Sains, Teknologi dan Hadis; Mengenang Syeikh Dr. Ajjaj al-Khatib (1932-2021)

by -1 views
sains,-teknologi-dan-hadis;-mengenang-syeikh-dr.-ajjaj-al-khatib-(1932-2021)

Sains, Teknologi dan Hadis; Mengenang Syeikh Dr. Ajjaj al-Khatib (1932-2021)

Harakah.id Syeikh Ajjaj al-Khatib mungkin adalah salah satu ulama hadis yang buku-buku, gagasan berikut kontribusinya dalam bidang kajian hadis menyebar ke seluruh dunia. Hampir semua pengkaji hadis tahu siapa beliau.

11 Oktober 2021, laman media sosial dipenuhi berita duka. Syaikh Dr. Muhammad Ajjaj al-Khatib, ulama kelahiran Damaskus Syuria berpulang. Wafatnya pakar ilmu hadis ini menjadi rentetan duka, setelah tahun lalu, Syaikh Nuruddin ‘Itr (1937-2020) kembali keharibaan-Nya. Kedua tokoh ini adalah ulama kontemporer dalam bidang ilmu hadis. Karya-karyanya memiliki pengaruh luas.

Tiga karya Dr. Ajjaj al-Khatib yang menjadi rujukan mahasantri Ma’had Darus-Sunnah Ciputat ialah “al-Sunnah Qabla al-Tadwin” (1962), “Ushul al-Hadits wa Musthalahuhu” (1966), dan “al-Sunnah al-Nabawiyah; Makanatuha wa Hifdhuha wa Tadwinuha” (2009).

Dua karya Dr. ‘Ajaj adalah tulisan serius dari tesis dan disertasi. Tahun 1962, kitab “al-Sunnah Qabla al-Tadwin” adalah tesis di Universitas Damaskus. Sedangkan kitab “Ushul al-Hadits” adalah disertasi yang dituntaskan pada tahun 1966 di Universitas Kairo. Keduanya mendapatkan predikat Mumtaz dan Syarof.

Selain itu, tokoh yang menjadi pengajar di Universitas Imam Muhammad Riyadl (1966-1973) dan Umul Qura Mekah (1979) juga mentahqiq kitab “al-Muhadits al-Fashil Baina al-Rawi wa al-Wa’i” karya Imam al-Romahurmuzi (360 H). Kitab terakhir ini adalah kitab induk dalam kajian ilmu hadis.

Terkait buku yang ketiga di atas, setidaknya ada 2 hal menarik. Pertama, di bagian kedua buku setebal 264 halaman itu, Dr. Ajjaj mengulas bagaimana teknologi (internet) berperan dalam memasyarakatkan hadis. Di bagian ini, beliau menguraikan sisi kekurangan dan kelebihan internet dalam konteks dinamika kajian ilmu hadis. Masyarakat harus diberi literasi untuk dapat membedakan website yang otoritatif dan yang tidak. Harus mampu memilah di antara laman-laman kajian hadis yang ditawarkan. Lebih detail, Dr. ‘Ajaj memberikan 11 rekomendasi terkait penggunaan teknologi dalam kajian hadis.

Kedua, buku terbitan Dar al-Fikr Damaskus tahun 2009 ini juga membahas peta sinergi antara sains dan hadis. Di bagian ini, Dr. ‘Ajaj memaparkan bahwa sangat dimungkinkan kandungan matan hadis dapat diungkap dengan sains. Dengan kata lain, sains dapat membantu untuk memahami hadis secara lebih dalam dan ilmiah. Dua contoh yang disajikan adalah hadis tentang perintah mencelupkan sayap lalat yang hinggap di minuman dan hitungan bulan qomariyah. Dengan bantuan sains modern, kedua hadis ini dapat dipahami secara lebih nyata. Karena itu, hadis dan sains sepatutnya disinergikan, bukan dipertentangkan.

Lantas mampukah generasi muda melanjutkan proyek peradaban ini Semoga.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *