Taliban, soal Ideologi atau zat bumi?

by -16 views

Oleh : Leonita Lestari

KABARWARGA.COM – Siapa pun yang berpikir logis pasti akan bertanya-tanya kenapa pasukan pemerintah Afghanistan demikian mudah tumbang padahal secara postur (yang diberitakan) pasukan pemerintah itu jauh memiliki nilai lebih dalam segala hal dibanding Taliban bukan?

Tak perlu kita berdebat dari sisi jumlah pasukan, peralatan militer, profesionalitas hingga kesatuan pasukan itu sebagai alat tempur modern, itu benar-benar “njomplang” ketika disandingkan dengan Taliban.

Bila militansi pasukan Taliban adalah unsur yang dianggap memiliki nilai lebih dan maka Taliban menang, itu terasa seperti jawaban spekulatif. Apalagi ketika unsur Tuhan turut campur, itu 😲 banget…

Ingat, AS telah membangun militer pemerintahan Afghanistan dengan dana hingga 1.200 triliun lebih. Itu hampir senilai dengan cita-cita Menhan Prabowo yang ingin memiliki TNI modern berdaya GENTAR dengan Rancangan Perpresnya yang menuai kutukan dari Satpam hingga mafia alutsista kita.

“Terus maksudnya apa?”

Menengok Arab Spring pada 1 dekade yang lalu hanya dari tumbangnya Mesir, Libya, Tunisia hingga keributan memilukan di Suriah, itu seperti kita mencium bau kentut tanpa tau siapa biangnya. 

Kata kuncinya adalah minyak dan gas berikut jaringan pipa yang menyebar mulai dari China, Rusia, Eropa hingga kawasan teluk. Itu bisnis sangat besar sekaligus tentang ketahanan sebuah negara.

Kata kuncinya adalah bagaimana Eropa, Amerika dan China mendapat pasokan gas dengan harga lebih murah. Data berbicara bahwa Rusia adalah negara pemasok gas utama di Benua Biru tersebut. Berdasar data Eurostat, sekitar 37% pasokan gas di Uni Eropa datang dari Rusia.

Pada tahun 2010, di daerah yang disebut “Levant Basin” yaitu sebuah daerah yang berada di antara Mesir, Libanon, Suriah, Palestina dan Israel, ditemukan cadangan gas sebesar 450 miliar meter kubik gas yang sangat cukup untuk mengamankan pasokan gas ke Israel dan tentu saja Eropa. 

Ga butuh waktu lama Suriah ribut. Alasan saling tonjok antara Syiah versus Sunni adalah apa yang para dalang ingin kita mendengarnya.

Benarkah?

Sebelumnya, cerita seperti itu juga pernah terjadi pada bekas negara-negara yang tergabung dalam Uni Soviet pada awal runtuh. 

Perang di Bosnia, Kosovo, Azerbaijan, Uzbekistan, Dagestan hingga Chechnya pada sekitar 1990an kita dengar seolah adalah perang akibat agama.

Faktanya, ditengah saling bunuh sesama rakyat pada negara-negara itu, ada yang justru mendapat berkah. AS dikabarkan berhasil membuat 1000 mil jalur pipa yang menghubungkan Azerbaijan (Laut Kaspia), Georgia, dan Turki.

Pada perang di Suriah di mana isu adalah perseteruan Syiah dan Sunni, ternyata tersembul cerita tentang usaha pihak Barat mencari posisi aman. Membendung pengaruh Iran dan persaingan membuat jalur distribusi gas ke Eropa demi mencari alternatif gas lebih murah dan nyaman ketimbang gas Rusia adalah 2 isu yang kini paling sering disebut manakala perang di Suriah telah makin mendekati titik selesai.

“Terus apa hubungannya dengan Afghanistan saat ini?”

Pada tahun 2010, sebuah laporan oleh para ahli militer dan ahli geologi Amerika Serikat memperkirakan, tanah Afghanistan memiliki tabungan dalam rupa mineral besi, tembaga, lithium, kobalt, emas, dan rare-earth yang sangat besar. Belum lagi tabungan minyak bumi yang baru saja ditemukan.

Memo Pentagon bahkan menyebut Afghanistan adalah Arab Saudi-nya lithium dunia. Memo itu memproyeksikan deposit lithium dari satu provinsi saja di Afghanistan sudah akan bisa menyamai Bolivia sebagai salah satu produsen lithium terbesar di dunia.

Di sisi lain, USGS juga memperkirakan deposit Khanneshin di provinsi Helmand akan mampu menghasilkan 1,1 – 1,4 juta metrik ton REE. Konon, banyak laporan juga memperkirakan sumber daya REE Afghanistan termasuk yang terbesar di dunia.

REE telah menjadi bagian penting dari teknologi modern. Mineral itu digunakan dalam ponsel, televisi, mesin hibrida, komputer, laser, dan baterai. REE adalah juga kunci untuk sistem navigasi tank, sistem panduan peluru kendali, komponen pertahanan rudal, satelit, dan sistem komunikasi militer.

Ingat ketika Indonesia digugat oleh EU karena pemerintah Jokowi melarang nikel dijual dalam kondisi mentah? Itu adalah tentang negara kita yang sudah berani berkata tidak. Negara kita sudah sampai pada titik mampu berdiri tegak tanpa takut tekanan di bawah pemerintahan Jokowi. Itu bukan berita baik bagi banyak negara maju.

Bukankah Afghanistan yang damai akan membuat sulit banyak negara maju yang tergantung pada SDA miliknya?

“Itu sih maksain namanya. Kalau benar Afghanistan kaya banget, kenapa AS malah pergi? Bukankah itu kontradiktif?”

Bukankah kita juga dibuat bingung kenapa AS seolah sengaja membiarkan pasukan pemerintah Afghanistan meninggalkan banyak senjata buatannya pada Taliban saat mundur?

Bukankah ada tanya tak terjawab kenapa Mullah Abdul Ghani yang kini isunya akan memimpin Afghanistan versi Taliban itu justru dibebaskan oleh Trump ketika tertangkap di Pakistan?

Bukankah kemarin dia pulang dari pengasingannya di Doha Qatar terlihat turun dari pesawat militer, yang diyakini sebagai Boeing C-17 Globemaster buatan AS?Itu semua jelas membingungkan bila tidak dimaksud untuk tujuan keberpihakan tersembunyi.

Yang jelas, kini pasukan perlawanan telah kembali menunjukkan eksistensinya. Wakil Presiden Afghanistan Amrullah Saleh dikabarkan menggandeng salah seorang tokoh dari Lembah Panjshir, Ahmad Massoud.

Ahmad Massoud adalah merupakan putra dari Ahmad Shah Massoud, komandan perang legendaris dari mujahidin & pahlawan Tajik dari Lembah Panjshir.Ini hanya baru permulaan. Afghanistan akan kembali masuk pada situasi chaos seperti apa yg selalu terjadi pd negeri itu sepanjang masa.

Seperti hanya sedang bertukar posisi, pihak yang kemarin berdiri pada posisi pemerintah yang sah kini adalah pejuang perlawanan.

Kekacauan dalam perang saudara di Afghanistan pada satu sisi akan membuat rakyat menderita, pada sisi yang lain akan memberi untung banyak pihak yang senang mengail di air yang keruh.

Bila rakyat Afghanistan untuk beberapa saat ke depan akan makin menderita dalam keterjepitan perang antara Taliban dan pasukan pemerintah, adakah pihak yang terlihat beruntung?

Konsorsium Eropa, AS, Rusia , China, Jepang dikabarkan memiliki kontrak blok migas di Asia Tengah. Konsorsium jalur pipa minyak dan gas yang akan melintasi Afghanistan itu konon akan diperpanjang  menuju pelabuhan laut  Pakistan.

Rakyat Afghanistan terlihat seperti akan dijadikan tumbal bagi kepentingan banyak negara maju. Itu seharusnya menyadarkan kita bahwa negeri kaya SDA bukan hanya sebagai berkah, itu sekaligus meminta kita sebagai pemiliknya untuk bersatu dan pintar. Tak ada yang lain.

Kita dapat belajar dari peristiwa Balkan dan Chechnya tahun 1990an, Kawasan Arab pada peristiwa Arab Spring dan kini pada negeri penuh duka Afghanistan. Bukankah perselisihan pada sesama rakyat di negara-negara itu selalu terkait agama?

Bukankah ada aroma yang sama tercium pada saling ribut kita hari ini?Seandainya Pancasila benar telah menjadi rujukan kita bersama, seharusnya itu tidak akan pernah terjadi….

~ Magelang 22 Agustus 2021 ~

Leave your vote

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *