Tim Penyelam Bersihkan ‘Jaring Hantu’ di Thailand Bantu Perangi COVID-19

by -16 views
tim-penyelam-bersihkan-‘jaring-hantu’-di-thailand-bantu-perangi-covid-19

Penyelam di lepas pantai Thailand mengendap-endap melalui jaring-jaring terbengkalai di sekitar terumbu karang. Sebuah inisiatif yang membantu melindungi kehidupan laut dan memerangi virus corona.

Dikenal dengan istilah “jaring hantu”, sampah dari industri perikanan yang menguntungkan di negara ini merupakan sumber polusi plastik yang mematikan, karena dapat menjerat penyu hingga memotong lapisan karang yang halus.

Jika dibiarkan tanpa pengawasan, “mereka dapat bertahan selama beberapa dekade, baik menjebak atau menjadi makanan hewan laut”, kata Ingpat Pakchairatchakul dari Environmental Justice Foundation yang berbasis di London.

Kepada AFP, Ingpat bercerita belum lama ini timnya yang beranggotakan 30 orang melakukan aksi di lepas pantai Chonburi berhasil memotong benang tebal yang menyelimuti karang di kedalaman 27 meter.

Melindungi makhluk laut

Ingpat adalah bagian dari Net Free Seas, sebuah proyek yang mengambil jaring bekas dan mengubahnya menjadi produk plastik baru – dalam hal ini memenuhi permintaan yang terus meningkat akan alat pelindung seperti pelindung wajah untuk mencegah penyebaran virus COVID-19.

Net Free Seas

Net Free Seas adalah proyek yang mengambil jaring bekas dan mengubahnya menjadi produk plastik baru

Proyek membersihkan laut dari jaring hantu bertujuan untuk membuktikan bahwa melindungi makhluk laut bisa juga membuahkan keuntungan di Thailand. Inisiatif ini muncul setelah banyaknya protes yang meningkat akibat dampak mematikan plastik pada kehidupan laut.

Salah satu contoh makhluk laut yang sempat diselematkan adalah bayi duyung bernama Mariam, yang terdampar di perairan dangkal dua tahun lalu dan meninggal karena infeksi yang disebabkan oleh lapisan plastik di perutnya.

Kematian Marian memicu curahan duka online masyarakat Thailand yang telah menghabiskan waktu selama berbulan-bulan menonton siaran web langsung dari penyelamat yang mencoba merawat makhluk itu.

Mariam, bayi duyung yang berhasil diselamatkan

Mariam si bayi duyung dirawat oleh petugas taman dan dokter hewan dari Pusat Biologi Laut Phuket di pulau Libong

Mariam termasuk di antara hampir dua lusin hewan laut besar yang tewas atau terluka yang ditemukan terdampar di pantai Thailand setiap tahunnya, menurut Chaturathep Khowinthawong, Direktur Badan Pengelola Taman Laut Kerajaan. “Lebih dari 70 persen dari mereka terluka akibat jaring hantu dan mengalami luka parah di tubuh mereka,” katanya.

“Begitu mereka buntu, peluang bertahan hidup kurang dari 10 persen.”

  • Start-up Plastic Fischer dari Jerman prihatin melihat polusi sampah di sungai-sungai Asia

    Inovasi Penjala Plastik Buatan Jerman Tangkap Sampah di Citarum

    Semua bermula dari…

    Karsten Hirsch dan Georg Baunach yang merasa gerah melihat banyaknya sampah plastik terapung di sungai, saat melakukan perjalanan ke Asia. Berangkat dari keprihatinan itu, saat kembali ke Jerman, mereka pun mendirikan start-up Plastic Fischer, atau disebut juga penjala plastik.

  • Trash Booms buatan Plastic Fischer dari bahan kawat dan pipa.

    Inovasi Penjala Plastik Buatan Jerman Tangkap Sampah di Citarum

    Cegah sampah mengalir ke laut

    Pipa PVC dan jaring kawat, menjadi dua material utama yang mereka gunakan untuk membuat penghalang sampah yang efisien, yang mereka namai TrashBooms. Dengan menggunakan inovasi sederhana ini, plastik dapat tertahan sebelum hanyut dan mencemari laut. Diperkirakan ada delapan juta metrik ton sampah global masuk ke laut dan 1,29 juta metrik ton di antaranya berasal dari Indonesia.

  • Plastic Fischer bersihkan Citarum di Bandung yang didapuk sebagai salah satu sungai terkotor sedunia.

    Inovasi Penjala Plastik Buatan Jerman Tangkap Sampah di Citarum

    Bersihkan sungai terkotor

    Proyek percontohan pertama yang mereka pilih adalah Sungai Citarum di Bandung, Jawa Barat. Sungai Citarum yang panjangnya 300 km yang juga melintasi kota Bandung, dipilih karena termasuk salah satu sungai paling tercemar. Tahun 2013 lalu, Green Cross Switzerland dan Blacksmith Institute menetapkan Citarum sebagai salah satu sungai terkotor di dunia.

  • Trash Booms di sungai Citarum untuk jaring sampah

    Inovasi Penjala Plastik Buatan Jerman Tangkap Sampah di Citarum

    Memasang trash booms

    Trash Booms yang satu unit pengapungnya memiliki panjang sekitar 120 cm ini dapat menahan beban jaring kawat hingga kedalaman 60 cm, sehingga cocok untuk daerah sungai yang berbadan lebar namun memiliki kecepatan aliran rendah. Bila sudah terpasang, diperkirakan setiap minggunya, penghalang sampah plastik ini dapat menahan sekitar 400-1000 kg sampah.

  • Relawan lokal ikut membantu progam Citarum Harum

    Inovasi Penjala Plastik Buatan Jerman Tangkap Sampah di Citarum

    Berkolaborasi bersihkan sungai

    Saat membersihkan sungai Citarum, Plastic Fischer bekerjasama dengan Kodam Siliwangi dan dibantu sejumlah relawan dari ‘Make a Change World’, ‘Sungai Watch’, dan ‘River Clean Up’. Bersama-sama mereka membantu program Citarum Harum yang digagas pemerintah pusat untuk membersihkan Sungai Citarum.

  • Trash Booms sumbangan para donatur

    Inovasi Penjala Plastik Buatan Jerman Tangkap Sampah di Citarum

    Arti sebuah nama

    Tak semua perlu turun tangan secara langsung. Para simpatisan bisa juga ikut membantu dengan menjadi donatur. Biaya untuk membuat satu buah Trash Booms mencapai Rp. 700.000. Sebagai bentuk penghargaan, nama-nama donatur dituliskan di pengapung TrashBooms.

  • Trash Booms buatan Plastic Fischer dari bahan kawat dan pipa.

    Inovasi Penjala Plastik Buatan Jerman Tangkap Sampah di Citarum

    Kamu juga bisa buat!

    Karena ‘Trash Booms’ terbuat dari bahan yang dapat ditemukan dengan mudah, maka inovasi ini bisa diterapkan oleh siapa saja. Manual untuk konstruksi juga dapat diunduh secara gratis dari website plasticfisher. Penulis: Prita Kusuma (ts/as)


Ingin menyelamatkan laut

Pada tahun pertama beroperasi, Net Free Seas telah menyelamatkan 15 ton jaring limbah yang tersebar di laut.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, jumlah peralatan menangkap ikan yang hilang dan dibuang ke laut mencapai 640 ribu ton.

Skema mengumpulkan jaring hantu dan diproduksi menjadi komoditas yang bisa dijual mendapat dukungan dari komunitas nelayan setempat. “Ini adalah solusi win-win,” kata Somporn Pantumas, seorang nelayan di kota tepi pantai Rayong.

“Masyarakat nelayan dapat memiliki sumber pendapatan lain, pantai dan laut bersih, dan nelayan menemukan rasa persahabatan.” Pria berusia 59 tahun itu adalah satu dari 700 orang di komunitas nelayan di seluruh Thailand yang menjual jaring usang ke skema tersebut. Somporn dengan mudah diajak untuk berpartisipasi, lantaran sangat mengetahui tingkat pencemaran laut di perairan lepas Rayong – dia mengatakan lebih sering mengumpulkan banyak sampah plastik daripada ikan.

Kelambu yang terkumpul dikirim untuk dicuci, diparut, dicampur dengan plastik bekas lainnya, dan dilebur di Qualy Design, sebuah bisnis kecil yang mencetak peralatan rumah dari barang-barang daur ulang.

Qualy menggunakan jaring untuk membuat pelindung wajah, botol semprotan alkohol, dan layar pembatas meja yang digunakan di restoran-restoran di sekitar Bangkok sejak awal pandemi.

Net Free Seas

Qualy menggunakan jaring untuk membuat berbagai macam peralatan rumah dari barang-barang daur ulang

Produk terobosannya adalah tongkat penekan plastik, yang memungkinkan orang menekan tombol lift atau layar sentuh publik seperti konsol ATM tanpa risiko infeksi.

Dibandingkan dengan bahan lain, jaring adalah yang paling sulit untuk dikerjakan dan paling mahal, kata Direktur Pemasaran Perusahaan, Thosphol Suppametheekulwat kepada AFP. “Tapi kami benar-benar mengatasinya karena kami ingin menyelamatkan laut juga,” katanya.

ha/yp (AFP, cna)

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *