31.1 C
Jakarta
Wednesday, May 25, 2022

Uni Eropa Usulkan Aturan Baru untuk Mengatasi Fast Fashion | DW | 31.03.2022

WorldUni Eropa Usulkan Aturan Baru untuk Mengatasi Fast Fashion | DW | 31.03.2022

Komisi Uni Eropa berencana untuk memperkenalkan pelabelan pada pakaian yang akan menginformasikan kepada konsumen betapa mudahnya produk itu didaur ulang dan ramah lingkungan.

Komisi Uni Eropa pada hari Rabu (30/03) meluncurkan proposal untuk meningkatkan keberlanjutan produk seperti smartphone, pakaian, dan furnitur. Rencana tersebut mencerminkan upaya eksekutif UE untuk memajukan apa yang disebut “ekonomi sirkular” dan mempromosikan barang-barang yang lebih berkelanjutan, tahan lama, dan lebih mudah diperbaiki, dan didaur ulang.

“Kami ingin produk berkelanjutan menjadi norma di pasar Eropa,” kata Komisaris Uni Eropa yang bertanggung jawab untuk lingkungan, Frans Timmermans, saat mengumumkan proposal dalam konferensi pers.

Berdasarkan rencana tersebut, barang-barang yang dijual di UE akan dikembangkan pada skala keberlanjutan yang menunjukkan dampak lingkungan, daya tahan, dan kemudahan memperbaiki produk. Upaya ini mencerminkan efisiensi UE untuk peralatan listrik, yang menggunakan label A hingga G untuk membantu konsumen memilih produk yang lebih hemat energi.

Mengikuti tren fast fashion

Secara khusus, Komisi UE menilai keberlanjutan dalam produk tekstil sebagai industri yang layak untuk diteliti. Proposal tersebut akan memperkenalkan pelabelan pada pakaian, memberi tahu konsumen betapa mudahnya produk itu didaur ulang dan ramah lingkungan.

“Konsumsi tekstil, yang sebagian besar diimpor, sekarang menyumbang rata-rata dampak negatif tertinggi keempat terhadap lingkungan dan perubahan iklim, serta tertinggi ketiga untuk penggunaan air dan lahan dari perspektif siklus hidup global,” isi proposal Komisi UE.

Produksi pakaian terdiri dari 81% dari konsumsi tekstil UE. Komisi Uni Eropa mengatakan tren penggunaan pakaian untuk periode yang lebih pendek berkontribusi pada “pola produksi dan konsumsi berlebihan yang tidak berkelanjutan.”

Tren yang dikenal dengan istilah fast fashion atau industri fesyen yang bergerak sangat cepat, dengan koleksi baru yang diluncurkan setiap minggu, dan dijual dengan harga relatif murah, telah memikat konsumen untuk terus membeli pakaian,” kata Komisi UE.

“Sudah waktunya untuk mengakhiri model ‘ambil, buat, hancurkan, dan buang’ yang sangat berbahaya bagi planet kita, kesehatan kita, dan ekonomi kita,” tambah Timmermans.

  • Indonesien Projekt XXLAB (XXLAB BIO/SOYA C(O)U(L)TURE)

    Perempuan-perempuan Yogyakarta ini Ciptakan Produk Fesyen dari Limbah Tahu

    Proyek SOYA C(O)U(L)TURE

    SOYA C (O) U (L) TURE adalah sebuah proyek yang diprakarsai oleh XXLAB, inisiatif perempuan yang mengembangkan teknologi open source dan bermarkas di Yogyakarta, Indonesia. Dengan proyek ini, mereka ingin mengurangi pencemaran air dan mengganti bahan-bahan fesyen yang biasanya berasal dari kulit binatang dengan kain yang unik terbuat dari limbah tahu.

  • Indonesien Projekt XXLAB (XXLAB BIO/SOYA C(O)U(L)TURE)

    Perempuan-perempuan Yogyakarta ini Ciptakan Produk Fesyen dari Limbah Tahu

    Merancang ‘haute couture’

    Salah satu proyek XXLAB adalah SOYA C (O) U (L) TURE. Inisiatif ini menggunakan metode digital dan biologis untuk merancang gaun, bahan kerajinan dan bentuk lain dari ‘haute couture’ dari proses produksi limbah tahu. Dalam foto ini, Anda bisa lihat bagaimana hasilnya. Tak disangka bukan? Dari limbah buangan bisa jadi busana seperti ini.

  • Tofu Hände Soja USA Kalifornien (AP)

    Perempuan-perempuan Yogyakarta ini Ciptakan Produk Fesyen dari Limbah Tahu

    Berawal dari tahu

    Tahu dari kacang kedelai merupakan salah satu makanan favorit orang Indonesia. Ini sehat, karena mengandung banyak protein dan diproduksi dengan menggunakan proses biologis. Di Indonesia, produksi tahu mudah ditemukan, mulai dari industri rumahan sampai pabrik skala besar. Tapi terkadang, proses produksi ini menghasilkan limbah cair yang mencemari dan meracuni air dan sungai.

  • Indonesien Projekt XXLAB (XXLAB BIO/SOYA C(O)U(L)TURE)

    Perempuan-perempuan Yogyakarta ini Ciptakan Produk Fesyen dari Limbah Tahu

    Bagaimana prosesnya?

    XXLAB mengambil tahu limbah cair produksi tahu dari pabrik pembuat tahu. Mereka mendidihkan limbah cair itu dengan cuka, gula dan pupuk urea. Setelah itu, mereka menambahkan bakteri dan menunggu selama sepuluh hari sampai campuran menjadi selulosa mikroba. Langkah selanjutnya adalah menekan-nekan bahan itu guna mengurangi kandungan air. Setelah itu dibiarkan menjadi kering.

  • Indonesien Projekt XXLAB (XXLAB BIO/SOYA C(O)U(L)TURE)

    Perempuan-perempuan Yogyakarta ini Ciptakan Produk Fesyen dari Limbah Tahu

    Unik, jadi barang komersil

    Hasilnya adalah kain-kainan atau bahan fesyen. Semua peralatan dan bahan yang diperlukan untuk memproduksi barang ini pun ongkosnya murah. Dari bahan material ini, mereka tidak hanya memproduksi pakaian tapi juga dompet, sepatu dan tas.

  • Indonesien Projekt XXLAB (XXLAB BIO/SOYA C(O)U(L)TURE)

    Perempuan-perempuan Yogyakarta ini Ciptakan Produk Fesyen dari Limbah Tahu

    Lakukanlah sendiri

    Metode pembuatan kain ini adalah salah satu contoh metode DIY (Do It Yourself) dan DIWO (Do It with Others), dengan menggunakan benda sehari-hari. Artinya, setiap orang bisa mencoba melakukannya sendiri di rumah. Proyek ini juga bisa menjadi alternatif bagi praktik ekonomi berkelanjutan untuk menciptakan sumber pendapatan atau untuk meningkatkan pendapatan perempuan di daerah miskin.

  • Indonesien Projekt XXLAB (XXLAB BIO/SOYA C(O)U(L)TURE)

    Perempuan-perempuan Yogyakarta ini Ciptakan Produk Fesyen dari Limbah Tahu

    Pemenang penghargaan

    XXLAB didirikan pada tahun 2013. Penggagasnya adalah Irene Agrivina Widyaningrum, Ratna Djuwita, Eka Jayani Ayuningtias, Asa Rahmana dan Atinna Rizqiana. XXLAB tumbuh sebagai usaha kolektif perempuan dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang untuk mengeksplorasi seni, sains dan teknologi dan menggabungkan terapannya.

  • Indonesien Projekt XXLAB (XXLAB BIO/SOYA C(O)U(L)TURE)

    Perempuan-perempuan Yogyakarta ini Ciptakan Produk Fesyen dari Limbah Tahu

    Memerangi polusi dan kemiskinan

    Dengan semua proyek mereka, XXLAB mencoba untuk mengeksplorasi solusi kreatif untuk hubungan yang sebelumnya tidak begitu banyak diteliti antara pengelolaan limbah, kekurangan pangan dan bahan bakar atau ketidakamanan, dan pengurangan kemiskinan. Sekali tepuk, bisa mengurangi pencemaran sekaligus memerangi kemiskinan. (Ed: Ayu Purwaningsih/vlz) Foto: XXLAB (SOYA C (O) U (L) TURE))


Sektor konstruksi juga ditargetkan

Selain pakaian dan smartphone, bisnis konstruksi juga masuk dalam bidikan, menyoroti bahwa bangunan saja menyumbang sekitar 50% dari ekstraksi dan konsumsi sumber daya, dan lebih dari 30% total limbah UE yang dihasilkan per tahun.

“Selain itu, bangunan bertanggung jawab atas 40% konsumsi energi UE dan 36% emisi gas rumah kaca terkait energi,” bunyi pernyataan itu.

Seluruh 27 negara anggota UE dan Parlemen Eropa diharapkan dapat meneliti proposal tersebut, sebelum menjadi undang-undang. Rencana itu kemungkinan akan menghadapi penentangan dan lobi dari industri yang telah mempromosikan produk dengan rentang hidup yang lebih pendek.

ha/vlz (dpa, AFP, Reuters)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles