25.6 C
Jakarta
Tuesday, May 17, 2022

Ramadhan Momentan Pertumbuhan Ekonomi Rakyat | GEOTIMES

OpiniRamadhan Momentan Pertumbuhan Ekonomi Rakyat | GEOTIMES

Bulan Ramadhan, selain berdampak pada nilai religius setiap penganut agama Islam, dengan melakukan puasa juga berdampak pada ekonomi masyarakat secara luas. Bagaimana tidak? Biasanya jalanan yang sepi dari pedagang, di bulan Ramadhan sesak berjajar gerobak dan dipan-dipan lapak. Mereka menjual hanya pada bulan ini, guna mencari momentum orang-orang yang lalu-lalang mencari takjil untuk berbuka puasa.

Ada banyak sekali momentum meraup pundi-pundi uang di bulan Ramadhan, mulai berdagang jajanan, entah es, gorengan, martabak, dll, juga membikin buku tentang kisah-kisah inspiratif yang pragmatis, sampai menjual baju dan pakaian-pakain lebaran.

Entah sejak kapan Ramadhan disemarakkan semacam yang kita lihat sekarang; berjajar banyak jajanan di jalanan, bazar, tiada aku tahu warta dan berita yang konkret. Hal itu tentunya berdampak pada pertumbuhan ekonomi setiap orang. Bukan hanya penganut Islam, semua boleh dan sah dalam memanfaatkan momentum ini.

Ramadhan: Sebuah Momentum

Semenjak pandemi Covid-19, pengangguran dan kemiskinan adalah permasalah pelik yang dirasakan oleh banyak orang. Masyarakat bingung mencari pekerjaan seiring banyaknya UMKM yang gulung tikar karena rendahnya konsumen dan kebutuhan pasar. Selama dua tahun ini, celah kran ekonomi setiap orang hampir tertutup oleh keadaan masyarakat secara luas karena terdampak pandemi.

Bulan Ramadhan bisa dijadikan salah satu momentum yang tepat untuk mengumpulkan sedikit uang. Saya mendengar cerita dari tetangga saya, bahwa selama kurang dari satu bulan ia berjualan es buah dan gorengan di jalan besar di desa, keuntungan yang diraupnya mencapai delapan juta. Berceritalah ia dengan penuh keceriaan. Bagi orang desa, uang delapan juta adalah nominal yang sangatlah besar, Kawan.

Dia, tetangga saya itu, tiada pernah sekolah. Dia bilang kepada saya dengan bangganya: “Ya begini ini, Le, kalau orang bisa memanfaatkan momentum. Tidak perlu sekolah untuk bisa jadi kaya.” Selaras dengan David Ricardo –seorang yang disebut-sebut ekonom yang berpengaruh di dunia– ketika bergelut dalam dunia bisnis, ia tidak pernah mengeyam pendidikan ekonomi di bangku kuliah. Tapi dia bisa jadi orang sukses. “A smart person is someone who khows the terrain” (Seseorang yang cerdik adalah seseorang yang mengetahui medan), begitu kata pepatah.

Kenapa saya bilang kalau Ramadhan adalah sebuah momentum? Karena sudah jelas duduk perkara yang dijabarkan di atas. Seperti tetangga saya itu. Ia mengetahui potensi banyaknya konsumen es buah dan gorengan untuk takjil, kemudian berjualan, dan sesuai dengan ekspetasinya, ia meraup banyak keuntungan.

Namun selain dari hanya berekspetasi, dibutuhkan pula “analitycal foresight” (kejelian analisis) pasar. Misalnya pada contoh tetangga saya tadi, ia tahu kalau orang desa saya menggandrungi es buah dan gorengan, maka ia menjual es buah dan gorengan. Dan tidak semua desa suka es buah dan gorengan, kan? Maka perlu mengetahui potensi dulu sebelum menindaklanjuti ide. Ini yang saya maksud dengan “kejelian analisis”.

Adagium menyebut “time is money” (waktu adalah uang) –dan waktu itu universal. Ada waktu yang kontinu dan momentural. Fakta di lapangan, menemukan, membangun, dan memulai usaha dengan keuntungan kontinu adalah hal yang sulit. Maka sebagai penulis yang tidak bijak, saya usul kalau yang baca tulisan ini memahami adanya momentum Ramadhan, baik momentum religius, atau mementum ekonomi.

Mengkaji Ramadhan: Bulan Penuh Berkah dan Konsep Humanis

Sering kita dengar bahwa Ramadhan adalah “bulan penuh berkah”. Kata “berkah” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Artinya, Ramadhan diadakan oleh Tuhan memang untuk kebaikan bagi kehidupan manusia. Buktinya, semua lini terkena dampak keberkahan bulan Ramadhan.

Misalnya, dampak orang yang menaatinya dengan berpuasa, menurut sebuah studi mengungkapkan bahwa puasa dapat meningkatkan sel saraf dan melindungi tubuh dari neurodegeneratif, seperti penyakit parkinson. Dampak keberkahan bulan Ramadhan lainnya, katakan pada mubaligh-mubaligh dan takmir masjid, yang sering diundang sana-sini guna mengisi kultum dan pengajian. Dampak orang yang memanfaatkan momentum cari uang seperti yang dijelaskan di atas, akan dapat uang.

Dari semua itulah yang dinamakan dengan konsep “berkah”. Jadi, berkah adalah “ziyadatul khoir”, bertambahnya kebaikan. Kebaikan untuk umat manusia. Katakan, misalnya, kita masih dalam pembahasan keberkahan bulan Ramadhan dalam hal ekonomi, apakah semua pedagang itu muslim? Apa iya semua yang jualan es tebu, marimas, martabak, ayam goreng, semua adalah penganut agama Islam? Apakah baju-baju lebaran semua buatan dan made in muslim?

Sisi keberkahan Ramadhan berdampak pada semua lini lapisan masyarakat,tidak peduli soal ras dan kepercayaan, semua boleh-boleh saja mengambil momentum bulan penuh berkah ini. Coba kita tarik dan implementasikan sisi keberkahan Ramadhan dengan pelaku puasa. Dalam hal ini, tentunya orang yang puasa seyogyanya juga harus memberkahi semua orang. Jadi kalau puasa, haruslah menghormati orang yang tidak puasa.

Misalnya, engkau jalan-jalan dalam keadaan berpuasa, lalu bertemu orang yang kelaparan di pinggir jalan, berilah ia minum, meskipun engkau tidak puasa. Konsepnya seperti Ramadhan, yang memberi kesempatan bagi semua orang untuk memanfaatkan momentum cari uang. Jadi orang kalau masih mementingkan urusan pribadi, belum berkah ia disebut.

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles