Urun Daya Dalam Jurnalisme, Bagaimana Cara Melakukannya?

by -8 views
urun-daya-dalam-jurnalisme,-bagaimana-cara-melakukannya?
Ilustrasi urun daya
Ilustrasi urun daya (Gambar: Shutterstock)

Alice Brennan, Produser Eksekutif ABC Background Briefing percaya kalau urun daya bakal semakin sering digunakan dalam jurnalisme. Teknik ini bisa meretas jalan baru untuk liputan investigasi karena mampu mengidentifikasi topik yang luput diliput. Reporter juga bisa menggunakannya untuk memecahkan masalah yang sebelumnya sulit diurai.

“Kami tersadar kalau tidak semua orang terwakili oleh kami. Kenyataannya, audiens dan komunitas kami adalah sumber daya yang sangat berharga. Oleh sebab itu, kami berusaha memanfaatkan dan menggabungkannya dengan keterampilan investigasi kami,” kata Brennan, dalam sesi panel Global Investigative Journalism Conference ke-12 (#GIJC21).

Dalam sesi tersebut, lima reporter berbagi pengalamannya mengenai urun daya. Mereka menyebut kalau melibatkan masyarakat tak hanya memungkinkan terwujudnya liputan investigasi, tetapi juga meningkatkan levelnya.

Lima jurnalis berpengalaman membagikan pengalamannya mengenai liputan urun daya dalam GIJC21.
Lima jurnalis berpengalaman membagikan pengalamannya mengenai liputan urun daya dalam GIJC21.

Melibatkan orang

Dunia dikejutkan oleh kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol, Amerika Serikat, pada 6 Januari 2021. Banyak orang yang berada di lokasi kejadian, merekam dan langsung membagikannya di media sosial. Tim Bellingcat segera menyadari kalaui peristiwa ini penting untuk diliput.

Organisasi nirlaba yang berbasis di Belanda tersebut bergegas mengumpulkan semua materi yang tersedia. Giancarlo Fiorella, penyelidik senior di Bellingcat menyebut kalau bahan-bahan didapat dari berbagai platform media sosial seperti Twitter, Facebook, dan YouTube.

Tangkapan layar dari beberapa video yang menunjukkan penembakan Ashli ​​Babbitt di US Capitol di Washington, DC, pada 6 Januari 2021. (Gambar: Tangkapan layar dari Bellingcat YouTube Channel)
Tangkapan layar dari beberapa video yang menunjukkan penembakan Ashli ​​Babbitt di US Capitol di Washington, DC, pada 6 Januari 2021. (Gambar: Tangkapan layar dari Bellingcat YouTube Channel)

“Peristiwa (kerusuhan Gedung Capitol) tersebut punya banyak bukti visual. Kami ingin menemukannya sebanyak mungkin dan mengarsipkannya agar masih dapat diakses meskipun (bukti-bukti tersebut) telah dihapus (dari platform),” ujarnya.

Reporter Bellingcat mengeluarkan seruan di Twitter untuk mengajak orang-orang mengirimkan video dan bukti visual tentang kerusuhan Capitol. Mereka bisa berkontribusi melalui Google Form dengan mengisi formulir dan membagikan tautan ke bukti visual yang mereka miliki. Ada lebih dari 650 tanggapan terhadap seruan tersebut. 

Bellingcat memproduksi dua laporan yang didasarkan pada berbagai bukti visual tersebut. Salah satunya adalah The Journey of Ashli ​​Babbitt yang bercerita soal penembakan Ashli ​​Babbitt. Ia adalah salah satu pendukung Trump yang berada di Gedung Capitol ketika kerusuhan pecah.

Ketika itu, dia berusaha merangkak melalui jendela yang pecah ke Lobi Pembicara, tempat banyak anggota Kongres berlindung. Dengan menggunakan video dan gambar yang dibagikan oleh responden, Bellingcat menelusuri kembali jejaknya di dalam gedung Capitol.

“Dengan menggunakan berbagai sudut pandang dari garis waktu berbeda yang direkam orang-orang, kami dapat menjelaskan kapan dan dari mana dia memasuki gedung, kemana dia bergerak, dan pada akhirnya dimana dia tertembak,” jelas Giancarlo.

Ia mengatakan bahwa timnya terkesan dengan keahlian dan pengetahuan para sukarelawan yang membantu investigasi. Kuncinya, menurut Giancarlo, adalah mencoba menjangkau orang-orang tersebut.

“Usaha untuk berpikir kreatif dan memikirkan cara-cara untuk melibatkan orang-orang tersebut berbuah manis. Bertanyalah pada diri sendiri: ‘Bagaimana cara untuk membuat komunitas membantu kami? Bagaimana mendayagunakan para sukarelawan?’,” tambahnya.

Membangun informasi

Maeve McClenaghan, reporter The Bureau of Investigative Journalism terkesiap ketika melihatberita tentang tunawisma yang sekarat di sebuah kota di Inggris. Dia ingin tahu jumlah tunawisma bernasib serupa yang ada di seluruh negeri dan mulai berburu data.

“Dengan mencari data tersebut ke berbagai sumber, saya pikir bakal bakal mendapatkannya. Pada kenyataannya, tidak ada yang memilikinya,” kenangnya. 

Beberapa liputan dari proyek “Homelesness” yang digarap The Bureau of Investigative Journalism dengan metode urun daya. (Gambar: Tangkapan layar)
Beberapa liputan dari proyek “Homelesness” yang digarap The Bureau of Investigative Journalism dengan metode urun daya. (Gambar: Tangkapan layar)

Saat meminta data ke kantor polisi, McClenaghan diarahkan agar mencari data ke rumah sakit. Rumah sakit kemudian memintanya mencari data ke bagian koroner. Selanjutnya, kantor koroner memintanya bertanya kepada pemerintah lokal dan pada akhirnya dia disarankan mencari data ke pemerintah pusat. Semua pihak, terangnya, menyangka kalau data mengenai tunawisma disimpan oleh pihak lain.

Ia memutuskan untuk membangun basis data secara mendiri ketika menyadari bahwa tidak ada satu pun lembaga yang memiliki data mengenai kematian tunawisma. Langkah tersebut mengawali proyek liputan Homelessness: A project counting the human costs of homelessness

“Kami mendapat sekitar 1.000 orang (sukarelawan) … Ada yang bekerja untuk surat kabar lokal, berperan sebagai jurnalis warga, atau bahkan sekadar warga negara yang tertarik dan ingin ambil bagian. Kami memberi tahu mereka: ‘Beri tahu kami setiap kali Anda tahu bahwa seorang tunawisma meninggal.’” katanya.

Urun daya yang dilakukan TBIJ dilakukan dengan menggunakan Google Form sederhana. Sukarelawan diminta memasukkan beberapa informasi dasar seperti nama almarhum, kota tempat ia meninggal, tanggal kematian, perkiraan usia, dan informasi apapun tentang kerabat terdekat untuk tujuan klarifikasi dan pemeriksaan silang. Informasi tersebut kemudian dibagikan dengan para ahli dan organisasi tunawisma lokal untuk pengecekan fakta.

Dalam 18 bulan, mereka telah membuat basis data yang mencatat hampir 800 kasus kematian tunawisma. Office for the National Statistic (BPS-nya Inggris) bahlan meminta akses terhadap basis data tersebut untuk disempurnakan.

“Mereka bisa mulai menghasilkan statistik resmi dengan menggunakan basis data yang sudah kami buat,” katanya.

McClenaghan mengatakan bahwa reporter tak boleh menyerah ketika berhadapan dengan ketiadaan data resmi. Sebaliknya, mereka mesti meluangkan waktu untuk memahami audiens yang mungkin membantu untuk mengumpulkan data melalui urun daya.

Dengarkan audiens

Clare Blumer, Digital Lead for Investigations di Australian Broadcast Corporation mengatakan bahwa metode urun daya meningkatkan keterlibatan pembaca. Bahan liputan langsung bersumber dari suara audiens dan mencerminkan pengalaman mereka. 

Ia mengatakan bahwa bahwa metode ini bisa mengakses komunitas yang beragam atau sulit apabila liputan dirancang dan memiliki rencana distribusi yang baik. Desain proyek yang baik dimulai dengan memilih topik untuk investigasi dengan metode urun daya. 

“Kami telah mengidentifikasi beberapa karakteristik penting dalam pemilihan isu yang tepat. Misalnya, berapa banyak orang yang terpengaruh? Orang yang berisiko dirugikan? Apakah ini masalah emosional? Adakah cara lain untuk mendapatkan data?” kata Blumer.

Salah satu proyek liputan urun daya yang digarap ABC adalah Investigation Into Aged Care. Mereka mengungkap kasus penganiayaan dan kekurangan staf di panti jompo di seluruh Australia. 

Tim ABC memetakan komunitas yang terdampak masalah ini. Mulai dari penghuni, staf panti jompo, hingga manajer. Liputan ini menarik jutaan pemirsa dan mengilhami dibuatnya serial liputan di Four Corners, program jurnalisme investigasi terkemuka di Australia.

“Kami melihat peningkatan minat karena isu ini memantik kemarahan publik dan dimasukkan kembali menjadi agenda nasional. Pada akhirnya, serial liputan mendorong terjadinya perubahan kebijakan dan perubahan pendanaan dalam pengelolaan panti jompo,” ujar Blumer.

Ia menambahkan bahwa liputan tersebut mengajarkan bahwa urun daya adalah soal mendengarkan audiens, bukan mencekoki mereka dengan hal yang dianggap penting oleh reporter dan media.

“Urun daya adalah cara yang bagus untuk mendapatkan data dan menemukan isu penting dalam waktu singkat. Ini adalah cara luar biasa untuk menghasilkan ide dan sudut pandang baru untuk mengungkap kasus yang belum pernah Anda temui sebelumnya” katanya.

Meski demikian, Head of Audience and Content Development ABC Flip Prior menekankan bahwa tak semua isu bisa digarap dengan urun daya.

“Jelas, Anda tidak akan melakukan urun daya untuk liputan yang memerlukan kerahasiaan. Pasalnya, urun daya adalah penyelidikan yang dilakukan secara terbuka,” katanya. (Penulis: Maurice Oniang’o; Penyadur: Kholikul Alim)

Artikel lainnya:


Tulisan ini disadur dari How Three Reporting Teams Crowdsourced Groundbreaking Investigations yang dipublikasikan Global Investigative Journalism Network (GIJN). Untuk menerbitkan ulang tulisan ini, Anda mengeklik tombol republish di bawah ini atau menghubungi alim.kholikul@gijn.org.

Leave a Reply

Your email address will not be published.