Penting! Pandemi COVID-19 Berdampak Pada Kesehatan Mental

by -5 views
penting!-pandemi-covid-19-berdampak-pada-kesehatan-mental

BincangSyariah.Com- Pandemi yang terjadi selama dua tahun terakhir benar-benar memukul semua negara di dunia dari berbagai lini. Selain dari aspek Kesehatan, pandemik Covid-19 juga berdampak pada kesehatan mental.

Dari segi Kesehatan, jutaan korban jatuh karena terinfeksi virus Sars Cov 2 ini. Di sisi lain roda perekonomian tiap negara menjadi tumpul. Karena adanya beberapa kebijakan seperti mengurangi interaksi antar manusia dan pembatasan aktivitas di luar rumah.

Di satu sisi kebijakan ini membantu mengurangi infeksi. Namun pada aspek lain membuat masyarakat tidak dapat berusaha dan bekerja. Tidak sedikit pula untuk perusahaan yang memberhentikan pekerja karena biaya operasional besar. Tapi pemasukan tidak seberapa.

Sedangkan dari segi sosial juga turut berdampak. Masyarakat kesulitan berinteraksi dengan orang lain, bahkan keluarga sekali pun. Anak-anak tidak dapat bertemu dan bermain dengan teman-teman sebaya. Banyak pula yang putus sekolah lalu menjadi pemantik permasalahn pernikahan di bawah umur dan masih banyak lagi.

COVID-19 Berdampak Pada Kesehatan Mental

Tanpa disadari, ada satu hal yang perlu diperhatikan oleh setiap orang, karena dampak dari Covid-19. Yaitu dampak Kesehatan mental akibat pandemik Covid-19. Situasi ini pun cukup rentan terjadi pada anak-anak dan remaja yang bahkan bisa memberikan dampak jangka panjang.

Banyak hal yang menjadi pemicu kenapa pandemi bisa berpengaruh pada kesehatan mental. Ada beberapa pemicu yang berdampak pada kesehatan mental di saat pandemi.

Di antaranya seperti banyak pekerja yang diberhentikan dari tempat bekerja, terlalu lama berada di dalam rumah, rutinitas yang membosankan, hingga banyaknya tekanan lain yang didapatkan.

Gangguan kesehatan mental juga bisa didapatkan pada rasa tidak nyaman karena merasa tidak aman. Ada ketakutan tertular dan terinfeksi covid-19. Atau sebaliknya, hati merasa was-was menularkan pada kelompok rentan.

Di saat pandemi, masyarakat pun ‘dipaksa’ untuk mengubah perilaku hidup lebih bersih dan sehat. Diwajibkan menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan berkumpul. Walau terkesan mudah, beberapa peraturan ini butuh penyesuaian yang tidak sebentar.

Dilansir dari website resmi Kementerian Kesehatan, kondisi Covid-19 memang memperparah kondisi jiwa masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, drg Vensya Sitohang.

Angka prevalensinya pun mengalami peningkatan sampai dua kali lipat jika dibandingkan sebelum situasi pandemi. Masih di laman yang sama, seorang psikiater Dr dr Hervita Diatri Sp KJ (K)  ada empat kelompok orang yang terpapar gangguan ini.

Golongan pertama, orang ini sebenarnya tidak mengalami gangguan kesehatan mental apa pun. Kemudian dengan situasi saat ini menjadi pemantik memunculkan masalah kejiwaan.

Kedua, sebelumnya telah mendapatkan masalah kesehatan mental. Contohnya, seorang anak yang mengalami tindak kekerasan dari keluarga. Situasi diperparah ketika pandemi memaksa untuk tetap di rumah. Sehingga anak semakin lama berada di dekat pelaku.

Ketiga, adalah mereka yang memang sudah mengalami masalah kesehatan mental. Namun karena situasi pandemi, akses pelayanan kesehatan pun tidak optimal. Sehingga pasien terkendala mendapatkan pengobatan.

Dan golongan terakhir, sekelompok orang yang ditemukan dengan kesehatan mental usai lonjakan kasus di bulan Juli 2021. Terjadi banyak masalah masalah saat itu, salah satunya kelangkaan oksigen. Situasi ini bisa menjadi salah satu pemicu dan membuat gangguan tersebut menetap.

Sebuah survei menyatakan jika bahwa 1 dari 5 orang di Indonesia dalam rentang usia 15-29 tahun pernah  berpikir ingin mengakhiri hidup. Setahun pasca pandemi, data berbeda menunjukkan jika 2 dari 5 orang memikirkan untuk bunuh diri. Dan di awal tahun 2022, 1 dari 2 orang berpikiran hal yang sama.

Jika tidak segera di atasi, gangguan kesehatan mental dapat berdampak buruk bagi kehidupan. Misalnya hubungan menjadi tidak harmonis dengan keluarga dan pertemanan. Hal ini disebabkan kondisi emosi yang tidak stabil.

Kesehatan mental juga terhubung dengan kesehatan fisik. Jika mental terganggu, bukan tidak mungkin fisik pun turut dipengaruhi. Dan pada tahap terakhir, orang-orang yang tidak segera mendapatkan pertolongan ini dapat memutuskan untuk melakukan aksi bunuh diri.

Karenanya disarankan pada masyarakat merasa ada yang berbeda dari biasanya, merasa stres, depresi hingga ada pikiran untuk mengakhiri diri, maka dianjurkan untuk meminta pertolongan. Begitu pun jika melihat ada keluarga atau teman yang menunjukkan ciri-ciri ke sana, maka cobalah untuk diajak berbicara.

Di sisi lain, Islam pun memberikan beberapa cara untuk masalah-masalah yang tidak dapat terselesaikan. Cara-cara ini tercantum di dalam Al-Quran. Salah satunya dalam Q.S Ar-Ra’d ayat 28;

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Zubadut Tafsir Min Fathil Qadir oleh Syaikh dr Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, Mudaris Tafsir Universitas Islam Madinah, menyebutkan jika merujuk pada ayat Al-Quran di atas, disebutkan jika hati akan menjadi tenang ketika mengingat Allah.

Mengingat Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa dengan membaca ayat suci Al-Quran, berzikir atau bahkan mengingat Allah di dalam hati dalam situasi apa pun.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan pandemi tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, namun juga mental. Jika merasa sedang mengalami gangguan kesehatan, jangan sungkan untuk meminta bantuan pada pihak profesional. Selain itu, selalu mengingat Allah menjadi salah satu upaya mengobati hati yang lelah atau sakit.

DISCLAIMER: Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa. Anda bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes (021-500-454).

Leave a Reply

Your email address will not be published.