PBB: Pembunuhan Jurnalis Meningkat di Tengah Perundingan Damai Afghanistan

by -4 views
pbb:-pembunuhan-jurnalis-meningkat-di-tengah-perundingan-damai-afghanistan

Di tengah dialog damai, PBB mencatat gelombang pembunuhan jurnalis dan pegiat HAM Afghanistan. Serangan diyakini dilakukan jaringan Haqqani yang bercerai dari Taliban dan sebabnya tidak terikat pada perundingan di Doha.

Pada pergantian tahun, sekelompok orang bersenjata memuntahkan peluru ke kendaraan yang ditumpangi Bismillah Aimaq. Pemimpin redaksi sebuah radio lokal di barat Afghanistan itu tewas seketika. Kematiannya menambah daftar panjang aktivis dan jurnalis yang dibunuh dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam laporan yang dipublikasikan PBB pada Senin (15/2), Utusan Sekjen PBB untuk Afghanistan, Deborah Lyons, mengimbau agar Taliban dan pemerintah Afghanistan memperkuat dialog demi mengakhiri kekerasan. Saat ini perundingan damai yang dimulai sejak September silam terhenti setelah pergantian kekuasaan di Amerika Serikat. 

“Rakyat Afghanistan membutuhkan dan berhak atas ruang sipil yang berkembang, sebuah masyarakat di mana orang bisa berpikir, menulis dan menyuarakan pendapatnya secara terbuka, tanpa rasa takut,” kata Lyons. “Suara pegiat HAM dan media sangat kritis bagi masyarakat yang terbuka.”

Antara Januari 2018 dan 2021, sebanyak 65 aktivis HAM dan wartawan dibunuh oleh kelompok tak dikenal, tulis PBB. Lima pegiat dan enam jurnalis tewas dalam kurun waktu empat bulan setelah perundingan damai dimulai.

Menurut PBB, Afghanistan saat ini sedang mengalami gelombang baru “pembunuhan berencana, disengaja dan dipersiapkan secara matang terhadap individu tertentu. Sementara pelakunya tidak diketahui.”

Kondisi ini dikabarkan memaksa pegiat HAM mengundurkan diri dari pekerjaannya atau mengungsi dari kediaman sendiri. Adapun para wartawan harus menyensor diri demi keselamatan pribadi.

Serangan di Afghanistan

Serangan di Afghanistan

Eskalasi iringi perundingan damai

Kebanyakan serangan pembunuhan dilakukan dengan bom rakitan bernama “sticky bombs,” atau bom tempel. Bahan peledak ini biasanya diletakkan di bagian bawah kendaraan korban.

Sejauh ini belum ada satu pun kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas gelombang serangan tersebut. Pemerintah Afghanistan selama ini menuduh Taliban. Tapi kelompok pimpinan Hibatullah Akhundzada itu mengklaim hanya membidik aparat keamanan atau pegawai negeri, bukan warga sipil.

Dua pekan lalu Taliban menyerang sebuah pos militer di provinsi Kundus dan menewaskan setidaknya 16 tentara, termasuk seorang perwira tinggi. Serangan serupa juga dilancarkan terhadap aparat keamanan di provinsi Faryab, yang menewaskan setidaknya lima orang serdadu.

Hibatullah Akhundzada memimpin Taliban sejak 2016.

Hibatullah Akhundzada memimpin Taliban sejak 2016.

Taliban sempat mewanit-wanti Presiden AS Joe Biden agar tidak membatalkan perjanjian 29 Februari yang dibuat dengan bekas Presiden Donald Trump. Meninggalkan perjanjian, “akan mengarah pada eskalasi berbahaya” dalam perang Afghanistan, tulis kelompok tersebut, Jumat (5/2).

Jaringan Haqqani dan Islamic State

Perjanjian damai dengan Taliban diyakini digagas bekas Presiden Donald Trump untuk menarik mundur pasukan AS dari Afghanistan pada Mei mendatang. Sejak ditandatangani, AS mulai mengurangi jumlah tentaranya dari 13.000 pasukan setahun silam, menjadi tinggal 2.500 personil.

Namun kebijakan tersebut kini sedang dikaji ulang oleh pemerintahan Biden, lantaran mengkhawatirkan pecahnya perang saudara tanpa kehadiran militer AS.

Dalam perundingan di Doha, pemerintah Afghanistan dan Taliban harus menyepakati pembagian kekuasaan, perlucutan senjata dan sistem baru pemerintahan. Namun kecurigaan mengakar kuat di antara kedua pihak. Pemerintah di Kabul berulangkali menuduh Taliban bekerja sama dengan kelompok teror Islamic State. Namun hal ini dibantah oleh Taliban.

Pekan lalu, Dinas Rahasia Afghanistan melaporkan perpecahan di tubuh Taliban ikut menyebabkan eskalasi konflik. Jaringan Haqqani yang dulu setia terhadap Taliban, kini dilaporkan bekerja sama dengan Islamic State. Direktorat Nasional untuk Keamanan meyakini kedua kelompok bertanggung jawab atas serangkaian pembunuhan terhadap jurnalis dan aktivis di Afghanistan.

rzn/pkp (rtr, dpa)

  • Afghanistan Jugend misstraut Zukunft mit Taliban (Reuters/Mohammad Ismail)

    Remaja Afghanistan Skeptis Masa Depan Bersama Taliban

    Sulta Qasim Sayeedi, 18, model

    Sayeedi sering merambah Facebook, YouTube dan Instagram untuk mempelajari dunia fesyen dan model serta mencari inspirasi dari selebriti favoritnya, seperti Justin Bieber. “Kami khawatir, jika Taliban datang, kami tidak bisa lagi mengelar mode show,” katanya. Namun ia juga berujar, sudah saatnya perdamaian datang.

  • Afghanistan Jugend misstraut Zukunft mit Taliban (Reuters/Mohammad Ismail)

    Remaja Afghanistan Skeptis Masa Depan Bersama Taliban

    Maram Atayee,16 tahun, pianis

    “Hal yang paling mengkhawatirkan bagi saya, jika Taliban kembali, saya tidak bisa bermain musik lagi,” kata Maram Atayee. Ia belajar main piano di sekolah musik di Kabul. Bagus, jika pemerintah mencapai kesepakatan damai dengan Taliban. Dan nanti akses untuk bermusik harus terbuka bagi semua orang, dan hak-hak perempuan harus dijaga. Demikian tuntutan Atayee.

  • Afghanistan Jugend misstraut Zukunft mit Taliban (Reuters/Mohammad Ismail)

    Remaja Afghanistan Skeptis Masa Depan Bersama Taliban

    Hussain, 19, penata rambut

    “Saya optimis mendengar Taliban ikut proses perdamaian,” kata Hussain yang punya salon di Kabul. Seperti banyak warga muda Afghanistan lainnya, ia dibesarkan di Iran, di mana jutaan warga Afghanistan mengungsi. “Itu akan jadi akhir perang dan konflik di negara kami.” Tapi ia juga berkata, ingin agar Taliban mengubah kebijakan dan tidak bersikap seperti dulu.

  • Afghanistan Jugend misstraut Zukunft mit Taliban (Reuters/Mohammad Ismail)

    Remaja Afghanistan Skeptis Masa Depan Bersama Taliban

    Mahdi Zahak, 25, seniman

    Tentu ada harapan bagi perdamaian, kata Zahak. “Tetapi kita bisa benar-benar mendapat perdamaian adalah jika Taliban menerima kemajuan yang sudah terjadi di negara ini dalam 17 tahun terakhir, dan membiarkan orang lain menikmati hidup mereka.”

  • Afghanistan Jugend misstraut Zukunft mit Taliban (Reuters/Mohammad Ismail)

    Remaja Afghanistan Skeptis Masa Depan Bersama Taliban

    Kawsar Sherzad, 17, atlet bela diri

    “Perempuan Afghanistan sudah punya banyak pencapaian di dunia olah raga. Jadi saya optimis Taliban akan menerima kemajuan perempuan ini,” demikian ungkap Sherzad. Untuk wawancara, atlet cabang olah raga Muay Thai ini berpose di sebuah klub di Kabul.

  • Afghanistan Jugend misstraut Zukunft mit Taliban (Reuters/Mohammad Ismail)

    Remaja Afghanistan Skeptis Masa Depan Bersama Taliban

    Nadim Quraishi, 19, pemilik toko game

    “Kami ingin melihat berakhirnya konflik di negara ini. Kami punya harapan besar, perdamaian akan berlangsung lama antara pemerintah dan Taliban,” kata Quraishi. Untuk foto, ia berpose di depan toko gamenya di Kabul.

  • Afghanistan Jugend misstraut Zukunft mit Taliban (Reuters/Mohammad Ismail)

    Remaja Afghanistan Skeptis Masa Depan Bersama Taliban

    Zarghona Haidari, 22, bekerja di toko buku

    “Saya tidak terlalu optimis tentang perdamaian di negara ini.” kata Haidari, yang bekerja di sebuah toko buku di Shahr Ketab Centre. Ia menambahkan, “Saya tidak yakin, Taliban akan mencapai kesepakatan perdamaian dengan pemerintah.”

  • Afghanistan Jugend misstraut Zukunft mit Taliban (Reuters/Mohammad Ismail)

    Remaja Afghanistan Skeptis Masa Depan Bersama Taliban

    Mohammad Jawed Momand, 22, dokter

    “Perdamaian menuntut semua pihak untuk meletakkan senjata, dan memikirkan pendidikan serta kemakmuran di negara ini,” demikian dikatakan Momand. Laporan demografi Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan 60% dari 35 juta populasi Afghanistan berusia di bawah 25 tahun. Demikian keterangan Sumber: Reuters (Ed.: ml/as)


Leave your vote

581 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia #RumahBlogInspirasi #KabarWarga #MenabarInformasiAntiBasi Official Kabarwarga

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *