Protes Anti-Putin Bikin Hubungan AS dan Rusia di Ujung Tanduk

by -15 views
protes-anti-putin-bikin-hubungan-as-dan-rusia-di-ujung-tanduk

Kebangkitan oposisi pro-demokrasi terhadap Putin setelah lengsernya Donald Trump membuktikan poin penting tentang hubungan AS-Rusia.

Ketika Donald Trump menjadi presiden, dia berjanji untuk mengubah kebijakan AS Rusia, dan dia mewujudkan itu. Dia menolak untuk menyebut Amerika Serikat lebih unggul secara moral dari Rusia. Dia mengagumi Vladimir Putin. Seperti di bagian lain dunia, Trump menghindari promosi demokrasi di Rusia.

Dengan antusiasmenya terhadap Brexit dan penghinaannya terhadap Uni Eropa, Trump menyiratkan, arah masa depan urusan internasional bukanlah supremasi hukum dan bukan masyarakat terbuka, tetapi beberapa versi nasionalisme otoriter. Kanselir Jerman Angela Merkel adalah paria di matanya dan Putin adalah pelopor yang berani.

Tiga hari setelah Trump meninggalkan jabatannya, Rusia meletus. Setelah selamat dari keracunan, tokoh oposisi terkemuka Alexei Navalny memulihkan diri di Jerman, di mana ia memberikan sentuhan akhir pada video yang mengungkapkan kekayaan Putin dan kroninya yang luar biasa.

Video itu dirilis tak lama setelah Navalny kembali ke Rusia, yang dia tahu akan disusul dengan penangkapannya. Video dan penangkapan tersebut menimbulkan gelombang protes besar-besaran, seolah-olah mengungkap aib Putin dalam dua cara: Putin sang pencuri, bukan Putin sang maestro geopolitik; dan Putin, politisi malas, bukan tsar yang tak terkalahkan, yang cengkeramannya pada pemuda Rusia (atau mungkin di ibu kota) tidak ada apa-apanya dibandingkan Navalny.

Kebangkitan oposisi pro-demokrasi yang kuat terhadap Putin setelah lengsernya Donald Trump membuktikan poin penting tentang hubungan AS-Rusia, catat Michael Kimmage di The National Interest. Amerika Serikat bukanlah titik referensi utama untuk politik Rusia. Para promotor demokrasi di pemerintahan Obama tidak mengerti demokrasi Rusia. Para pendukung otokrasi dari pemerintahan Trump tidak memahami otokrasi Rusia yang berfungsi dengan lancar.

Menurut Kimmage, realitas ini harus mendorong kerendahan hati tertentu dalam pemerintahan Biden atau harus mendorong pengakuan bahwa nasib politik dalam negeri Rusia ada di tangan Rusia. Kebijakan pemerintahan Biden harus difokuskan pada dampak kebijakan luar negeri dari duel Navalny-Putin, di mana konsekuensi yang mungkin timbul adalah hubungan AS-Rusia yang memburuk.

Navalny menghadapi jalan yang sulit di depannya. Dia dihargai di Rusia sebagai orang yang jujur dan sebagai jurnalis investigasi yang brilian. Pengungkapannya, yang disesuaikan dengan baik untuk media sosial, menggambarkan kelakuan buruk Putin dan rekan-rekannya, sesuatu yang akan disadari oleh orang Rusia tanpa Navalny, tetapi sesuatu yang tidak diizinkan Navalny untuk mereka lupakan.

Meski demikian, Navalny tidak memimpin gerakan nyata, dan hanya sejumlah kecil orang Rusia ingin melihatnya berkuasa. Konstituensi yang lebih kecil akan menginginkan penggulingan pemerintahan Putin dengan kekerasan oleh Navalny atau siapa pun. Navalny merupakan ancaman bagi ego Putin.

Singkatnya, kedatangan Navalny di Moskow dengan maskapai murah (dari Berlin) tidak sama dengan kedatangan Vladimir Lenin melalui Jerman dengan kereta tertutup, percikan yang memicu Revolusi Bolshevik pada tahun 1917.

Keseluruhan episode, dimulai dengan keracunan Navalny pada Agustus 2020, merefleksikan kemampuan politik Navalny lebih kecil, dan sejauh mana Putin harus ketakutan oleh protes yang sedang berlangsung di Belarus, yang dimulai pada musim panas 2020.

Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny mengadakan pengarahan tentang pemilihan presiden di kantornya di Moskow pada hari Minggu (18/3). (Foto: Getty Images/AFP/Maxim Zmeyev)

Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny mengadakan pengarahan tentang pemilihan presiden di kantornya di Moskow pada hari Minggu (18/3). (Foto: Getty Images/AFP/Maxim Zmeyev)

Putin mungkin menyimpulkan, Navalny pada dasarnya adalah masalah internal. Jika demikian, Putin tidak akan mengkalibrasi ulang kebijakan luar negerinya karena Navalny. Jika masalah yang timbul dari penangkapan dan video Navalny benar-benar memaksa Putin untuk mengubah arah, itu tidak akan mengarah pada perdamaian yang lebih besar dengan Barat, tulis Kimmage.

Dia akan memperkuat posisinya di Ukraina dan Belarusia, sebagian untuk mencegah orang Rusia melihat negara-negara ini sebagai contoh keberhasilan Barat dan sebagian untuk mencegah persepsi kelemahan Rusia di Washington, di Berlin, dan (untuk alasan yang berbeda) di Beijing. Ukraina tidak memberi Putin banyak opsi menarik. Belarus, sebaliknya, bisa menjadi tempat Rusia dan Barat saling berhadapan satu atau dua tahun mendatang.

Pemerintahan Biden memiliki hak untuk menegaskan nilai-nilai demokrasi secara internasional. Ia dapat menyatakan preferensinya untuk pemilu bebas di Rusia, meminta agar Navalny diberikan pengadilan yang adil, dan berpendapat, warga Rusia harus dapat memprotes tanpa campur tangan polisi.

Namun, Kimmage berpendapat, Biden harus memperhatikan retorikanya sendiri dengan hati-hati, dan tidak memberikan kesan, Amerika Serikat dapat menjamin hak-hak warga Rusia, yang jelas tidak bisa. Seharusnya Biden juga tidak secara eksplisit mendukung Navalny karena tidak ada cara yang berarti untuk melakukannya tanpa mengikuti logika perubahan rezim.

Hal yang terpenting, pemerintahan Biden harus strategis dalam kaitannya dengan Ukraina dan Belarusia, kata Kimmage. Di Ukraina, ia harus mendukung reformasi yang dikerjakan Biden antara 2014 dan 2016, saat ia menjabat sebagai wakil presiden. Akan sangat bodoh jika menganggap Ukraina sebagai pengungkit demokrasi yang dapat digunakan untuk membebaskan Rusia dari pemerintahan otoriter.

Itu akan menjadi insentif bagi Putin untuk semakin mengguncang Ukraina, mungkin dengan memindahkan jalur kontak antara militer Ukraina dan Rusia ke Barat atau dengan menggunakan dunia maya atau alat lain untuk menggulingkan pemerintah Ukraina. Tatanan regional yang sangat lemah telah berlaku sejak pertempuran tahun 2014. Itu sangat tidak sempurna. Itu masih lebih disukai daripada banyak jenis kekacauan yang bisa dibawa Rusia ke Ukraina.

Di Belarus, pemerintahan Biden harus siap untuk tindakan Rusia, catat Kimmage. Kemungkinan pemimpin yang muncul di sana yang akan memiliki legitimasi yang diinginkan Barat dan akan memuaskan Putin semakin kecil. Mungkin Lukashenko akan mengacaukannya. Jika tidak bisa, Putin dapat mengambil inisiatif dan memulai integrasi resmi Belarus ke Rusia. Skenario ini harus secara aktif dan segera dibahas di Washington, di NATO, dan dengan sekutu AS di Eropa.

Presiden Biden telah menolak gagasan pengaturan ulang dengan Rusia: Diplomat Rusia dan Amerika tidak akan berdamai jika krisis terjadi di Belarusia, dan tidak ada pihak yang ingin berperang. Barat dapat memperbaiki posisinya di masa-masa sulit ini dengan merampas satu keuntungan besar Putin di Ukraina pada 2014, yang bukan bersifat militer tetapi psikologis. Ini adalah elemen kejutan.

Penerjemah: Nur Hidayati

Editor: Purnama Ayu Rizky

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin dan eks Menteri Luar Negeri Amerika Serikat berjabat tangan sebelum perundingan di resor Laut Hitam di kota Sochi, Rusia, 14 Mei 2019. (Foto: Pavel Golovkin/Pool via Reuters)

Protes Anti-Putin Bikin Hubungan AS dan Rusia di Ujung Tanduk

, , , ,

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *