Sederet Penyakit Menular yang Ada di Indonesia – kbr.id

by -2 views
sederet-penyakit-menular-yang-ada-di-indonesia-–-kbr.id
Sederet Penyakit Menular yang Ada di Indonesia

Ilustrasi: virus korona SARS-Cov-2 (COVID-19). Foto: CDC USA

KBR, Jakarta- Penyakit menular umumnya disebabkan mikroorganisme seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur. Di Indonesia, ada sejumlah penyakit menular yang hingga kini masih terus menghantui masyarakat. Seperti tuberkulosis (TB), hepatitis, Demam Berdarah Dengue (DBD), cacar air, campak, polio, HIV AIDS, dan masih banyak lagi penyakit menular lain.

Setelah COVID-19 menjadi pandemi global pada awal 2020, ada sejumlah penyakit yang kini dikhawatirkan menyebar luas. Di antaranya hepatitis misterius, penyakit cacar monyet hingga munculnya virus Hendra dari Australia.

Sejumlah penyakit menular di Indonesia bisa menyebar secara langsung atau tidak langsung, baik dari hewan ke manusia atau dari manusia ke manusia.

Salah satu penyakit lama yang masih menjadi ancaman adalah tuberkulosis atau TB. Penyakit yang disebabkan bakteri ini tidak hanya menyerang paru-paru, tapi juga bisa bagian tubuh lain seperti tulang, sendi, selaput otak atau meningitis TB, kelenjar getah bening atau TB kelenjar dan selaput jantung.

Koordinator Substansi Arbovirosis, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Asik Surya menegaskan penyakit-penyakit tersebut dapat disembuhkan dan ada obatnya. 

“Penyakit ini merupakan penyakit menular secara langsung disebabkan oleh mikroba bakteri dan bukan guna-guna dan juga tidak menurun. Penyakit ini dapat disembuhkan karena ada obatnya, jadi tidak seperti yang lain-lain banyak sekali seperti HIV tidak ada obatnya dan sebagainya,” ujar Asik dalam webinar bertajuk “Pengenalan dan Pencegahan Penyakit Menular Sejak Dini Sebagai Bagian Penguatan Pendidikan Karakter”, Jumat, (25/3/2022).

Waspada dan Tidak Panik

Penyakit menular lain yang tak kalah ganas, adalah hepatitis. Teranyar, ada kasus hepatitis akut yang masih misterius yang menimbulkan korban jiwa pada anak-anak.

Ahli Gastrohepatologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Hanifah Oswari mengatakan hepatitis akut berat dapat menyebabkan kematian pada anak. Untuk itu, dia mengajak masyarakat waspada dan tidak panik.

“Vaksin yang sudah diberikan untuk hepatitis A maupun B tidak bisa mencegah anak-anak terhindar dari hepatitis akut berat yang saat ini dilaporkan. Memang disebutkan bahwa hepatitis akut ini berhubungan dengan adenovirus tipe 41, walaupun belum disebutkan bahwa ini penyebab pastinya. Jadi penyebab pasti masih belum tahu, tapi dihubung-hubungkan dengan adenovirus tipe 41,” ujar Hanifah Oswari dikutip dari Channel YouTube-nya, Rabu, (4/5/2022).

Ahli Gastrohepatologi dari FKUI, Hanifah Oswari menegaskan, hepatitis akut harus menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat. Kata dia, edukasi dan pencegahan bisa dilakukan dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Upaya Pemerintah

Salah satu upaya dari pemerintah adalah menguatkan daya tahan tubuh masyarakat. Pemerintah baru-baru ini menambah tiga jenis imunisasi wajib untuk kanker dan gangguan paru-paru.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, sebelumnya pemerintah hanya mewajibkan 11 jenis imunisasi dasar guna mengatasi dampak penyakit menular, seperti campak, difteri, hepatitis, polio serta BCG.

Namun sejak 2021, jumlah imunisasi wajib menjadi 14 jenis. Salah satunya imunisasi human papillomavirus (HPV) pencegah kanker serviks.

“Misalnya kita akan naikan vaksin wajibnya dari 11 Antigen menjadi 14 kita tambah HPV, PCV sama rotavirus terutama karena kematian tangkar paling banyak wanita Indonesia itu serviks sama breast cancer, servis ada vaksinnya daripada kita mengurusnya di rumah sakit yang mahal dan menderita buat pasiennya kita urus di preventif aja jauh lebih murah dibanding di operasi di rumah sakit atau dikemo di rumah sakit dan jauh lebih nyaman juga buat ibunya daripada masuk rumah sakit,” ujar Budi Gunadi dalam diskusi, Senin, (18/4/2022).

Meski begitu, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah tetap fokus pada pemerataan imunisasi dasar lain, khususnya untuk anak seperti difteri, campak dan polio.

Hal ini tidak lepas dari serangan pandemi COVID-19 yang menyebabkan turunnya capaian 11 vaksinasi dasar wajib. Jika pada 2020 capaian vaksinasi dasar mencapai 84 persen, setahun kemudian turun menjadi 79 persen. Penurunan ini mengakibatkan 800 ribu anak rentan terjangkit virus seperti rubela dan polio.

Penyakit menular lain yang saat ini tengah mewabah di dunia, turut menjadi ancaman di Indonesia. Seperti virus Hendra maupun cacar monyet.

Guna menghadapi ancaman penyakit menular seperti itu, para menteri kesehatan se-Asia Tenggara sepakat mendirikan Pusat Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dan Penyakit Menular ASEAN.

Baca juga:

Editor: Sindu

Leave a Reply

Your email address will not be published.