Teaser Novel AnesthesioLove Karya WidiSyah di Cabaca

by -1 views
teaser-novel-anesthesiolove-karya-widisyah-di-cabaca
Teaser Novel AnesthesioLove Karya WidiSyah di Cabaca

Teaser Novel AnesthesioLove Karya WidiSyah di Cabaca – “Sophie, kami butuh bantuan lo!”

“Kami?” Sophie menoleh ke asal suara dengan alis terangkat. Jemarinya batal melepas kancing kemeja.

“Gerald sama gue ada operasi mendadak.” Napas Lidya yang merupakan dokter spesialis anak itu terengah, semua rona meninggalkan wajahnya, memucat.

Sophie berbalik badan menghadap Lidya, bibirnya mengerucut tampak memikirkan sesuatu.  “Lo tahu kan, tiap Jumat malam gue ada freeletic¹, jadi ….”

Please, Erina itu sudah seperti adik gue.” Lidya meraih tangan Sophie, mata sipit perempuan itu berkaca-kaca, penuh harap. “Lo satu-satunya harapan gue. Enggak ada waktu untuk memanggil dokter anestesi lain.”

Napas Sophie terhela begitu saja, mengetukkan telunjuk pada meja tempatnya menumpukan kedua tangan. Kepalanya menunduk bersama embusan panjang. “Baiklah.”

Thank youuu,” pekik Lidya girang, perempuan mungil itu menuju pintu, berhenti sejenak lalu menoleh, “Gue tunggu di ruang operasi.”

Lantas apa yang Sophie lakukan sekarang? Seharusnya dia mengabaikan saja permintaan Lidya satu jam yang lalu. Seharusnya Sophie turut senang ketika pasien itu kehilangan kesadaran. Bukankah itu yang dia inginkan? Berharap perempuan itu menghilang selamanya. Jika Erina tidak ada, perhatian Dana mungkin tidak teralihkan lagi.

Namun apa yang terjadi? Sophie berusaha mengembalikan kesadaran Erina, mengupayakan dengan sekuat tenaga untuk menolong perempuan itu. Bahkan engahannya mengalahkan bunyi peringatan dari mesin di samping brankar yang monitornya tiba-tiba menunjukkan garis lurus.

“Naikkan daya ke 100, Elsy!” perintah Sophie diikuti geraman tertahan.

Alat medis yang berfungsi untuk menolong saat pasien mengalami henti jantung kembali ditekan ke dada Erina. Usaha kedua pun membuahkan hasil. Dengan cemas Sophie menatap ke layar monitor sampai akhirnya bernapas lega ketika grafik garis denyut jantung normal kembali muncul di sana.

“Pasien telah kembali, Dok,” lapor sang asisten anestesi, lalu mengambil alat pacu jantung dari kedua tangan Sophie. Fyuh, Sophie mengembuskan napas lega, pandangannya terarah pada layar yang kini menampilkan garis bergerigi, untung saja tidak terjadi apa-apa.

Masih terengah, Sophie menoleh pada Gerald, bulir-bulir keringat muncul di dahi dokter kandungan itu. Laki-laki itu sempat mundur beberapa langkah memberi ruang untuk Sophie bertindak. “Cuci darah secepatnya, pasien Erina memerlukan terapi fungsi ginjal …” ucap Sophie setengah berbisik. “… mungkin masih sempat kalau kita membawanya ke Pondok Indah,” lanjutnya lalu beranjak meninggalkan Gerald. Baru beberapa langkah, Sophie kembali berbalik. “Oh, iya, panggil Dana, dia konsultan ginjal pasien, kan?”

“Dibandingkan hemodialisis², Dana merekomendasikan CRRT³, dia sudah menunggu di Pondok Indah,” sahut Gerald, yakin akan terjadi perang dunia ketiga, laki-laki itu menghindari tatapan Sophie.

“Oh, I see,” ucapnya tenang. Sophie menghela napas panjang. “Baiklah.”

“Dana hanya melakukan tugasnya,” sambung Gerald cepat. Ucapan laki-laki itu menghentikan langkah Sophie di ambang pintu. “Kamu jangan berpikir Dana seli—”

“Bukan urusanku,” sahut Sophie memotong ucapan Gerald, sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.

Dua kata bernada ketus ‘bukan urusanku’ yang Sophie ucapkan itu hanya di bibir saja. Ketika ambulans telah meninggalkan parkiran rumah sakit, dia pun bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. T-Shirt merah dibalut blazer cream, celana katun ankle neck menggantung di tungkai jenjang. Dia harus menyusul ke Pondok Indah, secepatnya. Flat shoes akan membantunya tidak kesulitan menginjak kopling saat bertemu macet. Namun sekali lagi, langkahnya tersekat panggilan Lidya.

“Lo mau ke mana? Pulang?”

Sophie mendelik dari balik kacamata retro bulat, “Lo tahu gue mau ke mana, ngapain nanya lagi?”

Freeletic?” tanya Lidya, bibirnya memasang cengiran. Sophie melotot dengan alis yang terangkat sempurna, tangannya menunjuk Fossil Townsman di pergelangan.

“Hei, jangan marah. Gue hanya bercanda.” Pandangan Lidya bergulir menyelidik. “Seharusnya masalah pribadi lo itu jangan disangkutpautkan dengan urusan kerjaan lah,” ucap Lidya, tatapannya terarah pada Sophie, dari ujung rambut ke kaki. Perempuan itu menahan napas sejenak, lalu mengembuskannya. Punggung mungil Lidya menyandar pada dinding selasar, kedua tangannya terlipat di dada. “Gue sama Gerald minta maaf kalau kehadiran Erina semakin menambah runyam masalah rumah tangga ….”

“Ini enggak ada hubungannya dengan Erina, gue duluan, ya.” Sophie menjawab diplomatis, bibirnya seperti dipaksa mengulas senyum terbaik sebelum berbalik badan, tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti. Lidya mencekal lengannya. “Ada apa lagi?”

“Pulanglah, selesaikan masalah lo itu di rumah,” ucap Lidya.

“Lo yakin, dia akan pulang?” Sophie mendengkus sebal saat menyentak lengan. Dana bahkan betah tinggal di rumah sakit demi Erina.

“Tetapi bukan berarti lo harus menyusul ke sana kan?” Lidya menghela napas panjang. “Dana hanya melakukan tanggung jawab sebagai konsulen Erina. Lagian Erina pun sama sekali nggak tertarik sama suami lo itu.”

Ucapan Lidya hanya dijawab udara, perempuan itu menganga, memandangi punggung Sophie yang bergerak menjauh. Pekikan tertahan Lidya memanggil namanya pun diabaikan. Sophie mengacungkan tangan, melambai tanpa menoleh.

Di dalam mobil, Sophie menguncir rambut sebelum menghidupkan mesin. Disusul embusan napas saat mengenyakkan punggung pada sandaran kursi. Kecamuk di kepala ikut menemani sepanjang perjalanan. Pernikahan Sophie memang sedang berada di ujung tanduk. Masalahnya sebenarnya bukan pada Erina, perempuan bermata sayu itu bukan pelakor sama sekali. Kedekatan Dana dengan Erina hanya sebagian kecil dari semua pemantik seteru, hingga hubungannya semakin memanas.

Sophie kembali menghela napas saat bertanya pada diri sendiri, masih adakah yang bisa diharapkan dari pernikahan ini?

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel After Marriage Karya Ami_Shin di Cabaca

Sophie bertemu lagi dengan mantan suaminya, Dana. Ia akan baik-baik saja andaikan Dana tidak berlagak seperti superhero di rumah sakit tempatnya bekerja… Novel medis yang direkomendasikan untukmu, AnesthesioLove. Baca aja di Cabaca, GRATIS lho!

Sudahi kebiasaan cari link download pdf novel. Sekarang ada lho aplikasi baca novel online gratis karya anak Indonesia. Namanya Cabaca.id. Ada yang namanya Jam Baca Nasional kalau kita ingin baca gratis. Cek aja pada pukul 21.00 sampai 22.00 WIB. Masih bisa tetap baca gratis karena kita bisa lakuin misi kerang. Apa itu Kerang? Kayak apa serunya baca novel online? Yuk, buruan pasang aplikasi Cabaca di HP-mu!

Subscribe to Cabaca Blog

Get the latest posts delivered right to your inbox

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *