Pendapat Ahli dan Pengamat: Xinjiang Files Kelihatannya Akurat | DW | 25.05.2022

by -12 views
pendapat-ahli-dan-pengamat:-xinjiang-files-kelihatannya-akurat-|-dw-|-2505.2022

Kumpulan dokumen yang bocor dan dikenal sebagai “Xinjiang Files” mengungkap pelanggaran hak asasi manusia berat terhadap minoritas Uyghur di kawasan itu. Para ahli menilai dokumen tersebut hampir pasti asli.

Dokumen-dokumen dan foto-foto yang dibocorkan menyoroti metode brutal yang digunakan oleh pemerintah Cina terhadap minoritas Muslim Uighur di wilayah barat laut Xinjiang. Menurut dokumen-dokumen itu, pemerintah Cina menerapkan kebijakan tembak mati untuk warga Uighur yang berani melarikan diri dari kamp penahanan. Dokumen-dokumen itu juga bertentangan dengan pernyataan resmi pejabat pemerintahan, bahwa warga Uighur secara sukarela memilih untuk menghadiri “pusat-pusat pembinaan” tersebut.

Kementerian Luar Negeri Cina menolak dokumen-dokuman bocoran itu sebagai ” bahan yang difabrikasi ” oleh “kekuatan anti-Cina yang menodai Xinjiang.” Juru bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin mengatakan media-media tengah “menyebarkan kebohongan dan rumor.”

Namun Adrian Zenz, seorang peneliti Jerman yang berbasis di AS, menyatakan bahwa dokumen-dokumen tersebut hampir tidak mungkin untuk dipalsukan. Dia mengatakan menerima kiriman itu dari sumber anonim yang meretas data-data resmi di Xinjiang.

“Selalu mungkin untuk memalsukan dokumen. Tapi jauh lebih sulit untuk memalsukan gambar, bahkan lebih sulit lagi untuk memalsukan jumlah materi gambar sebanyak ini dan jenis materi gambar seperti ini,” kata Adrian Zenz kepada DW.

Dia mengatakan kebocoran itu adalah hasil dari “serangan peretasan langsung ke komputer polisi, bahkan ke komputer kamp penahanan.”

Zenz mengatakan dokumen-dokumen yang bocor mengungkapkan “penguburan massal orang-orang yang benar-benar tidak bersalah,” dengan tahanan termasuk remaja muda dan wanita tua. “Arsip-arsip itu bahkan tidak mengatakan bahwa mereka telah melakukan sesuatu. Orang-orang ini hanya memiliki orang tua atau kerabat yang ditahan.”

Ahli Cina Adrian Zenz

Ahli Cina Adrian Zenz

Perlakuan Cina terhadap Uighur ‘kejahatan brutal terhadap kemanusiaan’

Direktur Eksekutif Human Rights Watch Kenneth Roth juga mendukung kebenaran dokumen tersebut. Dia mengatakan kepada DW bahwa “ada banyak alasan” untuk percaya bahwa dokumen-dokumen tersebut akurat.

“Itu sesuai dengan banyak, banyak kesaksian yang diterima Human Rights Watch,” kata Kenneth Roth. Dia menyebut pelanggaran terhadap Uighur sebagai “kejahatan brutal terhadap kemanusiaan, hal seperti itu benar-benar tidak ada di tempat lain di dunia saat ini.”

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock hari Selasa (25/4) mengatakan bahwa laporan-laporan terbaru itu, ”mengejutkan, dan bukti baru pelanggaran hak asasi manusia yang sangat serius di Xinjiang.” Baerbock mendesak “penyelidikan transparan” terhadap laporan dalam dokumen yang bocor, kata sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Jerman di Berlin.

Menlu Cina Wang Yi (kedua dari kanan) menerima kunjungan utusan khusus PBB Michelle Bachelet (kiri) di provinsi Guangdong, 23 Mei 2022

Menlu Cina Wang Yi (kedua dari kanan) menerima kunjungan utusan khusus PBB Michelle Bachelet (kiri) di provinsi Guangdong, 23 Mei 2022

Kunjungan Utusan PBB ke Xinjiang hanya upaya ‘pemutihan’

Bocornya dokumen-dokumen Xinjiang terjadi saat Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet melakukan kunjungan resmi ke Xinjiang. Namun Kenneth Roth mengatakan dia “khawatir” kunjungan itu hanya digunakan untuk tujuan propaganda oleh pemerintah Cina.

Kenneth Roth mengatakan Bachelet tidak akan memiliki kemampuan untuk “berbicara secara bebas dengan (warga) Uighur” selama kunjungannmya dan mempelajari apa yang sebenarnya terjadi di provinsi tersebut.

