Pendakian: Ketika Nyawa dan Lingkungan Jadi Taruhan

by -23 views
pendakian:-ketika-nyawa-dan-lingkungan-jadi-taruhan

Kini, lama
setelah masa Gie dan kawan-kawannya di Mapala UI menelusuri gunung dan rimba tahun
60an silam, pendakian
gunung menjelama
menjadi industri pariwisata besar dengan jutaan peminat tiap tahunnya.

Sebagian pendaki ingin mencari jeda di antara cepatnya kehidupan kota. Sebagian lainnya hanya ingin mencoba. Ada yang memang menyukai tantangan. Ada pula yang ingin melihat yang bukan-sehari-hari. Dan, untuk yang lain, mendaki sudah menjadi bagian dari pengembaraan diri. Berbeda-beda. Motivasi untuk mendaki benar-benar menjadi milik pribadi.

Namun, barangkali
ada satu hal yang menjadi kesamaan para pendaki: mereka menghadapi
gunung-gunung yang sama, yang tipis udaranya, yang keras iklimnya, yang
menggigit suhunya, yang berat medannya. Apa lagi
kesamaannya? Mungkin bisa kami tambahkan: risiko yang sama, baik risiko keselamatan diri maupun risiko bagi kelestarian gunung
yang dikunjungi.

Coba
ingat-ingat seberapa sering kita mendengar berita seorang pendaki meninggal
atau hilang di gunung? Atau seberapa jengah kita melihat foto-foto sampah di
gunung berseliweran di media sosial? Dua hal tersebut rasanya makin sering menjadi
sajian di berbagai lini media yang kita lihat sehari-hari.

Pendakian dan
kecelakaan

Mungkin masih melekat dalam ingatan kita tentang kasus Alvi, pendaki yang hilang di Gunung Lawu (3.265 mdpl) pada akhir 2018 lalu dan belum ditemukan hingga sekarang. Atau kasus tiga orang pendaki Gunung Tampomas (1.684 mdpl) yang meregang nyawa karena hipotermia di dalam tenda mereka sendiri. Yang terakhir, Thariq ditemukan tak bernyawa Juli lalu setelah hilang dua minggu di Gunung Piramid (1.512 mdpl), Bondowoso, Jawa Timur.

Sepanjang 2019, setidaknya 17 kawan pendaki tercatat hilang atau meninggal di gunung-gunung di Indonesia. BASARNAS juga melaporkan bahwa kasus kecelakaan yang menimpa para pendaki jumlahnya meningkat tiap tahun. Sedikitnya, 26 pendaki meninggal dari 130 kasus yang dilaporkan sejak 2015 hingga akhir 2018. Penyebab kecelakaan tersebut, sebagaimana dirangkum Tanah Tinggi, didominasi oleh hipotermia/sakit (47%), tersesat/hilang (29%) dan kecelakaan (24%).

Bila kita
bandingkan antara jumlah kasus kecelakaan yang pernah terjadi dengan jumlah
kunjungan pendaki setiap tahunnya, mungkin persentasenya sangatlah kecil. Tapi,
kami yakin bahwa setiap nyawa sangatlah berharga. Dan seberapa besar kepedihan
dan kerugian yang bisa ditekan apabila kita dapat meminimalisir risiko seperti
ini.

Pendakian dan
lingkungan

Selain kecelakaan dan kematian, sampah adalah mimpi buruk lain dari dampak pendakian. Rémi Colbalchini, pendaki asal Perancis, memberikan komentar getir tentang hal ini. Setelah berhasil mendaki 21 gunung berapi di Indonesia, dia bilang mengikuti sampah adalah cara terbaik agar tidak tersesat di gunung-gunung Indonesia.

Tidak cukup
mengherankan sebenarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa timbulan sampah di
beberapa gunung di Indonesia memang tinggi (Syakur, 2017; Asy’arie, 2018). Sebagai
contoh, estimasi Tanah Tinggi untuk potensi sampah di Gunung Semeru dengan
pengunjung hampir 200.000 orang di tahun 2018 adalah sebesar 27 ton sampah dengan
6,5 juta potong plastik.

Sementara, kebanyakan base camp pendakian belum memiliki sistem pengelolaan
sampah yang tepat. Sebagian besar sampah hanya dibakar di pos
pendakian atau di tempat penampungan. Sebagian lainnya ditimbun di lokasi yang
sama. Di Gunung Lawu, misalnya, dari
keterangan Perhutani,
sekitar 40% sampah pendaki dibakar, 30% ditimbun dan selebihnya diperkirakan
berserakan di lingkungan terbuka. Hanya sebagian kecil yang dipilah oleh
pemulung lokal untuk dijual.

Jenis pengelolaan seperti ini memiliki risiko lingkungan yang besar. Hasil pembakaran dan penimbunan berisiko besar mencemari air dan tanah yang penting untuk pertanian dan kehidupan warga sekitar. Hasil pembakaran juga menghasilkan zat beracun yang membahayakan kesehatan dan memperparah efek pemanasan global. Belum lagi dampak negatif untuk hutan dan satwa liar di sekitar jalur pendakian.

Siapa yang rugi? Kita sendiri. Kita sangat bergantung
pada gunung untuk air yang kita minum dan juga makanan yang terhidang di meja setiap
hari.

Bisakah
pendakian kita aman untuk diri dan lingkungan?

Apabila nyawa dan juga lingkungan yang menyokong hidup
kita malah menjadi
taruhan, terus
untuk apa kita mendaki? “Ya
udah sih, kalau ga penting-penting banget ga usah naik gunung,” kata seorang
rekan kami ketika berdiskusi tentang hal ini. “Lalu aku
ditimpuk para pendaki se-Indonesia. Hahaha,” candanya.

Barangkali,
untuk jenis pariwisata yang sedang diminati, tentu saja “tidak mendaki” bukanlah
opsi penyelesaian yang menyenangkan untuk masalah ini. Hm… atau mungkin
memang ini solusi terbaik?

Akhir Juli 2019 kemarin, kami mengadakan kegiatan diskusi komunitas bernama SRAWUNG (Sharing Wawasan Gunung) di Yogyakarta. Setidaknya, tiga puluh orang pendaki saling bertukar pikiran dan berbagi solusi menanggapi isu pendakian yang aman dan ramah lingkungan dalam acara tersebut.

Sesi diskusi SRAWUNG 30 Juli 2019 di Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta/Tanah Tinggi

Dalam
SRAWUNG, para pendaki tidak menampik bahwa kegiatan pendakian adalah kegiatan
alam-bebas yang cukup berat. Hingga akhir 90an, kegiatan ini masih banyak
dilakukan oleh kelompok pecinta alam yang mendapat kesempatan belajar tentang
teknik-teknik pendakian.

Saat ini,
peminat kegiatan pendakian lebih beragam, baik dari segi usia atau latar
belakang—terima kasih pada majunya teknologi digital yang memperlancar arus
informasi. Sayangnya, media dan juga minat belajar masyarakat terkait
ilmu-ilmu praktis dalam pendakian masih terbatas dan rendah. Ketertarikan masyarakat
terhadap gunung masih berputar pada cerita atau gambar tentang keindahan gunung
ketimbang
konten yang berisi ilmu.

Tentu saja risiko
kecelakaan dan dampak lingkungan akan semakin besar apabila seorang pendaki
tidak membekali diri dengan pengetahuan dan persiapan yang matang untuk
mendaki.

Satu tawaran

Solusi yang
diusulkan oleh para pendaki yang datang di SRAWUNG adalah saling mengedukasi secara
positif lewat media informasi dan media sosial. Salah satunya caranya adalah memberikan
keragaman informasi yang kemudian disebarkan lewat ragam media tersebut, baik
dalam lingkup pertemanan kecil maupun komunitas. Dewasa ini sebagian
besar unggahan di media adalah foto dan cerita yang menggambarkan keindahan rupa fisik gunung.
Ini harus mulai diimbangi dengan konten unggahan edukatif yang positif terkait
pendakian yang aman dan ramah lingkungan.

Di era digital seperti saat ini, media adalah sesuatu yang superpower. Pendakian
menjadi sangat trendi karena kemudahan akses informasi. Maka, kami juga yakin bahwa dengan
memanfaatkan media kita juga dapat saling berbagi ilmu dan belajar untuk
menjadi pendaki yang lebih bertanggung jawab
terhadap keamanan diri dan kelestarian lingkungan, karena manusia bisa belajar dan manusia bisa pula menjadi
lebih baik.

Jadi, maukah kamu berbagi ilmu di platform media-mu?


Referensi

Asy’arie, T. (2018). Kajian Kondisi Persampahan dan Pola Perilaku Porter, Pendaki dan Pengunjung dalam Menyusun Strategi pengelolaan Sampah di Jalur Pendakian Gunung Prau Via Patak Banteng (Skripsi Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, D.I. Yogyakarta).

Syakur, M. (2017). Kajian Kerusakan Lingkungan Akibat Perilaku Pembuangan Sampah serta Pengaruhnya Terhadap Kelestarian Fungsi Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Jurnal Ilmu Lingkungan. Yogyakarta: UGM.


Muhammad Ridwan adalah Lead Person Tanah Tinggi Highland Conservation, lembaga swadaya non-profit yang berfokus pada isu-isu konservasi di kawasan pegunungan.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *