Rute Pendakian Gunung Latimojong Via Dusun Karangan

by -85 views
rute-pendakian-gunung-latimojong-via-dusun-karangan

Setelah lama memendam keinginan untuk berada di puncak tertinggi Sulawesi, akhir Juni 2018 kemarin saya mendaki Gunung Latimojong (3.478 mdpl) untuk menemani dua orang teman dari Jawa.

Puncak dari gunung yang melintang dari selatan ke utara ini bernama Rantemario. Ini adalah salah satu dari tujuh puncak tertinggi di tujuh regional di Indonesia (The Seven Summits of Indonesia).

Untuk mendaki Gunung Latimojong, kami berangkat naik mobil pick-up dari Makassar menuju Kabupaten Enrekang—sisi barat Gunung Latimojong—malam-malam sekitar pukul 19.00 WITA. Setelah berkendara semalam, kami tiba di Enrekang sekitar subuh. Dari sana kami melanjutkan perjalanan selama empat jam ke base camp pendakian di Dusun Karangan, lewat jalan yang rusak di sana-sini, berliku, dan naik-turun. Perjalanan kami sempat terhenti karena ada sebuah truk yang bermasalah dan pengemudinya memerlukan bantuan.

Setiba di base camp pukul 18.30 WITA, kami melakukan registrasi kemudian mulai mendaki Gunung Latimojong. Inilah catatan tentang jalur pendakian menuju Puncak Rantemario.

Suasana Pos 1/Misbahuddin Tri Susanto Menuju Pos 1 (Buntu Kaciling) Pada fase-fase awal mendaki Gunung Latimojong, trek berupa jalan setapak dan cukup jelas arahnya. Meskipun demikian, pendaki harus hati-hati dan waspada, sebab ada beberapa jalur yang berpotensi mengecoh, misalnya di jembatan pertama yang berjarak sekitar 250 meter dari pos di Dusun Karangan.

Menuju Pos 1 kita berjalan menyusuri perkebunan kopi milik warga. Treknya terjal dan becek, medannya berbukit-bukit, hingga tiba di Pos 1 yang berada di hamparan bukit yang indah. Untuk menuju Pos 1 dari base camp perlu waktu sekitar 2 jam.

Menuju Pos 2 (Gua Sarung Pa’pak) Selepas Pos 1, kita akan melewati tanjakan terjal yang akan menghajar sampai mendekati Pos 2. Dari sana, kita akan menjumpai turunan yang di sebelah kiri diapit oleh jurang—jadi harus ekstra waspada. Jalurnya sempit dan banyak akar melintang yang jarang ditemui di gunung-gunung lain. Apabila hujan, kondisinya akan semakin parah karena licin.

Apabila sudah terdengar suara aliran sungai, artinya Pos 2 sudah tak jauh lagi. Malam itu kami memilih untuk mendirikan tenda di Pos 2 dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya pukul 10.00 WITA.

Aliran sungai di Pos 2/Misbahuddin Tri Susanto Menuju Pos 3 (Lantang Nase) Dari Pos 2 menuju Pos 3 perlu waktu satu jam. Jalurnya seratus persen tanjakan terjal. Banyak yang menyebut ini sebagai tanjakan terberat saat mendaki Gunung Latimojong. Untuk memudahkan, terkadang para pendaki mengeluarkan webbing di sini. Namun, walaupun tidak ada webbing, di beberapa titik ada rotan cukup panjang yang akan membantu para pendaki untuk melewati tanjakan.

Apabila tanjakan sudah tidak terlalu terjal, kita bisa berbahagia sebab sebentar lagi akan tiba di Pos 3. Pos ini berupa tanah datar. Sinyal ponsel masih bisa diterima, meskipun hanya dari operator Telkomsel.

Menuju Pos 4 (Buntu Lebu) Etape ini tidak seekstrem sebelumnya. Dari Pos 3 perlu waktu 1,5 jam untuk mencapai Pos 4. Di pos yang berupa tanah rata ini tidak terdapat sumber air.

Menuju Pos 5 (Soloh Tamah)—cocok untuk mendirikan tenda Pos 5 cocok untuk berkemah. Terdapat areal yang cukup luas dan dapat menampung banyak tenda. Selain itu di sini juga ada sumber mata air yang dapat dicapai dengan menuruni lereng terjal sejauh sekitar 200 meter.

Antara Pos 7 dan puncak/Misbahuddin Tri Susanto Menuju Pos 6 (Buntu Latimojong) Dari Pos 5 menuju Pos 6 jalur masih terjal, mirip dari Pos 2 ke Pos 3. Banyak akar pohon yang dapat digunakan sebagai pegangan. Waktu tempuh dari Pos 5 menuju Pos 6 sekitar 1 jam. Sebaiknya, agar tak perlu membawa keril untuk perjalanan berikutnya, berkemahlah di Pos 5.

Menuju Pos 7 (Kolong Buntu) Perjalanan dari Pos 6 ke Pos 7 dapat ditempuh selama 1,5 jam melewati tanjakan yang tak terlalu terjal dan menembus kanopi hutan. Semakin mendekati Pos 7, vegetasi semakin terbuka dan sinar matahari mulai kembali bisa dirasakan. Perlahan-lahan pohon cantigi mulai mendominasi pandangan mata di kanan-kiri jalur.

Pos 7 tidak terlalu luas. Turun sedikit ke arah kiri dari Pos 7, ada sungai yang sangat jernih. Di bawahnya ada air terjun yang dasarnya berupa kolam yang bisa dipakai untuk berenang—tapi airnya sangat dingin!

Mendung di Puncak Rantemario Latimojong/Misbahuddin Tri Susanto Menuju Puncak Rantemario Selepas dari Pos 7 kita akan langsung (kembali) berhadapan dengan tanjakan sangat terjal. Namun, selepas itu kita akan berjalan di areal terbuka diselimuti rerumputan seperti padang sabana. Dari sana, kita akan melewati telaga-telaga kecil—namun pas kami ke sana kemarin telaga tersebut sedang kering. Dari telaga, bisa dibilang jalur sudah landai dan suasana puncak sudah mulai terasa.

Di pinggir telaga, kita akan menemukan pertigaan: jalur menuju Puncak Rantemario dan Puncak Nenemori. Memilih belok kanan, kita akan tiba di Puncak Nenemori. Sementara itu, belok kiri akan membawa kita ke Puncak Rantemario.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *