Syu’bah bin al-Hajjaj dan Metode Menyeleksi Hadis Melalui Raut Wajah

by -1 views
syu’bah-bin-al-hajjaj-dan-metode-menyeleksi-hadis-melalui-raut-wajah

Syu’bah bin al-Hajjaj dan Metode Menyeleksi Hadis Melalui Raut Wajah

Harakah.idSyu’bah bin al-Hajjaj dikenal sebagai amirul mukminin fil hadis. Jasa dan kontribusinya di bidang periwayatan hadis tak perlu dipertanyakan lagi. Selain itu, beliau punya metode unik dalam menyeleksi hadis.

Syu’bah bin al-Hajjaj yang dikenal sebagai amirul mukminin fil hadis nyatanya punya metode unik dalam meriwayatkan, menyeleksi dan menyortir sebuah hadis. Apa itu?

Dalam konteks periwayatan hadis, hadis bisa diterima jika rantai periwayatannya tersambung dari satu perawi di satu generasi ke perawi lain di generasi yang lain. Dan dalam kancah penelitian ketersambungan tersebut, ada yang kemudian dikenal dengan istilah “liqa’”, yakni momentum pertemuan antara guru dan murid dalam aktivitas periwayatan hadis.

Imam al-Bukhari memberi standart ketat, bahwa hadis sahih haruslah hadis yang di dalamnya guru dan murid mengalami “tsubutul liqa’” (benar-benar bertemu). Jika ketersambungan periwayatan diukur melalui standart tersebut, maka spesifikasi lokasi, waktu dan hadis yang diriwayatkan haruslah bisa dipastikan. Persyaratan ini tentu sulit dicapai, mengingat keterbatasan data mengenai lokasi, waktu dan lain sebagainya. Karena itu ulama hadis mencukupkan syarat “mumkinul liqa’” (mungkin bertemu). Asal ada data mengenai lokasi yang sama, rentang usia antara murid dan gurunya cukup menyakinkan bahwa keduanya bertemu dan melakukan aktivitas periwayatan dan indikator lainnya, maka sebuah hadis bisa diterima. Ya syukur-syukur kalau ditemukan data mengenai lokasi yang spesifik dan waktu yang juga spesifik.

Saya awalnya membayangkan perdebatan tersebut secara abstrak saja. Dan ketika membaca biografi Syu’bah bin al-Hajjaj, saya baru tahu konkretnya seperti apa, berikut alasan mengapa belajar hadis – dan mungkin juga belajar ilmu yang lain – meniscayakan pertemuan face to face dengan guru.

Dalam al-Jami’, al-Khatib meriwayatkan;

أنا القاضي أبو بكر الحيري نا محمد بن يعقوب الأصم نا العباس بن محمد الدوري نا قراد أبو نوح قال سمعت شعبة يقول إذا حدثك المحدث ولم تر وجهه فلا تروعنه لعله شيطان قد تصور في صورته يقول نا وأنا

“Qirad Abu Nuh mendengar Syu’bah berkata, ‘Jika kamu meriwayatkan hadis dari seseorang yang tidak kamu lihat wajahnya, janganlah meriwayatkan darinya. Mungkin dia adalah setan yang tengah menyamar.’”

Data ini menarik. Betapa tidak? Syu’bah bin al-Hajjaj mensyaratkan pertemuan face to face dengan seorang guru. Kalau tidak, jangan riwayatkan hadisnya! Mengapa? Khawatir yang meriwayatkan setan!

Namun di kitab yang sama, al-Khatib juga menyuguhkan riwayat lain yang mungkin bisa menjadi alasan dan latar belakang mengapa Syu’bah bin al-Hajjaj mensyaratkan pertemuan tersebut;

أنا أبو عبد الله الحسين بن شجاع بن الحسن بن موسى الصوفي أنا عمر بن جعفر بن محمد بن سالم الختلي نا إبراهيم الحربي نا الربيع الأشناني نا شعبة قال سمعته يقول لم أر أحدا أصدق من سليمان التيمي كان إذا حدث بالحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم تغير وجهه

“al-Rabi’ al-Ashnani pernah mendengar Syu’bah berkata, ‘Tak satupun orang yang aku temui yang lebih jujur daripada Sulaiman al-Taymi. Ketika beliau meriwayatkan satu hadis Nabi Muhammad SAW, wajahnya akan berubah’”

Inilah yang saya sebut metode menyeleksi hadis melalui raut wajah. Syu’bah tahu, mereka yang meriwayatkan hadis yang benar-benar diucapkan oleh Nabi Muhammad, akan bersinar wajahnya. Ada kerut dan raut yang tidak biasa ketika seorang perawi membacakan sebuah hadis yang sahih. Ada pancaran, pendaran sinar dan konsekuensi nyata dari sabda Nabi yang dibacakan oleh mereka yang hatinya lembut, putih dan luas. Kalau mata adalah jendela hati, maka wajah adalah panggung yang menyiratkan parody hati seseorang. Apa yang seseorang katakana, benar tidaknya, sedikit banyak akan tergambar dari raut wajahnya.

Dengan modal kekuatan memahami dan mengangkap tanda-tanda tersebut, Syu’bah menemukan satu cara sebagai pendeteksi awal kualitas periwayatan. Dan kemampuan semacam ini, tentu saja tidak didapatkan Syu’bah dengan waktu yang singkat. Ada proses “thuluz zaman” yang menentukan. Berguru kepada banyak orang, bertemu dengan keragaman manusia dengan keragaman masalah dan kondisi hatinya, ada prosesi kesekian yang mendorong lahirnya kemampuan semacam itu.

Leave your vote

694 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *