Siapa Leni Robredo, Pesaing Terkuat Marcos Jr. dalam Pilpres Filipina? | DW | 07.05.2022

by -5 views
siapa-leni-robredo,-pesaing-terkuat-marcos-jr-dalam-pilpres-filipina?-|-dw-|-0705.2022

Karir politik Leni Robredo baru seumur jagung ketika pada 2016 silam, dia mengalahkan Ferdinand Marcos Jr. untuk jabatan wakil presiden. Kini Robredo berharap mengulang kesuksesan yang sama dalam Pilpres 9 Mei mendatang.

Sebagai satu-satunya kandidat perempuan dari 10 calon presiden Filipina, Leni Robredo adalah rintangan terakhir dan sekaligus terbesar bagi Ferdinand Marcos Jr. dalam misinya menguasai Istana Malacanang.

Namun berbeda dengan pemilihan wakil presiden 2016 silam, kali ini Robredo harus melangkahi perbedaan suara yang lebih besar untuk bisa menyusul rival politiknya itu. Marcos Jr. diunggulkan kuat di berbagai jajak pendapat untuk memenangkan pemilu kepresidenan pada 9 Mei.

Serangan bertubi-tubi dari Presiden Rodrigo Duterte, yang pernah menyebut Robredo sebagai perempuan “berotak kacau”, dan kampanye sengit media sosial oleh Marcos Jr. Turut menggerogoti lonjakan popularitas sang kandidat progresif.

Janjinya “mengalahkan gaya politik yang kuno dan busuk,” di sistem demokrasi yang dikuasai dinasti politik dan pengusaha, beresonansi dengan kelompok pro-demokrasi di Filipina. “Saya sering dianggap lemah karena saya seorang perempuan, tapi saya tidak pernah takut menghadapi tantangan,” kata Robredo, Februari silam

“Saya menawarkan kepemimpinan yang bisa dipercaya, kompeten, tekun dan bisa diandalkan. Anda tidak akan dibodohi, Anda tidak akan dirampok, Anda tidak akan ditinggalkan,” kata dia. “Di 2022 ini, pejuang terakhir masih akan merupakan seorang perempuan.”

  • Petugas kesehatan dengan alat pelindung diri membawa peti mati korban COVID-19 di Jakarta

    Negara-negara ASEAN Berjuang Hadapi Gelombang Ketiga COVID-19

    Gelombang ketiga melanda

    Infeksi COVID-19 meningkat secara eksponensial di Asia Tenggara dalam beberapa bulan terakhir. Negara-negara seperti Laos, Thailand dan Vietnam telah berhasil mengurangi penyebaran virus pada 2020, tetapi saat ini mereka tengah berjuang mengatasi gelombang baru, seperti yang dihadapi Indonesia.

  • Petugas kesehatan mengevakuasi jenazah korban COVID-19 yang meninggal saat diisolasi di rumahnya di Bandung, Jawa Barat

    Negara-negara ASEAN Berjuang Hadapi Gelombang Ketiga COVID-19

    Kekacauan dan kehancuran di Indonesia

    Hingga Minggu (18/07), Indonesia telah melaporkan 73.582 kematian akibat COVID-19 dan lebih dari 2,8 juta kasus yang dikonfirmasi sejak awal pandemi. Pekan lalu, negara itu melampaui India dan Brasil dalam tingkat infeksi baru. Para ahli meyakini jumlah kasus sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Warga putus asa mencari tabung oksigen dan tempat tidur rumah sakit.

  • Seorang tenaga kesehatan merawat pasien COVID-19 di luar Rumah Sakit Umum Bekasi, Jawa Barat

    Negara-negara ASEAN Berjuang Hadapi Gelombang Ketiga COVID-19

    Virus corona varian Delta

    Sistem perawatan kesehatan dan rumah sakit di Indonesia berjuang untuk mengimbangi masuknya pasien baru COVID-19. Dengan populasi sekitar 270 juta, negara itu sangat terpukul oleh wabah corona setelah perayaan Idul Fitri bulan Mei lalu, yang membuat jutaan orang melakukan perjalanan ke luar daerah. Kasus infeksi melonjak akibat varian Delta yang sangat menular.

  • Pintu masuk ke pantai ditutup mengikuti perintah penguncian di Da Nang, Vietnam

    Negara-negara ASEAN Berjuang Hadapi Gelombang Ketiga COVID-19

    Kondisi yang memburuk

    Pada tahun 2020, para pejabat Vietnam dipuji karena secara efisien sukses menahan penyebaran virus corona. Namun, ketika varian Delta merebak luas, jumlah infeksi di negara itu meningkat tajam. Pemerintah Vietnam saat ini menempatkan seluruh wilayah selatan dalam penguncian selama dua minggu, karena infeksi COVID-19 dikonfirmasi melebihi 3.000 kasus.

  • Polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa di Bangkok

    Negara-negara ASEAN Berjuang Hadapi Gelombang Ketiga COVID-19

    Kemarahan terhadap pihak berwenang

    Pengunjuk rasa Thailand menyerukan Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha untuk mundur karena tidak mampu menangani pandemi COVID-19. Demonstrasi berlangsung ketika kerajaan mencatat rekor tingkat infeksi virus corona. Rumah sakit di seluruh negeri berada di bawah tekanan.

  • Pantai Patong, salah satu pantai paling populer di Phuket

    Negara-negara ASEAN Berjuang Hadapi Gelombang Ketiga COVID-19

    Pariwisata Thailand tidak berdaya

    Sektor pariwisata Thailand juga terdampak parah oleh pandemi corona. Ketika Bangkok dan provinsi sekitarnya berjuang menghadapi lonjakan COVID-19, pemerintah justru mendorong rencana untuk membuka kembali pulau resor populer Phuket sebagai upaya menyelamatkan ekonomi.

  • Seorang biksu menerima suntikan COVID-19 di Bangkok, Thailand

    Negara-negara ASEAN Berjuang Hadapi Gelombang Ketiga COVID-19

    Peluncuran vaksin yang lambat

    Pemerintah Thailand lambat dalam pengadaan vaksin. Negara gajah putih itu mulai memvaksinasi tim medis pada Februari dan memulai kampanye vaksinasi massal pada Juni dengan suntikan AstraZeneca yang diproduksi secara lokal dan mengimpor dosis Sinovac buatan Cina. Upaya vaksinasi Thailand sejauh ini lambat dan tidak menentu.

  • Seorang wanita di Petaling Jaya, Malaysia, mengibarkan bendera putih

    Negara-negara ASEAN Berjuang Hadapi Gelombang Ketiga COVID-19

    Putus asa mengharapkan bantuan

    Masyarakat Malaysia tengah berjuang melawan COVID-19. Beberapa warga telah menemukan cara baru untuk meminta bantuan, yakni dengan mengibarkan bendera putih di luar rumah. Kampanye #benderaputih ramai dibicarakan di media sosial. Malaysia telah memberlakukan lockdown secara nasional sejak 1 Juni lalu untuk mengurangi lonjakan infeksi COVID-19.

  • Lonjakan kasus COVID-19 di Myanmar

    Negara-negara ASEAN Berjuang Hadapi Gelombang Ketiga COVID-19

    COVID-19 dan kudeta

    Kudeta militer menghambat akses masyarakat ke fasilitas perawatan kesehatan di Myanmar. Banyak dokter menolak bekerja di rumah sakit untuk menunjukkan perlawanan mereka terhadap junta. PBB telah memperingatkan Myanmar karena berpotensi menjadi “negara penyebar super”, lantaran meningkatnya kasus infeksi dan vaksinasi yang lambat.

  • Orang-orang sedang menunggu untuk mendapatkan vaksin di Manila, Filipina

    Negara-negara ASEAN Berjuang Hadapi Gelombang Ketiga COVID-19

    Impian mencapai herd immunity

    Seperti negara-negara Asia Tenggara lainnya, Filipina mengalami pasokan vaksin yang terbatas dan peluncuran vaksin yang lambat. Pakar kesehatan mengatakan negara itu mungkin menjadi yang terakhir di kawasan Asia Tenggara mencapai kekebalan kelompok. Melihat kondisi saat ini, pihak berwenang mungkin membutuhkan waktu dua tahun atau lebih untuk memvaksinasi setidaknya 75% dari populasi. (ha/hp)


Tragedi mengarahkan karir politik

Selama masa kampanye, Robredo banyak mengandalkan keuletan pendukungnya untuk berkeliling dari pintu ke pintu menjaring pemilih. Strategi tersebut terbukti berhasil mencuatkan elektabilitasnya dari posisi buncit ke peringkat kedua dengan 23 persen, di bawah Marcos Jr. Yang mengumpulkan 52 persen suara, dalam survey teranyar Pulse Asia.

Gaya kampanye Robredo mengingatkan orang kepada gerakan rakyat menyukseskan pencalonan bekas Presiden Corazon Aquino pada 1986, yang mengarah pada kejatuhan diktatur Ferdinand Marcos.

Serupa Aquino yang kehilangan suaminya setelah dieksekusi mati oleh pemerintah pada 1983, Robredo juga mendasarkan karir politiknya pada tragedi pribadi. Jesse Robredo, bekas anggota kabinet bekas Presiden Beigno Aquino, meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat pada 2012.

Setelah Robredo dipilih sebagai wakil presiden 2016 silam, Marcos Jr. menghabiskan lima tahun di pengadilan untuk membatalkan kemenangan rivalnya itu. 

Dia sendiri banyak mendulang simpati setelah menggunakan anggarannya yang kecil sebagai wapres untuk memberi bantuan sosial bagi warga miskin, membiayai program pemberdayaan perempuan atau membantu korban bencana alam.

  • Unjuk rasa di Filipina

    Perang Narkoba di Filipina, Warga Desak Investigasi Pelanggaran HAM

    Unjuk rasa tuntut investigasi

    Keluarga korban yang anggota keluarganya terbunuh dalam “perang melawan narkoba” Presiden Rodrigo Duterte menunjukkan plakat dan potret kerabat mereka yang terbunuh. Mereka mendesak Komisi Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC) untuk menyelidiki kemungkinan adanya pelanggaran HAM yang terjadi. Aksi unjuk rasa ini berlangsung di pinggiran kota Quezon, timur laut Manila, Filipina.

  • Demonstrasi keluarga korban

    Perang Narkoba di Filipina, Warga Desak Investigasi Pelanggaran HAM

    Resolusi PBB

    Pensiunan Uskup Katolik Roma Nicanor Yniguez (paling kiri) bergabung dengan keluarga korban dalam unjuk rasa ini. 47 negara anggota Komisi HAM PBB (UNHRC) akan memungut suara pada tanggal 12 Juli terkait resolusi pembentukan investigasi independen insiden pembunuhan sejak Duterte menjadi presiden tiga tahun lalu. Resolusi ini ditawarkan oleh Islandia dan beberapa negara anggota lain.

  • Amnesty International kecam praktik eksekusi di Filipina

    Perang Narkoba di Filipina, Warga Desak Investigasi Pelanggaran HAM

    “They Just Kill”

    Dalam laporan Amnesty International yang berjudul “They Just Kill,” organisasi HAM yang berbasis di London itu mendesak UNHRC untuk menyetujui resolusi yang menyerukan penyelidikan di Filipina. Menurut Amnesty, di sana sekarang ada “normalisasi berbahaya” dari praktik eksekusi ilegal dan pelanggaran oleh polisi.

  • HRW klaim 12 ribu orang telah terbunuh

    Perang Narkoba di Filipina, Warga Desak Investigasi Pelanggaran HAM

    Belasan ribu korban

    Ketua Komisi HAM Filipina, Chito Gascon (tengah), memimpin keluarga korban yang terbunuh di “perang melawan narkoba” dalam long march di ibukota Filipina, Manila. Jumlah korban tewas secara tepat tidak bisa diverifikasi. Namun, setidaknya enam ribu orang telah tewas sejak Duterte menjadi Presiden Filipina pada pertengahan 2016. Human Rights Watch (HRW) klaim 12 ribu orang telah terbunuh.

  • HRW yakin situasi di Filipina akan memburuk

    Perang Narkoba di Filipina, Warga Desak Investigasi Pelanggaran HAM

    Perang belum akan selesai

    Peneliti HRW Filipina Carlos Conde mengatakan, HRW yakin situasi ini akan menjadi lebih buruk karena pembunuhan telah menjadi alat politik yang digunakan untuk menjaga popularitas Duterte. “Dia sendiri mengatakan masalah narkoba telah memburuk, semacam memprediksikan pernyataannya bahwa sebenarnya situasi juga akan memburuk,” ujar Conde. (na/vlz, AP)


Bergantung pada mobilisasi pemilih

Hubungannya dengan Presiden Duterte meregang sejak Robredo mengritik perang melawan narkoba yang dilancarkan pemerintah. Permusuhannya dengan Marcos Jr. juga semakin menguat ketika dia menolak usulannya memindahkan jenazah bekas diktatur Marcos ke taman makan pahlawan.

Sejumlah analis menilai Robredo tidak memiliki karakter sengit, seperti yang dituntut pemilih Filipina terhadap kandidat perempuan. Dia juga dikritik karena dinilai telat mendaftarkan pencalonan diri.

Marcos Jr. sebaliknya memperkuat pencalonannya dengan menjalin aliansi politik dengan klan Duterte, yakni dengan meminang putri tertua, Sara Duterte-Carpio, sebagai calon wakil presiden. 

Satu-satunya peluang bagi Robredo sebabnya bergantung pada tingkat partisipasi yang tinggi di kalangan pemilih progresif di Filipina. Dia mengajak pendukungya untuk “menyambut semua orang” dalam menjaring pemilih baru.

“Masa depan negeri ini berada di tangan kita,” kata dia.

rzn/vlz (ap,afp)

Leave a Reply

Your email address will not be published.