Timor Leste dan Terumbu Karang Terkaya di Dunia: Kenapa Masih Miskin?

by -12 views

Timor Leste yang kecil dikelilingi oleh beberapa kehidupan laut yang paling indah dan tak tersentuh di dunia. Ada pertanyaan nyata bagi para ahli konservasi dan pejabat pemerintah: Bagaimana negara termiskin di Asia Tenggara itu dapat mengembangkan pariwisata dan menjaga keindahan aslinya?

Pada suatu pagi musim semi yang hujan, Fizzy Moslim mengikat tangki oksigen krom ke tubuhnya dan terjun ke dalam air hangat.

Baca juga: Menggilanya COVID-19 Timor Leste dan Abainya Warga

Beberapa pengunjung berhasil mencapai desa nelayan Com yang sepi, tujuh jam perjalanan yang melelahkan dari ibu kota Dili. Biasanya tidak ada orang kecuali penduduk setempat yang menyelam ke perairannya.

Di bawah air, Fizzy Moslim menemukan kota metropolis bawah air. Kawanan penyu berenang bersama ratusan ikan karang, memakan terumbu karang yang kaya di bawah. Dua ekor dugong muda, mamalia laut mirip manatee, melaju menjauh, sementara hiu blacktip reef berenang di sepanjang dasar laut.

“Ini bahkan bukan yang terbaik dari apa yang pernah saya lihat,” seru Fizzy Moslim, dikutip dari The Seattle Times, instruktur untuk tur menyelam Compass Diving, saat dia akhirnya muncul dari kedalaman laut.

Pada Maret 2018, Fizzy Moslim beserta tim penyelam dan ahli konservasi memulai misi untuk memetakan suaka laut itu dengan harapan membawa spesies baru ke sana: turis.

“Jika karang-karang ini tetap kuat, orang-orang di sekitarnya akan membutuhkan uang untuk menjaganya tetap aman,” tutur Trudiann Dale, Direktur Conservation International untuk Timor Leste. “Ekowisata, jika dilakukan dengan benar, dapat menyediakan dana yang dibutuhkan.”

The Seattle Times melaporkan, negara kecil Timor Leste dikelilingi oleh beberapa kehidupan laut yang paling indah dan tak tersentuh di dunia. Di lepas pantai Pulau Atauro saja, para peneliti telah menemukan 253 spesies ikan karang, melampaui rekor dunia.

Namun, 16 tahun setelah memperoleh kemerdekaannya usai beberapa dekade pendudukan berdarah, Timor Leste tetap menjadi negara termiskin di Asia Tenggara. Ketika para politisi bergulat untuk menemukan sumber pendapatan baru seperti pompa minyak dan ekspor kopi, tidak ada yang terbukti cukup kuat untuk mengangkat negara tersebut keluar dari kemiskinan.

Pertanyaan nyata bagi para ahli konservasi dan pejabat pemerintah setempat ialah bagaimana negara itu bisa mengembangkan pariwisata sekaligus menjaga keindahan aslinya?

“Ini sulit,” keluh Manuel Mendes, kepala Departemen Kawasan Lindung dan Taman Nasional Timor Leste, mencatat kerentanan negaranya terhadap perubahan iklim dan kekeringan. “Kami tahu, jika kami biarkan begitu saja, semua itu akan segera hilang.”

Di seluruh dunia, karang-karang sedang mengalami pemusnahan. Menurut kelompok konservasi Dana Dunia untuk Alam (WWF), hampir seperempat terumbu karang di seluruh dunia rusak dan tidak bisa diperbaiki. Sisanya berada di bawah ancaman kenaikan suhu laut, praktik penangkapan ikan yang berbahaya, serta pariwisata yang merusak.

“Kami tidak ingin berakhir seperti Bali,” tegas Dale. Ia merujuk pada “darurat sampah” di pusat pariwisata terkenal di Indonesia itu pada 2017, ketika hampir seratus ton sampah tersapu di pantai Pulau Dewata.

Sejak memproklamasikan kemerdekaan pada 2002, setelah bertahun-tahun menderita pendudukan yang kejam oleh militer Indonesia, Timor Leste terus berjuang untuk bangkit.

“Di masa pendudukan Indonesia, tentara melempar granat ke terumbu untuk memancing,” tandas Zanuari Marteans, nelayan berusia 60 tahun dari Pulau Atauro, dilansir dari The Seattle Times.

“Kami bersembunyi di desa-desa dan menyaksikan mereka menimbulkan kehancuran. Kami tidak bisa berbuat apa-apa.”

Pada tahun-tahun setelah kemerdekaan, negara itu memiliki salah satu tingkat kesuburan tertinggi di kawasan, dengan hampir tujuh kelahiran per ibu. Enam belas tahun kemudian, sebagian besar penduduk berusia di bawah 25 tahun, dengan pengangguran yang terus meningkat.

Sejak 2004, hampir 80 persen dari produk domestik bruto Timor Leste berasal dari ladang minyak di Laut Timor, di mana cadangannya diproyeksikan akan mengering pada 2023. Pada Maret 2018, mantan pemimpin pemberontak dan pahlawan kemerdekaan Xanana Gusmão memimpin negosiasi dengan Australia untuk memperluas perbatasan laut Timor Leste, memberikan harapan untuk kesepakatan yang diperpanjang bernilai miliaran dolar lebih banyak. Namun, diskusi tentang ke mana minyak akan dipompa masih terus berlanjut, sementara Timor Leste terus bergulat untuk menyediakan pekerjaan bagi populasi yang terus bertambah.

Perkembangan terumbu di Timor Leste bukanlah kebetulan. Secara turun-temurun, nelayan setempat telah mengamankan pasokan ikan mereka dengan menciptakan kawasan lindung laut. Masyarakat akan menyetujui perbatasan, menandai dan melarang penangkapan ikan di sana. Tidak ada jala yang diseret dan tidak ada motor perahu yang bergemuruh melakukan penangkapan ikan. Di wilayah kaya sumber daya itu, ikan-ikan dan karang berkembang tanpa tersentuh, sehingga generasi mendatang memiliki kesempatan untuk menangkap mereka.

Pada 2016, pemerintah Timor Leste mulai menerapkan praktik-praktik tersebut menjadi undang-undang. The Seattle Times mencatat, pemerintah menyusun anggaran dan mulai membayar penjaga untuk membantu upaya tersebut. Namun, anggarannya sangat kecil dan hampir tidak menutupi gaji para penegak hukum.

Oleh karena itu, sebagian besar pekerjaan sehari-hari di sekitar terumbu tetap dilakukan oleh komunitas nelayan.

Di dalam gubuk beton untuk melindungi dari terik matahari tengah hari, Trudiann Dale mengumpulkan sekelompok nelayan lokal dan pemilik hotel bersama dengan tur menyelam Compass Diving yang berbasis di Dili untuk berbagi ide tentang ekowisata.

Terumbu karang mereka yang masih asli, Trudiann Dale menjelaskan, dapat mendatangkan para penyelam dari seluruh dunia yang bersedia membayar mahal untuk menjelajahinya. Para nelayan itu duduk sambil merokok dengan tangan disilangkan secara hati-hati.

“Kami tidak tahu harus mulai dari mana,” tukas Lucas Monteiro (32), pengangguran di Com. “Masyarakat tertarik dengan pariwisata dan upaya menghasilkan uang, tetapi orang-orang di sini hanya memiliki laut.”

Pariwisata di Timor Leste

Timor Timur atau Timor Leste, yang memperoleh kemerdekaan pada tahun 2002 dari Indonesia, terletak di antara Timor Barat Indonesia dan Papua. (Foto: Istimewa)

Baca juga: 4 Fakta Minyak Timor Leste: Berlimpah Ruah tapi Rakyat Kelaparan

Faktanya, pariwisata di Timor Leste tetap sangat rendah. Asia Foundation memperkirakan, hanya sekitar lima ribu wisatawan setahun yang datang ke Timor Leste. Jalanan di negara itu berbatu dan tidak dapat diakses, sementara penerbangan ke negara itu jarang dan mahal.

Mengingat semua itu, ekowisata di Timor Leste masih belum menjadi prioritas yang realistis bagi para pemimpin pemerintahan, meski ada harapan akan membaik.

“Dengan kesepakatan minyak, mereka mendapatkan manfaat yang lebih besar,” tandas Gobie Rajalingam, manajer program pariwisata untuk Asia Foundation. “Mereka hanya ingin melihat pariwisata menghasilkan uang.”

Di beberapa bagian negara, hotel-hotel mahal sudah mulai mengalami perkembangan. Proposal pemerintah termasuk bertujuan mengubah Timor Leste menjadi suaka pajak dan tujuan kasino seperti Makau.

Namun, menurut laporan The Seattle Times, bagi para nelayan di Timor Leste, bobot pelestarian akan tetap menjadi bagian sentral kehidupan mereka. “Ikan-ikan ini adalah hidup kami dan karang adalah rumah mereka,” tegas Zanuari Marteans, duduk terjaga dari tidur siang di pasir yang hangat dan bersiap untuk memancing di malam hari.

“Jika siapa pun tidak memiliki rumah, bagaimana mereka bisa hidup?”

Penerjemah: Fadhila Eka Ratnasari

Editor: Purnama Ayu Rizky

Keterangan foto utama: Ilustrasi kemiskinan di Timor Leste. (Foto: Paula Bronstein/Getty Images)

Timor Leste dan Terumbu Karang Terkaya di Dunia: Kenapa Masih Miskin?

Ekonomi Timor Leste, Industri Perikanan, Kerusakan Lingkungan, Sejarah Timor Leste, Timor Leste

Leave your vote

526 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *