26.8 C
Jakarta
Sunday, May 22, 2022

Maudy Ayunda dan Problematika Pendidikan Indonesia | GEOTIMES

Menyoal pendidikan Indonesia hari ini tidak bisa...

QRIS: Benefit dan Risikonya | GEOTIMES

Dewasa ini perkembangan ekonomi dan keuangan digital...

Inilah Tutorial Shalat Bagi Orang yang Sakit | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com–  Shalat merupakan ibadah paling...

Perhitungan Sementara Pemilu Filipina: Putra Diktator Marcos Jr. Unggul | DW | 10.05.2022

WorldPerhitungan Sementara Pemilu Filipina: Putra Diktator Marcos Jr. Unggul | DW | 10.05.2022

Penghitungan suara sementara menunjukkan Ferdinand Marcos Jr. jauh mengungguli saingan terberatnya, Leni Robredo, dalam pemilihan presiden Filipina. Kemenangan ini akan mengembalikan dinasti Marcos ke tampuk kekuasaan.

Ferdinand Marcos Jr., putra diktator yang digulingkan, Ferdinand Marcos, memimpin dalam penghitungan sementara. Marcos Jr., mengantongi lebih dari dua pertiga suara dalam pemilihan presiden Filipina, Senin (09/05).

Dengan perhitungan 66,1 persen, Marcos meraup dukungan 21,7 juta suara, yakni lebih dari dua kali lipat dibanding perolehan 10,3 juta suara untuk saingannya Leni Robredo. Marcos hampir dipastikan akan menggantikan Presiden Rodrigo Duterte.

Para pejabat komisi pemilu mengatakan pemungutan suara itu relatif damai, meskipun terjadi beberapa tindak kekerasan di selatan negara itu yang bergejolak.

Komisi Pemilihan Umum melaporkan masalah terkait 2.000 mesin penghitung suara yang tidak berfungsi, terjadinya pemadaman listrik, nama-nama yang hilang dalam daftar pemilih, dan lainnya.

Siapa kandidat utama?

Ferdinand Marcos Jr., yang juga dikenal dengan julukan “Bongbong” bersaing dengan Wakil Presiden petahana Leni Robredo.

Marcos Jr. memimpin dengan lebih dari 30 persentase dan telah menduduki posisi teratas dalam setiap jajak pendapat tahun ini.

Tempat pemungutan suara dibuka pada pukul 6 pagi waktu setempat dan dibuka lebih lama dari biasanya, hingga pukul 7 malam, karena masih diberlakukannya tindakan pencegahan COVID-19.

Delapan kandidat lainnya, termasuk mantan bintang tinju Manny Pacquiao, Wali Kota Manila Isko Moreno, dan mantan Kepala Polisi Nasional Senator Panfilo Lacson, tidak banyak mendapat dukungan dalam survei preferensi pemilih.

Janji kandidat presiden

Kedua kandidat utama telah berjanji untuk memprioritaskan pemulihan ekonomi setelah pandemi. Robredo berkomitmen meningkatkan investasi untuk mengatasi perubahan iklim hingga mempromosikan kemitraan publik-swasta. Sementara Marcos Jr., tidak banyak memberikan rincian tentang kebijakannya, tetapi diperkirakan akan melanjutkan pendekatan yang sama seperti pendahulunya Duterte, mengejar konsolidasi kekuasaan.

Kritikus mengatakan Marcos sedang mencoba untuk menulis ulang sejarah kontroversial keluarganya untuk para pemilih muda, meskipun mereka percaya dia tidak mungkin meniru gaya otoriter ayahnya.

Putri Duterte, Wali Kota Davao Sara Duterte-Caprio, menduduki puncak survei sebagai pasangan wakil presiden Marcos Jr.

  • Unjuk rasa di Filipina

    Perang Narkoba di Filipina, Warga Desak Investigasi Pelanggaran HAM

    Unjuk rasa tuntut investigasi

    Keluarga korban yang anggota keluarganya terbunuh dalam “perang melawan narkoba” Presiden Rodrigo Duterte menunjukkan plakat dan potret kerabat mereka yang terbunuh. Mereka mendesak Komisi Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC) untuk menyelidiki kemungkinan adanya pelanggaran HAM yang terjadi. Aksi unjuk rasa ini berlangsung di pinggiran kota Quezon, timur laut Manila, Filipina.

  • Demonstrasi keluarga korban

    Perang Narkoba di Filipina, Warga Desak Investigasi Pelanggaran HAM

    Resolusi PBB

    Pensiunan Uskup Katolik Roma Nicanor Yniguez (paling kiri) bergabung dengan keluarga korban dalam unjuk rasa ini. 47 negara anggota Komisi HAM PBB (UNHRC) akan memungut suara pada tanggal 12 Juli terkait resolusi pembentukan investigasi independen insiden pembunuhan sejak Duterte menjadi presiden tiga tahun lalu. Resolusi ini ditawarkan oleh Islandia dan beberapa negara anggota lain.

  • Amnesty International kecam praktik eksekusi di Filipina

    Perang Narkoba di Filipina, Warga Desak Investigasi Pelanggaran HAM

    “They Just Kill”

    Dalam laporan Amnesty International yang berjudul “They Just Kill,” organisasi HAM yang berbasis di London itu mendesak UNHRC untuk menyetujui resolusi yang menyerukan penyelidikan di Filipina. Menurut Amnesty, di sana sekarang ada “normalisasi berbahaya” dari praktik eksekusi ilegal dan pelanggaran oleh polisi.

  • HRW klaim 12 ribu orang telah terbunuh

    Perang Narkoba di Filipina, Warga Desak Investigasi Pelanggaran HAM

    Belasan ribu korban

    Ketua Komisi HAM Filipina, Chito Gascon (tengah), memimpin keluarga korban yang terbunuh di “perang melawan narkoba” dalam long march di ibukota Filipina, Manila. Jumlah korban tewas secara tepat tidak bisa diverifikasi. Namun, setidaknya enam ribu orang telah tewas sejak Duterte menjadi Presiden Filipina pada pertengahan 2016. Human Rights Watch (HRW) klaim 12 ribu orang telah terbunuh.

  • HRW yakin situasi di Filipina akan memburuk

    Perang Narkoba di Filipina, Warga Desak Investigasi Pelanggaran HAM

    Perang belum akan selesai

    Peneliti HRW Filipina Carlos Conde mengatakan, HRW yakin situasi ini akan menjadi lebih buruk karena pembunuhan telah menjadi alat politik yang digunakan untuk menjaga popularitas Duterte. “Dia sendiri mengatakan masalah narkoba telah memburuk, semacam memprediksikan pernyataannya bahwa sebenarnya situasi juga akan memburuk,” ujar Conde. (na/vlz, AP)


Apa yang dipertaruhkan?

“Sejarah mungkin terulang jika mereka menang. Mungkin kembali ada darurat militer dan pembunuhan (mereka yang terlibat dengan kasus) narkoba yang terjadi tanpa sepengetahuan orang tua mereka,” kata pekerja hak asasi manusia Myles Sanchez kepada kantor berita AP mengenai kemenangan Marcos Jr./Duterte-Caprio.

Robredo yang berusia 57 tahun, adalah mantan pengacara hak asasi manusia. Dia telah berjanji untuk meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan, memerangi kemiskinan, dan meningkatkan persaingan pasar, jika menang dalam pemilu.

Sebelumnya, Robredo mengalahkan Marcos dalam pencalonan wakil presiden pada 2016. Dia juga telah mengkritik perang Duterte terhadap narkoba dan mengutuk “pembunuhan yang tidak masuk akal.”

Jika Robredo mampu mengungguli Marcos Jr. dalam pilpres kali ini, keberhasilan itu akan menjadikannya sebagai perempuan ketiga yang memimpin Filipina setelah Corazon Aquino pada 1986 dan Gloria Macapagal-Arroyo pada 2001.

Robredo mencalonkan diri dengan Francis Pangilinan, seorang pengacara dan senator, dan survei terbaru menempatkan dia di tempat kedua, dengan dukungan 23%.

ha/pkp (AFP, AP, Reuters)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles