Paus Fransiskus Kunjungi Irak Membawa Pesan Damai

by -43 views
paus-fransiskus-kunjungi-irak-membawa-pesan-damai

Dalam kunjungan bersejarah itu, Sri Paus ingin menggandeng pemerintah dan pemuka Syiah untuk merajut damai. Misinya adalah menyelamatkan salah satu komunitas Kristen paling tua yang terancam punah oleh persekusi.

Jumat (5/3), pesawat Alitalia yang ditumpangi Paus Fransiskus bersama 75 orang wartawan bertolak dari bandar udara Leonardo da Vinci di Roma, Italia, menuju Baghdad. Kunjungan bersejarah itu adalah lawatan pertama seorang Sri Paus ke Irak.

Pemerintah di Baghdad menerjunkan ribuan personil keamanan untuk mengamankan delegasi Vatikan. Kekhawatiran perihal isu keamanan meningkat pasca terjadinya dua serangan roket dan bom bunuh diri pada Rabu (3/2) pagi. 

Setidaknya 10 roket dikabarkan menghantam sebuah pangkalan udara yang menampung serdadu AS dan Irak. Tidak jelas siapa yang bertanggungjawab atas serangan tersebut. Hanya beberapa jam berselang, Vatikan memastikan peristiwa tersebut tidak mengubah rencana kunjungan Sri Paus.

Fransiskus dijadwalkan mengunjungi empat kota di Irak, termasuk bekas ibu kota Islamic State, Mosul, dan situs bersejarah Ur, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Irak memiliki salah satu komunitas Katolik paling tua di dunia.

Paus juga akan menyambangi Najaf, kota suci umat Syiah. Di sana dia direncanakan menemui Ayatollah Besar, Ali al-Sistani. Ulama berusia 90 tahun itu adalah salah satu tokoh Syiah paling berpengaruh di Irak dan Timur Tengah.

Bertemu ‘penggembala Irak’ di Najaf

Pertemuan Paus Fransiskus dan Ayatollah Sistani dinantikan sebagai simbol perdamaian antarumat di Timur Tengah. Ulama kelahiran Iran itu berpengaruh besar, namun selalu menjaga jarak dari pusat kekuasaan di Baghdad.

“Sistani melambangkan Irak, melebihi para pemimpin Irak sendiri,” kata Hayder al-Khoei, peneliti Irak dan Syiah, yang berulangkali bertatap muka dengan Sistani.

Sri Paus dikabarkan membawa misi pribadi ketika menyambangi rumah sederhana al-Sistani di Najaf. Dia ingin agar sang mujtahid menandatangani deklarasi “persahabatan manusia” yang mengecam ekstremisme.

Plakat pengumuman pertemuan antara Paus Fransiskus dan Ayatollah Besar Ali Sistani di Najaf, Irak.

Plakat pengumuman pertemuan antara Paus Fransiskus dan Ayatollah Besar Ali Sistani di Najaf, Irak.

Dokumen itu sebelumnya sudah ditandatangani Imam Besar al-Azhar, Syeikh Ahmed al-Tayeb, saat Fransiskus melawat ke Kairo, Februari 2019.

Namun menurut Marsin Alshamry, peneliti di Brookings Institute, AS, Sistani akan cendrung “berhati-hati” dalam menyikapi deklarasi damai yang diajukan Fransiskus., lantaran sikapnya yang apolitis.

Paus sudah menegaskan dokumen “persahabatan manusia” lebih merupakan “ajakan dialog,” untuk mengupayakan damai, ketimbang manuver diplomasi.

Di Irak, tidak ada figur lain yang lebih didengar ketimbang al-Sistani. Dia dianggap berjasa karena berulangkali menyelamatkan negara, antara lain menyerukan aliansi Syiah menumpas ISIS, dan mendorong demokratisasi lewat pemilu.

“Tidak seorang pun akan bisa menduduki posisi seperti yang dimilikinya,” kata Alshamary. “Dia menggembalakan Irak melalui masa-masa yang sangat sulit.”

Komunitas Kristen dalam ancaman

Kunjungan dari Vatikan dirasa penting bagi kaum Kristen Irak yang jumlahnya kian menyusut dari 1,5 juta orang pada 2003, menjadi kurang dari 400.000 saat ini. Mereka tergolong minoritas yang paling sering menjadi korban persekusi atau kekerasan sektarian.

“Kami berharap Paus akan menjelaskan kepada pemerintah bahwa kami membutuhkan bantuan mereka,” kata seorang warga Kristen di utara Irak kepada AFP. “Kami sudah terlalu banyak menderita, kami butuh bantuan.”

Selama lawatannya, Fransiskus akan memimpin Misa di berbagai gereja, termasuk di utara provinsi Nineveh. Pada 2014 silam, jihadis ISIS memaksa minoritas Kristen memeluk Islam, atau terancam hukuman mati.

  • Pada 22 September 1980, diktator Irak Saddam Hussein mengirim pasukannya ke negara tetangga Iran

    Mengenang 40 Tahun Perang Iran vs Irak

    Konflik teritorial

    Pada 22 September 1980, diktator Irak Saddam Hussein mengirim pasukannya ke negara tetangga Iran. Ini jadi awal mula perang mematikan selama delapan tahun yang menewaskan ratusan ribu orang. Konflik perbatasan wilayah berlarut-larut jadi pemicu perselisihan dua negara mayoritas Muslim Syiah ini.

  • Lima tahun sebelumnya, pada Maret 1975, Hussein, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Irak, dan Raja Iran saata itu Shah Pahlavi menandatangani perjanjian di Aljazair, untuk menyelesaikan sengketa perbatasan

    Mengenang 40 Tahun Perang Iran vs Irak

    Perjanjian Aljazair

    Lima tahun sebelumnya, pada Maret 1975, Saddam Hussein, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Irak, dan Raja Iran saat itu Shah Pahlevi menandatangani perjanjian di Aljazair, untuk menyelesaikan sengketa perbatasan. Baghdad menuduh Teheran merencanakan serangan dan memutuskan mengevakuasi tiga pulau strategis di Selat Hormuz, yang diklaim milik Iran dan UEA.

  • Pada 17 September 1980, Baghdad menyatakan Perjanjian Aljazair batal demi hukum dan menuntut kendali atas semua wilayah perbatasan Shatt al-Arab, sungai sepanjang 200 kilometer pertemuan sungai Tigris dan Sungai Efrat yang bermuara di Teluk Persia

    Mengenang 40 Tahun Perang Iran vs Irak

    Sumber air

    Pada 17 September 1980, Baghdad menyatakan Perjanjian Aljazair batal demi hukum dan menuntut kendali atas semua wilayah perbatasan Shatt al-Arab, sungai sepanjang 200 kilometer pertemuan sungai Tigris dan Sungai Efrat yang bermuara di Teluk Persia.

  • Pasukan Hussein meledakkan bandara Iran, termasuk yang ada di Teheran, serta fasilitas militer dan kilang minyak Iran. Pada pekan pertama pasukan Irak berhasil merebut kota Qasr-e Shirin dan Mehran, serta pelabuhan Khorramshahr di barat daya Iran, di mana posisi Sungai Shatt al-Arab bermuara ke teluk

    Mengenang 40 Tahun Perang Iran vs Irak

    Pemboman pelabuhan dan kota

    Pasukan Irak meledakkan bandara Iran, termasuk yang ada di Teheran, serta fasilitas militer dan kilang minyak Iran. Pada pekan pertama pasukan Irak berhasil merebut kota Qasr-e Shirin dan Mehran, serta pelabuhan Khorramshahr di barat daya Iran, di mana posisi Sungai Shatt al-Arab bermuara.

  • Ajatollah Ruhollah Chomeini (Getty Images/Keystone)

    Mengenang 40 Tahun Perang Iran vs Irak

    Musuh bersama

    Banyak negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Kuwait, mendukung Baghdad dalam perang melawan Iran. Hal ini didasari kekhawatiran atas perlawanan Syiah di Timur Tengah yang dipelopori oleh Ayatollah Khomeini dalam Revolusi Iran. Negara-negara Barat juga mendukung Baghdad dan menjual senjata kepada Saddam Hussein.

  • Serangan balik Iran mengejutkan Irak ketika Teheran berhasil menguasai kembali pelabuhan Khorramshahr. Baghdad mengumumkan gencatan senjata dan menarik kembali pasukannya, tetapi Teheran menolaknya dan terus membom kota-kota Irak. Sejak April 1984, kedua belah pihak terlibat dalam perang kota, di mana sekitar 30 kota di kedua belah pihak dihujani serangan rudal

    Mengenang 40 Tahun Perang Iran vs Irak

    Dipukul mundur Iran

    Serangan balik Iran mengejutkan Irak ketika Teheran berhasil menguasai kembali pelabuhan Khorramshahr. Baghdad mengumumkan gencatan senjata dan menarik kembali pasukannya, tetapi Teheran menolaknya dan terus membom kota-kota Irak. Sejak April 1984, kedua belah pihak terlibat dalam “perang kota”, di mana sekitar 30 kota di kedua belah pihak dihujani serangan rudal.

  • Peristiwa Halabja (Fred Ernst/AP/picture-alliance)

    Mengenang 40 Tahun Perang Iran vs Irak

    Penggunaan senjata kimia

    Salah satu yang jadi sorotan dalamperang ini adalah penggunaan senjata kimia. Teheran pertama kali melontarkan tuduhan tahun 1984 – dikonfirmasi oleh PBB – dan juga pada tahun 1988. Juni 1987, pasukan Irak menjatuhkan gas beracun di kota Sardasht, Iran. Maret 1988, Iran mengklaim Baghdad menggunakan senjata kimia kepada penduduk sipilnya di kota Halabja di utara Irak yang dikuasai Iran.

  • Pada 18 Juli 1988, Khomeini menerima resolusi Dewan Keamanan PBB untuk mengakhiri perang. Meskipun jumlah pasti dari mereka yang tewas dalam perang tidak diketahui, sedikitnya 650.000 orang tewas dalam perang tersebut. Gencatan senjata diumumkan pada 20 Agustus 1988

    Mengenang 40 Tahun Perang Iran vs Irak

    Gencatan senjata

    Pada 18 Juli 1988, Khomeini menerima resolusi Dewan Keamanan PBB untuk mengakhiri perang. Meskipun jumlah pasti dari mereka yang tewas dalam perang tidak diketahui, sedikitnya 650.000 orang tewas dalam perang tersebut. Gencatan senjata diumumkan pada 20 Agustus 1988.

  • Penggulingan rezim Saddam Hussein oleh AS pada tahun 2003 membuka era baru di Timur Tengah. Hubungan antara Irak dan Iran telah membaik sejak saat itu dan kedua negara meningkatkan kerjasamanya dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya

    Mengenang 40 Tahun Perang Iran vs Irak

    Lembaran baru

    Penggulingan rezim Saddam Hussein oleh AS pada tahun 2003 membuka era baru di Timur Tengah. Hubungan antara Irak dan Iran telah membaik sejak saat itu dan kedua negara meningkatkan kerjasamanya dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. (Ed: rap/hp)

    Penulis: Shamil Shams


“Warga cuma punya waktu beberapa menit untuk memutuskan apakah ingin melarikan diri, atau dipenggal,” kata Karam Qacha, seorang pastor Katolik Kaldea. “Kami meninggalkan semuanya, kecuali keyakinan kami.”

Sekitar 100.000 warga Kristen di Nineveh dipaksa melarikan diri menyusul pendudukan Islamic State. Hingga kini, hanya 36.000 pengungsi yang sudah kembali, menurut organisasi bantuan Katolik, “Aid to the Church in Need.”

Eksodus warga minoritas Kristen merupakan kehilangan besar bagi Irak, kata Kardinal Leonardo Sandri. Dia memimpin Kongregasi Vatikan untuk Gereja Timur dan akan menemani Fransiskus selama perjalanannya.

“Timur Tengah tanpa kaum Kristen ibarat memanggang roti dengan tepung, tapi tanpa ragi atau garam,” kata dia. Kunjungan Sri Paus diharapkan bisa mendorong kaum Kristen Irak untuk menetap di negeri sendiri, atau untuk pulang dari pelarian.

“Sudah ada terlalu banyak syuhada di Irak,” kata dia merujuk pada korban di kalangan warga Kristen. “Saya datang sebagai peziarah, seorang peziarah yang menyesal dan ingin mengajak ke arah rekosiliasi setelah tahun-tahun penuh peperangan dan teror,” kata Paus Fransiskus dalam sebuah pesan video jelang keberangkatannya ke Irak.

rzn/hp (rtr,afp)

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *