30.9 C
Jakarta
Tuesday, May 17, 2022

Rusia Janji Redam Serangan, Zelenskyy: Musuh Masih Berada di Wilayah Kami | DW | 30.03.2022

RagamRusia Janji Redam Serangan, Zelenskyy: Musuh Masih Berada di Wilayah Kami | DW | 30.03.2022

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan sinyal positif muncul dari pembicaraan damai di Turki pada Selasa (29/03), tetapi dia skeptis terhadap janji Rusia untuk mengurangi serangan di dekat Kyiv dan Chernihiv.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa pembicaraan damai antara delegasi Ukraina dan Rusia memberikan beberapa sinyal positif. Rusia berjanji mengurangi operasi militerya untuk meningkatkan rasa saling percaya dalam pembicaraan damai. Meski begitu, Zelenskyy mengatakan pihaknya tetap waspada karena pasukan Rusia masih berada di tanah Ukraina.

“Musuh masih berada di wilayah kami,” kata Zelenskyy dalam postingan videonya, Selasa (29/03) malam waktu setempat.

Setelah pembicaraan damai tatap muka antara Kyiv dan Moskow yang berlangsung di Turki pada Selasa (29/03), Rusia mengatakan akan secara signifikan mengurangi operasi militernya di dekat ibu kota Kyiv dan kota Chernihiv di Ukraina utara.

“Untuk meningkatkan rasa saling percaya dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk negosiasi lebih lanjut dan mencapai tujuan akhir berupa kesepakatan dan penandatanganan persetujuan, dibuat keputusan untuk secara radikal, dalam jumlah besar, mengurangi aktivitas militer yang mengarah ke Kyiv dan Chernihiv,” ujar Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexander Fomin di Istanbul.

Zelenskyy mengatakan bahwa “tindakan berani dan efektif” pasukan Ukraina telah memaksa Rusia untuk mengurangi operasinya di sekitar Kyiv dan Chernihiv.

Ia pun mengatakan bahwa pembicaraan damai akan terus berlanjut, seraya menambahkan bahwa Kyiv tidak melihat alasan untuk percaya pada kata-kata dari beberapa perwakilan Rusia. Dia juga mengatakan bahwa negosiator Ukraina tidak akan berkompromi soal “kedaulatan dan integritas teritorial” negara itu.

“Kami dapat mengatakan bahwa sinyal-sinyal itu positif, tetapi sinyal-sinyal itu tidak menenggelamkan ledakan atau peluru Rusia,” tukas Zelenskyy.

  • Seorang tentara Rusia memegang pistol

    Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan

    Berkaitan, tetapi tak sama

    Ketegangan antara Rusia dan Ukraina memiliki sejarah sejak Abad Pertengahan. Kedua negara memiliki akar yang sama, pembentukan negara-negara Slavia Timur. Inilah sebabnya mengapa Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut kedua negara itu sebagai “satu orang”. Namun, sebenarnya jalan kedua negara telah terbagi selama berabad-abad, sehingga memunculkan dua bahasa dan budaya — erat, tapi cukup berbeda.

  • Sebuah keluarga menonton pidato pengunduran diri Presiden Soviet Mikhail Gorbachev ketika Uni Soviet runtuh pada 25 Desember 1991

    Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan

    1990-an, Rusia melepaskan Ukraina

    Ukraina, Rusia, dan Belarus menandatangani perjanjian yang secara efektif membubarkan Uni Soviet pada Desember 1991. Moskow sangat ingin mempertahankan pengaruhnya di kawasan itu dan melihat Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) yang baru dibentuk sebagai alat untuk melakukannya. Sementara Rusia dan Belarus membentuk aliansi yang erat, Ukraina semakin berpaling ke Barat.

  • Penjaga perbatasan Ukraina berdiri di sebuah pos pemeriksaan dari wilayah yang dikendalikan oleh separatis yang didukung Rusia

    Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan

    Sebuah perjanjian besar

    Pada tahun 1997, Rusia dan Ukraina menandatangani Treaty on Friendship, Cooperation and Partnership, yang juga dikenal sebagai “Perjanjian Besar”. Dengan perjanjian ini, Moskow mengakui perbatasan resmi Ukraina, termasuk semenanjung Krimea,kawasan hunian bagi mayoritas etnis-Rusia di Ukraina.

  • Presiden Rusia Vladimir Putin

    Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan

    Retakan muncul pasca-Soviet

    Krisis diplomatik besar pertama antara kedua belah pihak terjadi, saat Vladimir Putin jadi Presiden Rusia masa jabatan pertama. Pada musim gugur 2003, Rusia secara tak terduga mulai membangun bendungan di Selat Kerch dekat Pulau Tuzla Ukraina. Kiev melihat ini sebagai upaya Moskow untuk menetapkan ulang perbatasan nasional. Konflik diselesaikan usai kedua presiden bertemu. 

  • Viktor Yanukovych

    Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan

    Revolusi Oranye

    Ketegangan meningkat selama pemilihan presiden 2004 di Ukraina, dengan Moskow menyuarakan dukungannya di belakang kandidat pro-Rusia, Viktor Yanukovych. Namun, pemilihan itu dinilai curang. Akibatnya massa melakukan Revolusi Oranye atau demonstrasi besar-besaran selama 10 hari dan mendesak diadakannya pemilihan presiden ulang.

  • Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg

    Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan

    Dorongan bergabung dengan NATO

    Pada tahun 2008, Presiden AS saat itu George W. Bush mendorong Ukraina dan Georgia untuk memulai proses bergabung dengan NATO, meskipun ada protes dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Jerman dan Prancis kemudian menggagalkan rencana Bush. Pada pertemuan puncak NATO di Bucharest, Rumania, akses dibahas, tetapi tidak ada tenggat waktu untuk memulai proses keanggotaan.

  • Warga meninggalkan rumah mereka di timur Ukraina

    Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan

    Tekanan ekonomi dari Moskow

    Pendekatan ke NATO tidak mulus, Ukraina melakukan upaya lain untuk meningkatkan hubungannya dengan Barat. Namun, musim panas 2013, beberapa bulan sebelum penandatanganan perjanjian asosiasi tersebut, Moskow memberikan tekanan ekonomi besar-besaran pada Kiev, yang memaksa pemerintah Presiden Yanukovych saat itu membekukan perjanjian. Aksi protes marak dan Yanukovych kabur ke Rusia.

  • Pasukan Rusia ikut serta dalam latihan militer di Krimea

    Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan

    Aneksasi Krimea menandai titik balik

    Saat kekuasaan di Kiev kosong, Kremlin mencaplok Krimea pada Maret 2014, menandai awal dari perang yang tidak dideklarasikan antara kedua belah pihak. Pada saat yang sama, pasukan paramiliter Rusia mulai memobilisasi pemberontakan di Donbas, Ukraina timur, dan melembagakan “Republik Rakyat” di Donetsk dan Luhansk. Setelah pilpres Mei 2014, Ukraina melancarkan serangan militer besar-besaran.

  • Prajurit pro-Rusia di pos pengamatan mengawasi drone pada posisi milisi rakyat Republik Rakyat Donetsk, Donbas, Ukraina

    Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan

    Gesekan di Donbass

    Gesekan di Donbass terus berlanjut. Pada awal 2015, separatis melakukan serangan sekali lagi. Kiev menuding pasukan Rusia terlibat, tetapi Moskow membantahnya. Pasukan Ukraina menderita kekalahan kedua, kali ini di dekat kota Debaltseve. Mediasi Barat menghasilkan Protokol Minsk, sebuah kesepakatan dasar bagi upaya perdamaian, yang tetap belum tercapai hingga sekarang.

  • (Kiri ke kanan) Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Presiden Rusia Vladimir Putin saat konferensi pers setelah KTT Normandia pada Oktober 2019

    Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan

    Upaya terakhir di tahun 2019

    KTT Normandia di Paris pada Desember 2019 adalah pertemuan langsung terakhir kalinya antara Rusia dan Ukraina. Presiden Vladimir Putin tidak tertarik untuk bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy. Rusia menyerukan pengakuan internasional atas Krimea sebagai bagian dari wilayahnya, menuntut diakhirinya tawaran keanggotaan NATO bagi Ukraina dan penghentian pengiriman senjata ke sana. (ha/as)

    Penulis: Roman Goncharenko


AS skeptis Rusia akan mengurangi aktivitas militer

Menyusul pengumuman bahwa Rusia akan mengurangi aktivitas militernya di sekitar Kyiv dan Chernihiv, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan dia tidak yakin bahwa janji Rusia untuk mengurangi operasi militernya tersebut akan membawa perubahan signifikan dalam konflik.

“Kami akan melihat apakah mereka menindaklanjutinya,” kata Biden kepada wartawan setelah mengadakan panggilan telepon dengan para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia. “Sepertinya ada konsensus bahwa mari kita lihat apa yang mereka tawarkan.”

Sementara itu, juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan bahwa pihaknya mencatat sejumlah tentara Rusia telah pergi.

“Apakah ada pergerakan oleh beberapa unit Rusia menjauh dari Kyiv dalam beberapa hari terakhir ini? Ya, kami kira begitu. Jumlahnya kecil,” ujar Kirby.

“Namun, kami menganggap bahwa ini adalah reposisi, bukan penarikan mundur nyata, dan bahwa kita semua harus bersiap untuk waspada serangan besar-besaran terhadap wilayah lain di Ukraina. Itu tidak berarti bahwa ancaman terhadap Kyiv telah berakhir,” sambungnya.

Kirby menambahkan bahwa angkatan bersenjata AS sedang mengerahkan pesawat dan pasukannya ke Eropa Timur, di antaranya adalah sekitar 200 unit marinir yang telah dikerahkan ke Lituania dari Norwegia. Sebanyak 10 jet tempur F/A-18 Hornet dan beberapa pesawat angkut C-130 Hercules, serta sekitar 200 tentara terkait, juga akan dibawa ke Eropa Timur dari AS. Namun, belum diketahui jelas ke negara mana mereka akan ditempatkan.

Rusia enggan menyebut invasi mereka sebagai perang, tetapi menyebutnya sebagai “operasi militer khusus” untuk demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina. Ukraina dan sebagian besar dunia telah mengutuk istilah itu sebagai dalih palsu untuk invasi ke negara demokratis.

rap/ha (AP, AFP, Reuters, dpa)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles