuat otak menyusut? Temuan dari studi 80 tahun
0
AN
Ariska Nur Fajar Rini, PhD in Economics, Australian National University· Warga
Kiriman

Di balik merosotnya angka pernikahan: Perempuan menanggung biaya mahal dan ancaman penuaan populasi

● Angka pernikahan di Indonesia terus menurun sejak 2018. ● Faktor penyebab di antaranya adalah harga kebutuhan dan standar semu media sosial yang terus meningkat. ● Indonesia bisa mengalami penuaan populasi lebih cepat. Banyak orang yang menghindari momen kumpul keluarga karena menghindari pertanyaan “kapan nikah?”. Pertanyaan yang sering dianggap basa-basi ini terasa seperti vonis bahwa menikah adalah hal yang harus segera dilakukan. Namun, melihat perkembangan yang ada, pertanyaan tersebut suatu hari mungkin tak lagi relevan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pernikahan di Indonesia terus menurun dalam satu dekade terakhir. Salah satu faktor pemicu menurunnya pernikahan di Indonesia adalah persoalan ekonomi. Celakanya, persepsi tentang ekonomi ini juga tak sedikit dipantik standar medsos (media sosial) yang telah mengubah ekspektasi ideal tentang gaya hidup, kesuksesan karier, finansial, hingga gambaran soal pernikahan yang ideal. Karena itu, keputusan untuk menunda menikah atau bahkan tidak menikah sama sekali, tidak semestinya dihakimi. Dalam banyak kasus, itu adalah respon yang rasional terhadap perubahan kondisi ekonomi dan sosial yang membuat pernikahan semakin dipandang sebagai keputusan besar dengan konsekuensi finansial yang tidak kecil. Baca juga: ‘Marriage is scary’: Kenapa makin banyak kaum muda menunda menikah? Kini semua serba mahal Dulu, manfaat ekonomi dari pernikahan sangat jelas. Menikah bisa membantu membagi pekerjaan rumah tangga, mengelola aset keluarga, merawat anak, hingga menjamin keamanan ekonomi di masa tua sebagaimana yang digagas oleh ekonom Gary Becker dalam bukunya A Treatise on the Family . Namun, struktur masyarakat dan ekonomi modern kini sudah banyak berubah. Urbanisasi membuat biaya hidup meningkat . Pendidikan anak menjadi semakin mahal . Pada saat yang sama, banyak fungsi ekonomi yang dulu hanya tersedia lewat pernikahan kini bisa diperoleh secara individual. Misalnya, perempuan juga memiliki kesempatan bekerja meski belum semulus laki-laki . Akibatnya, banyak anak muda mulai melihat pernikahan dan memiliki anak bukan lagi kebutuhan yang mendesak, melainkan keputusan besar berbiaya mahal. Belum lagi sebagai orang tua kelak tidak lagi sekadar membesarkan anak, tetapi juga untuk memastikan mereka memiliki bekal pendidikan, keterampilan, dan daya saing untuk menghadapi masa depan. Sekolah swasta dengan kurikulum dan bahasa internasional lengkap dengan dukungan berbagai kursus soft skill seperti kesenian dan bahasa asing, hingga perguruan tinggi sudah menanti untuk dibiayai. Di luar itu, standar sosial mengenai seperti apa “pengasuhan yang baik” juga terus meningkat. Baca juga: Beban inflasi Juni akibat kenaikan BBM tak terbantahkan lagi: Lampu kuning bagi masyarakat Di sisi lain, harga properti di kota-kota besar membuat kepemilikan rumah menjadi mimpi yang sulit dijangkau bagi kelas menengah . Kebijakan perumahan masih berkutat pada skema KPR yang mensyaratkan penghasilan tetap. Skema tersebut berpotensi mengecualikan jutaan pekerja informal dan kontrak yang justru berada dalam kondisi paling rentan. Bahkan kebijakan memperpanjang tenor cicilan KPR hingga 40 tahun diperkirakan hanya akan membuat generasi muda semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan besar, termasuk menikah, karena beban bunga yang semakin tinggi. Bagi pasangan yang sudah menikah, tenor 40 tahun hanya akan menjadi warisan utang bagi anak di masa depan . Perempuan kian mandiri dan independen Perubahan keputusan menikah dan memiliki anak juga terkait dengan meningkatnya pendidikan dan partisipasi perempuan di pasar kerja. Ini didorong atas perkembangan positif para perempuan nasional. Data BPS menunjukkan partisipasi kerja perempuan meningkat dari sekitar 52% pada 2018 menjadi lebih dari 56% pada 2025. Rata-rata lama sekolah perempuan juga terus naik hingga mendekati sembilan tahun. Menikah dan memiliki anak cenderung berdampak positif bagi laki-laki, tapi tidak untuk perempuan. Penelitian menunjukan perempuan memiliki ‘kutukan’ motherhood penalty — kondisi ketika perempuan mengalami penurunan pendapatan, perlambatan karier, atau bahkan keluar dari pasar kerja setelah memiliki anak. Salah satu alasannya karena beban pengasuhan lebih berat pada perempuan. Biaya tempat penitipan anak juga tidak murah dan bakal memengaruhi kesehatan finansial sebuah keluarga. Pada akhirnya, sang ibu yang akan berkorban untuk membesarkan anaknya. Sementara laki-laki yang menikah justru lebih sejahtera dan memiliki stabilitas kerja yang lebih baik. Hal ini disebut dengan fatherhood premium . Ketimpangan tersebut juga tercermin dalam kebijakan. Aturan nasional hanya mengamanatkan cuti melahirkan selama dua hari bagi ayah. Selain termasuk yang terendah di Asia, angka tersebut menunjukan ketidaksetaraan tugas dan tanggung jawab pengasuhan anak kepada ayah. Baca juga: B50 bisa mengulang krisis minyak goreng 2022 dan perempuanlah yang paling dirugikan Mempercepat penuaan populasi Dinamika ini tak hanya persoalan pilihan individu semata. Jika belangsung dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada perekonomian negara dan struktur demografi Indonesia yakni percepatan penuaan populasi . Minimnya minat masyarakat menikah akan berujung pada turunnya angka kelahiran. Berkurangnya jumlah bayi yang lahir membuat piramida penduduk di bagian bawah menyusut, sementara kelompok usia tua terus bertambah karena angka harapan hidup meningkat. Fenomena tersebut disebut ageing population (penuaan populasi) yang sudah terjadi di Jepang dan Korea Selatan. Indonesia sendiri secara resmi sudah memasuki fase penuaan populasi karena rasio lansinya sudah mencapai 12% dari batas 10%. Tanpa inovasi kebijakan, kondisi ini takkan bisa dihindarkan dan merugikan negara dalam jangka panjang karena kehabisan tenaga kerja produktif. Korea Selatan menjadi salah satu contoh bagaimana kebijakan prokelahiran tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Negara ginseng harus menghabiskan anggaran sangat besar buat perekrutan pekerja asing untuk mengasuh anak serta meringankan pajak. Namun, angka kelahirannya tetap menjadi salah satu yang terendah di dunia karena biaya hidup yang amat mahal. Karena itu, melabeli anak muda (Gen Z dan Gen Alpha) “terlalu materialistis” atau “takut komitmen” tidak akan menyelesaikan masalah jika realitas ekonominya memang semakin berat. Selama kebijakan publik tidak bisa membantu mengurangi beban membesarkan anak, maka kampanye apapun untuk menaikkan angka pernikahan dan fertilitas akan sia-sia. Baca juga: Masyarakat sulit gapai hidup nyaman di masa pensiun Ariska Nur Fajar Rini tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Di balik merosotnya angka pernikahan: Perempuan menanggung biaya mahal dan ancaman penuaan populasi
0
DC
Desideria Cempaka Wijaya Murti, Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta· Warga
Kiriman

Orang disabilitas juga berhak berwisata: Pelajaran dari Tamansari Yogyakarta

● Ada 26 juta orang dengan disabilitas di Indonesia. ● Sayangnya, mereka tidak bisa menikmati kekayaan panorama alam dan situs budaya-bersejarah Indonesia. ● Padahal, ada 26 juta orang dengan disabilitas yang bisa memberikan sumbangsih kepada industri pariwisata nasional. Indonesia diberkahi dengan kakayaan pesona alam kelas dunia . Ada banyak potensi pariwisata bahari, pegunungan, hingga budaya yang bisa memanjakan mata dan telinga pelancong. Sayangnya, banyak teman netra dan/atau low vision serta teman tuli yang tidak bisa menikmati keindahan tersebut. Mereka adalah kelompok yang selama ini paling sering dilupakan dalam perancangan destinasi budaya. Di Indonesia ada sekitar 22,5 hingga 26 juta orang dengan disabilitas . Namun, banyak dari mereka masih menghadapi pengalaman wisata yang penuh hambatan, mulai dari kebutuhan yang tidak terakomodasi, ketergantungan pada pendamping, hingga minimnya ruang bagi suara mereka dalam pengembangan destinasi wisata. Padahal, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO dan berbagai kerangka internasional menempatkan aksesibilitas dan partisipasi sebagai bagian penting dari prinsip destinasi yang berkelanjutan dan inklusif. Tuol Sleng Genocide Museum (S-21) di Kamboja adalah salah satu contoh situs wisata inklusif. Turis manca negara mendapat fasilitas audio yang menceritakan dan menggambarkan bagaimana kekejaman genosida yang dilakukan rezim Khmer Merah (Khmer Rouge) di bawah pimpinan Pol Pot pada rentang tahun 1975–1979. Jika situs warisan budaya diklaim sebagai ruang publik, maka pertanyaannya sederhana: Apakah teman-teman dengan disabilitas bisa menikmati kekayaan pariwisata nasional? Baca juga: Mendorong penelitian inklusif: Penyandang disabilitas perlu terlibat aktif, bukan hanya sebagai objek Pariwisata inklusif di Tamansari Kami membuat dan melaksanakan panduan wisata multisensoris di obyek wisata Tamansari , Yogyakarta Mei lalu. Tujuannya sekaligus untuk mengukur sejauh mana panduan tersebut bisa membuat pelancong disabilitas lebih memahami lanskap cagar budaya tersebut. Adapun panduan multisensoris adalah metode yang menggabungkan penggunaan dua atau lebih indra—seperti penglihatan (visual), pendengaran (auditori), sentuhan (taktil), dan gerakan (kinestetik)—secara bersamaan untuk meningkatkan pemahaman, daya ingat, dan keterlibatan aktif dalam proses belajar atau pengalaman Bagi teman netra, misalnya, sangat penting untuk menggunakan suara, rabaan, dan atmosfer sekitar. Mereka mengenali ruang melalui gema, suhu, aroma, suara langkah kaki, dan bahkan tulisan menggunakan teknologi aplikasi pembaca gambar ( image reader ) dalam gawai mereka. Sebaliknya, teman tuli memerlukan dukungan bahasa isyarat, suhu, sentuhan, dan atmosfer sekitar. Bukan hanya narasi verbal apalagi suara pemandu yang justru menciptakan jarak dan eksklusi bagi teman tuli. Contoh video penjelasan berbasis audio bagi teman netra. Di sinilah kita seharusnya sadar bahwa tidak ada satu cara yang universal untuk memahami budaya. Cara teman netra dan tuli memaknai budaya itu menggunakan logika yang berbeda. Kadang informasi tersedia, tapi maknanya tidak pernah sampai. Misalnya, ada pemandu wisata tetapi teman tuli tidak bisa mendengar mereka maupun paham apa yang mereka sampaikan. Terlebih, teman netra harus berhadapan dengan destinasi yang memiliki banyak undakan, anak tangga, tembok yang rendah, dan ruang-ruang yang harus dimasuki dengan tidak mudah. Contoh video penjelasan berbasis audio bagi teman tuli. Pendekatan terbalik Solusi untuk mencapai inklusivitas pariwisata ternyata bukan membuat orang mengalami hal yang sama—justru sebaliknya. Pengalaman budaya yang ramah disabilitas dapat lahir ketika setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mencapai makna yang setara. Proyek kami melibatkan teman netra dan tuli untuk berkreasi bersama ( co-creation ) pada alat multisensoris saat melancong di Tamansari yang berguna bagi mereka sendiri. Bagi teman tuli, alatnya adalah video dari guide dengan bahasa isyarat yang direkam di setiap titik penting sesuai alur dan jalur destinasi. Lain cerita bagi teman netra dan low vision . Untuk mereka, alatnya ada dua: bisa berupa teks yang mereka baca melalui aplikasi image reader atau panduan suara berbentuk video yang menjelaskan titik-titik strategis bagi teman netra. Contoh Video Penjelasan berbasis Audio bagi Teman Tuli tentang Spot Jungutan Gedhong Panggung. Yang membedakan adalah, isi dari teks maupun audio harus memuat informasi navigasi misalnya mengenai jarak, langkah, maupun berapa meter dari satu titik ke titik lain. Selain itu, aspek-aspek visual yang penting di suatu titik juga perlu digambarkan. Ini mencakup bentuk, warna, hingga tekstur. Baca juga: Rupiah anjlok, turis asing melonjak: Catatan kritis daya saing pariwisata nasional Kendala jadi pelajaran berharga Dalam prosesnya, kami juga mengalami kendala. Mulanya kami sempat mengira bahwa pengalaman budaya harus disampaikan secara puitis dan mendalam. Ternyata, sebagian peserta netra lebih membutuhkan informasi yang ringkas, lugas, dan membantu mereka menjelajahi Tamansari secara mandiri. Penuntun audio yang kami buat juga terlalu panjang dan terlalu estetik sehingga malah mengganggu teman netra untuk memahami inti pesan. Kami kemudian merevisi penuntun audie menjadi lebih pendek, lebih jelas, dan langsung memberikan informasi yang diperlukan. Contoh Video penjelasan berbasis audio bagi teman tuli tentang Pulau Cemeti dan closing. Hal serupa terjadi pada teman tuli. Pada awalnya tim ingin menampilkan gambar-gambar destinasi yang lebih menarik secara visual. Namun ternyata elemen visual tersebut justru mengganggu fokus terhadap penerjemah bahasa isyarat. Berdasarkan masukan dari komunitas tuli, video kemudian diperbaiki agar lebih mengutamakan keterbacaan bahasa isyarat dibandingkan aspek estetika semata. Orang dengan disabilitas mesti terlibat Pengalaman kami menunjukkan bahwa pariwisata inklusif tidak bisa dirancang berdasarkan asumsi pembuatnya. Inklusi harus dibangun melalui dialog, mendengarkan, dan proses pembuatan bersama (kokreasi) mereka yang akan menggunakannya. Selama ini, banyak diskusi pelestarian cagar budaya berfokus pada aspek fisik: bagaimana melindungi bangunan, bagaimana mempertahankan struktur asli, atau bagaimana memastikan renovasi tidak merusak nilai sejarah. Isu disabilitas pun masih sering ditempatkan sekadar pelengkap, bukan bagian inti dari perencanaan dan evaluasi situs warisan budaya. Padahal, berbagai instrumen internasional, termasuk pendekatan heritage impact assessment ( HIA ) yang dibuat UNESCO, semakin menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak sosial dari pengelolaan warisan budaya. Aksesibilitas dan pengalaman pengunjung yang beragam termasuk di dalamnya. Kabar baiknya, solusi dari hasil penelitian kami menunjukkan bahwa membuat pariwisata ramah disabilitas tidak selalu mahal. Yang terpenting justru adalah pelibatan orang dengan disabilitas di dalamnya. Sebuah situs budaya ataupun pariwisata takkan benar-benar menjadi warisan bersama jika hanya dapat dipahami oleh sebagian warga saja. Pelestarian budaya bukan hanya menjaga tembok, relief, atau bangunan tua tetap berdiri. Pelestarian budaya juga berarti memastikan setiap warga memiliki hak yang sama untuk mengalami, memahami, dan memaknainya tanpa terkecuali. Baca juga: Ingin pariwisata lebih berkelanjutan? Ini 5 cara yang bisa dilakukan desa wisata Desideria Cempaka Wijaya Murti tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Orang disabilitas juga berhak berwisata: Pelajaran dari Tamansari Yogyakarta
0
AJ
Angtyasti Jiwasiddi, Subject Content Coordinator, Binus University· Warga
Kiriman

Layakkah kedaulatan digital dan AI nasional dikorbankan demi keringanan tarif dagang AS?

● Kesepakatan resiprokal Indonesia - AS mengancam kedaulatan data nasional. ● Ratusan juta data penduduk bisa diakses AS secara bebas tanpa perlu izin. ● HUT RI ke-81 memiliki tantangan besar untuk menegakkan kedaulatan data dan AI nasional. Konsep kedaulatan yang selama ini umum dipahami adalah kedaulatan negara , yakni kemampuan sebuah bangsa mengontrol wilayah, sumber daya, narasi, dan masa depan warganya. Namun, kini ada konsep kedaulatan baru yang belum banyak dibicarakan tetapi dampaknya nyata, yaitu kedaulatan atas akal imitasi (AI). Inovasi AI kini tak terpisahkah dari kehidupan. Pelatihan AI, seminar otomasi, dan kelas prompt engineering tumbuh di berbagai kota, didorong kekhawatiran akan tertinggal. Namun, di balik antusiasme itu ada persoalan yang jarang dibahas: setiap data, pola pikir, dan cara kita berinteraksi dengan AI turut memperkuat ekosistem teknologi yang fondasinya bukan milik kita. Mayoritas armada komputasi AI dikuasai Amerika Serikat (AS) . Masifnya penggunaan AI di Tanah Air justru membuat AS semakin dominan. Kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap AI bahkan jadi salah satu yang tertinggi di dunia. Di sisi lainnya, kedaulatan Indonesia terhadap AI kian rentan—setelah kesepakatan tarif RI - AS beberapa waktu lalu. Dan kedaulatan ini, sayangnya, bisa saja takkan pernah bisa kita gapai. Baca juga: Prabowo gadaikan data publik: Perjanjian AS-Indonesia berisiko langgar hak privasi warga Kedaulatan digital nasional di ujung tanduk Konsep kedaulatan AI pada dasarnya adalah kepemilikan atas infrastruktur kecerdasan buatan, model-model besar, data pelatihan, arah inovasi, kebijakan harga. Semuanya terkonsentrasi di AS. Infrastruktur komputasi, chip , cloud (komputisasi awan) yang menyimpan, mempelajari, mengolah, dan memanipulasi data miliaran pengguna dikendalikan segelintir perusahaan AS: OpenAI, Google, Meta, Microsoft, dan Amazon. Karena berpusat di AS, penggunanya termasuk di Indonesia tergiring dalam permainan dan aturan mereka. Riset menunjukkan model-model ini secara konsisten mencerminkan perspektif masyarakat WEIRD: Western , Educated , Industrialized , Rich , Democratic , lalu menjadikannya standar universal. Mempelajari AI memang perlu dilakukan karena tuntutan zaman. Minat masyarakat terhadap AI juga tidak bisa ditahan. Tapi apakah pemerintah bisa menjamin kedaulatan data-data pengguna Indonesia? Kesepakatan transfer data WNI dengan AS dalam paket kesepakatan dagang bilateral kedua negara adalah simbol paling konkret dari tantangan ini. Salah satu poin pentingnya adalah AS berhak mengakses data WNI tanpa harus mematuhi hukum perlindungan data negara Indonesia Kesepakatan ini tentunya mengundang reaksi banyak pihak . Pemerintah menjelaskan akses data yang dimaksud hanya berupa data yang diunggah sendiri oleh masyarakat saat memakai Google, e-commerce , dan platform digital lain tak termasuk data personal sensitif. Persoalannya, dokumen resmi perjanjian tidak merinci jenis data apa yang tercakup atau seberapa luas cakupannya. Baca juga: Mengapa perjanjian dengan Trump tak menutup peluang Indonesia menagih ‘pajak’ konten berita ke platform digital Selain itu, ancaman pengawasan massal juga termasuk salah satu titik kritis perjanjian data dengan AS. Pemerintah AS punya instrumen legal untuk mengakses komunikasi warga asing yang datanya tersimpan di server perusahaan AS, tanpa perlu izin dari negara asal pemilik data , melalui Pasal 702 undang-undang intelijen bernama (FISA). Netral bukan sikap yang bijaksana Pemerintah perlu menyiapkan sikap dan kebijakan lanjutan agar risiko ini bisa dimitigasi. Masalahnya, inkonsistensi geopolitik memperumit segalanya. Sejak Januari 2025, Indonesia bergabung dengan BRICS, aliansi ekonomi negara berkembang penyeimbang dominasi Barat, dengan semangat memperkuat agenda kedaulatan digital nasional. Namun, enam bulan kemudian, kita meneken kesepakatan yang membuka akses data warga ke Silicon Valley . Presiden Prabowo menegaskan posisi bebas aktif dan netral di setiap kebijakan luar negeri nasional, termasuk di tengah konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika dan Iran. Netral dalam konflik bersenjata tidak otomatis berarti netral dalam infrastruktur digital. Di medan teknologi, abstain bukan pilihan. Tidak membangun berarti bergantung. Dan bergantung berarti berpihak, meski tidak secara langsung dan tanpa pernyataan resmi. Negara lain sudah membaca peta ini lebih awal. India, Uni Emirat Arab, bahkan sejumlah negara Afrika sedang membangun model AI dalam bahasa dan konteks budaya mereka sendiri. Ini dilakukan bukan untuk menutup diri, tapi karena paham bahwa kedaulatan atas narasi adalah prasyarat kedaulatan atas masa depan. Kedaulatan di abad ini bukan lagi hanya soal bendera dan batas wilayah, tapi juga soal siapa ‘pelatih’ AI yang kita percayai sebagai sumber kebenaran, siapa yang memegang data tentang 270 juta warga, dan siapa yang menentukan pertanyaan mana yang dianggap penting, serta jawaban mana yang dianggap benar. Baca juga: ‘Blanket overflight’ pesawat militer AS: Pertaruhan kedaulatan “bebas aktif” Indonesia? Tantangan berat di masa depan Indonesia sudah menerima permintaan transfer data pribadi warganya ke AS bukan karena perang ataupun paksaan militer, melainkan karena kita ingin tarif 19% bea masuk ke AS . Di sisi lain, kedaulatan Indonesia dalam pengertian paling nyata sedang tertekan dari berbagai arah mulai dari ekonomi dan percaturan geopolitik dunia. Yang paling terasa adalah nilai tukar rupiah menjadi salah satu mata uang terlemah dunia. Pelemahan rupiah bukan sekadar soal daya beli, tapi juga tentang seberapa jauh jarak kita dari kemampuan membangun kedaulatan AI sendiri. Ketika rupiah melemah, biaya impor server , chip , dan perangkat jaringan melonjak dengan estimasi kenaikan biaya pembangunan proyek infrastruktur nasional hingga 15% . Ekspansi infrastruktur jaringan 5G di Tanah Air pun harus tertunda karena ketidakpastian regulasi spektrum —membuat Indonesia tertinggal dari Malaysia dan Thailand. Setiap penundaan memperpanjang ketergantungan pada layanan yang tarifnya dibayar dalam dolar AS. Selama kedaulatan AI nasional hampir sepenuhnya tak berada di tangan sendiri, maka kita akan berada di posisi yang sulit antara menjaga kedaulatan bangsa dan kepentingan rakyat dalam dunia yang kini sudah berorientasi terhadap data. Baca juga: Kunjungan luar negeri Prabowo: Banyak lawatan, minim hasil Angtyasti Jiwasiddi tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Layakkah kedaulatan digital dan AI nasional dikorbankan demi keringanan tarif dagang AS?
0
YS
Yudi Saputra, Mahasiswa S3/Dosen, Universitas Islam Internasional Indonesia· Warga
Kiriman

Refleksi Kemerdekaan: Upaya negara menguasai pasar melalui program mercusuar harus dibatasi

● Indeks keyakinan masyarakat terhadap perekonomian negara terus merosot. ● Kinerja dan efektivitas tiga program mercusuar pemerintah terus mendapat sorotan publik luas. ● Kuatnya intervensi pemerintah dalam pasar mencirikan karakteristik negara gagal. Indonesia memasuki tahun kemerdekaannya ke-81 pada tahun ini. Dan siapa pun yang mengisi kursi pemerintahan pasti membawa janji politik untuk mensejahterakan masyarakat, kemudian diterjemahkan lewat berbagai program unggulan. Begitu pula pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menjabat untuk periode 2024-2029. Pasangan ini menjagokan program mercusuar di bidang ekonomi seperti Koperasi Desa Merah Putih ( KDMP ), Makan Bergizi Gratis ( MBG ), dan Daya Anagata Nusantara ( Danantara ). Sayangnya, ketiga program mercusuar ini terus menuai kritik sejak awal diluncurkan. MBG dikritik karena penyaluran tidak merata, maraknya kasus keracunan, hingga dugaan korupsi. Begitu juga KDMP yang dituding bakal merusak ekonomi pedesaan dan warisan koperasi nasional. Sementara Danantara jadi perhatian karena kewenangannya mengolah ratusan triliun setoran dividen badan usaha milik negara (BUMN) dan berhak mengajukan penyertaan modal negara. Di atas kertas, ketiga program ini sebetulnya bisa berefek positif jika dijalankan dengan tata kelola yang baik. Sebab, ketiganya turut dibekali kewenangan dan sumber daya negara yang besar untuk menjalankan fungsinya. Masalahnya, penggunaan wewenang besar ini malah memberi sinyal bahwa pemerintah kebablasan mengintervensi pasar dan tak memberi manfaat besar kepada masyarakat. Baca juga: Koperasi Desa Merah Putih jangan mengganggu ekonomi dan memicu kriminalisasi warga desa Masyarakat mulai pesimistis Program-program seperti KDMP, MBG, dan Danantara pada dasarnya adalah bentuk intervensi negara yang masuk langsung ke dalam mekanisme pasar, baik melalui alokasi anggaran langsung, subsidi terarah, maupun pembentukan entitas usaha milik negara berskala besar. Selama ini kritik terhadap ketiga program memang ramai disuarakan oleh kalangan terbatas, seperti akademisi, politisi, media, hingga organisasi masyarakat sipil . Tapi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang terus merosot justru menunjukkan jika masyarakat turut mengamini hal tersebut. IKK atau Survei Konsumen merupakan survei bulanan yang dilaksanakan Bank Indonesia sejak Oktober 1999. Survei dilaksanakan terhadap sekitar 4.600 rumah tangga di 21 kota—dari Medan, Jakarta, hingga Ambon. Dua bulan terakhir IKK terus merosot. Dari 117,8 poin (Juni) menjadi 116,8 poin per Juli 2026 atau yang terburuk sejak April 2025. Dalam IKK, optimisme masyarakat kian kritis jika terus mendekati angka 100 poin. Baca juga: Gerakan Kabinet Bayangan adalah cara publik merawat oposisi Pola pelemahan IKK seharusnya menjadi tanda tanya besar. Sebab, dalam periode yang bersamaan, pemerintah tengah gencar mengucurkan berbagai program dengan anggaran signifikan dengan tujuan eksplisit mendorong daya beli dan kepercayaan publik. Padahal, MBG diklaim menyerap 1 juta pekerja . KDMP juga diproyeksi menyerap 1,4 juta pekerja . Jika instrumen kebijakan yang begitu banyak justru berbanding terbalik dengan hasil yang diharapkan, maka persoalannya bisa jadi bukan pada kurangnya kehadiran negara, melainkan pada bentuk kehadiran itu sendiri. Intervensi yang salah arah Ekonom kawakan Acemoglu dan Robinson dalam Why Nations Fail , telah mewanti-wanti hal yang membedakan negara makmur dari negara yang gagal bukan sumber daya alam, geografi, maupun besarnya belanja pemerintah, melainkan kualitas institusi ekonomi dan politiknya. Negara gagal, menurut mereka, lebih condong menyuburkan institusi ekstraktif, yang memusatkan keuntungan ekonomi pada segelintir elite melalui kedekatan dengan kekuasaan. Negara seperti ini tak menegakkan “institusi inklusif” yang menjamin hak kepemilikan, penegakan kontrak, dan persaingan yang adil bagi seluas mungkin warga negara. Ironisnya, teori tersebut relevan dengan kondisi negara saat ini. Program mercusuar yang sering diposisikan sebagai bukti kehadiran negara justru kontraproduktif. Pelemahan IKK dapat dibaca sebagai indikasi bahwa pasar tidak sedang mencari lebih banyak proyek pemerintah, melainkan lebih kepada kepastian hukum dan tata kelola . Alih-alih memperluas kehadiran negara langsung di dalam pasar, prioritas semestinya diarahkan pada penguatan institusi yang menjadi fondasi bagi seluruh pelaku ekonomi, seperti kepastian hukum, kepastian hak kepemilikan, independensi lembaga peradilan, konsistensi regulasi lintas kementerian dan lembaga, serta pengawasan persaingan usaha yang bebas dari intervensi politik. Baca juga: Tugas Kepala BGN baru Sudaryono: Hemat APBN, pemerataan penyaluran, perbaikan gizi, atau pembubaran lembaga Ketidakpastian mengenai keberlanjutan kebijakan, tumpang tindih kewenangan antarlembaga, dan risiko intervensi yang berubah sewaktu-waktu jauh lebih menekan keyakinan pelaku ekonomi dibandingkan absennya stimulus fiskal. Ketika pelaku usaha tidak meyakini apakah aturan hari ini akan tetap berlaku enam bulan ke depan, keputusan investasi jangka panjang cenderung ditunda. Loyonya geliat investasi dan ekspansi bisnis inilah yang pada gilirannya tecermin dalam pelemahan indeks keyakinan, sebab indeks tersebut pada dasarnya adalah cerminan ekspektasi publik, bukan sekadar potret kondisi ekonomi hari ini. Mengharapkan peran negara yang ideal Suatu pemerintahan memang berupaya memenuhi janji politiknya dan mencoba untuk tampil beda satu sama lain. Apalagi, penguatan institusi yang ideal memang cenderung tidak menghasilkan seremoni peluncuran yang meriah maupun klaim keberhasilan yang mudah dikomunikasikan kepada publik dalam jangka pendek. Sementara peluncuran program mercusuar berskala besar menawarkan visibilitas politik yang instan dengan angka-angka yang dianggap gagah, meski dampaknya terhadap fondasi ekonomi jangka panjang masih meragukan . Tapi, menjadi negara yang kuat bukan soal kehadiran di setiap lini produksi dan distribusi, melainkan soal penegakan aturan secara konsisten, perlindungan hak seluruh pelaku ekonomi tanpa pandang bulu, dan menyediakan kepastian yang memungkinkan investasi jangka panjang. Dengan demikian, bukan lagi program mercusuar atau diskresi apa yang perlu dilakukan, melainkan institusi apa yang perlu diperbaiki agar kepercayaan pasar dapat pulih secara berkelanjutan. Momen Hari Kemerdekaan RI ke-81 ini seharusnya jadi momen refleksi seluruh pemangku kepentingan terhadap pembangunan negara yang berkelanjutan yang titik akhirnya menjadikan Indonesia menjadi negara maju . Baca juga: Ekspor satu pintu Danantara dan bayangan risikonya dalam perdagangan internasional Yudi Saputra tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Refleksi Kemerdekaan: Upaya negara menguasai pasar melalui program mercusuar harus dibatasi
0
IH
Isnawati Hidayah, Senior Researcher in Economics Development, Food Security and Nutrition, Sustainable Agri-food System, Center of Economic and Law Studies· Warga
Kiriman

Kopdes Merah Putih mengikis warisan koperasi Mohammad Hatta

● Meski aturan teknis belum lengkap, program kopdes Merah Putih sudah berjalan cukup cepat. ● 80 ribu kopdes Merah Putih akan menggantikan 139 ribu koperasi eksisting warisan Mohammad Hatta. ● Program ini memicu utang negara naik sebesar Rp240 triliun yang ditanggung APBN dan dicicil enam tahun. Pemerintah sangat ambisius menjalankan program Koperasi Desa Merah Putih ( KDMP ). Sistem koperasi ini dijalankan dengan metode top-down yang mendelegasikan mandat pemerintah pusat untuk mendirikan gerai usaha baru ke desa-desa. Satu pertanyaan sederhana yang hingga kini belum pernah dijawab pemerintah: jika koperasi adalah sokoguru perekonomian Indonesia, mengapa yang diperkuat justru koperasi yang belum lahir. Padahal, koperasi yang sudah hidup justru terabaikan selama puluhan tahun? Sejatinya, koperasi yang diperjuangkan oleh Mohammad Hatta sebagai instrumen pembangunan ekonomi berlandaskan asas kekeluargaan sesuai dengan kebutuhan dan inisiatif masyarakat setempat. Koperasi dibangun untuk menghimpun modal, usaha, dan kepentingan ekonomi para anggotanya. Entitas ini memperoleh legitimasi karena mampu menciptakan nilai tambah bagi anggota dan peran aktif anggotanya . Sayangnya, sejak awal KDMP justru menyisakan pertanyaan tentang nilai tambah dan jati dirinya sebagai koperasi. Pemerintah bahkan secara terbuka menyebut Kopdes Merah Putih sebagai “infrastruktur pemerintah” dan menyiapkannya sebagai pintu tunggal penyaluran bantuan dan barang bersubsidi, mulai dari beras, pupuk, minyak goreng, LPG 3 kilogram, hingga bantuan sosial. Pertanyaan mendasar lain yang muncul bukan tentang apakah Indonesia membutuhkan koperasi, melainkan mengapa pemerintah memilih membangun puluhan ribu koperasi baru ketika pekerjaan rumah terhadap koperasi yang sudah ada belum selesai. Baca juga: Koperasi Desa Merah Putih jangan mengganggu ekonomi dan memicu kriminalisasi warga desa Melupakan koperasi yang sudah ada Indonesia telah memiliki 139.203 koperasi aktif dengan 31,8 juta anggota, aset Rp325,8 triliun, dan sisa hasil usaha (SHU) Rp8,84 triliun per tahun. Artinya, infrastruktur kelembagaan koperasi sebenarnya sudah tersedia. Perbedaannya bukan sekadar soal jumlah, tetapi juga kinerja. Rata-rata koperasi eksisting menghasilkan sisa hasil usaha ( SHU ) sekitar Rp63,51 juta per unit per tahun. Padahal, ribuan koperasi eksisting telah menjalankan fungsi ekonomi yang nyata. Contohnya seperti Koperasi Gapoktan Tani Sehat Kedungbokor Brebes , Jawa Tengah, yang didirikan untuk kebutuhan para petani setempat hingga bisa berekspansi dalam penyediaan alat pertanian modern. Baca juga: Alih-alih terserap, Rp3 miliar untuk 40 ribu Koperasi Desa Merah Putih malah akan banyak menguap Ada juga model paling umum koperasi, yakni simpan pinjam. Ada Kospin Jasa yang sudah beraset Rp6,7 triliun (2024). Karena itu, alih-alih melakukan semua dari awal melalui KDMP yang berpotensi memboroskan dan mengorbankan anggaran pembangunan desa , lebih baik pemerintah memperkuat koperasi yang telah memiliki anggota, aset, dan pengalaman, pemerintah berpotensi memperoleh hasil yang lebih cepat, lebih efisien, dan lebih berkelanjutan dibandingkan memulai dari nol. Koperasi Unit Desa Tani Makmur Desa Kandang Tepus, Kecamatan Senduro, Lumajang sukses menyejahterahkan anggotanya melalui sejumlah unit usaha. Salah satunya peternakan sapi perah. Produksi susu sapi mencapai 14 ribu 355 liter per hari dari 3 ribu 73 ekor sapi perah milik anggota. Selama bertahun-tahun, tantangan utama koperasi di Indonesia bukanlah kekurangan jumlah, melainkan lemahnya akses pembiayaan, terbatasnya kapasitas manajemen, rendahnya kualitas pendampingan, minimnya dukungan regulasi, serta terbatasnya akses pasar. Negara tanggung cicilan utang Rp240 triliun Hingga artikel ini terbit, pemerintah masih menyiapkan Rancangan Peraturan Presiden tentang Tata Kelola Kopdes/Kelurahan Merah Putih. Namun, sejak jauh-jauh hari daerah-daerah sudah berlomba-lomba membangun fisik dan tidak sedikit di antaranya sudah beroperasi. Sebanyak 80 ribu KDMP bakal memperoleh dana segar cuma-cuma hingga Rp3 miliar. Rinciannya terdiri dari sekitar Rp2,5 miliar untuk pembangunan gerai, gudang, dan sarana usaha, serta Rp500 juta untuk modal operasional. Penunjukan PT Agrinas Pangan Nusantara sebagai pelaksana pembangunan fisik Kopdes/Kelurahan Merah Putih melalui Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 2025 hingga kini belum disertai justifikasi yang memadai kepada publik. Alokasi APBN sebesar Rp34,57 triliun atau 58,03% dari total pagu Dana Desa sebesar Rp60,57 triliun yang dilanggengkan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 7 Tahun 2026 siap dicairkan. Program ini membuat keluwesan ruang fiskal yang bisa digunakan untuk membangun desa menyusut menjadi sekitar Rp26 triliun—hanya 41,97% dari total Dana Desa nasional. Tak heran jika realisasi pembangunan infrastruktur dasar, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, layanan kesehatan, dan penanggulangan kemiskinan di desa menurun. Dana superjumbo ini diserap menggunakan skema pembiayaan KDMP yang bersumber dari kredit dari bank-bank BUMN yang dijamin negara. Bahkan sejak Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15 Tahun 2026 terbit, pembayaran angsurannya dapat ditalangi oleh APBN. KDMP juga akan mendapat dukungan fiskal pemerintah, baik melalui penugasan sebagai penyalur bansos dan barang bersubsidi maupun melalui mekanisme talangan angsuran dari APBN berkisar Rp240 triliun yang direncanakan dicicil selama enam tahun ke depan . Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan setiap tahun pemerintah bayar cicilan Rp40 triliun mulai September mendatang. Pemerintah mengklaim KDMP akan jadi offtaker / penyerap produk desa sehingga efek dominonya akan dirasakan langsung ke masyarakat sekitar . Di saat bersamaan, sekitar 139 ribu koperasi aktif yang telah memiliki anggota, aset, pengalaman usaha, dan rekam jejak operasional nyaris tidak menjadi prioritas kebijakan. Baca juga: Koperasi Merah Putih: Agar tidak mengejar kuantitas semata ketimbang pemberdayaan desa Untuk anggota atau pemerintah? Pangkal persoalan KDMP bukan pada format dan teknis operasionalnya, melainkan konsentrasi kewenangan. Lembaga yang menjual barang kebutuhan pokok sekaligus mengetahui siapa penerima bantuan, memverifikasi data masyarakat, dan berpotensi menentukan akses terhadap berbagai program negara, bisa merusak tatanan perekonomian desa. Dalam prinsip tata kelola organisasi yang sehat, fungsi-fungsi tersebut justru dipisahkan agar tidak terjadi konflik kepentingan maupun penyalahgunaan kewenangan. Kekhawatiran tersebut semakin beralasan karena hingga kini fondasi kelembagaan KDMP belum benar-benar matang. Aturan teknis belum rampung, tetapi aktivitas ekonomi telah berjalan. Realisasi transaksi KDMP memang sudah menyentuh ratusan miliar. Tapi, mayoritas transaksi didominasi oleh pupuk bersubsidi, beras, minyak goreng, LPG 3 kilogram. Dapat disimpulkan, yang sedang tumbuh bukanlah koperasi sebagai penggerak produksi desa, melainkan sebagai unit penyaluran barang yang sebagian besar bergantung pada kebijakan pemerintah. Jika KDMP gagal menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membayar kewajibannya, pertanyaannya sederhana: siapa yang akan menanggung kerugiannya, pemerintah yang mencetuskan proyek, BUMN yang membangunnya, atau justru desa yang sejak awal tidak pernah menentukan desain kebijakan ini? Negara harus menjaga agar koperasi tetap menjadi organisasi ekonomi rakyat, bukan berubah menjadi operator distribusi negara. Baca juga: Menanti kredit rumah khusus nelayan dari Kampung Nelayan Merah Putih Isnawati Hidayah tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Kopdes Merah Putih mengikis warisan koperasi Mohammad Hatta
0
MA
Mohammad Alauhdin, Lecturer in Chemistry, Universitas Negeri Semarang· Warga
Kiriman

Kemofobia bikin kita terkecoh produk ‘chemical-free’ meski faktanya mustahil, mengapa?

• Kemofobia memicu persepsi bahwa bahan alami selalu lebih aman dibanding sintetis. • Kemofobia muncul karena kecenderungan kita memilih jalan pintas mental dalam merespons rasa takut. • Komunikasi sains perlu lebih apik untuk mengimbangi konten sensasional di media sosial. Bayangkan kamu sedang berbelanja di supermarket. Di rak makanan tersedia dua produk hampir serupa dan harganya tak jauh berbeda. Produk pertama menonjolkan label besar seperti “Natural”, “Chemical-Free”, dan “Tanpa Bahan Kimia”. Produk kedua tidak memiliki klaim apa pun, tetapi pada bagian komposisinya tercantum nama-nama seperti benzoic acid , oleic acid , dan citric acid . Produk mana yang akan kamu pilih? Kemungkinan besar, banyak orang akan memilih produk pertama, bahkan sebelum membandingkan kandungan gizinya atau mencari tahu fungsi setiap bahan yang tertera pada label. Keputusan itu terasa begitu alami dan benar sehingga jarang kita pertanyakan. Padahal, secara sains, klaim produk makanan yang “bebas bahan kimia” sebenarnya mustahil. Air yang kita minum adalah senyawa kimia. Oksigen yang kita hirup juga termasuk unsur kimia. Nasi, garam dapur, vitamin C, daging, bahkan tubuh kita sendiri seluruhnya tersusun atas berbagai senyawa kimia. Lalu mengapa label seperti chemical-free bisa begitu memperdaya kita? Fenomena serupa juga mudah ditemukan di media sosial. Video berjudul “Lima Bahan Kimia Berbahaya yang Diam-diam Ada di Dapur Anda” sering kali mendapatkan jutaan views . Sebaliknya, video yang menjelaskan bagaimana ilmuwan menilai keamanan suatu bahan kimia, atau mengapa dosis menentukan tingkat risiko, justru minim dilirik. Baca juga: Bagaimana kimia analitik dapat mengungkapkan rahasia di balik kopi favoritmu Kemofobia akibat salah persepsi Mengapa narasi yang memicu ancaman dan rasa takut bisa lebih meyakinkan daripada penjelasan ilmiah? Kecenderungan ini disebut sebagai kemofobia ( chemophobia ) atau persepsi negatif terhadap (bahan) kimia. Persepsi ini nyatanya bukan sekadar karena kurangnya pengetahuan tentang kimia. Riset menunjukkan bahwa kemofobia merupakan hasil interaksi yang kompleks antara cara otak manusia menilai risiko, pengalaman hidup, bahasa yang digunakan media, strategi pemasaran, hingga algoritma media sosial. Proses kompleks dan panjang itulah yang melahirkan keyakinan masyarakat bahwa bahan kimia sintetis atau hasil rekayasa manusia lebih berbahaya daripada bahan alami. Selama bertahun-tahun, banyak ilmuwan beranggapan bahwa solusi paling ampuh mengurangi kemofobia adalah meningkatkan literasi kimia . Logikanya sederhana, jika masyarakat memahami dengan benar apa itu bahan kimia, maka ketakutan mereka akan berkurang. Pendekatan ini dikenal sebagai deficit model dalam komunikasi sains. Namun berbagai penelitian mutakhir menunjukkan pendekatan tersebut kurang kuat untuk meluruskan persepsi masyarakat. Dua orang dengan tingkat pendidikan yang sama dapat memiliki persepsi yang sangat berbeda terhadap bahan kimia. Bahkan seseorang yang memahami konsep dasar kimia tetap dapat memilih produk berlabel “natural” hanya karena terasa lebih aman. Mengapa demikian? Jawabannya sebagian terletak pada cara kerja otak manusia. Logika keliru kemofobia Otak kita kerap tergoda menggunakan jalan pintas mental atau heuristik . Mekanisme ini sangat berguna untuk membantu kita membuat keputusan dengan cepat. Tetapi di balik kecepatan tersebut ada potensi risiko penilaian yang keliru. Baca juga: Sudah tahu keliru, tapi tetap diulang: Alasan di balik kesalahan berpikir kita Salah satu contohnya adalah naturalness bias atau kecenderungan menganggap bahwa sesuatu yang berlabel natural atau alami pasti lebih aman daripada yang sintetis. Bias ini membuat banyak orang lebih nyaman memilih produk ‘herbal’ dibandingkan dengan obat sintetis, meski belum tentu lebih aman dan manjur. Nyatanya, racun justru mudah kita temukan dalam bahan-bahan ‘alami’. Arsenik, misalnya, yang terkandung dalam beberapa jenis batuan . Tengok juga sianida yang terkandung dalam pucuk bambu (rebung) dan singkong , dan aflatoksin terkandung dalam beberapa jenis kacang-kacangan, misalnya kacang tanah dan biji-bijian . Contoh kandungan bahan beracun sianida dalam singkong, bahan pangan sehari-hari orang Indonesia. (BPOM Tanimbar) Otak kita juga lebih mudah bereaksi terhadap rasa takut dibandingkan dengan penjelasan statistik. Rasa takut kerap memicu reaksi spontan tanpa dipikirkan terlalu lama. Ketika mendengar istilah “racun” atau bahan berbahaya lainnya, otak segera mengirimkan sinyal bahaya yang mengindahkan pertanyaan penting seperti berapa besar dosisnya, bagaimana paparannya, dan seberapa besar risikonya? Cara berpikir seperti ini tidak seinstan rasa takut. Ada ungkapan klasik dalam toksikologi: the dose makes the poison , atau dosislah yang menentukan apakah suatu zat menjadi racun. Air sekalipun dapat membahayakan jika dikonsumsi secara berlebihan dalam waktu singkat. Sebaliknya, banyak bahan tambahan pangan yang namanya terdengar asing justru aman digunakan karena kadarnya telah ditetapkan berdasarkan kajian ilmiah yang ketat. Baca juga: Sianida dalam makanan: bagaimana standarnya untuk keamanan pangan AI memperburuk atau menjadi solusi? Meski kerap diwarnai risiko misinformasi dan bias, akal imitasi (AI) juga membuka peluang baru dalam komunikasi sains. AI membantu menerjemahkan istilah teknis ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, menyusun materi edukasi yang lebih menarik, bahkan menjawab pertanyaan masyarakat secara langsung. Dengan kata lain, AI bisa dijadikan sekutu komunikasi sains. Hal ini bergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Penelitian tentang kemofobia selama beberapa tahun terakhir mengajarkan satu hal penting: ketakutan terhadap bahan kimia bukanlah tanda bahwa masyarakat tidak rasional. Ada alasan dari sisi psikologi, sosial, maupun komunikasi yang membuat kita lebih mudah mempercayai informasi yang membangkitkan rasa takut daripada penjelasan ilmiah. Hal ini seharusnya mengubah cara kita memandang komunikasi sains. Di era AI, tantangan terhadap sains bukan hanya menghasilkan pengetahuan baru. Tantangan lainnya adalah memastikan pengetahuan itu mampu bersaing dengan narasi yang lebih sederhana, lebih emosional, dan lebih mudah viral. Apalagi di era media sosial dengan setelan algoritma yang mengeksploitasi perhatian penggunanya . Kita perlu komunikasi sains lebih baik agar konten sains kimia dapat menyaingi konten-konten penjaja sensasi semata. Baca juga: Apakah konten receh menyebabkan ‘brain rot’? Jawabannya tidak sesederhana itu Dalam pertarungan itulah kemofobia menjadi pengingat bahwa komunikasi sains bukan lagi pelengkap penelitian, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari penelitian itu sendiri. Mohammad Alauhdin tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Kemofobia bikin kita terkecoh produk ‘chemical-free’ meski faktanya mustahil, mengapa?
0
DM
Dicki Mahardika, Podcast Producer, The Conversation· Warga
Kiriman

‘Accessible Tourism’: peluang atau beban pariwisata?

Pariwisata Indonesia masih menyimpan banyak catatan yang harus dibenahi. Bayangkan, saat liburan yang sudah direncanakan dari jauh hari, namun ternyata tempat wisata tidak bisa dinikmati karena tidak adanya jalur yang aman, fasilitas yang ramah atau panduan yang memadai. Bagi sebagian orang penyandang distabilitas, lansia, hingga ibu hamil, pengalaman terbatas ini adalah realitas yang seringkali ditemui. Padahal pariwisata pada hakikatnya adalah hak milik semua orang ( Tourism for All ), bukan hanya untuk masyarakat yang berfisik prima. Lalu bagaimana seharusnya pariwisata itu dikelola? Apakah jargon Tourism for all di Indonesia benar benar susah direalisasikan? Episode terbaru Suar Akademia, kami membahas Pariwisata yang Aksesibel bersama Nihan Lanisy, Dosen Pariwisata dari Universitas Terbuka. Nihan menegaskan bahwa pariwisata aksesibel (accessible tourism) ini lebih dari sekedar membangun fasilitas fisik seperti tanjakan kursi roda. Menurutnya, ini adalah sebuah filosofi dan mindset berbasis universal design , yang memastikan seluruh rantai perjalanan, mulai dari keterjangkauan informasi di situs web, ketersediaan moda transportasi, hingga fasilitas di destinasi dapat diakses oleh siapa saja tanpa hambatan. Perlu diakui untuk mewujudkan destinasi yang sempurna bagi semua jenis keterbatasan secara menyeluruh memang sulit dicapai. Oleh karena itu, pendekatan yang ditawarkan adalah universal design untuk pembangunan destinasi baru, serta audit aksesibilitas bagi tempat wisata yang sudah berdiri. Hambatan terbesar dalam penerapan pariwisata yang infklusif di tanah air sebenarnya terletak pada pemahaman dan kesiapan sumber daya manusia pengelola. Apalagi selama ini, pariwisata masih didominasi oleh orientasi estetika visual yang instagrammable . Padahal, bagi wisatawan dengan keterbatasan pengelihatan (tuna netra/low vision), pengalaman berwisata didasarkan pada dimensi multisensory experience seperti keriuhan suara dan suasana. Baca juga: Orang disabilitas juga berhak berwisata: Pelajaran dari Tamansari Yogyakarta Sebagai langkah awal, pengelola tidak tak perlu langsung mengubah seluruh bangunan secara drastis, melainkan memberikan transparansi informasi mengenai fasilitas yang tersedia. Transparansi seperti pegangan khusus di toilet atau ketersediaan jalan datar, sehingga wisatawan dapat memilih destinasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kemajuan teknologi di satu sisi memberikan kemudahan melalui audio guide atau pemandu digital, namun di sisi lain berpotensi menjadi hambatan baru. Digitalisasi layanan yang terlalu ekstrem, seperti kewajiban memindai QR code atau transaksi pembayaran non tunai, sering kali menyulitkan kelompok lansia. Nihan juga menyarankan bagi para pengelola pariwisata agar tidak membiarkan sebagian kelompok masyarakat tertinggal akibat otomatisasi yang tidak mempertimbangkan fleksibilitas penggunaan. Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

‘Accessible Tourism’: peluang atau beban pariwisata?
0
RL
Ruipeng Liu, Senior Lecturer in finance, Deakin University· Warga
Kiriman

Kenapa pendanaan untuk masyarakat kecil gagal mengentaskan kemiskinan di Asia ?

Rob Elliott/AFP via Getty Image Microfinance atau pembiayaan mikro digadang sebagai instrumen keuangan unggulan untuk mengentaskan kemiskinan di Asia. Targetnya sederhana: menyediakan pinjaman kepada rumah tangga berpenghasilan rendah untuk memulai bisnis, meningkatkan pendapatan, dan keluar dari jurang kemiskinan. Nilai pinjamannya pun hanya dipatok sekitar US$200-500 atau senilai Rp3-8 juta . Program yang lahir pada tahun 1970-an ini didesain menjadi solusi para masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak bankable . Bankable berarti kondisi kelayakan seseorang untuk memenuhi syarat, layak, dan cukup aman oleh bank atau lembaga keuangan untuk diberikan produk atau layanan keuangan seperti pinjaman dan kredit. Melansir Bank Dunia, ada sedikitnya 1,7 miliar orang yang tidak “layak” bagi bank saat ini. Puluhan tahun berlalu, instrumen kredit ini tak bisa mencapai apa yang dicita-citakan. Pertanyaannya kini, jangan-jangan, kredit ini salah sasaran? Berlandaskan asumsi kasar Salah satu permasalahan mendasar adalah anggapan bahwa rumah tangga miskin di negara-negara berkembang kekurangan modal namun memiliki peluang investasi yang menguntungkan. Di lapangan, golongan ini memiliki bisnis kecil seperti gerobak makanan kaki lima, toko kelontong, hingga usaha jahit. Usaha-usaha tersebut cukup padat dan bermain di pasar yang sangat ketat. Akses modal kepada masyarakat berpenghasilan rendah termasuk juga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kerap hanya sekadar membuka bisnis baru tanpa diikuti perkembangan bisnis dan omzet yang signifikan. Artinya, bisnis tak berkembang meski banyak keluarga kurang mampu memiliki jiwa kewirausahaan . Memang pada dasarnya, banyak pihak lain yang diuntungkan akses kredit ini karena menumbukan lapangan pekerjaan yang stabil, pendidikan, pelatihan kejuruan, serta infrastruktur seperti jalan dan transportasi yang andal, listrik, akses internet, dan fasilitas pasar. Namun, memperlakukan semua rumah tangga miskin sebagai calon wirausahawan dapat berujung pada intervensi kebijakan yang keliru. Bukti dari India menunjukkan bahwa akses terhadap pinjaman mikro malah meningkatkan aktivitas pinjam-meminjam dan investasi pada usaha yang sudah ada, alih-alih membantu rakyat kecil merintis usaha baru. Begitu juga di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) mencatat meski nominal kredit UMKM meningkat, porsinya terhadap total kredit nasional hanya sekitar 17,16% dan sedang berapa dalam tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan pengembangan UMKM bukan lagi sekadar memperbesar nilai pembiayaan, tetapi juga memastikan pelaku usaha dapat naik kelas dari mikro menjadi kecil, lalu berkembang menjadi menengah . Baca juga: Stop banggakan jumlah UMKM: Fokuskan pada peningkatan kualitas dan kemudahan izin Hal ini menunjukkan bahwa pinjaman mikro dapat membantu jenis rumah tangga tertentu, tapi bukan merupakan mekanisme universal untuk keluar dari kemiskinan. Pinjaman mikro biasanya digunakan untuk apa? Masalah lainnya yang muncul adalah pinjaman tidak selalu digunakan untuk investasi produktif. Tak jarang para debitur menggunakan uang pinjaman untuk biaya pengobatan, biaya sekolah, biaya pangan, kebutuhan perumahan, serta guncangan ekonomi yang tak terduga. Hal seperti ini seharusnya bisa dihindari karena pinjaman keuangan mikro mematok beban bunga yang cukup tinggi. Sebagai contoh, di Bangladesh, Otoritas Regulasi Kredit Mikro menetapkan batas maksimum biaya sebesar 24% untuk pinjaman keuangan mikro. Sementara di Indonesia biayanya bisa menyentuh 30% melalui fintek legal . Masalahnya, UMKM sudah harus bersusah payah hanya sekadar membayar pokok pinjamannya. Risiko dan biaya pinjaman akan jadi beban baru yang tidak kalah berat bagi mereka. Risiko efek bola salju karena meminjam di banyak kredit Kredit mikro mungkin saja mudah diakses dan pinjamannya bisa berasal dari banyak penyalur. Tapi kemudahan tersebut sayangnya bukan untuk mengakselerasi bisnis melainkan untuk tutup lubang, gali lubang utang-utang sebelumnya. Penelitian di daerah rural Kamboja menunjukkan tren peminjam dana mikro semakin bergantung pada utang lain untuk melunasi pinjaman mikro mereka. Praktik ini membuat pemberi pinjaman—seperti bank atau lembaga pembangunan—tampak memiliki rekam jejak pelunasan yang baik, tetapi rumah tangga peminjam tetap berada dalam kondisi keuangan yang rentan. Pun, di Provinsi Sindh, Pakistan; semakin banyak debitur yang mengagunkan tanahnya yang menaikkan ketimpangan. Petani dengan kepemilikan lahan yang kecil memiliki akses kredit yang lebih terbatas dibandingkan pemilik lahan yang luas, karena mereka tidak memiliki cukup agunan untuk dijaminkan atas pinjaman tersebut. Alhasil, lahirlah paradoks penting. Janji awal dari akses keuangan mikro adalah untuk membantu orang-orang yang tidak memiliki agunan. Namun, modernisasi sektor ini justru dapat menjadikan aset produktif paling berharga milik masyarakat miskin—yaitu tanah mereka—sebagai jaminan atas utang mereka. Kondisi tersebut dapat menempatkan aset utama mereka dalam risiko jika mereka kesulitan melunasi pinjaman. Perlunya inovasi kebijakan baru Pelajaran yang sangat jelas adalah bahwa akses terhadap modal hanyalah salah satu kendala dalam pembangunan ekonomi. Pada kenyataannya, para pegiat usaha juga membutuhkan keterampilan, teknologi, infrastruktur, konektivitas digital, akses pasar, dan peluang kerja yang stabil. Bagi rumah tangga termiskin, berutang mungkin merupakan langkah yang sangat tidak tepat ketika mereka tidak mampu menghasilkan cuan yang dapat diandalkan dan berkelanjutan. Ruipeng Liu tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://theconversation.com/id .

Kenapa pendanaan untuk masyarakat kecil gagal mengentaskan kemiskinan di Asia ?
0