in ,

Peneliti ungkapkan perlu standarisasi cantrang sebelum legalisasi

Pemerintah berencana membolehkan kembali cantrang sebagai alat penangkapan ikan di Indonesia setelah sebelumnya dilarang.

Cantrang merupakan istilah lokal untuk Danish Seine net, salah satu varian dari jenis seine net atau Pukat Tarik. Ia terdiri dari jaring berbentuk kerucut, dua sayap dan tali selambar yang rata-rata panjangnya 800-1.000 meter untuk melingkari area penangkapan dan buoy sebagai penanda jangkar (anchored) dengan luas sapuan sekitar 800 meter.

Konstruksi alat tangkap cantrang (sumber: Bambang, N. 2006. Petunjuk Pembuatan dan Pengoperasian Cantrang dan Rawai Dasar Pantai Utara Jawa Tengah. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Departemen Kelautan dan Perikanan, Semarang).

Sejak tahun 2015, cantrang sempat dilarang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah pimpinan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Alasan utama adalah cantrang bersifat merusak terumbu karang dan menjaring semua ukuran ikan dan jenis sumber daya. Penggunaan alat ini juga dinilai menyingkirkan nelayan tradisional karena menyusutkan hasil tangkapan mereka.

Namun, tim kami yang terdiri peneliti kelautan dan perikanan serta ekonomi telah melakukan penelitian di 5 wilayah, yaitu kabupaten Pandeglang (Banten), kabupaten Cirebon-Indramayu (Jawa Barat), kabupaten Rembang (Jawa Tengah), kabupaten Lamongan (Jawa Timur) dan kabupaten Tuban (Jawa Timur) menemukan kedua hal tersebut tidak terbukti.

Ini karena ada salah kaprah terhadap cantrang dari pemerintahan sebelumnya dengan alat tangkap lainnya yang dianggap merusak, yaitu trawl atau pukat harimau.

Akhirnya, terjadi polemik berkepanjangan tentang cantrang selama bertahun-tahun.

Cantrang sebenarnya merupakan alat penangkapan ikan yang efektif, efisien secara ekonomi, dan minim risiko bagi lingkungan apabila telah memenuhi standar-standar nasional dan internasional. Oleh karena itu, pemerintah harus memastikan ini sebelum melakukan legalisasi.

Cantrang tidak merusak

Sejauh ini, definisi alat penangkapan ikan bersifat destruktif adalah bila melakukan penangkapan berlebihan di atas batas yang umum, terlalu banyak tangkapan samping atau bycatch, merusak lokasi pembuahan telur dan pengasuhan ikan serta berpotensi membuang-buang ikan yang dinilai bernilai rendah (discard).

Jenis-jenis praktik perikanan yang dianggap merusak, antara lain bottom trawling (menyeret trawl di dasar laut), blast fishing (penggunaan peledak), cyanide fishing (penggunaan sianida), dan muroami memenuhi kriteria destructive fishing.

Secara internasional, jenis pukat tarik seperti cantrang tidak masuk alat tangkap yang dinilai destruktif.

Terjadinya salah kaprah menyamakan cantrang dengan trawl karena target penangkapan mereka sama, yaitu ikan-ikan demersal atau ikan dasar, seperti pepetek ((Leiognathus sp.), biji nangka (Upeneus sulphureus), gulamah (J. trachycephalus), kerapu (Epinephelinae), pari (Myliobatoidei), cucut (Selachimorpha), sebelah (Pleuronectiformes), gurita (Octopodidae), bloso (Glossogo

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

telekonsultasi-medis-meningkat-pesat-saat-pandemi-covid-19,-tapi-muncul-tiga-masalah-baru

Telekonsultasi medis meningkat pesat saat pandemi COVID-19, tapi muncul tiga masalah baru

mengapa-indonesia-butuh-badan-khusus-untuk-jamin-keselamatan-calon-wisatawan-sebelum-destinasi-pariwisata-kembali-dibuka

Mengapa Indonesia butuh badan khusus untuk jamin keselamatan calon wisatawan sebelum destinasi pariwisata kembali dibuka