“Dan dia akan diperlihatkan orang-orang Uighur yang bernyanyi dan menari dan berpura-pura bahagia, yang merupakan garis pemerintah Cina. Anda tahu, ini benar-benar pemutihan,” ujarnya. (hp/vlz)

  • China Xinjiang Uiguren (Reuters/T. Peter)

    Potret Muslim Uighur di Cina

    Represi dan Larangan

    Uighur adalah etnis minoritas di Cina yang secara kultural merasa lebih dekat terhadap bangsa Turk di Asia Tengah ketimbang mayoritas bangsa Han. Kendati ditetapkan sebagai daerah otonomi, Xinjiang tidak benar-benar bebas dari cengkraman partai Komunis. Baru-baru ini Beijing mengeluarkan aturan baru yang melarang warga muslim Uighur melakukan ibadah atau mengenakan pakaian keagamaan di depan umum.

  • China Xinjiang Uiguren (Reuters/T. Peter)

    Potret Muslim Uighur di Cina

    Dalih Radikalisme

    Larangan tersebut antara lain mengatur batas usia remaja untuk bisa memasuki masjid menjadi 18 tahun dan kewajiban pemuka agama untuk melaporkan naskah pidatonya sebelum dibacakan di depan umum. Selain itu upacara pernikahan atau pemakaman yang menggunakan unsur agama Islam dipandang “sebagai gejala redikalisme agama.”

  • China Xinjiang Uiguren (Reuters/T. Peter)

    Potret Muslim Uighur di Cina

    Balada Turkestan Timur

    Keberadaan bangsa Uighur di Xinjiang dicatat oleh sejarah sejak berabad-abad silam. Pada awal abad ke20 etnis tersebut mendeklarasikan kemerdekaan dengan nama Turkestan Timur. Namun pada 1949, Mao Zedong menyeret Xinjiang ke dalam kekuasaan penuh Beijing. Sejak saat itu hubungan Cina dengan etnis minoritasnya itu diwarnai kecurigaan, terutama terhadap gerakan separatisme dan terorisme.

  • China Uiguren (picture-alliance/dpa/H. W. Young)

    Potret Muslim Uighur di Cina

    Minoritas di Tanah Sendiri

    Salah satu cara Beijing mengontrol daerah terluarnya itu adalah dengan mendorong imigrasi massal bangsa Han ke Xinjiang. Pada 1949 jumlah populasi Han di Xinjiang hanya berkisar 6%, tahun 2010 lalu jumlahnya berlipatganda menjadi 40%. Di utara Xinjiang yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, bangsa Uighur bahkan menjadi minoritas.

  • China Hui-Mädchen vor der Niujie-Moschee (picture-alliance/AP Photo/A. Wong)

    Potret Muslim Uighur di Cina

    Hui Yang Dimanja

    Kendati lebih dikenal, Uighur bukan etnis muslim terbesar di Cina, melainkan bangsa Hui. Berbeda dengan Uighur, bangsa Hui lebih dekat dengan mayoritas Han secara kultural dan linguistik. Di antara etnis muslim Cina yang lain, bangsa Hui juga merupakan yang paling banyak menikmati kebebasan sipil seperti membangun mesjid atau mendapat dana negara buat membangun sekolah agama.

  • China Xinjiang Unruhen 31.07.2014 (Getty Images)

    Potret Muslim Uighur di Cina

    Terorisme dan Separatisme

    Salah satu kelompok yang paling aktif memperjuangkan kemerdekaan Xinjiang adalah Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM). Kelompok lain yang lebih ganas adalah Partai Islam Turkestan yang dituding bertalian erat dengan Al-Qaida dan bertanggungjawab atas serangkaian serangan bom di ruang publik di Xinjiang.

  • China Xinjiang Uiguren (Reuters/T. Peter)

    Potret Muslim Uighur di Cina

    Kemakmuran Semu

    Xinjiang adalah provinsi terbesar di Cina dan menyimpan sumber daya alam tak terhingga. Tidak heran jika Beijing memusatkan perhatian pada kawasan yang dilalui jalur sutera itu. Sejak beberapa tahun dana investasi bernilai ratusan triliun Rupiah mengalir ke Xinjiang. Namun kemakmuran tersebut lebih banyak dinikmati bangsa Han ketimbang etnis lokal.

  • China Xinjiang Uiguren Bärte Kopftücher Verbot (Getty Images)

    Potret Muslim Uighur di Cina

    Ketimpangan Berbuah Konflik

    BBC menulis akar ketegangan antara bangsa Uighur dan etnis Han bersumber pada faktor ekonomi dan kultural. Perkembangan pesat di Xinjiang turut menjaring kaum berpendidikan dari seluruh Cina. Akibatnya etnis Han secara umum mendapat pekerjaan yang lebih baik dan mampu hidup lebih mapan. Ketimpangan tersebut memperparah sikap anti Cina di kalangan etnis Uighur. Ed.: Rizki Nugraha (bbg. sumber)


More

Leave a Reply

Your email address will not be published.