Pandemi dan Perkembangan Teknologi Memicu Perubahan Kondisi Pekerja Perempuan

by -0 views
pandemi-dan-perkembangan-teknologi-memicu-perubahan-kondisi-pekerja-perempuan

Picture

Krisis yang dipicu oleh pandemi Covid-19 memicu berbagai perubahan positif dan negatif dalam pola bekerja perempuan dimana perempuan yang bekerja di rumah karena pembatasan mobilitas sosial masyarakat yang diterapkan oleh pemerintah membuat perempuan harus lebih mengenal teknologi agar tetap terhubung dengan dunia kerja.

 Bekerja dari rumah juga menunjukkan bahwa beban perempuan bekerja menjadi lebih banyak dengan meleburnya batas waktu kerja dan perempuan harus lebih banyak mengurus pekerjaan domestik.

Sejumlah panelis yang semuanya perempuan dan berbicara dalam diskusi publik, Selasa (24/8/2021), untuk menandai peluncuran Jurnal Perempuan Edisi 108 yang bertemakan Perempuan Pekerja di Tengah Krisis dan Perubahan Teknologi mengatakan bahwa pandemi bisa menjadi kesempatan bagi perempuan untuk beradaptasi dan meningkatkan keterampilan di tengah perubahan yang sedang terjadi.

 

“Pandemi ini bisa jadi momentum untuk perempuan dapat mempelajari skill di tengah krisis dan perubahan teknologi,” ujar salah satu panelis, Lusiani Julia, Staf Program Kesetaraan Gender Kantor International Labor Organization (ILO) untuk Indonesia dan Timor Leste.

 

ILO sudah memberikan peringatan bahwa perubahan yang sedang terjadi akan mengakibatkan banyak pekerjaan yang hilang dan tergantikan oleh teknologi, terutama bagi perempuan yang selama ini mengalami diskriminasi dalam pekerjaan karena diberikan pekerjaan yang bisa digantikan dengan otomatisasi dan oleh robot. Namun juga perubahan itu akan menciptakan jenis-jenis pekerjaan baru, sehingga menjadi penting ada aksi afirmatif untuk mempersiapkan perempuan agar mempunyai keterampilan di sektor sains, teknologi, teknik, dan matematika.

 

“Ini juga untuk memastikan perempuan tidak akan kehilangan pekerjaan di masa depan dengan mempunyai keahlian yang sesuai dengan pekerjaan yang dibutuhkan di masa depan, dan agar perempuan lebih akrab dengan teknologi,” ujar Lusiani.

 

Pandemi ini juga memberikan ruang bagi penerapan bekerja dengan waktu fleksibel dan dari rumah, karena hasil survei publik yang dilakukan oleh Indonesia Business Coalition on Women Empowerment (IBCWE) di awal 2020 mengenai efektivitas bekerja fleksibel menunjukkan pola kerja itu menguntungkan bagi perempuan.

 

Direktur Eksekutif IBCWE, Maya Juwita, mengatakan lebih dari 60 persen responden perempuan mengatakan bekerja dari rumah efektif bagi mereka karena memungkinkan mereka untuk melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, termasuk pekerjaan domestik dan mengurus anak-anak yang sekolah dari rumah.

“Tapi menjelang akhir 2020 dan awal 2021 ada masalah lain mengintai dari bekerja di rumah masalah kesehatan mental karena kaburnya batasan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi di rumah,” ujar Maya.

 

Kondisi bekerja yang kurang menguntungkan bagi perempuan, terutama di sektor padat karya seperti garmen yang didominasi oleh pekerja perempuan, dapat diperjuangkan menjadi lebih baik bila ada perempuan yang menjadi aktivis di serikat pekerja untuk mengangkat isu yang spesifik dan hanya bisa dirasakan oleh perempuan.

 

Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia, Elly Rosita Silaban, mengatakan kampanye untuk mendorong kepemimpinan perempuan ini atau perempuan bisa lebih banyak terlibat dalam kepengurusan serikat lebih sering menjadi formalitas pemenuhan kuota, tanpa mempertimbangkan kapasitasnya.

 

“Masalah lain adalah ketidaksetiaan. Perempuan bergabung ke serikat buruh tapi tidak aktif dan membiarkan anggota laki-laki untuk berjuang….Mereka tidak akan memikirkan dan bisa menjelaskan bagaimana beratnya payudara perempuan ketika tidak bisa menyusui anaknya, atau bagaimana kondisi badan perempuan ketika sedang datang bulan,” ujar Elly.

 

“Sebenarnya keterlibatan perempuan dalam serikat buruh adalah untuk menyampaikan itu dan terlibat dalam advokasi,” tambahnya.

 

Pertimbangan atas kondisi spesifik perempuan ini semakin terpinggirkan dengan sistem pengupahan yang diatur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, ujar Asfinawati, Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.

 

“Sistem pengupahan yang berdasarkan satuan hasil juga bentuk diskriminasi terhadap perempuan, yang performa kerjanya bisa saja melambat karena kondisi tubuhnya yang sedang hamil atau datang bulan, sehingga tidak bisa meraih target kerja yang berdasarkan satuan hasil,” katanya.

 

Isu-isu dan studi analisa terkait situasi perempuan pekerja, pengalaman dan paparan dari perspektif feminis serta keadilan gender inilah yang diangkat dalam Jurnal Perempuan edisi 108, ujar Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan, Atnike Nova Sigiro, yang juga menjadi moderator dalam diskusi panel ini.

 

“Kami berharap isi Jurnal Perempuan 108 ini menjadi inspirasi untuk semua kalangan untuk semakin memberikan perhatian dan mendapatkan terobosan untuk mengatasi krisis akibat pandemi, yang membuat banyak orang khususnya perempuan kehilangan pekerjaan dan mengalami beban ganda, juga karena perubahan teknologi yang membuat beberapa jenis pekerjaan tidak lagi dibutuhkan,” ujar Atnike (Ismira Lutfia Tisnadibrata).

Leave your vote

227 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *