Syaikhah Binti Za’bal; Wanita Ahli Hadits yang Memiliki Gelar “Ibu Kebaikan” | Bincang Syariah

by -7 views
syaikhah-binti-za’bal;-wanita-ahli-hadits-yang-memiliki-gelar-“ibu-kebaikan”-|-bincang-syariah

BincangSyariah.Com– Berikut ini adalah biografi Syaikhah binti Za’bal salah satu wanita ahli ibadah yang tidak hanya hebat dalm sisi spiritual, tapi juga intelektual. Ia bahkan memiliki gelar seorang wanita muhadditsah (ahli hadits). Penguasaannya dalam cabang ilmu yang satu ini cukup mendalam.

Nama wanita yang satu ini mungkin tidak terlalu masyhur, tidak terlalu populer (popular) sebagaimana wanita-wanita hebat sebelumnya, seperti Rabiatul Adawiyah, Sayyidah Nafisah, dan beberapa wanita terkemuka lainnya, yang turut mewarnai perkembangan sejarah. Namun, perannya tidak kalah jika dibanding dengan mereka.

Ia laksana hujan yang turun saat musim kemarau panjang, yang kedatangannya ditunggu banyak orang, dinanti tumbuh-tumbuhan dan semua makhluk hidup pada umumnya. Kelahiran wanita yang satu ini tidak sebatas menambah jumlah penduduk bumi, lebih dari itu menjadi salah satu sosok yang bisa memberi pengaruh pada yang lain, khususnya perihal ibadah kepada Allah.

Ia tidak hanya berpikir perihal kebaikan dirinya sendiri untuk menjadi wanita salehah, namun juga berpikir bagaimana nasib wanita pada masanya juga bisa menjadi wanita salehah, semangat dalam beribadah, serta taat pada semua perintah.

Syaikhah bint Za’bal, demikian masyarakat menyebutnya. Ia merupakan sosok guru bagi para wanita saat itu, bahkan wanita sesudahnya juga seharusnya melihat jejak dan langkahnya dalam mengabdikan hidup untuk ajaran Islam. Berikut penulis jelaskan perihal nama lengkap, kelahiran dan kiprahnya.

Nama Lengkap Syaikhah binti Za’bal

Syaikhah binti Za’bal memiliki nama lengkap Fatimah bit Ali bin Mudlfar bin Hasan bin Za’bal bin ‘Ujlan al-Baghdadi an-Naisaburi. Kendati namanya Fatimah, wanita yang satu ini lebih masyhur dengan sebutan bint Za’bal, yang dinisbatkan (dihubungkan) kepada salah satu kakeknya yang sangat masyhur keilmuan dan ibadahnya, yaitu Syekh Za’bal.

Syaikhah bint Za’bal atau Fatimah memiliki darah kebangsaan asal Baghdad, sebagaimana yang disematkan pada namanya, al-Baghdadiyah. Ia dilahirkan pada tahun 435 hijriah.

Hanya saja, beberapa tahun setelah kelahirannya, orang tua Syaikhah bint Za’bal pindah ke kota Naisabur. Oleh karenanya, ada kata an-Naisaburiyah di akhir namanya, sebagai bukti bahwa ia pernah tumbuh di kota tersebut.

Fatimah tidak hanya masyhur dengan sebutan Syaikhah bint Za’bal, di kota Naisabur ia juga populer dengan julukan Ummul Khair (ibu kebaikan). Galar ini tentunya diberikan oleh banyak orang karena ia memiliki jasa dan peran yang sangat banyak dalam mendidik orang lain agar menjadi orang-orang yang baik, dan tentunya juga tidak lepas dari dirinya yang sangat salehah.

Rihlah Intelektualitasnya

Terlahir sebagai wanita tidak membuat bint Za’bal patah semangat dan menyerah dalam menuntut ilmu. Bahkan, semangat dan keistiqomahannya mampu mengalahkan laki-laki yang satu zaman dengannya.

Semua itu ia lakukan karena kesadarannya yang tinggi, bahwa wanita tidak hanya memiliki tugas dalam kamar dan makanan saja. Lebih dari itu, ia menyadari bahwa kesalehan anak tergantung keadaan seorang ibu. Jika ibunya baik, maka anaknya memiliki potensi tumbuh sebagai anak yang juga baik, begitu juga sebaliknya.

Kesadaran itulah yang mendorong bint Za’bal untuk terus semangat dalam belajar sejak kecil. Ia tidak ingin memiliki nasib sebagaimana wanita pada umumnya, yang nol persen dalam ilmu pengetahuan dan bahkan tidak paham perihal kewanitaan (haid, nifas, dan istihadhah).

Pada mulanya, ia belajar kepada Syekh Abul Hasan bin Abdul Ghafir al-Farisi perihal ilmu pengetahuan. Di bawah bimbingan ulama tersohor asal Naisabur ini, ia tumbuh sebagai wanita yang sangat cerdas dan mampu memahami beragam cabang-cabang ilmu syariat, khusus dalam ilmu hadits. Bahkan, ia banyak menghafal hadits-hadits Rasulullah lengkap dengan perawi haditsnya.

Prestasinya yang luar biasa itu mengantarkan namanya menjadi sosok wanita ahli hadits atau lebih dikenal sebagai muhadditsah. Dengan penguasaan dan luasnya pemahaman dalam ilmu hadits, banyak riwayat melalui jalur wanita yang satu ini. Di antara hadits Rasulullah yang sangat masyhur melalui jalur binti Za’bal, yaitu:

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًا إِلَّا كَانَ فِيْهِمْ اَلْمُرْجِئَةُ وَالْقَدَرِيَّةُ يُشَوِّشُوْنَ عَلَيْهِ أَمْرَ أُمَّتِهِ، وَإِنَّ اللهَ لَعَنَهُمْ عَلَى لِسَانِ سَبْعِيْنَ نَبِيًّا

Artinya, “Allah tidak akan mengutus seorang nabi kecuali bersama dengan mereka (umatnya) terdapat aliran Murji’ah (aliran yang hanya mengambil teks mudah dan ringan dari Al-Qur’an dan hadits saja, tanpa memperhatikan yang lain).

Dan aliran Qadariyah (aliran dengan pemahaman manusia memiliki otoritas mutlak, dan Allah tidak bertanggung jawab dan tidak peduli dengannya), yang merusak ajaran nabi pada umatnya (dengan paham salahnya).

Dan sungguh, Allah melaknat mereka melalui lisan 70 nabi.” (HR. Abu Hurairah dan ada beberapa muhaddits yang menilai hadits mursal).”

Selain itu, ada juga hadits lain yang sangat masyhur dan jalur riwayatnya melalui Syaikhah bint Za’bal, perihal shalat seseorang yang tidak dalam keadaan suci. Rasulullah bersabda:

لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طَهُوْرٍ، وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُوْلٍ

Artinya, “Allah tidak menerima shalat yang tanpa bersuci (dari hadats kecil dan besar), dan (tidak menerima) sedekah dari orang dengki.” (HR. An-Nasa’i).

Prestasi Keilmuan Binti Za’bal

Setelah beberapa lama mengembara sebagai seorang pelajar, dan berhasil tumbuh sebagai sosok wanita yang sangat luas perihal ilmu pengetahuan, maka sudah saatnya ia mengembangkan ilmu-ilmu yang telah ia dapatkan selama bertahun-tahun.

Syekh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman ad-Dzahabi (wafat 748 H), dalam salah satu kitabnya mengutip pendapat Abu Sa’ad as-Sam’ani perihal komentarnya kepada Syaikhah bint Za’bal. Dalam kitabnya disebutkan;

قَالَ أَبُوْ سَعْدٍ: اِمْرَأَةٌ صَالِحَةٌ عَالِمَةٌ، تُعَلِّمُ الْجَوَارِي اَلْقُرْآنَ، سَمِعَتْ مِنْ عَبْدِ الْغَافِرِ جَمِيْعَ صَحِيْحِ مُسْلِمٍ، وَغَرِيْبَ الْحَدِيْثِ لِلْخَطَابِي، وَغَيْرَ ذَلِكَ

Artinya, “Telah berkata Abu Sa’ad as-Sam’ani: (Syaikhah bint Za’bal) adalah wanita salehah yang memiliki pengetahuan luas. Ia mengajarkan Al-Qur’an pada orang-orang sekitar, belajar kitab Sahih Muslim secara menyeluruh kepada Syekh Abdul Gahfir dan kitab Gharibu al-Hadits karya Imam al-Khatabi, serta beberapa kitab-kitab yang lainnya.” (Imam ad-Dzahabi, Siyaru A’lami an-Nubala, [Muassasah ar-Risalah: 1985], juz VIX, halaman 625).

Pengabdiannya yang banyak pada umat, membuatnya dikagumi dan disenangi masyarakat saat itu. Bahkan, ia memiliki gelar yang sangat banyak. Semua gelar itu tentunya karena keikhlasan dan kehebatannya dalam mendidik dan mengajarkan ajaran Islam. Masih dikuti dari kitab yang sama, Imam ad-Dzahabi mengungkapkan beragam gelar yang disematkan kepadanya, yaitu:

بِنْتُ زَعْبَلْ: اَلشَّيْخَةُ الْعَالِمَةُ، الْمُقْرِئَةُ الصَّالِحَةُ الْمُعْمِرَةُ، مُسْنِدَةُ نَيْسَابُوْر، أُمُّ الْخَيْرِ 

Artinya, “Bint Za’bal adalah guru besar wanita yang luas pengetahuannya, ahli Al-Qur’an, salehah, dipanjangkan umurnya, ahli sanad (hadits) dari Naisabur, ibu kebaikan.” (ad-Dzahabi, Siyaru A’lami an-Nubala, 29/625).

Di saat-saat umat sangat mencintai dan senang akan nasihatnya yang sangat menginspirasi, ternyata di saat yang bersamaan Allah lebih senang untuk memanggilnya berada di sisi-Nya. Tepat pada tahun 532, dan ada juga yang mengatakan 533, Syaikhah bint Za’bal wafat menuju keharibaan sang kekasih, di usianya yang ke-98.

Demikian biografi Ummul Khair Syaikhah binti Za’bal, atau Syaikhah Fatimah. Semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu teladan dan referensi, khususnya bagi para wanita, bahwa ia memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

(Baca juga: Biografi Imam Abdullah Abul Barakat, Ulama Mazhab Hanbali yang Alim Sejak Kanak-kanak)

Leave a Reply

Your email address will not be published.