Sisi Positif dari Sifat Pesimisme

by -5 views
sisi-positif-dari-sifat-pesimisme

Pesimisme sering dideskripsikan sebagai sifat selalu berpikiran negatif dan diasosiasikan dengan seorang pencemas. Orang pesimis yang cenderung melihat ‘gelas setengah kosong’ bukan ‘gelas setengah penuh’ sering dianggap sebagai orang pembawa malapetaka.

Sifat pesimisme juga sering dikaitkan dengan risiko kesehatan buruk. Sebuah studi dari Medical News Today misalnya, mengungkapkan bahwa orang pesimis memiliki risiko tinggi terkena penyalit jantung. Penelitian tersebut tidaklah keliru, karena orang pesimis adalah tipe orang pencemas yang berekspektasi hasil buruk dari semua situasi yang tidak pasti. Namun apakah pesimis benar-benar tidak ada manfaatnya? Apakah menjadi seorang pesimis selalu buruk?

Ilustrasi pesimisme “is the glass half empty or half full?” | Pixabay

Pesimisme defensif: jenis pesimisme yang tepat

Dikutip dari laman Positivepsychology, pesimisme defensif didefinisikan sebagai sebuah mekanisme di mana individu mengantisipasi −memprediksi− kinerja masa depan yang buruk meskipun histori menunjukkan kesuksesan kinerja sebelumnya.

Apa manfaat pesimisme defensif?

Satu hal yang perlu ditekankan sebelum membahas manfaat pesimisme defensif, bahwa pesimisme defensif berbeda dengan ‘pesimisme’ sejati. Tidak seperti pesimisme sejati –yang hanya memikirkan hal-hal buruk terjadi−, pesimisme defensif akan merefleksikan, mengevaluasi, dan merencanakan kinerja mereka ke depan. Maka tak heran beberapa pendapat mengkategorikan pesimis defensif dengan optimis strategis. Poin ini merupakan hal penting yang membedakan pesimis defensif dengan pesimis sejati.

Antisipasi dan prediksi negatif membantu seorang pesimis defensif mengurangi kecemasan, dengan membantu seorang pesimis merencanakan dan mengambil langkah untuk menghindari kemungkinan peristiwa buruk yang akan terjadi. Dengan kata lain, seorang pesimis defensif memanfaatkan pikiran negatif mereka untuk memotivasi diri sendiri.

Seorang pesimisme defensif juga dianggap lebih menguntungkan dibandingkan seorang optimis dalam hal menunggu hasil di luar kuasa mereka. Sebagai contoh, seorang calon mahasiswa yang sedang menunggu hasil wawancara beasiswa kuliah. Ketika hasil wawancara tidak sebaik ekspektasi dan perkiraan mereka, maka mahasiswa yang optimis akan mengalami suasana hati buruk dan kekecewaan yang lebih besar dibandingkan dengan seorang mahasiswa yang pesimis.

Selain itu, praktik pesimis defensif juga bermanfaat bagi mereka orang-orang pencemas atau anxiety person.

Seperi yang telah dijelaskan di atas, bahwa pesimis defensif berbeda dengan pesimis sejati. Pesimis sejati, terbukti menjadi penyebab meningkatnya rasa cemas dan menurunkan pentingnya capaian tujuan. Namun, kecenderungan untuk refleksi dan evaluasi –seperti yang dilakukan pesimis defensif− mengarah pada peningkatan pentingnya sebuah tujuan tercapai, serta peningkatan upaya dan harapan.

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang pencemas yang memanfaatkan pesimis defensif akan lebih sukses dibandingkan dengan para pencemas yang tidak menggunakan pesimis defensif.

Pentingnya pesimis defensif

Pengetahuan tentang pesimis defensif dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pesimisme juga dapat berdampak positif pada manusia. Pesimis defensif terbukti bermanfaat dan penting bagi mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental tertentu.

Namun begitu, pesimis defensif diibaratkan sebagai ‘pisau bermata dua’. Pesimis defensif merupakan strategi yang dapat membantu sebagian orang dan juga dapat merugikan sebagian orang. Jika Anda adalah tipe orang yang pesimis, cobalah untuk sedikit beralih fokus ke pesimis defensif, untuk cenderung merefleksikan dan mengevaluasi diri, ketimbang hanya berpikiran negatif.

Leave your vote

712 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia #RumahBlogInspirasi #KabarWarga #MenabarInformasiAntiBasi Official Kabarwarga

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *