Yenny Wahid: Makna Kemerdekaan yang Hakiki adalah Memberikan Kebebasan Berekspresi

by -1 views
yenny-wahid:-makna-kemerdekaan-yang-hakiki-adalah-memberikan-kebebasan-berekspresi

IQRA.ID- Mengisi hari kemerdekaan, Wahid Foundation menyemarakkannya dengan rangkaian kegiatan eksklusif perayaan kemerdekaan, yaitu Live Instagram seputar Kampung Damai dengan tajuk “Gus Dur dan Kemerdekaan di Era Disrupsi” pada Senin sore (16/08/2021) dan Manaqib Kebudayaan di Peace Village, Sinduharjo, Sleman, Yogyakarta pada Selasa (17/08/2021).

Dalam kesempatan itu, Yenny Wahid Direktur Wahid Foundation menjadi pembicara mengungkapkan tantangan yang di hadapi Bangsa Indonesia di era disrupsi.

Menurutnya, tantangan di tengah era disrupsi berlangsung ini sungguh sangat berbeda dengan tantangan di masa penjajahan. Di mana musuh yang dihadapi tak tampak di mata kepala. Sesuatu yang tak tampak menjajah namun sesungguhnya menjajah pikiran dan gaya hidup.

Seperti algoritma yang mengontrol jejak pencarian di internet secara terus-menerus menyuguhkan informasi yang sedang kita pikirkan dan pada akhirnya mengakibatkan gaya hidup semakin konsumtif. Sehingga secara hakikat, sesungguhnya kita terjajah olehnya.

Alangkah bijaknya menurut Yenny, semua orang khususnya milenial selaku digital native untuk memulai membentuk pola pikir sendiri. Cukup mengonsumsi apa yang dimiliki, dan tidak menjadikan media sosial sebagai standar gaya hidup dalam kehidupan nyata.

“Kemerdekaan sekarang ini terutama bagi milenial kita harus membentuk cara pikir kita sendiri, kita konsumsi apa yang ada, tapi jangan jadikan gaya hidup sebagai patokan. Kita mengukur kebahagiaan kita dengan cara hidup orang lain itu saja tidak merdeka. Kita membiarkan medsos atau lingkungan kita menjadi tolok ukur kebahagiaan kita, padahal kebahagiaan kita sendiri yang mendefinisikan.” Terang Yenny menjelaskan tantangan kemerdekaan di era disrupsi.

Hadirnya media sosial menurut Yenny, juga cukup menguras emosi banyak orang khususnya di dalam kehidupan berbangsa. Tidak dipungkiri, terdapat banyak sekali bullying, gencarnya penyebaran hoaks, dan banyaknya hate speech yang kecenderungannya membelah masyarakat.

Sehingga tantangan kemerdekaan ini nampak begitu sangat berat untuk dihadapi. Meskipun begitu kata Yenny, tantangan ini harus tetap dihadapi.

“Perubahan ini merupakan efek dari cara kita berinteraksi satu sama lain. Ada bullying, hoaks, hate speech yang kecenderungannya membelah masyarakat. Kamu dukung saya atau kamu membenci saya. Kita harus hadapi ini,” jelas dia.

Disrupsi ini terjadi tidak terlepas dari adanya kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup sehingga memaksa banyak orang untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Yenny mencontohkan, banyaknya orang yang terpaksa beralih profesi akibat hilangnya mata pencaharian mereka karena digantikan oleh teknologi.

Namun begitu, kemajuan teknologi bak pedang bermata dua. Ia bisa membantu manusia, namun di sisi lain, bisa merugikan kehidupan manusia.

Saat ditanya mengenai tujuan program Desa Damai, Yenny menyebutkan bahwa tujuan diinisiasinya program tersebut adalah untuk menguatkan komunitas masyarakat di desa. Sebab, menurutnya justru desalah fondasi negara ini.

Di saat pandemi atau krisis lainnya berlangsung, justru negara yang bersatu yang berhasil melewati krisis akibat pandemi. Dan desalah yang memiliki kehidupan yang guyub dan rukun bisa menjadi modal untuk melewati krisis tersebut.

“Meskipun di desa, tapi merekalah fondasi utama bagi bangsa ini. Kalau kita lihat di masa pandemi sekarang ini, kita lihat bahwa negara yang berhasil melewati krisis adalah negara yang bersatu, negara yang terpecah ya sulit.”

“Kita kadang merasakan residu pilpres, tetapi tidak seekstrem negara lain. Nah, dari pikiran itu kita harus bersatu, maka kita berpikir harus dari mana, ya dari desa, kalau kota sangat sibuk dan stres. Jadi kita membantu desa dengan memfasilitasi. Yang berperan besar ya para penggerak di desa, dan masyarakat desa pada umumnya,” tambah Yenny.

Penguatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan penguatan gender dan ekonomi yang berbasis keamanan insani khususnya kepada kelompok perempuan. Sebab menurut Yenny, investasi kepada perempuan di banyak bidang akan melahirkan banyak manfaat kepada masyarakat pada umumnya.

“Misalnya dalam bentuk pendidikan untuk anaknya. Jadi lebih banyak investasi kalau diberikan kepada perempuan, hasilnya akan lebih banyak. Jadi sebetulnya investasi yang kepada laki-laki sudah berjalan dengan wajar, dan laki-laki rata-rata lebih berdaya, perempuan perlu dibantu, dan ketika dibantu dampaknya besar,” ungkapnya.

Yenny juga menjelaskan bahwa dengan hadirnya teknologi, sekat antara desa dan kota menjadi runtuh. Itu menurutnya memberikan ruang bagi siapa pun dan di mana pun untuk berekspresi.  Sebab menurut Yenny, kemerdekaan adalah memberikan hak orang lain untuk merdeka dalam hal mengekspresikan dirinya, terutama ekspresi keberagamaan, karena itu hak paling hakiki.

“Jarak antara desa dan kota semakin cair, tidak boleh ada yang merasa dikotomi. Semuanya merasa mempunyai hak yang sama. Sekarang mestinya kita saling menguatkan untuk saling menyuarakan pendapat dan berekspressi.”

“Praktik baik gotong royong dan toleransi di desa itu juga harus kita kuatkan. Makna kemerdekaan itu ya memberikan hak orang lain untuk merdeka dalam hal mengekspresikan dirinya, terutama ekspresi keberagamaan, karena itu hak paling hakiki. Untuk mencari surga, kita tidak perlu menjadikan neraka untuk orang lain,” tutupnya.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *