Pasang Surut Bank Sampah di Kabupaten Mojokerto

by -3 views
pasang-surut-bank-sampah-di-kabupaten-mojokerto

TIMESINDONESIA, MOJOKERTO – Wahyu Satrio Aulia (26), salah satu pengurus Bank Sampah Induk Kabupaten Mojokerto bagian data menjelaskan mengenai pasang surut penyerapan sampah di Kabupaten Mojokerto.

“Dari data yang masuk, tahun 2018-2019 bank sampah Induk bisa menyerap sampah rata-rata 18-23 ton perbulannya. Ketika pandemi, penyerapan sampah turun drastis. Per Januari-Oktober 2020, hanya dikisaran 70 ton sampah,” terangnya kepada TimesIndonesia Senin, (15/2/2021).

bank sampah 2Sampah seng dan aluminium yang memiliki harga tinggi perkilonya. (15/02/2021). (FOTO: Thaoqid/TIMES Indonesia)

Di balik penyerapan sampah yang menurun, jumlah Unit Sampah Unit di bawah Bank Induk Sampah Kabupaten Mojokerto mengalami peningkatan. Sebelumnya pada tahun 2019 terdapat 230 unit. Mengalami pertumbuhan menjadi 272 per Desember tahun 2020.

Disampaikan pula pengurus Bank Sampah Unit yang berada di dusun-dusun mayoritas besar didominasi oleh ibu-ibu.

“Pengurus bank sampah 98% adalah ibu-ibu rumah tangga. Program Bank Sampah berkoordinasi dengan salah satunya adalah Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK). 1 unit bank sampah di Dusun-dusun rata-rata memiliki 5-7  pengurus. Cakupan nasabah per unit pengumpul adalah 30-50 nasabah,” jelas Uli, sapaan akrabnya.

Selama pandemi, harga sampah juga ikut menurun. Pasalnya penyesuaian harga sampah biasanya 2x dalam 3 bulan. Pada saat pandemi penyesuaian harga bisa sampai 8x dalam 2 bulan.

bank sampah 3

“Penyesuaian harga sampah selalu kita update ke grup-grup WhatsApp. Sekarang dari 18 kecamatan, kita sudah memiliki 15 grup bank sampah,” katanya.

Bank Sampah untuk Bayar PBB

Khoiriyah (45), salah satu manajer Unit Bank Sampah di Dusun Kembang, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto mengungkapkan, pada tahun 2016 lalu, kepala dusun Kembang memberikan reward pribadi bagi penduduk yang bisa rajin membayar pajak.

Hasil evaluasi di tahun 2017, para penduduk mengaku mencari utangan, pinjam, untuk mengejar reward itu.

Hal itu jadi pemicu untuk mendirikan bank sampah. Alhasil di tahun 2018 mulai dicanangkan bank sampah. Sampai sekarang masyarakat membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hanya cukup dengan bermodalkan sampah.

“Di unit kami ada 10 pengurus. Musim pandemi ini kita coba buka bank sampah setiap hari Jumat. Warga disini ya ada yang bisa mencapai omzet 1 juta bagi yang rajin, ada juga yang sebaliknya,” jelas Khoiriyah. (*)

Leave your vote

694 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia #RumahBlogInspirasi #KabarWarga #MenabarInformasiAntiBasi Official Kabarwarga

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *