Perang di Ukraina Mendorong Komunitas “Sherlocks” di Twitter Semakin Berkembang | DW | 03.05.2022

by -4 views
perang-di-ukraina-mendorong-komunitas-“sherlocks”-di-twitter-semakin-berkembang-|-dw-|-0305.2022

Ribuan detektif amatir berbagi temuan mereka tentang kejahatan perang dan pergerakan pasukan. Mereka berharap apa yang mereka lakukan, suatu hari nanti bisa digunakan di pengadilan. Mungkinkah menjadi kenyataan?

Justin Peden tinggal di Birmingham, Alabama, Amerika Serikat. Invasi Rusia ke Ukraina telah mengguncang hidupnya. Dan sekarang, sosok Peden adalah seseorang yang para jurnalis ingin wawancarai.

Bukan anak kuliah biasa

“Ini nyata, aku hanya anak kuliahan biasa dari Alabama!” Peden terus mengulang. Selain bergaul dengan saudara-saudaranya dan mempersiapkan ujian yang akan datang, pria berusia 20 tahun itu merupakan salah satu detektif Twitter yang paling menonjol.

Peden belum pernah ke Eropa Timur, tapi tidak menyurutkan minatnya mengetahui seluk-beluk informasi kawasan tersebut. Sejak berusia 13 tahun, ketika Rusia mencaplok semenanjung Krimea pada 2014, dia tertarik mendalami konflik Ukraina. Dia menghabiskan sebagian besar waktu luangnya “terbang menggunakan Twitter” di atas wilayah yang disengketakan di Ukraina timur tersebut.

“Jika saya memainkan kuis Jeopardy tentang geografi Ukraina, saya pikir saya akan melakukannya dengan sangat baik!” katanya sambil tertawa.

Justin Peden

Justin Peden telah tergerak hatinya untuk membantu Ukraina

Sumber yang dapat diakses secara gratis

Peden, yang menggunakan “Intel Crab” di Twitter, menjelajahi internet untuk mencari citra satelit, lintasan penerbangan, dan video TikTok. Dia kemudian berbagi temuan tersebut dengan 255.000 pengikutnya, memposting analisis pergerakan pasukan atau koordinat yang tepat dari serangan rudal Rusia.

Selain Peden, ada Kyle Glen. Pada siang hari, orang Wales itu bekerja di bidang penelitian medis. Di malam hari, ia menjadi detektif Twitter dengan melakukan OSINT atau Open Source Intelligence, praktik mengumpulkan informasi dari sumber yang dipublikasikan atau tersedia untuk umum.

Bagian inti dari pekerjaan detektif amatir ini adalah geolokasi. Setiap kali mendapatkan video atau gambar konflik, mereka yang menggemari OSINT akan menyisir bahan tersebut untuk menentukan lokasi yang tepat dari kejadian yang ditampilkan. Hal ini memungkinkan mereka untuk memverifikasi keakuratan materi atau untuk menyanggah laporan palsu.

Kembali pada tahun 2014, jaringan OSINT, Bellingcat, hanya menggunakan sumber yang dapat diakses secara bebas seperti gambar satelit dan ponsel untuk membuktikan bahwa pesawat penumpang MH17 ditembak jatuh oleh unit anti-pesawat Rusia.

Menggali informasi di Twitter

Sejak saat itu, komunitas “Sherlocks Twitter” menjadi lebih banyak akal. Pada awal perang Rusia di Ukraina, penggemar OSINT melacak pergerakan konvoi militer Rusia menggunakan video dari Tiktok. Sementara ‘detektif’ lainnya mendaftarkan diri di aplikasi kencan seperti Tinder untuk memancing anggota militer Rusia di dekat perbatasan di Belgorod. Mereka menggunakan profil pribadi palsu untuk menipu agar bisa mencari informasi.

“OSINT benar-benar berkembang pesat dalam enam bulan terakhir,” kata Glen, yang mencatat bahwa setelah delapan tahun menekuni kegiatan ini dia tidak pernah dimintai wawancara oleh media arus utama, tetapi sekarang hal itu terjadi setiap hari.

Pemerintah dan badan-badan intelijen juga menghargai masukan dari jenis intelijen yang baru ini. Melalui aplikasi pemerintah Ukraina bernama Diia, warga sekarang dapat mengunggah gambar dan video yang diberi tag geo dari pergerakan pasukan Rusia.

“Kami menerima puluhan ribu pesan setiap hari,” kata Menteri Transformasi Digital Ukraina Mikhailo Fedorov kepada The Washington Post. “Mereka sangat, sangat berguna.”

Tangkapan layar situs web yang menunjukkan belasan ikon pesawat kuning dan penanda lokasi biru

Salah satu alat yang paling sering digunakan oleh para detektif Twitter adalah situs web pelacakan penerbangan

Jadi bukti persidangan?

Apa yang memotivasi para penyelidik digital tersebut? Sulit untuk mengatakannya. Peden menyebut komunitas itu “terdesentralisasi dan kolaboratif, tetapi juga agak kacau.” Banyak anggota memiliki keahlian militer atau mantan tentara. Sedangkan yang lain tetap merahasiakan identitas mereka yang sebenarnya.

Bagaimanapun, Peden merasa sangat terhubung dengan rakyat Ukraina. “Saya melihat video-video ini dan mereka terlihat seperti ibu saya, seperti saudara perempuan saya, dan teman-teman saya,” katanya. Dia bermimpi suatu hari nanti bisa melihat cuitannya digunakan sebagai bukti dalam pengadilan kriminal internasional.

  • Jakarta Indonesien Proteste Wahlen (Reuters/W. Kurniawan)

    Negara yang Pernah Batasi Media Sosial Dalam Keadaan Darurat

    Indonesia

    61.000 akun Whatsapp, 640 akun Instragram, 848 akun Twitter, 551 akun facebook diblokir pascakerusuhan akibat penolakan hasil Pemilu 2019. Warganet juga terkena imbas karena akses sosial media dibatasi. Meski ada saja netizen yang coba mengakses internet melalui VPN. Menurut Menkominfo Rudiantara ini adalah cara agar berita hoaks dan gambar provokatif tidak beredar memperkeruh suasana.

  • Sri Lanka - Social Media wurde abgestellt (Getty Images/L. Wanniarachchi)

    Negara yang Pernah Batasi Media Sosial Dalam Keadaan Darurat

    Sri Lanka

    Akibat banyaknya berita hoaks tersebar pasca-peristiwa bom bunuh diri Paskah (21/04), pemerintah Sri Lanka menutup jejaring sosial Facebook, Twitter, YouTube, Instagram dan WhatsApp selama 9 hari. Bom yang menewaskan 258 orang dan menyebabkan 500 orang terluka diduga didomplengi ISIS. Banyak yang mengaku menggunakan VPN dan TOR agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat dekat.

  • Bangladesch Dhaka Wahlen (DW/A. Islam)

    Negara yang Pernah Batasi Media Sosial Dalam Keadaan Darurat

    Bangladesh

    Pemerintah menghentikan layanan internet 3G dan 4G sebelum pemilu untuk jaga keamanan negara dan mencegah penyebaran desas-desus, menurut Asisten Direktur Senior BTRC, Zakir Hossain Khan Desember 2018 lalu. Bangladesh bahkan menutup akses terhadap portal berita populer, Poriborton.com Selasa (21/05) karena laporannya menyebabkan kemarahan badan intelijen militer Bangladesh

  • Sudan Proteste in Khartum (Reuters/M. Nureldin Abdallah)

    Negara yang Pernah Batasi Media Sosial Dalam Keadaan Darurat

    Sudan

    Awal Januari 2019, pemerintah Sudan juga menutup akses media sosial populer setelah kerusuhan berlangsung selama dua minggu. Saat itu, warga protes agar Presiden Omar Al-Bashir turun dari jabatannya setelah berkuasa 20 tahun. Menurut Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Nasional Sudan, Salah Abdallah, pemblokiran sosial media sudah jadi bahan perbincangan sejak kisruh terjadi 21 Desember 2018.

  • Messenger Telegram (picture alliance/dpa/D. Feoktistov/TASS)

    Negara yang Pernah Batasi Media Sosial Dalam Keadaan Darurat

    Iran

    Sejak 2018, aplikasi Telegram diblokir pemerintah karena dianggap telah digunakan sejumlah pihak anti-pembangunan di Iran. 40 dari 46 juta pengguna media sosial di Iran menggunakan Telegram untuk banyak hal, mulai dari berjualan pakaian hingga mencari dokter. Media sosial seperti Facebook dan Twitter sudah ditutup sejak tahun 2009.

  • Russland l Präsident Putin (picture alliance/dpa/V. Prokofyev)

    Negara yang Pernah Batasi Media Sosial Dalam Keadaan Darurat

    Rusia

    Pertengahan tahun 2018, pemerintah Rusia juga menutup akses Telegram, aplikasi pesan instan yang dianggap aman dan terenkripsi baik. Bahkan pemerintah mengancam pemblokiran akses VPN untuk mengakses situs terlarang. Badan sensor Rusia telah mengirim notifikasi pemblokiran oleh 10 penyedia VPN di Rusia, di antaranya seperti KNordVPN, Hide My Ass! dan Kaspersky Secure Connection sejak April 2018.

  • Weibo (picture-alliance/dpa)

    Negara yang Pernah Batasi Media Sosial Dalam Keadaan Darurat

    Cina

    Cina memiliki platform media sosial sendiri yang dikelola oleh negara, seperti WeChat, Weibo, QQ dan YouKu. Media sosial besar seperti Facebook, YouTube dan WhatsApp tidak bisa diakses. Lewat sistem poin (scoring system), kebebasan berekspresi baik melalui media sosial maupun telepon kini dimonitor penuh oleh pemerintah. Ed: ss/ts (Reuters, AFP)

    Penulis: Sharen Song


Itu bukan mimpi yang mustahil. “Kelompok-kelompok di Pengadilan Kriminal Internasional, apakah mereka pengacara pengadilan atau penyelidik, telah benar-benar mulai mengeksplorasi potensi investigasi open source,” kata Alexa Koenig, Direktur Eksekutif Pusat Hak Asasi Manusia di University of California, Berkeley, dalam wawancara dengan DW.

Tantangan bagi para penyelidik, katanya, adalah banyaknya informasi. Dalam perang Ukraina, Facebook dan Twitter telah bergabung dengan platform lain: Tiktok, Telegram, situs media sosial Rusia VKontakte, dan banyak lagi.

Siapa yang bertanggung jawab?

“Siapa pun dapat menyebut diri mereka akun OSINT dan memposting informasi apa pun yang mereka inginkan,” kata Glen. “Tidak seperti media arus utama, tidak ada konsekuensi untuk menerbitkan informasi palsu atau menyesatkan.”

Namun, cuitan palsu berpotensi memiliki konsekuensi di kehidupan nyata. Peden menceritakan bahwa dia pernah menerima video dari Kherson, Ukraina selatan, pada awal Maret lalu. Seorang wanita merekam aktivitas patroli polisi pendudukan Rusia dari balkonnya dan membagikan videonya.

“Saya terkesima bahwa ‘oh Tuhan, ini adalah seorang wanita, orang yang nyata.’ Saya mengutip cuitannya,” katanya. Setelah enam menit, postingan itu tersebar dan telah dibagikan ratusan kali. Bagi Peden, itu hanya satu klik, tetapi untuk wanita di Kherson, menjadi masalah hidup dan mati.

Sejak saat itu, Peden lebih memikirkan konsekuensi dari pekerjaannya, untuk dirinya sendiri dan orang lain. Itulah alasan lain dia ingin tampil dengan nama aslinya. Terlepas dari tanggung jawab besar untuk seorang anak berusia 20 tahun, Peden tidak berpikir untuk berhenti.

“Bahkan jika saya kehilangan semua pengikut saya, saya akan melanjutkan,” katanya. Dia ingin menjadi saksi — dan membuat kabut perang setidaknya sedikit berkurang.

(ha/pkp)

Leave a Reply

Your email address will not be published.