Umat Islam Dunia Rayakan Idulfitri dengan Kegembiraan dan Kecemasan | DW | 02.05.2022

by -10 views
umat-islam-dunia-rayakan-idulfitri-dengan-kegembiraan-dan-kecemasan-|-dw-|-0205.2022

Di bawah bayang-bayang lonjakan harga pangan global yang diperburuk oleh perang di Ukraina, muslim di dunia berusah untuk menikmati Idulfitri di tengah pelonggaran pembatasan virus corona di negara mereka.

Untuk hari raya Idul Fitri, aroma biskuit jeruk yang baru dipanggang dan kue kering yang ditaburi gula bubuk biasanya memenuhi udara di rumah Mona Abubakr. Tetapi karena harga-harga kebutuhan hidup melambung, ibu rumah tangga di Mesir tahun ini membuat camilan manis dalam jumlah yang lebih sedikit, beberapa di antaranya ia berikan sebagai hadiah kepada kerabat dan tetangga. Ibu tiga anak ini juga membeli lebih sedikit pakaian bagi putra-putranya untuk hari raya.

Dikutip dari Asscociated Press, tahun ini, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idulfitri di bawah bayang-bayang lonjakan harga pangan global yang diperburuk oleh perang di Ukraina. Dengan latar belakang itu, banyak yang masih bertekad untuk menikmati Idulfitri di tengah pelonggaran pembatasan virus corona di negara mereka, bagi yang lain, perayaan itu diredam oleh konflik dan kesulitan ekonomi.

Pangan Berkurang Akibat Invasi Perang di Ukraina

Perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia telah mengganggu pasokan biji-bijian dan pupuk, menaikkan harga pangan pada saat inflasi sudah mengamuk. Sejumlah negara mayoritas muslim sangat bergantung pada Rusia dan Ukraina untuk sebagian besar impor gandum mereka, misalnya.

Bahkan sebelum invasi Rusia, pemulihan global yang kuat secara tak terduga dari resesi virus corona 2020 telah menciptakan kemacetan rantai pasokan, yang menyebabkan penundaan pengiriman dan mendorong harga makanan dan komoditas lainnya lebih tinggi.

Di Suriah, di provinsi barat laut Idlib yang dikuasai pemberontak, Ramadan tahun ini lebih sulit daripada Ramadan sebelumnya. Ekonomi Suriah telah dihantam oleh perang, sanksi Barat, korupsi, dan kehancuran ekonomi di negara tetangga Libanon di mana warga Suriah memiliki miliaran dolar yang tertahan di bank-bank Libanon.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    ‘Ngabuburit’ jadi saat yang ditunggu

    Ngabuburit adalah aktivitas mengisi waktu di sore hari sambil menunggu berbuka puasa saat Ramadan. Sejumlah warga Jakarta baik muda dan tua mengisi kegiatan tersebut, salah satunya dengan mengunjungi kawasan wisata Kota Tua yang terletak di Jakarta Barat.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    Seniman ikut mengais rezeki

    Ramainya pengunjung tentu membuat seniman di kawasan wisata Kota Tua tidak ingin melewatkan kesempatan mengais rezeki di bulan Ramadan. Ada dari mereka yang beribadah puasa, ada juga yang tidak.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    Berharap pengunjung ikut berbagi

    Para seniman jalanan ini berharap pengunjung rela berbagi rezeki untuk dapat membeli bekal berbuka puasa atau untuk keluarga di rumah. Kegiatan ini dilakukan hampir setiap hari oleh para seniman jalanan sambil menunggu bedug Magrib berbunyi.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    Kesejahteraan sosial belum merata

    Tidak jauh dari kawasan wisata Kota Tua, yakni di sekitar Stasiun Kota, dengan mudah dapat dijumpai warga dengan masalah kesejahteraan sosial. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta 2020, jumlahnya di Jakarta Barat lebih tinggi dibandingkan wilayah Jakarta lainnya.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    Berharap derma dari warga

    Menjelang berbuka, sejumlah warga berkeliling untuk mengemis. Seorang ibu ini misalnya, sanggup meraup Rp200.000 per hari dari mengemis mulai jam 12 siang hingga 12 malam. Ibu berusia 40 tahun ini mengaku pernah tiga kali diangkut paksa oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Barat. Hari itu, ibu ini sedang tidak berpuasa.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    Tidak semua menggantungkan hidup dari meminta

    Sementara Berlin Jola (68), warga Bandung bercucu tiga ini memilih merantau sebagai pemulung di Jakarta. Berlin tidak ingin mengandalkan hidupnya dari anak-anaknya.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    Batalkan puasa dengan segelas air mineral

    Selama masih sehat, Berlin Jola ingin terus bekerja secara mandiri. Dia tidak pernah diangkut paksa oleh Satpol PP. Hari ini dia tidak berpuasa karena lelah memperbaiki gerobaknya. Biasanya Berlin membatalkan puasa dengan segelas air mineral.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    Saat Ramadan penghasilannya agak berkurang

    Berlin mengaku sudah merantau di Jakarta sejak 2014. Dia mengumpulkan gelas dan botol plastik di tempat sampah atau yang berserakan di jalan. Saat Ramadan penghasilannya per minggu mencapai Rp500.000 sedangkan di bulan-bulan lain ia bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp800.000 per minggu.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    Berjalan kaki keliling Jakarta

    Berlin pernah berjalan kaki puluhan kilometer seantero Jakarta untuk mengumpulkan gelas dan botol plastik. Dia hidup dan tinggal di dalam gerobaknya. Berlin bahkan punya lemari mini di dalam gerobak untuk menyimpan beberapa helai baju ganti. Terpal gerobak digunakan untuk melindungi diri dari panas dan hujan.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    Menunggu pembagian nasi kotak

    Di tempat lain, ketiga ibu ini mengandalkan kemurahan hati dermawan yang ngabuburit membagikan nasi kotak jelang buka puasa. Mereka biasa ‘nongkrong’ di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, sejak pukul 16.30 WIB.

  • Ramadan di Jakarta

    Kala Ramadan Menyapa Kaum Terpinggirkan Ibu Kota

    Kadang dapat menu menggugah selera

    Hari itu, masing-masing dari mereka membawa pulang dua nasi kotak untuk berbuka puasa dengan keluarga di rumah. Nasi dan lauknya pun cukup menggugah selera. Namun terkadang mereka tidak mendapatkan nasi kotak sama sekali. (ae)

    Penulis: Leo Galuh


Di Jalur Gaza, meskipun jalanan dan pasar ramai, banyak yang mengatakan mereka tidak mampu membeli banyak. “Situasinya sulit,” kata Um Musab, ibu dari lima anak, saat mengunjungi pasar tradisional di Kota Gaza.  Mahmoud al-Madhoun, yang membeli kurma, tepung dan minyak untuk membuat kue mengatakan, kondisi keuangan berubah dari buruk menjadi lebih buruk. “Namun, kami tetap bersukacita,” tambahnya.

Warga Afghanistan merayakan Idul Fitri pertama sejak pengambilalihan pemerintahan oleh Taliban di tengah kondisi keamanan dan ekonomi yang suram. Banyak yang berhati-hati tetapi membanjiri masjid-masjid terbesar di Kabul untuk salat pada hari Minggu, di tengah keamanan yang ketat. Ledakan sering terjadi menjelang Idulfitri. Di Irak, lebih sedikit pembeli di pasar dari biasanya. Pasukan keamanan bersiaga tinggi dari hari Minggu hingga Kamis untuk mencegah kemungkinan serangan.

Namun, banyak muslim di tempat lain bersukacita dalam menghidupkan kembali ritual yang terganggu oleh pandemi. Jutaan orang Indonesia telah berdesakan di dalam kereta api, feri, dan bus menjelang hari raya saat mereka berhamburan keluar dari kota-kota besar untuk merayakan bersama keluarga mereka di kampung halaman.  Kembalinya tradisi mudik menimbulkan kehebohan besar setelah dua tahun kemeriahan acara ini diredam akibat pandemi. Kerinduan untuk merayakan Idul Fitri dengan cara biasa akhirnya terobati hari ini meskipun pandemi belum berakhir, kata Hadiyul Umam, warga Jakarta.

Muslim di Malaysia juga dalam suasana perayaan setelah perbatasan negara mereka dibuka kembali sepenuhnya dan langkah-langkah COVID-19 semakin dilonggarkan. Bazaar Ramadan dan pusat perbelanjaan telah menanti sebelum Idul Fitri dan banyak yang melakukan perjalanan ke kota asal mereka. ap/yf (AP)

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.