Teaser Novel Dikejar Berondong di Cabaca

by -0 views
teaser-novel-dikejar-berondong-di-cabaca

Teaser Novel Dikejar Berondong di Cabaca – “Hidup tidak pernah adil tapi itulah sesungguhnya makna hidup. Semua ditentukan dengan bagaimana cara kita menyikapinya.”

“SERBUU SMA DARMAWANGSA. MAJUUUUUU!”

Seruan itu sontak membuat Boram refleks menutup kedua telinganya seraya melihat ke arah belakang di mana ada banyak anak-anak berseragam putih abu-abu bergerak maju menuju ke arahnya dengan benda-benda tajam di tangan. Boram bergegas minggir dan berdiri kaku di samping pot bunga tidak bisa ke mana-mana. Sekolah tempatnya mengajar berada tidak jauh di depan dan di sana juga sudah ramai dengan anak-anak yang siap bertarung. Sepertinya terlalu berisiko kalau dia bergerak, jadi dia memilih bersembunyi di balik pot bunga yang cukup besar itu sampai keadaan dirasa aman untuk segera melarikan diri.

“Ya Tuhan, tolong lindungin Boram,” bibirnya komat-kamit takut.

Boram mengkeret saat anak-anak dari sekolahnya sudah melewatinya lalu bentrok dengan sekolah lawan.

“Jangan kasih kendor. Lawan mereka semua!”  Seorang cowok berseragam yang memakai slayer menutupi mulutnya berteriak di posisi paling belakang tepat di depan Boram. Lalu tanpa sengaja tatapan mereka bertemu membuat Boram makin mengkeret. Dilihatnya cowok itu diam memperhatikannya dan akhirnya bergerak mendekat.

“Duh, Mbak Cantik kenapa bisa ada di sini.” Cowok itu langsung menarik lengannya.

“Eh… eh jangan pegang-pegang, ya.”

“Mbak mau ditolong nggak?”

Boram mengamati kedua mata tajam yang dihiasi alis tebal itu dengan saksama, “Kalau ditolong mau, tapi kalau diculik saya nggak mau.”

“Kalau dihalalin mau nggak?”

Eh!

Boram mengerjapkan matanya. Tawa cowok itu menggema.

“Saya janda loh.”

Cowok itu langsung terdiam menatapnya saksama, tidak lama kemudian terkekeh dan mengangguk. Padahal bukan itu reaksi yang diinginkan Boram.

“Mbak lucu ya. Mau ke Sekolah Darmawangsa, kan?”

“Kok tahu?”

Feeling aja.”

Cowok itu tiba-tiba langsung menarik Boram berlindung di balik badannya yang untuk ukuran anak sekolahan cukup kekar ditambah postur tubuhnya tinggi menjulang. Boram lupa kalau tidak jauh di belakangnya sedang terjadi tawuran.

Anak-anak zaman now makannya apa ya, kok kekar begini?

BUK!

“Sial!” umpatnya, menoleh ke belakang. “Woi, brengsek!” teriaknya lantang ke adu bentrok yang terjadi. “Kevin, lo ambil alih sebentar. Gue mau balik ke sekolah dulu.”

“Sip.” Seseorang menyahut dari belakang.

Boram mendelik seraya memeluk tas di dada saat melihat batu besar tergeletak di dekat kakinya, mengabaikan fakta kalau dia tengah dipeluk oleh sebelah lengan cowok SMA tadi sangking kagetnya. Lalu lengan itu mengurai dan ganti menarik tangannya membawanya berlari masuk ke gang tidak jauh dari sana.

“Ayo lari Mbak, yang cepat. Mereka tadi sudah ngelihat gue dan pasti sebentar lagi kita dikejar.”

“Memangnya kamu siapa?” Boram dengan sepatu heels-nya berusaha menyamakan langkah berlari cowok itu.

“Gue artis, Mbak,” kekehnya.

Boram sempat menatap cowok itu aneh sebelum denyutan di kakinya terasa sampai ke kepala.

“Aduhhhh, berhenti sebentar.”

“Kenapa?”

Mereka berhenti berlari. Boram merunduk dan memijit tumitnya. Cowok itu berjongkok di samping kakinya memperhatikan.

“Saya jago lari, tapi kalau pakai heels sakit.”

“Lepas aja kalau gitu. Nanti mereka keburu datang. Atau mau gue gendong?” ucapnya seraya mengangkat pandangan.

Boram menggeleng kencang, berniat melepas heels-nya saat tangan cowok itu menahannya. “Jangan dilepas, deh. Kakinya nanti kotor. Gue nggak mau kaki Mbak nanti kena kutu air. Jalanan lagi becek.”

“Lah terus?”

Cowok itu berdiri, melepas kedua sepatu conversa putih yang kelihatan sekali mahalannya lalu meletakkannya di depan kaki Boram.

“Pakai ini aja.”

“Nggak ah, nanti kakiku bau.”

Cowok itu tertawa, “Nanti kakinya Mbak, gue semprot parfum deh kalau bau.”

“Woi, itu Samudra. Cepat kejar!” Teriakan itu menggema jauh dari belakang.

“Tuh kan, kita ketahuan.”

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Satu Dasawarsa di Cabaca

Boram dideketin berondong anak SMA! Tentu saja ia gak yakin, apalagi statusnya sekarang juga janda. Kisah cinta romantis antara Boram dan Samudra ini bisa kamu baca dalam novel Dikejar Berondong karya Irma Nur Kumala. Hanya di Cabaca GRATIS lho.

Hari gini masih suka cari link download pdf novel bajakan? Buat apa atuh! Ilegal lho. Nah, biar bisa baca novel online gratis dan legal, mampir aja ke Cabaca.id. Pas Jam Baca Nasional, tiap hari dari pukul 21.00 hingga 22.00 WIB, kita bisa baca novel gratis sesuka hati. Tapi kalau mau aman sih mending lakuin misi kerang atau bisa juga kok kerangnya dibeli. Gak percaya? Yuk, install aplikasi Cabaca, di HP kamu!

Leave your vote

526 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *