in ,

Pertanyaan Penting: Kenapa Cowok Betah Pakai Satu Bantal yang Sama Bertahun-Tahun?

Buat cewek-cewek yang pernah kencan dan setuju untuk menginap di kamar lelaki yang baru mereka kenal, ada satu hal yang kayaknya bakal menjadi sorotan kalian: si cowok seringkali punya satu bantal yang kondisinya sudah jelek bukan kepalang. Bantal itu tepos, busanya sudah keras, dan kalau sarungnya dibuka, pasti warna bantalnya menguning, kayak gigi perokok gitu.

Hal kayak gini bukan cuma terjadi di satu negara saja. Kawan-kawan perempuan yang kuajak ngobrol mendapati hal serupa dari kenalan cowok mereka. Bahkan buat yang sudah menikah, bisa jadi suami kalian punya bantal favorit yang tak pernah dia buang sejak masa kuliah dan tinggal di kosan sempit dulu, dibungkus sarung bantal dan seprei bermotif logo Manchester United, AC Milan, atau Barcelona.

Nyaman banget kayaknya dia sama bantal itu. Tentu ini bukan masalah nyaman buat tidur, karena, ampun deh, rasanya tidur di bantal menyedihkan kayak gitu sebetulnya kayak ga pakai bantal sama sekali.

Pertanyaannya, kenapa sih? Mengapa cowok bisa nyaman tidur di kasur yang bantalnya cuma satu (yang busuk tadi), enggak pakai guling, belum tentu ada selimutnya, dan seringkali enggak pakai seprei. Kita sedang bicara lelaki usia pertengahan 20-an atau awal 30 yang sudah mulai masuk usia kerja lho ya.

Bukan mahasiswa yang uang bulanannya mepet. Artinya, kemampuan investasi beli bantal dan perangkat kasur yang lebih oke sudah mereka miliki. Bantal empuk berisi bulu angsa padahal bukan barang mewah yang harganya mengalahkan ponsel atau biaya paket kuota internet sebulan. Kenapa sebagian cowok ada yang menyukai pengalaman tidur menyedihkan dengan bantal bapuk?

Aku berusaha bertanya pada Steven T. Richards, psikolog yang bertahun-tahun mendalami pola pikir lelaki. Apakah ada benang merah dari kebiasaan banyak cowok yang absurd tersebut? Analisis Richards mengejutkan. Dia bilang, sebagian lelaki memang lebih suka tidur dalam keadaan tidak terlalu nyaman. “Karena ini terbawa insting bawah sadar, yang mana mereka harus selalu siaga untuk menghadapi ancaman lain, baik itu predator maupun sesama lelaki lain.”

Bentar, ini lelaki modern apa manusia gua zaman Homo Erectus? Tapi okelah. Aku tidak berusaha mendebat Richards. Maka, aku mendengarkan penjelasannya lebih lanjut. “Bantal yang jelek tapi terus dipakai tidur itu, menggambarkan kebiasaan lelaki yang lebih mementingkan aspek bertahan hidup. Lelaki macam ini tidak mementingkan kenyamanan.”

Mendengarkan paparan macam itu, aku jadi mikir, apakah kemalasan adalah sinonim dari insting warisan era manusia purba yang masih bertahan hingga zaman modern? Soalnya, kalau dari keterangan cewek-cewek yang menemui cowok dengan bantal menyedihkan, alasan yang paling kentara sih sekadar malas belanja bantal.

Contohnya Charlotte, cewek 34 tahun yang pernah pacaran dengan cowok super malas beli bantal. Cowoknya bahkan enggak punya bantal. Doi cuma pakai hoodie yang dilipat lalu dipakai buat alas kepala pas tidur di kasur. “Dia tidurnya ya gitu terus tiap malam,” kata Charlotte.

Sementara cowok yang kutanya selama pembuatan artikel ini sepakat-enggak-sepakat sama penjelasan Richards. Jake, cowok 26 tahun, mengaku sikapnya malas ganti bantal bertahun-tahun semata karena alasan fungsionalitas. “Kasur, bantal, guling, semua itu cuma piranti supaya kita bisa tidur. Di luar itu, fungsi lainnya cuma pemanis mata. Aku sendiri enggak butuh tempat tidur yang nyaman banget buat molor.”

Tapi emang bener sih. Inisiatif untuk ganti bed cover, eksperimen sama tata letak kasur, atau beli bantal baru, lebih sering muncul dari pasangan si lelaki. Kalau semua diserahkan ke si cowok, apalagi dia tipe “yang penting aing mah tidur”, maka siapapun akan jatuh pada derajat kenestapaan yang sama.

Richards memberi penjelasan tambahan soal teori sifat warisan manusia gua tadi. Dia bilang pranata sosial memberi beban agar cowok selalu siaga. Termasuk soal pekerjaan. “Akibat tanggung jawab sosial tadi, mereka jadi terbiasa harus bangun secepat mungkin. Tidur yang enak tidak bisa jadi pilihan,” tandasnya.

Gina, 26 tahun, agak tidak sepakat sama penjelasan Richards. Dibanding mempercayai semangat survivalitas lelaki, alasan sebagian cowok ogah ganti bantal menurut Gina lebih dipengaruhi pandangan seksis. “Ah itu mah mereka merasa kurang cowok aja kalau rajin mengganti bantal dan seprei baru,” tudingnya.

Charlotte pun punya pendapat senada. Dia merasa, cowok hetero yang tidak punya sosok panutan soal estetika dan keteraturan di kamar akan bertindak seenaknya. Kepikiran jemur bantal dan ganti seprei aja enggak. “Mantanku itu cowok yang enggak pernah diajari untuk ngurus kebersihan kamarnya sendiri. Makanya dia punya bantal yang enggak pernah diganti selama 15 tahun. Bantal itu akhirnya kubuang karena udah apek banget.”

Apakah ini berarti cowok yang malas beli bantal bagus, dan bertahan dengan alas tidur menyedihkan, punya persoalan oedipus complex? Entahlah. Biar psikoanalis yang memperdebatkannya. Satu hal yang bisa disetujui, rata-rata alasannya sederhana: mereka malas ribet. Udah kadung nyaman sama bantal yang dipakai selama ini.

Selain itu, ada juga kesimpulan lain yang kudapat dari proses penulisan artikel ini. Kalau perempuan hetero masih bersedia meniduri lelaki yang bantalnya bapuk, mereka jelas tidak punya alasan untuk mengubah kebiasaan macam itu.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

tak-terima-keponakannya-dicabuli,-paman-di-bengkulu-potong-penis-pacar-si-kemenakan

Tak Terima Keponakannya Dicabuli, Paman di Bengkulu Potong Penis Pacar si Kemenakan

fans-k-pop-sukses-permalukan-trump,-apakah-mereka-bakal-jadi-kekuatan-politik-baru?

Fans K-Pop Sukses Permalukan Trump, Apakah Mereka Bakal Jadi Kekuatan Politik Baru?