32.8 C
Jakarta
Thursday, May 19, 2022

Polandia Serahkan “Pusat Spionase” Rusia di Warsawa untuk Ukraina | DW | 12.04.2022

WorldPolandia Serahkan "Pusat Spionase" Rusia di Warsawa untuk Ukraina | DW | 12.04.2022

Polandia telah menyita sebuah kompleks diplomatik Rusia yang ditinggalkan. Pihak berwenang mengatakan situs itu, yang menurut beberapa orang digunakan untuk kegiatan spionase, akan diserahkan kepada komunitas Ukraina.

Wali Kota Warsawa Rafal Trzaskowski pada Senin (11/04) mengatakan, telah menyita sebuah kompleks berpagar pengaman yang pernah digunakan oleh petugas diplomatik Rusia dan sekarang tampaknya kosong.

Trzaskowski lebih jauh mengatakan, properti itu akan digunakan komunitas Ukraina untuk kemungkinan menampung para pengungsi yang datang ke Polandia setelah invasi Rusia.

Apa saja yang dikatakan Wali Kota Warsawa?

Gedung apartemen yang dibangun oleh Rusia pada 1970-an di Warsawa telah memicu sengketa antara Polandia dan Rusia yang berlangsung selama beberapa dekade.

“Ini sangat simbolis bahwa kami sekarang menutup proses (sengketa hukum) panjang ini, di era agresi Rusia,” cuit Trzaskowski.

“Kami telah mengambil kembali apa yang disebut sebagai “sarang mata-mata” dan ingin menyerahkannya kepada tamu Ukraina kami,” kata Wali Kota Trzaskowski kepada wartawan, yang menggunakan nama panggilan Polandia – “Szpiegowo” – untuk situs tersebut.

“Saya senang dengan cara simbolis kami dapat menunjukkan, Warsawa membantu teman-teman Ukraina kami,” tambahnya.

Trzaskowski sendiri memasuki tempat itu bersama dengan juru sita dan duta besar Ukraina untuk Polandia. Seorang diplomat Rusia juga berada di lokasi untuk memprotes tindakan tersebut.

Wali Kota Warsawa juga memposting gambar bangunan kompleks apartemen itu di Twitter.

Kompleks ini dibangun dalam perjanjian pertukaran tanah antara Polandia dan Uni Soviet pada tahun 1974. Meskipun Moskow menerima sembilan properti baru di Warsawa, pihak Soviet tidak pernah memberi balasan pertukaran tanah kepada Polandia, dan gedung-gedung tersebut menjadi kosong pada 1990-an.

Pada tahun 2008, Warsawa mengakhiri perjanjian dan menuntut kompensasi, serta menuduh Moskow telah menduduki lahan tersebut secara ilegal. Rusia pun menolak perintah pengadilan untuk membayar sewa tanah atau menyerahkannya.

Diplomat Rusia memprotes penyitaan

Duta Besar Rusia untuk Polandia, Sergey Andreyev, menuduh pihak berwenang Polandia menyita properti diplomatik Rusia.

“Pagi (11/04) ini, petugas pengadilan datang ke properti diplomatik kami di 100 Sobieskiego Street di Warsawa dan memerintahkan pemindahan pemilikan gedung ke Kas Negara Polandia atas nama Balai Kota Warsawa,” kata Andreyev seperti dikutip oleh kantor berita Rusia, RIA.

“Perwakilan Polandia memotong kunci gerbang dan … pada dasarnya telah menduduki fasilitas itu,” kata Andreyev.

  • Warga sipil yang terperangkap di Mariupol dievakuasi secara bertahap di bawah kendali separatis pro-Rusia pada 20 Maret 2022

    Mariupol: Sebuah Kota yang Hancur, tapi Tetap Bertahan

    Eksodus dari Mariupol

    Selama seminggu terakhir, puluhan ribu orang setiap harinya melarikan diri dari kota Mariupol yang hancur akibat serangan Rusia. Sejak awal perang, kota pelabuhan penting di selatan Ukraina itu telah menghadapi pemboman berat dan serangan rudal yang melukai warga sipil. Menurut data Rusia, 130.000 dari sekitar 440.000 penduduk masih bertahan di kota.

  • Salah satu bangunan yang terbakar di Mariupol

    Mariupol: Sebuah Kota yang Hancur, tapi Tetap Bertahan

    Sebuah kota yang hancur

    Setelah hampir empat minggu diserang, kota Mariupol yang terkepung hancur dan nyaris tidak dapat dihuni. Menurut pemerintah setempat, 80% dari seluruh apartemen di kota telah hancur. Banyak foto yang menunjukkan bangunan tempat tinggal yang hancur atau terbakar, seperti foto dari kantor berita resmi Rusia, Tass ini.

  • Seorang wanita menangis di depan bangunan yang sudah hancur di Mariupol

    Mariupol: Sebuah Kota yang Hancur, tapi Tetap Bertahan

    Rusia melakukan ‘kejahatan perang’

    Serangan Rusia terhadap warga sipil Ukraina telah mendorong beberapa politisi Barat, seperti Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock dan Komisaris Luar Negeri Uni Eropa Josep Borell, untuk berbicara tentang “kejahatan perang”. Borell mengatakan Rusia menghancurkan Ukraina tanpa menghormati aturan perang.

  • Teater yang dibom di Mariupol

    Mariupol: Sebuah Kota yang Hancur, tapi Tetap Bertahan

    Rusia: Hanya target strategis yang terdampak

    Rusia mengklaim mereka hanya menyerang fasilitas strategis dan militer. Mereka menyalahkan unit milisi Ukraina, Batalion Azov, yang mencakup ekstremis nasionalis sayap kanan, atas pemboman teater Mariupol. Ratusan orang selamat dari serangan itu, berlindung di bunker serangan udara di bawah teater, yang terlihat seperti dalam foto reruntuhan ini.

  • Seorang warga sipil menurunkan celananya di pos pemeriksaan separatis pro-Rusia

    Mariupol: Sebuah Kota yang Hancur, tapi Tetap Bertahan

    Separatis Rusia mengontrol rute pelarian

    Separatis pro-Rusia, yang juga menguasai wilayah tetangga Donetsk di Ukraina timur, melakukan pemantauan jalur pelarian penduduk. Mereka hanya mengizinkan warga sipil tak bersenjata meninggalkan kota yang terkepung.

  • Pengungsi di aula olahraga di Donetsk

    Mariupol: Sebuah Kota yang Hancur, tapi Tetap Bertahan

    Tuding dievakuasi ke negara musuh

    Foto yang dirilis oleh kantor berita Rusia, Tass, menunjukkan orang-orang yang dievakuasi dari Mariupol di sebuah kamp darurat di Donetsk. Rusia mengatakan ingin memberikan perlindungan bagi pengungsi Ukraina. Namun, Dewan Kota Mariupol menuduh Rusia mengizinkan separatis membawa paksa ribuan warga Ukraina ke Rusia.

  • Seorang anak yang terluka dirawat di Zaporizhzhia

    Mariupol: Sebuah Kota yang Hancur, tapi Tetap Bertahan

    Warga melarikan diri ke Zaporizhzhia

    Banyak penduduk telah melarikan diri ke kota Zaporizhzhia, di mana beberapa warga yang terluka mendapat perawatan. Pemboman rumah sakit di Mariupol telah menutup akses bantuan medis darurat. Beberapa pekan lalu, terjadi kebakaran singkat di PLTN terbesar di Eropa di Zaporizhzhia. Sebagian besar kawasan di kota dengan populasi 750.000 jiwa itu lolos dari pertempuran.

  • Seorang ibu memeluk putranya yang melarikan diri dari kota Mariupol dan tiba di stasiun kereta api di Lviv, Minggu (20/03)

    Mariupol: Sebuah Kota yang Hancur, tapi Tetap Bertahan

    Berkumpul dengan keluarga

    Remaja ini melarikan diri dari Mariupol ke Lviv di Ukraina barat. Sang ibu menunggunya di stasiun kereta. Namun, tentara Rusia juga telah menyerang Lviv. Bagi banyak pengungsi, Lviv menjadi persinggahan terakhir sebelum melanjutkan perjalanan untuk menyelamatkan diri ke negara-negara tetangga Eropa.

  • Pusat perbelanjaan di Kyiv yang telah dibom

    Mariupol: Sebuah Kota yang Hancur, tapi Tetap Bertahan

    Beberapa kota yang diserang tentara Rusia

    Mariupol bukan satu-satunya kota di Ukraina yang dihantam serangan Rusia. Di utara dan timur Ukraina, roket dan peluru artileri terus menghantam kota-kota besar seperti Sumy, Kharkiv, dan Kyiv. Foto ini menunjukkan sisa-sisa pusat perbelanjaan di Kyiv setelah menjadi sasaran serangan Rusia. Empat orang tewas dalam serangan itu, menurut media setempat.

  • Sebuah bangunan di Mariupol yang terkena serangan Rusia

    Mariupol: Sebuah Kota yang Hancur, tapi Tetap Bertahan

    Ukraina tolak menyerahkan Mariupol

    Pada hari Minggu (20/03), Rusia telah memberi Ukraina ultimatum untuk menyerahkan Mariupol pada Senin (21/03) sore. Namun, Ukraina menolak permintaan itu. Sebaliknya, ribuan warga sipil kembali berbondong meninggalkan kota tersebut. Menurut pemimpin separatis Rusia Denis Pushilin, pertempuran memperebutkan Mariupol bisa berlangsung berminggu-minggu lebih lama. (ha/as)

    Penulis: Jan D. Walter


Ukraina menyambut peralihan kompleks apartemen

Duta Besar Ukraina untuk Polandia, Andrii Deshchytsia mengatakan, kompleks bangunan itu “pasti akan melayani Ukraina dan warga Ukraina.” Dia mengatakan properti itu bisa digunakan untuk sekolah, pusat budaya, atau akomodasi.

Deshchytsia mengatakan, para pejabat akan menunggu formalitas hukum diselesaikan sebelum mengambil alih situs tersebut.

“Kami ingin melakukannya secara legal, tidak seperti Rusia,” kata Deshchytsia. “Kami tidak ingin menduduki apa pun sebelum secara hukum dialihkan.”

Polandia telah menerima lebih dari 2,6 juta pengungsi dari negara tetangganya di tenggara, sejak perang dimulai — jumlah yang lebih banyak dari negara lain mana pun yang menampung pengungsi Ukraina.

ha/as (AFP, AP, Reuters, dpa)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles