Pengumuman Pemenang Lomba Karya Jurnalistik “Media Bercerita: Krisis Iklim di Mata Publik, Dampak, Aksi Nyata, dan Silang Kepentingan”

by -2 views
pengumuman-pemenang-lomba-karya-jurnalistik-“media-bercerita:-krisis-iklim-di-mata-publik,-dampak,-aksi-nyata,-dan-silang-kepentingan”



Jakarta, 25 November 2021-Sejak 11 September, AJI Jakarta bekerja sama dengan Purpose, sebuah lembaga yang mengadvokasi perubahan sosial, telah menggelar lomba karya jurnalistik yang mengangkat aksi nyata publik terkait dengan dampak krisis iklim di Indonesia.

Lomba ini merupakan lanjutan dari kegiatan talkshow, “Mendorong Gerak Bersama Mengatasi Dampak Perubahan Iklim”, yang digelar pada 10 September 2021. Dalam bincang-bincang santai ini, AJI Jakarta dan Purpose mengundang narasumber mulai dari peneliti iklim, pembuat kebijakan, cendekiawan, aktivis dan praktisi lingkungan hidup.

Mereka membahas hasil survei persepsi masyarakat terhadap perubahan iklim yang dilakukan oleh Purpose, yang salah satunya menggambarkan bagaimana agama dan keyakinan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap perubahan iklim.

Lomba ini terdiri dari 3 kategori: karya tulis jurnalistik, video jurnalistik, dan podcast/radio feature Pengumpulan karya berlangsung dari tanggal 11 September hingga 25 Oktober 2021.

Karena minimnya submisi untuk kategori Podcast dan Radio Feature, maka lomba diperpanjang hingga 12 November 2021 dan terbuka untuk publik serta pers mahasiswa.

Dari puluhan karya yang telah memenuhi persyaratan, para juri lomba telah memilih dan memutuskan 1 (satu) karya terbaik dari masing-masing kategori pada Rabu (24/11/2021).

Untuk kategori karya tulis jurnalistik, para juri yang terdiri dari Abdul Manan (Tempo), Brigitta Isworo (wartawan senior), dan Rika Novayanti (Purpose), telah memilih Muhammad Iqbal dari IDN Times dengan judul karya “Tuhan, Agama, dan Bencana: Warga Lebak Hadapi Perubahan Iklim” sebagai karya terbaik dan berhak atas hadiah sebesar Rp5.000.000.

Menurut Rika Novayanti, direktur kampanye Purpose, penulis bisa membumikan isu lingkungan menjadi relevan dengan kehidupan sehari-hari dan memperkaya tulisan dengan wawancara masyarakat di lapangan, tidak terbatas pada pernyataan pejabat dan aktivis.

“Kita perlu lebih banyak lagi dengar narasi dan pengalaman-pengalaman langsung dari masyarakat di lapangan yang hajat hidup, budaya, tradisinya terganggu karena krisis iklim. Narasi ini jarang ada di berita-berita,” jelas Rika. “Aku khawatir kita terobsesi pada kutipan-kutipan pejabat dan orang pintar, tapi lupa memberi corong untuk suara-suara masyarakat yang terdampak—yang kurasa sangat penting untuk didengar.”

Kriteria penilaian mencakup kesesuaian tema, keunikan ide/kebaruan sudut pandang, kedalaman konten, dan penyajian.

“Artikel tentang sebuah desa di Lebak, Banten itu sangat membumi karena menceritakan perubahan iklim dengan ilustrasi peristiwa dari apa yang dirasakan langsung oleh masyarakat, Tulisannya juga diperkaya oleh grafis, dan juga foto, yang membuatnya lebih menarik,” jelas Abdul Manan, wartawan lingkungan TEMPO.

Untuk kategori video jurnalistik, Afwan Purwanto (AJI Jakarta), Dewi Safitri (CNN Indonesia TV), dan Aldy Permana (Purpose), menetapkan Rumondang Nainggolan dan Muh. Amran Amir dari KompasTV dengan judul karya “Dorong Kepedulian Lingkungan, Pendeta di Toraja Bagikan Bibit Tanaman Gratis ke Warga” sebagai karya terbaik dan mendapatkan hadiah sebesar Rp8.000.000.

Sebagai pertimbangan, para juri melihat dari keunikan dan kesesuaian tema, substansi, serta presentasi visual dan kelengkapan.

“Kisah Pendeta Rasely Sinampe di Toraja adalah kisah yang selalu ditunggu di Indonesia. Karya jurnalistik ini, yang menyorot bagaimana Bapak Pendeta selama satu dekade memberikan bibit tanaman yang diusahakannya sendiri pada jemaat dan warga, menggugah karena memperlihatkan contoh kepedulian pada krisis iklim dengan lugas–tanpa pidato, tanpa anggaran, tanpa debat macam-macam. Peran seperti ini yang penting terus didorong media dalam mengajak audiens agar turut punya peran apa pun bentuknya dalam adaptasi perubahan iklim di Indonesia,” tutur Dewi Safitri, jurnalis senior CNN Indonesia.

Sementara, Aldy Permana, juru kampanye Purpose, mengatakan bahwa karya pemenang lomba video merefleksikan esensi dari kompetisi ini, yaitu bercerita tentang bagaimana masyarakat memandang lingkungan hidup.

“Kisah tentang pendeta yang mengajak dan mengajarkan jemaatnya untuk bercocok tanam merupakan contoh nyata dari peran agama di dalam menumbuhkan kesadaran untuk melindungi bumi,” tuturnya.

Terakhir, kategori Podcast dan Radio Feature, para juri yang terdiri dari Lexy Rambadeta (freelance), Malika (KBR), dan Michelle Winowatan (Purpose) memilih dan menetapkan PodcastKanB dengan judul karya “Media Bercerita!!! Krisis Iklim Dimata Publik, Dampak, Asli Nyata & Silang Kepentingan (AJI)” sebagai pemenang, dan berhak atas hadiah sebesar Rp3.000.000.

Ini merupakan kali pertama AJI Jakarta menggelar lomba podcast dan radio h dengan harapan bahwa isu perubahan iklim bisa mendapatkan perhatian dari publik lebih luas lagi.

Kriteria penilaian mencakup kesesuaian tema, keunikan ide, kualitas teknis, dan kualitas kreativitas.

Lexy Rambadeta, jurnalis independen, hampir semua karya yang masuk, memenuhi semua aspek dalam tema kompetisi, yaitu aspek krisis iklim di mata publik, aspek dampak, aspek aksi nyata, dan aspek silang kepentingan.

“Untuk karya terbaik, para juri memilih PodcastKAnB, sebuah podcast karya 3 lawyer muda dari Medan. Karya ini berdurasi cukup panjang sekitar 60 menit, tapi mengalir dengan lancar. Percakapan informal 3 sahabat, membincangkan masalah krisis iklim. Pendengar terbawa ke dalam obrolan “keseharian” mereka dan sekaligus mendapatkan banyak informasi mengenai krisis iklim,” jelas Lexy.

Sementara itu, Malika dari KBR mengatakan bahwa podcast adalah media yang bersifat personal, hangat, cair, on demand dan niche, sehingga ada kecenderungan orang mendengar hanya tentang apa yang mereka sukai saja.

Ia mengatakan pemenang, yang memiliki latar belakang hukum, memberikan upaya lebih untuk mengulas isu dengan tema krisis iklim dan mencoba mendekatkan isu ke keseharian, mulai dari urusan ganti knalpot sampai perkara AC.

“Dalam waktu pendek, mereka kudu riset dan baca dulu buat ngebawain tema ini. Itu pasti tidak mudah. Mulai dari bahasan berat yang sifatnya sains banget, kebijakan pemerintah, konflik-konflik lingkungan sampai soal gaya hidup hijau,” jelasnya.

Ia berharap lomba ini semakin membuat publik penasaran dan lebih menyadari adanya isu terkait perubahan iklim, sehingga bisa menghasilkan banyak konten yang lebih menarik lagi.

Narahubung:

Hotline AJI Jakarta

https://wa.me/6281935007007

Leave your vote

153 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *