in ,

Potret hitam perbudakan rasis di perkebunan Medan era kolonial Belanda

Protes besar atas rasisme yang populer dengan nama #BlackLivesMatter, bermula di Amerika Serikat, telah menjalar ke Eropa dan dunia.

Di Indonesia, banyak aktivis membahas persoalan rasisme terhadap orang-orang Papua.

Tak hanya mempersoalkan rasisme saat ini, masyarakat dunia juga mengecam rasisme dan perbudakan zaman kolonial, dengan cara merobohkan patung kolonialis dan pedagang budak.

Awal Juni lalu, misalnya, patung kolonial pedagang budak di Inggris, Belgia, dan Amerika dirobohkan dan dicoret. Di Belanda juga ada beberapa protes mengenai rasisme dan keberadaan patung Jan Pieterszoon Coen di Kota Hoorn. Dia merupakan Gubernur Jenderal Kongsi Dagang asal Belanda (VOC) pada abad ke-17 di Hindia Belanda (Indonesia).

Perdagangan budak masa kolonial juga terjadi di Indonesia, terutama di Sumatera Utara. Di daerah ini, sekitar 150 tahun lalu, Belanda terlibat perdagangan manusia untuk tenaga kerja perkebunan dengan istilah kuli kontrak.

Tahun lalu, saya membawa mahasiswa Australia ke Medan dalam program New Colombo Plan untuk mengenal perkebunan di Sumatera Utara. Dalam perjalanan tersebut, saya mulai meneliti mengenai tanah di Sumatera Utara dan mempelajari banyak riset yang dilakukan di zaman kolonial untuk mengetahui jenis tanah di daerah Deli.

Daerah Medan terkenal dengan tembakau Deli dan para pekebun kolonial melakukan riset untuk meningkatkan produksi tembakau. Di belakang kejayaan riset Belanda, saya menemukan banyak korban manusia untuk mengembangkan perkebunan di Sumatera Utara. Rasisme dan perbudakan terjadi secara besar-besaran di perkebunan yang dikelola oleh perusahaan kolonial.

Dampak kuli kontrak juga masih bisa dirasakan sampai sekarang dengan keturunan para buruh yang masih tinggal di perkebunan yang tidak pernah terlepas dari stigma kuli kontrak.

Patung peringatan kejayaan budak

Walau beberapa novel dan tulisan akademik menceritakan kuli kontrak di Sumatera Utara, sejarah perbudakan ini jarang dibahas secara umum.

Bahkan sampai akhir abad ke-20, pemerintah Belanda tidak pernah mempersoalkan kekerasan pada zaman kolonial. Padahal, fakta perbudakan dan rasisme itu jelas sekali.

Medan yang terkenal sebagai kota perdagangan pada awal abad ke-20, pernah mendirikan dua monumen untuk memperingati kejayaan pedagang budak. Pada 1915, monumen air mancur di depan Kantor Pos Medan didirikan untuk memperingati Jacob Nienhuys sebagai “perintis” perkebunan Deli.

Kantor Pos Medan. Air mancur Nienhuys didirikan pada 1915 di depan kantor pos untuk mengenang Jacob Nienhuys. Monumen air mancur tersebut dihancurkan pada 1958.
Koleksi Tropenmuseum

Pada 1928, patung Jacob Theodoor Cremer didirikan di depan gedung kantor Asosiasi Perkebunan Deli (sekarang rumah sakit militer Putri Hijau) dengan tulisan “Cremer, 1847-1923. Pendiri perkebunan tembakau Deli, pendiri perusahaan kereta api di Deli, pejuang yang tak kenal lelah untuk kepentingan negara perkebunan ini”.

Patung Cremer Kuli diresmikan pada 1928 di depan kantor Deli Planters Vereeniging, sekarang rumah sakit Militer Putri Hijau di Medan.
Koleksi Kolonial Monumenten

Kedua monumen ini sudah tidak ada lagi, tapi warisan kuli kontrak dari kedua tokoh kolonial ini masih dapat dirasakan sampai saat ini di Sumatera Utara.

Awal kuli kontrak di Deli

Syahdan, Jacob Nienhuys, pedagang tembakau Belanda datang ke Labuhan Deli di Sumatera Utara pada 1863. Berbeda dengan Jawa, pantai timur Sumatera yang dikuasai oleh Sultan Deli masih belum banyak disentuh oleh pemerintah kolonial Belanda.

Labuhan masih kampung kecil dekat Belawan yang hanya didiami 2000 penduduk Melayu dan sekitar 20 orang Cina dan 100 orang India.

Kebijakan cultuurstelsel (tanam paksa) baru dihapuskan, dan pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem ekonomi liberal di Hindia Belanda yang terbuka untuk perusahaan swasta.

Sultan Deli, Sultan Ma’mun Al Rashid Perkasa Alam (1853-1924), berminat mengembangkan tanah di Deli sebagai daerah perkebunan. Dia memberikan konsesi tanah kepada Nienhuys untuk menanam tembakau. Masalah pertama yang dihadapi adalah kurangnya tenaga kerja. Orang Melayu dan Batak tidak mau bekerja sebagai buruh perkebunan.

Nienhuys kemudian mencari tenaga kerja dengan “mengimpor” 120 kuli Cina dari Penang, Malaysia pada 1864. Setelah percobaan beberapa tahun, Nienhuys sukses mengembangkan tembakau Deli sebagai pembungkus cerutu berkualitas tinggi yang diminati perokok Eropa dan Amerika.

Dengan bantuan modal dari investor di Rotterdam, Nienhuys mendirikan Deli Maatschappij dan mengembangkan perkebunan Deli secara besar-besaran.

Dengan pesatnya perkembangan perkebunan, keperluan buruh kebun juga semakin banyak. Setiap tahun, ribuan buruh Cina didatangkan dari Penang dan Singapura. Selain itu buruh dari Jawa, Banjar, dan India juga d

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

ini-alasan-beberapa-orang-kehilangan-kemampuan-mencium-bau-saat-terinfeksi-covid-19

Ini alasan beberapa orang kehilangan kemampuan mencium bau saat terinfeksi COVID-19

mengapa-‘new-normal’-di-indonesia-berpotensi-gagal-dan-upaya-apa-yang-dapat-dilakukan

Mengapa ‘new normal’ di Indonesia berpotensi gagal dan upaya apa yang dapat dilakukan