in ,

Semakin Lama Salesman Menawarkan Barangnya, Semakin Berat Kita Untuk Menolaknya

MOJOK.COSelalu ada pergolakan batin yang terlibat ketika kau berada dalam pusaran rayuan seorang salesman yang sedang menawarkan barang.

Sore hari yang menyenangkan. Saya sedang sibuk memberi makan lele-lele yang saya pelihara di dalam dua ember besar di halaman rumah saat lelaki muda itu datang.

Ia tidak memperkenalkan dirinya. Yang jelas, dari gelagatnya, saya sudah langsung tahu bahwa di adalah seorang salesman.

Ia datang dengan rambut yang begitu klimis. Sepintas lalu, rambutnya itu benar-benar tak ada beda dengan rambutnya Marshello si vokalis band The Hydrant itu. Kemejanya begitu rapi. Sepatunya mengkilap dan hitamnya paten seperti sepatu ketua OSIS sesaat sebelum upacara bendera. Saya yakin, sepatunya itu sudah punya chemistri yang sangat erat dengan semir Kiwi.

Ia kemudian mulai berbasa-basi.

“Mas ini asli sini, Mas?” tanya dia.

“Nggak, saya di sini cuma ngontrak, Mas. Saya asli Magelang.”

Tepat saat saya menyebut Magelang, tampangnya langsung berubah. Rambutnya yang klimis itu menjadi tampak lebih bersahabat.

“Magelangnya mananya Tegalrejo, Mas?”

“Agak jauh, saya dekat Akmil.”

“Saya dulu pernah mondok di Tegalrejo, Mas.”

“Pondok API-nya Gus Yusuf?”

“Nah, iya. Gus Yusuf itu kiai saya.”

“Oh, saya kenal baik sama beliau, baru dua minggu lalu saya sowan ke sana.”

Dengan menuver yang cukup halus, ia kemudian mulai memancing saya ke inti perkara. Saya tahu ia akan menawarkan sesuatu pada saya. Sedari awal, saya sudah memantapkan diri untuk menerimanya dengan baik, selayaknya seorang tuan rumah yang beriman dan berakhlak.

Namun, sedari awal pula saya sudah memantapkan diri untuk tidak membeli apa yang ia jual jika memang saya tidak benar-benar membutuhkannya.

“Ini tak akan lama, saya akan mengakhirinya di saat yang tepat,” batin saya dalam hati.

Yang ia tawarkan kepada saya ternyata adalah sebuah kalung. Kalung ion. Atau apalah itu namanya. Intinya, ia menjabarkan bahwa kalung tersebut punya manfaat yang baik untuk tubuh saya. Penjelasannya tentang manfaat kesehatan kalung yang ia jual membuat dirinya seketika berubah dari seorang vokalis band rockabily menjadi seorang mantri kesehatan dari sebuah puskesmas di daerah terpencil.

Ia sempat bercerita pada saya bahwa ia sedang dalam masa training. Ia mendapat tugas dari kantor tempatnya bekerja untuk menjual kalung tersebut.

Saat ia menceritakan kisahnya tersebut, mendadak saya melihat diri saya muncul pada diri kawan kita ini. Ingatan saya langsung terlempar ke masa sembilan tahun lalu, saat saya bingung tak punya kerjaan dan kemudian melamar di sebuah tempat usaha di mana saya mendapatkan tugas pertama untuk menjual jas tuxedo.

Bayangkan saja, saya, dengan wajah yang begitu dekil dan sangat tidak eksekutif, harus menjual jas tuxedo, pakaian yang identik sebagai pakaian orang-orang kantoran sukses. Bayangan kekhawatiran saya saat itu tentu saja bukan kalau jas yang saya jual tidak laku, namun khawatir kalau-kalau saya justru dituduh orang yang maling jemuran londri dan kemudian sedang berusaha menjual barang curiannya.

Ah, keparat. Sampai mana tadi?

Oh ya, demi mendengar ceritanya bahwa dia sedang dalam masa training, saya pun mencoba berbasa-basi. Saya menampakkan sedikit rasa ketertarikan saya pada kalung tersebut. Walau sedari awal, saya sudah memantapkan diri untuk tidak akan membelinya. Ini semata saya lakukan demi meningkatkan kepercayaan diri kawan kita ini di rumah berikutnya setelah saya. Semacam semangat bahwa barang yang ia jual punya nilai yang membuat orang tertarik walau mungkin belum tentu mau membelinya.

“Berapa, Mas?”

Ia tak langsung menyebutkan harga aslinya. Ia melipir jauh dengan menyebutkan harga yang teramat tinggi, kemudian menurunkan harganya jika saya punya kartu BPJS, dan kemudian menurunkannya lagi jika saya membeli darinya saat itu juga.

Pada akhirnya, ia menyebutkan harga akhirnya: 299 ribu.

Bagi saya, itu harga yang cukup mahal untuk sebuah kalung yang saya belum terlalu tahu banyak kevalidan manfaatnya.

“Kalung ini bagus kalau dipakai dan menempel di dada. Bisa menetralisir racun, Mas. Bisa melancarkan aliran darah,” terangnya. “Bisa juga buat detoksifikasi air, Mas. Nanti kalau Mas mau minum, kalung ini dicuci dulu, nanti dicelupkan ke air yang mau diminum. Diamkan dua menit saja.”

Bagi saya, tidak ada sesuatu yang benar-benar membuat saya tertarik pada produk yang ia tawarkan setelah ia menjelaskannya dengan panjang lebar.

Tak mau menyerah, kawan kita ini kemudian mengeluarkan ponselnya lalu memutarkan dan menunjukkan pada saya video testimoni dan khasiat kalung tersebut.

Saya tidak bisa fokus pada video yang ia putarkan, saya justru fokus pada ponsel yang ia pakai untuk memutar video tersebut. Sungguh sebuah ponsel android yang saya yakin sudah melalui banyak asam garam onak duri dan benturan. Ada banyak lecet dan goresan. Tempered glass-nya pecah di beberapa sisi.

“Oke, sebelum semakin lama, saya harus segera mengakhirinya,” batin saya setelah ia memutarkan video tersebut.

Namun tampaknya, kawan kita ini benar-benar seorang pekerja keras. Ia terus menembakkan kalimat-kalimat yang membuat saya mau tak mau harus bertahan lebih lama. Kata-katanya berluncuran seperti peluru yang berebutan keluar dari magasin.

Ini tentu saja berbahaya. Saya adalah orang yang tidak tegaan. Semakin lama waktu yang ia habiskan untuk berusaha, maka semakin rapuh pertahanan saya.

Maka, saya terpaksa mengambil langkah taktis untuk menolaknya dengan cara yang mendadak terpikir dengan spontan.

“Mas, kalau mas kasih saya harga 200 ribu, saya ambil. Tapi kalau nggak, ya sudah. Lain kali saja.”

Saya sudah memperhitungkan hal ini. Saya sudah yakin ia tak akan melepas kalungnya di angka 200, sehingga saya pikir, ini penolakan yang cukup halus dan tak menyakitkan hati.

Benar saja. Ia tak mau melepas kalungnya di angka 200.

“Maaf nggih, Mas. Ini sudah dari sananya. Saya bisa dimarahi kalau jual 200. Saya nanti harus nombok,” terangnya dengan wajah penuh kekecewaan. “299 ini aja sudah harga diskon, Mas.”

“Nggih, pun, Mas. Mungkin lain kali.”

Ia tampak layu. Ia kemudian mulai mengemasi barang dagangannya lengkap dengan aneka brosur dan tetek bengek lainnya yang sedari tadi ia gunakan untuk berperang melawan saya.

Saya sudah bersiap untuk menerima wajah ketus dari orang yang sudah berpanjang lebar menjelaskan barang dagangannya namun ternyata yang diterangkan menawar dengan kejam dan pada akhirnya tidak membelinya.

Namun yang terjadi ternyata justru sebaliknya.

“Nggih pun, Mas. Maaf sudah menganggu waktunya nggih,” katanya dengan wajah yang tak kalah ramah dengan wajah yang ia tampakkan tadi di awal. Melihat wajahnya yang tetap pasang wajah ramah itu, ada semacam sesak dalam diri saya.

Sesaat sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan saya dan keluar dari halaman rumah saya, ia sempat berbalik pelan dan kemudian mengatakan sesuatu yang sebentar lagi bakal membalikkan keadaan.

“Mas, kalau suatu saat Mas mampir lagi ke Tegalrejo, tolong sampaikan salam saya buat Gus Yusuf, ya.”

Tepat setelah ia mengatakan kalimat itu, hati saya langsung mencelos. Saya membalas “Ya,” dengan perasaan yang campur aduk.

Saya mungkin bisa menolak tawaran dari seseorang yang menjual barang yang saya tak membutuhkannya. Namun jelas saya tak bisa menolak tawaran dari seseorang yang begitu hormat dan takzim pada guru dan kiainya.

Maka, baru beberapa langkah ia berjalan, saya segera memanggilnya.

“Mas!” kata saya. “Ya sudah, boleh deh, 299 ribu.”

Ia kembali pada saya dengan wajah yang semringah. Saya masuk ke rumah untuk mengambil uang lalu membayarkannya.

“Semoga rejekinya lancar ya, Mas,” kata dia. Sungguh sebuah doa yang saya yakin ia berikan dengan tulus.

“Aamiin.”

Hari itu, saya nerasa tidak membayar untuk sebuah kalung. Saya membayar untuk sebuah rasa hormat seorang murid terhadap gurunya, sekaligus rasa takzim seorang santri kepada kiainya.



What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Pasca-Brexit, Inggris akan potong pajak perusahaan menjadi kurang dari 15%

Puluhan meninggal karena banjir di Pakistan dan India