Teologi Lingkungan Hidup dan Dampak Sains Barat Terhadap Kerusakan Sumber Daya Alam

by -3 views
teologi-lingkungan-hidup-dan-dampak-sains-barat-terhadap-kerusakan-sumber-daya-alam

Teologi Lingkungan Hidup dan Dampak Sains Barat Terhadap Kerusakan Sumber Daya Alam

Harakah.idTeologi lingkungan hidup tampaknya semakin penting untuk terus dibicarakan. Fakta bahwa bumi dan lingkungan semakin rusak, adalah dorongan nyata bahwa manusia harus kembali memikirkan ulang mengenai relasi dirinya dengan Tuhan dan alam semesta.

Teologi lingkungan hidup bisa kita masuki, salah satunya dari menelaah kembali, model berpikir semacam apa yang kemudian mendorong manusia untuk merusak dan melakukan eksploitasi berlebihan terhadap alam semesta.

Memasuki abad modern, sains Barat modern mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Sains pada zaman ini seolah menegaskan bahwa ilmu tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, melainkan berasal dari diri manusia. Hal ini berawal setelah renaisans yang ditandai dengan kebangkitan industrialisasi di Barat, manusia menemukan kesadaran baru, kesadaran sebagai makhluk yang sangat penting di muka bumi ini. Kesadaran ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang unik, dan berada di posisi tertinggi alam semesta.  Bahkan merasa bahwa manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lain di alam ini bahkan terpisah dari alam. Bertumpu pada kesadaran bahwa manusia dengan akalnya dapat menemukan kebenaran yang didasarkan pada rasio dan materi.

Antroposentrisme adalah paradigma yang memandang bahwa manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Paradigma ini dikemukakan oleh A. Sonny Keraf sebagai paradigma sains Barat yang secara langsung berhubungan dengan aktivitas manusia dengan lingkungan hidup. Antroposentrisme berpandangan bahwa manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem, termasuk dalam kebijakan yang berkaitan dengan alam, baik secara langsung maupun tidak langsung, nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya. Paradigma antroposentrisme inilah yang kemudian menjadikan manusia bersikap eksploitatif terhadap alam dan lingkungan hidup yang berujung pada krisis lingkungan hidup. 

Dari berbagai kesalahan cara pandang antroposentrisme di atas diperlukan sebuah peninjauan kembali paradigma filosofis tentang hakikat alam semesta. Filsafat lingkungan hidup sesungguhnya adalah filsafat pertama yang bahkan menjadi titik awal lahirnya filsafat dan cikal bakal semua cabang ilmu pengetahuan sekarang ini. Sikap dan perilaku manusia terhadap alam semesta dan kehidupan di dalamnya atau yang kita sebut sebagai lingkungan hidup sesungguhnya dipengaruhi oleh paradigma berpikir tentang hakikat alam semesta dan kehidupan di dalamnya.

Ilmu pengetahuan Barat telah memunculkan pola pikir yang pada akhirnya telah membentuk pola tindakannya. Karakteristik sains Barat modern telah membentuk pola dominasi tersendiri, yaitu materialisme, hedonisme, dan juga eksploitatif terhadap lingkungan. Secara garis besar, aktivitas sains Barat modern berimplikasi buruk pada lingkungan hidup yakni: Pertama, mengeksploitasi sumber daya alam.  Pengambilan sumber alam secara besar-besaran menggunakan perangkat teknologi modern, menjadi ancaman tidak tersedianya sumber alam lagi bagi generasi mendatang. Kedua, penggundulan hutan. penebangan hutan secara besar-besaran menyebabkan terjadinya penggundulan hutan yang juga mendorong semakin meningkatnya suhu udara dimuka bumi ini. Ketiga, pencemaran. Sistem pengelolaan limbah industri yang tidak ditata secara baik, menyebabkan lingkungan tidak hanya kotor, tetapi juga tercemar. Serta sejumlah kasus lainnya yang tak bisa disebutkan satu per satu. 

Dampak Sains Barat Modern Terhadap Lingkungan Hidup dalam Tinjauan Teologi

Teologi lingkungan hidup dalam pemahaman ini terdapat hubungan yang bersifat sistemik tentang hubungan Tuhan dengan lingkungan. Hubungan Tuhan dengan lingkungan mengacu pada hubungan struktural. Dinyatakan berhubungan secara struktural yaitu Tuhan sebagai pencipta lingkungan. Berbeda dengan dengan konsep lingkungan sekuler, sistem teologi Islam tentang lingkungan bertitik tolak dari fenomena proses terjadinya lingkungan, bukan berangkat dari fenomena lingkungan jadi. Hal ini didasarkan pada fakta teologis bahwa Islam cukup tegas mengonsepsikan Tuhan sebagai pencipta lingkungan sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an. Inti teologi lingkungan hidup adalah keyakinan yang utuh bahwa Tuhan adalah pencipta seluruh alam raya ini.

Krisis lingkungan hidup yang terjadi saat ini merupakan dampak yang nyata dari worldview Barat dan peradaban modern yang parsial dan reduksionis terhadap alam, seperti budaya Materialis, hedonis, positivis yang melahirkan paradigma antroposentrisme. Hal ini tentu saja tak terlepas dari krisis spiritualitas yang menggerogoti manusia modern yang telah mengagung-agungkan dirinya dan mengingkari realitas Tuhan. Krisis ini adalah bukti nyata dari refleksi krisis spiritual paling dalam umat manusia.

Problem filosofis ini membutuhkan keterlibatan semua pihak. Adapun upaya terbaik untuk mengatasi krisis lingkungan adalah dimulai dengan bersikap kritis dalam melihat worldview yang ada, memahami kompleksitas persoalan sampai ke akarnya, dan kemudian penguasaan akan isu-isu filosofis mendasar. Dengan melakukan hal-hal tersebut kita turut berpartisipasi dalam upaya terbaik bagi kepentingan umat manusia, terkhusus menyangkut persoalan lingkungan hidup.

Dengan demikian, penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil dari pemikiran dan juga hasil kreasi manusia perlu diverifikasi oleh pemahaman teologis. Alam boleh dimanfaatkan, tetapi tak hanya sebagai obyek bagi manusia. Alam boleh diolah, tetapi dijaga dan dipelihara. Sebab, manusia dan lingkungan, keduanya merupakan karya cipta Allah yang tergabung dalam satu kesatuan ekosistem.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *