in ,

‘Yamko Rambe Yamko’ Dituding Bukan Lagu Berbahasa Papua, Penelusuran Resmi Akan Digelar

Akun Twitter @PapuaItuKita melempar diskusi yang bikin kita merenung akan kebenaran informasi yang sudah kita dapat sejak kecil. Jumat pekan lalu (26/6), akun kolektif yang kerap menyuarakan isu-isu Papua tersebut mencuit bahwa lagu “Yamko Rambe Yamko” bukan berasal dari daerah mana pun di Papua. Padahal lagu s__uper__-c__atchy ini sejak lama ditanamkan ke pemikiran orang Indonesia sebagai lagu Papua. Terus asalnya dari mana dong?

Pada Senin (29/6) pagi, cuitan ini udah dibagikan hampir 20 ribu kali di Twitter, menyulut diskusi yang lumayan menarik. Melihat respons netizen yang ramai, akun @PapuaItuKita menegaskan pada twit lanjutan bahwa mereka sendiri tidak tahu lagu ini berasal dari bahasa daerah mana. Bisa jadi bahasa salah satu suku di Papua atau malah daerah lain.

Balai Bahasa sendiri mencatat kalau emang ada 414 bahasa daerah di Papua. Tentu wajar kalau sampai terjadi kebingungan soal bahasa yang digunakan dalam lagu tersebut: beneran bahasa penduduk Papua atau bukan nih? Cuitan tersebut segera menjadi bola liar.

Ada yang bilang “Yamko Rambe Yamko” masuk ke Papua saat operasi militer Indonesia, ada yang bilang arti liriknya rasis, ada yang mencoba di terjemahan Google dan mendapati bahwa lirik berasal dari Bahasa Swahili.

Tokoh Papua Simon Patric Morin termasuk yang meyakini lagu ini bukan lagu berbahasa Papua. Kepada Suara Papua, ia mengatakan lagu yang kerap dibawakan paduan suara asal Indonesia di ajang kompetisi paduan suara internasional itu dibawa seniman Jakarta ke Papua pada 1963.

Menurut cerita Morin, saat ia duduk di kelas III SMP, Papua kedatangan seniman dan penyanyi untuk menghibur masyarakat Papua yang menderita di bawah penjajahan Belanda. Saat itulah, di bulan Mei 1963, ia pertama kali mendengar “Yamko Rambe Yamko” dinyanyikan sebuah grup musik dari Jakarta di Biak.

“Kalau tidak salah dinyanyikan oleh seseorang yang namanya Pak Kasur, seorang pendidik untuk nyanyian anak-anak. Lagu tersebut dinyanyikan lalu dipopulerkan setelah penyerahan Papua ke UNTEA [lembaga PBB yang memediasi penyerahan Papua Barat dari Belanda ke Indonesia]. Jadi, Pak Kasur yang menyanyikan lagu itu di Biak pertama kali. Sampai dengan hari ini kita tidak tahu lagu ini dari bahasa suku apa di Papua. Apakah sudah ada suku yang mengklaim bahwa bahasa dalam lirik lagu itu adalah bahasa mereka? Saya pikir belum ada,” ujar Morin.

Dari segi bahasa, Morin juga menganggap lirik lagu tersebut tidak identic dengan bahasa-bahasa di Papua. “Dari susunan kata-katanya itu bukan bahasa Papua karena bahasa Papua itu kadang-kadang lebih banyak huruf mati. Tapi, di lagu ini bunyinya bagus tapi maknanya kita tidak paham,” ujarnya lagi.

Ia menduga, lirik lagu “Yamko Rambe Yamko” hanya serangkaian kata dengan melodi ceria tanpa ada arti yang jelas. Menurutnya, bisa saja Pak Kasur merangkai melodi bagus menjadi sebuah lagu ceria demi mengangkat semangat orang Irian waktu itu.

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Papua Kemendikbud telah merespons polemik lagu “Yamko Rambe Yamko” yang bermula di Twitter tersebut. Demi kejelasan sejarah, BPNB Papua menyatakan akan memulai penelusuran asal-usul lagu ini.

“Akan diteliti lebih jauh oleh Balai Pelestarian Budaya Papua juga berkolaborasi dengan tokoh bahasa, tokoh linguistik, untuk jangan sampai, mungkin itu ditulis oleh orang mana tapi dikatakan oleh orang Papua,” terang Kepala UPT BPNB Papua Desy Polla Usmany kepada Detik.

Etnomusikolog sekaligus Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Citra Aryandari menyatakan kepada VICE, penerimaan sebuah lagu menjadi disebut budaya daerah tertentu sangat dipengaruhi oleh kesepakatan sosial. Jadi, sekalipun kini terasa problematis, “Yamko Rambe Yamko” sudah diterima menjadi perwakilan budaya Papua.

“Saat perang, lagu akan bernuansa mars, entah perang di mana pun, tanpa mempersoalkan mars itu dari mana. Sementara sampai saat ini, seluruh warga Indonesia mengetahui ‘Yamko Rambe Yamko’ ya dari Papua. Bahkan, ketika acara nasional, orang Papua juga menyanyikan itu untuk merepresentasikan wilayahnya. Kalau kini dipolitisasi apa tidak terlalu berlebihan?” ujar Citra kepada VICE.

Citra berpendapat apabila masyarakat Papua merasa tidak terwakili dari lagu tersebut karena ketidakjelasan asal-muasal, etnomusikolog siap membantu. “Mungkin kalau ada lagu yang bisa merepresentasikan Papua dan disepakati oleh segenap masyarakat Papua dan bisa mengganti _branding ‘_Yamko Rambe Yamko’, bolehlah nanti kami bantu menarasikan dengan lebih bijak,” kata Citra.

Saat ditanyai apakah kelak ditemui adanya kesalahan pencatatan terkait muasal lagu daerah, Citra menekankan bahwa ini tidak bisa disebut kesalahan. “Siapa pun bisa dan boleh menciptakan musik, serta dipublikasikan dan dinarasikan apa pun. Pada akhirnya masyarakat juga yang akan menilai dan memilih itu menjadi representasi apa. Lagu keroncong ‘Terang Bulan’, misalnya, kalau mau diadaptasi menjadi lagu kebangsaan Malaysia, juga bisa-bisa aja,” ujar Citra.

Apa yang dijelaskan Citra bisa dicari contohnya. Budaya yang didaulat menjadi representasi satu masyarakat tak selalu diambil dari tradisi yang sudah ada. Di Sumenep, Madura, misalnya. Pada 2019 lalu, pemerintah setempat dengan sadar dan terencana sengaja mengadakan lomba cipta lagu daerah untuk mencari simbol budaya apa yang cocok mewakili masyarakat mereka. Motifnya juga jelas, yakni untuk mengadang masuknya budaya asing.

Hmmm, jadi penasaran deh, siapa ya yang dulu pertama kali mendaulat tiap provinsi di Indonesia mesti diwakili oleh lagu, pakaian, dan kesenian yang kita kenal saat ini?

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

potret-hitam-perbudakan-rasis-di-perkebunan-medan-era-kolonial-belanda

Potret Hitam Perbudakan Rasis di Perkebunan Medan era Kolonial Belanda

genre-film-porno-dengan-setting-akhir-zaman-mulai-banyak-peminatnya

Genre Film Porno dengan Setting Akhir Zaman Mulai Banyak Peminatnya