Soal Praktik Berhias Diri Dalam Islam, Begini Tafsir Ayat Tabarruj Menurut Fazlurrahman

by -2 views
soal-praktik-berhias-diri-dalam-islam,-begini-tafsir-ayat-tabarruj-menurut-fazlurrahman

Harakah.idAyat tabarruj adalah ayat yang menjelaskan perkara dan praktik berhias diri. Apakah setiap tindakan berhias diri dibolehkan dalam Islam? Begini penjelasan Fazlurrahman.

Bagaimana ketentuan dalam ayat tabarruj menurut Fazlurrahman?

Berhias diri, memakai make up, memakai pakaian terkini, untuk tampil cantik dan menarik adalah salah satu upaya yang acap kali dilakukan oleh seorang perempuan. Baik sekedar mengikuti trend fashion atau tuntutan pekerjaan. Di zaman serba digital ini banyak perempuan yang bekerja di media sosial baik menjadi Instagram influencers maupun vloggers. Dan beauty vlogger menjadi salah satu konten yang paling banyak diminati, mereka biasanya mengunggah video yang memuat segala sesuatu yang berkaitan dengan kecantikan, make up, tips dan trik, tutorial, dan lain-lain tersebut di situs media sosial seperti Instagram, Youtube, dan Tik-tok. 

Dari beberapa uraian diatas apakah hal tersebut bisa dikatakan sebagai tabarruj? Maka pada tulisan ini penulis akan mengulas bagaimana Fazlur Rahman dalam penafsirannya mengamati problematika tersebut untuk menangani kasus-kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan yang kerap terjadi pada perempuan?. Bagaimana bijaknya seorang muslim untuk patuh terhadap perintah menjaga pandangan?

Mengenal Tafsir Fazlur Rahman 

Fazlur Rahman adalah salah satu pemikir tafsir kontemporer yang hidup pada abad modern. Beliau adalah salah satu pemikir modern yang memiliki andil cukup besar dalam bidang tafsir kontemporer. Tafsir kontemporer merupakan sebuah gebrakan penafsiran baru dengan berlandaskan pada konteks-konteks sosial yang sedang terjadi tanpa meninggalkan historisitasnya. Penafsiran yang digagas Fazlur Rahman dalam kitabnya condong ke corak adabi wal ijtimaiy. Terdapat satu problematika yang masuk dalam corak ini yakni konteks larangan tabarruj pada zaman sekarang untuk menangani kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Menurut fazlur Rahman ada beberapa persiapan yang dibutukan ketika akan melakukan penafsiran Al-qur’an. Diantaranya yakni: (1) selain pengetahuan tentang bahasa, pengetahuan terkait idiom idiom bahasa arab juga diperlukan. (2) asbabun nuzul atau latar belakangnya turunnya ayat. (3) kajian terhadap problem historis saat ayat tersebut diturunkan. (4) terakhir, penggunaan nalar manusia sesuai dengan problem kekinian yang sedang dihadapi.

Kontekstualisasi penafsiran Fazlur Rahman

Setelah kita berbicara tentang teori Fazlur Rahman pada uraian diatas, mari kita lihat bagaimana teori penafsirannya mampu menjawab problematika yang terjadi saat ini tentang maraknya pelecehan seksual dan pemerkosaan? Apakah larangan dalam ayat tabarruj ini masih relevan jika diterapkan pada zaman sekarang?

Dalam firman-Nya Q.S Al-Ahzab ayat 33 Allah melarang perbuatan tabarruj yang berbunyi:” Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam memahami ayat larangan tabarruj ini kita akan mengkajinya dalam teori double movement. Langkah pertama adalah dengan melihat segi historis ayat larangan tabarruj ini diturunkan, yakni berkenaan dengan kondisi sistem patriarki pada zaman itu. Sehingga perempuan berlomba-lomba untuk tampil cantik, menarik dan bertingkah laku lemah gemulai untuk bisa memikat laki-laki untuk di jadikan istri agar mendapat pengakuan dan mendapat derajat yang tinggi, hal yang sama juga dilakukan oleh para pelacur (baghaya) pada zaman itu. Jadi perilaku tabarruj bisa dikatakan demikian jika perilaku seorang perempuan memiliki tujuan yang sama dengan perempuan jahiliyah pada zaman itu. Dari ayat di atas penulis dapat menemukan sesuatu yang penting dari larangan tabarruj yakni wanita muslim sebaiknya memakai pakaian yang tidak menimbulkan perhatian laki-laki dan selalu berusaha menjaga kehormatannya. 

Langkah selanjutnya yang di lakukan dalam teori double movement adalah kontekstualisasi ide moral larangan tabarruj di era sekarang. Berangkat dari ide moral yang telah kita temukan ditemukan di atas, laki-laki juga bertanggung jawab atas hal ini yakni dengan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Hal tersebut terdapat pada Q.S An-Nur ayat 30 yang berbunyi: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya;yang demikian itu lebih suci bagi mereka.sungguh Allah maha mengetahui apa yang mereka buat”

Kesimpulan  

Dari beberapa uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa larangan tabarruj ini masih relevan jika diterapkan pada zaman sekarang yakni perempuan diperbolehkan mengikuti trend fashion ataupun merawat tubuhnya menggunakan skincare atau make up dengan ketentuan tetap menutupi aurat, sopan, tidak berlebihan, tidak memiliki niat untuk menarik perhatian laki-laki dan selalu berusaha menjaga kehormatannya. Begitu juga laki-laki, mereka juga harus menghormati perempuan dengan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Satu hal lagi yang tak kalah penting yakni pendidikan sex terhadap anak baik laki-laki maupun perempuan sejak dini, sehingga ia lebih memahami tubuhnya baik dari segi biologis atau psikisnya sehingga tindakan tabarruj yang mengarah pada pelecehan seksual atau pemerkosaan yang masih marak terjadi saat ini bisa hindari.

Leave your vote

333 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Bukan Penulis, hanya baris-baris kode yang mengumpulkan berita terbaik yang tersebar di internet. Sejenis Bot yang baik hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *