28.8 C
Jakarta
Tuesday, May 24, 2022

Panduan Lengkap Tata Cara Wudhu

BincangSyariah.Com– Sahabat Bincang Syariah, kali...

Tata Cara Tahallul: Lengkap dengan Zikir dan Artinya

BincangSyariah.Com– Tahallul secara bahasa artinya adalah...

Berikut Tata Cara Shalat Tasbih

BincangSyariah.Com–  Sahabat Bincang Syariah yang...

Tradisi Bakar Tongkang, Upacara Bakar Kapal Kayu dari Bagan Siapi-api

Tradisi Bakar Tongkang, Upacara Bakar Kapal Kayu dari Bagan Siapi-api

Tahukah Parents, Kota Bagan Siapi-Api, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau identik dengan dua hal. Pertama, daerah ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan dengan pelabuhan terbesar di tanah air pada masa lampau. Kedua, Bagan Siapi-Api dikenal karena tradisi bakar tongkang.

Berdasarkan situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tradisi ini terkait keputusan penting para migran Cina pertama yang meninggalkan tanah air mereka dan menetap di Riau di pulau Sumatra. Bakar tongkang berarti membakar kapal (terakhir) tempat mereka berlayar.

Meskipun nama kota Bagan Siapi-api tidak setenar kota-kota kecil lain di pesisir pulau Sumatra, akan tetapi setiap tahunnya baik turis lokal maupun asing berbondong-bondong ke kota ini untuk menyaksikan ritual bakar tongkang.

Seperti apa sejarah tradisi bakar tongkang ini? Bagaimana upacara unik ini bisa menjadi daya tarik andalan Kota Riau untuk menarik wisatawan lokal maupun asing? Melansir dari beberapa sumber, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

1. Asal-usul Tradisi Bakar Tongkang

Mengutip dari Media Indonesia, asal usul tradisi bakar tongkang bermula dari tiga tongkang (kapal) kayu berlayar dari Xiamen, Provinsi Fujian, Tiongkok. Perjalanan mengarungi samudra ditempuh selama berbulan-bulan. Ada keinginan kuat mencari tempat baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik. 

Mereka sempat mendarat di Songkhla, Thailand, pada 1825. Akan tetapi, mereka segera meninggalkan tempat itu karena ada wabah yang melanda. Perjalanan ke selatan dilanjutkan. Sayang sekali, dua kapal tenggelam dihantam badai. Satu kapal terapung-apung kehilangan arah. Kapal yang terapung-apung itu berpenumpang 18 orang (lelaki dan perempuan), semuanya bermarga Ang. Mereka dipimpin oleh Ang Nie Kie. 

Dalam kebimbangan di tengah lautan mereka berdoa memohon bantuan kepada Dewa Kie Ong Ya agar diberi petunjuk menuju daratan. Tak lama kemudian, mereka melihat cahaya api dalam kegelapan malam. Kegembiraan menyelimuti hati mereka sebab di mana ada api di situ ada daratan. 

Artikel terkait: Mengenal Tradisi Ekstrim Pukul Sapu di Maluku

Hari itu tepat tanggal 16 bulan 5 penanggalan Imlek pada tahun 1826 Masehi, mereka berlabuh di Kuala Sungai Rokan. Ribuan kunang-kunang beterbangan berputar-putar di atas bagan (tempat penampungan ikan) sambil memancarkan cahaya. 

Mereka memutuskan untuk menetap di tempat itu. Tanah yang subur untuk bertanam dan ikan yang melimpah di lautan diyakini akan memberikan kehidupan yang lebih baik. Mereka juga memutuskan untuk membakar tongkang agar tidak pernah kembali ke Fujian. Itulah asal mula kedatangan orang Tionghoa di Kota Bagan Siapi-api dan awal adanya ritual pembakaran tongkang. 

Sejak 1826, upacara bakar tongkang diadakan setiap tanggal 16 bulan ke-5 sebagai ucapan terima kasih kepada Dewa Kie Ong Ya. Dalam bahasa Hokkien bakar tongkang disebut go gek cap lak. 

Meski sempat dilarang penyelenggaraannya di Indonesia, namun sejak era Presiden Gus Dur, larangan penyelenggaraan ini dicabut. Alhasil, kini Anda kembali bisa menikmati upacara yang resmi digelar setiap tahun.

