Sejarah Singkat Kodifikasi Hadis, Dari Penghafalan Hingga Penyusunan Kitab

by -1 views
sejarah-singkat-kodifikasi-hadis,-dari-penghafalan-hingga-penyusunan-kitab

Harakah.idKodifikasi hadis merupakan proses yang menggambarkan upaya penghafalan, pencatatan, pengumpulan dan penyusunan kitab hadis secara sistematis.

Kodifikasi hadis merupakan proses yang menggambarkan upaya penghafalan, pencatatan, pengumpulan dan penyusunan kitab hadis secara sistematis. Ini merupakan proses panjang dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kodifikasi meliputi proses pembentukan hafalan, proses pencatatan, pengumpulan, dan berakhir pada tersusunnya kitab hadis yang memiliki susunan yang sistematis dan detail.

Karena itu, proses kodifikasi bermula sejak era hadis itu disampaikan pada zaman Nabi, penghadiran ingatan para sahabat saat hadis itu diajarkan kepada para tabiin, pencatatan yang bersifat massal pada masa tabiin dan sistematisasi pada masa setelahnya.

Penghafalan Hadis Zaman Nabi

Dalam peristiwa Haji Wada’, haji pertama dan terakhir yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW dan menandai puncak kejayaan perjuangan beliau, hadir sekitara 114 ribu orang sahabat Nabi. Ini adalah jumlah terbesar yang disebutkan dalam buku-buku sejarah. Versi lain mengatakan bahwa populasi sahabat Nabi (Muslim yang hidup di zaman nabi) tidak sampai jumlah belasan ribu orang. Sahabat hanya berjumlah 30 ribuan orang. Hal ini berdasar jumlah pasukan dalam peristiwa Perang Tabuk, perang paling akhir di zaman Nabi. Nyatanya, nama yang berhasil ditemukan biografinya hanya sebanyak 12 ribuan orang. Sebagaimana termuat dalam kitab-kitab biografi para sahabat, seperti Al-Ishabah Fi Ma’rifat Al-Shahabah karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, ahli hadis terkemuka.

Terlepas dari jumlah populasi para sahabat pada zaman Nabi, para sahabat umumnya adalah orang-orang yang buta huruf. Tidak cukup banyak orang yang mengenal huruf, lebih-lebih baca dan tulis. Kebutaaksaraan merupakan fenomena lumrah bagi umat Islam generasi awal ini. Diriwayatkan, bahwa pada saat Islam datang hanya ada sekitar 17 orang yang bisa baca dan tulis. Jumlah ini meningkat setelah Nabi SAW berhijrah ke Madinah. Nabi SAW menggalakkan program belajar baca dan tulis. Beliau memerintahkan para tawanan untuk mengajari baca dan tulis. Ghani Al-Quduri mencatat dalam buku Rasmul Mushaf Lughawiyah Tarikhiyyah, ada 43 orang yang membantu Nabi Muhammad mencatatkan wahyu Al-Quran.

Fenomena maraknya buta huruf, tidak terbiasa dengan tradisi baca dan tulis, bahkan juga dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Al-Quran mengatakan, “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Al-Qur’an) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (Qs. Al-Ankabut: 48). Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis sebelum menerima wahyu Al-Quran.

Dengan kondisi masyarakat yang buta huruf, Nabi SAW mengajarkan Islam dengan cara yang mudah dipahami. Nabi SAW mendorong para sahabat untuk menghafalkan kata-kata beliau, menyampaikan kepada orang lain, dan mengamalkan apa yang mereka peroleh. Dalam riwayat Imam Al-Tirmidzi, disebutkan;

 نضر الله امرأ سمع منا حديثاً فحفظه حتى يبلغه غيره، فرب حامل فقه إلى من هو أفقه منه، ورب حامل فقه ليس بفقيه. 


Allah akan mencerahkan seseorang yang mendengar ucapanku, lalu dia menghafalnya, sampai dia menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang hafal ucapanku, menyampaikannya kepada orang yang lebih memahami ucapanku. Banyak orang yang hafal ucapanku tapi bukan seorang ahli dalam memahami ucapanku. (HR. Al-Tirmidzi).

Para sahabat sangat memperhatikan kata-kata Nabi. Mereka senantiasa hadir dalam majelis-majelis kajian Nabi. Jika harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, mereka akan meminta teman yang hadir dalam pengajian menceritakan apa saja pesan dan ilmu yang diperoleh dari Nabi. Ada sebagian sahabat yang bahkan sampai membuat kesepakatan bahwa mereka akan gantian mengikuti kajian dan menceritakan isi kajian. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Umar bin Khatab berkata,


وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ على النبي صلى الله عليه وسلم، فَيَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا، فإذا نَزَلْتُ جِئْتُهُ بِمَا حَدَثَ من خَبَرِ ذلك الْيَوْمِ مِنَ الْوَحْيِ أو غَيْرِهِ، وإذا نَزَلَ فَعَلَ مِثْلَ ذلك


Kami bergantian mengikuti kajian Nabi SAW. Tetanggaku mengaji sehari dan aku mengaji sehari lainnya. Ketika aku mengikuti kajian, aku akan mendatangi tetanggaku itu dan menceritakan materi pengajian hari itu; baik itu wahyu atau lainnya. Ketika dia yang ikut, ia akan melakukan seperti itu (HR. Al-Bukhari)

Para sahabat perempuan punya majelis khusus belajar bersama Rasulullah SAW. Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan,

جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فقالتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيثِكَ، فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ يَوْمًا نَأْتِيكَ فِيهِ؛ تُعَلِّمُنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللهُ. فقال: (اجْتَمِعْنَ فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذَا، فِي مَكَانِ كَذَا وَكَذَا). فَاجْتَمَعْنَ، فَأَتَاهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَعَلَّمَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ

Seorang perempuan menemui Rasulullah SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah, para pria pergi membawa hadismu. Buatlah untuk kami satu hari yang kami datang kepadamu pada hari itu. Engkau mengajarkan kepada kami apa yang telah diajarkan oleh Allah. Nabi SAW berkata, “Berkumpulah pada hari ini dan ini. Di tempat ini dan ini.” Para perempuan kemudian berkumpul, lalu Rasulullah SAW datang ke sana. Rasulullah SAW mengajarkan kepada para perempuan itu apa yang telah Allah ajarkan. (HR. Al-Bukhari).

Karena kondisi yang belum akrab dengan tradisi tulis menulis itu, Nabi pernah mengeluarkan larangan menulis hadis karena khawatir akan tercampur dengan Al-Quran. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri,

(لا تَكْتبوا عنِّي شيئًا سِوَى القُرآنِ، من كتبَ عنِّي شيئًا سِوى القُرآنِ فليَمحُهُ)،

Jangan tulis dariku sesuatu pun selain Al-Quran. Barang siapa menulis dariku sesuatu selain Al-Quran, hendaknya dia menghapusnya. (HR. Muslim).

Sampai di sini, dapat dipahami bahwa pada masa Nabi SAW, hadis dijaga dalam bentuk hafalan. Ajaran Islam diterima oleh para sahabat dalam bentuk hafalan dalam memori mereka. Nabi SAW sangat menekankan metode hafalan ini. Selain pengamalan dan penyampaian pada orang lain yang tidak hadir dalam forum pengajian. Hal ini memungkinkan ajaran Islam terejawantah dalam bentuk ingatan kolektif, nilai-nilai dan praktik sosial serta budaya yang mengakar di sebuah komunitas. Inilah bahan utama dan pertama proses kodifikasi hadis. Selanjutnya, kita akan mendiskusikan proses lain yang tidak kalah penting dalam proses kodifikasi hadis, yaitu tentang penulisan hadis.

Leave your vote

227 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Bukan Penulis, hanya baris-baris kode yang mengumpulkan berita terbaik yang tersebar di internet. Sejenis Bot yang baik hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *