Pakar Epidemiologi: Meski Kasus Covid-19 Melandai, PPKM Masih Penting

by -9 views
pakar-epidemiologi:-meski-kasus-covid-19-melandai,-ppkm-masih-penting

Bincangsyariah.ComKasus pandemi Covid-19 terus mengalami perbaikan seiring berjalannya waktu. Pemerintah dan beberapa ahli menyebutkan saat ini kita sedang berada dalam masa transisi.  Kendati kasus Covid-19 melandai, PPKM masih penting bagi Indonesia.

Angka infeksi yang menurun, begitu juga dengan kasus kematian membuat orang-orang bertanya, apakah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih penting?

Terkait persoalan apakah PPKM masih penting? Profesor dr Dicky Budiman pun memberikan tanggapan terkait efektifitas PPKM di tanah. Beliau sendiri merupakan seorang dokter, pakar epidemiologi dan peneliti Indonesia dari Universitas Grifith Australia.

Dirinya pun pernah menjabat di Sekretaris Dewan Pengawas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 2016-2018. Beliau pun pernah berkarir di Dinas Kesehatan Jawa Barat. Ia pun pernah menjabat Direktur Pengendalian Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Apakah PPKM Masih penting dan Dibutuhkan di Indonesia?

Peran dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) merujuk pada rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO). Dan terbukti PPKM efektif untuk menekan gelombang kenaikan kasus satu, dua dan terakhir ketiga karena varian Omicron.

Terutama terlihat sekali di gelombang kedua. Karena gelombang tiga relatif mudah karena imunitas sudah jauh lebih baik. Pada dasarnya, PPKM ini supaya diketahui, bukan hal baru dalam konteks strategi pandemi. Hanya namanya saja yang berbeda.

Tapi yang disebut dengan pembatasan di masyarakat dalam aktivitas itu sudah dikenal cukup lama. Terutama di era setelah pandemi Flu pada tahun 1918. Artinya, PPKM memang dalam bentuk turunan yang sangat diperlukan ketika terjadi satu wabah besar.

Selama status masih pandemi, maka situasi masih kritis atau darurat kesehatan. Sehingga PPKM menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Atau dalam artian masih menjadi sangat penting.

Bahwa saat ini memang kasus sudah jauh lebih landai. Ada perbaikan dari perilaku lebih baik dan kedisiplinan dalam memakai masker. Termasuk juga dalam hal ini modal imunitas sudah jauh lebih baik, kesakitan dan kematian jauh lebih kecil.

Namun situasi ini tidak serta merta menjadikan alasan PPKM harus selesai. Tidak seperti itu. Karena status pandemi masih berlaku dan belum dicabut oleh WHO. Dalam pandangan saya, PPKM harus diadakan untuk menjadi payung dari intervensi itu. Untuk juga mengingatkan semua  pihak jika situasi masih pandemi.

Namun Saat Ini Bukankah Sudah Ada Pelonggaran, Salah Satunya Diperbolehkan Tidak menggunakan masker di Luar Ruangan?

Bahwa ada pelonggaran, memang iya. Karena laveling PPKM sudah jauh lebih baik. Tapi kalau sekarang dicabut, dasarnya apa? Kecuali pandemi sudah dicabut. Itu yang juga berlaku di banyak negara. Terutama negara maju khususnya, yang memberlakukan leveling. Kalau dibentuk PPKM, bentuk satu intervensi punya regulasi.

Ini yang ingin saya ingatkan dan tegaskan, PPKM masih penting. Jangan sampai status pandemi belum dicabut dan situasi semakin baik, protokol kesehatan kita menurun. Begitu juga dengan testing, treacing dan treatment (3T) pun turut menurun.

Diikuti dengan kapasitas survelen genomic yang terbatas, ditambah dengan ancaman varian baru. Sehingga saat  status pandemi dicabut, bisa saja membalikkan situasi dan memperburuk situasi di beberapa wilayah.

Dengan leveling itu setidaknya masyarakat dan sektor terkait ingat, jika masih situasi pandemi. Dan artinya, masih ada potensi perburukkan. Beda lagi kalau WHO sudah dicabut. Otomatis pada dasarnya tidak ada, relevansi justifikasi menjadi lemah ketika mempertahankan PPKM itu.

Sejauh Ini Bagaimana Pandangan Prof Dikcy dengan PPKM di Indonesia?

Saya kira kalau untuk PPKM, evaluasi sejauh ini sudah cukup baik untuk konteks kita. Ingat, ini merupakan suatu situasi yang terhitung baru buat banyak pihak di Indonesia. Baik pemerintah sendiri maupun masyarakat.

Dan ini juga satu strategi yang sifatnya walau ada landasan, contoh, tapi secara penerapan banyak hal yang relatif baru. Jadi kalau ada kekurangan, menurut saya masih menjadi sesuatu yang wajar. Dan jelas secara output, PPKM punya dampak.

Nah itulah sebabnya penting untuk tetap dilaksanakan. Namun tentu ada hal yang perlu menjadi catatan untuk perbaikan. Yaitu bahwa PPKM ini, dalam indikatornya masih harus ditingkatkan konsistensinya. Merujuk indikator, kita masih memerlukan data yang juga kuat.

Misalnya suatu daerah berada di PPKM level dua. Tapi sebetulnya secara kondisi real di masyarakat harusnya berada level tiga. Hal ini dikarenakan adanya  keterbatasan testing, keterbatasan data dan cakupan vaksin Covid-19 yang juga  menjadi landasan.

Ini menjadi perbaikan yang harus dilakukan. Baik saat ini maupun ke depan. Karena bagaimana pun, ketika sudah mengetahui dalam konteks Indonesia, kita bisa menerapkan pola seperti PPKM ini. Ketika nanti ada wabah berikut, ini harus disusun dan dibangun dalam suatu regulasi yang kuat.

Lantas Bagaimana Semestinya Penerapan PPKM, Apakah Penerapan PPKM Masih Penting?

Menurut saya kebijakan yang bisa diambil sekarang ini dengan situasi sekarang sudah banyak sekali daerah yang bisa masuk kategori PPKM level 1 satu. Melakukan revisi pelonggaran lebih juga bisa.

Tapi adanya PPKM itu tetap menjadi penting untuk mengingatkan semua pihak bahwa kita masih dalam situasi pandemi. Sampai status ini dicabut. Kedua juga bahwa kebijakan lain yang perlu diterapkan pemerintah adalah semakin mendorong pemerataan dan akses akselerasi vaksinasi.

Khususnya mengejar dosis dua dan tiga ini. Ini harus dikejar untuk menempatkan komunitas dalam hal ini risiko pada masyarakat rentan semakin rendah. Dan saya kira sekarang pintu masuk sudah jauh bisa longgarkan.

Kemudian kita mencapai 70 persen dua dosis secara nasional dari total populasi ini. Sehingga sudah tidak perlu tes untuk pelaku perjalanan domestik. Tetapi penguatan perlu dilakukan. Dalam hal apa? Survelens itu harus diperkuat.

Dan di sisi lain, literasi pada publik, stakeholder, maupun kalangan pemerintah sendiri tidak boleh kendor dan tetap harus dilakukan. Literasi atau lebih tepatnya strategi komunikasi risiko ini dibangun untuk memastikan bahwa proses transisi ini ke arah pemulihan pandemi.

Menuju status lebih terkendali memerlukan literasi yang lebih kuat. Dibutuhkan adanya perubahan perilaku yang lebih adaptif dan sehat di semua kalangan. Termasuk juga di sini adalah harus ingat bahwa Covid-19 ini adalah penyakit yang ditularkan melalui udara. Sehingga standar kualitas udara menjadi penting.

Ini yang selalu saya ingatkan. Kualitas kesehatan di dalam ruangan ini menjadi sangat penting untuk kita, agar bisa meningkatkan level. Dimulai dengan memperbaiki sirkulasi udara dan ventilasi. Bahkan di negara maju mewajibkan mendirikan rumah dengan ventilasi yang baik.

Demikian penjelasan Prof. dr Dicky Budiman, yang dalam kesempatan itu menyebutkan bahwa kendati kasus Covid-19 melandai, tetapi PPKM masih dianggap penting. (Baca juga: dr. Muhammad Fajri Adda’i;  Ada Pelbagai Persiapan dari Pandemi Covid-19 Menuju Fase Endemi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.