2. Prosesi Festival Bakar Tongkang

Mengutip dari situs Adira, sebelumnya, para penyelenggara acara akan mempersiapkan sebuah replika tongkang yang nantinya akan diarak mengelilingi Kota Bagan Siapi-api. Arak-arakan inilah yang berhasil menarik perhatian banyak wisatawan dan warga setempat sehingga jalanan akan dipadati oleh para pengunjung.

Replika kapal ini memiliki ukuran kurang lebih panjang 8,5 meter dan lebar 1,7 meter. Sedangkan beratnya bisa mencapai 400 kg. Satu malam sebelum upacara ini berlangsung, tongkang ini akan disimpan dan diberkati di Klenteng Hok Hok Eng lalu barulah dibawa ke tempat arak-arakan untuk kemudian prosesi bakar tongkang akan dilakukan.

Diperkirakan lebih dari 50.000 wisatawan domestik dan mancanegara akan berkumpul di tempat ini untuk menyaksikan perhelatan ini. Masyarakat etnis Tionghoa yang ada di lokasi akan berdoa meminta keberkahan pada para dewa saat replika tongkang ini melintas.

Setelah selesai diarak keliling kota, replika tongkang ini akan diletakkan di sebuah lapangan yang terletak di Jalan Perniagaan. Lapangan tempat tongkang diletakkan telah dipenuhi dengan tumpukan kertas kuning. Tepat pukul 4 sore, replika tongkang akan mulai dibakar. Masyarakat Tionghoa akan menyaksikan ini dengan saksama sambil terus berdoa.

Artikel terkait: Upacara Kerik Gigi, Tradisi Menyakitkan Suku Mentawai demi Tampil Cantik

3. Keunikan Tradisi Asal Kota Bagan Siapi-api Ini

Di puncak festival, ada satu keunikan dari tradisi ini yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat, yakni ke mana arah jatuhnya tonggak kayu yang dipasang pada tongkang. Hal ini menjadi penting bagi masyarakat Tionghoa karena arah jatuhnya tonggak kayu ini akan menjadi ramalan tersendiri mengenai peruntungan rezeki masyarakat.

Peruntungan ini ditentukan dengan dua arah, yakni utara untuk laut dan selatan untuk darat. Jika tonggak jatuh ke arah utara, maka rezeki di tahun ini akan lebih banyak di laut. Sedangkan jika tonggak jatuh ke arah selatan, maka rezeki akan lebih banyak datang dari arah darat. Unik, ya, Parents?

Artikel terkait: Tradisi Bau Nyale, Tradisi Unik Mencari Putri Mandalika di Lombok

4. Merupakan Potensi Wisata bagi Turis Lokal maupun Mancanegara

Penyelenggaraan festival bakar tongkang dari tahun ke tahun semakin meriah. Pengunjung tidak hanya dari Dumai atau Pekanbaru, tetapi juga berdatangan dari luar negeri. Festival ini semakin menarik karena dibumbui dengan atraksi dan pertunjukan lain yang luar biasa. 

Tak hanya menampilkan seni budaya Tionghoa, tetapi juga memunculkan warna Melayu. Tidak hanya menampilkan ritual, tetapi juga hiburan berkelas internasional (tahun lalu mendatangkan artis dari Taiwan). 

Tampaknya harapan pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi, tidak berlebihan, sebab secara konsisten jumlah pengunjung yang datang ke Kota Bagan Siapi-api untuk menghadiri festival bakar tongkang meningkat. Jumlah pengunjung pada 2017 sebanyak 52 ribu orang, 2018 sebanyak 69 ribu, dan di 2019 sebanyak 75 ribu orang.  

Dari jumlah itu, 40% pengunjung merupakan wisatawan asing yang berasal dari berbagai negara di dunia, terutama dari Hong Kong, Taiwan, Tiongkok, Malaysia, dan Singapura. Jumlah itu membuat Kementerian Pariwisata tidak ragu untuk memasukkan tradisi bakar tongkang ke dalam 100 Wonderful Events in Indonesia.

Nah, itulah informasi mengenai tradisi bakar tongkang yang rutin digelar tiap tahunnya di Kota Bagan Siapi-api, Riau. Apakah Anda tertarik untuk ikuti tradisi unik ini, Parents?

6 Nilai Moral dan Manfaat Permainan Tradisional Lompat Tali Karet

Mengenal Tradisi Bambu Gila dari Maluku Tengah yang Mistis dan Unik

Asal Usul, Sejarah, dan Makna Ogoh Ogoh, Ritual Nyepi Khas Bali

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles