in ,

Telekonsultasi medis meningkat pesat saat pandemi COVID-19, tapi muncul tiga masalah baru

Pandemi COVID-19 yang “menyerang” masyarakat Indonesia dalam empat bulan terakhir telah meningkatkan permintaan layanan konsultasi via teknologi komunikasi antara dokter dan pasien.

Risiko saling menularkan virus corona antara dokter dan pasien di tempat layanan kesehatan serta gencarnya imbauan pembatasan sosial dan fisik membuat telekonsultasi menjadi pilihan yang populer baik oleh dokter maupun pasien.

Pandemi ini “memaksa” pemerintah, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat untuk cepat mengadopsi telekonsultasi. Hal ini memberikan peluang untuk berkembangnya praktik telekonsultasi di Indonesia.

Kami melakukan studi pada 22 dokter umum dan spesialis dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 20 dokter telah mempraktikkan telekonsultasi atas permintaan pasien. Dibanding era sebelum pandemi, layanan ini naik drastis. Aplikasi WhatsApp merupakan media telekonsultasi yang paling popular digunakan untuk konsultasi medis.

Layanan ini mungkin akan semakin populer, karena efisien dari segi waktu dan akses. Ditambah, kita belum tahu kapan pandemi akan berakhir.

Meski demikian, pemerintah dan komunitas kesehatan perlu memperhatikan aspek medis dan etika, legal, dan sosio-teknologi dalam penggunaan teknologi komunikasi dalam layanan kesehatan.

Telekonsultasi medis: mudah dan efektif

Indonesia mulai 2019 mengatur praktik pelayanan kesehatan jarak jauh oleh tenaga profesional kesehatan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (telemedicine) dengan mengeluarkan sebuah Peraturan Menteri. Selain telekonsultasi klinis, pelayanan telemedicine meliputi teleradiologi, tele-elektrokardiografi, telepatologi, dan telefarmasi.

Karena dokter dan pasien tidak perlu menempuh perjalanan secara fisik, telemedis efisien waktu, mengurangi kendala akses pasien untuk mendapatkan layanan kesehatan. Selain itu, sarana teknologi yang digunakan dalam telekonsultasi cukup beragam dan tersedia secara gratis. Telekonsultasi juga tidak dibatasi oleh jam kerja dokter.

Contohnya, dalam studi kami, seorang dokter spesialis saraf di salah satu kota di Sulawesi bercerita tentang praktik layanan klinik melalui telepon pintar. Dokter ini memberikan konsultasi melalui fitur percakapan (chat) WhatsApp, dan melalui video jika diperlukan.

Setelah diagnosis ditegakkan, resep dikirim ke salah satu apotek melalui WhatsApp dan pasien dapat langsung mengambil obat di apotek tersebut. Biaya konsultasi ditagih oleh apotek.

Praktik serupa dilakukan oleh seorang spesialis kulit dan kelamin di Kota Manado, Sulawesi Utara. Dia meminta pasien mengirimkan foto area tubuh yang mengalami keluhan lewat WhatsApp. Praktik telekonsultasi, termasuk teknik pengambilan foto, dilakukan sesuai dengan rekomendasi perhimpunan profesi dokter tersebut. Dokter ini belum menarik biaya dari telekonsultasi.

Secara umum, para dokter melayani telekonsultasi sejak pagi hingga malam hari tapi lebih memprioritaskan pasien yang ditangani secara tatap muka langsung. Tidak ada responden yang melakukan telekonsultasi selama 24 jam penuh.

Mekanisme peresepan dan pembayaran jasa dokter juga berbeda-beda. Sebagian dokter mengirimkan resepnya melalui WhatsApp ke apotek tertentu dan pasien mengambil obat di apotek tersebut.

Dokter lain mengirim resep obat melalui WhatsApp ke pasien, dan pasien menunjukkan isi WhatsApp kepada petugas apotek untuk menebus resep. Kedua cara ini um

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

separating-mothers-with-covid-19-from-their-newborns-does-more-harm-than-good

Separating mothers with COVID-19 from their newborns does more harm than good

peneliti-ungkapkan-perlu-standarisasi-cantrang-sebelum-legalisasi

Peneliti ungkapkan perlu standarisasi cantrang sebelum legalisasi