26.8 C
Jakarta
Sunday, May 22, 2022

Inilah Tutorial Shalat Bagi Orang yang Sakit | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com–  Shalat merupakan ibadah paling...

Hukum Bersentuhan dengan Bukan Mahram Saat Thawaf | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Termasuk dari syarat thawaf...

Tuhan, Manusia, dan Alam: Kosmologi dalam Tradisi Spiritual Islam (Bagian 1) – Arrahim.ID

AswajaTuhan, Manusia, dan Alam: Kosmologi dalam Tradisi Spiritual Islam (Bagian 1) - Arrahim.ID

Views 4

Studi tentang relasi Tuhan, manusia, dan alam menjadi tema besar dalam Alquran dan menjadi pembahasan yang serius dalam dunia filsafat dan sains, karena ini berhubungan dengan pengetahuan akan realitas ketuhanan. Artikel ini membahas tentang khasanah spiritual Islam yang melihat manusia adalah bagian dari struktur jagad raya yang lebih luas. Artikel ini fokus pada teori bahwa jagad raya adalah gambaran dan manifestasi dari Tuhan yang menampakkan diri (tajalli).

Para sufi melihat hubungan tujuan penciptaan manusia dan alam ini berdasarkan pada Hadis Qudsi ‘Kuntu Kanzan Makhfiyyan, wa uridu an u’rafa, fa khalaqtu al-khalqa li’arafuuni’” (saya adalah mutiara yang terpendam, dan saya ingin dikenal, maka saya menciptakan makhluk untuk mengenal saya). Manifestatsi tuhan ini, adalah cara menafsirkan transendensi tuhan dalam dunia yang imanen, sebagaimana dalam Alquran (50:16) yang menyebutkan ‘Tuhan lebih dekat dari pada urat nadi’ yang berarti bahwa tuhan sangat dekat kepada manusia itu sendiri.

Ide bahwa tuhan adalah yang transcendent dan yang imanen sekaligus hadir dalam semua agama, bahwa Tuhan adalah Jagad Raya (coincidentia oppositorum atau Huwa la huwa) Sebagaimana Abu Sa’id al-Kharraz ketika ditanya tentang “dengan cara apa kamu tahu Tuhan”, dan dijawab bahwa Tuhan adalah gambaran dari jagad raya.

Dengan cara berpikir ini pula, tulisan ingin memberikan perspektif spiritual tentang hubungan manusia, alam dan Tuhan, dan bukan hanya sekedar beralih dari perspektif biosentris ke perspekktif kosmo-sentris, akan tetapi juga membangun perspektif etika ekologis. Perspektif ini berusaha menghormati nilai-nilai dari segala hal yang wujud di dunia ini, baik manusia, maunpun alam semesta.

Tujuan Penciptaan

Narasi penciptaan adalah pembahasan yang penting dalam tasawuf Islam, Alquran menggunakan kata khalaqa yang dalam bahasa Arab memiliki dua makna; pertama,  menentukan atau mempertimbangkan (taqdir/qadara); dan kedua, menciptakan (ijad). Maka, posisi Tuhan di sini bisa dipahami sebagai yang menentukan dan yang menciptakan.

Sedangkan menurut Ibnu Arabi, penciptaan jagad raya (termasuk manusia) adalah bentuk cerminan Tuhan yang memanifestasikan dirinya. Bagi Arabi dalam Fususul Hikam menarasikan bahwa jagad raya adalah pantulan cermin di mana Tuhan melihat pantulan dirinya sendiri dalam cermin, sebagaimana dinarasikan dalam hadis qudsi. Dengan kata lain, menciptakan manusia adalah cara Tuhan untuk diketahui.

Tuhan adalah “al butun” atau yang maha tidak terungkap, dan secara zatiyyah, Tuhan tidak pernah bisa dipahami. Maka transendentalitas Tuhan bisa diungkap dengan menciptakan makhluk, dan ini disebut sebagai tajalli al haq (Tuhan yang menampkkan diri). Manifestatsi dari Tuhan yang Nampak ini bisa dipahami sebagai bentuk pewahyuan. Adalah Tuhan yang mewartakan tentang dirinya sendiri bahwa Dia merasa sedih ketika sendirian, dan tidak ada yang mengetahuinya, maka dia menciptakan yang lain untuk mengetahui-Nya.

Konsep tajalli kemudian mewujud dalam bentuk konretnya (ta’ayyun/ mewadat/ bentuk yang bisa dilihat).  Hal ini berkenaan dengan sifat kuasa tuhan yang ketika dia menginginkan untuk menciptakan, maka Dia hanyamengucap Kun (jadilah), maka akan ada barang yang mewujud dari kekosongan (creatio ex nihilo ). Akan tetapi makna kekosongan (nihil) di sini adalah bahwa Tuhan menciptakan sesuatu yang memiliki kemungkinan untuk mewujud.  Ajaran ini berasal dari narasi bahwa tuhan meniupkan ruh-Nya kepada manusia dan tuhan menciptakan manusia dalam bentuk-Nya.

Tuhan dan Jagad Raya

Alquran sering menyebutkan bahwa jagad raya adalah tanda tanda (ayah) dari kekuasaan Tuhan.  Arabi menggunakan istilah dalil yang berarti penanda atau penunjuk akan Tuhan, dan segala sesuatu yang mungkin ‘wujud’ adalah tanda yang menandai kebesaran Tuhan. Semua yang mewujud adalah pancaran dari Tuhan, dari sini kita bisa melihat  bahwa dengan bahasa kiasan bisa dikatakan bahwa jagadraya adalah ‘Tubuh Tuhan’.

Sebagai ‘tubuh Tuhan’, jagad raya menyimpan aspek-aspek misterius yang penuh akan kekaguman. Dalam bahasa Alquran, jagad raya adalah tanda (sya’air) yang menjadi tanda bagi orang-orang beriman untuk menghormatinya. Hormat di sini ditekankan bukan pada jagad raya, tapi kepada bahwa jagad raya adalah tanda akan kebesaran-Nya.

Dalam tradisi Kekristenan, ada St. Francis of Assisi (1181–1226 M.) yang berpandangan bahwa jagad raya adalah kesatuan (unity) di mana dia menyatakan bahwa binatang dan batu secara spiritual sama dengan manusia.  Bahwa rahmat Tuhan itu hadir untuk seluruh mahkluknya, dan tidak terkhusus kepada manusia saja.  Dalam tradisi Islam, Nabi mengajarkan umatnya untuk menghormati tanda-tanda kebesaran Tuhan meskipun itu sangat kecil. Aflaki menyebutkan bahwa Nabi adalah penyayang binatang, seperti kucing, ahkan beliau tidak melepas jubahnya ketika akan solat karena tidak mau menggangu kucing yang sedang tidur.

Dalam pandangan Ibn Arabi, salah satu sufi besar dalam Islam, tentu saja zat Tuhan itu tidak bisa diketahui, karena Dia adalah yang transcendental dan melampui akal manusia. Akan tetapi ada dua model dalam memahami ini, yang pertama adalah bahwa zat Allah ini memang tidak bisa diketahui sama sekali, dan bisa diketahui lewat kebalikanya (via negativa), artinya apapun selain Tuhan adalah jagad raya.

Model yang kedua adalah dengan mengungkap asma’ dan sifat dari Allah yang mana dalam hal ini Arabi melihat Tuhan adalah realitas tertingi dalam kehidupan. Konsep ini dalam tradisi teologi Islam disebut sebagai tanzih (memurnikan), bahwa Allah itu tidak tertandingi (beyond compare) dari seluruh makhluknya. Namun, konsep ini juga membawa konsekuensi bahwa Tuhan kemudian tidak bisa diketahui lewat jalur apapun.

Sedangkan dalam hadis, Tuhan menciptakan manusia agar Dia bisa diketahui. Dalam hal ini Arabi melihat bahwa proses penciptaan adalah proses yang terus menerus, dan Tuhan memanifestasika Dirinya dalam menciptakan berbagai hal. Dengan kata lain, Arabi melihat bahwa penciptaan segala hal dari yang tidak ada menuju yang ada secara konkrit adalah bagian dari manifestasi ilahiyyah. Bersambung… [AA]

*Artikel ini diterjemahkan dari karya Profesor Syafa’atun Almirzanah yang berjudul “God, Humanity, and Nature: Cosmology in Islamic Spirituality”

Selanjutnya: Tuhan, Manusia, dan Alam… (Bagian 2)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles