Tradisi Kupatan sebagai Bentuk Budaya Syawalan Di Jawa – Arrahim.ID

by -4 views
tradisi-kupatan-sebagai-bentuk-budaya-syawalan-di-jawa-–-arrahim.id

2 min read

Views 3

Tradisi “Kupatan”/ Syawalan merupakan selametan  yang dilakukan pada hari ketujuh bulan syawal. Hidangan yang dipergunakan dalam prosesi upacara yaitu kupat yang sebagian dibawa kemasjid, musholla, rumah sesepuh desa atau rumah kepala dasa, atau tempat tertentu yang biasa digunakan tempat untuk berkumpulnya para warga masyarakat. Ketupat atau kupat merupakan hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa (janur) yang masih muda.

Upacara dilakukan pada hari ketujuh bulan Syawal, karena pada tanggal ini dianggap Hari Raya Kedua (Bakdo Cilik) setelah melakukan ritual puasa enam hari pada blan Syawal. Upacara dilakukan secara sederhana, setiap kepala keluarga membawa hidangan kemudian oleh orang yang dituakan (Kiai), lalu dimakan bersama-sama.

Kisah tentang kupat (Ketupat), bagi masyarakat Jawa selalu dikaitkan dengan Sunan Kalijaga yang memiliki peran penting dan berjasa dallam hal membuat atau mentradisikannya. Kupat sebagai bentuk dakwah Islam melalui simbol. Maka nilai-nilai filosofinya dapat diungkapan sebagai berikut :

  1. “Kupat” (Jawa) bagi masyarakat Jawa diartikan sebagai “ngaku lepat” (mengakui kesalahannya). Sebab, manusia pasti pernah melakukan kesalahan kepada yang lain sehingga meminta maaf kepada lainnya, agar terjadi saling maaf memaafkan.
  2. Bungkus kupat yang terbuat dari janur dimaknai sebagai “sejatine nur” (nur sejati) atau dapat diartikan sebagai “ja’a nur” (telah datang cahaya), yang keduanya melambangkan kondisi umat muslim setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan suci Ramadhan secara pribadi mereka kembali kepada kesucian/jatidiri manusia (fitrah) yang bersih bagaikan sang anak yang baru lahir.
  3. Isi kupat yang bahannya dari beras, dan direbus sampai masak sehingga tampak kenyal. Hidangan makanan ini biasanya disajikan dengan opor ayam dan sambal goreng. Ketika keluarga berkumpul pada Hari Raya Idul Fitri menu makanan ini menjadi menu favorit, bahkan dalam upacara dalam upacara selamatan sebagai simbol persamaan, kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Hal itu mengandung pesan moral agar kita sama-sama rela saling menjalin persatuan dan kesatuan dengan sesama muslim.

Selain memiliki makna ngaku lepat, ketupat memiliki makna laku papat yaitu lebar, luber, lebur dan labur. Keempat makna tersebut memiliki arti masing-masing :

Pertama, lebar  diartikan sebagai pintu yang terbuka untuk suatu ampunan. Oleh karena itu, dikenal dengan istilah “lebaran” yang artinya berakhirnya puasa, Idul Fitri untuk menandakan umat muslim agar saling memaafkan. Warga muslim pada umumnya merayakan hari Raya Idul Fitri biasanya hanya sebatas berkunjung ke rumah sanak saudara. Namun, bagi masyarakat Jawa merayakan hari Raya Idul Fitri bukanlah suatu hal yang biasa. Mereka merayakannya dengan melakukan suatu perayaan yang berwujud ritual, atau biasa disebut dengan tradisi kupat syawalan.

Kedua, Luber memiliki makna meluber atau melimpah. Ketupat menjadi simbol ajaran bersedekah sebagai wujud kepedulian kepada sesama umat manusia yang membutuhkan. Masyarakat melakukan pembagian ketupat karena banyaknya ketupat sampai luber yang dimaknai agar seluruh masyarakat baik warga maupun penonton dapat menikmati makan bersama.

Ketiga, lebur yang bermakna habis yakni waktu satu bulan dalam berpuasa telah selesai dan warga segera menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri yang bertepatan pada tanggal 1 Syawal. Tradisi lebaran menjadi titik akhir umat Muslim untuk merayakan hari lebaran. Dalam perayaan hari raya, dosa dan kesalahan umat Muslim akan dilebur atau dimaafkan dalam hari itu juga yakni 1 syawal. Biasanya tradisi ini dilakukan masyarakat ketika melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk bersilahturahmi serta meminta maaf antara warga satu dengan yang lain.

Keempat, Labur adalah kapur yang memiliki simbol putih, bersih dan suci. Sebagaimana dalam hari raya ini, umat Muslim saling memaaafkan agar kembali suci baik lahir maupun batin. Labur  disimbolkan dengan ketupat yang terbuat dari beras dan ketika dibuka berwarna putih. Hal tersebut menandakan bahwa ketupat memiliki simbol kesucian bagi masyarakat yang merayakan lebaran.

Labur dalam pemaknaan ngaku lepat tidak hanya dimaknai sebagai simbol kesucian dan pembersihan lahir-batin saja, tapi juga sebagai simbol kegiatan pengecetan rumah warna putih. Masyarakat mempercayai bahwa ketupat menjadi simbol penyucian diri agar masyarakat kembali fitri/fitrah yang ditunjukkan pada warna ketupat seperti hati dalam kondisi bersih dari rasa iri, dengki dan lain-lain. 

Dari tradisi tersebut, masyarakat Jawa tidak hanya menampilkan tradisi syawalan dalam bentuk fisik (dengan bermaaf-maafan) semata melainkan juga dalam bentuk kebudayaan yang dibuktikan dengan ketupat. Ketupat memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan syawalan yaitu memaafkan satu sama lain untuk kembali ke kesucian (fitrah). (mmsm)

Leave a Reply

Your email address will not be published.