26.5 C
Jakarta
Sunday, May 22, 2022

Inilah Tutorial Shalat Bagi Orang yang Sakit | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com–  Shalat merupakan ibadah paling...

Hukum Bersentuhan dengan Bukan Mahram Saat Thawaf | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Termasuk dari syarat thawaf...

Penyebab dan Gejala Tongue-Tie, Kondisi yang Sebabkan Bayi Sulit Menyusu

Penyebab dan Gejala Tongue-Tie, Kondisi yang Sebabkan Bayi Sulit Menyusu

Bunda, pernah mendengar istilah medis tongue tie? Tongue tie atau ankyloglossia adalah kondisi mulut yang dapat memengaruhi banyak hal bagi kesehatan bayi. Bila bayi mengalami kondisi ini, ia mungkin akan mengalami kendala dalam proses menyusui, masalah kesehatan gigi, saluran napas, sampai kemampuan berbicara si kecil. Karena itu, kondisi ini sebaiknya tidak dibiarkan dan perlu mendapat evaluasi dokter tentang bagaimana mengatasinya. 

Untuk mengetahui lebih jelas tentang pengertian, penyebab, gejala, sampai bagaimana mengatasinya, simak ulasan selengkapnya di sini!

Artikel terkait: Ini Perbedaan Gejala COVID-19 dan Flu Pada Anak Menurut Ahli, Parents Wajib Tahu!
Apa itu Tongue Tie pada Bayi?

Tongue tie adalah salah satu jenis kelainan bawaan pada bayi. Sebuah kondisi di mana bagian frenulum lidah Si Kecil terlalu pendek sehingga ia tidak leluasa bergerak.

Frenulum sendiri adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah, menghubungkan lidah dengan dasar mulut. Normalnya, frenulum terpisah sebelum bayi lahir. Namun pada bayi dengan tongue-tie, frenulum tetap melekat dengan bagian dasar mulut.

Kondisi ini dialami oleh 3 hingga 5 persen bayi yang baru lahir. Umumnya, tongue tie tidak menimbulkan gejala atau pun menimbulkan masalah pada bayi. Meski begitu, beberapa bayi yang mengalami hal ini juga kerap mengalami beberapa komplikasi serius sehingga kondisi ini perlu segera diatasi.

Mengutip dari Healthline, prevalensi bayi yang mengalami tongue tie belum diketahui pasti. Bukti saat ini menunjukkan kondisi ini dialami 3 persen hingga 5 persen, tergantung pada kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi frenulum. 

Bobby Ghaheri, MD, seorang otolaryngologist, mengatakan sangat penting untuk membedakan bahwa prevalensi 3 sampai 5 persen itu hanya terhitung untuk anterior tongue tie yang jelas atau terlihat saja.

“Alasan mengapa kita lebih sering mendengar tentang tongue tie sekarang adalah bahwa penelitian dalam 10 hingga 11 tahun terakhir telah menunjukkan bahwa bagian lidah yang bertanggung jawab untuk menyedot adalah bagian tengah lidah, bukan ujungnya,” kata Ghaheri.

Penelitian terbaru ini mengacu pada bagian lidah yang dibatasi oleh ikat lidah posterior, yang menurut Ghaheri sedikit keliru karena tongue-tie masih di bawah bagian depan lidah tetapi kurang terlihat. 

Penyebab Tongue Tie

Kondisi yang termasuk kelainan kongenital ini biasanya lebih sering terjadi pada bayi laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Penyebab dari kondisi ini sendiri pun belum diketahui secara pasti.

Meski begitu, beberapa studi menyebutkan, bayi yang mengalami tongue-tie biasanya memiliki orangtua dengan riwayat yang sama. Sehingga para peneliti menduga bahwa faktor genetik bisa saja menjadi penyebabnya.

Gejala 

Gejalanya pun cenderung sulit diketahui. Namun, biasanya kondisi ini bisa terdeteksi saat Si Kecil sedang menyusui. Kondisi ini juga dapat bervariasi tergantung pada usia anak. 

Bayi yang baru lahir mungkin mengalami kesulitan menyusui karena mereka tidak bisa mendapatkan perlekatan yang baik ke payudara atau menyusui dengan baik. Gejalanya dapat berupa perlekatan yang lemah, perlekatan yang mudah lepas, gusi yang tergigit, dan nyeri atau cedera pada puting ibu yang menyusuinya.

Sedangkan pada anak-anak yang lebih besar mungkin mengalami kesulitan berbicara dengan jelas dan tidak bisa menjulurkan lidah melewati gigi mereka.

Anak-anak dengan tongue tie juga memiliki gejala:

1. Kesulitan Menyusui

Proses menyusu lebih lama karena ia kerap memasukkan dan mengeluarkan mulutnya dari puting. Si Kecil juga cenderung lebih rewel pada saat itu. 

Selain itu, saat si kecil menyusui terdengar suara berdecak, dan ia tidak bisa mengunci puting ibu secara baik saat menyusui. Si kecil lebih tampak seperti mengunyah dibandingkan mengisap.

Karena kesulitan saat menyusui, ia jadi sering rewel karena merasa lapar meski sudah diberikan ASI. Bila tidak disadari, dampaknya berat badan si kecil sulit naik karena ia tidak mendapat asupan ASI yang cukup.

2. Tampak Gelisah karena Lapar

Karena tidak cukup mendapatkan ASI, si kecil akan tampak gelisah karena lapar. Semakin ia gelisah, semakin ia rewel dan mungkin akan menangis terus menerus.

3. Terdapat Luka

Ada luka di bawah lidah ketika frenulum tersangkut di antara gigi depan bawah. Biasanya bayi atau anak dengan gejala ini akan kesulitan dan kesakitan untuk membuka mulutnya.

4. Mengalami Kerusakan Gigi

Pada balita yang sudah memiliki gigi, kondisi tongue-tie dapat menyebabkan kerusakan gigi. Hal ini karena mereka tidak dapat membersihkan makanan dari gigi mereka dengan lidah.

5. Kesulitan Berbicara

Ikatan lidah dapat mempersulit anak-anak untuk berbicara dengan jelas atau mengucapkan suara tertentu seperti huruf d, l, t, th, dan lain-lain.

6. Sering Menjilat Bibir

Mereka akan terlihat sering menjilat bibir. Gerakkan lidah mereka pun seperti menjilat es krim.

Sedangkan tanda-tanda pada ibu ketika menyusui bayi dengan tongue-tie adalah sebagai berikut:

Puting yang sakit atau pecah-pecah
Produksi ASI sedikit atau menurun karena intensitas menyusui si kecil berkurang 
Mastitis (radang payudara), karena ASI tidak dikeluarkan secara optimal ketika bayi tidak menyusui dengan benar.

Bila Bunda mengalami gejala ini, tidak selalu karena si kecil mengalami tongue-tie. Namun, ada baiknya untuk memerhatikan gejala di atas agar bisa memastikan penyebabnya.

Diagnosis Tongue-tie

Dokter anak dapat mendiagnosis kondisi ini bila gejala di atas dialami si kecil. Namun, Andrea Tran, RN, MA, IBCLC, mengatakan bahwa konsultan laktasi mungkin Bunda memerlukan konsultasi dengan ahli laktasi agar masalah menyusui si kecil ditangani terlebih dahulu. 

Apalagi bila Bunda sudah mengalami gejala seperti nyeri puting susu, atau bahkan mastitis. Kondisi ini bisa menghambat kenaikan berat badan bayi secara drastis, dan produksi ASI menurun. 

Dalam kasus tersebut, Tran menyarankan ibu dan bayinya ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut. Jika dokter laktasi kesulitan mengidentifikasi tongue-tie, atau mereka memiliki kekhawatiran tentang diagnosisnya, Bunda bisa disarankan untuk ke dokter telinga, hidung, dan tenggorokan (THT atau otolaryngologist), atau dokter gigi anak untuk evaluasi lebih lanjut.

Tujuan dari evaluasi ini tidak lain untuk menentukan tingkat ketegangan pada frenulump bibir dan lidah pada jaringan di sekitarnya.

Evaluasi menyeluruh tongue-tie, terutama ketika menentukan apakah akan melakukan intervensi pembedahan, harus mencakup penilaian fungsi lidah, terutama selama menyusui.

Tipe Tongue-tie

Johns Hopkins Medicine mengatakan bahwa ada beberapa tipe tongue-tie bila dilihat dari seberapa buruk kondisi frenulumnya. Berikut ini beberapa diantaranya:

Tipe I

Frenulum tipis dan elastis, dan menambatkan ujung lidah ke tonjolan di belakang gigi bawah.

Tipe II

Frenulum halus dan elastis, dan lidah berlabuh 2 – 4 milimeter dari ujung ke dasar mulut dekat dengan punggung di belakang gigi bawah. Artinya tongue-tie lebih panjang.

Tipe III

Frenulum tebal dan kaku, dan menambatkan lidah dari bagian tengah bawah ke dasar mulut.

Tipe IV

Frenulum terletak di posterior atau tidak terlihat, tetapi saat menyentuh area tersebut dengan ujung jari, pemeriksa dapat merasakan serat-serat yang menahan lidah, dengan atau tanpa permukaan yang menebal dan mengkilap di dasar mulut.

Evaluasi menyeluruh tidak hanya mempertimbangkan tingkat di atas saja, tetapi juga seberapa baik lidah anak dapat bergerak. Alat penilaian Hazelbaker untuk fungsi frenulum lingual (HATLFF) atau alat serupa, dapat digunakan untuk menilai fungsi lidah.

Seorang otolaryngologist yang mengkhususkan diri dalam pediatri dapat memberikan bimbingan kepada orang tua tentang kondisi tongue-tie yang dialami. Jika keluhan utama adalah kesulitan menyusui, konsultan laktasi atau ahli makanan bayi dapat membantu menilai pemberian ASI dan memberikan intervensi non-bedah.

Pengobatan 

Bila mengalami gejala, jangan ragu untuk langsung memeriksakan bayi ke dokter ya, Bunda. Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan pada mulut bayi untuk melihat bentuk dan pergerakan lidahnya.

Pengobatan ini juga bergantung pada tingkat keparahannya. Jika si kecil yang mengalami kondisi ini masih bisa makan secara baik, dokter biasanya akan menunggu dan memantau perkembangannya terlebih dulu.

Faktanya, frenulum lidah sebenarnya bisa merenggang seiring waktu, hingga kondisi lidah pendek ini bisa diatasi dengan sendirinya.

Jika bayi dengan tongue-tie masih mengalami kesulitan menyusui, tim perawatan akan mencoba mengatasi masalah tersebut tanpa operasi. Mungkin akan disarankan untuk terapi dengan:

Dokter anak 
Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT)
Perawat atau konsultan laktasi
Terapis wicara-bahasa

Akan tetapi, jika tongue-tie yang dialami bayi menyebabkan ia kesulitan makan atau menyusui, bahkan hingga kekurangan nutrisi, dokter akan melakukan prosedur bedah. Langkah pengobatan ini juga ditentukan sesuai dengan tingkat keparahan. Jika operasi diperlukan, dokter THT akan melakukan:

1. Bedah Frenotomi

Dokter memotong frenulum dengan pisau bedah, laser, atau gunting. Prosedur sederhana dan cepat ini sering dilakukan tanpa anestesi pada bayi berusia kurang dari 3 bulan karena area tersebut memiliki sedikit ujung saraf atau pembuluh darah. Ini aman untuk dilakukan dan dievaluasi sambil rawat jalan. Ini dilakukan pada kondisi yang tergolong ringan.

2. Bedah Frenuloplasty

Untuk anak yang lebih besar atau jika frenulum terlalu tebal untuk frenotomi sederhana, dokter akan melakukan operasi untuk membebaskannya. Anak mendapat anestesi umum untuk tidur melalui prosedur dan tidak merasakan sakit. Jika jahitan digunakan untuk menutup sayatan, jahitan akan larut dengan sendirinya.

Artikel terkait: Lidah bayi berwarna putih, berbahayakah? Kenali penyebab dan cara mengatasinya berikut ini
Langkah Pencegahan

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab dan langkah mencegah kondisi ini. Namun, Parents masih bisa mencegah agar kondisi ini tidak menimbulkan komplikasi serius pada si kecil.

Komplikasi pada Kondisi Tongue Tie

Sementara itu, komplikasi dari kondisi lidah pendek ini juga tidak hanya akan menimbulkan masalah dalam hal menyusui. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini pun dapat berisiko mengganggu perkembangan mulut bayi seperti berbicara dan menelan makanan di kemudian hari. 

Beberapa komplikasi atau dampak yang perlu diwaspadai dari kondisi ini, di antaranya adalah:

Bayi akan kesulitan menyusu dan akhirnya menyebabkan kurangnya asupan nutrisi penting untuk tumbuh kembangnya. 
Berisiko membuat anak sulit bicara terutama mengeluarkan suara seperti ‘t’,’r’, ‘l’, ‘th’, hingga ‘s’.
Lidah Si Kecil berfungsi untuk membersihkan sisa makanan yang menempel pada gigi atau di sela-sela gusinya. Jika frenulum lidah anak pendek, maka fungsi tersebut tidak bisa berjalan dengan baik sehingga menimbulkan masalah seperti infeksi pada gusi.
Kondisi ini juga bisa menimbulkan risiko membuat anak menjadi kesulitan melakukan aktivitas menggunakan lidahnya di kemudian hari. Misalnya, menjilat es krim atau pun memainkan alat musik tiup.

Artikel terkait: Menangani lidah putih bayi yang sering membuatnya rewel dan enggan menyusu
Kapan Harus ke Dokter?

Kita tahu bahwa kondisi ini bisa memicu masalah-masalah kesehatan yang krusial, seperti penurunan berat badan dan kegagalan untuk berkembang pada masa bayi. Selain masalah makan, tongue-tie juga dapat menyebabkan masalah oklusi gigi (misalignment) dan kesehatan ortodontik.

Beberapa orangtua mungkin memilih untuk tidak merawat kondisi karena mereka telah disarankan bahwa itu akan meregang seiring waktu. Namun pada penelitian terbaru mengatakan kalau frenulum terdiri dari sejumlah besar sel kolagen yang tidak bisa meregang.

Dan meskipun beberapa kondisi ini memang tidak menimbulkan masalah yang signifikan. Namun, beberapa bayi mungkin saja mengalami komplikasi akibat hal ini. Oleh karena itu, segeralah periksakan si kecil ke dokter anak jika ia mengalami gejala yang telah disebutkan. Terlebih jika Bunda juga mengalami kondisi seperti: 

Selalu merasa sakit pada puting payudara saat dan setelah menyusui
Terjadinya peradangan pada payudara
Mengalami mastitis
Kadar ASI menjadi sedikit
Puting payudara pecah-pecah dan terasa perih saat disentuh

Kunjungi dokter anak dan lakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui kondisinya. Terlebih jika Si Kecil sudah menunjukkan gejala tongue tie yang telah disebutkan. Semoga bermanfaat!

***

Artikel telah diupdate oleh: Fadhila Afifah

Tongue-tie

https://www.nhs.uk/conditions/tongue-tie/ 

Tongue-tie (ankyloglossia)

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tongue-tie/symptoms-causes/syc-20378452 

Tongue Tie

https://kidshealth.org/en/parents/tongue-tie.html 

Tongue-Tie: What It Is and How It’s Treated

https://www.healthline.com/health/baby/tongue-tie 

Tongue-Tie (Ankyloglossia)

https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/tongue-tie-ankyloglossia 

Busui wajib Tahu! Gejala dan Cara Mengatasi Lip Tie pada Bayi

Bikin bayi lebih rileks, begini panduan memijat bayi yang benar

Cadel, Penyebab dan Terapinya

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles