Teaser Novel Aftertaste di Cabaca

by -0 views
teaser-novel-aftertaste-di-cabaca
Teaser Novel Aftertaste di Cabaca

Teaser Novel Aftertaste di CabacaAftertaste [Noun] Sisa rasa. Rasa yang tertinggal di mulut setelah makan/mengkonsumsi sesuatu.

Aftertaste. Bagi Luna, kata itu cukup tepat menggambarkan apa yang ia rasakan sekarang. Efek yang diperolehnya karena sebuah surat yang tak sengaja dilihatnya. Reaksi otaknya ternyata cukup tak terduga ketika menerima informasi yang ada di dalamnya, yang ternyata mampu membuat saraf-saraf di lidahnya menjadi kelu. Rasanya seperti sehabis mengunyah makanan secara perlahan hanya untuk sekadar menemukan rasa yang sesungguhnya—rasa murni dari makanan tersebut. Dan sayangnya, kali ini yang ia dapatkan adalah rasa pahit.

Sepahit biji mahoni yang diberikan ibunya dahulu, sewaktu anak tetangga yang berumur dua tahun disapih agar terlepas dari ASI. Ibu mengoleskan racikan biji mahoni tersebut ke bibir mungilnya, sembari bercanda dan mengatakan jika sewaktu kecil dirinya juga bernasib sama dengan anak tetangga tersebut. Atau, seperti rasa getah brotowali yang diminum Bi Ijem, jamu yang pahit kesatnya tidak cepat hilang meski ia meminum bergelas-gelas air putih setelahnya.

Ah, apa pentingnya membahas itu sekarang.

Sembari menelan ludah pahit, Luna menatap kembali kertas tersebut. Seandainya saja sinar mata mampu mengeluarkan api, tentunya kertas cantik berwarna perak dengan ornamen keemasan itu sudah hangus menjadi abu sekarang. Ekor matanya masih tak bergerak dari huruf-huruf berbingkai indah bertuliskan nama seorang lelaki yang dikenalnya. Hidup yang menyebalkan. Hah! Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mereka berdua menjalaninya. Namun, setelah putus beberapa bulan lalu, mantan kekasihnya tersebut menyebarkan undangan pernikahan dengan pacarnya yang baru. Tolong garis bawahi ya, beberapa bulan! Yang benar saja!

“Lun, are you okay?” Dengan hati-hati Andria berucap, wajah wanita itu kini mulai memucat. Mungkin begitu terkejutnya karena surat undangan yang seharusnya rahasia itu saat ini ada di genggaman Luna.

“Dia nikah, Dri? Setelah putus sama gue hanya berselang beberapa bulan?” Pelan, suara Luna serasa diredam suara video yang sedang diputar oleh monitor yang tergantung di dinding kantor. Dahi wanita itu berkerut berlipat-lipat. Ia sungguh tak mengerti, antara dirinya yang terlalu bodoh selama ini atau memang Yoga yang terlalu pintar berselingkuh di belakangnya.

“Bagaimana bisa…?!” Ia bergumam sendiri, “…what the fuck!” umpat Luna akhirnya.

Sorry, Lun, karena gue nggak bilang sama lo. Mungkin lo ngertilah, posisi gue sekarang kayak gimana. Dan, yeah, kalian berdua teman gue.”

Luna tak menggubris ucapan Andria sama sekali. Dia meremas surat undangan itu dan melemparnya dengan kasar ke dalam tong sampah kecil. Segera ia beranjak dari kubikel Andria. Lama-lama di sana takutnya membuat pertahanan dirinya melemah. Ia bergeming, meskipun Andria berkali-kali memanggil namanya. Sembari tetap berusaha menegakkan tubuhnya, pikiranya berlarian ke mana-mana. Termasuk kepada nasib beberapa pasang sepatu dan baju yang masih tersimpan rapi di lemari rumahnya—yang tentu saja kini tak bertuan. Kali ini, dia harus memberitahu mereka bahwa tuannya tak akan pernah pulang.

Setiap langkah kakinya yang terasa terseret-seret, semua kenangan bersama lelaki itu membayang dan berputar di dalam benak. Seharusnya bukan urusannya jika mantan kekasihnya itu menikah dengan wanita lain. Tetapi, entah mengapa ada segerombolan rasa yang menyeruak dan seolah menusuk ke dalam palung terdalam di hatinya. Entah karena kesal, kecewa atau marah. Tapi, apa pantas dia marah? Sedangkan yang meminta mengakhiri hubungan mereka adalah dirinya. Ia dengan kesombongannya. Ia yang merasa Yoga akan merajuk dan meminta berbaikan setelah beberapa minggu terpisah, seperti kejadian putus sebelum-sebelumnya

Luna sungguh tak pernah menyangka, bahwa pertengkaran kecil itu memiliki akhir yang berbeda. Mungkin kekasihnya sudah lelah menemani malam-malamnya, setiap mimpi buruk itu datang. Atau barangkali, lelaki itu sudah bosan karena harus terus mengalah selama mereka berpacaran. Ucapan Yoga sewaktu terakhir kali mereka bertengkar menggema di kepalanya. Lelaki itu mengatakan bahwa suatu hari keegoisan dapat membuat Luna hancur. Dan itu yang kini ia rasakan, mungkin rasa hancur yang dikatakan Yoga atau bisa juga hanya karena harga dirinya yang terluka.

Setetes air mata menyelinap turun di pipinya, membuat langkah kakinya yang memang terasa seperti dibebani berton-ton pasir akhirnya terhenti. Luna menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Menghela napas panjang dan menghapus air matanya dengan punggung tangan. Tidak, dia tidak boleh menangis. Seorang Luna tidak pernah menangis karena lelaki. Dia melangkah lagi, lebih cepat dari sebelumnya. Saat ini, dia butuh sesuatu yang lebih pahit dari sekedar biji mahoni atau brotowali. Karena seperti orang Korea Selatan katakan saat meminum soju(minuman beralkohol) di dalam drama yang dia tonton, sesuatu yang pahit akan terasa manis saat hidup terasa begitu menyesakkan. Ah, ya…sepertinya dia butuh soju. Sebotol atau dua botol rasanya akan cukup.

Sambil menerobos langit malam yang menggelap, di kepalanya terngiang sebuah lagu yang dinyanyikan Yoga beberapa waktu lalu.

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Git and Ran’s Marriage di Cabaca

Ditinggal nikah, lalu resign dan buka usaha? Siapa yang juga segila Luna? Novel yang membuatmu bangkit dari keterpurukan. Baca novel romantis yuk Aftertaste di Cabaca. GRATIS 100% kok baca di Jam Baca Nasional!

Masih cari link pdf novel bajakan? Buat apaan, udah banyak kok platform baca novel online. Contohnya ada aplikasi baca novel Indonesia, Cabaca.id. Kita bisa manfaatin Jam Baca Nasional untuk baca gratis tiap hari pada pukul 21.00-22.00 WIB. Kalau masih kurang puas, ada banyak misi kerang juga kok. Rasakan keseruannya yuk, download aplikasi Cabaca di Google Play ya!

Subscribe to Cabaca Blog

Get the latest posts delivered right to your inbox

Leave your vote

653 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *