Masuk untuk berkontribusi

Untuk menulis, bertanya, atau berbagi kisah, daftar atau masuk dulu ya.

Feed-mu masih kosong

Ikuti Space atau penulis yang kamu minati, dan kiriman mereka akan muncul di sini.

Jelajah Space

Berita Eksternal

Dari sumber terpercaya di luar KabarWarga

GM
Gerald Manuel· Warga
Kiriman

WH!MSY Tuangkan Beragam Cerita dalam Album Perdana Lolliverse

Band pop asal Semarang, WH!MSY, resmi merilis album perdana bertajuk Lolliverse pada Jumat (28/8). Memuat sebelas lagu, album ini menjadi ruang bagi Naora Anindya (vokal), Abel Chaska (gitar), Anky Ardy (gitar), Rafael Siloam (bas), dan Ferdi Sembodo (drum) untuk menuangkan beragam cerita serta pengalaman personal melalui warna musik yang berbeda-beda. Tidak berangkat dari pemilihan genre sejak awal, WH!MSY memilih menjadikan cerita sebagai titik awal dalam proses kreatif mereka. Bagi band tersebut, setiap kisah memiliki emosi dan kebutuhan musikal masing-masing sehingga aransemen dibentuk mengikuti suasana yang ingin disampaikan. “Buat kami, setiap cerita punya ruangnya sendiri. Ada cerita yang mungkin lebih cocok dibawa dengan sesuatu yang ringan, ada juga yang membutuhkan warna yang lebih gelap atau emosional,” jelas Rafael saat dihubungi Pophariini (8/9). Pendekatan tersebut membuat Lolliverse memiliki spektrum musik yang cukup luas. WH!MSY tidak ingin membatasi eksplorasi berdasarkan genre maupun karakter tertentu selama musik yang dipilih mampu memperkuat cerita dalam setiap lagu. “Selama pesan bisa tersampaikan dengan baik, kami cukup terbuka dalam menentukan aransemennya. Kami sepakat tidak ingin terlalu membatasi musik pada genre atau karakter tertentu,” ucap Abel. Keragaman tersebut juga tidak terlepas dari kehidupan para personelnya. Proses pengerjaan lagu banyak berangkat dari kebiasaan mereka ketika berkumpul dan saling bertukar cerita tentang hal-hal yang sedang terjadi dalam kehidupan masing-masing. “Setiap kali kumpul, kami hampir selalu sempatin life update dan cerita soal apa yang sedang terjadi di kehidupan masing-masing,” kata Naora. Dari percakapan sehari-hari tersebut, berbagai hal kemudian berkembang menjadi gagasan lagu. Cerita yang muncul tidak selalu berasal dari momen besar, tetapi juga dari percakapan sederhana, kejadian kecil, hingga fase tertentu yang sedang dilewati masing-masing personel. “Menariknya, kami gak pernah benar-benar tahu cerita mana yang nantinya akan menjadi sebuah lagu. Kadang sesuatu yang awalnya cuma obrolan biasa ternyata punya perasaan yang cukup kuat untuk kami bawa ke musik,” lanjut Naora. Bagi WH!MSY, pengalaman personal tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan sebelas lagu dalam Lolliverse . Meski masing-masing memiliki warna berbeda, seluruh materi tetap berasal dari pengalaman yang dekat dengan para personel dan berkembang menjadi interpretasi musikal mereka. Album perdana ini sekaligus menjadi penanda bagi WH!MSY untuk memperkenalkan identitas mereka secara lebih utuh. Band tersebut menyusun Lolliverse dengan membiarkan perbedaan karakter tiap lagu menjadi bagian dari identitas mereka. Di luar perilisan album, WH!MSY juga menyebut Atlas Calling yang diinisiasi oleh WhoCares Collective sebagai salah satu ruang yang pernah memberikan panggung bagi mereka dan ingin disambangi kembali. Mereka melihat acara tersebut sebagai ruang yang mempertemukan musisi dengan karya dan karakter yang beragam. Kini, Lolliverse menjadi langkah pertama WH!MSY dalam memperkenalkan dunia yang mereka bangun lewat sebelas cerita dan beragam warna musik. Album ini sudah dapat didengarkan melalui berbagai layanan streaming. The post WH!MSY Tuangkan Beragam Cerita dalam Album Perdana Lolliverse appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

WH!MSY Tuangkan Beragam Cerita dalam Album Perdana Lolliverse
0
GM
Gerald Manuel· Warga
Kiriman

Radiohead Umumkan Tur 2027, Ini Musisi Indonesia yang Pernah Cover Lagu Mereka

Radiohead resmi mengumumkan rangkaian tur 2027 yang akan berlangsung di Australia dan Jepang. Dimulai pada Mei, tur ini mencakup 16 pertunjukan di Perth, Melbourne, dan Sydney, sebelum berlanjut ke Saitama, Jepang, pada Juni. Secara keseluruhan, Radiohead akan menggelar 21 pertunjukan sepanjang rangkaian tersebut. Kabar tersebut tentu menarik perhatian, termasuk soal seberapa jauh pengaruh Radiohead terhadap musisi di Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, sejumlah musisi dan band tanah air pernah menyebut atau memperlihatkan pengaruh musik asal Inggris tersebut dalam karya maupun penampilan mereka. Pengaruh itu juga dapat dilihat dari cukup banyaknya musisi Indonesia yang pernah membawakan lagu Radiohead dalam berbagai kesempatan, baik di panggung off-air , kanal digital, maupun siaran televisi. Berikut beberapa di antaranya. Ungu – Oncy & Friends (Onjam) feat. Rowman Lagu “Just” Dua personel Ungu ini sempat mengunggah video cover “Just” milik Radiohead di YouTube pada 2025. Dalam deskripsi video, Oncy sebagai pemilik kanal menyampaikan bahwa Radiohead merupakan salah satu band yang memberikan banyak pengaruh dalam perjalanan bermusiknya. Pemilihan “Just” dari album The Bends dilakukan karena Oncy, Rowman, dan teman-temannya merasa lagu tersebut memiliki keunikan tersendiri. The Rain Lagu “No Surprises” Video yang diunggah melalui kanal YouTube The Rain ini menampilkan Indra Prasta (vokal) membawakan “No Surprises” secara akustik. Tidak terdapat keterangan mengenai alasan Indra memilih lagu tersebut dalam deskripsi video. Namun, interpretasinya terhadap lagu ini memperlihatkan kedekatan dengan karakter vokal dan musik Radiohead. Fourtwnty Lagu “No Surprises” Video cover “No Surprises” dari Fourtwnty diunggah pada November 2020, ketika pandemi COVID-19 membuat aktivitas pertunjukan musik banyak terhenti. Kondisi tersebut membuat sejumlah musisi memanfaatkan platform digital sebagai ruang untuk tetap berkarya dan berekspresi. Melalui video tersebut, Fourtwnty memperlihatkan interpretasi mereka terhadap salah satu lagu Radiohead yang cukup dikenal. Aransemen yang dibawakan tetap mempertahankan nuansa lagu aslinya, sekaligus menghadirkan karakter Fourtwnty. Musikimia Lagu “High & Dry” Salah satu program televisi yang kerap menampilkan musisi lokal membawakan lagu-lagu internasional populer pernah menghadirkan Musikimia untuk membawakan “High & Dry”. Lewat format produksi televisi, penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana Musikimia menginterpretasikan salah satu singel populer Radiohead. David Bayu & Ariel NOAH Lagu “Fake Plastic Trees” David Bayu kerap mengajak bintang tamu untuk bermain musik bersama dalam program YouTube-nya. Saat mengundang Ariel NOAH, mantan vokalis Naif tersebut memilih “Fake Plastic Trees” dari album The Bends untuk dibawakan bersama. Dengan format dua gitar akustik, David dan Ariel menghadirkan interpretasi mereka terhadap lagu tersebut. Keduanya membawakan “Fake Plastic Trees” dengan pendekatan yang sederhana, tetapi tetap mempertahankan karakter emosional lagu aslinya. Vega Antares Lagu “No Surprises” “Rasanya lagu “No Surprises” memang jadi primadona untuk di-cover oleh musisi.” Begitu pula dengan Vega Antares yang membawakan lagu tersebut melalui kanal YouTube-nya. Tidak hanya bernyanyi, Vega juga menunjukkan kemampuannya memainkan gitar dengan membawakan akor sekaligus melodi utama lagu menggunakan satu gitar akustik. Hasilnya, “No Surprises” hadir dalam format yang lebih personal tanpa kehilangan melodi khas Radiohead. Radiohead sendiri akan memulai rangkaian tur 2027 pada 3 Mei di RAC Arena, Perth, Australia. Setelah menyelesaikan rangkaian pertunjukan di Australia, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Jepang dan menutup tur dengan lima pertunjukan di GMO Arena Saitama pada 8, 9, 11, 12, dan 13 Juni 2027. The post Radiohead Umumkan Tur 2027, Ini Musisi Indonesia yang Pernah Cover Lagu Mereka appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

Radiohead Umumkan Tur 2027, Ini Musisi Indonesia yang Pernah Cover Lagu Mereka
0
GM
Gerald Manuel· Warga
Kiriman

Merology Angkat Kisah Cinta Beda Keyakinan lewat Singel Ramu Percaya

Merology asal Depok kembali memperkenalkan karya terbaru lewat singel “Ramu Percaya” yang resmi dirilis pada 28 Agustus 2026. Membawa pendekatan storytelling pop, lagu ini mengangkat kisah dua orang yang masih ingin mempertahankan hubungan meski harus berhadapan dengan perbedaan keyakinan. “Ramu Percaya” bergerak di antara rasa cinta, keraguan, keyakinan, dan keinginan untuk tetap bersama. Merology tidak menjadikan perbedaan tersebut sekadar latar cerita, tetapi sebagai persoalan yang turut menguji bagaimana seseorang memahami arti percaya ketika perasaan berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar. Menariknya, pendekatan musik dalam lagu ini berbeda dari latar belakang penulis liriknya. Sosok yang menulis lirik “Ramu Percaya” lebih sering mengerjakan lagu-lagu metal, tetapi kali ini memilih jalur yang lebih lembut dan personal untuk bercerita. Perubahan pendekatan tersebut membuat “Ramu Percaya” lebih menekankan kekuatan cerita daripada sekadar mengejar karakter musik tertentu. Setiap bagian lagu diarahkan untuk membawa pendengar mengikuti pergulatan dua orang yang masih memiliki rasa, tetapi mulai berhadapan dengan pertanyaan tentang sejauh mana sebuah hubungan dapat dipertahankan. Bagi Merology, persoalan yang dibawa lagu ini juga tidak berhenti pada kisah cinta beda keyakinan. “Ramu Percaya” mencoba melihat bagaimana seseorang mencari pemahaman tentang kepercayaan ketika hubungan tidak lagi hanya berbicara soal perasaan. Singel ini menjadi langkah lanjutan Merology setelah sebelumnya mendapat perhatian dari sejumlah media lokal di Cianjur lewat singel perdana mereka, “Tanda Tanya”. Melalui “Ramu Percaya”, mereka ingin memperkenalkan karakter musik sekaligus pendekatan storytelling yang dibangun kepada pendengar yang lebih luas di Indonesia. Merology berharap pendengar tidak hanya mendengarkan lagu ini, tetapi juga menemukan pengalaman mereka sendiri di dalamnya, terutama mereka yang pernah berada dalam hubungan yang dipenuhi keraguan, harapan, maupun perbedaan yang sulit disatukan. The post Merology Angkat Kisah Cinta Beda Keyakinan lewat Singel Ramu Percaya appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

Merology Angkat Kisah Cinta Beda Keyakinan lewat Singel Ramu Percaya
0
GM
Gerald Manuel· Warga
Kiriman

The Skit Merangkum Kegelisahan Seperempat Abad dalam 1000 Kemungkinan

The Skit asal Solo resmi meninggalkan kehidupan perkuliahan dan berhadapan langsung dengan fase baru bernama “kehidupan dewasa”. Kelima personel band yang berasal dari kampus seni di Kota Solo membawa cerita tentang perubahan tersebut ke dalam album penuh perdana mereka, 1000 Kemungkinan , yang dirilis pada 4 September 2026. Judul 1000 Kemungkinan tidak merujuk pada pilihan yang tersusun rapi dan tinggal dipilih satu per satu. Bagi The Skit, angka tersebut lebih dekat dengan banyaknya hal yang harus dipercaya ketika seseorang menjalani hidup tanpa tahu pasti ke mana sebuah keputusan akan membawa mereka. Pemilihan angka 1000 sendiri berangkat dari kebiasaan orang Indonesia menggunakan angka tersebut untuk menggambarkan sesuatu yang banyak, besar, atau sulit dihitung. Album yang berisi 11 lagu ini membawa cerita ke berbagai arah. Lagu pertama, “Nestapa, Cinta, dan Derita”, membuka perjalanan dengan persoalan cinta, dendam, luka, dan tawa, sebelum “Badai Pasti Berlalu (Lalang)” mengingatkan bahwa dalam situasi tertentu, bertahan untuk hari ini saja sudah cukup. Cerita lainnya muncul lewat “Di Laut Tinggal Genangan” yang mempertemukan harapan, doa, dan cinta. “Membelah Neraka” berbicara tentang dua orang dengan isi kepala berbeda yang memilih tetap berjalan bersama, sementara “Api api API” membawa semangat untuk menyalakan kembali sesuatu yang sempat padam. Di “Bait Bait Ini Penuh Dosa”, perhatian bergeser pada kesepian dan algoritma, termasuk perasaan asing ketika berada di antara orang-orang yang terlihat serupa. Salah satu bagian paling personal menurut personel The Skit hadir di lagu “Waktu > Kepalamu”. Lagu ini merangkum ketidaktahuan, kesendirian, kegagalan yang berulang, hingga kecemasan tentang masa depan. Di tengah berbagai hal yang belum terjawab, The Skit meletakkan waktu sebagai sesuatu yang mungkin pada akhirnya mampu menjelaskan hal-hal yang belum bisa dipahami sekarang. Album 1000 Kemungkinan dikerjakan selama kurang lebih dua tahun, bertepatan dengan masa ketika para personel mulai memasuki usia seperempat abad, ketika keputusan hidup terasa semakin nyata dan tidak bisa lagi berdalih dengan alasan “masih muda”. Meski begitu, 11 lagu dalam album ini tetap mereka selesaikan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Humor kemudian menjadi bagian penting dari cara The Skit menghadapi keadaan. Ketika sebuah persoalan terlalu berat untuk dipahami, mencari sisi lucunya menjadi cara lain untuk tetap berjalan. Pendekatan tersebut turut memengaruhi visual album yang tidak dibuat sepenuhnya muram. Elemen-elemen seperti kegelapan, cinta, tawa, warna, dan absurditas saling berdampingan di album ini, termasuk lewat prinsip visual mereka, “ Atur seberengsek mungkin! ” Kuda lumping kembali digunakan sebagai salah satu elemen visual 1000 Kemungkinan . Sebelumnya telah beberapa kali hadir dalam berbagai kesempatan The Skit, elemen tersebut kini terasa seperti totem yang ikut mengiringi perjalanan album. Pada akhirnya, 1000 Kemungkinan tidak berusaha merapikan atau menjadi solusi bagi semua persoalan yang dibawa. Album ini justru membiarkan setiap cerita bergerak dengan caranya sendiri, sekaligus menunjukkan bahwa makna bisa terus berubah seiring waktu. The post The Skit Merangkum Kegelisahan Seperempat Abad dalam 1000 Kemungkinan appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

The Skit Merangkum Kegelisahan Seperempat Abad dalam 1000 Kemungkinan
0
RA
Raihan Adianta· Warga
Kiriman

Tiara Andini Lepas Videoklip untuk Singel Tulang dan Nadi

Tiara Andini merilis video musik “Tulang dan Nadi” melalui kanal YouTube resminya pada 3 September. Video tersebut mengambil latar di Jember, Jawa Timur, kota kelahiran sekaligus tempat Tiara tumbuh sebelum menjalani karier di industri musik Indonesia. Video musik ini hadir sekitar satu bulan setelah lagunya dirilis pada 31 Juli 2026. Berdasarkan katalog Apple Music, “Tulang dan Nadi” berdurasi 4 menit 28 detik dan dirilis sebagai singel di bawah Universal Music Indonesia. Berbeda dari video yang berpusat pada hubungan pasangan, visual “Tulang dan Nadi” menampilkan beragam bentuk kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari. Ceritanya mencakup kedekatan bersama keluarga, sahabat, serta orang-orang yang memberikan waktu, perhatian, dan dukungan dalam berbagai fase kehidupan. “Ternyata kita bisa nemuin cinta dari hal-hal kecil setiap harinya. Bukan hanya soal pasangan, tapi tentang mereka semua yang datang di hidupku dengan selalu memberikan cinta dan ruang untukku bercerita,” ujar Tiara dalam siaran pers. Menurutnya, makna lagu tersebut tidak terbatas pada pasangan, tetapi juga mencakup orang-orang yang memberikan kasih sayang dan ruang untuk berbagi cerita. Pemilihan Jember membuat video musik ini memiliki hubungan personal dengan perjalanan Tiara. Sejumlah suasana keseharian di kota tersebut digunakan untuk memperlihatkan bahwa perhatian sederhana dapat menjadi bentuk kasih sayang yang berarti. Pendekatan tersebut sekaligus memperluas cerita lagu ke dalam pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan banyak orang. The post Tiara Andini Lepas Videoklip untuk Singel Tulang dan Nadi appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

Tiara Andini Lepas Videoklip untuk Singel Tulang dan Nadi
0
GM
Gerald Manuel· Warga
Kiriman

Lewat SINTESIS, YKRUMK, TECHOO, dan ZEINSONE Satukan Bahasa Visual

Graffiti di Yogyakarta tumbuh melalui pertemuan berbagai kultur. Tidak hanya berdampingan dengan seni visual lainnya, praktik graffiti juga beririsan dengan kultur skateboard dan musik yang ikut membentuk ekosistemnya. Dari berbagai pertemuan tersebut, lahir banyak ruang kolaborasi yang membuat regenerasi dalam skena graffiti terus berjalan. Perkembangan tersebut membuat graffiti tidak lagi terpaku pada tembok jalanan. Praktiknya mulai merambah berbagai medium, mulai dari kanvas, panel kayu, bentuk tiga dimensi, hingga skate bowl. Perubahan cara pandang inilah yang kemudian menjadi salah satu latar yang mempertemukan YKRUMK, TECHOO, dan ZEINSONE dalam proyek SINTESIS. Digelar di MUUSE Coffee Hub & Space, SINTESIS mempertemukan tiga karakter, bahasa visual, serta cara pandang berbeda dalam satu ruang. Alih-alih menyeragamkan pendekatan, proyek ini justru menjadikan perbedaan sebagai bagian penting dari karya. SINTESIS juga membawa refleksi terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kepentingan, keserakahan, konflik, hingga hasrat untuk menguasai menjadi konteks yang kemudian diterjemahkan melalui karya kolaboratif. Di tengah persoalan tersebut, ketiga seniman mencoba kembali melihat hal-hal sederhana seperti kemanusiaan, empati, dan kebaikan sebagai bagian dari percakapan yang mereka bangun. Rangkaian SINTESIS berlangsung dalam beberapa tahap. Setelah giant painting landscape yang digelar pada 28 Juli 2026 dan bowl skate painting pada 22 Agustus 2026, proyek ini akan berlanjut melalui trio exhibition pada 12–26 September 2026. Pembukaan pameran dijadwalkan pada 12 September pukul 16.00 WIB dan akan dibuka oleh Kill The DJ, dengan penampilan ToneFayaTune, DJ Ghaitza, DJ Kateratchy, Knockdown, serta Serigala Malam. YKRUMK membawa ketertarikan terhadap seni urban dan eksplorasi visual kontemporer ke dalam proyek ini. Ia mengembangkan praktik dari mural, graffiti, desain visual, hingga instalasi, dengan melihat seni bukan hanya sebagai persoalan estetika, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan gagasan dan membangun koneksi dengan masyarakat. Sementara itu, TECHOO telah mempelajari graffiti sejak 2009. Karakter visualnya banyak bermain pada struktur font, presisi garis, kombinasi warna, tekstur, kolase, hingga bentuk sculpture . Kehadiran karakter OCHO yang lahir dari transformasi huruf “O” juga menjadi salah satu bagian dari perkembangan visualnya dalam beberapa tahun terakhir. ZEINSONE sendiri mulai menekuni graffiti sejak 2008 dan melihat praktik tersebut sebagai medium yang tidak berhenti pada ekspresi spontan di ruang publik. Seiring waktu, ia memperdalam pemahamannya melalui berbagai referensi, interaksi komunitas, serta studi mandiri menggunakan buku, majalah, arsip visual, dan media digital. Lewat SINTESIS, ketiganya akhirnya bertemu dalam satu proyek yang tidak berusaha mencari satu suara yang seragam. Perbedaan karakter justru menjadi titik berangkat untuk membangun sebuah ruang dialog. Sebuah pertemuan yang menunjukkan bagaimana graffiti dapat terus bergerak, berkembang, dan menemukan bentuk baru tanpa meninggalkan hubungan kuatnya dengan ruang publik dan komunitas. The post Lewat SINTESIS, YKRUMK, TECHOO, dan ZEINSONE Satukan Bahasa Visual appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

Lewat SINTESIS, YKRUMK, TECHOO, dan ZEINSONE Satukan Bahasa Visual
0
GM
Gerald Manuel· Warga
Kiriman

The Kuda Rilis Kesurupan GANYANG Perak SARAP

Usai merilis singel “ALGOJO” bulan April lalu, The Kuda lanjut merilis maxi-single berisi empat lagu yang dirangkum dalam nama Kesurupan GANYANG Perak SARAP . Judul tersebut tak lain adalah judul-judul empat lagu yang ada di dalamnya. The Kuda yang saat ini diperkuat Adipati pada vokal, Andi ‘Idam’ Fauzi (gitar), Gilang ‘Ebel’ Gunawan (bas), dan Iskandar ‘Otot’ Iklas (drum) ini merilis maxi-single tersebut sebagai pembuka rangkaian perilisan album penuh terbaru yang bakal dirilis awal tahun depan. Kabarnya, empat lagu ini akan ditemani 10 nomor lainnya, menjadi total 14 lagu dalam album. “Kami ingin teman-teman yang nanti akan mendengarkan album mendatang gak ‘kaget’, jadi kami ingin ada perkenalan dulu lewat maxi-single ini. Anggap saja maxi-single ini adalah awalan untuk menikmati seluruh materi yang ada di album,” jelas Ebel dalam siaran pers. Empat lagu dalam maxi-single merangkum berbagai tema, mulai dari kondisi sosial politik, dinamika pekerjaan, hingga hubungan pertemanan di usia dewasa dan satu babak kehidupan yang dipenuhi oleh masa-masa sulit. The Kuda menyampaikannya dengan lugas, tanpa basa basi, dan total durasi yang hanya sekitar empat menit. Adipati selaku penulis lirik mengaku bahwa tema-tema yang diangkat di lagu-lagu ini dan album yang akan datang cukup personal bagi masing-masing personel. Ia menjelaskan, bahwasannya musik lahir dari kegelisahan manusia, bahkan amarah yang tertahan. Dengan banyaknya dinamika di negara ini, semua kemarahan dan kesulitan itu malah bertambah banyak. “Penderitaan itu pun akhirnya tercurahkan lahir menjadi kumpulan kata-kata berserakan di kepala yang terbentuk kalimat, menjadi lirik lagu-lagu di album baru,” tutup Adipati. Selain dirilis digital, Kesurupan GANYANG Perak SARAP juga hadir dalam format kaset pita oleh Disaster Records. Tak hanya itu, merchandise spesial untuk perpanjangan tangan maxi-single ini juga sudah dipersiapkan. Mari dengan sabar kita nantikan album penuh terbaru dari The Kuda. The post The Kuda Rilis Kesurupan GANYANG Perak SARAP appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

The Kuda Rilis Kesurupan GANYANG Perak SARAP
0
RA
Raihan Adianta· Warga
Kiriman

Agate dan Red Dunes Games Rilis Port of Jumanah secara Global

Pengembang gim asal Bandung, Agate, bersama studio Abu Dhabi Red Dunes Games merilis Port of Jumanah secara global (07/09). Gim aksi petualangan 2,5D dengan elemen roguelite ini tersedia untuk PC melalui Steam dan Epic Games Store, serta PlayStation 5 melalui PlayStation Store. Port of Jumanah dikembangkan selama sekitar 18 bulan oleh tim inti yang beranggotakan tidak lebih dari 20 orang. Agate juga melibatkan lebih dari 60 talenta Indonesia dalam bidang desain, pemrograman, visual, audio, quality assurance , dan pemasaran. Permainan ini terinspirasi dari tradisi penyelaman mutiara di kawasan Teluk Arab yang telah berlangsung ribuan tahun. Pemain mengikuti perjalanan Mansour, seorang penyelam yang menjelajahi berbagai wilayah laut, mengumpulkan sumber daya, merekrut kru, meningkatkan perlengkapan, dan memulihkan Pelabuhan Jumanah. Kondisi setiap ekspedisi dibuat berubah sehingga pemain dapat menemui kombinasi lingkungan dan tantangan yang berbeda. “Kami ingin memadukan eksplorasi, pertarungan, dan perkembangan cerita dalam satu perjalanan yang utuh,” kata sutradara game Agate, Shandhi Sayogo, dalam keterangan tertulis. Kolaborasi ini merupakan satu dari tiga proyek yang sedang dikerjakan Agate dan Red Dunes Games. Dua gim kolaborasi lainnya dijadwalkan meluncur pada 2027. Sebelum dirilis, versi demo Port of Jumanah telah diperkenalkan sejak Mei 2026 dan mendapat liputan dari lebih dari 100 kreator di 18 negara. Per 11 September, halaman Steam mencatat 136 ulasan pengguna dan seluruhnya berstatus positif. Gim ini juga menyediakan 35 pencapaian serta mendukung 11 bahasa, termasuk Indonesia dan Arab. Red Dunes Games bertindak sebagai penerbit. Sementara itu, Agate yang berdiri di Bandung pada 2009 telah menangani ratusan proyek pengembangan gim untuk berbagai platform. The post Agate dan Red Dunes Games Rilis Port of Jumanah secara Global appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

Agate dan Red Dunes Games Rilis Port of Jumanah secara Global
0
RA
Raihan Adianta· Warga
Kiriman

Shaggydog Gelar Kelas BE29AS untuk Berbagi Pengalaman di Dunia Musik

Shaggydog menggelar Kelas BE29AS, rangkaian lokakarya yang membahas berbagai sisi dunia musik sepanjang September 2026 di Yogyakarta. Program ini menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-29 band tersebut sekaligus langkah menuju tiga dekade perjalanan mereka. Nama BE29AS diambil dari tema perayaan “Sehat, BE29AS, Waras” yang diperkenalkan saat ulang tahun Shaggydog pada 1 Juni 2026. “Arti kata bergas dalam bahasa Jawa adalah sehat, kuat, dan penuh energi secara fisik,” kata vokalis Shaggydog, Heruwa, dalam siaran pers. Perayaan usia ke-29 itu sebelumnya juga digelar bersama komunitas di Sayidan, kawasan yang lekat dengan perjalanan band tersebut. Melalui Kelas BE29AS, peserta dapat mempelajari teknik bermain musik, pengolahan vokal, sound, proses kreatif, manajemen band, hingga pengetahuan tentang industri musik. Selain para personel Shaggydog, kegiatan ini melibatkan Siddha dari Skandal, Raissa Noverine dari Lealona, Leca Percussion, serta Uya Cipriano dari LastElise dan Majelis Berduri. Rangkaian kelas dibuka pada 9 September melalui sesi marketing band dan olah vokal di JRNY Coffee & Records. Agenda berikutnya meliputi kelas sound gitar pada 15 September di Piezo Kopi, kelas drum pada 23 September di Milli Sayidan, serta kelas manajemen band dan aransemen lagu pada 30 September di On The Pop. Lokasi kegiatan dipilih dari sejumlah ruang kreatif yang aktif mendukung ekosistem musik Yogyakarta. Shaggydog sendiri dikenal sebagai kelompok reggae dan dub asal Yogyakarta yang telah berkarier selama lebih dari 25 tahun. Seluruh kelas terbuka untuk umum melalui pendaftaran. Peserta tidak dikenai biaya lokakarya, tetapi diminta membeli makanan atau minuman di lokasi sebagai bentuk dukungan terhadap ruang kreatif yang menjadi tempat penyelenggaraan. The post Shaggydog Gelar Kelas BE29AS untuk Berbagi Pengalaman di Dunia Musik appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

Shaggydog Gelar Kelas BE29AS untuk Berbagi Pengalaman di Dunia Musik
0
RA
Raihan Adianta· Warga
Kiriman

Temarram Hadirkan Album Perdana Antara Angkara

Unit synthwave Temarram merilis album penuh perdana bertajuk Antara Angkara (11/09). Album ini hadir lima tahun setelah grup tersebut terbentuk dan berisi delapan lagu yang membahas kehidupan, kehilangan, harapan, penyesalan, serta penerimaan terhadap perubahan. Temarram beranggotakan Regga Prakarso pada gitar dan programmed synthesizer , Sherina Redjo sebagai vokalis, serta M.A Tanthowi pada bass. Perjalanan menuju album ini sebelumnya ditandai dengan perilisan singel “Pusara” pada 2025. Grup tersebut juga telah mrilis EP Montase pada 2022 dan “Selubung Abadi” setahun kemudian. Antara Angkara dibuka melalui “Dan Kau Terlunta” dan dilanjutkan oleh 7 lagu lainnya. Secara tematik, kedelapan lagu menyusun perjalanan dari keruntuhan dan kemarahan menuju harapan serta permulaan baru. Melalui siaran pers disebutkan, band turut menggandeng Pandu Fuzztoni yang bertindak sebagai produser, penata musik, sekaligus pengisi beberapa instrumen. Ia dikenal pernah menjadi pemain bass The Adams hingga 2024. Album ini juga turut menghadirkan Otong, vokalis band rock industrial Koil, dalam singel “Afeksi dan Mati”. Gerry Lainil Fauzi, vokalis dan gitaris Dirty Ass juga terlibat dalam “Aksioma”. Proses rekaman berlangsung di Starlight Studio, Fuzztoni Labs, dan Tonalwerks, sementara, mixing dan mastering dikerjakan Pandu Fuzztoni. Musisi lain yang terlibat meliputi Arya Ditiar, John Tampubolon, dan Lingga Mughni. Untuk sampul album, Temarram bekerja sama dengan seniman Finlandia Suvi Karjalainen. Karyanya menggambarkan ruang untuk berhenti dan merenungkan berbagai hal yang telah berlalu. The post Temarram Hadirkan Album Perdana Antara Angkara appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

Temarram Hadirkan Album Perdana Antara Angkara
0
GM
Gerald Manuel· Warga
Kiriman

Avhath Lepas amassed untuk Buka Jalan Menuju Album Penuh Perdana

Sempat dikenal sebagai band yang tidak mengeluarkan album penuh, Avhath akhirnya bersiap mematahkan sematan tersebut dengan merilis singel “amassed” pada 10 September sebagai karya pembuka rangkaian perilisan album penuh perdana mereka bertajuk Avhath , yang dijadwalkan rilis pada 9 Oktober mendatang. Jika pada materi-materi sebelumnya Avhath banyak bekerja sama dengan pihak eksternal, album self-titled mereka ini sepenuhnya dikerjakan oleh para personel dan minim keterlibatan pihak luar. Dalam siaran pers, para personel mengaku memang ingin punya kendali penuh atas proses kreatif di album ini. “Banyak belajar hal-hal baru yang sebelumnya awam buat kita, dari proses rekaman, pre-production, sampai post-production, dari produser-produser rilisan Avhath terdahulu. Kali ini gue mau coba duduk di kursi produser dan mengepalai proyek ini,” kata Reynir, gitaris sekaligus main composer album, dalam siaran pers. Album ini juga menjadi cara Avhath untuk menengok kembali perjalanan karier mereka sejak terbentuk pada 2012. Di sisi lain, album ini menjadi momentum menuju titik baru yang terus dijelajahi oleh Avhath. Berisi sembilan lagu, album Avhath akan diawali trek pertama bertajuk “Genesis”, nomor instrumental yang menjadi gerbang masuk perjalanan album. Delapan lagu setelahnya bakal banyak membahas kehadiran parasitik dalam berbagai sudut pandang. Pembahasan mengenai parasit tidak dijelaskan secara eksplisit oleh Ekrig sebagai penulis lirik. “Supaya orang-orang tidak terpaku hanya pada penjelasan gue saja. Gue pengin mereka bisa membayangkan sendiri dan punya persepsi serta perspektif personal ketika menyelami album ini,” ungkapnya. Pengerjaan album ini berawal pada Januari 2026 dan berlangsung di dua tempat. Proses workshop berlangsung di rumah Reynir, sedangkan proses eksekusi rekaman dilakukan di Studio Rekamkamar, dengan Rama Harto dipercaya sebagai recording engineer . Untuk mixing , Rama Harto kembali terlibat dengan bantuan sentuhan dari Reynir dan Ekrig. Mastering album ini menggunakan dua mastering engineer untuk format yang berbeda. Format digital ditangani oleh Will Killingsworth di Dead Air, sedangkan format kaset pita, CD, dan vinyl ditangani oleh Colin Marston di Menegroth, The Thousand Caves. Sampul album Avhath yang menampilkan lampu berwarna merah adalah karya fotografi bertajuk Let There Be Red oleh Yogi Kusuma pada 2021. Sementara itu, foto profil terbaru Avhath dikerjakan oleh Meidiana Tahir. Banyaknya informasi mengenai album Avhath yang akan dirilis Oktober mendatang membuat perilisan ini cukup dinantikan. Sembari menunggu, mari simak “amassed” di seluruh layanan streaming. The post Avhath Lepas amassed untuk Buka Jalan Menuju Album Penuh Perdana appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

Avhath Lepas amassed untuk Buka Jalan Menuju Album Penuh Perdana
0
RA
Raihan Adianta· Warga
Kiriman

For Revenge Gandeng YB dan Tepe dalam Singel Museum Duka

Grup rock alternatif asal Bandung, For Revenge merilis singel terbaru mereka berjudul “Museum Duka” pada 4 September. Lagu tersebut menjadi kolaborasi mereka bersama YB, nama panggung Reza Arap, serta drummer Tepe. Kolaborasi ini berawal ketika ketiganya tampil bersama membawakan “Serana” dan “Penyangkalan” dalam sebuah festival. Setelah penampilan tersebut, YB menyampaikan gagasan kolaborasi kepada vokalis For Revenge, Boniex. Tepe turut terlibat setelah sebelumnya beberapa kali tampil sebagai drummer band tersebut. “Buat kami itu suatu kehormatan. Terlebih menyatukan For Revenge, YB, dan Tepe dalam sebuah lagu menjadi tantangan tersendiri,” kata Boniex dalam siaran pers. Dalam proses produksinya, Boniex dan YB mengembangkan lirik mengenai kehilangan, kenangan, serta cara seseorang memproses duka. Tepe mengisi bagian drum, sementara Faisal Riant membantu pengerjaan aransemen. Faisal sebelumnya terlibat dalam proyek For Revenge bertajuk “I Miss You Every Brand New Day”. Menurut YB, “Museum Duka” menggambarkan ruang personal yang digunakan seseorang untuk menyimpan kenangan tentang sosok atau pengalaman yang telah berlalu. “Lagu ini bukan cuma tentang gue, bukan cuma tentang For Revenge. Kami berusaha mewakili mereka yang juga merasa kehilangan,” ujar YB. Lagu ini sekaligus menandai pengalaman pertama YB bernyanyi dalam bahasa Indonesia dan berkolaborasi dengan sebuah band. Produksinya turut melibatkan Samuel Theophilus Japutra, Iwan Popo pada bagian strings, serta Kamga sebagai pengarah vokal. Mixing dan mastering dikerjakan Dimas Pradipta di Sum It Studio. Selain format audio, “Museum Duka” juga dirilis dalam format videoklip dan video lirik melalui kanal resmi For Revenge. Lagu ini juga tercantum sebagai bagian dari album Perayaan Patah Hati – Babak 2 . The post For Revenge Gandeng YB dan Tepe dalam Singel Museum Duka appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

For Revenge Gandeng YB dan Tepe dalam Singel Museum Duka
0
RA
Raihan Adianta· Warga
Kiriman

Pee Wee Gaskins dan Boniex Angkat Realitas Keluarga dalam (R)u(N)tuh

Pee Wee Gaskins berkolaborasi dengan vokalis For Revenge, Boniex, dalam singel terbaru berjudul “(R)u(N)tuh” (10/09). Lagu ini membahas kondisi keluarga yang terlihat utuh dari luar, tetapi menyimpan ketegangan dan ketidakbahagiaan di dalamnya. Ide lagu tersebut berawal dari kampanya yang digagas personel Pee Wee Gaskins, Dochi Sadega, melalui Threads. Ia mengumpulkan tanggapan dan melakukan wawancara singkat dengan orang-orang yang memiliki pengalaman terkait keluarga tidak harmonis. Beragam cerita itu kemudian diolah menjadi dasar tema lagu. Kolaborasi bersama Boniex berkembang ketika ia membantu menemukan notasi untuk lirik yang telah ditulis Dochi. Karakter vokalnya kemudian dipadukan dengan vokal Sansan, sementara aransemennya tetap mempertahankan identitas pop-punk Pee Wee Gaskins. “Pop-punk enggak selamanya harus ceria. Lewat lagu ini, kami ingin membawa cerita yang berat dengan cara yang tetap jujur dan dekat dengan pendengar,” kata Pee Wee Gaskins dalam siaran pers. Melalui singel ini, band menyoroti bahwa mempertahankan bentuk keluarga tidak selalu menjamin seluruh anggota di dalamnya merasa aman dan bahagia. Lagu ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi perceraian atau mendorong pandangan tertentu, melainkan membuka percakapan mengenai kebutuhan emosional anak dalam situasi keluarga yang kompleks. Lagu ini ditulis oleh Rez Omo, Dochi Sadega, dan Boniex. Produksinya ditangani oleh Renaldy Prasetya, Harry Pramahardhika, serta Sansan, dengan proses rekaman berlangsung di Sony Music Studios dan SAE Jakarta. Selain tersedia dalam format audio, “(R)u(N)tuh” juga hadir melalui visualizer resmi di kanal YouTube Pee Wee Gaskins. The post Pee Wee Gaskins dan Boniex Angkat Realitas Keluarga dalam (R)u(N)tuh appeared first on Pophariini . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di pophariini.com .

Pee Wee Gaskins dan Boniex Angkat Realitas Keluarga dalam (R)u(N)tuh
0
RJ
Redaksi Jaring· Warga
Kiriman

AEER: Aktivitas Industri dan Penggunaan Batu Bara Picu Pencemaran Udara di Cilegon

Aktivitas industri yang masih bergantung pada batu bara dinilai menjadi salah satu sumber utama pencemaran udara di Kota Cilegon, Banten. Selain menghasilkan emisi karbon, pembakaran batu bara dalam proses produksi industri juga melepaskan partikulat yang dapat menyebar ke kawasan permukiman di sekitar kawasan industri. Temuan tersebut disampaikan peneliti Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) berdasarkan penelitian yang dilakukan pada Agustus hingga September tahun lalu. Penelitian difokuskan pada emisi dari sektor industri, terutama industri baja yang menjadi salah satu sektor utama di Kota Cilegon. Peneliti AEER, Timotius Rafael menjelaskan bahwa Cilegon merupakan salah satu pusat industri baja nasional dengan kapasitas produksi berskala besar, termasuk PT Krakatau Steel dan anak usahanya, PT Krakatau Posco. Dalam proses produksinya, industri tersebut masih menggunakan batu bara, baik sebagai sumber energi maupun bagian dari proses produksi. “Selain karbon, ada juga pencemaran berupa debu dan partikulat akibat proses pembakaran. Itu yang berdampak langsung ke masyarakat sekitar dan menjadi salah satu temuan penelitian kami,” kata Timotius. Industri baja dan tingginya emisi Dalam laporan penelitian yang dirilis pada Oktober tahun lalu, AEER menyebut industri baja sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan teknologi Blast Furnace-Basic Oxygen Furnace (BF–BOF) yang masih mendominasi sekitar 75 persen industri baja nasional. Menurut laporan tersebut, teknologi BF–BOF menghasilkan rata-rata 2,2 ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) untuk setiap ton baja yang diproduksi. Angka tersebut lebih dari empat kali lipat dibandingkan teknologi Electric Arc Furnace (EAF), yang menghasilkan sekitar 0,5 ton CO₂e per ton baja. PT Krakatau Posco, yang merupakan pabrik baja terpadu berbasis BF–BOF terbesar di Indonesia, dinilai menjadi salah satu penyumbang emisi besar di sektor manufaktur. Kapasitas produksinya mencapai jutaan ton baja setiap tahun. Namun, persoalan pencemaran di Cilegon tidak hanya berasal dari proses produksi baja. AEER juga mengkaji keberadaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive yang digunakan oleh industri untuk memenuhi kebutuhan energi. Timotius mengatakan kajian mengenai PLTU captive tidak menjadi fokus utama penelitian. AEER lebih melihat keseluruhan aktivitas industri di Kota Cilegon yang masih menggunakan batu bara, baik sebagai sumber energi maupun dalam proses produksinya. Dari hasil perhitungan, AEER memperkirakan 60 industri skala menengah dan besar di Cilegon menghasilkan partikulat dari cerobong dalam jumlah yang, jika dikonversi berdasarkan berat, setara dengan sekitar 700 karung beras berkapasitas 50 kilogram dalam setahun. Besarnya jumlah tersebut menggambarkan akumulasi partikulat yang dilepaskan dari berbagai sumber emisi industri. Menurut Timotius, kontribusi dari PLTU captive dan proses produksi tidak mudah dipisahkan karena keduanya sama-sama menggunakan batu bara dan menghasilkan partikulat. “PLTU pakai batu bara, industri juga pakai batu bara. Jadi partikelnya bercampur dan menyebar ke wilayah sekitar,” ujarnya. Debu dirasakan langsung warga Dampak pencemaran tersebut, menurut AEER, tidak berhenti di dalam kawasan industri. Peneliti juga menemukan berbagai keluhan kesehatan dari masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri. Peneliti AEER Jasmine Exa Kamilia mengatakan keluhan yang paling banyak ditemukan berkaitan dengan paparan debu. Berbeda dengan sebagian bentuk pencemaran yang sulit dilihat secara langsung, keberadaan debu dapat dirasakan dan diamati oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian AEER tidak hanya menghitung jumlah partikulat, tetapi juga menguji kandungan debu yang ditemukan di lingkungan sekitar. Hasil pengujian menunjukkan adanya silika dan sejumlah logam berat. Dalam jangka panjang, kandungan tersebut dinilai berpotensi mencemari tanah dan air tanah yang dimanfaatkan masyarakat. “Berdasarkan data dari puskesmas yang kami himpun, beberapa penyakit yang ditemukan antara lain ISPA dan stroke,” kata Jasmine. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian AEER adalah Kelurahan Tegal Ratu, kawasan permukiman yang berada dekat dengan kompleks industri Cilegon. Wilayah tersebut dihuni hampir 12 ribu orang dan tercatat sebagai salah satu daerah dengan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tertinggi di Kota Cilegon. Dalam survei terhadap 94 warga yang telah tinggal di wilayah tersebut selama lebih dari 10 tahun, AEER menemukan sejumlah keluhan kesehatan, antara lain batuk kronis, sesak napas, serta gangguan pernapasan lainnya. Laporan itu juga mengutip dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang menunjukkan konsentrasi PM₂.₅ di sejumlah titik pemantauan melampaui baku mutu yang berlaku di Korea Selatan. Mendorong transisi dari batu bara Atas temuan tersebut, AEER mendorong pemerintah dan pelaku industri menyusun peta jalan yang jelas untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara. Transisi, menurut mereka, perlu diarahkan pada penggunaan teknologi dan sumber energi yang lebih bersih. Timotius mengatakan perusahaan perlu memiliki target pengurangan emisi yang terukur, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan target yang jelas, masyarakat dapat mengetahui arah perubahan yang akan dilakukan industri serta sejauh mana upaya pengurangan emisi berjalan. Menurut dia, transisi energi juga tidak cukup hanya mempertimbangkan aspek teknologi dan lingkungan. Kepentingan masyarakat yang terdampak pencemaran serta keberlangsungan pekerja di sektor industri perlu menjadi bagian dari proses tersebut. Jasmine mengatakan pelaku industri pada dasarnya telah memahami pentingnya penggunaan energi yang lebih bersih. Persoalannya, penerapan teknologi baru masih menghadapi tantangan berupa kebutuhan investasi yang besar dan kepastian pasokan energi. “Perusahaan khawatir apakah teknologi baru bisa menggantikan proses yang sekarang. Industri membutuhkan pasokan listrik yang stabil selama 24 jam. Karena itu, mereka berharap ada dukungan pemerintah agar transisi menuju energi bersih tidak justru membebani industri secara finansial,” ujarnya. Karena itu, AEER menilai transisi energi di kawasan industri Cilegon membutuhkan kerja sama lintas pihak. Pemerintah, akademisi, masyarakat, dan pelaku usaha perlu duduk bersama untuk mencari solusi yang dapat menekan emisi dan pencemaran tanpa mengorbankan keandalan energi serta daya saing industri. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri, persoalannya bukan hanya mengenai seberapa besar emisi yang dihasilkan setiap tahun, tetapi juga bagaimana debu dan partikulat tersebut memengaruhi kualitas lingkungan dan kesehatan mereka sehari-hari. Penulis: Audi Kusuma Sumber: surosowan.id Artikel AEER: Aktivitas Industri dan Penggunaan Batu Bara Picu Pencemaran Udara di Cilegon pertama kali tampil pada Jaring . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id .

AEER: Aktivitas Industri dan Penggunaan Batu Bara Picu Pencemaran Udara di Cilegon
0
RJ
Redaksi Jaring· Warga
Kiriman

Surat PHK dan Kebun yang Mengubah Jalan Hidup

Malik (26) berdiri di antara deretan pohon jambu air di sebuah kebun di pinggiran Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Tangannya sesekali memeriksa buah yang mulai matang. Hari itu, sebagian siap dipanen dan dijual, sebagian lainnya masih menunggu beberapa hari lagi. Beberapa tahun lalu, aktivitas seperti itu bukan bagian dari rencana hidupnya. Malik sebelumnya bekerja di sektor formal hingga pandemi Covid-19 membuatnya kehilangan pekerjaan. “Saat pertama kali surat (PHK) itu keluar, rasanya dunia runtuh. Sedih, kecewa, dan takut menyatu karena tidak tahu harus menghidupi diri dengan cara apa lagi,” kenang Malik. Setelah kehilangan pekerjaan, Malik menghadapi pilihan yang juga dihadapi banyak pekerja lain, yakni kembali mencari pekerjaan formal atau mencoba sumber penghasilan lain. Ia kemudian memilih memanfaatkan lahan yang tersedia untuk budidaya jambu air. Keputusan tersebut membawanya ke bidang yang sebelumnya tidak menjadi tujuan utama. Ia mulai mempelajari budidaya jambu, mengelola kebun, hingga memasarkan hasil panen. Dari lahan tersebut, Malik membangun sumber pendapatan yang kini menjadi pekerjaan utamanya. Pengalaman Malik merupakan salah satu gambaran dari perubahan pilihan kerja anak muda di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif. Setiap tahun, sekitar 3,28 juta siswa lulus dari jenjang SMA/SMK. Sebagian dari mereka ada yang melanjutkan pendidikan, sebagian lain langsung mencari pekerjaan. Pada saat yang sama, sekitar 1,3 hingga 1,5 juta lulusan perguruan tinggi, termasuk Diploma dan Sarjana, turut masuk ke pasar kerja. Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sekitar 10,7 juta pencari kerja setiap tahun. Angka tersebut mencakup lulusan baru, angkatan kerja yang belum terserap, serta pekerja yang kembali mencari pekerjaan setelah mengalami PHK. Di tengah angkatan kerja yang besar, sebagian besar mengarahkan pencarian pada pekerjaan formal. Pada saat yang sama, terdapat bidang lain yang membutuhkan tenaga kerja dan pelaku usaha, termasuk sektor yang berkaitan dengan ekonomi hijau. Ekonomi hijau mencakup kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, pertanian dan kehutanan, rehabilitasi lingkungan, energi terbarukan, pengelolaan limbah, serta berbagai kegiatan ekonomi sirkular. Mencampur media tanam untuk pembibitan. Foto: Herliyana Namun, pekerjaan di bidang tersebut belum selalu menjadi pilihan utama anak muda. Pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan tanah dan lingkungan masih sering diasosiasikan dengan aktivitas fisik, pekerjaan di luar ruangan, dan tingkat pendapatan yang tidak selalu pasti. Malik masuk ke sektor tersebut bukan karena sejak awal menargetkannya sebagai pilihan karier. Keputusan itu muncul setelah ia kehilangan pekerjaan formal. Namun, setelah menjalaninya, ia menemukan bahwa lahan yang sebelumnya tidak menjadi bagian utama dari rencana hidupnya dapat menjadi sumber penghasilan. Kisah berbeda datang dari Abdul Qawiy, lulusan SMK Kehutanan. Berbeda dengan Malik, Abdul memilih bidang yang berkaitan dengan lingkungan sejak awal. Pendidikan yang ditempuhnya membawanya pada kegiatan pembibitan dan penanaman pohon. Bagi Abdul, pekerjaan di bidang kehutanan merupakan bagian dari upaya pemulihan lingkungan sekaligus ruang usaha. Saat ini, ia bersama sejumlah rekannya mengerjakan pesanan 10.000 bibit pohon Sungkai dari sebuah perusahaan swasta yang memiliki kewajiban melakukan rehabilitasi lahan. “Alam kita semakin rusak, semua harus dibenahi sedikit demi sedikit. Peluang usaha untuk menghijaukan dan menghijaukan kembali bumi ini sebenarnya terbuka sangat lebar,” kata Abdul. Pesanan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan terhadap usaha pembibitan seiring pelaksanaan kegiatan rehabilitasi lahan. Bagi pelaku usaha seperti Abdul, kebutuhan tersebut menjadi pasar yang dapat dikembangkan. Kisah Malik dan Abdul memperlihatkan bahwa kegiatan ekonomi berbasis lingkungan tidak hanya berlangsung dalam skala industri besar. Budidaya tanaman, pembibitan, rehabilitasi lahan, dan pengelolaan sumber daya alam, menurut mereka, berpotensi menjadi kegiatan ekonomi yang dijalankan oleh anak muda. Terlebih di Kalimantan yang memiliki bentang alam dan pelbagai sumber daya yang dapat mendukung kegiatan berbasis lahan. Bagi anak muda yang ingin masuk ke bidang tersebut, kata Abdul, akses terhadap lahan bukan satu-satu faktor penentu. Modal, pengetahuan teknis, teknologi, akses pasar, dan kemampuan mengelola usaha juga menentukan apakah kegiatan tersebut dapat menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan. Karena itu, tantangan ekonomi hijau ialah mempertemukan kebutuhan sektor tersebut dengan tenaga kerja muda yang tersedia. Pendidikan dan pelatihan menjadi penting agar lulusan tidak hanya mengenal isu lingkungan, tetapi juga memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja atau membangun usaha di dalamnya. Malik menemukan jalannya melalui kebun jambu setelah kehilangan pekerjaan. Sementara Abdul menempuhnya melalui pendidikan kehutanan dan usaha pembibitan. Keduanya berada di bidang yang berbeda, tetapi sama-sama menunjukkan bahwa pilihan kerja anak muda tidak berhenti pada pekerjaan formal yang selama ini paling banyak dibayangkan setelah lulus sekolah. Penulis: Herliyana Sumber: Kesah.id Artikel Surat PHK dan Kebun yang Mengubah Jalan Hidup pertama kali tampil pada Jaring . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id .

Surat PHK dan Kebun yang Mengubah Jalan Hidup
0
RJ
Redaksi Jaring· Warga
Kiriman

Warga Padarincang: Proyek Berhenti, Penolakan Geothermal Tidak Berakhir

Dua pipa besar mangkrak terpendam di area yang dulu disiapkan untuk proyek energi panas bumi di Padarincang, Kabupaten Serang, Banten. Tidak banyak yang tersisa kini dari proyek yang selama bertahun-tahun mendapat penolakan warga. Alat berat sudah lama tidak terlihat, aktivitas lapangan berhenti, dan lokasi tersebut perlahan kembali ditelan vegetasi. Namun, berhentinya aktivitas tersebut tidak serta-merta menghapus ingatan tentang konflik yang pernah terjadi. Salah satu warga yang menolak proyek pembangkit panas bumi di Padarincang adalah Yahdi. Ia selama ini menggantungkan hidupnya pada hasil tani. Cara bertahan dengan bercocok tanam telah dilakukan secara turun-temurun olehnya dan warga lainnya di tanah Padarincang. Itu sebab sejak 2015, warga terus mengikuti perkembangan rencana pengembangan panas bumi di wilayahnya. Yahdi masih ingat bagaimana rencana pembangunan pembangkit listrik panas bumi di Gunung Parakasak tersebut pernah menghadirkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Hingga kini, sikapnya tidak berubah: menolak jika proyek kembali dijalankan di kawasan tersebut. “Kami masih menolak sampai sekarang. Kalau ada lagi gerakan dari pihak perusahaan atau pemerintah yang kembali membawa proyek ini, kami akan tetap hadang,” ujarnya. Padarincang merupakan salah satu wilayah di Provinsi Banten yang teridentifikasi memiliki potensi energi panas bumi. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Provinsi Banten memiliki potensi energi panas bumi sebesar 790 Mega Watt, yang tersebar setidaknya di sejumlah titik di Kabupaten Serang dan Lebak. Padarincang ditetapkan menjadi bagian wilayah kerja pertambangan (WKP) panas bumi di Kaldera Danau Banten oleh Kementerian ESDM. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Rawa Danau digadang-gadang akan dibangun di Desa Batukuwung, Padarincang pada 15 Januari 2009 silam. Sejak saat itulah wacana pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal mendapat penolakan warga. Mereka khawatir proyek tersebut berpotensi merusak ekosistem Gunung Parakasak, termasuk sumber air warga. Sejak 2018 sedikitnya sekitar 2 hektare hutan di Gunung Prakasak dibabat. Pihak perusahaan membangun satu kolam besar sebagai tampungan air dan dua sumur produksi atau wellpad. Dua wellpad ini dipakai untuk mengambil fluida panas bumi dari dalam bumi ke permukaan, untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Rencananya PT SBG mengebor 10 titik wellpad. Namun, warga menolak pengeboran lanjutan. Menurut Yahdi, aktivitas proyek terakhir yang terlihat terjadi sekitar masa pandemi Covid-19, ketika alat berat sempat dibawa ke lokasi. Setelah itu, aktivitas lapangan tidak lagi terlihat seperti sebelumnya. Meski demikian, sejumlah unsur pemerintah daerah maupun aparat disebut masih datang untuk berdialog dengan masyarakat. Dalam sejumlah pertemuan itu, kata Yahdi, pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah sikap warga terhadap proyek panas bumi telah berubah. Jawaban warga, menurut dia, tetap sama. “Kalau di Padarincang kan padat penduduk. Yang kami khawatirkan itu dampaknya ke mata pencaharian masyarakat dan lingkungan,” katanya. Kekhawatiran itu tidak muncul tanpa alasan. Yahdi menyinggung kondisi geografis kawasan di sekitar lokasi proyek, termasuk longsor. Longsor terparah dialami warga Kampung Cikoneng, Desa Batukuwung. Dua rumah rusak berat dihantam banjir longsor. Longsor juga menerjang Kampung Begog, Desa Citasuk. Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah melihat kondisi wilayah dan kehidupan masyarakat yang telah lebih dulu ada di sana sebelum meneruskan proyek panas bumi. Kalau tidak, menurutnya, konflik lahan dengan warga tak dapat terhindarkan. Seperti yang terjadi di Poco Leok, Manggarai, Nusa Tenggara Timur pada Oktober 2024 di mana warga kehilangan lahan dan ruang hidup, serta mata air yang menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. “Jangan sampai ada kebijakan yang akhirnya mengorbankan rakyat. Kalau memang ada pengembangan energi, pertimbangannya harus matang dan melihat kondisi masyarakat,” ujarnya. Meski proyek saat ini tidak menunjukkan aktivitas seperti sebelumnya, Yahdi mengatakan warga tidak ingin menganggap persoalan tersebut benar-benar berakhir. Sebab Yahdi meyakini bahwa pemerintah tidak akan berhenti menggarap potensi energy di desanya. Hal itu terlihat dari rencana pemerintah untuk mengejar pemenuhan kebutuhan energy yang dinilai lebih ramah lingkungan. Merujuk dokumen rencana strategis Ditjen EBTKE Kementerian ESDM 2020-2024 yang telah direvisi, proyeksi pengembangan energi panas bumi ditargetkan mencapai 7,2 Gigawatt (GW) pada 2025 dan 17,6 GW pada 2050 dalam menunjang kebutuhan listrik. Penulis: Najib Sumber: surosowan.id Artikel Warga Padarincang: Proyek Berhenti, Penolakan Geothermal Tidak Berakhir pertama kali tampil pada Jaring . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id .

Warga Padarincang: Proyek Berhenti, Penolakan Geothermal Tidak Berakhir
0
RJ
Redaksi Jaring· Warga
Kiriman

Tradisi yang Terancam Hilang di Sungai Lematang

Bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Lematang, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, sungai bukan sekadar bentang alam yang membelah permukiman. Sejak dahulu, Sungai Lematang yang membentang sepanjang 443 kilometer ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus ruang tempat berbagai tradisi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satunya adalah tradisi memandikan bayi di sungai. Ritual ini biasanya dilakukan setelah tali pusar bayi lepas atau putus. Bagi keluarga yang menjalankannya, tradisi tersebut bukan sekadar memandikan bayi, melainkan sebuah doa dan harapan bagi kehidupan sang anak. Namun, tradisi yang dahulu dilakukan dengan tenang kini menyimpan kegelisahan. Perubahan lingkungan di sekitar Sungai Lematang membuat sebagian keluarga harus berhadapan dengan pertanyaan sederhana tetapi penting: masih amankah membawa bayi yang baru lahir ke sungai? Ana, warga Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat merasakan kegelisahan itu ketika sang nenek meminta dirinya memandikan bayinya yang baru berusia sekitar sepekan di Sungai Lematang. “Awalnya, saya dan suami bingung serta takut bayi kami sakit karena air sungai kini telah bercampur limbah tambang batu bara dan dari pembuangan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU),” kata Ana awal tahun lalu. Bagi Ana dan keluarganya, permintaan sang nenek sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Tradisi tersebut telah lama dikenal dan dijalankan oleh masyarakat di sekitar sungai. Buat mereka sungai merupakan bagian dari ruang budaya masyarakat, tempat doa, harapan, dan penanda kehidupan baru seorang anak. Hanya saja, kondisi sungai yang berubah membuat sebuah tradisi yang dahulu dianggap biasa kini harus dipertimbangkan kembali. Ana menyadari bahwa tradisi yang mengandung banyak makna baik tersebut semakin sulit dipertahankan dalam bentuk aslinya. Perubahan lanskap di sekitar kawasan, aktivitas pertambangan batu bara, serta keberadaan industri dan PLTU telah memunculkan kekhawatiran mengenai kualitas air Sungai Lematang. Bagi masyarakat yang telah lama menggantungkan kehidupan pada sungai, perubahan itu terasa bukan hanya pada air yang terlihat secara kasatmata, tetapi juga pada hilangnya pengalaman-pengalaman yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan mereka. Warga setempat mengenang masa ketika Sungai Lematang dan anak-anak sungainya masih menjadi habitat berbagai jenis ikan. Mereka mengenal istilah “ikan mudik,” yakni masa tertentu ketika ikan dalam jumlah banyak dan beragam bergerak memenuhi sungai dan anak sungai, termasuk Sungai Kungkilan. Fenomena tersebut dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sungai tidak hanya menjadi sumber air, tetapi juga sumber pangan dan ruang untuk berinteraksi dengan alam. Kehadiran ikan yang melimpah menjadi penanda musim sekaligus bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan antar-generasi. Kini, cerita tentang ikan mudik lebih banyak tinggal sebagai kenangan. “Dulu kami mengenal ikan mudik, ada masa atau waktu tertentu ikan banyak dan beragam memenuhi Sungai Lematang dan anak sungainya, seperti Sungai Kungkilan. Tetapi, kini tinggal kenangan, karena air sungai pun kini sudah bercampur limbah,” kata seorang warga desa yang enggan disebutkan namanya. Meski demikian, sungai masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sebagian warga hingga kini masih memanfaatkan air sungai untuk mandi dan berbagai aktivitas lainnya, meskipun kekhawatiran mengenai kualitas air terus membayangi. Penulis: Agung Sumber: Simbur Cahaya Artikel Tradisi yang Terancam Hilang di Sungai Lematang pertama kali tampil pada Jaring . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id .

Tradisi yang Terancam Hilang di Sungai Lematang
0
RJ
Redaksi Jaring· Warga
Kiriman

Mandiri Energi di Pulau Sangiang

Berada di Selat Sunda, Pulau Sangiang seakan berdiri jauh dari hiruk-pikuk “daratan,” sebutan warga setempat untuk Anyer, Kabupaten Serang, Banten. Di pulau itu, puluhan warga masih bertahan di tengah konflik agraria yang belum selesai. Konflik agraria di sana sudah berlangsung lebih dari 30 tahun, sejak 1994. Dalam rentang waktu itu konflik ini telah merugikan warga Sangiang secara ekonomi maupun sosial. Warga menuntut, pemerintah memperhatikan hak-hak mereka sebagai pemilik tanah adat dan menghentikan perpanjangan hak guna bangunan (HGB) PT Pondok Kalimaya Putih (PKP) di pulau itu. Keterisolasian tersebut juga membuat mereka harus berjuang dengan keterbatasan akses terhadap pelbagai layanan dasar, termasuk kebutuhan akan listrik dan penerangan. Selama ini, sebagian warga mengandalkan genset untuk menghasilkan listrik ketika malam tiba. Namun, cara itu tidak selalu mudah. Di samping aksesnya yang terbatas, harga bahan bakar pun kelewat tinggi. Di tengah kondisi itulah, muncul inisiatif dari sejumlah kelompok masyarakat sipil untuk membantu warga memanfaatkan sumber energi lain, yakni matahari sejak 2024. Salah satunya dilakukan oleh Pena Masyarakat—kelompok yang dalam beberapa tahun terakhir mendampingi warga Pulau Sangiang. Bersama warga dan sejumlah elemen masyarakat sipil lainnya, mereka membangun panel surya di rumah-rumah warga. “Kita bikin itu untuk alternatif penerangan ketika malam hari, kedua untuk melindungi diri dari babi (liar), takut si babi lewat nggeruduk bisa diantisipasi,” kata Aeng, pendamping warga Pulau Sangiang kepada Surosowan.id pada Juli lalu. Bagi Aeng, PLTS mandiri di Pulau Sangiang bukan sekadar soal menghadirkan listrik. Sistem ini juga dinilai lebih hemat dan ramah lingkungan. Hingga kini, perangkat PLTS yang dibangun di Pulau Sangiang masih berfungsi dan, menurut Aeng, tidak menimbulkan dampak negatif bagi warga maupun lingkungan sekitar. Aeng kemudian membandingkan pilihan tersebut dengan pengembangan energi panas bumi atau geothermal. Menurutnya, secara perhitungan biaya dan kebutuhan pembangunan, PLTS memiliki beban yang lebih ringan. “Bicara PLTS ukuran alat lebih murah secara hitungan harga, daripada geothermal. Geothermal banyak hal yang harus dipaksakan agar mendapatkan tenaga listrik,” katanya. Ia juga menyoroti risiko ekologis dari proyek geothermal. Di sejumlah daerah, kata Aeng, pembangunan pembangkit panas bumi telah memunculkan persoalan lingkungan. Proses pengeboran, menurutnya, berpotensi menimbulkan kerusakan dan risiko kebocoran. “Ancamannya kalau ada kebocoran, belum lagi adanya gempa, geothermal ini ada penampung ternyata mengandung bahan kimia beracun asapnya,” ujarnya. Bagi Aeng, pengalaman warga Pulau Sangiang setidaknya menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar. Di pulau kecil yang selama ini hidup dalam keterbatasan akses, matahari justru menjadi sumber energi yang paling dekat dan mudah dijangkau. Karena itu, ia menilai pemerintah di Banten perlu mempertimbangkan pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan, salah satunya melalui PLTS, ketimbang terus memasifkan geothermal yang dinilainya tidak lagi efektif dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi masyarakat. “Solusi paling alternatif yah PLTS,” ucapnya. Penulis : Aris Eka Arsana Sumber : Surosowan.id Artikel Mandiri Energi di Pulau Sangiang pertama kali tampil pada Jaring . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id .

Mandiri Energi di Pulau Sangiang
0
RJ
Redaksi Jaring· Warga
Kiriman

Taman Para’an, Matahari, Air, Angin dan Energi Kota

Di sisi Jembatan Nibung, tidak jauh dari Pasar Segiri, Kota Samarinda, hadir sebuah ruang publik dengan konsep yang berbeda dari taman kota pada umumnya. Taman tersebut bernama Taman Para’an, yang diresmikan pada 19 Mei 2025 sebagai ruang publik berketahanan iklim. Nama “Para’an” dimaknai sebagai “dekat.” Sesuai namanya taman ini diharapkan menjadi ruang yang dapat menjadi perpanjangan teras rumah—tempat warga dapat berkumpul, belajar, berolahraga, bersosialisasi, dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Yang membuat Taman Para’an istimewa bukan hanya lokasinya, tetapi juga proses pembangunannya. Taman ini dirancang secara partisipatif dan inklusif, dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam menentukan bentuk, fungsi, dan kebutuhan ruang. Proses tersebut didampingi oleh Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) bersama mitra akademik. Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang diperkirakan bisa menghasilkan daya 5500 watt untuk sumber energi Taman Para’an. Kelompok ibu-ibu, pen`yandang disabilitas, komunitas anak muda, NGO, akademisi, dan perguruan tinggi dilibatkan dalam proses perancangannya. Dengan pendekatan tersebut, Taman Para’an bukan sekadar ruang yang dibangun untuk masyarakat, melainkan ruang yang lahir dari gagasan dan kebutuhan masyarakat. Pemerintah Kota Samarinda bahkan melihat pendekatan ini sebagai model yang dapat menjadi percontohan bagi pembangunan ruang publik lainnya. Keunikan lain Taman Para’an terletak pada sistem energinya. Taman ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan listriknya melalui energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin. Panel surya dipasang sebagai sumber utama listrik, sementara sebuah turbin angin skala kecil turut digunakan untuk menghasilkan energi. Sistem tersebut membuat Taman Para’an tidak bergantung sepenuhnya pada jaringan listrik PLN. Panel surya yang dipasang memiliki kapasitas sekitar 5.000 watt, sementara turbin angin dirancang khusus agar dapat bekerja di lingkungan perkotaan. Penerapan turbin angin di tengah kota menjadi tantangan tersendiri karena karakter anginnya berbeda dengan kawasan pantai atau perbukitan. Pemanfaatan energi surya dan angin sekaligus menjadikan taman ini sebagai ruang pembelajaran. Warga dapat melihat secara langsung bagaimana sumber energi yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sebuah ruang publik. Kebutuhan air bersih dari Taman Para’an akan dipenuhi dengan pemasangan instalasi Panen Air Hujan. Air hujan akan dikumpulkan melalui talang. Di samping itu, taman ini juga memanfaatkan air hujan. Air hujan ditampung di sebuah talang untuk kemudian dimanfaatkan sebagai sumber air agar tidak terus-menerus mengambil air dari Sungai Karangmumus. Karena konsep tersebut, Taman Para’an tidak hanya diposisikan sebagai ruang hijau atau tempat rekreasi. Ia dirancang sebagai laboratorium mini dan ruang belajar terbuka bagi masyarakat. Warga dapat belajar mengenai energi terbarukan, pemanfaatan air hujan, ketahanan kota, serta cara beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui teknologi yang diterapkan langsung di taman. Akademisi juga didorong memanfaatkan ruang ini untuk kegiatan penelitian, kelas terbuka, maupun pengabdian kepada masyarakat. Di dalamnya terdapat berbagai fungsi ruang yang ditentukan berdasarkan kebutuhan warga, mulai dari ruang sosial, ruang belajar, ruang olahraga hingga ruang ekonomi. Karena itu, keberadaan taman diharapkan tidak berhenti pada fungsi estetika, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Penulis: Windasari Sumber: kesah.id Artikel Taman Para’an, Matahari, Air, Angin dan Energi Kota pertama kali tampil pada Jaring . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id .

Taman Para’an, Matahari, Air, Angin dan Energi Kota
0
RJ
Redaksi Jaring· Warga
Kiriman

Tak Cukup Hanya Memasang Panel Surya

Di tepian Sungai Karang Mumus, berdiri Masjid Baburrahmah di Perumahan Griya Mukti Sejahtera, Samarinda. Sejak dibangun pada 1996, masjid ini sudah beberapa kali berhadapan dengan banjir. Air yang meluap dari sungai kerap menggenangi lingkungan di sekitarnya. Pada Januari 2025, misalnya, banjir merendam Perumahan Griya Mukti Sejahtera selama kurang lebih lima hari. Ketinggian air bahkan mencapai sekitar 60 sentimeter. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ketika lingkungan di sekitar masjid terendam, lantai Masjid Baburrahmah tetap kering. Kondisi itu merupakan hasil dari pemugaran terakhir yang dilakukan pada 2023. Dalam rehabilitasi tersebut, lantai masjid ditinggikan hingga sekitar 1,8 meter. Masjid yang sebelumnya kerap terdampak banjir kini setidaknya memiliki perlindungan lebih baik dari genangan air. Pemugaran itu tidak hanya mengubah fisik bangunan. Masjid Baburrahmah juga dilengkapi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid. Saat peresmian pada Selasa, 26 September 2023, Gubernur Kalimantan Timur saat itu, Isran Noor, mengapresiasi penggunaan energi surya di masjid tersebut. Menurut Isran, pemanfaatan tenaga surya sejalan dengan upaya pemerintah mendorong penggunaan energi bersih dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. “Dengan adanya tenaga surya ini saya rasa sangat bagus, irit bahan bakar dan listrik pun bersih,” ujar Isran saat itu. Masjid Baburrahmah tampil lebih megah setelah dipugar. Proyek oemugaran itu menelan anggaran sekitar Rp12,24 miliar yang berasal dari APBD Provinsi Kalimantan Timur. Bangunan seluas kurang lebih 1.700 meter persegi itu, dengan kubah berbentuk piramida, mampu menampung hingga 600 jemaah. Masjid ini tidak hanya diproyeksikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai salah satu contoh pemanfaatan energi bersih. PLTS berkapasitas 10 kW dipasang untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik sejumlah fasilitas di lingkungan masjid, mulai dari rumah kaum, rumah imam, TK-TPA, hingga pendopo. Sistem tersebut dirancang secara off-grid, tidak terhubung dengan jaringan listrik PLN. Energi yang dihasilkan panel surya disimpan dalam baterai untuk kemudian digunakan sesuai kebutuhan. Saat diresmikan, sistem tersebut disebut mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan listrik lingkungan dan aktivitas masjid. Masjid Baburrahmah pun sempat diperkenalkan sebagai salah satu pionir transisi energi di Kalimantan Timur. Namun, terdapat cerita yang berbeda lepas dua tahun kemudian. Masjid Baburrahmah, Perum Griya Mukti Sejahtera, Samarinda. Foto: Wahyu Musyifa Ketika Wahyu Musyifa, Jurnalis Warga untuk Transisi Energi Berkeadilan, berkunjung ke Masjid Baburrahmah pada suasana Lebaran, sejumlah panel surya terlihat mulai berlumut. Beberapa kabel juga tampak mengalami keretakan. Teknologi yang semula dipromosikan sebagai bagian dari masa depan energi bersih itu perlahan menunjukkan persoalan yang lebih mendasar, yakni perawatan. Ketua Pengurus Masjid Baburrahmah, Asrofi tidak menampik kondisi tersebut. Menurutnya, sistem PLTS sebenarnya masih dapat digunakan. Namun, sejumlah komponen membutuhkan perhatian dan perawatan agar daya yang dihasilkan tetap optimal. “Kondisi masih baik, tetapi mungkin hanya beberapa yang butuh perhatian dan perawatan lebih. Ini masih menunggu dana dan beberapa sudah mulai ada bantuan,” katanya. Masalah tidak berhenti pada panel yang mulai kotor atau kabel yang mengalami keretakan. Seiring waktu, kemampuan sistem dalam menyimpan dan menyediakan listrik juga mengalami penurunan. Baterai yang sebelumnya mampu menyediakan daya selama sekitar delapan hingga sepuluh jam kini hanya mampu bertahan sekitar tiga jam. Sistem tersebut bahkan pernah tidak dapat digunakan setelah salah satu sakelar terbakar. Dalam kondisi seperti itu, pengurus masjid akhirnya kembali menggunakan listrik prabayar untuk menutup kekurangan kebutuhan energi. “Begitu kondisinya sekarang. Karena tidak ada teknisi ahli, jadi mungkin daya tahannya menurun. Sempat delapan jam, terus turun sampai tiga jam. Kadang dimatikan dan pindah ke token untuk listrik masjid,” bebernya. Di titik inilah cerita tentang Masjid Baburrahmah menjadi menarik. Dua tahun sebelumnya, masjid ini diperkenalkan sebagai salah satu pionir transisi energi di Kalimantan Timur. Panel surya telah dipasang, baterai telah disediakan, dan sistem off-grid telah dibangun. Namun, keberadaan teknologi ternyata tidak otomatis menjamin keberlanjutannya. Cerita berbeda terlihat di Masjid Al-Muharram di Dukuh Brajan, Desa Tamantirto, Bantul, Yogyakarta. Di sana, penggunaan energi surya tumbuh dari proses yang lebih panjang. Tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga melalui upaya membangun kesadaran jemaah tentang pentingnya menjaga lingkungan. Sebagaimana dikisahkan dalam publikasi Mongabay berjudul Belajar Peduli Lingkungan di Masjid Ramah Energi, Ustaz Ananto Isworo menjadi salah satu penggerak upaya tersebut. Bagi jemaah Masjid Al-Muharram, persoalan lingkungan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Mereka pernah mengalami kesulitan mendapatkan air saat musim kemarau. Sebaliknya, ketika musim hujan tiba, masjid kerap menghadapi genangan. Pengalaman menghadapi persoalan tersebut kemudian menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran. Dalam ceramah-ceramahnya, Ustaz Ananto kerap mengingatkan jemaah tentang apa yang disebutnya sebagai dosa ekologis, yakni dosa akibat mengabaikan dan merusak lingkungan. Dari sana, perubahan dilakukan secara perlahan. Jemaah didorong menanam pohon, membuat sumur resapan, mengelola sampah, hingga memanen air hujan. Kesadaran tentang lingkungan tumbuh bersama keterlibatan masyarakat. Ketika gagasan penggunaan energi surya muncul, masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan. Pembangunan PLTS dilakukan melalui swadaya dan partisipasi. “Lewat infak ribuan orang dari berbagai daerah dalam program sedekah energi,” ujar Ananto. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli panel surya, baterai, dan berbagai perangkat pendukung lainnya. PLTS yang dibangun mampu menghasilkan daya hingga 4.800 watt, cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik masjid. Perbedaan dua cerita ini memperlihatkan satu hal penting dalam perjalanan transisi energi. Teknologi memang diperlukan. Panel surya, baterai, inverter, dan berbagai perangkat lainnya menjadi bagian penting dalam menghasilkan energi bersih. Namun, teknologi tanpa keterlibatan dan pengetahuan masyarakat berisiko berhenti sebagai proyek. Masjid Baburrahmah telah memiliki panel surya, tetapi kini menghadapi persoalan perawatan dan keterbatasan tenaga ahli. Sementara Masjid Al-Muharram membangun proses transisinya dari kesadaran jemaah, keterlibatan masyarakat, dan upaya bersama untuk memahami hubungan antara kehidupan manusia dan lingkungan. Sebuah riset Institute for Essential Services Reform (IESR) di Jawa Tengah juga menunjukkan bahwa penggunaan energi terbarukan di tingkat komunitas dapat menghasilkan penghematan rata-rata lebih dari 20 persen. Tempat ibadah, dalam konteks ini, memiliki posisi strategis untuk menjadi ruang belajar sekaligus penggerak perubahan. Masih ada anggapan bahwa energi terbarukan merupakan sesuatu yang rumit dan mahal. Namun, pengalaman komunitas yang telah menjalankannya menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar. “Tidak serumit dan semahal yang dibayangkan karena ada penghematan yang dihasilkan,” ujar Fabby. Pada akhirnya, transisi energi bukan semata soal mengganti sumber listrik dari batu bara menjadi tenaga surya. Transisi energi juga tentang siapa yang terlibat, siapa yang memahami teknologi tersebut, siapa yang merawatnya, dan bagaimana masyarakat mengambil bagian dalam prosesnya. Penulis: Wahyu Musyifa Sumber: kesah.id Artikel Tak Cukup Hanya Memasang Panel Surya pertama kali tampil pada Jaring . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id .

Tak Cukup Hanya Memasang Panel Surya
0
RJ
Redaksi Jaring· Warga
Kiriman

Gang, Kota, dan Energi yang Menghidupinya

Susur Gang Samarinda sudah beberapa kali melintasi kawasan perbukitan dan gang-gang kecil di sekitar Jalan KS Tubun, Bhayangkara, Pasundan, Kampung Jawa, hingga Samarinda Kota. Salah satu jalur yang cukup menarik berada di sebuah gang kecil di samping Gang Arjuna 2. Jalur itu mengarah ke kawasan Jalan Bhayangkara dan Taman Samarendah. Di sana ada sebuah tembok yang dijebol. Entah siapa yang menjebolnya. Yang jelas, lubang itu menjadi jalan bagi Kawan Susur untuk masuk ke sebuah kebun di lereng bukit. Di bawah kebun tersebut terdapat kolam air dan sebuah bangunan kecil. Tempat itu ternyata merupakan kolam pengendapan milik Perumdam Tirta Kencana Samarinda. Jalan menuju ke lokasi cukup licin. Lumut tumbuh di beberapa bagian dan membuat langkah harus lebih hati-hati. Di ujung jalur, kami menemukan sebuah rumah tua. Atapnya berbentuk limasan, sementara dindingnya terdiri dari tembok dan kayu. Sekilas, bangunan itu mengingatkan pada rumah-rumah peninggalan Belanda. Namun, bentuknya juga tidak cukup meyakinkan untuk langsung disebut sebagai bangunan kolonial. Di sekitar kawasan itu memang berkembang cerita tentang Hantu Anak Belanda. Konon, ada anak-anak Belanda yang tertimbun di sebuah gua setelah bermain air. Pada 1932, pemerintah kolonial Belanda membangun sistem pengolahan air di kawasan yang kini menjadi kompleks Perumdam Tirta Kencana. Setelah beberapa kali melewati kawasan itu, kami bertemu seorang warga setempat yang sedang memberi makan ayam. Sambil menebar sisa makanan, ia bercerita bahwa rumah tua tersebut adalah bekas stasiun penyiaran pertama RRI Samarinda. Sejak saat itu, jalur tersebut kami kenal sebagai Jalur RRI. Namun, jangan sembarangan masuk! Sebab sebagian jalurnya melewati area belakang Perumdam dan berada dekat kolam pengendapan yang termasuk kawasan Objek Vital. **** Susur Gang Samarinda sendiri terbentuk secara organik. Kegiatan ini tidak lahir dari workshop, seminar, atau rapat panjang yang menghasilkan rencana tindak lanjut. Tidak ada pula visi, misi, AD/ART, SOP, atau dokumen organisasi yang menjelaskan ke mana kegiatan ini harus berjalan. Kalau ada aturan, mungkin hanya satu: Datang jam 5 artinya terlambat. Susur Gang bermula pada masa pandemi Covid-19, ketika aktivitas masyarakat dibatasi. Karena tidak bisa bepergian jauh, muncul gagasan untuk tetap bergerak tanpa melanggar aturan pembatasan sosial dan protokol kesehatan. Akhirnya, jalan kaki menjadi pilihan. Mula-mula, komunitas ini berkumpul di daerah yang disebut Mexico, tepatnya di sekitar kawasan Jalan KS Tubun. Dari situ mereka melintasi jalur naik-turun perbukitan Argamulya, menyusuri gang-gang kecil di antara permukiman, dan sesekali melewati jalan setapak di kebun warga. Seiring waktu, jalur yang mereka tempuh semakin panjang. Saat menuju arah kota, perjalanan bisa mencapai Citra Niaga, Pelabuhan, dan kawasan sekitarnya. Ke arah lain, mereka menjelajah Karang Mumus, Pasar Segiri, kawasan Universitas Mulawarman, Raudah, Pasar Ijabah, hingga tepian Mahakam. Kisah dalam perjalanan tersebut kemudian dibagikan melalui akun media sosial masing-masing. Perlahan, orang mulai memperhatikan kegiatan ini, terutama ketika beberapa catatan perjalanan menyoroti berbagai persoalan kota, termasuk Program Pro Bebaya yang saat itu sedang ramai dibicarakan. Pada dasarnya, Susur Gang adalah kegiatan yang sederhana. Murah, mudah, dan menyenangkan. Pada akhir 2024, kegiatan ini mulai dikelola lebih serius. Jadwal jalan sore setiap Selasa dan Jumat diumumkan secara terbuka melalui media sosial. Sebuah akun Instagram resmi juga dibuat dan dikelola oleh admin. Pesertanya pun semakin banyak. Setiap perjalanan kini bisa diikuti belasan orang. Jalur yang ditempuh juga semakin luas. Tidak hanya berkutat di Samarinda Ulu dan sebagian Samarinda Kota, Susur Gang mulai menjelajah Samarinda Ilir, Sungai Kunjang, hingga Samarinda Seberang. **** Kota sering dipahami sebagai kumpulan jalan raya, pusat perdagangan, gedung, dan ruang-ruang tempat orang mengejar kepentingannya masing-masing. Orang bisa tinggal puluhan tahun di sebuah kota, tetapi hanya memiliki sedikit cerita tentang tempat tinggalnya sendiri. Yang diingat mungkin hanya perjalanan karier, peluang usaha, investasi, cicilan, dan berbagai urusan yang membuat hidup semakin sibuk. Padahal, kota tidak hanya hidup di jalan-jalan besar. Di balik gang-gang sempit, kehidupan berlangsung dengan cara yang berbeda. Warga saling menyapa. Anak-anak bermain. Aroma masakan dari dapur bercampur di udara. Rumah-rumah berdiri berdekatan, dan kehidupan sehari-hari terlihat tanpa banyak penyaring. Gang menyimpan wajah kota yang sering tidak terlihat dari jalan utama. Di kota, ada banyak lorong dan jalan kecil yang membentuk labirin kehidupan. Ruangnya mungkin sempit, tetapi cerita yang tersimpan di dalamnya bisa sangat luas. Gang adalah semacam perpustakaan besar yang menyimpan kisah tentang kota. Banyak cerita di sana yang tidak masuk dalam dokumen kebijakan, tidak muncul dalam pemberitaan, dan sering luput dari perhatian. Memasuki sebuah gang berarti masuk lebih dalam ke kehidupan kota. Kadang, kita menemukan kawasan yang mungkin dianggap kumuh dan suatu hari direncanakan untuk digusur demi taman atau ruang terbuka hijau. Bagi sebagian orang, perubahan itu mungkin dianggap sebagai tanda bahwa kota semakin rapi dan modern. Namun, kehidupan yang ada di sana sering kali lebih rumit daripada sekadar label slum area . Di kawasan-kawasan seperti itu, ada warga yang memproduksi tahu dan tempe. Ada pula gang kecil yang sering banjir karena dulunya merupakan rawa, tetapi dari sana lahir usaha keripik singkong yang dinikmati banyak orang. Di tempat lain, mungkin ada sebuah rumah dan bengkel di depan kuburan yang seluruh kebutuhan energinya dipenuhi oleh tenaga surya. Cerita-cerita seperti ini jarang terlihat jika kita hanya melewati jalan raya. Karena itu, menyusuri gang bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Di sana ada interaksi antarsesama Kawas Susur maupun warga yang tinggal di relung kota. Lebih dari itu, Windasari, mahasiswa Prodi Kesmas Universitas Mulawarman menilai komunitas Susur Gang Samarinda yang mengkampanyekan jalan kaki sebagai alat atau moda transportasi bebas emisi. Menurutnya dengan berjalan kaki, kita tengah diingatkan bahwa yang disebut energi bukan hanya listrik dan bahan bakar minyak. Masih banyak energi alami yang ditemukan di gang-gang. Masyarakat yang masih memakai kayu bakar atau biomassa untuk keperluan domestik. Atau warga yang memakai angin untuk menimbulkan bebunyian guna mengusir hewan atau binatang pengganggu. Hanya saja arti energi makin menyempit hingga makan biaya. Masyarakat makin tergantung pada energi yang disediakan oleh provider, listrik oleh PLN dan BBM oleh Pertamina. Jalan kaki yang nol biaya, nol emisi, makin terlupakan. Kalaupun ada yang berjalan kaki lebih dimaknai sebagai rekreasi dan olahraga atau malah dianggap miskin. Menurut BPS, jumlah kendaraan roda dua di Samarinda sampai 2024 adalah 993,224 unit. Sedangkan jumlah penduduknya pada Desember 2024 adalah 881,225 jiwa. Dengan begitu, jumlah motor lebih banyak dari jumlah penduduknya. Bukan hanya malas berjalan kaki, karena setiap orang punya motor, transportasi umum atau massal juga tak berkembang di Kota Samarinda. Transportasi yang berwatak privat membuat konsumsi energi menjadi tinggi. Jadi memperbanyak jalan kaki, mengurangi pemakaian transportasi privat merupakan langkah awal untuk warga Samarinda berpartisipasi dalam transisi energi. Tanpa membiasakan diri untuk jalan kaki, niscaya upaya untuk membangkitkan atau mengembangkan kembali transportasi massal sebagai langkah untuk mengurangi konsumsi BBM berbasis fosil akan berakhir sia-sia. Penulis: Yustinus Sapto Hardjanto Sumber: kesah.id Artikel Gang, Kota, dan Energi yang Menghidupinya pertama kali tampil pada Jaring . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id .

Gang, Kota, dan Energi yang Menghidupinya
0
RJ
Redaksi Jaring· Warga
Kiriman

Di Tanah Minyak, Cahaya Datang dari Matahari

Speed boat yang berangkat dari Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara bergerak perlahan memasuki muara sungai. Dari kejauhan, permukiman terlihat berderet di kedua sisi anak sungai. Sebuah jembatan kayu melengkung menghubungkan dua baris rumah yang berdiri di atas panggung. Setelah tiba, perahu mencari tempat bertambat di antara rumah-rumah warga. Permukiman ini dikenal dengan nama Sungai Banjar. Wilayahnya merupakan bagian dari Dusun Bannati, Desa Sepatin. Sungai Banjar hanyalah satu dari sekian banyak permukiman yang tersebar di wilayah Delta Mahakam. Kawasan ini merupakan bentang alam yang terbentuk dari proses panjang pertemuan aliran sungai. Sedimentasi material yang dibawa Sungai Mahakam dari hulu membentuk pulau-pulau delta di kawasan pesisir. Pulau-pulau itu kemudian ditumbuhi mangrove dan nipah, menciptakan ekosistem khas yang menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna. Jika dilihat dari udara, gugusan pulau di Delta Mahakam menyerupai kipas. Pulau-pulau tersebut dipisahkan oleh jaringan anak sungai dengan kedalaman yang berbeda-beda. Ketika air surut, beberapa alur sungai bahkan tidak dapat dilalui perahu. Dulu, kawasan delta ini dipandang sebagai wilayah yang miskin sumber daya, berpenduduk jarang, dan nyaris tidak tersentuh pembangunan. Hutan mangrove kemudian menjadi salah satu benteng alami kawasan pesisir Kutai Kartanegara, melindunginya dari gelombang dan badai laut. Sungai Banjar secara administratif berada di Desa Sepatin. Selain Sepatin, desa pesisir lainnya di Kecamatan Anggana adalah Muara Pantuan dan Tani Baru. Belakangan, Dusun Tanjung Berukang juga dipersiapkan menjadi desa tersendiri, memisahkan diri dari desa induknya, Sepatin. Indra Rismawan, Ketua RT 04 Desa Sepatin, sudah menunggu di tepian permukiman. Ia tampak lega ketika kami tiba. Sebelumnya, komunikasi sempat terganggu karena jaringan telepon seluler mati. “Sinyal HP mati karena tower di Muara Pantuan rusak,” ujarnya. Indra kemudian mempersilakan kami beristirahat sejenak di beranda rumahnya. Dari sana, aktivitas warga terlihat jelas. Orang-orang berlalu-lalang melalui gang utama berupa jembatan kayu yang memanjang mengikuti permukiman. Di Delta Mahakam, kehilangan sinyal bukan hal yang aneh. Justru ketika speed boat sudah berada di laut, jaringan telepon terkadang kembali lebih mudah ditemukan. Persoalan lain adalah listrik. Panel surya PLTS Komunal Sungai Banjar, Desa Sepatin Di sejumlah wilayah Delta Mahakam, listrik masih bergantung pada mesin pembangkit berbahan bakar minyak. Karena biaya operasionalnya tinggi, listrik umumnya hanya tersedia pada sore hingga menjelang pagi. Namun Sungai Banjar berbeda. Di dinding depan rumah warga, selain menempel berbagai stiker penanda program dan pendataan pemerintah, terlihat pula meteran listrik. “Di sini listriknya sudah 24 jam,” kata Indra. Ia menunjuk sumber listrik yang selama ini menerangi permukiman. “Kami mempunyai Pembangkit Listrik Tenaga Surya komunal,” lanjutnya. PLTS Komunal Sungai Banjar dibangun menggunakan dana APBD Kabupaten Kutai Kartanegara dan diresmikan pada 2016 oleh Edy Damansyah, yang saat itu menjabat Wakil Bupati Kutai Kartanegara. Pembangkit tersebut memiliki kapasitas 20 kWp atau sekitar 20.000 watt. Dengan sistem off-grid, listrik dari PLTS mampu memenuhi kebutuhan sekitar 50 rumah dan sejumlah fasilitas umum di Sungai Banjar. Indra kemudian mengajak kami melihat instalasi tersebut. Bersama Usman, operator PLTS, dan beberapa warga, kami berjalan menyusuri jembatan kayu. Sekitar 100 meter kemudian, jajaran panel surya mulai terlihat. Di sampingnya berdiri sebuah bangunan bercat putih berbentuk kotak, menyerupai peti kemas. Instalasi PLTS berada tidak jauh dari masjid dan dibangun di atas dek panggung berbahan kayu ulin. Bangunan putih itu merupakan ruang penyimpanan baterai sekaligus ruang kontrol. Di dalamnya, Usman menunjukkan sejumlah panel kontrol dan inverter. Sebagian peralatan tersebut sudah tidak berfungsi. “Dulu instalasi ini dilengkapi dengan komputer, tapi komputernya juga sudah rusak,” terang Usman. Lantai penahan baterei mulai miring karena tanah tempat patok peyangga ditancapkan lunak. Peralatan yang rusak bukan sekadar persoalan teknis. Penggantiannya membutuhkan biaya, sementara pengelola tidak memiliki cukup dana. “Tidak ada biaya untuk menggantinya,” kata Indra. Kondisi instalasi pun menunjukkan usia dan beban pemakaian. Lantai tempat baterai disimpan terlihat mulai miring. Struktur penyangganya tak lagi mampu menahan beban dengan baik. “Sebenarnya lokasi di sini kurang tepat karena tanahnya lunak,” terang Indra. Persoalan PLTS Sungai Banjar bukan hanya soal peralatan yang rusak. Sistem pembangkit yang dibangun hampir satu dekade lalu membutuhkan biaya pemeliharaan yang tidak sedikit, sementara sumber pendanaannya sangat terbatas. Usman menjelaskan bahwa iuran listrik warga menjadi sumber utama biaya operasional. Setiap rumah yang mendapat aliran listrik dari PLTS membayar iuran sekitar Rp50 ribu per bulan. Dari 44 rumah yang saat ini teraliri listrik PLTS, pemasukan maksimal sekitar Rp2,2 juta per bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp500 ribu digunakan untuk membayar dua operator dan seorang kolektor. Artinya, hanya sekitar Rp1,7 juta yang tersisa dalam kas pengelola. Jumlah itu cukup untuk kebutuhan rutin, tetapi terlalu kecil untuk mengganti komponen utama yang nilainya mencapai jutaan rupiah. “Pusing kepala saya memikirkan dari mana uang untuk mengganti baterai jika nanti mati,” ujar Indra. PLTS Sungai Banjar dibangun ketika wilayah pesisir Delta Mahakam belum tersentuh jaringan listrik PLN. Pembangunan pembangkit tenaga surya dimaksudkan untuk menyediakan sumber listrik mandiri dengan memanfaatkan energi matahari. Namun, persoalan muncul setelah pembangkit selesai dibangun dan diserahkan kepada masyarakat. Beberapa inverter untuk merubah arus dari DC menjadi AC telah rusak dan belum diperbaiki atau diganti. Pembangunan infrastruktur tidak otomatis diikuti dengan kemampuan masyarakat untuk mengelolanya dalam jangka panjang. Ketika komponen mengalami kerusakan, pengelola harus mencari sendiri biaya perbaikan dan penggantian. Persoalan listrik di Delta Mahakam menjadi ironi. Sebab kawasan yang selama lebih dari satu abad dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil minyak dan gas bumi justru masih menghadapi persoalan akses energi dasar. Eksplorasi migas di wilayah yang terhubung dengan Delta Mahakam telah berlangsung sejak masa kolonial. Penemuan Lapangan Louise I pada 1897 dan Mathilde I pada 1898 menjadi bagian dari awal sejarah panjang industri migas di kawasan ini. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan lapangan migas di kawasan ini berlanjut melalui skema Kontrak Kerja Sama. Total E&P Indonesia dari Perancis dan Inpex Corporation dari Jepang pernah menjadi operator di Blok Mahakam. Kontrak tersebut berakhir pada 1997 dan kemudian diperpanjang hingga 2017. Setelah itu, pengelolaan Blok Mahakam beralih kepada Pertamina melalui Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Selama lebih dari satu abad, aliran modal industri migas telah membentuk sejarah ekonomi Delta Mahakam. Namun kekayaan sumber daya alam itu tidak serta-merta membuat seluruh masyarakat di kawasan delta menikmati akses terhadap layanan dasar yang memadai. Masyarakat kemudian membangun sistem ekonomi lokalnya sendiri. Di pulau-pulau yang sebelumnya kosong, warga membuka empang atau tambak, sebagian dengan mengonversi kawasan mangrove. Pada saat yang sama, Delta Mahakam tidak asing dengan berbagai program rehabilitasi lingkungan dan mitigasi perubahan iklim. Penanaman mangrove, pembentukan kelompok masyarakat, hingga berbagai program bantuan datang silih berganti. Namun di tengah banyaknya program tersebut, kebutuhan paling mendasar—air bersih dan energi—tetap menjadi persoalan sehari-hari bagi sebagian masyarakat. Mereka yang berhasil secara ekonomi memiliki pilihan lain. Sebagian memilih membangun rumah di daratan, di Sungai Mariam, Anggana, bahkan Samarinda. Sementara itu, permukiman pesisir yang ditinggalkan perlahan menghadapi persoalan lingkungan yang semakin berat. Sungai Banjar adalah salah satu contohnya. Abrasi terus menggerus tepian permukiman. Rumah-rumah yang dahulu berada di bagian paling luar kini harus bergeser semakin jauh ke daratan. “Mungkin sudah satu kilometer dari rumah paling ujung luar dulu bergesernya,” ujar Indra dengan nada prihatin. Penulis: Yustinus Sapto Hardjanto Sumber: kesah.id Artikel Di Tanah Minyak, Cahaya Datang dari Matahari pertama kali tampil pada Jaring . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id .

Di Tanah Minyak, Cahaya Datang dari Matahari
0
AS
Abdus Somad· Warga
Kiriman

Karhutla Meluas, Korporasi dan Negara Didesak Bertanggung Jawab

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah, Janang Firman sempat menghela napas saat menceritakan ketebalan kabut asap yang menebal di Bumi Tambun Bungai dalam keterangan pers bertajuk Malapetaka Karhutla dan Ketiadaan Kepemimpinan Prabowo pada Rabu, 9 September 2026. Menurutnya, lahan dan hutan yang terbakar berada di kawasan gambut. Walhi mencatat sebanyak 72.431 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada minggu ketiga sejak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi pada Agustus 2026. “Paling tinggi di Palangkaraya. Karena kota ini terkepung daerah hutan dan lahan yang terbakar,” kata Janang dalam konferensi pers tersebut. Meski begitu, Janang menilai penanganan karhutla di Kalimantan Tengah belum maksimal. Pengerahan aparatur sipil negara (ASN) di sejumlah daerah untuk memadamkan api pun dinilai tidak tepat. Terlebih pelibatan ASN tersebut tidak dibarengi dengan penyediaan fasilitas penunjang, seperti alat pelindung diri (APD). “Sarana prasarana pendukung untuk memadamkan api dan APD apakah telah disiapkan?” kata Janang. Pemerintah mengklaim telah mengerahkan lebih dari 10 ribu personel gabungan yang terdiri atas Tentara Nasional Indonesia, Polri, ASN, Masyarakat Peduli Api, universitas, dan relawan dari berbagai komunitas. Per 8 September 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan asap masih tebal dengan jarak pandang diPalangkaraya berkisar 4 kilometer “Dengan kondisi ini penyediaan fasilitas kesehatan di puskesmas sudah dilakukan, tapi belum maksimal. Kami telah membuka posko. Namun kami kewalahan menangani kondisi darurat ini,” ia menambahkan. Jika karhutla tidak ditangani dengan baik, menurutnya, kematian massal dikhawatirkan terjadi di Kalimantan Tengah. Karenanya dia mendorong pemerintah segera memaksimalkan penanganan karhutla, hingga menjerat pelaku korporasi. “Jangan sampai ini jadi kematian direncanakan. Lama-lama kami konsumsi asap dan kematian dini meningkat,” ujar dia. Kementerian Kesehatan mencatat ada sebanyak 50.891 kasus ISPA akibat dampak asap karhutla sepanjang periode Juli hingga Agustus 2026. Kepala Divisi Kebijakan, Advokasi, dan Kampanye CISDI, Fachrial Kautsar memprediksi angka kasus ISPA di sejumlah provinsi lebih banyak dari yang disebutkan. Ia mencatat sedikitnya ada 72 ribu orang yang mengakses layanan kesehatan lantaran gangguan pernapasan tersebut. Kata dia, dampak terhadap kelompok rentan juga mestinya diperhatikan lebih serius. “Mereka yang rentan memiliki dampak terjangkit ISPA, PPOK, dan penyakit pernapasan lebih besar,” kata Fachrial dalam konferensi pers tersebut. “UNICEF telah menyebut karhutla berdampak 10 kali lebih besar terhadap paru dibanding polusi biasa. Maka dari itu, ketika satu detik, menit, jam ketidaktanggapan pemerintah, maka akan sebab kelompok rentan semakin terdampak,” tambahnya. Sementara itu, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Belqis Habiba mengungkapkan kekecewaannya terhadap Presiden Prabowo Subianto yang gagap menangani kebakaran hutan dan lahan. Alih-alih memperbaiki tata kelola serta mendorong agar penegak hukum menindak pelaku kejahatan hingga ke tingkat korporasi, Prabowo justru meminta pengadaan pesawat, helikopter, pompa air, dan sarana pemadam api yang dinilai tidak menyelesaikan akar permasalahan. “Prabowo tidak menyasar akar masalah karhutla. Padahal masalahnya sudah luas hingga berdampak lintas negara,” kata Belqis. Pada karhutla tahun ini, Greenpeace Indonesia menyebut adanya kemiripan pola karhutla yang terjadi pada 2015, 2019 dan 2023. Menurut Belqis, kebakaran mayoritas terjadi di titik api yang pernah terbakar sebelumnya. “Tahun ini ada tujuh provinsi yang terdampak dengan total 38 juta warga. Ini dampak yang luas dan signifikan,” katanya. Selain itu, kebakaran ini juga turut mencekik warga negara jiran, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, hingga Brunei Darussalam. Hasil pemantauan Greenpeace menggunakan citra satelit Planet Labs, FIRMS, dan MODIS menunjukkan sedikitnya 2.982 titik api dan asap di tujuh provinsi, serta 83 titik api di lahan bekas terbakar. Pemantauan dilakukan setiap hari sejak 8 Agustus hingga 7 September 2026 lalu. Titik sumber asap terbanyak berada di Kalimantan Barat dengan 895 titik, Kalimantan Tengah 711 titik, dan Papua Selatan 667 titik. Sebagian besar titik sumber asap di Papua Selatan terdeteksi di area proyek strategis nasional (PSN), termasuk jalan sepanjang 135 kilometer dari Wanam-Muting yang sedang digugat Masyarakat Adat Malind di PTUN Jayapura. Bahkan, kata Belqis, titik api berada di kawasan yang telah dilakukan restorasi, baik kawasan hutan, perkebunan, maupun lahan. “Jadi ini kebakaran berulang di titik yang sama. Lalu bagaimana proses restorasi itu dilakukan?” kata Belqis. Di samping itu Greenpeace Indonesia juga menemukan titik api dan asap berada di kawasan konservasi yang seharusnya dijaga dan dikelola negara. Namun, hingga kini tidak ada satu pun pelaku kejahatan di kawasan konservasi ini dijerat hukum. “Padahal di kawasan konservasi banyak titik api. Tapi tidak ada sanksi,” ujar Belqis. Temuan lain menunjukkan Papua kini menjadi titik baru kebakaran hutan dan lahan. Greenpeace Indonesia menemukan titik api berada di wilayah proyek strategis nasional yang digunakan untuk perkebunan sawit, tebu, dan komoditas pendukung kebijakan strategis Prabowo Subianto. “Bahkan ada 97 titik sumber api dan asap di lahan milik Kementerian Pertahanan. Kami melihat belum ada pertanggungjawaban, bahkan sanksi atas kejadian itu. Kami menilai pemerintah gagal melakukan mitigasi, padahal negara telah diingatkan oleh akademisi dan ahli akan menghadapi El Nino yang berkepanjangan. Ini adalah kegagalan negara,” kata Belqis. Data serupa disampaikan Auriga Nusantara yang mencatat kebakaran di Indonesia sudah berlangsung sejak semester pertama 2026 dengan luas mencapai 178.232 hektare. “Luasan areal ini menyamai tiga kali luas Singapura,” kata Juru Bicara Auriga Nusantara di hari yang sama. Vicky menyampaikan konsesi ekstraktif semestinya bertanggung jawab atas 36 ribu hektare hutan dan lahan yang terbakar. Kebakaran tersebut berada dalam 2.638 wilayah izin usaha, dengan rincian sawit 16.816 hektare, tambang 9.538 hektare, kebun kayu 5.997 hektare, dan konsesi HPH/logging 3.753 hektare. Bahkan, menurut data Auriga, habitat satwa ikonik turut menjadi korban. Sebanyak 11 ribu hektare area yang terbakar merupakan habitat harimau seluas 3,9 ribu hektare, orangutan 3,4 ribu hektare, badak 2,5 ribu hektare, dan gajah Sumatera 1,6 ribu hektare. “Mereka tidak menikmati konsesi sawit, tapi mereka terpapar. Mereka tidak diperhatikan. Ini kekayaan tidak ternilai dan mereka jadi korban. Ini mesti jadi perhatian pemerintah,” kata Vicky. Di mata Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), kondisi karhutla ini kian parah karena dua hal. Pertama diakibatkan oleh pemotongan anggaran penanggulangan bencana yang dikelola oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sebelumnya pada 2024, anggaran yang dikelola BNPB mencapai Rp4,9 triliun. Pada 2025 menjadi Rp2,01 triliun, dan pada 2026 ini turun hingga 60 persen dengan nilai yang dikelola sebesar Rp491 miliar. Kedua, tanggung jawab penanganan karhutla di seluruh Indonesia tidak dilakukan secara optimal oleh pemerintah pusat maupun daerah. “Sementara kapasitas fiskal daerah tertekan oleh berkurangnya transfer dan sumber pendapatan. Negara membuat daerah tidak berdaya menghadapi bencana, tetapi masyarakat yang membayar harga sosial, kesehatan, dan kemanusiaannya. Pada saat yang sama, belanja negara untuk proyek-proyek prioritas pemerintah tetap berjalan,” ujar Edy Kurniawan dari YLBHI. Kondisi itu diperburuk ketika sanksi pidana bagi korporasi tidak pernah dilakukan oleh aparat penegak hukum. Sebab, Undang-Undang Cipta Kerja telah mengubah tata kelola penegakan hukum yang awalnya mendorong penindakan pidana menjadi administratif dan denda. YLBHI mencatat ada 16 kasus kejahatan lingkungan. Tujuh di antaranya diselesaikan secara administratif, sedangkan sembilan lainnya diproses secara pidana, tetapi pelakunya merupakan individu. “Perusahaan tidak pernah dijerat menggunakan pasal apa dan prosesnya tidak ada transparansi hukum. Padahal semangat UU Kehutanan dan Undang-Undang Lingkungan Hidup mengejar pelaku kejahatan terorganisir, bukan kejahatan individu, bahkan lingkupnya kejahatan lintas negara,” kata Edy Kurniawan. Sementara itu, Perkumpulan Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI) mengungkapkan bahwa kebakaran hutan dan lahan ini semestinya dijadikan momentum untuk meninjau kembali ketentuan pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), khususnya Pasal 36 dan Pasal 613 ayat (3), yang dinilai justru melemahkan penegakan hukum untuk menjerat korporasi. Andri Gunawan Wibisana menyoroti Pasal 46 yang dinilai menyulitkan penjeratan korporasi. “Tindak Pidana oleh Korporasi dianggap dilakukan apabila perbuatan tersebut dilakukan oleh Pengurus, orang yang berdasarkan hubungan kerja, atau berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan Korporasi, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.” Andri Gunawan Wibisana juga menyoroti Pasal 613 ayat (3) KUHP. “Dalam hal Undang-Undang di luar Undang-Undang ini merupakan Undang-Undang administratif yang bersanksi pidana, upaya pembinaan dan penerapan sanksi administratif atau sanksi lainnya harus didahulukan penerapannya daripada penerapan sanksi pidana.” “Kalau ada sanksi pidana bahkan pembinaan dulu sebelum pidana. Ratusan yang tersangka bisa bebas atau batal demi hukum. Saya ingin meminta pertanggungjawaban presiden dan DPR apa tujuannya membuat pasal itu? Apa dasarnya? Ini pasal yang berbahaya,” kata Andri dalam konferensi pers pada Rabu, 9 September 2026. Kendati demikian, pengajar hukum pidana lingkungan di Universitas Indonesia (UI) itu menilai masih ada peluang untuk menggugat korporasi dan pemerintah melalui gugatan perdata. Namun, menurutnya, organisasi lingkungan, organisasi sipil, bahkan pemerintah tidak bisa melakukan gugatan terhadap korporasi atas kebakaran hutan, lahan, dan asap. “Yang bisa melakukan gugatan itu warga terdampak. Maka dari itu, jika pidana gagal, maka perdata menjadi senjata paling bisa diandalkan,” ujarnya. Dia juga meminta pemerintah segera meninjau kembali kebijakan tata kelola pengelolaan lahan gambut, hutan, perkebunan, dan pertambangan. Salah satu hal yang perlu dilakukan ialah moratorium izin maupun pencabutan perizinan korporasi. “Pencegahan paling baik itu dengan melakukan penghentian perizinan sektor kehutanan, lalu menghentikan alih fungsi gambut dan melakukan pemulihan gambut yang rusak. Itu yang bisa saya diharapkan,” pungkas Andri. Artikel Karhutla Meluas, Korporasi dan Negara Didesak Bertanggung Jawab pertama kali tampil pada Jaring . Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://jaring.id .

Karhutla Meluas, Korporasi dan Negara Didesak Bertanggung Jawab
0
PS
Piet Sukendar Terverifikasi· Warga
Kiriman

Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan

Erupsi Anak Krakatau terjadi saat korban banjir, gempa, dan karhutla masih merasakan derita. Di Banten, penderitaan dan pengabaian pemerintah kolonial setelah letusan Krakatau 1883 menumpuk kemarahan rakyat selama lima tahun hingga pecah Geger Cilegon. Anak Krakatau di Selat Sunda mulai erupsi pada 4 September pukul 23.07 WIB. Erupsi yang berlangsung terus-menerus selama sekitar 25 jam itu menyebarkan abu ke Banten dan Lampung hingga memasuki ruang udara Jakarta. Abu yang mencapai Jakarta tentu tidak membuat penderitaan ibu kota sebanding dengan kehidupan warga di sekitar pusat bencana. Namun, abu itu sejenak memangkas jarak antara daerah terdampak dan pusat kekuasaan. Bencana yang biasanya tiba di meja para pejabat sebagai angka, laporan, dan bahan rapat kini ikut menggantung di udara kota yang sudah penuh polusi. Jarak itu sebelumnya terasa begitu jauh bagi warga Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. Banjir dan longsor pada akhir 2025 menewaskan lebih dari seribu orang di ketiga provinsi tersebut. Hujan ekstrem memang menjadi pemicu, tetapi kerusakan daerah aliran sungai dan pembukaan lahan memperparah dampaknya. Berbulan-bulan kemudian, kehidupan warga belum juga pulih. Di Aceh, pemerintah mencatat kebutuhan 34.727 hunian tetap. Hingga akhir Juli 2026, baru 401 unit atau sekitar 1,2 persen yang selesai dibangun. Banyak warga masih menunggu rumah, pemulihan sawah, serta kepastian mata pencaharian. Pemerintah gagap menyelesaikan pemulihan, tetapi sejak awal gagah menyatakan Indonesia mampu menangani bencana tanpa bantuan internasional. Belum usai penderitaan di Sumatra, gempa M7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Gempa tersebut menewaskan 127 orang , melukai 1.668 orang, dan membuat lebih dari 181 ribu orang mengungsi. Tak lama berselang, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan serta Sumatra mengirimkan asap hingga Malaysia. Penangkapan lebih dari seratus orang dan penyelidikan terhadap sejumlah perusahaan belum sepenuhnya menjawab pertanyaan tentang pertanggungjawaban korporasi, pemilik konsesi, serta pihak yang menikmati keuntungan dari pembakaran dan pembukaan lahan. Bukan cuma rakyat Indonesia yang protes atas kegagapan pemerintah menangani bencana, bahkan sejumlah warga Malaysia juga menggelar aksi demonstrasi di depan KBRI di Malaysia menuntut transparansi atas penyebab pembakaran lahan di Indonesia. Sementara itu, peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh di Banda Aceh pada 15 Agustus 2026 berubah menjadi kericuhan. Sejumlah warga mengibarkan bendera bulan bintang di Masjid Raya Baiturrahman. Aparat membalas dengan tembakan peringatan, semprotan air, dan gas air mata. Polemik bendera Aceh tentu tidak lahir dari banjir semata. Akarnya menjulur hingga konflik bersenjata, janji Kesepakatan Helsinki yang belum sepenuhnya dituntaskan, ketimpangan ekonomi, dan sengketa antara pemerintah Aceh dan Jakarta. Namun, lambannya pemulihan banjir akhir 2025 menambahkan alasan baru bagi warga untuk merasa ditinggalkan. Di titik itulah bencana alam berubah menjadi persoalan politik. Ketika rumah dan mata pencaharian hilang, bantuan terlambat, tetapi pemerintah terus menuntut ketertiban dan mengumumkan keadaan terkendali, kemarahan tidak ikut surut bersama air banjir. Ia mengendap, mencari bahasa, simbol, dan sasaran. Indonesia pernah menyaksikan proses serupa lebih dari satu abad lalu di Banten. Dari Krakatau ke Geger Cilegon Pada 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan yang suaranya terdengar hingga ribuan kilometer. Letusan dan tsunami yang menyusul menewaskan lebih dari 36 ribu orang di sekitar Selat Sunda serta menghancurkan banyak perkampungan di Banten dan Lampung. Pemerintah kolonial Hindia Belanda mengerahkan aparat ke wilayah terdampak. Mereka mendata korban, menguburkan jenazah, membersihkan puing, dan berusaha memulihkan ketertiban. Simon Winchester dalam Krakatau: Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883 menggambarkan bagaimana jenazah dikuburkan sedekat mungkin dari tempat penemuannya karena jumlah korban dan luasnya kerusakan. Namun, membersihkan puing tidak sama dengan memulihkan kehidupan. Banyak warga Banten kehilangan rumah, keluarga, lahan, perahu, ternak, dan sumber penghidupan. Pemerintah kolonial dapat membersihkan jalan dan menguburkan korban, tetapi tidak mengembalikan dasar kehidupan masyarakat yang telah hancur. Keadaan Banten sebenarnya sudah buruk sebelum Krakatau meletus. Wabah penyakit ternak pada 1879 memusnahkan sekitar dua pertiga populasi kerbau. Padahal kerbau merupakan tenaga utama untuk membajak sawah. Tanpa kerbau, lahan sulit diolah dan produksi pangan ikut terganggu. Letusan Krakatau datang ketika masyarakat belum sepenuhnya pulih dari tekanan tersebut. Di tengah kemiskinan yang semakin berat, pemerintah kolonial tidak mengurangi beban rakyat. Pajak tetap dipungut dan kerja wajib untuk kepentingan pejabat pribumi terus diberlakukan. Denys Lombard mencatat bahwa masyarakat pedesaan di sekitar Cilegon harus menanggung sekaligus kehancuran akibat Krakatau dan beratnya pantjendiensten , yakni kerja rodi untuk pejabat pribumi. Lima Tahun Kemarahan Menumpuk Pemberontakan tidak pecah segera setelah Krakatau meletus. Ada jarak hampir lima tahun antara bencana pada Agustus 1883 dan Geger Cilegon pada Juli 1888. Jeda tersebut bukan ruang kosong. Pada masa itulah kehilangan ekonomi, tekanan pemerintah, keresahan keagamaan, dan kebencian terhadap penguasa perlahan bertemu. Tanda-tanda ketegangan telah muncul beberapa minggu setelah letusan. Pada 2 Oktober 1883, seorang serdadu Belanda yang sedang membeli tembakau di Serang ditikam oleh seorang pria berjenggot dan berbaju putih. Penyerangnya kemudian menghilang. Pada 19 November 1883, Umar Djaman, seorang penjaga pribumi yang bekerja untuk pemerintah, juga diserang oleh pria berpakaian putih. Dua penyerangan tersebut belum merupakan pemberontakan yang terorganisasi. Namun, keduanya menunjukkan bahwa kemarahan mulai diarahkan kepada orang-orang yang dianggap mewakili kekuasaan kolonial. Sartono Kartodirdjo membaca peristiwa itu dalam suasana sosial dan keagamaan yang sedang mengeras. Kemiskinan dan penindasan tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan ekonomi. Keduanya mulai diterjemahkan ke dalam bahasa keagamaan: perang sabil, kedatangan Ratu Adil atau Imam Mahdi, serta keyakinan bahwa kekuasaan yang zalim akan segera berakhir. Letusan Krakatau juga ditafsirkan secara politis. Christiaan Snouck Hurgronje mencatat bahwa sebagian penduduk pribumi menganggap bencana tersebut sebagai hukuman atas Perang Aceh sekaligus pertanda akan datangnya peristiwa politik besar. Bencana alam memperoleh makna sosial: letusan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai peristiwa geologi, melainkan sebagai tanda bahwa tatanan yang berlaku telah menyimpang. Akan tetapi, keyakinan keagamaan saja tidak cukup untuk melahirkan pemberontakan. Kemarahan juga membutuhkan jaringan yang menyebarkan gagasan dan mengorganisasi tindakan. Dalam tahun-tahun setelah letusan, para ulama, haji, guru agama, dan pemimpin desa menjadi penghubung di antara masyarakat yang sama-sama dibebani pajak, kerja rodi, kemiskinan, dan kesewenang-wenangan pejabat. Dengan demikian, jarak lima tahun antara Krakatau dan Geger Cilegon memperlihatkan proses yang bertahap. Bencana memperburuk kemiskinan. Kemiskinan memperbesar kebencian terhadap pungutan dan kerja paksa. Pengalaman ketidakadilan kemudian memperoleh bahasa keagamaan dan disebarkan melalui jaringan sosial. Dari sanalah kemarahan pribadi perlahan berubah menjadi perlawanan bersama. Geger Cilegon Akumulasi itu meledak pada 9 Juli 1888. Massa menyerang pejabat Eropa dan aparatur pribumi yang dianggap menjadi bagian dari kekuasaan kolonial di Cilegon. Sejumlah haji memimpin gerakan tersebut, termasuk Haji Wasid bin Muhammad Abbas. Aksi berlangsung di sejumlah tempat dan menyasar orang-orang yang dipandang mewakili pemerintahan kolonial. Rakyat Banten kemudian mengenang peristiwa tersebut sebagai Geger Cilegon. Kekerasan dalam pemberontakan itu tidak perlu diromantisasi. Warga sipil, termasuk dua anak perempuan berusia enam dan tujuh tahun, turut terbunuh. Pemerintah dan pers kolonial memakai kematian tersebut untuk menggambarkan para pemberontak sebagai massa kejam dan “barbar”. Namun, penyebutan itu hanya memperlihatkan kekerasan yang terjadi pada puncak pemberontakan. Ia menutupi kekerasan yang berlangsung lebih lama melalui pemiskinan, pajak, kerja paksa, kesewenang-wenangan pejabat, dan pengabaian terhadap masyarakat yang baru kehilangan segalanya akibat bencana. Pemerintah kolonial akhirnya mengerahkan tentara untuk memadamkan pemberontakan. Java Bode pada 4 Agustus 1888 memberitakan bahwa sebagian pemberontak mundur ke arah selatan Banten. Haji Wasid bersama Ki Tubagus Ismail, Haji Usman, dan Haji Abdul Gani kemudian gugur dalam pertempuran melawan aparat kolonial pada 30 Juli 1888. Geger Cilegon bukan pemberontakan yang disebabkan semata-mata oleh letusan Krakatau. Letusan itu memperbesar penderitaan yang telah ada. Mengubah penderitaan menjadi kemarahan politik adalah lima tahun kegagalan pemulihan, pungutan yang terus berjalan, pemaksaan kerja, serta pemerintah yang lebih sibuk menjaga ketertiban daripada memulihkan kehidupan rakyat. Jarak lima tahun antara letusan Krakatau dan Geger Cilegon bukan hitung mundur menuju pemberontakan, melainkan peringatan bahwa kemarahan tumbuh ketika penderitaan terus diabaikan. Tulisan ini juga telah dipublikasikan di projectmultatuli.org .

Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan
0
BA
Bung Ahmad· Warga
5 jam·💭Opini
Opini

Runtuhnya Imperium Jawa Pos

Perjalanan Jawa Pos, salah satu koran dengan sejarah paling berwarna di Indonesia. Pada tahun 2021, Remotivi bekerja sama dengan Deduktif membuat laporan tentang runtuhnya kerajaan Jawa Pos. Laporan yang terdiri dari empat babak ini diawali dengan penelitian Remotivi tentang awal mula Jawa Pos hingga Jawa Pos masa kini, diikuti dengan wawancara mendalam terhadap tokoh-tokoh kunci Jawa Pos. Seperti apa lika-liku tumbuhnya koran dari timur Jawa ini sampai ke keretakannya di tahun 2020? Awal dari Jawa Pos Jawa Pos lahir dari tangan dingin pengusaha Bangka bernama The Chung Sen alias Suseno Tejo. Sebelum terjun ke bisnis media, The adalah pekerja bioskop yang bertugas mempromosikan film yang akan tayang ke koran-koran lokal. Interaksinya dengan industri koran membuatnya tertarik untuk membangun bisnis korannya sendiri. Dari sini lahirlah Chinese Daily News (Hua Chiao Hsin Wen), koran berbahasa Mandarin dengan sirkulasi di area Surabaya dan sekitarnya. Koran ini terbukti laku keras karena minimnya kompetitor dan banyaknya masyarakat Tionghoa di Jawa Timur. Kesuksesan koran ini menginspirasi The untuk membuat koran berbahasa Indonesia. Koran yang dinamai The Java Post terbit perdana pada 26 Juni 1949, dengan alamat kantor di Kembang Jepun 166, Surabaya. Koran ini banyak dibaca oleh masyarakat Surabaya berkat isinya yang kritis dan keras terhadap pemerintah, polisi, dan militer. Namun, kekritisannya berujung penggerebekan polisi yang memakan korban: empat jurnalis terluka dan mesin-mesin produksi koran rusak. Walaupun didera kekerasan, The dan jajaran redaksi tidak pantang mundur. Buktinya, sembilan tahun setelah The Java Post berdiri, The melebarkan sayap dengan mengakuisisi koran berbahasa Belanda De Vrije Pers pada 19 Februari 1954. Namun, manisnya kesuksesan kerajaan The tak bertahan lama. De Vrije Pers harus berganti menjadi koran berbahasa Inggris bernama Indonesian Daily News karena Sukarno melarang penggunaan atribusi Belanda sejak adanya konflik Irian Barat. Puncaknya terjadi pasca tragedi G30S PKI: koran Chinese Daily News terpaksa berhenti terbit karena sentimen anti-komunis dan anti-Tiongkok. Sisanya hanya The Java Post, itu pun kejayaannya tidak bertahan lama. Iklan yang mereka terima dan jumlah pembaca semakin menyusut. Di tahun 1982, mereka tinggal memiliki 2.400 pelanggan setia. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan koran ini adalah dengan menjualnya ke pemilik baru. Tempo dan Kompas tertarik untuk membeli bisnis The. Namun, karena Jakob Oetama, yang merupakan teman dekat The, sungkan, akhirnya Tempolah yang berakhir membeli koran ini. Nama koran diganti menjadi Jawa Pos dan Dahlan Iskan, kepala biro Tempo Surabaya, ditunjuk sebagai pimpinan baru Jawa Pos. Dahlan merombak cara kerja Jawa Pos: ia memaksa para jurnalis untuk mengejar berita, pekerja harus standby di kantor sampai dini hari, menambah kolom-kolom baru seperti analisis, feature, dan opini yang diisi oleh dosen-dosen universitas negeri besar. Ia juga melakukan evaluasi berita-berita yang terbit kemarin bersama para jurnalis. Selain menerapkan disiplin yang keras, Dahlan juga membuat model bisnis baru: ia merekrut keluarga pegawai untuk menjadi sales koran. Ia juga merekrut anak-anak sekolah untuk menjajakan korannya setelah pulang sekolah dengan imbalan uang saku dan uang SPP. Taktik memberikan persenan juga ia lakukan ke penjual koran. Selain merombak sisi produksi dan bisnis, Dahlan juga melakukan inovasi-inovasi lain, seperti menggunakan laman koran berwarna dan mengadakan program “Tret tet tet ke Jakarta” yang memberangkatkan belasan ribu Bonek (fans Persebaya) untuk menonton kompetisi Perserikatan tahun 1986/1987. Keputusan Dahlan ini tergolong unik, pasalnya, koran ini dulunya terkenal bersuara sumbang ke tim sepakbola itu. Inovasi Dahlan yang benar-benar mendongkrak kesuksesan Jawa Pos adalah liputan Nany Wijaya mengenai People’s Power Revolution di Filipina. Liputan luar negeri saat itu sangat jarang karena infrastruktur seperti laptop dan internet tergolong mahal. Maka ketika ada koran yang berhasil, masyarakat langsung gempar. Liputan Nany berhasil menaikkan oplah Jawa Pos dari 6.800 menjadi 40.000 eksemplar. Periode lima tahun setelahnya (1987-1992) dipenuhi dengan usaha Dahlan memperbaiki citra Jawa Pos. Ia ingin Jawa Pos dibaca oleh kalangan atas dan dikenal sebagai “koran nasional yang terbit dari Surabaya”. Untuk melakukannya, ia terus mengirimkan jurnalis-jurnalis andalannya ke luar negeri untuk meliput liga sepakbola dan kondisi perpolitikan. Inovasi ini mendatangkan hasil yang luar biasa. Tiras Jawa Pos berjumlah 300 ribu eksemplar per hari dengan omzet Rp38,6 miliar. Selain itu, taktik Dahlan untuk merambah daerah timur lewat pembuatan koran-koran lokal terbukti berhasil. Namun, Dahlan tak berhenti di situ. Ia memutuskan untuk membangun dua pabrik kertas, yaitu PT Adiprima Suraprinta di tahun 1994 dan PT Temprina Media Grafika di Gresik tahun 1996. Pabrik kertas ini digunakan untuk menyuplai kertas ke jaringan-jaringan koran Jawa Pos. Walau Jawa Pos untung besar, hanya para bos dan investor yang kecipratan manisnya. Para karyawan, bahkan karyawan awal Jawa pos hanya menerima sedikit keuntungan. Laba sisanya dialihkan Dahlan untuk mengekspansi bisnis ke berbagai daerah. “Pelitnya” Dahlan dalam urusan kesejahteraan pekerja bisa dilihat dari kebijakannya terhadap karyawan. Dahlan meminta agar hanya lulusan sarjana yang bisa masuk di koran-koran Radar di daerah, tapi dengan gaji seadanya. Baru setelah mengabdi selama 4-5 tahun mereka bisa mendapat bonus dan kenaikan gaji. Buat Dahlan dan beberapa pejabat atas Jawa Pos, sistem ini menguntungkan karena bisa meningkatkan produktivitas dan laba dengan biaya yang sedikit. Namun, bagi Lanny Kusumawati, kepala keuangan Jawa Pos saat itu, hal ini tidak adil. Menurut liputan Pantau, mayoritas saham Jawa Pos dikuasai oleh PT Grafiti Pers (penerbit Tempo) sebanyak 40 persen, keluarga Eric Samola sebanyak 20 persen, dan pimpinan Tempo seperti Goenawan Mohamad, Harjoko Trisnadi, Lukman Setiawan, dan Fikri Jufri masing-masing sebanyak 5 persen. Dahlan bahkan tidak memegang saham sama sekali. Dahlan tak ambil pusing. Ia fokus mengekspansi bisnis ke media TV dan real estate lewat Graha Pena. Hal ini ia lakukan karena ia sadar bisnis media koran cetak mulai menurun. Pendirian JTV berbasis di Surabaya resmi disahkan tahun 2001, diikuti dengan kanal-kanal TV lokal lainnya di berbagai daerah yang berada di bawah bendera Jawa Pos. Berebut Kuasa di Jawa Pos Keretakan mulai terlihat kala Dahlan memasukkan anaknya, Azrul Ananda, ke Jawa Pos di tahun 2000. Keputusan ini melahirkan ketegangan baru di jajaran redaksi. Pasalnya, Dahlan sendiri yang membuat aturan keluarga tidak boleh masuk ke Jawa Pos. Salah satu korban dari aturan ini adalah Husnun Djuraid, kakak Dhimam Abror. Ia terpaksa pindah dari posnya di Jawa Pos cabang Semarang supaya tidak ada konflik kepentingan. Tensi kantor redaksi terus meningkat kala Azrul menaiki tangga karier dengan begitu cepat. Ia menduduki posisi pimpinan redaksi lima tahun setelah masuk—sebuah posisi yang biasanya diduduki para jurnalis senior dengan pengalaman belasan-puluhan tahun. Promosi Azrul membuat redaksi was-was. Banyak jurnalis senior merasa dilangkahi, ada pula yang merasa posisinya terancam. Naiknya Azrul memang memakan korban, yaitu Dhimam Abror yang didepak karena berselisih tegang dengan Azrul, lalu Sururi Alfaruq yang dibuang dan berujung bekerja di Kompas. Tak butuh waktu lama bagi Azrul untuk duduk di tampuk kursi direktur. Ia secara resmi menjabat sebagai Direktur Utama Grup Jawa Pos tahun 2011, menggantikan ayahnya yang saat itu lebih fokus di politik. Pengangkatannya bukan tanpa kontroversi. Banyak yang menganggap Azrul terlalu dini menjabat posisi tersebut dan tidak bisa mengikuti jejak ayahnya. Gaya kepemimpinan mereka juga begitu berbeda: Azrul lebih fokus ke pemasaran dan perluasan bisnis, tapi kurang peduli dengan kualitas konten Jawa Pos. Dahlan, meskipun jor-joran mengekspansi bisnis, tetap terlibat dalam proses produksi berita. Perebutan kuasa mulai terlihat di tahun 2017, tepatnya di Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang terjadi di akhir Juni 2017. Goenawan Mohammad (GM) menyodorkan nama anaknya, Hidayat Jati ke dalam jajaran direksi Jawa Pos. Usulan tersebut ditolak Tirza Samola, wakil dari keluarga Eric Samola dan Dahlan. Tirza mengusulkan agar Jati “magang dulu” di anak perusahaan Jawa Pos, seperti Azrul dulu. Namun, usulan ini malah membuat tensi rapat meninggi. Yohannes Hengky Wijaya yang mewakili Grafiti Press mengusulkan voting di antara pemegang saham. Langkah ini membuat kubu Dahlan terpojok. Bagaimana tidak, Dahlan hanya memegang 10,20 persen dan keluarga Eric Samola 8,9 persen. Pemegang saham mayoritas adalah Grafiti Pers sebesar 49 persen, ditambah dengan kepemilikan GM sebesar 7,2 persen. Namun, voting tak pernah terjadi. Jati masuk ke jajaran direksi Jawa Pos. Dahlan Keluar dari Jawa Pos Empat bulan setelahnya, tepatnya pada 14 November 2017, Azrul secara mendadak mengundurkan diri dari posisi Dirut Jawa Pos. Harjoko Trisnadi menyebut Azrul mundur sebagai respons masuknya Jati ke direksi Jawa Pos. Namun, hal ini dibantah GM. Menurutnya, tidak ada pertarungan putra mahkota antara keduanya. Namun, karyawan Jawa Pos punya pandangan berbeda. Dhimam Abror melihat konflik antara GM dengan Dahlan sebagai perebutan kuasa penuh atas Jawa Pos. Bagaimana tidak, Jawa Pos merupakan lumbung penghasilan besar bagi para pemilik sahamnya, termasuk Dahlan dan GM. Perkiraan dividen para pemegang saham tiap tahunnya mencapai milyaran rupiah. Angka ini terlihat fantastis, tapi sebetulnya wajar. Jawa Pos memang media massa besar dengan anak perusahaan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Mengutip data Media and Concentration in Indonesia, Jawa Pos pada 2012 menaungi 141 media surat kabar, 12 televisi, 1 radio, 2 majalah, 11 tabloid, 1 media daring, dan masih banyak lagi. Dengan jaringan seluas ini, tentunya angka omzet Jawa Pos bisa mencapai ratusan miliar. Meski begitu, angka laba yang diraup Jawa Pos terus turun setiap tahunnya. Pada tahun 2013, laba Jawa Pos berada di angka Rp686,56 miliar. Pendapatan ini terus turun hingga ke angka Rp520,40 miliar di tahun 2015 dan 2016. Penurunan paling tajam terjadi di tahun 2017. Setidaknya sampai Oktober 2017, pendapatan Jawa Pos baru berkisar di angka Rp345,57 miliar dengan laba bersih diperkirakan sekitar Rp65 miliar. Para jajaran direksi menuduh Azrul dan Dahlan sebagai penyebab turunnya omzet. Dahlan dituduh melakukan penyelewengan dana perusahaan untuk membeli Persebaya, membangun brand Deteksi Basketball League (DBL) dan PLTU Tenggarong. Total dana perusahaan yang dikeluarkan hampir Rp1 triliun. Sementara itu, Azrul dianggap bertanggung jawab keputusan bisnisnya dianggap kurang tepat. Karena alasan tersebut, Dahlan didesak mundur dari kursi direksi. Namun, alasan tadi disangsikan oleh Arif Afandi, mantan Pemred Jawa Pos. Menurutnya, tak mungkin pendapatan Jawa Pos berkurang mengingat readership Jawa Pos yang masih bagus. Arif juga menambahkan total aset Jawa Pos mencapai Rp8,4 triliun. Aset tersebut, menurut Arif, merupakan buah kerja Dahlan. Hal ini dibuktikan oleh data AC Nielsen yang menunjukkan readership Jawa Pos secara nasional pada rentang 2016-2018 lebih stabil dibandingkan Kompas. Pembaca koran Jawa Pos berada di kisaran 880-986 ribu. Di sisi lain, readership Kompas justru semakin menurun: pada kuartal-III 2016 mencapai 1.006.000, tapi turun ke 440 ribu pada kuartal-II 2018. Namun, desakan dari jajaran investor disanggah oleh GM dan Harjoko Trisnadi. Keduanya mengatakan mereka masih ingin Dahlan mengurus Jawa Pos. Lebih lanjut, Harjoko menyatakan justru Dahlanlah yang mengundurkan diri karena kesibukannya sebagai pejabat publik. GM sendiri menegaskan hubungannya dengan Dahlan sebenarnya baik-baik saja. Ia menegaskan ia yang meminta bantuan ke Presiden Joko Widodo kala Dahlan terlibat kasus dengan Jaksa Agung. Balkanisasi Jawa Pos Mundurnya Dahlan dari posisi direktur membuat imperium Jawa Pos runtuh pelan-pelan. Dhimam Abror menyebut isu ini sebagai “balkanisasi”, perumpamaan yang acap digunakan untuk menggambarkan perpecahan sebuah negara menjadi negara-negara baru. Ia mengibaratkan aset-aset media massa Jawa Pos di luar daerah Jawa bak rampasan perang yang saling diperebutkan. Anak-anak perusahaan Jawa Pos yang keluar adalah JPNN.com, Sumatera Ekspres, dan harian Fajar di Makassar. Lepasnya Sumatra Ekspress dan Fajar merupakan kehilangan terbesar Jawa Pos. Pasalnya, Sumatra Ekspress membawahi dua puluh anak perusahaan yang membentang dari Sumatera Selatan sampai Bangka Belitung. Sekarang Sumatera Ekpsres dan seluruh jaringannya berada di bawah PT Wahana Semesta Merdeka (WSM). Begitu pula dengan Radar Lampung Group (13 media koran) dan Rakyat Bengkulu Group (14 media koran) yang dulu pernah dikelola Jawa Pos. Sementara itu, harian Fajar berubah nama menjadi Fajar Indonesia Network (FIN) dengan alamat kantor pusat di Graha Lembang 9, Jakarta Selatan. Lepasnya dua kapal besar ini diakibatkan oleh strategi bisnis Dahlan, yaitu spasialisasi bisnis. Dahlan bekerja sama dengan media-media massa lokal yang hampir mati, lalu menyuntikkan modal ke mereka sehingga Jawa Pos menjadi salah satu pemilik. Pada umumnya, Jawa Pos memiliki separuh saham dari media lokal tersebut, bergabung dengan pemilik aslinya. Ini tak seperti Kompas dan Tribun yang kepemilikannya cenderung terpusat. Selain itu, Dahlan juga mengandalkan jaringan perkoncoannya. Konco alias teman-temannya inilah yang nantinya memimpin perusahaan yang baru diakuisisi: Rida K. Liamsi di Riau Pos, Zainal Muttaqin di Kaltim Post, Alwi Hamu di Fajar, dan Suparno di Sumatera Ekspres. Hal ini dilakukan untuk memudahkan penyelarasan visi. Jaringan ini dianggap mengaburkan status kepemilikan Jawa Pos atas media-media tersebut. Contohnya, Sumatera Ekspres yang ternyata tak punya hubungan kepemilikan saham dengan Jawa Pos. Masuknya mereka ke grup Jawa Pos semata karena kedekatan Dahlan dengan Suparno dan PT WSM, pemilik saham resmi Sumatera Ekspres. Mantan Pemred Jawa Pos, Arif Afandi juga sependapat soal gaya bisnis Dahlan. Menurutnya, Dahlan melakukan itu karena sebetulnya tidak semua rencana pengembangan bisnis mendapat persetujuan dari pemegang saham yang berimbas pada sedikitnya sokongan modal. Padahal, visi Dahlan adalah setiap daerah punya media lokal sendiri supaya mereka punya perspektif sendiri. Strategi Dahlan bisa dilihat sebagai kekuatan maupun kelemahan. Kekuatan karena bisa membuat imperium Jawa Pos membentang dari timur hingga barat Indonesia. Kelemahan karena banyaknya aset daerah dengan kepemilikan pemilik daerah membuat pendataan sulit. Lebih-lebih, sekarang bisnis Jawa Pos meliputi entitas non-media seperti percetakan, pabrik kertas, penerbit buku, sampai pabrik listrik. Hal yang membuat Jawa Pos besar, justru juga menjadi penyebab runtuhnya. Ketika Dahlan turun dari posisi direktur, jaringan Jawa Pos satu per satu lepas. “Bintang-bintang [para pemilik] itu di daerah rata-rata pengikut setianya Pak Dahlan Iskan, karena merasa dibesarkan Pak Dahlan Iskan. Ketika kemudian Pak Dahlan lepas dari situ (Jawa Pos), mereka ikut mrotoli,” kata Arif. penulis: Ann Putri Writer part-time, wibu BTS full-time. Rebahan dan makan mie adalah jalan ninjaku.

Runtuhnya Imperium Jawa Pos
0
AH
Akhyari Hananto· Warga
Kiriman

Terbang 3.500 Km Sebelum Kehilangan Kemampuan Terbang, Kini Jadi Penghuni Tunggal Pulau Paling Terpencil di Dunia

Sejumlah pulau paling terpencil di dunia menjadi rumah bagi spesies burung yang khas, hasil dari isolasi geografis yang berlangsung jutaan tahun. Tanpa keberadaan predator, burung di pulau semacam ini kerap kehilangan kemampuan terbang, sebuah pola evolusi yang tercatat di berbagai belahan dunia. Salah satu contohnya ditemukan di gugusan kepulauan Tristan da Cunha, di tenggara Samudra Atlantik Selatan. Salah satu pulau dalam gugusan itu adalah Inaccessible Island, pulau vulkanik bertebing curam dengan luas hanya 7,4 kilometer persegi. Ombak besar dan medan ekstrem membuat pulau ini nyaris tidak pernah dikunjungi manusia sejak ditemukan. Di pulau inilah hidup Atlantisia rogersi, atau Mandar Inaccessible, burung tak bisa terbang terkecil di dunia. Bobotnya 30 sampai 40 gram, mirip berat sebutir bola pingpong, dengan ukuran tubuh tidak lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa. Selama hampir satu abad, ilmuwan belum mengetahui bagaimana spesies yang tidak bisa terbang ini bisa menghuni pulau yang terpisah ribuan kilometer dari daratan mana pun. Riset DNA Membantah Teori Jembatan Darat Pertanyaan itu baru terjawab lewat riset genetika yang dipimpin ahli biologi evolusi Martin Stervander bersama tim dari FitzPatrick Institute of African Ornithology, yang naskahnya terbit di jurnal Molecular Phylogenetics and Evolution. Untuk melacak silsilah burung ini, tim peneliti mengandalkan teknik pengurutan DNA modern, lalu membandingkan materi genetiknya dengan sejumlah kerabat burung dari berbagai belahan dunia. Hasilnya mematahkan hipotesis ahli ornitologi Percy Lowe yang diajukan pada 1920-an. Lowe menduga leluhur burung ini berjalan kaki melintasi bentangan darat purba yang menyambungkan benua-benua, sebelum bentangan itu akhirnya karam ke dasar laut. Mandar Inaccessible (Atlantisia…This article was originally published on Mongabay Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://mongabay.co.id .

Terbang 3.500 Km Sebelum Kehilangan Kemampuan Terbang, Kini Jadi Penghuni Tunggal Pulau Paling Terpencil di Dunia
0
RT
Rendy Tisna· Warga
Kiriman

Bagaimana Populasi Bekantan di Rawa Gambut Kalimantan Selatan?

Tiga kali Rafa’i membawa ketintingnya menuju Pulau Jingah di Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, mencari keberadaan bekantan (Nasalis larvatus). Namun, primata berhidung panjang itu tak kunjung terlihat. Padahal, di hamparan rawa gambut tersebut, sejumlah nelayan mengatakan beberapa kali melihat monyet belanda tersebut. “Kalau tidak dicari, kadang mereka di sini,” ujar Rafa’I, warga Desa Bararawa. Amat Kani, warga Desa Bararawa lainnya, memperlihatkan video ketika dia tak sengaja menemukan bekantan di antara pepohonan dan rawa. “Sewaktu saya mencari ikan,” terangnya, Senin (24/8/26). Bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan yang menyukai habitat mangrove. Foto: Rhett Butler/Mongabay.. Bekantan Terancam Kehilangan Habitat Penelitian sebaran dan status bekantan di rawa gambut pernah dilakukan akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mochamad Arief Soendjoto, Mila Rabiati, Usman, dan Hafizh Muhardiansyah, pada 2013 lalu, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Dari 18 lokasi penelitian, bekantan ditemukan langsung di empat lokasi dengan total 55 individu. Miftahul Pauji, Ketua Badan Pengurus AP2SI (Asosiasi Pengelola Perhutanan Sosial Indonesia) Kalimantan Selatan, mengatakan keberadaan bekantan di Kecamatan Paminggir, yang berbartasan dengan Hulu Sungai Tengah, tidak bisa dilepaskan dari rawa yang menjadi ruang hidup masyarakat juga habitat satwa tersebut. Rawa Paminggir memiliki fungsi ekologis seperti menyimpan air, membantu mengurangi risiko banjir saat musim hujan, menjaga ketersediaan air saat kemarau, sekaligus menyimpan cadangan karbon. “Bila rawa dan hutannya rusak, bukan hanya masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan, bekantan juga kehilangan habitat,” jelasnya, Senin (25/8/26). Seekor bekantan jantan dewasa tampak berada di antara rimbunnya pepohonan. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia. Tata air rawa perlu dipertahankan, alih fungsi…This article was originally published on Mongabay Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://mongabay.co.id .

Bagaimana Populasi Bekantan di Rawa Gambut Kalimantan Selatan?
0
AR
Achmad Rizki Muazam· Warga
Kiriman

Kemarau Panjang, Jabodetabek Terancam Krisis Air

Rosmiati, warga Kampung Katulampa, terlihat sedang memandikan dua anaknya di Kali Baru, irigasi buatan yang mengambil aliran dari Sungai Ciliwung, Akhir Agustus lalu. Ember kecil berisi sabun, odol. Sampo, dan sikat gigi tergeletak di sampingnya saat dia sibuk membanjur air ke badan si kecil. Perempuan asli Bogor itu terpaksa memandikan anaknya di dekat Bendungan Katulampa karena pasokan air sumur rumahnya berkurang. “Paling nanti dibilas lagi di rumah,” katanya kepada Mongabay. Setelah itu, dia mengisi air ke galon bekas berukuran 15 liter. Air itu, katanya, untuk mencuci pakaian, perabotan rumah tangga, hingga bilas kencing atau buang air besar di rumah. Sudah sebulan lebih, Sungai Ciliwung mengering. Tinggi muka air pada bendungan berada di titik terendah hingga nol sentimeter. Penurunan debit air juga terlihat di Kampung Pulo Geulis, Babakan Pasar, Kota Bogor–berjarak sekitar tujuh kilometer ke arah barat laut. Anak-anak menyulap dangkalnya sungai menjadi wahana bermain. Mereka melompat dari bebatuan besar ke kobangan air tersisa. Sebagian lain, membendung aliran dengan batu, menjadikannya kolam ikan dadakan. Rosmiati sedang memandikan anaknya di irigasi Bendungan Katulampa, Kota Bogor. Foto: Muhammad Ibnu Sabil/Mongabay Indonesia. Di Bogor, Sungai Ciliwung merupakan sumber air baku permukaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan. Mereka mengolah air sungai menjadi layak pakai yang mengalir ke rumah warga. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Katulampa milik Tirta Pakuan mampu memproduksi air 307,14 liter per detik. Mereka memasok kebutuhan air kepada 35.492 pelanggan, mencakup seluruh wilayah kecamatan Bogor Utara dan Bogor Timur, serta sebagian Desa Sukaraja, Kabupaten Bogor. Penurunan debit air Ciliwung berdampak pada berkurangnya…This article was originally published on Mongabay Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://mongabay.co.id .

Kemarau Panjang, Jabodetabek Terancam Krisis Air
0
E
Editor· Warga
Kiriman

Ikan Pemanah, Dapat Jatuhkan Serangga Hingga 2 Meter dari Permukaan Air

Bagi serangga yang hinggap di dedaunan dekat permukaan air, bahaya tidak selalu datang dari daratan. Dari bawah air, ikan pemanah dapat membidik lalu menjatuhkannya dengan semburan air berkecepatan tinggi. Ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) hidup di perairan dangkal Indo-Pasifik, termasuk Indonesia. Tubuhnya pipih, berwarna keperakan, dan panjangnya umumnya tidak lebih dari 20 sentimeter. Kepala ikan ini memiliki moncong segitiga, sementara sisi tubuhnya dihiasi bercak berbentuk semisegitiga. Kemampuan berburu ikan pemanah bukan sekadar menyemburkan air secara sembarangan. Ikan ini dapat menjatuhkan serangga dari ketinggian hingga dua meter di atas permukaan air. Mangsa yang ditembak antara lain lebah, capung, laba-laba, lalat, dan berbagai serangga kecil. Akurasi tembakannya merupakan kemampuan biologis yang kompleks. Cahaya yang melewati udara dan air mengalami pembiasan sehingga posisi mangsa terlihat berbeda dari lokasi sebenarnya. Namun, ikan pemanah mampu memperhitungkan penyimpangan tersebut. Penelitian Lawrence M. Dill pada 1977 menunjukkan bahwa ikan ini menyesuaikan sudut tembak berdasarkan posisi mangsa. “Ikan pemanah tidak menembak dari posisi tepat di bawah mangsa, tetapi dapat mengatur sudut semburan dengan benar untuk mengompensasi refraksi,” tulis Dill. Ikan tersebut juga harus memperhitungkan gravitasi yang membuat lintasan air melengkung. Dengan kecepatan semburan yang relatif konstan, sudut tembakan diatur agar air tetap mencapai sasaran. Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada 2014 mengungkap bahwa ikan pemanah mampu mengendalikan dinamika semburannya. Bagian belakang semburan bergerak lebih cepat dan menyusul bagian depan tepat sebelum mencapai sasaran. Akibatnya, tetesan air menyatu dan menghasilkan hantaman kuat ketika mengenai mangsa. “Bagian belakang semburan air menyusul bagian depannya tepat sebelum mengenai mangsa, memastikan…This article was originally published on Mongabay Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://mongabay.co.id .

Ikan Pemanah, Dapat Jatuhkan Serangga Hingga 2 Meter dari Permukaan Air
0
E
Editor· Warga
Kiriman

“Tanah Itu Mama”, Suara Perempuan Adat Menjaga Alam Papua

Bagi perempuan adat Papua, hutan bukan sekadar kumpulan pohon atau sumber komoditas. Di dalamnya tersimpan pangan, tanaman obat, pengetahuan lokal, identitas budaya, serta masa depan anak-anak mereka. Ketika hutan hilang, seluruh penopang kehidupan itu ikut terancam. Pesan tersebut disampaikan dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Forum ini mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, lembaga riset, mitra pembangunan, dan generasi muda untuk membicarakan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Barbalina Osok, Ketua Umum Kwongke Kaban Salukh Moi Papua Barat Daya, membawa persoalan yang telah lama dihadapi masyarakat Moi. Sejak awal 1990-an, konsesi hak pengusahaan hutan beroperasi di wilayah adat mereka. Sebagian arealnya kemudian berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Menurut Barbalina, hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan dan ruang hidup turun-temurun terus dikuras tanpa manfaat balik yang jelas bagi pemilik hak ulayat. Izin tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar 2032–2033. Persoalannya bukan hanya investasi atau keuntungan ekonomi, tetapi juga minimnya keterlibatan masyarakat adat dalam menentukan penggunaan tanah dan sumber daya alam mereka. Aktivis perempuan adat Marlince Siep mengingatkan bahwa hilangnya hutan dan akses terhadap wilayah adat berdampak langsung pada perempuan dan anak-anak. Perempuan memiliki peran penting dalam menyediakan pangan sekaligus meneruskan pengetahuan lokal antargenerasi. “Tanah itu Mama. Kepada pemerintah dan pemangku kepentingan, biarkan hutan dan lingkungan sehat yang tersisa ini untuk diwariskan kepada generasi perempuan adat Orang Asli Papua,” kata Marlince. Ia juga meminta agar pembangunan Papua tidak hanya disusun dari perspektif pemerintah pusat. Suara masyarakat adat perlu dijadikan pijakan agar tanah, manusia, budaya,…This article was originally published on Mongabay Tulisan ini juga telah dipublikasikan di https://mongabay.co.id .

“Tanah Itu Mama”, Suara Perempuan Adat Menjaga Alam Papua
0