WHO: Omicron Membuat Kebijakan 'Nol-COVID' Cina Tidak Berkelanjutan | DW | 18.05.2022

by -2 views
who:-omicron-membuat-kebijakan-'nol-covid'-cina-tidak-berkelanjutan-|-dw-|-1805.2022

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pendekatan ekstrem Cina untuk menahan virus corona tidak bisa dilanjutkan karena sifat varian Omicron yang sangat menular.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menggambarkan strategi “nol-COVID” Cina sebagai upaya yang “tidak berkelanjutan”.

“Kami mengenal virus lebih baik dan kami memiliki alat yang lebih baik, termasuk vaksin, sehingga penanganan virus sebenarnya harus berbeda dari apa yang biasa kami lakukan di awal pandemi,” kata Tedros, Selasa (17/05).

Dia menambahkan bahwa virus telah berubah secara signifikan sejak pertama kali diidentifikasi di Wuhan pada akhir 2019, ketika Cina sebagian besar menghentikan penyebarannya dengan lockdown.

Tedros mengatakan, WHO telah berulang kali memberi tahu pejabat Cina tentang strategi penanganan COVID-19 yang direkomendasikan, tetapi “mengenai pilihan kebijakan, setiap negara berhak untuk menentukan sendiri.”

Kepala Keadaan Darurat WHO Dr. Michael Ryan mengatakan, WHO mengakui bahwa Cina telah menghadapi situasi sulit dengan COVID-19 baru-baru ini dan mengapresiasi pihak berwenang karena menjaga jumlah kematian ke tingkat yang sangat rendah.

“Kami memahami mengapa respons awal Cina adalah mencoba dan menekan infeksi ke tingkat maksimum, (tetapi) strategi itu tidak bisa dilanjutkan dan elemen lain dari respons strategis perlu diperkuat,” katanya.

Ryan menambahkan bahwa upaya vaksinasi harus dilanjutkan dan menekankan bahwa “strategi hanya untuk menekan bukanlah cara yang bisa dilanjutkan untuk keluar dari pandemi bagi negara manapun.”

  • Orang-orang berjalan mengenakan masker di London, Inggris

    Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi

    Varian Alpha mutasi dari Inggris

    Varian dengan nama ilmiah B.1.1.7 ini terdeteksi pertama kali di Kent, Inggris Raya. Beberapa peneliti menganggap varian ini jauh lebih menular dibanding virus asli SARS-CoV-2 di Wuhan, Cina. Peneliti Lembaga Molekuler Eijkman Prof. Amin Subandrio sebut varian ini sudah ditemukan pada awal Maret 2021 di Jakarta.

  • Kondisi COVID-19 di Zimbabwe

    Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi

    B.1.351 atau Varian Beta

    Mutasi jenis ini ditemukan pertama kali di Afrika Selatan pada Oktober 2021. Varian ini disebut-sebut 50% lebih menular. Vaksinasi menggunakan Novavax dan Johnson & Johnson dianggap tidak efektif menghadapi varian ini. Delirium atau kebingungan menjadi salah satu gejala varian Beta.

  • Tes COVID-19 di Rio de Janeiro, Brasil

    Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi

    Mutasi P.1 di Brasil

    Varian ini diberi nama varian Gamma oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Mutasi berasal dari kota Manaus, provinsi Amazonas, Brasil. Virus ini pertama kali terdeteksi oleh ilmuwan Jepang yang meneliti sampel seorang warga yang pulang dari Manaus pada Desember 2020.

  • Krisis kesehatan di India

    Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi

    Delta, mutasi paling menular asal India

    Dengan nama B.1.167.2, Delta dianggap 50% lebih menular dibanding varian Alpha yang disebut 50% lebih menular dari virus aslinya. Varian ini pertama kali ditemukan di India pada Oktober 2020. Mutasi ini memicu gelombang kedua COVID-19 di India.

  • Perawatan pasien COVID-19 di Piura, Peru

    Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi

    Mutasi dari Amerika latin, Lambda

    Bernama ilmiah C.37, Lambda pertama kali terdeteksi di Peru pada Agustus 2020. Pada 15 Juni 2021, WHO menetapkannya sebagai varian yang menjadi perhatian. Tercatat 81% kasus aktif di Peru pada musim semi 2021 akibat varian ini.

  • Kerumunan orang di New Delhi, India

    Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi

    Mutasi varian Kappa asal India

    Pada Oktober 2020, terdeteksi varian 1.167.2 di India. Gejalanya tidak berbeda jauh dengan gejala varian asli COVID-19. Namun, pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, menyebut gejala campak muncul pada awal infeksi varian ini.

  • Kemacetan di Lagos, Nigeria

    Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi

    Eta, varian yang sama dengan Gamma dan Beta

    Varian ini membawa mutasi E484-K yang juga ditemukan di varian Gamma dan Beta. Kasus pertama varian ini dlaporkan di Inggris Raya dan Nigeria pada Desember 2020. Ditemukan di 70 negara di dunia, Kanada mencatat rekor 1.415 kasus Eta pada Juli 2021.

  • Lokasi tes COVID-19 di New York, AS

    Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi

    Varian asal New York, B.1.526

    Iota merupakan satu-satunya Variant of Concern (VoC) WHO di Amerika Serikat. Dideteksi pada November 2020, jenis virus ini disebut lebih menular dari varian sebelumnya. Para peneliti menyebut varian Iota meningkatkan angka kematian 62-82% bagi para penderita COVID-19 yang berusia lebih tua.

  • Tes COVID-19 di Buenos Aires, Argentina

    Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi

    Varian Mu asal Kolumbia di awal tahun 2021

    Dengan nama ilmiah B.1.621, varian Mu ditemukan pertama kali di Kolumbia pada Januari 2021.Varian ini sempat dikhawatirkan dapat kebal dari vaksin. Bahkan WHO memperingatkan varian ini memiliki mutasi yang lebih tahan vaksin.

  • Foto ilustrasi Omicron

    Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi

    Ditemukan di Afrika Selatan, Omicron lebih gampang menular

    Varian ini ditemukan di Afrika Selatan pada November 2021. Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan sebut gejala dari varian ini sangat ringan. Dilaporkan tidak ada gejala anosmia pada varian ini. Namun, 500 kali lebih cepat menyebar dibanding varian lain. (Berbagai sumber) (mh/ha)

    Penulis: Muhammad Hanafi


WHO bujuk Korea Utara dan Eritrea

Kepala WHO mengatakan pihaknya berusaha membujuk Korea Utara dan Eritrea untuk memulai vaksinasi COVID-19.

“WHO sangat prihatin dengan risiko penyebaran lebih lanjut di (Korea Utara),” kata Tedros, yang mencatat bahwa penduduk Korea Utara tidak divaksinasi dan ada sejumlah orang yang mengkhawatirkan dengan kondisi rawan yang menempatkan mereka pada risiko penyakit parah.

Tedros mengatakan WHO telah meminta Korea Utara untuk membagikan lebih banyak data tentang wabah di sana, tetapi sejauh ini tidak ada tanggapan.

Korea Utara baru mengakui wabah untuk pertama kalinya minggu lalu, dan sekarang menyatakan lebih dari 1,7 juta orang sakit demam. Tidak memiliki persediaan pengujian yang cukup untuk mengonfirmasi berapa banyak kasus COVID-19, tetapi para ahli luar percaya sebagian besar kasus demam disebabkan oleh virus corona.

Dia mengatakan WHO telah menawarkan untuk mengirim vaksin, obat-obatan, tes, dan dukungan teknis kepada Korea Utara dan Eritrea, tetapi kedua pemimpin negara itu belum menanggapi.

Ryan mengatakan setiap penularan yang tidak terkendali di negara-negara seperti Korea Utara dan Eritrea dapat memacu munculnya varian baru, tetapi WHO tidak berdaya untuk bertindak kecuali negara-negara menerima bantuannya.

yas/ha (AP)

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.