Penjelasan Tentang Perempuan Bukan Sumber Fitnah

by -0 views

Jakarta, NU Online

Penulis buku Perempuan (Bukan) Sumber Fitnah, H Faqihuddin Abdul Kodir mengatakan bahwa tak hanya fitnah, perempuan pun bisa jadi anugerah. Berangkat dari serenteng persoalan fitnah yang dianggap bersumber dari perempuan, Kiai Faqih menjawabnya melalui sejumlah hadits yang tertuang dalam buku tersebut. 

Pada acara bedah buku Perempuan (Bukan) Sumber Fitnah, Ahad (12/9/2021) Kang Faqih mengatakan fitnah yang dianggap melekat pada perempuan seperti perempuan penghuni neraka terbanyak, perempuan berparfum dianggap berzina, shalatnya perempuan lebih baik di kamar paling gelap dan tersembunyi, dan beberapa pandangan cenderung negatif terhadap perempuan lainnya. Pandangan-pandangan itu membuat banyak pihak kerap meyakini perempuan dari sisi nirca, yakni sisi fitnah, sisi salah, sisi dosa, sisi neraka, sisi aurat, sisi mahram.

Ia juga menjelaskan jika perempuan selalu dicenderungkan dengan beragam fitnah, bukan perempuan saja yang demikian. Laki-laki pun bisa diperlakukan dengan hal serupa. “Padahal, perempuan punya sisi yang lain: anugerah, surga, wahyu. Pada praktikya, yang fitnah itu tidak hanya perempuan, tapi juga laki-laki,” papar Kang Faqih pada acara yang dihelat oleh Fatayat NU Kabupaten Cirebon.

Kang Faqih menjelaskan bahwa perempuan bisa jadi fitnah, bisa pula jadi anugerah, sama dengan laki-laki, berangkat dari bagaimana setiap individu memandangnya. Karena itu, ia mengajak segenap pihak untuk menjauhi perilaku berat sebelah dalam menghukumi sesuatu. “Mari tidak saling menjadi fitnah,” ajaknya.

Sekilas tentang Perempuan (Bukan) Sumber Fitnah

Kang Faqih membeberkan buku teranyarnya tersebut setebal 236 halaman, berisi 25 hadits yang biasa dipakai oleh banyak pihak untuk menempelkan stigma miring pada perempuan. Buku tersebut hadir untuk menjelaskan kesalahapahaman tentang narasi perempuan sebagai sumber fitnah yang sering dijadikan dalil oleh masyarakat.

Buku Perempuan (Bukan) Sumber Fitnah merupakan implementasi praktis dari interpretasi teks dengan metode mubadalah untuk menemukan makna relasional antara laki-laki dan perempuan yang samanya dituju sebagai subjek setara sebagai hamba Allah di muka bumi. 

“Dua belah pihak (laki-laki, perempuan) harus dilihat. Dan, tidak soal hanya perempuan atau laki-laki, tapi juga soal kehidupan ini: bisa fitnah, bisa anugerah. Bagaimana kita memandangnya. Kira-kira itu yang ingin saya tekankan,” ujar Kang Faqih.  

Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa

Editor: Kendi Setiawan

Leave your vote

298 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *