Tha’un ‘Amwas, Wabah Penyakit Pada Masa Khalifah Umar Ibnu Khatthab

by -3 views
tha’un-‘amwas,-wabah-penyakit-pada-masa-khalifah-umar-ibnu-khatthab

Tha’un ‘Amwas, Wabah Penyakit Pada Masa Khalifah Umar Ibnu Khatthab

Harakah.idTha’un ‘Amwas ini bermula di Palestina, lalu menjalar hingga ke Syam dan Iraq. Wabah ini membunuh ribuan nyawa manusia. Nama Tha’un ‘Amwas sendiri dipilih karena wabah tersebut berawal dari sebuah desa bernama ‘Amwas, desa yang terletak di antara Quds dan Ramlah.

Dalam catatan sejarah kekhalifahan Sayyidina ‘Umar Ibn Khathab terdapat dua musibah besar yang melanda umat Islam. Keduanya terjadi pada akhir tahun 17 Hijriah. Salah satunya adalah Tha’un ‘Amwas.

Musibah pertama adalah kekeringan dan kemarau yang menghancurkan produk pertanian dan peternakan. Kedua adalah sebuah wabah penyakit bernama Tha’un ‘Amwas. Wabah ini bermula di Palestina, lalu menjalar hingga ke Syam dan Iraq. Wabah ini membunuh ribuan nyawa manusia. Nama Tha’un ‘Amwas sendiri dipilih karena wabah tersebut berawal dari sebuah desa bernama ‘Amwas, desa yang terletak di antara Quds dan Ramlah.

Wabah Amwas merupakan wabah yang dimaksud dalam berbagai riwayat tentang kisah perjalanan Umar dan pengikutnya menuju Syam. Lalu di tengah perjalanan, mereka mendapat kabar tentang wabah penyakit yang sedang melanda Syam, hingga kemudian Umar memutuskan untuk kembali ke Madinah dan membatalkan kunjungannya ke Syam. Dalam kisah ini, Umar mengatakan sebuah semboyan bahwa mereka tidak sedang lari dari takdir Allah, melainkan lari dari satu takdir menuju takdir yang lain.

Peristiwa wabah Amwas juga merenggut nyawa beberapa sahabat mulia di antaranya Abu ‘Ubaidah yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Syam. Ia wafat pada usia 58 tahun sebagaimana penjelasan Al-Hamawi dalam Mu’jam al-Buldan (4/15). Jabatan beliau kemudian digantikan oleh sahabat Mu’adz Ibn Jabal yang kemudian juga wafat dalam bencana ini dalam usia 38 tahun. Kedua sahabat mulia tersebut menghadapi musibah ini dengan penuh kesabaran dan tidak sedikit pun berniat untuk melarikan diri dari tanggung jawab mereka.

Para ahli memperkirakan bahwa wabah ini bermula dari mikroba yang berasal dari jenazah-jenazah korban peperangan yang tidak terkubur dengan baik, mengingat pada masa tersebut banyak terjadi peperangan. Mikroba tersebut kemudian menjalar dan menyebar melalui udara atau media yang lain. Ibnul Atsir dalam Al-Kamil fi Al-Tarikh (2/396) menyebutkan bahwa wabah ini juga dapat dikatakan sebagai teguran atas merebaknya kebiasaan meminum minuman keras dan mabuk-mabukan di Syam kala itu.

Pada peristiwa bencana wabah ini, ‘Amr Ibn Ibn ‘Ash memerintahkan agar orang-orang berpencar dan menjauh ke gunung-gunung untuk mengurangi transmisi penularan penyakit. Ibn Jarir dalam Tarikh Al-Thabari (2/570) menyebutkan bahwa dalam wabah ini ada 50 ribu orang yang menjadi korban dan meninggal dunia.

Catatan sejarah tentang wabah yang pernah melanda Umat Islam ini menjadi petunjuk bahwa wabah penyakit adalah peristiwa yang telah terjadi berulangkali dalam sejarah. Wabah penyakit tidak otomatis adalah kutukan atau tentara Allah untuk membinasakan para pendosa karena ia juga pernah menimpa umat Islam dan bahkan membunuh beberapa nama sahabat mulia. Wabah penyakit di satu sisi menunjukkan kelemahan diri manusia dalam menghadapi ganasnya alam.

Timbulnya berbagai wabah penyakit sepanjang sejarah juga menjadi dorongan umat manusia untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang ilmu kesehatan dan menjaga kebersihan. Selain itu, sikap kesabaran Abu Ubaidah, optimisme Sayyidina Umar dan ikhtiar ‘Amr Ibn ‘Ash dapat menjadi pelajaran bagi kita dalam menghadapi musibah pandemi dan wabah penyakit.

Leave your vote

607 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia theplieh

saya adalah admin di https://t.co/m6Yub2LJMv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *